• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3 Analisis Hidrologi

4.3.5 Koefisien Pengaliran

Koefisien pengaliran adalah suatu variabel yang didasarkan pada kondisi daerahpengaliran dan karakteristik hujan yang jatuh di daerah tersebut. Adapun kondisi dankarakteristik yang dimaksud adalah:

• Kondisi hujan

• Luas dan bentuk daerah pengaliran

• Kemiringan daerah aliran dan kemiringan dasar sungai

• Daya infiltrasi dan perkolasi tanah

• Kebasahan tanah

• Suhu udara dan angin serta evaporasi

• Tata guna lahan

Dalam hal ini telah ditentukan nilai dari koefisien limpasan terhadap kondisi karakter permukaannya yaitu:

Tabel 4.21 Nilai Koefisien Run Off (C)

No

-Daerah Dekat Kota 0,55

(Sumber: Suripin 2004) 4.3.6 Analisa Waktu Konsentrasi dan Intensitas

Waktu yang diperlukan oleh hujan yang jatuh untuk mengalir dari titik terjauh sampai ketempat keluarannya (titik kontrol) disebut dengan waktu konsentrasi suatu daerah aliran dimana setelah tanah menjadi jenuh dan tekanan kecil terpenuhi.

Dalam hal ini diasumsikan bahwa jika durasi hujan sama dengan waktu konsentrasi maka setiap bagian daerah aliran secara serentak telah menyumbangkan aliran terhadap titik kontrol.

Hubungan antara intensitas hujan, lamanya hujan dan frekuensi hujan biasanya dinyatakan dalam lengkung Intensitas Durasi Frekuensi (IDF) yaitu Intensity Duration Frequency Curve. Diperlukan data hujan jangka pendek misalnya 5 menit,10 menit, 30 menit, 60 menit dan jam-jaman untuk membentuk lengkung IDF.

Data hujan jenis ini hanya dapat diperoleh dari stasiun penakar otomatis, selanjutnya berdasarkan hujan jangka pendek tersebut lengkung IDF dapat dibuat.

Dari tabel dibawah dan divariasikan terhadap waktu konsentrasi serta fungsi dari drainase itu sendiri (primer atau sekunder).

Untuk saluran drainase primer curah hujan rencana yang diperkirakan untuk 5 tahunan dan untuk saluran drainase sekunder diambil curah hujan rencana untuk

5 tahunan, sehingga didapatlah analisa perhitungan intensitas dan waktu konsentrasi berikut ini

Tabel 4.22 Hujan Rancangan Periode Ulang 5 Tahun Metode Gumbel Periode

Tabel 4.23 Perhitungan Analisa Intensitas Curah Hujan

No T

1 5 0,083 143,755 151,379 156,432 161,277 167,548 172,245 2 10 0,167 89,988 94,761 97,924 100,957 104,882 107,822

3 20 0,333 56,672 59,677 61,670 63,579 66,052 67,903

4 30 0,500 43,161 45,450 46,968 48,422 50,305 51,715

5 40 0,667 35,583 37,470 38,721 39,920 41,472 42,635

6 50 0,833 30,660 32,286 33,364 34,397 35,735 36,736

7 60 1,000 27,127 28,566 29,519 30,434 31,617 32,503

8 70 1,167 24,461 25,758 26,618 27,442 28,509 29,308

9 80 1,333 22,375 23,562 24,349 25,103 26,079 26,810

10 90 1,500 20,674 21,770 22,497 23,194 24,096 24,771

11 100 1,667 19,262 20,284 20,961 21,610 22,450 23,080 12 110 1,833 18,075 19,034 19,669 20,278 21,067 21,658 13 120 2,000 17,050 17,954 18,553 19,128 19,872 20,429 14 130 2,167 16,158 17,015 17,583 18,127 18,832 19,360

15 140 2,333 15,378 16,194 16,734 17,252 17,923 18,426 16 150 2,500 14,682 15,461 15,977 16,472 17,112 17,592 17 160 2,667 14,060 14,805 15,299 15,773 16,387 16,846 18 170 2,833 13,502 14,218 14,693 15,148 15,737 16,178 19 180 3,000 12,994 13,683 14,140 14,578 15,144 15,569

