2.6 Analisa Hidrolika
2.6.3 Analisa Sistem Drainase
Analisis sistem drainase dilakukan untuk mengetahui apakah secara teknis sistem drainase direncanakan sesuai dengan persyaratan teknis. Analisis sistem drainase diantaranya adalah perhitungan kapasitas saluran, penentuan tinggi jagaan, penentuan daerah sempadan, perhitungan kepadatan drainase, dan bagunan-
bangunan yang dibutuhkan dalam sistem drainase. Dalam kaitannya dengan pekerjaan pengendalian banjir, analisis sistem drainase digunakan untuk mengetahui profil muka air, baik kondisi yang ada (eksisting) maupun kondisi perencanaan. Untuk mendukung analisa hitungan guna memperoleh parameterisasi desain yang handal, dibutuhkan validasi data dan metode hitungan yang representatif. Analisis untuk drainase dapat dijelaskan sebagai berikut:
2.6.3.1 Kapasitas Saluran
Kapasitas rencana dari setiap komponen sistem drainase dihitung berdasarkan rumus Manning:
Q sal= Vsal x Asal ... (2.25)
Vsal =1
π. π 2/3 π1/2 ... (2.26)
Qsal = 1
π. π 2/3π1/2. π΄π ππ ... (2.27) Dimana:
Vsal = kecepatan aliran rata-rata dalam saluran (m/det), Qsal = debit aliran dalam saluran (m3/det),
n = koefisien kekasaran Manning,
R = jari jari hidraulik (m), R = A/P dimana Asal = luas penampang saluran (m2)
P = keliling basah (m)
a. Penampang Trapesium (Gambar 2.2)
Gambar 2.3 Penampang Ekonomis Trapesium
Dalam hal ini maka digunakan persamaan:
V = 1
π π β2/3π1/2 ... (2.28) Ac = π
π ... (2.29) Angka kekasaran ditentukan berdasarkan jenis bahan yang digunakan.
Kemiringan dasar saluran (S) ditentukan berdasarkan topografi (atau disebut S = 0,0006). Kemiringan dinding saluran berdasarkan bahan yang digunakan
Luas Penampang : A= (b + mh)h V = 1
A = Luas penampang saluran (m2) R = Jari-jari Hidrolis (m)
S = Kemiringan saluran
n = Koefisien kekasaran Manning B = Lebar dasar saluran (m) m = Kemiringan talud y = kedalaman saluran (m) P = keliling basah saluran (m) b. Penampang Persegi
Pada penampang melintang saluran berbentuk persegi dengan lebar dasar B dan kedalaman air h, luas penampang basah A = B x h dan keliling basah P. Maka bentuk penampang persegi paling ekonomis adalah jika kedalaman setengah dari lebar dasar saluran atau jari-jari hidrauliknya setengah dari kedalaman air.
Gambar 2.4 Penampang Saluran Persegi
Untuk bentuk penampang persegi yang ekonomis :
A = B.h ... (2.33) P = B + 2h ... (2.34) B = 2h atau h =π΅
2 ... (2.35) Jari-jari hidroulik R :R = π΄
π ... (2.36) 2.7 Teori Analisis Hidrolika Saluran
Model matematik untuk analisa hidrolik 1 dimensi umumnya dibuat dengan menggunakan persamaan St. Venant, dimana persamaan tersebut hanya dapat digunakan dengan baik untuk analisa aliran pada sungai atau saluran dengan kemiringan dasar kecil. Untuk menggunakan persamaan St. Venant maka asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut :
a) Aliran adalah satu dimensi, maksudnya bahwa kecepatan aliran seragam (uniform) dalam suatu tampang, dan kemiringan muka air arah transversalnya horisontal.
b) Distribusi tekanan adalah hidrostatis dimana kurva garis aliran sangat lemah dan akselerasi vertikalnya dapat diabaikan.
c) Bahwa pengaruh kekasaran dinding dan turbulensi dapat diformulasikan sebagai persamaan kekasaran seperti yang dipakai pada aliran permanen.
d) Bahwa kemiringan dasar saluran cukup kecil dan mendekati nol sehingga cosinus sudut dapat dianggap sama dengan satu.
Persamaan aliran satu dimensi ini menunjukkan kondisi aliran yang dinyatakan oleh dua variabel tak bebas h (tinggi air) dan Q (debit) untuk setiap titik di saluran. Variabel tak bebas ini menunjukkan kondisi aliran sepanjang saluran untuk setiap waktu t.
