BAB IV HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS
IV.1. Hasil Perhitungan Tekanan Total
IV.1.4. Analisa Tekanan Total
a. Analisa Tekanan Total Permukaan Helideck (Ketinggian 0 Me ter dari Deck)
Grafik IV-7 Perbandingan Tekanan Total Sumbu Melintang pada Permukaan Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-7 menggambarkan hubungan tekanan total pada permukaan helideck atau ketinggian 0 m dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata tekanan total angin tertinggi pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata tekanan total angin terendah pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya rata-rata tekanan total angin yang dihasilkan pada permukaan helideck oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya.
Dilihat dari pertitik, tekanan total angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 0 m yaitu sebesar 428,296 Pa. Tekanan total angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 5 m di titik 11 m yaitu sebesar 111,921 Pa.
Grafik IV-8 Perbandingan Tekanan Total Sumbu Memanjang pada Permukaan Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-8 menggambarkan hubungan tekanan total pada permukaan helideck atau ketinggian 0 m dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata tekanan total angin tertinggi pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata tekanan total angin terendah pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m, kecuali di titik -22 m, -15-(-10) m dan 22 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya rata-rata tekanan total angin yang dihasilkan pada permukaan helideck oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya, kecuali di titik -22 m, -15-(-10) m, dan 22 m.
Dilihat dari pertitik, tekanan total angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik -1 m yaitu sebesar 435,536 Pa. Tekanan total angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 2,5 m di titik -22 m yaitu sebesar 68,747 Pa.
b. Analisa Tekanan Total Ketinggian 0,85 Meter dari Deck
Grafik IV-9 Perbandingan Tekanan Total Sumbu Melintang pada Ketinggian 0,85 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-9 menggambarkan hubungan teknan total pada ketinggian 0,85 m dari helideck dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata tekanan total tertinggi pada ketinggian 0,85 m dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata tekanan total terendah pada ketinggian 0,85 m dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya rata-rata tekanan total yang dihasilkan pada ketinggian 0,85 m oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m bernilai di antara keduanya.
Dilihat dari pertitik, tekanan total tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 409,971 Pa. Tekanan total angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 5 m di titik 11 m yaitu sebesar 147,004 Pa.
Grafik IV-10 Perbandingan Tekanan Total Sumbu Memanjang pada Ketinggian 0,85 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-10 menggambarkan hubungan tekanan total pada ketinggian 0,85 m dari helideck dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Garis 2,5 m konsisten di atas garis 5 m, artinya tekanan total helikopter dengan ketinggian 2,5 m cenderung lebih tinggi dibanding dengan helikopter dengan ketinggian 5 m, kecuali di titik 22 m, 19 m, 16 m, dan 3 m. Garis 0 m bergerak anomali dibandingkan yang lain, namun memiliki konsistensi di titik -22-(-13) m dan 14-22 m selalu di bawah, dan pada titik -8-12 m selalu di atas, artinya pola tekanan total yang ditimbulkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m berbeda dengan ketinggian yang lain, pada titik -8-12 memeliki tekanan total tertinggi dan di titik -22-(-13) m dan 14-22 m memiliki tekanan total terendah.
Dilihat dari pertitik, tekanan total tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 5 m yaitu sebesar 352,462 Pa. Tekanan total terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik -22 m yaitu sebesar 53,147 Pa.
c. Analisa Tekanan Total Ketinggian 1,7 Meter dari Deck
Grafik IV-11 Perbandingan Tekanan Total Sumbu Melintang pada Ketinggian 1,7 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-11 menggambarkan hubungan tekanan total pada ketinggian 1,7 m dari helideck dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata tekanan total tertinggi pada ketinggian 1,7 m dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m, namun mulai titik 9 m turun drastis meliwati dua garis lain hingga di titik 11 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata tekanan total terendah pada ketinggian 1,7 m dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya rata-rata tekanan total yang dihasilkan pada ketinggian 1,7 m oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya.
