• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS ASPEK NON FINANSIAL

Pola Usaha Peternakan Puyuh

Pola usaha yang dilaksanakan pada penelitian ini dibedakan menjadi dua pola usaha yaitu pola usaha I dan pola usaha II. Pola usaha I merupakan pola usaha yang dilakukan peternakan pada awal usaha (April 2011) sampai bulan Agustus 2013, yaitu usaha budidaya puyuh petelur. Pola II merupakan rencana pengembangan usaha yang akan dilakukan oleh peternakan, yaitu penambahan jumlah puyuh petelur dan penambahan unit usaha penjualan DOQ.

Aspek Pasar Peternakan Puyuh Aspek Pasar Budidaya Puyuh Petelur

Potensi pasar untuk produk telur puyuh cukup tinggi. Tingginya potensi telur puyuh ini terbukti dari banyaknya permintaan masyarakat terhadap pembelian di pasar-pasar. Telur puyuh, meski bentuknya lebih kecil dari telur ayam kampung, tetap memiliki khasiat yang sama besarnya. Telur puyuh mengandung sumber gizi berupa protein yang tinggi serta berguna bagi kesehatan. Bahkan, terkadang bisa dipergunakan sebagai campuran obat tradisional sama seperti telur ayam kampung. Manfaat dan khasiat inilah yang menjadi salah satu alasan telur puyuh tetap dicari konsumen. Pangsa pasar utama dari penjualan telur puyuh yaitu wilayah Pariaman. Permintaan telur puyuh untuk pasar Pariaman minimal 14 500 butir telur per hari, sedangkan permintaan minimal daging puyuh yaitu 1 000 ekor per hari. Pemenuhan terhadap besarnya permintaan puyuh berasal dari peternak-peternak dari Pariaman, Kab. Padang Pariaman, Malalak, Solok. Khusus di wilayah Pariaman, jumlah peternak puyuh masih sangat sedikit serta kapasitas produksinya pun masih rendah. Peternakaan puyuh di daerah Pariaman sebagian besar masih tergolong peternakan skala usaha kecil yaitu jumlah populasi puyuhnya di bawah 3 000 ekor.

Sebagai salah satu peternakan puyuh di Pariaman, peternakan Bapak Wisyiarlis masih mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar yang ada. Setiap harinya peternakan mampu menghasilkan sekitar 3 220 butir telur dari kurang lebih 3 500 ekor puyuh petelur. Jumlah 3 220 telur merupakan hasil telur akhir setelah dilakukan proses penyortiran pasca panen. Jumlah populasi puyuh

petelur sebesar 3 500 ekor merupakan jumlah total puyuh petelur yang terdiri aktif bertelur dari 4 000 ekor puyuh petelur berbagai macam umur dan puyuh pejantan serta afkir. Untuk permintaan dari pasar-pasar di Pariaman kepada peternakan dapat mencapai 5 000 butir per harinya. Oleh karena itu, peternakan hanya mampu memasok ke pasar-pasar di wilayah Pariaman dan belum memasarkan telurnya ke luar daerah Pariaman. Selain ke pasar-pasar, peternakan juga melayani konsumen yang datang langsung ke peternakan untuk membeli telur puyuhnya, namun biasanya jumlah pembelian tersebut hanya sedikit.

Telur puyuh produksi Bapak Wisyiarlis juga memiliki kualitas yang lebih baik bila dibandingkan dengan kualitas telur puyuh yang berasal dari daerah lainnya untuk Pasar Pariaman. Kualitas tersebut dibandingkan dari tebal tipisnya kerabang (cangkang) telur. Semakin tipis kerabangnya, maka daya simpan telur makin pendek. Telur produksi peternakan Bapak Wisyiarlis memiliki kerabang yang lebih tebal sehingga memiliki daya simpan yang lebih lama, selain itu telur yang dihasilkan lebih besar daripada rata-rata telur puyuh di pasar. Kelebihan ini membuat harga yang diterima peternak sebesar Rp240.00 lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga telur puyuh di pasar sebesar Rp230.00.

Selain lebih tingginya harga yang diterima, peternakan juga mendapatkan memiliki jaminan pasar. Pelanggan memiliki janji tak tertulis sebagai distributor telur puyuh. Pengecer yang menjadi pelanggan hanya mengambil telur dari peternakan Bapak Wisyiarlis. Pengecer umumnya datang langsung ke peternakan untuk mengambil telur yang akan dijual di pasar.