Untuk menguraikan gerakan aliran di dalam suatu daerah aliran tertentu diperlukan suatu persamaan β persamaan yang dapat diselesaikan dengan cara analitis atau numerik dengan menerapkan kondisi batas. Persamaan β persamaan yang diperlukan tersebut adalah persamaan kontinuitas, persamaan energi dan persamaan momentum. Dasar persamaan kontinuitas unsteady flow pada saluran terbuka diturunkan sebagai persamaan berikut (Raju, 1986:9):
ππ
ππ+ ππ΄
ππ‘ = 0 ... ...(2.37) Dengan :
Q = debit (m3/dt) x = panjang pias (m) A = luas penampang (m2) t = waktu (detik)
Gambar 2.5 Kontiunitas Aliran Tidak Tetap Sumber: Raju, 1986:9
Apabila pada suatu aliran yang diperhitungkan adalah kehilangan energi maka yang digunakan adalah persamaan kontinuitas dan persamaan energi.
Sedangkan apabila yang diperhitungkan adalah gayaβgaya luar yang bekerja maka yang digunakan adalah persamaan kontinuitas dan persamaan momentum.
T
Potongan C
Potongan C
Persamaan momentum menyatakan bahwa pengaruh dari semua gaya luar terhadap volume kontrol dari cairan dalam setiap arah sama dengan besarnya perubahan momentum dalam arah itu, yaitu (Raju, 1986:11) :
β πΉπ₯ = π. π. βπ ... (2.38) W sinπ + π1 β π2 β πΉπ β πΉπ = ππ(π2 β π1) ... (2.39) Dengan :
P1 dan P2 = muatan hidrostatis pada potongan 1dan 2 W = berat volume kontrol
ΞΈ = kemiringan dasar dengan garis mendatar Ff = gesekan batas terhadap panjang βx Fa = tahanan udara pada permukaan bebas
Gambar 2.6 Prinsip Momentum Pada Saluran Terbuka Sumber : Raju, 1986:10
Persamaan konservasi momentum akan ekuivalen dengan konservasi energi apabila variabel β variabel tidak bebasnya kontinyu sepanjang aliran. Karena persamaan konservasi massa dan momentum lebih layak dipakai untuk aliran kontinyu dan tidak kontinyu maka persamaan aliran ini didasarkan pada persamaan kontinuitas dan persamaan momentum.
Hukum kekekalan massa pada suatu pias tertentu menyatakan bahwa βaliran pada suatu pias akan sama dengan perubahan tampungan yang terjadi di dalam pias tersebutβ. Hukum kekekalan massa dapat ditulis dalam persamaan sebagai berikut:
ππ + π΅ππ» = 0 ... (2.40)
W cos
W cos
Hukum kekekalan momentum dalam pias menyatakan bahwa perubahan momentum per-satuan waktu dalam suatu pias air yang mengalir dalam suatu saluran adalah sama dengan resultante semua gaya luar yang bekerja pada pias tersebut. Persamaan momentum untuk aliran tak-langgeng dapat ditulis:
ππ
ππ‘ + ππ΄ππ»
ππ₯ + π(πππ£)
ππ₯ +π|π|π
π2π΄π = ππ¦π€2cos (π β β )
Hubungan Q, v, dan A adalah sebagai berikut:
Q=V x A
Gambar 2.7 Persamaan Momentum dan Kontinuitas Dimana:
t = waktu
x = jarak yang diukur pada as saluran H(x,t) = elevasi permukaan air
V(x,t) = kecepatan rata-rata aliran Q(x,t) = debit
R(x,H) = jari-jari hidraulik A(x,H) = luas aliran b(x,H) = lebar aliran
B(x,H) = lebar tampungan aliran G = percepatan gravitasi C(x,H) = koefisien de chezy W(t) = kecepatan angin
Ξ¦ (t) = sudut arah angin terhadap utara
ο¬ datum
οx
π (t) = sudut arah aliran terhadap utara
πΎ (x) = koefisien konfersi angina
πΌ = factor koreksi kecepatan untuk aliran tidak seragam
πΌ = π΄
π2β« π£(π¦, π§)2ππ¦ππ§ ... (2.42) Prosedur perhitungan didasarkan pada penyelesaian persamaan aliran satu dimensi melalui saluran terbuka. Aliran satu dimensi ditandai dengan besarnya kecepatan yang sama pada seluruh penampang atau digunakan kecepatan rata-rata.
Persamaan energi digunakan sebagai dasar perhitungan untuk aliran steady dalam saluran terbuka, diberikan oleh persamaan berikut ini (Chow, 1997:243) :
β1 + π1π’12
2π + π§1 = β2 + π2π22
2π+ π2 + βπ + βπ ... (2.43) Dimana:
g = percepatan gravitasi (m2/dt)
hf = kehilangan tinggi akibat gesekan (m)
he = kehilangan tinggi akibat perubahan penampang (m) U = kecepatan rerata (m/dt)
Ξ± = koefisien distribusi kecepatan z = ketinggian dari datum (m) h = kedalaman air (m)
Profil permukaan air dapat dihitung dari satu penampang melintang ke penampang melintang berikutnya dengan menyelesaikan persamaan energi dengan menggunakan sebuah prosedur interaktif yang disebut βStandart Step methodβ.
