• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Arahan Penanggulangan Bencana Banjir

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN

H. Analisis Tingkat Kerawanan Bencana Banjir di

I. Analisis Arahan Penanggulangan Bencana Banjir

Upaya pengendalian, penanggulangan dan pemanfaatan Ruang Kawasan Bencana Banjir di Kelurahan Banjer ini beracuan dari UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang menyatakan bahwa penataan ruang terdiri dari tiga tahapan yaitu perencanaan, pemanfaatan ruang berdasarkan Bencana, dan pengendalian pemanfaatan Ruang.

Sehubungan dengan penanganan kawasan rawan banjir di Kelurahan Banjer yang berdasarkan hasil analisis secara umum disebabkan oleh curah hujan yang tinggi diatas normal, dan pengundulan hutan di daerah tangkap air (cathcment area)

masuk kedalam sistem aliran menjadi pemicu terjadinya sedimentasi pada drainase dan wadah pengaliran air lainnya, oleh karena itu berdasarkan Undang-undang penata Ruang No. 26 Tahun 2007, terdapat 2 (dua) pendekatan pengendalian terhadap bencana banjir, yaitu :

1. Pengendalian Struktur (Melalui Rekayasa Teknis)

Pelaksanaan pengendalian ini dilakukan melalui kegiatan rekayasa teknis, terutama dalam penyediaan prasarana dan sarana serta penanggulangan banjir.

2. Pengendalian Non Struktual (Pengendalian Terhadap Pemanfaatan Ruang)

Kegiatan ini dilakukan untuk meminimalkan kerugian yang terjadi akibat bencana banjir, baik korban jiwa maupun materi, yang dilakukan melalui pengelolaan daerah pengaliran, pengelolaan kawasan bencana banjir, flood prooling, penataan sistem permukiman, sistem oeringatan dini, mekanisme perijinan, serta kegiatan lain yang berkaitan dengan upaya pembatasan (limitasi) pemanfaatan lahan dalam rangka mempertahankan keseimbangan ekosistem. Pedoman yang disusun merupakan bentuk pengendalian pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana banjir, yang perlu dilakukan sebagai suatu upaya untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayah.

1. Pengendalian Struktual

Rekayasa teknis adalah upaya-upaya secara teknis yang dilakukan manusia untuk melindungi, memperbaiki serta menggunakan sumber daya alam menurut prinsip-prinsip ekonomi maupun sosial yang dapat memberikan keuntungan yang maksimum dan lestari.

Dalam kaitannya dengan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan dalam bencana banjir di Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala Kota Manado rekayasa teknis yang di maksud lebih diarahkan pada upaya-upaya memasukkan air permukaan ke dalam tanah dengan cara mempercepat aliran air permukaan hingga dapat meresap kedalam tanah yang memiliki kelulusan air yang paling optimal serta konservasihutan yang menjadi kawasan lindung didaerah rawan bencana banjir. Rekayasa meresapkan air untuk air tanah dangkal dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : a. Metode Konservasi Vegetatif

b. Metode Konservasi Non Vegetatif

Metode konservasi vegetatif dilakukan dengan dua cara utama yakni :

a. Penanaman/penghijauan kembali kawasan hutan lindung yang telah gundul, terutama pada hutan yang beraluh fungsi menjadi perkebunan sejatinya berfungsi sebagai resapan air hujan.

b. Cara memanfaatkan media tanaman dan lubang-lubang cacing sebagai upaya untuk meresapkan air tanah.

Sedangkan metode konservasi non vegetatif dilakukan dengan cara mengatur aliran air permukaan sehingga tidak terjadi perusakan tanah pada musim basah dan terdapat cukup air pada musim kering. Ada dua cara non vegetatif, yaitu dengan cara mekanis dan cara kimiawi tidak di anjurkan karena bahan kimia yang dipakai mahal dan kemungkinan menambah polusi.

Sedangkan cara mekanis dianggap lebih cocok untuk konservasi air tanah dangkal. Prinsip dasar cara mekanis adalah :

a. Menampung dan menyalurkan air permukaan ke dalam lapisan pembawa air melalui bangunan tertentu, dalam hal ini pembangunan drainase yang berkapasitas mampu menampung debit air hujan dan mengalirkannya ke terakhir yakni laut.

b. Menghambat aliran air permukaan tanah ke dalam tanah dengan memuat bangunan penghambat.

c. Mengatur penggunaan air tanah secara optimal.

Upaya-upaya rekayasa teknis dalam pedoman ini di maksudkan untuk memberikan solusi beberapa hal yang berkaitan dengan pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan bencana banjir.

2. Pengendalian Non Struktual

Pada pengendalian non struktual ini berupa kelembagaan dan perijinan Dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang Di Kawasan Bencana Banjir.

a. Kelembagaan

Pengendalian pemanfaatan ruang dalam rangka upaya penanggulangan banjir di Kelurahan Banjer dilakukan dengan memperkuat kelembagaan dimasing-masing tingkat pemerinntahan. Baik ditingkat pemerintahan propinsi maupun pada tingkat pemerintah kota. Penguatan kelembagaan dilakukan dengan memberikan visi dan misi serta tugas pokok yang lengkap dengan rincian tugasnya yang jelas dan tanggung jawab lembaga didalam pengendalian pemanfaatan ruang, baik pada aspek pengawasan maupun menertiban. Peningkatan kemampuan sumber daya manusia selaku pelaksana pengendalian pemanfaatan ruang perlu terus ditingkatkan, antara lain melalui pelatihan, mengingat permasalahan pemanfaatan ruang semakin kompleks dan sulit diatasi sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal.

b. Pelibatan Masyarakat

Sebagaimana dijelaskan dalam UU No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, bahwa penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh pemerintah dengan peran serta masyarakat. Peran serta masyarakat merupakan hal yang

sangat penting dalam penataan ruang karena pada akhirnya hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat, serta untuk tercapainya tujuan penataan ruang yaitu terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan, terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya, serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas.

Bencana Banjir di Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala Kota Manado telah merugikan masyarakat. Hal ini membuat bencana banjir menjadi perhatian baik dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat maupun dari pihak masyarakat sendiri. Partisipasi masyarakat sudah terlihat dengan baik pada saat penanganan bencana banjir dalam upaya mengurangi resiko bencana banjir. Hal yang paling penting dalam usaha pengurangan resiko kepada masyarakat. Dengan pembekalan yang cukup, masyarakat dapat berwaspada dan siap siaga jika bencana banjir akan terjadi lagi. Tentunya, dalam usaha pemberian pengetahuan bencana,pola piker masyarakatlah yang lebih menjaga daerah resapan dan kawasan hutan sebagaimana fungsinya untuk mengurangi resiko bencana banjir. Selain itu pemerintah dan masyarakat setempat juga harus melakukan beberapa hal diantaranya :

1) Melakukan rebosiasi pada daerah bantaran sungai.

2) Melakukan penghijauan pada daerah yang dianggap berpotensi menimbulkan bencana banjir.

3) Pemeliharaan prasarana saluran drainase.

4) Membantu masyarakat yang memperbaiki tanggul dan membuat sodetan atau kanal.

5) Rumah atau tempat tinggal masyarakat disarankan rumah panggung untuk daerah banjir.

6) Menjaga daerah garis sempadan sungai dan menindak lanjuti pembangunan Daerah Aliran Sungai dengan pekerjaan konstruksi dan normalisasi sungai.

J. Upaya–upaya Mengatasi Masalah Banjir Secarah Menyeluruh Di

Dokumen terkait