3 HASIL DAN PEMBAHASAN
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL
Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan puyuh pada peternakan puyuh milik bapak Wisyiarlis. Analisis kelayakan finansial yang dilakukan menggunakan prinsip nilai uang saat ini tidak sama dengan nilai uang di masa yang akan datang serta bertujuan untuk melihat jenis pola pengusahaan puyuh manakah yang lebih menguntungkan untuk dijalankan. Untuk mengetahui hasil kelayakan pengusahaan puyuh akan dilihat dari kriteria-kriteria kelayakan finansial yang meliputi NPV, Net B/C, IRR, dan
Payback Periode.
Analisis kelayakan dilakukan untuk dua pola usaha. Pola usaha I adalah pola usaha yang sedang dilaksanakan oleh peternakan yaitu budidaya puyuh petelur dengan populasi 4 000 ekor puyuh dimana masih terdapat adanya excess
demand karena peternakan belum mampu memenuhi seluruh permintaan pelanggan yang datang. Pola usaha II adalah pola pengembangan usaha yang akan dilaksanakan oleh peternakan dimana total puyuh budidaya sebanyak 8 000 ekor dengan penambahan unit usaha puyuh pembibit disamping puyuh petelur.
Analisis Kelayakan Finansial Pola I (Budidaya Puyuh Petelur)
Pada pola jenis ini, peternakan mengusahakan 4 000 ekor puyuhnya untuk dijadikan puyuh petelur. Pemenuhan jumlah puyuh yang diusahakan 100 persen diperoleh dengan menetaskan anakan puyuh sendiri sebagai bibit puyuh starter
(puyuh umur satu minggu). Puyuh starter dibesarkan di kandang starter sampai berumur satu bulan, kemudian dipindahkan ke kandang grower dan mulai dapat berproduksi telur.
Arus Penerimaan (Inflow)
Pada usaha puyuh petelur ini, arus penerimaan yang diperoleh peternakan berasal dari hasil penjualan telur puyuh, penjualan puyuh afkir dan jantan, serta penjualan kotoran. Jumlah puyuh yang diusahakan sebanyak 3 500 ekor dimana setiap puyuh mampu menghasilkan satu butir telur per hari. Telur puyuh dijual Rp240.00 per butir. Puyuh mampu berproduksi dengan baik mulai dari umur 1 bulan hingga 1.5 tahun. Setelah melewati umur tersebut, puyuh harus diafkir dan diganti dengan puyuh-puyuh baru yang lain.
Pembelian telur puyuh untuk dibibitkan dilakukan sebanyak 1 kali dengan jumlah 2 000 butir. Pada tahun pertama, penetasan telur puyuh bibit untuk menjadi indukan dilakukan pada 1.5 bulan pertama sehingga perolehan puyuh
starter sebanyak 1 000 ekor yang kemudian menghasilakan telur untuk ditetaskan sehingga jumlah optimal kandang dapat terpenuhi pada bulan ke- 4. Produksi telur tahun pertama mulai dihasilkan pada bulan ke- 3 setelah pembibitan pertama dilakukan dari sekitar 2 000 ekor puyuh, kemudian dari 3 500 ekor pada bulan ke- 5. Jumlah telur yang didapatkan pada tahun pertama yaitu 150 000 butir telur yang diperoleh dari penjumlahan akhir dari banyaknya puyuh yang ada setiap bulan dikalikan banyaknya hari kemudian dikalikan persentase perolehan telur yang layak jual yaitu 92 persen. Pada tahun ke-2 sampai tahun ke-7 jumlah produksi telur diasumsikan tetap yaitu 1 159 200 butir telur yang diperoleh dari jumlah puyuh sebanyak 3 500 ekor dikalikan 360 hari selanjutnya dikalikan dengan persentase perolehan telur layak jual sebesar 92 persen. Jumlah produksi telur per tahun dan nilai penjualan telur puyuh disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Jumlah produksi dan nilai penjualan telur puyuh peternakan pola I
Tahun Produksia Hargab Penjualanc
1 150 000 240 36 000 000 2 1 159 200 240 278 208 000 3 1 159 200 240 278 208 000 4 1 159 200 240 278 208 000 5 1 159 200 240 278 208 000 6 1 159 200 240 278 208 000 7 1 159 200 240 278 208 000
a)Jumlah produksi telur per tahun [butir]; b) Harga jual telur per butir [Rp/butir];
Penerimaan dari penjualan puyuh afkir dan puyuh jantan mulai diperoleh pada tahun ke-2. Hasil penjualan setiap tahun dari puyuh afkir dan puyuh jantan yaitu Rp6 000 000.00 didapat dari 1 200 ekor puyuh dengan harga jual Rp5 000.00 per ekor. Jumlah produksi dan nilai penjualan puyuh afkir dan puyuh jantan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Jumlah produksi dan nilai penjualan puyuh jantan dan puyuh afkir peternakan pola I
Tahun Produksia Hargab Penjualanc
1 2 1 200 5 000 6 000 000 3 1 200 5 000 6 000 000 4 1 200 5 000 6 000 000 5 1 200 5 000 6 000 000 6 1 200 5 000 6 000 000 7 1 200 5 000 6 000 000
a)Jumlah produksi puyuh jantan dan puyuh akhir per tahun [ekor]; b) Harga puyuh per ekor [Rp];
c) Jumlah penjualan puyuh jantan dan puyuh afkir per tahun [Rp]
Untuk penerimaan dari hasil penjualan kotoran, peternakan mendapatkan Rp250 000.00 pada tahun pertama dan Rp 600 000.00 pada tahun kedua dan tahun selanjutnya. Setiap bulan, peternakan menghasilkan kotoran puyuh sebanyak 10 karung. Harga jual kotoran puyuh per karung yaitu Rp5 000.00. Jumlah produksi dan nilai penjualan kotoran puyuh dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Jumlah produksi dan nilai penjualan kotoran puyuh peternakan pola I
Tahun Produksia Hargab Penjualanc
1 50 5 000 250 000 2 120 5 000 600 000 3 120 5 000 600 000 4 120 5 000 600 000 5 120 5 000 600 000 6 120 5 000 600 000 7 120 5 000 600 000
a)Jumlah produksi kotoran puyuh per tahun [karung]; b)Harga jual kotoran puyuh per tahun [Rp/karung]; c)Total penjualan kotoran puyuh per tahun [Rp]
Penerimaan perusahaan juga diperoleh dari nilai sisa (salvage value).