Salah satu contoh perhitungan (R2, R5, R10, R25, R50 dan R100) analisa Intensitas curah hujan Distribusi Gumbel diatas sebagai berikut:

Untuk Periode Ulang (T) 2 Tahun:

,𝐼𝑇 =𝑅24

Untuk Periode Ulang (T) 5 Tahun:

,𝐼𝑇 =𝑅2424 (24𝑡)2/3 𝐼𝑇 =81,530

24 ( 24 0,083)2/3 IT=151,379 mm/jam

Untuk Periode Ulang (T) 10 Tahun:

𝐼𝑇 =𝑅24

Untuk Periode Ulang (T) 25 Tahun:

𝐼𝑇 =𝑅24

Untuk Periode Ulang (T) 50 Tahun:

Untuk Periode Ulang (T) 100 Tahun:

𝐼𝑇 =𝑅24

Dari Analisa diatas dapat digambarkan kurva IDR sebagai berikut:

Berdasarkan perhitungan sebelumnya (lihat tabel 4.22) besar hujan rancangan untuk kala ulang 5 tahun :

X5 tahun = 81,530 mm

Gambar 4.12 Grafik Intensitas Curah Hujan

Untuk perhitungan Tc (waktu Konsentrasi) menggunakan metode yang dikembangkan oleh Kirpich yang diasumsikan dari rumus Manning untuk koefisien kekasaran rata-rata dan jari-jari hidraulis yang berlaku umum adalah sebagai berikut:

𝑡𝑜𝑓 = 0,0195( 𝐿

√𝑆)0,07 di mana:

tof = waktu pengaliran (menit),

L = panjang saluran yang ditinjau dari inlet (pemasukan) sampai ke tampang yang ditinjau (m),

S = slope (kemiringan daerah pengaliran).

Maka waktu konsentasi = waktu pemasukan + waktu pengaliran atau tc = toe + tof

Gambar 4.13 Genangan 3 (Genangan Prioritas)

Contoh Perhitungan Saluran No.1(jalan amal luhur) :

Luas daeah aliran : A = 35 Ha

Jarak terjauh dai aliran curah hujan : L = 908 meter

Kemiringan daerah alian : S = (Elev.hulu – Elev.hilir)/ L

S = (25-23)/908 = 0,002

Waktu pemasukan kriteria daerah komersil : toe = 10 menit = 0.16 jam

Waktu konsentrasi :

tc = toe + tof

tc = 0,16 + 0,65 = 0,81 jam Intensitas Curah Hujan 5 tahun :

𝐼 =𝑅24

Tabel 4.24 Nilai Intensitas Curah Hujan 5 Tahun

lokasi Elevasi

4.4 Analisa Debit Banjir Rancangan

4.4.1 Pembagian Catchment Area dan Pola Aliran

Untuk pembagian catchment area diperlukan, guna menghitung kapasitas setiap saluran drainase yang ada, sehingga saluran dainase itu dapat dibagi penyaluran airnya.

genangan 3 yaitu jalan amal luhur,bakti luhur dan setia luhur, Maka ditentukan pola aliran saluran drainase yang telah di amati.

Untuk Pembagian catchment area dan pola aliran di Kecamatan Medan Helvetia dapat dilihat pada gambar dibawah :

Section 1 & 2 berada di jalan amal luhur. Section 1 memiliki luas daerah Gambar 4.14 Pembagian Section

Gambar 4.15 Section 1 & 2 (jl. Amal Luhur 1)

tangkapan hujan sebesar 16 Ha dan di gunakan untuk menghitung drainase lajur kiri yang berada di jalan amal luhur 1.section 2 memiliki luas daerah tangkapan hujan sebesar 10 Ha dan di gunakan untuk menghitung drainase lajur kanan yang berada di jalan amal luhur 1. Dan memiliki panjang saluran 1240 m.

Section 7 & 8 berada di jalan amal luhur 2. Section 7 memiliki luas daerah tangkapan hujan sebesar 8,12 Ha di tambah dengan luas daerah tangkapan hujan dari section 1 menjadi 24,12 Ha dan di gunakan untuk menghitung drainase lajur kiri yang berada di jalan amal luhur 2.