Aspek Pasar Budidaya Puyuh Pembibit

Pemerolehan anakan puyuh didapat dari penetasan sendiri. Produksi puyuh pembibit peternakan saat ini masih belum banyak, karena tujuan dasar dari pembibitan puyuh yaitu untuk memenuhi kebutuhan peternakan sendiri dan tidak terlalu fokus untuk tujuan komersil. Akan tetapi ternyata terdapat permintaan terhadap puyuh pembibit dari beberapa peternakan lain.

Saat ini puyuh pembibit yang dimiliki oleh peternak mencapai 2 000 ekor (populasi pada Agustus 2013). Hasil produksi telur dari populasi tersebut, nantinya akan dibagi menjadi dua kelompok yaitu menjadi puyuh pembibit serta menjadi puyuh petelur. Besar bagian penjualan puyuh disesuaikan dengan kebutuhan puyuh peternakan sendiri serta banyaknya permintaan dari pembeli.

Permintaan puyuh pembibit tidak sebanyak telur puyuh. Selain itu permintaan pun tidak kontinu setiap bulan, namun biasanya permintaan datang setiap tahun. Akan tetapi produksi puyuh pembibit peternakan sendiri masih relatif rendah sehingga pemenuhan terhadap permintaan yang ada belum tercukupi. Jumlah puyuh pembibit yang dihasilkan peternakan sebagian besar masih digunakan untuk pemenuhan kebutuhan intern. Dalam jangka waktu Juli sampai Agustus 2013 saat penelitian dilakukan, terdapat permintaan puyuh pembibit sebanyak 500 ekor. Permintaan sebelum penelitian dilakukan tidak dicatat oleh pihak peternakan karena ketidaksanggupan memenuhi permintaan tersebut. Menurut pemilik peternakan, Bapak Wisyiarlis, minimal permintaan puyuh pembibit setiap tahunnya mencapai 3 000 ekor per tahun

Berdasarkan analisis potensi pasar peternakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengusahaan peternakan puyuh peternakan ini layak untuk diusahakan. Hal ini didasarkan pada besarnya potensi pasar dari sisi permintaan dan penawaran

untuk produk peternakan, baik untuk telur puyuh maupun untuk puyuh pembibit. Dari banyaknya jumlah permintaan tetap telur puyuh dari wilayah Pariaman ke peternakan yaitu mencapai 5 000 butir per bulan, peternakan belum mampu memenuhi jumlah tersebut. Untuk jumlah permintaan puyuh pembibit yang ada setiap tahun, peternakan belum mampu memenuhinya. Jumlah permintaan yang tidak diimbangi oleh jumlah penawaran menciptakan peluang besar pada pengembangan usaha puyuh peternakan. Selain itu produk telur puyuh peternakan memiliki keunggulan, baik dari segi kualitas maupun harga bila dibandingkan dengan telur puyuh dari pemasok lain di Pariaman.

Aspek Teknis

Aspek teknis yaitu analisa yang berhubungan dengan input usaha (penyediaan) dan output (produksi) berupa barang dan jasa. Aspek teknis memiliki pengaruh yang besar terhadap kelancaran jalannya usaha. Evaluasi ini mempelajari kebutuhan-kebutuhan teknis usaha, seperti karakteristik produk yang diusahakan, lokasi di mana usaha akan didirikan dan sarana pendukungnya, serta

lay out bangunan yang dipilih (Husnan dan Suwarsono, 2000).

Lokasi Usaha

Lokasi usaha peternakan yaitu berada di Desa Talago Sarik, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat. Pemilihan lokasi dilakukan dengan beberapa pertimbangan yaitu :

1. Iklim dan temperatur

Kondisi iklim dan temperatur di lokasi peternakan cukup sesuai dengan kebutuhan temperatur ideal bagi pengusahaan puyuh. Temperatur di lokasi adalah sekitar 25,34oC, sedangkan temperatur ideal untuk produksi puyuh yaitu antara 20oC hingga 25oC. Perbedaan temperatur tersebut dapat diatasi dengan pengaturan temperatur pada ruang kandang. Kandang dibuat lebih sejuk dengan sistem ventilasi yang baik serta penggunaan bahan bangunan yang tidak memancarkan panas matahari.

