• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS

IV.2. Hasil Perhitungan Kecepatan

IV.2.1. Model Helikopter dengan Ketinggian 0 Meter (Tepat Menyentuh Landasan)

Grafik IV-15 Kecepatan Sumbu Melintang Akibat Ketinggian Helikopter 0 Meter Grafik IV-15 menggambarkan hubungan kecepatan dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Kondisi helikopter memiliki ketinggian tepat di landasan atau 0 m dari landasan. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata kecepatan tertinggi pada permukaan helideck kecuali di titik 11 m. Garis terbawah adalah garis 1,7 m, artinya rata-rata kecepatan terendah ada pada ketinggian 1,7 m. Sedang garis 0,85 m berada di tengah, artinya rata-rata kecepatan pada ketinggian 0,85 m bernilai antara keduanya kecuali di titik 11 m. Pada titik 0 m dan 1 m, di garis 0,85 m dan di garis 1,7 m tidak memiliki nilai karena memasuk daerah helikopter.

Secara melintang grafik memiliki kecenderungan awal menurun kemudian naik, dan di ujung cenderung menurun kembali. Menjauhi titik 0 m kecepatan menurun hingga titik 2 m, kemudian naik hingga titik 10 m dan menurun kembali. Pada garis 0 m kecepatan di titik 1 m dan 2 m turun sebesar 2,862 m/s dan 6,105 m/s, kemudian hingga di titik 10 m naik sebesar 0,9-6,7 m/s, dan di titik 11 m menurun sebesar 2,96 m/s. Pada garis 0,85 m kecepatan turun di titik 3 m sebesar 2,162 m/s, kemudian naik hingga titik 10 m sebesar 0,824-2,127 m/s, dan turun di titik 11 m sebesar 0,129 m/s. Pada garis 1,7 m kecepatan turun pada titik 3 m dan 4 m sebesar 3,813 m/s dan 0,142 m/s, kemudian naik hingga titik 9 m sebesar 1,319-0,687 m/s dan turun kembali pada titik 10 m dan 11 m sebesar 1,146-1,971 m/s.

Pada garis 0 m kecepatan tertinggi sebesar 23,995 m/s pada titik 10 m, kecepatan terrendah sebesar 2,674 m/s pada titik 2 m. Pada garis 0,85 m kecepatan tertinggi sebesar 19,92 m/s pada titik 10 m, kecepatan terrendah sebesar 7,909 m/s pada titik 3 m. Pada garis 1,7 m kecepatan tertinggi sebesar 16,075 m/s pada titik 9 m, kecepatan terrendah sebesar 10,52 m/s

pada titik 4 m. Secara keseluruhan, kecepatan tertinggi ada pada garis 0 m di titik 10 m yaitu sebesar 23,995 m/s. Kecepatan terrendah ada pada garis 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 2,674 m/s.

Grafik IV-16 Kecepatan Sumbu Memanjang Akibat Ketinggian Helikopter 0 Meter Grafik IV-16 menggambarkan hubungan kecepatan dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Kondisi helikopter memiliki ketinggian tepat di landasan atau 0 m dari landasan. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata kecepatan tertinggi pada permukaan helideck kecuali di titik -7-(-5) m dan 5-6 m. Garis terbawah adalah garis 1,7 m, artinya rata-rata kecepatan terendah ada pada ketinggian 1,7 m kecuali di titik -5 m. Sedang garis 0,85 m berada di tengah, artinya rata-rata kecepatan pada ketinggian 0,85 m bernilai antara keduanya kecuali di titik -7-5 m. Pada titik tertentu semua garis tidak memiliki nilai karena memasuki daerah helikopter.