Section 8 memiliki luas daerah tangkapan hujan sebesar 5,65 Ha di tambah dengan luas daerah tangkapan hujan dari section 2 menjadi 15,65 Ha dan di gunakan untuk menghitung drainase lajur kiri yang berada di jalan amal luhur 2. Dan memiliki panjang saluran 940 m.

Gambar 4.16 Section 7 & 8 (jl. Amal Luhur 1)

Section 3 & 4 berada di jalan bakti luhur 1. Section 3 memiliki luas daerah tangkapan hujan sebesar 10 Ha dan digunakan untuk menghitung drainase lajur kiri yang berada di jalan bakti luhur 1.section 4 memiliki luas daerah tangkapan hujan sebesar 11,9 Ha dan digunakan untuk menghitung drainase lajur kanan yang berada di jalan bakti luhur 1. Dan memiliki panjang saluran 1190 m.

Gambar 4.17 Section 3 & 4 (jl. Bakti Luhur 1)

Gambar 4.18 Section 9 & 10 (jl. Bakti Luhur 2)

Section 9 & 10 berada di jalan bakti luhur 2. Section 9 memiliki luas daerah tangkapan hujan sebesar 5,79 Ha di tambah dengan luas daerah tangkapan hujan dari section 3 menjadi 15,79 Ha dan di gunakan untuk menghitung drainase lajur kiri yang berada di jalan bakti luhur 2.

Section 10 memiliki luas daerah tangkapan hujan sebesar 4,64 Ha di tambah dengan luas daerah tangkapan hujan dari section 4 menjadi 16,54 Ha dan di gunakan untuk menghitung drainase lajur kiri yang berada di jalan bakti luhur 2. Dan memiliki panjang saluran 677 m.

Section 5 & 6 berada di jalan setia luhur 1. Section 5 memiliki luas daerah tangkapan hujan sebesar 11,5 Ha dan di gunakan untuk menghitung drainase lajur kiri yang berada di jalan setia luhur 1.section 6 memiliki luas daerah tangkapan hujan sebesar 14,4 Ha dan di gunakan untuk menghitung drainase lajur kanan yang berada di jalan setia luhur 1. Dan memiliki panjang saluran 1230 m.

Gambar 4.19 Section 5 & 6 (jl. Setia Luhur 1)

Section 11 & 12 berada di jalan setia luhur 2. Section 11 memiliki luas daerah tangkapan hujan sebesar 5,9 Ha di tambah dengan luas daerah tangkapan hujan dari section 5 menjadi 17,4 Ha dan di gunakan untuk menghitung drainase lajur kiri yang berada di jalan setia luhur 2.

Section 12 memiliki luas daerah tangkapan hujan sebesar 7,12 Ha di tambah dengan luas daerah tangkapan hujan dari section 4 menjadi 21,52 Ha dan di gunakan untuk menghitung drainase lajur kiri yang berada di jalan setia luhur 2. Dan memiliki panjang saluran 648 m.

4.4.2 Debit Air Hujan

Metode yang digunakan untuk menghitung debit air hujan pada saluran saluran drainase dalam studi ini adalah metode rasional USSCS (1973). Bentuk umum pesamaan ini adalah sebagai berikut (Suripin, 2004) :

Qah = 0,00278 CIA 𝑚

3

/det.

Dimana :

Q = debit banjir rencana (m3/det) C = koefisien run off

I = intensitas hujan untuk waktu konstan (mm/jam) Gambar 4.20 Section 11 & 12 (jl. Setia Luhur 2)

A = luas catchment area (Ha)

Contoh Perhitungan Saluran No.1 (jl.amal luhur) : Dimana :

C = 0,55

I = 16,20 mm/jam A = 21,9 Ha

Maka debit air hujan yang dihasilkan pada Saluran No.1 yang menggnakan section 1 yaitu :

Q = 0,00278 x 0,55 x 16,20 x 21,9 = 0,543 𝑚3/detik

Nilai-nilai Debit Air Hujan (Q banjir) untuk periode ulang 5 tahun dapat dilihat pada Tabel 4.26

Tabel 4.25 Debit Air Hujan (Q Banjir) Periode Ulang 5 Tahun lokasi A(Ha) I hujan

(mm/jam) C Q banjir (m3/detik)

jl.amal luhur 21,9 16,20 0,55 0,543

jl. Bakti

luhur 26,0 19,27 0,55 0,766

jl.setia luhur 25,9 18,61 0,55 0,737

(Hasil Perhitungan)