Kehilangan tinggi energi pada penampang sungai diakibatkan oleh gesekan dan perubahan penampang. Adapun kehilangan tinggi energi akibat perubahan penampang terdiri dari dua yaitu akibat kontraksi dan ekspansi. Kontraksi dan ekspansi terjadi akibat back water yang disebabkan perubahan penampang, atau perubahan kemiringan dasar saluran yang sangat curam sekali. Kehilangan akibat
gesekan di evaluasi sebagai hasil dari kemiringan garis energi Sf dan panjang L (Anonim, 2001:2-3), seperti terlihat dalam persamaan berikut:
βπ = πΏ. πΜ π ... (2.44)
Sf = (π
πΎ)2 ... (2.45)
Gambar 2.8 Energi Dalam Saluran Terbuka Sumber : Chow, 1997: 239
ππ = ππ1+ππ2
2 ... (2.46) Dimana:
hf = kehilangan energi akibat gesekan (m) L = jarak antar sub bagian (m)
Sf = kemiringan garis energi (friction slope) K = pengangkutan aliran tiap sub bagian Q = debit air (m3/dt)
Kehilangan tinggi energi akibat kontraksi dan ekspansi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : (Anonim, 2001:2-11)
βπ = πΆ |π2π£22
2π β π1π12
2π | ...(2.47)
Dengan :
C = koefisien akibat kehilangan tinggi kontraksi dan ekspansi
Program ini akan mengasumsi, kontraksi terjadi jika tinggi kecepatan di hilir lebih besar dari tinggi kecepatan di hulu dan ekspansi terjadi pada kondisi sebaliknya.
Tinggi kehilangan energi terdiri dari kehilangan energi akibat gesekan dan kehilangan energi akibat perubahan penampang melebar atau menyempit.
Persamaan tinggi kehilangan energi sebagai berikut :
βπ = πΏ. ππ + πΆ [
π2π£222π
β
π2π£222π
]
... (2.48) Dimana:L = panjang penampang pembobot debit
ππ = kemiringan gesekan antara kedua penampang
C = koefisien kehilngan akibat pelebaran atau penyempitan Panjang penampang pembobot dapat dihitung:
πΏ = πΏπππ.ππππ+πΏπβ.ππβ+πΏπππ.ππππ
ππππ+ππβ+ππππ ...(2.49)
Llob, Lch, Lrob = Panjang penampang melintang untuk aliran di bantaran kiri, saluran utama dan bantaran kanan.
Qlob , Qch , Qrob = rata-rata aliran antara dua penampang untuk bantaran kiri, saluran utama dan bantaran kanan.
Penentuan daya hantar (conveyance) total dan koefisien kecepatan diperlukan dalam permodelan, sehingga penampang aliran dibagi menjadi beberapa bagian dimana setiap bagian dapat dianggap terjadi distribusi kecepatan secara
merata. Daya hantar dihitung per-bagian penampang dengan persamaan Manning sebagai berikut :
Q = K.Sf1/2 ... (2.50) Pengangkutan aliran Kj dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut (Anonim, 2001:2-4):
Kj = 1
ππ AjRj 2/3 (dalam satuan metrik)
Dengan :
Kj = pengangkutan tiap bagian
n = koefisien kekasaran manning tiap bagian Aj = daerah aliran tiap bagian
Rj = jari-jari hidrolis tiap bagian
Untuk masing-masing penampang melintang diperlukan informasi mengenai profil penampang melintang dititik tersebut, koefisien kontraksi, koefisien ekpansi dan koefisien kekasaran Manning (n). Nilai n pada suatu saluran tidak selalu sama. Nilai tersebut bervariasi meskipun pada penampang yang sama, hal tersebut karena adanya faktor pengaruh pada keadaan disekitar sungai (Chow,1988). Faktor tersebut adalah kekasaran permukaan, tumbuhan, ketidakteraturan saluran, trase saluran, pengendapan dan penggerusan, hambatan, ukuran dan bentuk saluran, taraf air dan debit, perubahan musiman, endapan melayang dan endapan dasar. Pengambilan harga n tersebut tergantung pula pada pengalaman perencana. Harga koefisien Manning berdasarkan jenis material pembentuk saluran dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.9 Harga Koefisien Manning (n) untuk Berbagai Tipe
No Tipe Saluran Harga n
1 Saluran dari pasangan batu tanpa plengsengan 0,025 2 Saluran dari pasangan batu dengan pasangan 0,015
3 Saluran dari beton 0,017
4 Saluran alam dengan rumput 0,020
5 Saluran dari batu 0,025 2.8 Parameter Penentuan Prioritas Penanganan Genangan
Parameter penentuan prioritas penanganan meliputi hal sebagai berikut:
1) Parameter genangan, meliputi tinggi genangan, luas genangan, frekuensi genangan dalam satu tahun dan lama genangan terjadi. Kriteria parameter genangan seperti dalam Tabel 2.10.