Secara memanjang garis grafik memiliki kecenderungan sendiri-sendiri. Garis 0 meter menjauhi titik 0 m berkecenderungan naik hingga titik puncak tertentu kemudian turun, sedang garis 0,85 m dan 1,7 m menjauhi titik 0 m berkecenderungan naik hingga titik puncak tertentu kemudian turun hingga titik lembah tertentu kemudian naik kembali hingga titik tepi. Pada garis 0 m kecepatan di titik -21 m naik tajam sebesar 5,806 m/s, kemudian naik konstan dari titik -20 m ke titik -13 m sebesar 0,011-0,823 m/s, kemudian di titik -11 m ke -5 m menurun sebesar 0,282-2,477 m/s, kemudian naik di titik -4-(-2) m sebesar 0,311-4,137 m/s, kemudian turun di titik -1-1 m sebesar 0,099-4,532 m/s, kemudian naik di titik 2 m sebesar 1,779 m/s, di titik 3 m tidak memiliki nilai karena tepat pada roda depan helikopter, kemudian di titik 4-12 m naik sebesar 0,178-2,907 m/s, kemudian terus menurun hingga titik 22 m sebesar 0,098-2,379 m/s. Pada garis 0,85 m kecepatan naik di titik -21-(-20) m sebesar 0,216-0,127 m/s, kemudian turun di titik -19 m sebesar 0,073 m/s, kemudian naik dari titik -18-(-11) m sebesar 0,045-1,498 m/s, kemudian turun di titik -11-(-4) m sebesar 0,272-5,212 m/s, kemudian naik dari titik -3 m

kemudian naik dari titik 6-11 m sebesar 0,194-1,824 m/s, kemudian turun hingga titik 22 m sebesar 0,164-1,355 m/s. Pada garis 1,7 m kecepatan turun pada titik -21-(-17) m sebesar 0,266-0,805 m/s, kemudian naik di titik -16-(-10) m sebesar 0,141-4,397 m/s, kemudian turun di titik -9-(-6) m sebesar 0,492-1,418 m/s, kemudian naik di titik -5 m sebesar 0,099 m/s, di titik -4-4 m tidak memiliki nilai karena memasuki daerah helikopter, kemudian turun di titik 6 m sebesar 2,54 m/s, kemudian naik di titik 7-9 m sebesar 0,703-1,174 m/s, kemudian turun di titik 10-18 m sebesar 0,109-2,475 m/s, kemudian naik hingga titik 22 sebesar 0,197-0,585 m/s.

Pada garis 0 m kecepatan tertinggi sebesar 23,733 m/s pada titik 12 m, kecepatan terrendah sebesar 10,417 m/s pada titik 4 m. Pada garis 0,85 m kecepatan tertinggi sebesar 19,633 m/s pada titik 11 m, kecepatan terrendah sebesar 6,782 m/s pada titik -4 m. Pada garis 1,7 m kecepatan tertinggi sebesar 15,438 m/s pada titik -10 m, kecepatan terrendah sebesar 3,6 m/s pada titik -17 m. Secara keseluruhan, kecepatan tertinggi ada pada garis 0 m titik 12 m yaitu sebesar 23,733 m/s. Kecepatan terrendah ada pada garis 0 m titik -17 m yaitu sebesar 3,6 m/s. IV.2.2. Model Helikopter dengan Ketinggian 2,5 Meter

Grafik IV-17 Kecepatan Sumbu Melintang Akibat Ketinggian Helikopter 2,5 Meter Grafik IV-17 menggambarkan hubungan kecepatan dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Kondisi helikopter memiliki ketinggian 2,5 m dari landasan. Berurutan dari titik 0 m hingga 2 m yaitu dari garis teratas ke bawah yaitu garis 1,7 m, garis 0,85 m, dan 0 m. Kemudian di titik 3-5 m terjadi peralihan fungi. Di titik 6-11 m berurutan dari atas ke bawah yaitu garis 0 m, 0,85 m, dan 1,7 m. Artinya rata-rata kecepatan tertinggi ada pada ketinggian 0 m namun terbatas pada titik 4-11 m, sedang di titik 0-2 m garis 0 meter ada pada kecepatan terendah. Sebaliknya garis 1,7 m menunjukkan kecepatan terendah di titik 5-11 m, sedang di titik 0-3 m berada di kecepatan

tertinggi. Garis 0,85 m berada rata-rata pada pertengahan garis, artinya nilai kecepatan pada ketinggian 0,85 m antara keduanya, kecuali di titik 3 m dan 4 m berada pada kecepatan terbawah.