4.4.3 Analisa Kapasitas Drainase

Analisa ini dilakukan sebagai control terhadap perhitungan debit banjir rencana. Dari data-data yang ada dapat dihitung kapasitas maksimal debit drainase prioritas di Kecamatan Medan Helvetia menggunakan dinding beton dengan rumus manning sebagai berikut :

Contoh Perhitungan Saluran No.1 : 1. Luas Penampang (A) :

A = ((b+B)/2) x h A = ((0,7+0,7)/2 x 0,5 A = 0,35 m

2. Keliling Basah (P) :

P = b + 2((ℎ)2 + (((B – b)/2)2 ))0,05 P = 0,7 + 2((0,5)2 + (((0,7 – 0,7)/2)2 ))0,05 P = 1,70 m

3. Jari-jari Hidrolis (R) : 𝑅 =𝐴

𝑝 𝑅 =0,35

1,70 R=0,206

4. Kecepatan Aliran (V) : 𝑉 = 1

𝑛 𝑋 (𝑅)3 2 𝑋 (𝑆)0,5

𝑉 = 1

0,13 𝑋 (0,206)3 2 𝑋 (0,002)0,5 V=1,347 m/detik

Kecepatan maksimum dan minimum saluran yang diizinkan ditentukan oleh kemiringan talud saluran. Maka kecepatam aliran yang didapat valid untuk digunakan, seperti tabel 4.26 dibawah.

Table 4.26 Jenis Saluran Terbuka

6. Debit Saluran (Qs)

Qs = A x V Qs = 0,35 x 1,374 Qs = 0,471 𝑚3/detik

Tinggi jagaan ruang bebas (freeboard) disaluran terbuka dengan permukaan yang keras akan ditentukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan antara lain seperti besar dimensi saluran, kecepatan aliran, arah dan lengkungan saluran, debit

tinggi urugan atau minimum tanah diatas puncak lining tersebut biasanya diambil antara 0,30 s/d 0,60 m. menurut SNI 03-3424-1994 tinggi jagaan saluran drainase bentuk trapezium dan segiempat ditentukan berdasarkan rumus :

Fr = √0.5. ℎ Dimana :

Fr = Ruang bebas (freeboard) m h = Kedalaman air (m)

Tabel 4.27 Analisa Kapasitas Drainase

lokasi h b B A P R n S V Q

saluran jl.amal luhur 0,5 0,7 0,7 0,35 1,70 0,206 0,013 0,003 1,347 0,471 jl. Bakti luhur 0,4 0,8 0,8 0,32 1,60 0,200 0,013 0,002 1,294 0,414 jl.setia luhur 0,5 0,6 0,6 0,3 1,60 0,188 0,013 0,002 1,245 0,373

(Hasil Perhitungan)

Tabel 4.28 Perbandingan Q Banjir dengan Q Saluran

lokasi Q Saluran (m3/det) Q banjir (m3/det) Keterangan saluran

jl.amal luhur 0,471 0,543 Tidak aman

jl. Bakti luhur 0,414 0,766 Tidak aman

jl.setia luhur 0,373 0,737 Tidak aman

(Hasil Perhitungan)

Dari hasil perhitungan di atas maka didpatkan nilai Q banjir lebih besar dari Q saluran.Oleh karena itu diperlukan perhitungan ulang untuk menentukan dimensi saluran yang berada di lokasi genangan.

4.4.4 Menghitung Dimensi Saluran Drainase

Dengan mengetahui perbandingan debit saluran dan debit banjir pada setiap drainase prioritas di genangan 3, maka dapat direncanakan saluran yang mencukupi kapasitas debit banjir sebagai berikut :

Tabel 4.29Debit Air Hujan (Q Banjir) Periode Ulang 5 Tahun

Lokasi A(Ha) I hujan C Q banjir

jl.amal luhur 1 (kiri)

16,0 11,89 0,55 0,291

jl.amal luhur 1 (kanan)

10,0 11,89 0,55 0,182

jl.bakti luhur 1 (kiri)

10,0 12,86 0,55 0,197

jl.bakti luhur 1(kanan)

11,9 12,86 0,65 0,277

jl.setia luhur 1 (kiri)