2) Parameter ekonomi, dihitung perkiraan kerugian atas fasilitas ekonomi yang ada, seperti: kawasan industri, fasum, fasos, perkantoran, perumahan, daerah pertanian dan pertamanan. Kriteria kerugian/kerusakan ekonomi seperti dalam Tabel 2.11.
3) Parameter gangguan sosial dan fasilitas pemerintah, seperti: kesehatan masyarakat, keresahan sosial dan kerusakan lingkungan dan kerusakan fasilitas pemerintah. Kriteria gangguan sosial dan fasilitas pemerintah seperti dalam Tabel 2.12.
4) Parameter kerugian dan gangguan transportasi. Kriteria kerugian dan gangguan transportasi seperti dalam Tabel 2.12.
5) Parameter kerugian pada daerah perumahan, kriterianya seperti dalam Tabel 2.13.
6) Parameter kerugian hak milik pribadi/rumah tangga, kriterianya seperti dalam Tabel 2.14.
Tabel 2.10 Kriteria Parameter Genangan
No. Parameter Genangan Nilai Persentase Nilai
1 Tinggi genangan :
- 4 β 8 ha 4 Frekuensi genangan
Sangat sering (10 kali /tahun) Sering (6 kali/tahun)
Kurang sering (3 kali / tahun) Jarang (1 kali / tahun)
Tabel 2.11 Kriteria Kerugian Ekonomi
No Parameter Pengaruh / Kerugian Nilai
1 jika genangan air/ banjir terjadi pada daerah industri, daerah komersial dan daerah perkantoran padat
Tinggi 100
2 jika genangan air / banjir terjadi di daerah industri dan daerah komersial yang kurang padat
Sedang 65
3 jika genangan air/ banjir mempengaruhi atau terjadi di daerah perumahan dan/ atau daerah pertanian (dalam daerah perkotaan yang terbatas)
Kecil 30
4 jika terjadi genangan pada daerah yang jarang penduduknya dan
Sangat Kecil 0
daerah yang tidak produktif
Tabel 2.12 Kriteria Gangguan Sosial dan Gangguan Transportasi
No. Parameter Pengaruh/Kerugian Nilai
1 jika genangan air/banjir terjadi pada daerah yang jaringan transportasinya padat
Tinggi 100
2 jika genangan air/banjir terjadi di daerah yang jaringan
transportasinya kurang padat
Sedang 65
3 jika genangan air/ banjir mempengaruhi atau terjadi di daerah yang jaringan
transportasinya terbatas
Kecil 30
4 jika tidak ada jaringan jalan Sangat Kecil 0
Tabel 2.13 Kriteria Kerugian Pada Daerah Perumahan
No. Parameter Pengaruh/Kerugian Nilai
1 jika genangan air / banjir terjadi pada
perumahan padat sekali
Tinggi 100
2 jika genangan air/ banjir terjadi pada
perumahan yang kurang padat
Sedang 65
3 jika genangan air/ banjir mempengaruhi atau
terjadi di daerah yang hanya pada beberapa
bangunan perumahan
Kecil 30
4 jika ada perumahan pada daerah genangan
air/banjir
Sangat Kecil 0
Tabel 2.14 Kriteria Kerugian Pada Milik Pribadi
No. Parameter Pengaruh/Kerugian Nilai
1 jika kerugian lebih dari 80% nilai milik
pribadi
Tinggi 100
2 jika kerugian 80% dari nilai milik pribadi
Sedang 65
3 jika kerugian kurang dari 40% milik pribadi
Kecil 30
4 tidak ada kerugian milik pribadi Sangat Kecil 0
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dimulai pada semester genap tahun ajaran 2020-2021 dan studi kasus dilakukan di daerah Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara.
Kecamatan Medan Helvetia adalah salah satu dari 21 kecamatan di kota Medan, Sumatra Utara, Indonesia,dengan batas β batas sebagai berikut :
1. Medan Helvetia di sebelah barat, 2. Medan Barat di timur,
3. Medan Petisah di selatan, 4. Medan Marelan di utara.
Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian (Kecamatan Helvetia Kota Medan) Sumber: google earth
3.2 Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini menggunakan data primer berupa kondisi drainase dan bangunan jaringan irigasi di lapangan yang diperoleh dengan cara survei lapangan.