Secara melintang grafik memiliki kecenderungan naik pada titik 4 m hingga 10 m, terjadi anomali pada titik 0-4 m dan 11 m. Pada garis 0 m kecepatan di titik 1 m dan 2 m turun sebesar 0,888 m/s dan 0,351 m/s, kemudian turun di titik 2-10 m naik sebesar 1,352-2,32 m/s, dan di titik 11 m menurun sebesar 1,043 m/s. Pada garis 0,85 m kecepatan naik di titik 1 m sebesar 2,342 m/s, kemudian turun di titik 2 m dan 3 m sebesar 1,511-2,514 m/s, kemudian terus naik hingga titik 11 m sebesar 0,594-1,727 m/s. Pada garis 1,7 m kecepatan naik pada titik 1 m sebesar 2,505 m/s, kemudian turun di titik 2-4 m sebesar 0,776-3,56 m/s, naik kembali hingga titik 10 m sebesar 0,278-1,268 m/s dan turun di titik 11 m sebesar 0,27 m/s.

Pada garis 0 m kecepatan tertinggi sebesar 18,456 m/s pada titik 10 m, kecepatan terrendah sebesar 5,26 m/s pada titik 2 m. Pada garis 0,85 m kecepatan tertinggi sebesar 16,857 m/s pada titik 11 m, kecepatan terrendah sebesar 5,939 m/s pada titik 3 m. Pada garis 1,7 m kecepatan tertinggi sebesar 13,767 m/s pada titik 10 m, kecepatan terrendah sebesar 8,306 m/s pada titik 4 m. Secara keseluruhan, kecepatan tertinggi ada pada garis 0 m di titik 10 m yaitu sebesar 18,456 m/s. Kecepatan terrendah ada pada garis 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 5,26 m/s.

Grafik IV-18 Kecepatan Sumbu Memanjang Akibat Ketinggian Helikopter 2,5 Meter Grafik IV-18 menggambarkan hubungan kecepatan dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Kondisi helikopter memiliki ketinggian 2,5 m dari landasan. Memahami ketinggian urutan garis grafik cukup sulit, hanya dapat dijelaskan dengan banyaknya jumlah titik yang mirip. Garis 0 m rata-rata berada paling atas pada 28 titik, artinya nilai kecepatan pada ketinggian 0 m memiliki nilai tertinggi di 28 titik. Garis 1,7 m rata-rata berada paling bawah pada 30 titik, artinya nilai kecepatan pada ketinggian 1,7 m memiliki nilai terrendah di 30 titik. Garis 0,85 berada rata-rata

pada pertengahan garis di 29 titik, artinya nilai kecepatan pada ketinggian 0,85 m antara keduanya di 29 titik.

Secara memanjang grafik anomaly, hanya dapat ditarik persemaan dari tepi -22 m mengalami kenaikan hingga titik tertentu, mendekati titik 0 m mengalami penurunan hingga berbalik naik kembali saat menjauhi titik 0 m hingga pada titik puncak tertentu, dan menurun, kemudian ke tepi titik 22 m. Pada garis 0 m kecepatan di titik -21-(-20) m naik sebesar 0,077 m/s dan 5,528 m/s, kemudian turun di titik -17-(-10) m sebesar 0,045-0,224 m/s, kemudian di titik -9 m dan -8 m naik sebesar 0,101 m/s dan 0,503 m/s, kemudian turun di titik -7 m sebesar 0,496 m/s, kemudian di titik -6 m naik sebesar 0,116 m/s, kemudian turun di titik -4-1 m sebesar 0,041-5,616 m/s, kemudian di titik 2-14 m naik sebesar 0,047-4,306 m/s, kemudian turun sampai ke tepi titik 22 m sebesar 0,071-3,604 m/s. Pada garis 0,85 m kecepatan di titik -21-(-19) m naik sebesar 0,146 m/s dan 0,569 m/s, kemudian turun di titik -18 m sebesar 0,08 m/s, kemudian di titik -17 m-(-13) m naik sebesar 0,07-0,521 m/s, kemudian turun di titik -12 m sebesar 0,279 m/s, kemudian di titik -11 m naik sebesar 0,059 m/s, kemudian turun di titik -10-(-3) m sebesar 0,273-1,032 m/s, kemudian di titik -3 m naik sebesar 0,232 m/s, kemudian turun di titik -2-1 m sebesar 0,31-5,123 m/s, kemudian di titik 2 m naik sebesar 0,94 m/s, kemudian turun di titik 3 m sebesar 0,088 m/s, kemudian di titik 4-13 m naik sebesar 0,009-1,756 m/s, kemudian turun di titik 14 m dan 15 m sebesar 0,438 m/s dan 0,31 m/s, kemudian di titik 16 m naik sebesar 0,02 m/s, kemudian turun samapai ke tepi titik 22 m sebesar 0,266-0,666 m/s. Pada garis 1,7 m kecepatan di titik -21-(-11) m naik sebesar 0,192-0,714 m/s, kemudian turun di titik -10-(-4) m sebesar 0,075-1,208 m/s, kemudian di titik -3 m naik sebesar 0,224 m/s, kemudian turun di titik -2-2 m sebesar 0,216-4,97 m/s, kemudian di titik 3 m dan 4 m naik sebesar 0,219 m/s dan 2,968 m/s, kemudian turun di titik 5 m sebesar 0,544 m/s, kemudian di titik 6-11 naik sebesar 0,133-1,811 m/s, kemudian turun sampai ke tepi titik 22 m sebesar 0,176-0,716 m/s.