11,5 12,07 0,65 0,251

jl.setia luhur 1 (kanan)

14,4 12,07 0,55 0,266

jl.amal luhur 2 (kiri)

24,12 33,772 0,55 1,246

jl.amal luhur 2 (kanan)

15,65 33,772 0,55 0,808

jl.bakti luhur 2 (kiri)

15,79 28,033 0,55 0,677

jl.bakti luhur 2 (kanan)

16,54 28,033 0,65 0,838

jl.setia luhur 2 (kiri)

17,4 44,033 0,65 1,384

jl.setia luhur 2 (kanan)

21,52 44,033 0,55 1,449

(Hasil Perhitungan)

1. Dengan asumsi saluran berbentuk trapesium.

Untuk saluran No.1

Q banjir = 0,291 m3/detik Kemiringan Saluran : S = 0,002

Koefisien Kekasaran : n = 0,013

Dengan persamaan (2.28) dan (2.29) maka : P = 2h√3

A = ℎ2√3 𝑅 = ℎ

2

Dengan Menggunakan Rumus Manning, maka :

Q = A x V Q =ℎ2 √3𝑋1

𝑛 (

2)

2 3𝑆

1 2

0,291 =0,72 √3𝑋0,013 1 (0,070

2 )230,00212 h =0,370 m

dari persamaan (2.27) 𝑏 =2

3ℎ√3 b=0,427 m

Tinggi jagaan : 𝐹𝑟 = √0,5𝑋ℎ Fr =√0,5 X 0,370 Fr =0,430 m Tinggi total saluran

H=h+Fr

H=0,430 + 0,430 H=0,800 m

Jadi, dimensi saluran drainase bentuk trapesium untuk saluran drainase No.1 adalah dengan lebar dasar b = 0,427 m, tinggi air h = 0,370 m dan Tinggi Saluran H = 0,800 m

Gambar 4.21 Sketsa Drainase Bentuk Trapesium (sketchup 2021)

Untuk dimensi saluran drainase lainnya dapat dilihat pada Tabel.4.30 sebagai berikut :

Tabel 4.30 Dimensi Saluran Drainase Trapesium

Lokasi Q

banjir n S h^8/3 h (m) fr

(m) H (m) b (m) jl.amal luhur 1 (kiri) 0,291 0,013 0,002 0,070 0,370 0,430 0,800 0,427

jl.amal luhur 1 (kanan) 0,182 0,013 0,002 0,044 0,310 0,394 0,704 0,358 jl.bakti luhur 1 (kiri) 0,197 0,013 0,003 0,047 0,317 0,398 0,715 0,366 jl.bakti luhur 1(kanan) 0,277 0,013 0,003 0,066 0,360 0,424 0,784 0,416

jl.setia luhur 1 (kiri) 0,251 0,013 0,002 0,061 0,349 0,418 0,767 0,403

jl.setia luhur 1 (kanan) 0,266 0,013 0,002 0,064 0,357 0,422 0,779 0,412 (Hasil Perhitungan)

Untuk dimensi saluran drainase lanjutan dari gang banteng menuju pembuangan di jalan asrama lainnya dapat dilihat pada Tabel.4.31

sebagai berikut :

Tabel 4.31 Dimensi Lanjutan Saluran Drainase Trapesium

lokasi Q banjir n S h^8/3 h (m) fr (m) H (m) b (m)

jl.amal luhur 2 (kiri) 1,246 0,013 0,004 0,226 0,572 0,535 1,107 0,661

jl.amal luhur 2 (kanan) 0,808 0,013 0,004 0,146 0,487 0,493 0,980 0,562

jl.bakti luhur 2 (kiri) 0,677 0,013 0,003 0,148 0,489 0,494 0,983 0,565

jl.bakti luhur 2 (kanan) 0,838 0,013 0,003 0,184 0,530 0,515 1,044 0,612

jl.setia luhur 2 (kiri) 1,384 0,013 0,006 0,210 0,557 0,528 1,085 0,643

jl.setia luhur 2 (kanan) 1,449 0,013 0,006 0,220 0,566 0,532 1,099 0,654

(Hasil Perhitungan)

Gambar 4.22 Potongan Melintang (Saluran Drainase Trapesium)