Selain data primer pada penelitian ini juga memerlukan data sekunder diantaranya adalah:
1. Skema saluran drainase.
2. Data curah hujan.
3. Data karakteristik yang berupa: potensi hujan, dimensi eksisting drainase, dan kondisi eksisting drainase.
3.3 Alur Penelitian
Alur penelitian yang direncanakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Survey terhadap daerah penelitian
2. Pengumpulan data primer dan data sekunder 3. Perhitungan hidrologi
4. Perhitungan kapasitas saluran drainase eksisting 5. Perhitungan debit rencana
6. Evaluasi kapasitas saluran drainase 7. Re-design saluran drainase
Selanjutnya alur penelitian digambarkan dengan bagan berikut :
Gambar. 3.2. Bagan Alur Penelitian
3.4 Metode dan Tahapan Penelitian
Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode analisa kasus, yakni melalui studi pustaka dan analisis data. Tahapan dalam penelitian ini terbagi atas 4 tahap, yaitu : tahap pendahuluan, pengumpulan data primer dan sekunder, analisa data, dan tahap penyusunan laporan. Adapun rincian kegiatan penelitian yang dilakukan dengan beberapa tahap tersebut yaitu :
1. Tahap Pendahuluan
Tahap ini merupakan tahapan studi pustaka, yaitu dengan cara mengumpulkan dan mempelajari literatur buku, jurnal, catatan kuliah maupun internet serta melakukan survey ke lokasi. Hasil dari tahap ini berupa sketsa dan penafsiran sementara keadaan penelitian yang akan digunakan pada tahap pengambilan data.
2. Tahap Pengumpulan Data
Tahap melakukan pengumpulan identifikasi masalah drainase perkotaan, pengambilan data pola aliran, skema saluran drainase serta data lain yang berkaitan untuk penyelesaian tugas akhir ini.
3. Tahap Analisa dan Perhitungan Data
Tahap ini melakukan pengolahan data sehinggga di dapat solusi untuk mengoptimalkan fungsi saluran drainase. Adapun langkah - langkah sebagai berikut :
a. Menganalisis Pola Aliran Drainase.
b. Menghitung Debit Banjir.
c. Menganalisis Dimensi Drainase.
4. Tahap Penyusunan Laporan
Merupakan tahap akhir dari tahap penelitian di mana tahap ini menyusun data-data dari awal hingga akhir yang selanjutnya dirangkum menjadi sebuah laporan penelitian.
BAB IV
survey ada 102 titik banjir yang di kelompokan menjadi 9 genangan yang berada pada kecamatan Medan Helvetia dengan berbagai macam permasalahan.4.1.2 Data Skunder
Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi yang berkaitan dengan suatu penelitian. Data yang diperoleh data curah hujan harian maksimum selama 10 tahun terakhir 2010 s/d 2019 sebagai berikut :
Tabel 4.1 Data Curah Hujan Harian Stasiun BMKG Helvetia Medan TAH
4.2 Parameter Penentuan Prioritas Penanganan Genangan
Data yang di dapatkan dalam survey ada 9 genangan titik banjir yang terjadi di kecamatan Medan Helvetia,
1. Genangan 1 (jl.jawa gang dermawan, gang perintis ,gang atmo, dan jl. Budi luhur)
Gambar 4.1 Genangan 1 sumber : ( google earth)
2. genangan 2 (jl.jongkong, jl. H manaf Lubis dan Jl.gaperta gang setia)
Gambar 4.2 Genangan 2 sumber : ( google earth)
3. Genangan 3 (jl.amal luhur,jl.Bakti luhur dan jl.setia luhur)
Gambar 4.3 Genangan 3 sumber : ( google earth)
4. Genangan 4 (jl.melati, jl. Kemuning 8, dan jl.kemuning 9)
Gambar 4.4 Genangan 4 sumber : ( google earth)
5. Genangan 5 (jl.gaperta ujung gang pribadi, jl,parwitayasa gang bersama dan jl.gaperta ujng gang martabe)
Gambar 4.5 Genangan 5 sumber : ( google earth)
6. Genagan 6 (jl.klambir 5 gang bunga,gang ubudiyah,gang wakaf,gang tembus dan gang al badar)
Gambar 4.6 Genangan 6 sumber : ( google earth)
7. Genangan 7 (jl.teratai raya,jl.kamboja raya,jl.mawar raya dan jl.tanjung raya)
Gambar 4.7 Genangan 7 sumber : ( google earth) 8. Genangan 8 (pondok surya blok 3-8)
Gambar 4.8 Genangan 8 sumber : ( google earth)
9. Genangan 9 (jl.setia budi, gang tape dan jl.kalpataru)
Gambar 4.9 Genangan 9 sumber : ( google earth)
Tabel 4.2 Luas, Tinggi, Lama Genangan dan Frekuensi Banjir di Kecamatan Medan Helvetia
Genangan Perkiraan
Luas (Ha)
Tinggi (cm)
Lama genangan
(menit)
Frekuensi (Kali /tahun)