Pada garis 0 m kecepatan tertinggi sebesar 18,032 m/s pada titik 14 m, kecepatan terrendah sebesar 3,527 m/s pada titik 1 m. Pada garis 0,85 m kecepatan tertinggi sebesar 19,059 m/s pada titik -13 m, kecepatan terrendah sebesar 7,299 m/s pada titik 1 m. Pada garis 1,7 m kecepatan tertinggi sebesar 18,888 m/s pada titik -11 m, kecepatan terrendah sebesar 5,912 m/s pada titik 2 m. Secara keseluruhan, kecepatan tertinggi ada pada garis 0,85 m di titik -13 m yaitu sebesar 19,059 m/s. Kecepatan terrendah ada pada garis 0 m di titik 1 m yaitu sebesar 3,527 m/s.

IV.2.3. Model Helikopter dengan Ketinggian 5 Meter.

Grafik IV-19 Kecepatan Sumbu Melintang Akibat Ketinggian Helikopter 5 Meter Grafik IV-19 menggambarkan hubungan kecepatan dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Kondisi helikopter memiliki ketinggian 5 m dari helydeck. Secara umum kecenderungan grafik sulit digambarkan, hanya pada titik 8-11 m konsisten dapat didefinisikan dengan baik. Di titik 8-11 m garis teratas garis 0 meter, garis terbawah 1,7 m, sedang garis 0,85 m ada pada pertengahannya. Garis 0 meter berada paling atas pada 6 titik. Garis 1,7 m pada titik terbawah sebanyak 4 titik, dan di titik teratas sebanyak 6 titik. Garis 0,85 m berada di tengah sebanyak 5 titik, dan di titik yang lain berada pada paling bawah.

Secara melintang grafik memiliki kecenderungan yang sulit digambarkan. Kecenderungan pada ketiga garis menurun dari titik 0 m hingga ketitik tertentu kemudian berubah naik hingga titik 11 m. Pada garis 0 m kecepatan di titik 1 m turun sebesar 0,058 m/s, kemudian di titik 2 m naik sebesar 0,058 m/s, di titik 3-5 m turun sebesar 0,271-0,922 m/s, dan di titik 6-11 naik sebesar 0,548-2,074 m/s. Pada garis 0,85 m kecepatan turun di titik 1-4 m sebesar 0,183-1,317 m/s, kemudian naik hingga titik 11 m sebesar 0,249-1,783 m/s. Pada garis 1,7 m kecepatan turun pada titik 1-3 m sebesar 0,672-1,206 m/s, kemudian naik hingga titik 11 m sebesar 0,295-1,153 m/s.