2. Dengan asumsi saluran berbentuk persegi.

Untuk saluran No.1 Q banjir = 0,291 m3/detik Kemiringan Saluran : S = 0,002 Koefisien Kekasaran : n = 0,013 Luas Penampang (A) = 2h2

Keliling Penampang Basah (P) = 4h Jari-jari Hidrolis (R) =𝐴

𝑃= 2ℎ2

4ℎ =

2

Dengan Menggunakan Rumus Manning, maka : Q = A x V

Tinggi Total Saluran : H = h + Fr H = 0,350+ 0,419 H = 0,769 m

Jadi, dimensi saluran drainase bentuk persegi untuk saluran drainase No.1 adalah dengan lebar b = 0,701 m, tinggi air h = 0,350 m dan Tinggi Saluran H = 0,769 m

Gambar 4.23 Sketsa Drainase Bentuk Persegi (sketchup 2021) Untuk dimensi saluran drainase lainnya dapat dilihat pada Tabel.4.32 sebagai berikut :

Tabel 4.32 Dimensi Saluran Drainase Persegi

Lokasi Q banjir n s h^8/3 h (m) fr (m) H (m) b (m) jl.amal luhur 1 (kiri)

0,291 0,013 0,002 0,061 0,350 0,419 0,769 0,701

jl.amal luhur 1 (kanan)

0,182 0,013 0,002 0,038 0,294 0,383 0,677 0,587

jl.bakti luhur 1 (kiri)

0,197 0,013 0,003 0,040 0,300 0,387 0,688 0,600

jl.bakti luhur 1(kanan)

0,277 0,013 0,003 0,057 0,341 0,413 0,754 0,682

jl.setia luhur 1 (kiri)

0,251 0,013 0,002 0,052 0,331 0,407 0,738 0,662

jl.setia luhur 1 (kanan)

0,266 0,013 0,002 0,056 0,338 0,411 0,749 0,676

(Hasil Perhitungan)

Untuk dimensi saluran drainase lanjutan dari gang banteng menuju pembuangan di jalan asrama lainnya dapat dilihat pada Tabel.4.33

sebagai berikut :

Tabel 4.33 Dimensi Lanjutan Saluran Drainase Persegi

Lokasi Q banjir n S h^8/3 h (m) fr (m) H (m) b (m)

jl.amal luhur 2 (kiri) 1,246 0,013 0,004 0,195 0,542 0,521 1,063 1,084 jl.amal luhur 2 (kanan) 0,808 0,013 0,004 0,127 0,461 0,480 0,941 0,922 jl.bakti luhur 2 (kiri) 0,677 0,013 0,003 0,128 0,463 0,481 0,945 0,927 jl.bakti luhur 2 (kanan) 0,838 0,013 0,003 0,159 0,502 0,501 1,003 1,004 jl.setia luhur 2 (kiri) 1,384 0,013 0,006 0,182 0,528 0,514 1,041 1,055 jl.setia luhur 2 (kanan) 1,449 0,013 0,006 0,190 0,537 0,518 1,055 1,073

(Hasil Perhitungan)

Gambar 4.24 Potogan Melintang (Saluran Drainase Persegi)

4.5 Pola Aliran

Gambar 4.25 Pola Aliran

Dari gambar di atas diketahui bahwa aliran air datang dari jalan Kapten Muslim dan akan menuju ke pembuangan yang berada di jalan Asrama.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Akhir dari penulisan tugas akhir yang berjudul Analisis Sistem Drainase Perkotaan dan Evaluasi Banjir pada Kecamatan Medan Helvetia, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Nilai curah hujan yang digunakan untuk perhitungan intensitas curah hujan adalah nilai curah hujan Distribusi Gumbel periode ulang 5 tahun.

2. Pola aliran saluran drainase dan Catchment Area dibuat sesuai hasil dari pengamatan dan analisis di lapangan.

3. Ada sebanyak 102 titik banjir yang di kelompokan menjadi 9 genangan di Kecamatan Medan Helvetia dan diambil 1 genangan banjir prioritas yaitu genangan 3 yang berada pada Jl. Amal luhur, Jl.bakti Luhur dan Jl. Setia luhur berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.