Genangan 1 (jl.jawa) 29 15 120 10
Genangan 2 (jl.jongkong) 6,8 30 120 12
Genangan 3 (jl.amal luhur) 35 50 60 10
Genangan 4 (jl.melati) 20,1 30 30 2
Genangan 5 (jl.gaperta ujung
Gang pribadi) 23,7 30 30 5
Genangan 6 (jl.klambir 5) 17,8 30 30 5
Genangan 7 (jl.teratai raya) 10,2 15 30 2
Genangan 8 (pondok surya
Blok 3-8) 12,9 20 60 12
Genangan 9 (jl.kalpataru) 3,47 10 60 12 (Hasil Survey Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014)
Tabel 4.3 Persentase Luas, Tinggi, Lama Genangan dan Frekuensi Banjir di Kecamatan Medan Helvetia
Genangan 9
(jl.kalpataru) 50 25 25 100 19
(Hasil Survey Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014)
Tabel 4.4 Aspek Kerugian Ekonomi di Titik Banjir Kecamatan Medan Helvetia
keterangan
(jl.kalpataru) kecil 30
(Hasil Survey Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014)
Tabel 4.5 Kriteria Gangguan Sosial dan Fasilitas Pemerintah di Titik Banjir Kecamatan Medan Helvetia
Genagan
kriteria gangguan sosial dan fasilitas pemerintah
pengaruh nilai
Genangan 1 (jl.jawa) sedang 65
Genangan 2 (jl.jongkong) kecil 30
Genangan 3 (jl.amal luhur) sedang 65
Genangan 4 (jl.melati) kecil 30
Genangan 5 (jl.gaperta
Genangan 8 (pondok surya
Blok 3-8) kecil 30
Genangan 9 (jl.kalpataru) kecil 30
(Hasil Survey Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014)
Tabel 4.6 Kriteria Gangguan-Gangguan Transportasi di Titik Banjir Kecamatan Medan Helvetia
genangan
gangguan transportasi
pengaruh nilai
Genangan 1 (jl.jawa) tinggi 100
Genangan 2
(jl.jongkong) sedang 65
Genangan 3 (jl.amal
luhur) tinggi 100
Genangan 4 (jl.melati) sedang 65
(jl.kalpataru) kecil 30
(Hasil Survey Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014)
Tabel 4.7 Kriteria Gangguan-Gangguan pada Daerah Perumahan di Titik Banjir Kecamatan Medan Helvetia
(jl.jongkong) sedang 65
Genangan 3 (jl.amal
luhur) sedang 65
Genangan 4 (jl.melati) Kecil 30
Genangan 5 (jl.gaperta
Genangan 8 (pondok surya Blok 3-8)
sedang 65
Genangan 9
(jl.kalpataru) sedang 65
(Hasil Survey Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014)
Tabel 4.8 Kriteria Gangguan-Gangguan Hak Milik Pribadi di Titik Banjir Kecamatan Medan Helvetia
(jl.jongkong) sedang 65
Genangan 3 (jl.amal
luhur) sedang 65
Genangan 4 (jl.melati) sedang 65
Genangan 5 (jl.gaperta
(jl.kalpataru) sedang 65
(Hasil Survey Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014)
Tabel 4.9 Total Parameter Genangan + Total Parameter Kerugian
genangan Total parameter kerugian
total persentase
genangan total keseluruhan
Genangan 1
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan yang menjadi lokasi prioritas penanganan dengan nilai terbesar, yaitu : genangan 3 yaitu jl.amal luhur,jl.bakti luhur dan jl.setia luhur dengan total nilai keselurahan adalah 400 poin dari poin maksimum adalah 600 poin
4.3 Analisis Hidrologi
4.3.1 Analisis Curah Hujan Wilayah
Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan tugas akhir perencanaan sistem drainase kawasan Medan Helvetia merupakan curah hujan rata-rata dari titik pengamatan dalam hal ini adalah stasiun Klimatologi Helvetia.
Penentuan titik pengamatan atau stasiun hujan Klimatologi Helvetia Medan berdasarkan perhitungkan daerah pengaruh tiap titik pengamatan atau stasiun hujan dengan metode tiesen poligon.
Melalui metode tiesen poligon, dapat diketahui bahwa lokasi Kecamatan Medan Helvetia hanya diwakili oleh 1 (satu) titik pengamatan atau stasiun hujan saja yaitu Stasiun Klimatologi Helvetia Medan di koordinat 3Β°36'17.93 LU;
98Β°37'46.01BT. Berikut peta polygon thiessen untuk menghitung curah hujan wilyah.
Gambar 4.10. Polygon Thiessen
4.3.2 Curah Hujan Harian Maksimum
Data curah hujan yang diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika Helvetia Medan selama 10 tahun terakhir. Pada penelitian ini digunakan data hujan selama sepuluh tahun yang tercatat mulai tahun 2010 sampai dengan 2019 akan
dianalisa terhadap 4 (empat) metode analisa distribusi frekuensi hujan yang ada.
Data curah hujan selengkapnya dapat dilihat pada table 4.12 berikut ini.