Pada garis 0 m kecepatan tertinggi sebesar 16,272 m/s pada titik 11 m, kecepatan terrendah sebesar 7,196 m/s pada titik 5 m. Pada garis 0,85 m kecepatan tertinggi sebesar 15,239 m/s pada titik 11 m, kecepatan terrendah sebesar 5,668 m/s pada titik 4 m. Pada garis 1,7 m kecepatan tertinggi sebesar 12,875 m/s pada titik 11 m, kecepatan terrendah sebesar 7,471 m/s pada titik 3 m. Secara keseluruhan, kecepatan tertinggi ada pada garis 0 m di titik 11 m yaitu sebesar 16,272 m/s. Kecepatan terrendah ada pada garis 0,85 m di titik 4 m yaitu sebesar 5,668

Grafik IV-20 Kecepatan Sumbu Memanjang Akibat Ketinggian Helikopter 5 Meter Grafik IV-20 menggambarkan hubungan kecepatan dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Kondisi helikopter memiliki ketinggian 5 m dari landasan. Garis 0 m rata-rata berada paling atas, artinya nilai kecepatan pada ketinggian 0 m memiliki nilai tertinggi, kecuali di titik -9 m dan 0-3 m. Garis 1,7 m rata-rata berada paling bawah, artinya nilai kecepatan pada ketinggian 1,7 m memiliki nilai terrendah, kecuali di titik -10-(-8) m dan 0-4 m. Garis 0,85 m berada rata-rata pada pertengahan garis, artinya nilai kecepatan pada ketinggian 0,85 m antara keduanya, kecuali di titik -10-(-8) m, 3 m dan 4 m.

Secara memanjang grafik anomali, hanya dapat ditarik persemaan dari tepi -22 m mengalami kenaikan hingga titik tertentu, mendekati titik 0 m mengalami penurunan, kemudian berbalik naik kembali saat menjauhi titik 0 m hingga pada titik puncak tertentu, dan menurun hingga ke tepi titik 22 m. Pada garis 0 m kecepatan di titik -21-(-15) m naik sebesar 0,102-2,35 m/s, kemudian turun di titik -14-(-7) m sebesar 0,006-1,134 m/s, kemudian di titik -6-(-2) m naik sebesar 0,176-0,904 m/s, kemudian turun di titik -1-2 m sebesar 1,363-4,306 m/s, kemudian di titik 3-14 m naik sebesar 0,02-2,502 m/s, kemudian turun sampai tepi di titik 22 m sebesar 0,062-1,393 m/s. Pada garis 0,85 m kecepatan di titik -21 m naik sebesar 0,695 m/s, kemudian turun di titik -20 m sebesar 0,211 m/s, kemudian di titik -19 naik sebesar 0,971 m/s, kemudian turun di titik -18 m sebesar 0,413 m/s, kemudian di titik -17 m dan -16 m naik sebesar 0,678 m/s dan 0,752 m/s, kemudian turun di titik -15 m sebesar 0,375 m/s, kemudian di titik -14 naik sebesar 0,566 m/s, kemudian turun di titik -13-(-6) m sebesar 0,007-1,801 m/s, kemudian di titik -5-(-2) naik sebesar 0,669-1,223 m/s, kemudian turun di titik -1-3 m sebesar 1,294-2,442 m/s, kemudian di titik 3-13 m naik sebesar 0,417-1,367 m/s, kemudian turun di titik 14 m dan 15 m sebesar 0,42 m/s dan 0,253 m/s, kemudian di titik 16 m naik sebesar 0,42 m/s, kemudian turun

m/s, kemudian turun di titik 20 m sebesar 1,052 m/s, kemudian di titik 21 m naik sebesar 0,413 m/s, kemudian turun di tepi titik 22 m sebesar 0,469 m/s. Pada garis 1,7 m kecepatan di titik -21-(-11) m naik sebesar 0,117-0,77 m/s, kemudian turun di titik -10-(-5) m sebesar 0,212-3,042 m/s, kemudian di titik -4-0 m naik sebesar 0,599-1,768 m/s, kemudian turun di titik 1 m dan 2 m sebesar 1,064m/s dan 1,533 m/s, kemudian di titik 3 m naik sebesar 0,026 m/s, kemudian turun di titik 4 m sebesar 0,265 m/s, kemudian di titik 5-12 m naik sebesar 0,27-1,182 m/s, kemudian turun sampai tepi di titik 22 m sebesar 0,366-0,678 m/s.