4. Besarnya Q banjir yang dihasilkan pada genangan titik banjir prioritas lebih besar kapasitasnya dari pada Q saluran yang ada,dengan nilai sebagai berikut:

lokasi Q Saluran (m3/det) Q banjir (m3/det) Keterangan saluran

jl.Amal luhur 0,471 0,543 Tidak aman

jl. Bakti luhur 0,414 0,766 Tidak aman

jl.Setia luhur 0,373 0,737 Tidak aman

maka perlu penambahan dimensi ulang pada saluran drainase tersebut supaya dapat menampung debit air hujan yang ada, sehingga tidak menyebabkan banjir dikawasan tersebut.

5. Bersadarkan pengamatan dan analisis yang dilapangan penyebab terjadinya banjir tidak hanya kurangnya kapasitas saluran drainase, melainkan juga sebab lain seperti sedimentasi, sampah, tertimbun bangunan masyarakat dan drainase yang sudah rusak.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil studi identifikasi penanggulangan banjir dan rencana desain drainase Kecamatan Medan Helvetia, Adapun saran yang diberikan sebagai berikut :

1. Perlunya ada pemeliharaan terhadap saluran drainase agar nantinya saluran dapat bekerja secara maksimal dan tidak menimbulkan masalah banjir kedepannya.

2. Hasil penelitian tugas akhir ini dapat diharapkan menjadi masukan yang berguna dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan perencanaan dan perbaikan sistem saluran drainase yang berkelanjutan khususnya pada Kawasan Kecamatan Medan Helvetia.

DAFTAR PUSTAKA

Permen PU No 12 tahun 2014 penyelenggaraan sistem drainase perkotaan.

Suripin. Dr. Ir. M. Eng. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang berkelanjutan. Yogyakarta: Andi.

Wesli. 2008. Drainase Perkotaan. Yogyakarta: Graha Ilmu Triatmojo, Bambang. 1995. Hidrolika II. Yokyakarta. Beta Offset.

Chow, Ven Te. 1985. Hidrolika Saluran Terbuka. Jakarta: Erlangga Soemarto, CD. 1993. Hidrolika Teknik. Jakarta: Erlangga

Hasmar, Halim. 2011. Drainase Terapan. Penerbit UII Pres. Yogyakarta Subarkah, Imam. 1978. Hidrologi Untuk Perencanaan Bangunan Air. Idea Dharma. Bandung.

Khair. M. Farqi. 2012. Evaluasi Sistem Drainase Di Kawasan Sekitar Stadion Teladan Kota Medan. Tugas Akhir, Departemen Teknik Sipil, FT-USU.

Harahap, Rosmaito. 2021. Perencanaan Sistem Drainase Pada Kawasan Kampus Universitas Sumatera Utara Kwala Bekala. Tugas Akhir, Departemen Teknik Sipil, FT-USU.

Rangkuti, M. A., Lukman, A., & Harahap, R. 2019. Evaluasi Drainase Di Jalan Haji Misbah Dan Jalan Multatuli Sekitar Sungai Deli Kecamatan Medan Helvetia. Buletin Utama Teknik, 15(1), 66-73.

Hst, A. C. (2014). Evaluasi Kapasitas Sistem Drainase Di Kecamatan Medan Johor. Jurnal Teknik Sipil USU, 3(3).

Nazir, M. H., Jufrinal, J., Junaidi, J., & Mera, M. (2018, August). Pemetaan Jaringan Drainase Kota Padang Berbasis Quantum Gis Open Source (Studi Kasus Jaringan Drainase Kanal Banjir & Batang Kuranji). In Andalas Civil Engineering (ACE) Conference 2015.

Lukman, A. (2018). Evaluasi Sistem Drainase Di Kecamatan Helvetia Kota Medan. Buletin Utama Teknik, 13(2), 163-174.

Http://dataonline.bmkg.go.id . di Akses pada tanggal 1 September 2021.

LAMPIRAN I Detail Pola Aliran

s

Pola Aliran Drainase jalan amal luhur 1

Pola Aliran Drainase jalan amal luhur 2

Pola Aliran Drainase jalan bakti luhur 1

Pola Aliran Drainase jalan bakti luhur 2

Pola Aliran Drainase jalan setia luhur 1

Pola Aliran Drainase jalan setia luhur 2

LAMPIRAN II

Dokumentasi Lapangan

Dokumen terkait