Dilihat dari pertitik, tekanan total tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 398,72 Pa. Tekanan total terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 11 m yaitu sebesar 51,821 Pa.
Grafik IV-12 Perbandingan Tekanan Total Sumbu Memanjang pada Ketinggian 1,7 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-12 menggambarkan hubungan tekanan total pada ketinggian 1,7 m dari helideck dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat balingbaling helikopter, titik -22 m dan -22 m menunjukkan tepi helideck. Garis 2,5 m konsisten di atas garis 5 m, artinya tekanan total helikopter dengan ketinggian 2,5 m cenderung lebih tinggi dibanding dengan helikopter dengan ketinggian 5 m, kecuali di titik 2-3 m dan 12-22 m. Garis 0 m bergerak anomali dibandingkan yang lain, namun memiliki konsistensi di titik -22-(-10) m dan 10-22 m selalu paling bawah, artinya pola tekanan total yang dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m berbeda dengan ketinggian yang lain, pada titik -22-(-10) m dan 10-22 m konsisten memiliki tekanan total terendah.
Dilihat dari pertitik, tekanan total tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 5 m yaitu sebesar 343,461 Pa. Tekanan total terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik -21 m yaitu sebesar -60,667 Pa.
d. Analisa Umum Tekanan Total
Grafik IV-13 Perbandingan Rata-rata Tekanan Total Melintang
Grafik IV-13 menggambarkan hubungan tekanan total rata-rata pada helideck dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya tekanan total rata-rata angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya tekanan total rata-rata angin terendah dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya tekanan total rata-rata angin yang dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya.
Pada ketinggian helikopter 0 m tekanan total tertinggi sebesar 409,452 Pa pada titik 2 m, tekanan total terrendah sebesar 152,465 Pa pada titik 11 m. Pada ketinggian helikopter 2,5 m tekanan total tertinggi sebesar 306,844 Pa pada titik 1 m, tekanan total terrendah sebesar 135,749
Pa pada titik 11 m. Pada ketinggian helikopter 5 m tekanan total tertinggi sebesar 212,737 Pa pada titik 11 m, tekanan total terrendah sebesar 122,373 Pa pada titik 0 m. Secara umum, tekanan total rata-rata angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 409,452 Pa. Tekanan total angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 5 m di titik 11 m yaitu sebesar 122,373 Pa.
Grafik IV-14 Perbandingan Rata-rata Tekanan Total Memanjang
Grafik IV-14 menggambarkan hubungan tekanan total rata-rata pada helideck dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Garis 2,5 m konsisten di atas garis 5 m, artinya kecepatan rata-rata helikopter dengan ketinggian 2,5 m cenderung lebih tinggi dibanding dengan helikopter dengan ketinggian 5 m, kecuali di titik 16 m, dan 19-22 m. Garis 0 m bergerak anomaly dibandingkan yang lain, namun memiliki konsistensi di titik -22-(-13) m dan 14-22 m dengan selalu di bawah, dan pada titik -10-(-6) m dan 5-12 m selalu di atas artinya pola tekanan total rata-rata yang ditimbulkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m berbeda dengan ketinggian yang lain, pada titik -10-(-6) m dan 5-12 m memeliki tekanan total tertinggi dan di titik -22-(-13) m dan 14-22 m memiliki tekanan total terrendah.
Pada ketinggian helikopter 0 m tekanan total tertinggi sebesar 350,146 Pa pada titik 5 m, tekanan total terrendah sebesar 34,505 Pa pada titik -22 m. Pada ketinggian helikopter 2,5 m tekanan total tertinggi sebesar 304,181 Pa pada titik 1 m, tekanan total terrendah sebesar 71,456 Pa pada titik 22 m. Pada ketinggian helikopter 5 m tekanan total tertinggi sebesar 224,585 Pa pada titik 1 m, tekanan total terrendah sebesar 74,758 Pa pada titik -22 m. Secara umum, tekanan total rata-rata tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 5 m yaitu sebesar 350,146 Pa. Tekanan total rata-rata terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 5 m di titik -22 m yaitu sebesar 34,505 Pa.