Tabel 4.10 Data Curah Hujan Harian Stasiun BMKG Helvetia TAH
4.3.3 Penentuan Pola Distribusi Hujan
Penetuan pola distribusi atau sebaran hujan dilakukan dengan menganalisa data curah hujan harian maksimum yang diperoleh dengan menggunakan analisis frekuensi. Untuk menentukan jenis sebaran yang akan digunakan dalam menetapkan periode ulang/return periode (analisa frekuensi) maka dicari parameter statistik dari data curah hujan wilayah baik secara normal maupun secara logaritmik.
Dari hasil analisis diperoleh nilai untuk masing-masing parameter statistik adalah sebagai berikut :
4.3.3.1 Analisa Curah Hujan Distribusi Normal
Tabel 4.11 Analisa Curah Hujan dengan Distribusi Normal
No Curah Hujan (mm),
Xi (Xi - X)
1 84 9,7 94,09
2 60 -14,3 204,49
3 97 22,7 515,29
4 78 3,7 13,69
5 70 -4,3 18,49
6 69 -5,3 28,09
7 69 -5,3 28,09
8 73 -1,3 1,69
9 76 1,7 2,89
10 67 -7,3 53,29
Jumlah 743 0 960,1
X 74,3
S 3,443
(Hasil Perhitungan)
Dari data-data diats didapat π₯ =743
10 = 74,3ππ S = ββππβ1(π β ππ)2
n β 1
(ππ β π)2
π =β960,1 10 β 1 π =3,443
Tabel 4.12 Analisa Curah Hujan Rencana dengan Distribusi Normal.
No Periode Ulang (T) tahun KT X S Curah Hujan (XT) mm
1 2 0 74,3 3,443 74,300
2 5 0,84 74,3 3,443 77,192
3 10 1,28 74,3 3,443 78,707
4 25 1,64 74,3 3,443 79,946
5 50 2,05 74,3 3,443 81,358
6 100 2,33 74,3 3,443 82,322
(Hasil Perhitungan)
Berikut hasil analisa curah hujan rencana dengan Distribusi Normal:
Untuk Periode ulang (T) 2 Tahun ππ = πΒ―+(πΎπ π₯ π)
XT = 74,3+ (0 Γ 3,443) = 74,3mm
Untuk Periode ulang (T) 5 Tahun ππ= πΒ―+(πΎπ π₯ π)
XT= 74,3+ (0,84 Γ 3,443) = 77,192 mm
Untuk Periode ulang (T) 10 Tahun ππ= πΒ―+(πΎπ π₯ π)
XT= 74,3+ (1,28 Γ 3,443) = 78,707 mm
Untuk Periode ulang (T) 25 Tahun ππ= πΒ―+(πΎπ π₯ π)
XT= 74,3+ (1,64 Γ 3,443)= 79,946 mm
Untuk Periode ulang (T) 50 Tahun ππ= πΒ―+(πΎπ π₯ π)
XT= 74,3+ (2,05Γ 3,443) = 81,358 mm
Untuk Periode ulang (T) 100 Tahun ππ= πΒ―+(πΎπ π₯ π)
XT= 74,3+ (2,33Γ 3,443) = 82,322 mm
4.3.3.2 Analisa Curah Hujan Distribusi Log Normal
Tabel 4.13 Analisa Curah Hujan dengan Distribusi Log Normal.
No Curah Hujan
Dari data-data diats didapat π₯ =743
10 = 74,3
S = ββππβ1(π β ππ)2 n β 1
S = β0,030
9 = 0,019
Tabel 4.14 Analisa Curah Hujan Rencana dengan Distribusi Log Normal.
No Periode Ulang
(T) Tahun KT Log X Log S Log XT Curah Hujan (XT) (mm)
1 2 0 1,871 0,019 1,871 74,300
2 5 0,84 1,871 0,019 1,887 77,081
3 10 1,24 1,871 0,019 1,895 78,442
4 25 1,64 1,871 0,019 1,902 79,827
5 50 2,05 1,871 0,019 1,910 81,272
6 100 2,33 1,871 0,019 1,915 82,273
(Hasil Perhitungan)
Berikut hasil analisa curah hujan rencana dengan Distribusi Log Normal Untuk Periode ulang (T) 2 Tahun
Log XT = Log πΒ―+ (KT x S) T = 2 Tahun
Log XT = 1,871+ (0,05 x 0,019) XT = 74,377mm
Untuk Periode ulang (T) 5 Tahun Log XT = Log πΒ―+ (KT x S)
T = 5 Tahun
Log XT = 1,871+ (0,853 x 0,019) XT = 77,081 mm
Untuk Periode ulang (T) 10 Tahun Log XT = Log πΒ―+ (KT x S)
T = 10 Tahun
4.3.3.3 Analisa Curah Hujan Distribusi Log Person III
Tabel 4.15 Analisa Curah Hujan dengan Distribusi Log Person III
No Curah
5 70 1,845 -0,026 0,001 -0,00002
6 69 1,839 -0,032 0,001 -0,00003
7 69 1,839 -0,032 0,001 -0,00003
8 73 1,863 -0,008 0,000 0,00000
9 76 1,881 0,010 0,000 0,00000
10 67 1,826 -0,045 0,002 -0,00009
Jumla
h 743 18,67
4 0,521 -0,127717
πΜ
74,3 1,871
S 3,443 0,019
(Hasil Perhitungan)
Dari data-data diats didapat π₯ =743
10 = 74,3ππ
S = ββππβ1(π β ππ)2 n β 1
S = β0,521
9 = 0,019
Koefisien Kemencengan:
G = ββππβ1(π β ππ)3 (n β 1)(π β 2)π3
G = 10xβ 0,127717
8x9x0.000512 = β34,64545356
Tabel 4.16 Analisa Curah Hujan Rencana dengan Distribusi Log Person III.