2. Letak pasar yang dituju

Telur puyuh tergolong produk yang memiliki resiko kerusakan lebih besar dari telur unggas yang lain. Ini terjadi karena karakteristik fisik dari telur puyuh yang memiliki kerabang telur lebih tipis dari telur-telur unggas kebanyakan. Alasan utama dari pemilihan lokasi usaha puyuh milik Bapak Wisyiarlis selain kedekatan dengan tempat tinggal pemilik adalah kedekatan dengan pasar tujuan. Kedekatan pasar dipilih pemilik untuk lokasi dengan maksud mengurangi resiko kerusakan telur yang terjadi dalam perjalanan ke pasar tujuan. Salah satu lokasi pemasaran yang paling dekat dengan lokasi peternakan yaitu pasar Pariaman dengan jarak sekitar 3 km. Pemilihan Pasar Pariaman ini juga dilandasi oleh samanya harga yang diterima oleh peternakan di pasar lainnya, sehingga peternakan memilih pasar terdekat untuk memperkecil biaya transportasi.

3. Tenaga listrik dan air

Desa Talago Sarik merupakan desa yang padat penduduk, sehingga dalam hal perolehan tenaga listrik tidak mengalami kendala yang berarti. Selain listrik, pemerolehan air juga mudah didapatkan. Air diperlukan dalam proses pengusahaan puyuh. Penggunaan air diperlukan untuk memberi asupan minum puyuh, membersihkan peralatan makan dan minum, serta untuk membersihkan

kandang. Pada penerapannya, peternakan tidak melakukan pembedaan dalam menggunakan air. Air bersih diperoleh dari air sumur. Air ini dimanfaatkan untuk memberi minum puyuh, membersihkan peralatan makan dan minum puyuh, serta untuk membersihkan kandang. Penggunaan air yang bersih bertujuan agar puyuh tidak mudah terkena penyakit yang berasal dari bakteri pada air yang kotor. 4. Fasilitas transportasi

Lokasi usaha terletak di pinggir jalan umum Desa Talago Sarik yang telah memiliki fasilitas jalan aspal dengan kondisi baik. Untuk alat transportasi yang digunakan dalam membantu proses produksi, baik untuk pendistribusian produk maupun akses untuk menuju sumber bahan baku, pemilik menggunakan motor. Tidak ada kesulitan untuk menuju lokasi proyek karena fasilitas jalan yang telah memadai sehingga dapat diakses dengan menggunakan kendaraan beroda dua maupun beroda empat.

5. Rencana untuk perluasan usaha

Peternakan berencana untuk melakukan ekspansi usaha dengan menambah jumlah puyuh dan membuat kandang baru dalam rangka memenuhi jumlah permintaan yang belum terpenuhi. Lahan milik peternakan masih cukup luas dan belum digunakan secara optimal. Apabila peternakan akan merealisasi pengembangan usahanya tersebut, masih tersedia cukup lahan untuk menambah jumlah kandang puyuh yang baru.

Teknologi

Berdasarkan keragaan budidaya puyuh di peternakan, pengusahaan puyuh tidak memerlukan teknologi yang canggih dan modern. Peralatan yang digunakan sama seperti pada pengusahaan peternakan lain terutama pada peternakan ayam petelur. Peralatan berupa mesin hanya diperlukan pada kegiatan pembuatan instalasi listrik kandang maupun mesin tetas. Untuk kegiatan pemeliharaan puyuh sendiri hanya dibutuhkan peralatan serta teknologi yang sederhana sehingga dapat diusahakan oleh para penduduk di wilayah Desa Talago Sarik.

Penerapan teknologi di peternakan Bapak Wisyiarlis sedikit berbeda dengan peternak lain di sekitarnya. Bangunan kandang yang umumnya digunakan tidak permanen, sedangkan peternakan Bapak Wisyiarlis menggunakan bangunan kandang semi permanen dengan ventilasi udara dimodifikasi dengan memberi celah cukup besar antara dinding dengan atap. Penggunaan bangunan kandang yang seperti ini membuat kandang lebih bersih dan tidak mudah terkena virus dan penyakit sehingga memperkecil angka kematian puyuh.

Pemilihan pakan puyuh juga dilakukan dengan selektif. Pakan yang digunakan adalah pakan konsentrat khusus untuk peningkatan kualitas produksi telur puyuh. Umumnya peternak menggunakan pakan campuran dan pakan untuk ayam broiler dengan asumsi lebih mudah didapatkan dengan harga lebih murah. Pemilihan pakan berkualitas ini membuat hasil telur peternakan lebih besar dan tidak mudah rusak.