Pada garis 0 m kecepatan tertinggi sebesar 16,847 m/s pada titik -15 m, kecepatan terrendah sebesar 3,242 m/s pada titik 2 m. Pada garis 0,85 m kecepatan tertinggi sebesar 15,583 m/s pada titik -14 m, kecepatan terrendah sebesar 5,224 m/s pada titik 2 m. Pada garis 1,7 m kecepatan tertinggi sebesar 13,904 m/s pada titik -11 m, kecepatan terrendah sebesar 5,011 m/s pada titik -5 m. Secara keseluruhan, kecepatan tertinggi ada pada garis 0 m di titik 11 m yaitu sebesar 16,847 m/s. Kecepatan terrendah ada pada garis 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 3,242 m/s. IV.2.4. Analisa Kecepatan

a. Analisa Kecepatan Permukaan Helideck (Ketinggian 0 Meter dari Deck)

Grafik IV-21 Perbandingan Kecepatan Sumbu Melintang pada Permukaan Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter

Grafik IV-21 menggambarkan hubungan kecepatan pada permukaan helideck atau ketinggian 0 m dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata kecepatan angin tertinggi pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata kecepatan angin terendah pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya rata-rata kecepatan angin yang dihasilkan pada permukaan helideck oleh

Dilihat dari pertitik, kecepatan angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 10 m yaitu sebesar 23,995 m/s. Kecepatan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 2,6741 m/s.

Grafik IV-22 Perbandingan Kecepatan Sumbu Memanjang pada Permukaan Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter

Grafik IV-22 menggambarkan hubungan kecepatan pada permukaan helideck atau ketinggian 0 m dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata kecepatan angin tertinggi pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m, kecuali di titik -6-(-4) m dan 3-6 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata kecepatan angin terendah pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m, kecuali di titik -22 m, -13 m, -1-1 m, 8-9 m, dan 22 m. Garis 2,5 m berada di tengah garis grafik, artinya rata-rata kecepatan angin yang dihasilkan pada permukaan helideck oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya, kecuali di beberapa titik tertentu.

Dilihat dari pertitik, kecepatan angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 12 m yaitu sebesar 23,733 m/s. Kecepatan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 3,243 m/s.

b. Analisa Kecepatan Ketinggian 0,85 Meter dari Deck

Grafik IV-23 Perbandingan Kecepatan Sumbu Melintang pada Ketinggian 0,85 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter

Grafik IV-23 menggambarkan hubungan kecepatan pada ketinggian 0,85 m dari helideck dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata kecepatan angin tertinggi pada 0,85 m dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata kecepatan angin terendah pada 0,85 m dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tengah garis grafik, artinya rata-rata kecepatan angin yang dihasilkan pada 0,85 m oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya. Dilihat dari pertitik, kecepatan angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 10 m yaitu sebesar 19,614 m/s. Kecepatan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 4 m yaitu sebesar 7,142 m/s.

Grafik IV-24 Grafik Perbandingan Kecepatan Sumbu Memanjang pada Ketinggian 0,85 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter

Grafik IV-24 menggambarkan hubungan kecepatan pada ketinggian 0,85 m dari helideck dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m

di atas dan di bawah. Garis 2,5 m secara umum lebih tinggi dibandingkan garis 5 m, artinya rata-rata kecepatan angin yang dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m lebih tinggi dibanding ketinggian kecepatan angin yang dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m, kecuali di titik 0 m, 6 m, 7 m, - 19 m, dan 21 m.

Dilihat dari pertitik, kecepatan angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 11 m yaitu sebesar 19,634 m/s. Kecepatan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 5 m di titik 2 m yaitu sebesar 5,224 m/s.

c. Analisa Kecepatan Ketinggian 1,7 Meter dari Deck

Grafik IV-25 Perbandingan Kecepatan Sumbu Melintang pada Ketinggian 1,7 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter

Grafik IV-25 menggambarkan hubungan kecepatan pada ketinggian 1,7 m dari helideck dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata kecepatan angin tertinggi pada ketinggian 1,7 m dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata kecepatan angin terendah pada ketinggian 1,7 m dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya rata-rata kecepatan angin yang dihasilkan pada ketinggian 1,7 m oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya.