No
Periode Ulang (T) Tahun
KT Log X Log S Log XT Curah Hujan
(XT) (mm)
1 2 0,05 1,871 0,019 1,872 74,4627
2 5 0,853 1,871 0,019 1,887 77,1251
3 10 1,245 1,871 0,019 1,895 78,4592
4 25 1,643 1,871 0,019 1,902 79,8373
5 50 1,89 1,871 0,019 1,907 80,7047
6 100 2,104 1,871 0,019 1,911 81,4638
(Hasil Perhitungan)
Berikut hasil analisa curah hujan rencana dengan Distribusi Log Person:
Untuk Periode ulang (T) 2 Tahun ππ= πΒ―+(πΎπ π₯ π)
XT= 1,871+ (0,05 Γ 0,019)= 74,377mm
Untuk Periode ulang (T) 5 Tahun ππ= πΒ―+(πΎπ π₯ π)
XT= 1,871+ (0,853 Γ 0,019) = 77,1251 mm
Untuk Periode ulang (T) 10 Tahun ππ= πΒ―+(πΎπ π₯ π)
XT= 1,871+ (1,245 Γ 0,019) = 78,4592 mm
Untuk Periode ulang (T) 25 Tahun ππ= πΒ―+(πΎπ π₯ π)
XT= 1,871+ (1,643 Γ 0,019) = 79,8373mm
Untuk Periode ulang (T) 50 Tahun
4.3.3.4 Analisa Curah Hujan Distribusi Gumbel
Tabel 4.17 Analisa Curah Hujan dengan Distribusi Gumbel.
Dari data-data diats didapat:
π₯ =18,674
Standart Deviasi :
Tabel 4.18 Analisa Curah Hujan Rencana dengan Distribusi Gumbel Periode Ulang
Berikut hasil analisa curah hujan rencana dengan Distribusi Gumbel:
Untuk Periode Ulang (T) 2 tahun YTR = 0,367
πΎ =πππ + ππ
Sn = 0,367+0,495
0,95 =0,907 XT=XΜ + K.S =74,3+(0,907 x 3,443 ) = 77,424 mm
Untuk Periode Ulang (T) 5 tahun YTR = 1,5
πΎ =πππ + ππ
Sn = 1,5+0,495
0,95 = 2,100
XT=XΜ + K.S =74,3+(2,100x 3,443 ) = 81,530 mm
Untuk Periode Ulang (T) 10 tahun YTR = 2,251
πΎ =πππ + ππ
Sn = 2,251+0,495
0,95 =2,891 XT=XΜ + K.S =74,3+(2,891 x 3,443) = 84,252 mm
Untuk Periode Ulang (T) 25 tahun YTR = 2,971
πΎ =πππ + ππ
Sn = 2,971+0,495
0,95 =3,648 XT=XΜ + K.S =74,3+(3,648 x 3,443) = 86,861 mm
Untuk Periode Ulang (T) 50 tahun YTR = 3,903
πΎ =πππ + ππ
Sn = 3,903+0,495
0,95 =4,629 XT=XΜ + K.S =74,3+(4,629 x 3,443 ) = 90,238 mm
Untuk Periode Ulang (T) 100 tahun YTR = 4,601
πΎ =πππ + ππ
Sn = 4,601+0,495
0,95 =5,364 XT=XΜ + K.S =74,3+(5,364 x 3,443) = 92,768 mm
Tabel 4.19 Rekapitulasi Analisa Curah Hujan Rencana Maksimum
No
Periode Ulang (T) Tahun
Normal Log Normal Log Person
III Gumbel
1 1 2 74,300 74,300 74,463
2 2 5 77,192 77,081 77,125
3 3 10 78,707 78,442 78,459
4 4 25 79,946 79,827 79,837
5 5 50 81,358 81,272 80,705
6 6 100 82,322 82,273 81,464
(Hasil Perhitungan)
Dan selanjutnya hasil analisis dapat di lihat pada grafik berikut:
Gambar 4.11 Grafik Curah Hujan Maksimum
Gambar 4.11 Grafik Curah Hujan Maksimum