Gambar 10. Suplai pakan Keterampilan

Perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Tenaga kerja di peternakan dibutuhkan untuk bagian pemeliharaan kandang dan puyuh, pembuatan kurung, dan pemanenan. Suplai tenaga kerja dapat diperoleh dari warga sekitar lokasi proyek dan tenaga kerja dalam keluarga. Dalam perekrutan pekerja, manajer tidak melakukan kualifikasi tertentu karena pada pengusahaan puyuh tidak memerlukan pekerja dengan status pendidikan yang tinggi. Pengusahaan puyuh membutuhkan manajemen sumber daya manusia yang baik terutama dalam hal kedisiplinan, ketelatenan dan kejujuran.

Tenaga kerja kandang dengan bantuan Bapak Wisyiarlis membuat sendiri kurung untuk puyuh. Kurung juga dilengkapi dengan tempat makan dan minum yang juga dirakit sendiri sehingga dapat disesuaikan dengan kapasitas optimal bangunan kandang. Perbaikan berkala dilakukan jika terdapat kurung, tempat minum ataupun tempat makan yang rusak. Adapun hasil rakitan tersebut dapat dilihat pada Gambar 11.

kurung tempat makan tempat minum

Berdasarkan pembahasan keragaan puyuh di peternakan, aplikasi terhadap aspek teknis yang baik untuk menjalankan usaha puyuh telah dilaksanakan pada peternakan. Usaha budidaya puyuh petelur maupun puyuh pembibit telah memenuhi syarat teknis tersebut, seperti persiapan kandang yang ideal, pemeliharaan, kontrol mutu dan kesehatan, serta keamanan. Dari hasil analisis terhadap hal-hal tersebut, dapat dikatakan bahwa pengusahaan peternakan puyuh yang dilakukan oleh peternakan secara teknis adalah layak untuk dijalankan. Aspek Manajemen

Aspek manajemen dianalisis untuk dapat melihat apakah pembangunan dan implementasi bisnis dapat direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan. Pengkajian aspek manajemen pada dasarnya menilai para pengelola proyek dan struktur organisasi yang ada. Proyek yang dijalankan akan berhasil apabila dijalankan oleh orang-orang yang profesional mulai dari yang merencanakan, melaksanakannya, hingga mengendalikannya agar tidak terjadi penyimpangan. Demikian dengan struktur organisasi yang dipilih harus sesuai dengan bentuk dan tujuan proyek, serta kebutuhan tenaga kerja harus terinci dengan baik.

Sejak didirikan pada bulan April 2011, peternakan belum memiliki struktur organisasi yang formal karena perusahaan ini masih tergolong baru sehingga masih beroperasi secara non formal tanpa struktur organisasi yang resmi. Meskipun demikian, peternakan memiliki pembagian tugas dan wewenang yang jelas. Jumlah karyawan di peternakan berjumlah 4 orang, 1 orang manajer sekaligus pemilik, 1 orang pekerja luar keluarga dan 2 orang pekerja dalam keluarga. Pemilik perusahaan bertindak sebagai manajer yang bertugas mengawasi serta membawahi semua kegiatan operasional peternakan. Sementara pegawai bertugas dalam hal teknis seperti pemeliharaan puyuh, pemberian pakan, sarana produksi dan peralatan, transportasi, serta bagian dapur.

Gambar 12. Struktur organisasi peternakan

Tenaga kerja dibayar per hari sebesar Rp60 000.00, sehingga dalam sebulan jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk gaji satu orang karyawan adalah Rp1 800 000.00. Gaji yang diterima oleh karyawan sudah mencukupi batas Upah Minimum Regional (UMR) Kota Pariaman sebesar Rp1 350 000.00. Gaji diterima langsung oleh karyawan setelah pekerjaan kandang hari itu selesai.

Berdasarkan penjabaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dilihat dari aspek manajemen, peternakan cukup layak untuk dijalankan. Hal tersebut didasari karena usaha puyuh peternakan dapat dilaksanakan oleh bentuk usaha perseorangan dan tidak memerlukan struktur organisasi yang kompleks. Peternakan memang belum memiliki struktur organisasi yang formal, akan tetapi telah mempunyai pembagian tugas yang jelas antara pemilik dan pengelola

Manajer Pekeja luar keluarga Pekerja dalam keluarga 1 Pekarja dalam keluarga 2

kegiatan usaha (karyawan). Dengan keadaan struktur organisasi yang ada saat ini tidak memberi kesulitan atau hambatan yang berarti dalam pelaksanaan usaha puyuh di peternakan.