Dilihat dari pertitik, kecepatan angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 10 m yaitu sebesar 16,075 m/s. Kecepatan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 5 m di titik 3 m yaitu sebesar 7,471 m/s.

Grafik IV-26 Perbandingan Kecepatan Sumbu Memanjang pada Ketinggian 1,7 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter

Grafik IV-26 menggambarkan hubungan kecepatan pada ketinggian 1,7 m dari helideck dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Garis 2,5 m konsisten di atas garis 5 m, artinya kecepatan rata-rata helikopter dengan ketinggian 2,5 m cenderung lebih tinggi dibanding dengan helikopter dengan ketinggian 5 m, kecuali di titik 2 m dan 3 m. Garis 2,5 cenderung di atas, artinya kecepatan rata-rata helikopter dengan ketinggian 2,5 m cenderung paling tinggi kecuali di titik-titik tertentu. Garis 0 m bergerak anomali dibandingkan yang lain, namun memiliki konsistensi di titik -22-(-11) m dan 11-22 m yaitu selalu berada di bawah, artinya pola kecepatan rata-rata angin yang di timbulkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m berbeda dengan ketinggian yang lain, namun konsisten memiliki nilai terendah di titik -22-(-11) m dan 11-22 m.

Dilihat dari pertitik, kecepatan angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 2,5 m di titik 11 m yaitu sebesar 18,888 m/s. Kecepatan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik -17 m yaitu sebesar 3,6 m/s.

d. Analisa Umum Kecepatan

Grafik IV-27 menggambarkan hubungan kecepatan rata-rata pada helideck dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya kecepatan rata-rata angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m, kecuali di titik 0 m dan 3 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya kecepatan rata-rata angin terendah dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tengah garis grafik, artinya kecepatan rata-rata angin yang dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya, kecuali di titik 0 m dan 3 m.

Pada ketinggian helikopter 0 m kecepatan tertinggi sebesar 19,614 m/s pada titik 10 m, kecepatan terrendah sebesar 9,074 m/s pada titik 2 m. Pada ketinggian helikopter 2,5 m kecepatan tertinggi sebesar 15,967 m/s pada titik 10 m, kecepatan terrendah sebesar 7,328 m/s pada titik 3 m. Pada garis 1,7 m kecepatan tertinggi sebesar 14,796 m/s pada titik 11 m, kecepatan terrendah sebesar 7,142 m/s pada titik 4 m. Secara umum, kecepatan rata-rata angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 10 m yaitu sebesar 19,614 m/s. Kecepatan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 4 m yaitu sebesar 7,142 m/s.

Grafik IV-28 Perbandingan Rata-rata Kecepatan Memanjang

Gambar IV-28 menggambarkan hubungan kecepatan rata-rata pada helideck dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Garis 2,5 m konsisten di atas garis 5 m, artinya kecepatan rata-rata helikopter dengan ketinggian 2,5 m cenderung lebih tinggi dibanding dengan helikopter dengan ketinggian 5 m, kecuali di titik -22 m dan 0 m. Garis 0 m bergerak tidak konsisten, di titik -10 dan 5-13 berada di atas kemudian yang lainnya kadang mendekati garis 5 m kadang mendekati garis 2,5 m, dan terkadang berada terbawah, artinya kecepatan rata-rata angin yang ditimbulkan

oleh helikopter ketinggian 0 m memiliki perubahan nilai yang sangat berbeda dengan ketinggian yang lain.

Pada ketinggian helikopter 0 m kecepatan tertinggi sebesar 18,855 m/s pada titik -10 m, kecepatan terrendah sebesar 11,418 m/s pada titik -22 m. Pada ketinggian helikopter 2,5 m kecepatan tertinggi sebesar 17,918 m/s pada titik -13 m, kecepatan terrendah sebesar 7,236 m/s pada titik 1 m. Pada ketinggian helikopter 5 m kecepatan tertinggi sebesar 15,114 m/s pada titik -13 m, kecepatan terrendah sebesar 5,446 m/s pada titik 2 m. Secara umum, kecepatan rata-rata angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik -10 m yaitu sebesar 18,855 m/s. Kecepatan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 5,446 m/s.

Dokumen terkait