Aspek Hukum

Pada aspek hukum, hal yang perlu dianalisis adalah bentuk badan hukum usaha yang dijalankan serta izin usaha yang diperoleh perusahaan.

Bentuk Badan Usaha

Sejak awal berdiri yaitu pada bulan April 2011 sampai saat ini, bentuk badan usaha dari peternakan adalah perusahaan perseorangan. Keuntungan dari bentuk usaha saat ini adalah pemilik perusahaan dapat menikmati seluruh keuntungan yang diperoleh perusahaan. Sedangkan kelemahannya yaitu segala bentuk kerugian atau beban perusahaan ditanggung sepenuhnya oleh pemilik perusahaan.

Izin Usaha

Dalam menjalankan kegiatan usaha puyuh, Bapak Wisyiarlis belum memperoleh izin usaha secara resmi dari pemerintah. Dari penjabaran tersebut, dapat dikatakan bahwa peternakan belum layak jika dilihat dari aspek hukum walau pun sejauh ini tidak ada hambatan hukum dan peraturan lokal yang melarang kegiatan usaha ini. Perusahaan hanya telah mendapat izin usaha dari Kantor Desa serta Kantor Kecamatan setempat. Adapun perizinan seperti Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) belum diurus. Perolehan izin-izin lain yang lebih lengkap akan segera direalisasikan seiring berkembangnya usaha peternakan sendiri dalam menjalankan usaha puyuhnya.

Aspek Sosial dan Lingkungan

Aspek sosial yang perlu dianalisis dalam pendirian peternakan adalah pengaruh proyek terhadap kondisi sosial dan lingkungan diantaranya adalah perluasan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan pekerja serta analisis lingkunagn mengenai dampak limbah usaha terhadap lingkungan sekitar.

Dampak sosial yang ditimbulkan dari pendirian usaha peternakan yaitu mengurangi jumlah pengangguran di Desa Talago Sarik. Selain itu, peternakan juga membeli input pakan berupa dedak serta kebutuhan lainnya seperti sekam kepada orang penduduk di sekitar lokasi peternakan, yang artinya menambah pemasukan bagi usaha-usaha warga yang ada di Desa Talago Sarik.

Analisis dampak lingkungan merupakan analisis yang harus dilakukan sebelum proyek dilaksanakan, karena jika proyek sudah dilakukan maka lingkungan telah berubah. Limbah yang dihasilkan oleh pengusahaan puyuh yaitu kotoran puyuh dan bau yang ditimbulkan dari kandang puyuh. Namun limbah ini tidak membawa dampak yang buruk kepada lingkungan atau masyarakat di sekitar lokasi peternakan. Bapak Wisyiarlis memanfaatkan limbah kotorannya dengan baik, yaitu dengan menjualnya kepada petani-petani di sekitar lokasi sebagai pupuk kandang disamping pemanfaatan sendiri. Harga jual kotoran puyuh yaitu Rp5 000 per karungnya.

Polusi lain yang umumnya ditimbulkan oleh peternakna puyuh adalah bau. Polusi ini diatasi Bapak Wisyiarlis dengan membangun kandang puyuh yang tidak berdekatan dengan rumah penduduk, namun berada di tengah areal lahan yang masih kosong, sehingga bau yang ditimbulkan dari kandang puyuh tidak mengganggu masyarakat di sekitarnya. Peternakan juga menggunakan teknologi sendiri untuk mengatasi bau tersebut. Alas kotoran yang peada peternakan lain umumnya dibiarkan begitu saja, oleh Bapak Wisyiarlis ditambahkan sekam sehingga bau yang ditimbulkan tidak terlalu kuat. Penggunaan sekam juga membuat kotoran lebih mudah dikumpulkan dan dibersihkan, serta menjaga kandang lebih kering karena sifatnya yang menyrap air. Hal ini membut kandang puyuh lebih sehat dan tidak mudah terjangkit virus dan jamur.

Gambar 12. Alas kotoran yang dilapisi sekam

Berdasarkan keterangan tersebut, maka jika dilihat dari aspek sosial dan lingkungan, pengusahaan puyuh Bapak Wisyiarlis ini layak untuk dijalankan. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat pun tidak ada yang menentang kegiatan usaha ini. Selain tidak menimbulkan limbah yang dapat merusak lingkungan, kegiatan usaha ini juga dapat menambah kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.

Dokumen terkait