Salvage value atau nilai sisa adalah sisa dari biaya investasi yang tidak habis terpakai selama umur ekonomis proyek. Nilai sisa yang terdapat hingga akhir umur proyek dapat ditambahkan sebagai manfaat proyek. Biaya-biaya investasi pada usaha puyuh peternakan yang masih memiliki nilai hingga akhir umur proyek dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Nilai sisa biaya investasi proyek pola I
No Uraian Umura Nilai sisab
1 Motor 5 9 732 000
2 Tandon air 5 720 000
3 Pompa air 2 200 000
a)Umur komponen investasi [tahun]; b)Nilai sisa komponen investasi [Rp] Arus Pengeluaran (Outflow)
Arus pengeluaran pada pola I terdiri dari pengeluaran untuk biaya investasi, serta biaya operasional yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
a. Biaya Investasi
Biaya investasi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan pada tahun pertama proyek yang terdiri dari :
1. Bangunan kandang yang berisi rak kandang grower sebanak 2 unit bangunan.
2. Kandang grower yang digunakan untuk tempat produksi puyuh-puyuh yang siap bertelur sampai menjelang umur afkir.
3. Kandang starter yang digunakan untuk menempatkan puyuh yang baru dikeluarkan dari mesin tetas untuk dibesarkan dahulu sampai umur sebulan sebelum dipindahkan ke kandang grower.
4. Kandang tetas yang digunakan untuk menetaskan telur bibit untuk memenuhi kebutuhan peternakan dengan kapasitas 500 butir telur per kandang tetas.
5. Motor yang digunakan sebagai alat untuk mendistribusikan telur.
6. Telur bibit, hanya dibeli pada tahun pertama untuk ditetaskan sendiri dan dikembang biakkan sebagai sumber kebutuhan puyuh petelur.
7. Tandon air, digunakan untuk menampung air dari sumur pompa yang dialirkan ke keran di depan masing-masing kandang. Keran air ini berfungsi untuk memberi minum puyuh maupun tempat membersihkan peralatan pakan dan minum puyuh.
8. Pompa air, berfungsi sebagai alat memompa air dari sumber air (sumur). 9. Selang, digunakan untuk mengalirkan air dari tandon penampungan air. 10.Generator, digunakan pada penggunaan mesin giling jagung serta
penerangan kandang puyuh jika terjadi pemadaman listrik. 11.Alat semprot, digunakan untuk proses vaksinasi kandang.
12.Ember plastik, berfungsi untuk menampung air di keran air yang digunakan saat mencuci peralatan pakan serta minum, juga untuk tempat persiapan minum puyuh.
13.Keranjang panen, berupa keranjang plastik dengan bantalan busa. Digunakan untuk memanen telur puyuh.
14.Nampan air, sebagai wadah iar yang akan diletakkan dibawah mesin tetas. 15.Alas pakan, terbuat dari kotak papan yang besar untuk tempat persiapan
pakan. Alas pakan berada di dalam masing-masing kandang grower dan
layer.
16.Tempat minum, dibuat secara manual dari potongan pipa.
17.Termometer, dibutuhkan untuk melihat perubahan suhu yang terjadi dalam mesin tetas.
18.Lampu emergensi, masing-masing satu unit lampu untuk tiap bangunan kandang. Digunakan jika terjadi pemadaman listrik agar burung puyuh tidak panik dan mengurangi kemungkinan masuknya predator seperti musang.
19.Pengatur suhu, digunakan untuk mengontrol suhu dalam mesin tetas. 20.Cangkul, digunakan untuk proses pemindahan kotoran maupun pembuatan
lubang pembakaran puyuh yang mati.
21.Kendaraan motor, digunakan untuk mengantarkan telur ke pasar dan untuk kebutuhan transportasi yang lainnya.
22.Terpal penutup, berfungsi untuk menutup kotoran yang akan dijual.
23. Bantalan jok untuk motor digunakan sebagai bantalan yang mengurangi efek goncangan yamg diterima telur saat didistribusikan.
24.Tempat minum anakan, berupa tempat minum yang sama yang digunakan untuk anak ayam.
Rincian biaya investasi pada pola usaha I terdapat pada Tabel 11. Tabel 11. Biaya investasi pada pola I
No Uraian Satuan Harga per
satuana Jumlah Total b
1 Bangunan kandang Unit 30 000 000 2 60 000 000
2 Rak pembesaran Unit 315 000 29 9 135 000
3 Kandang starter Unit 315 000 2 630 000
4 Kandang tetas Unit 450 000 3 1 350 000
5 Telur bibit Butir 240 2 000 480 000
6 Motor Unit 16 220 000 1 16 220 000
7 Tandon air Unit 1 200 000 1 1 200 000
8 Pompa air Unit 400 000 1 400 000
9 Selang Unit 150 000 1 150 000
10 Generator Unit 1 300 000 1 1 300 000
11 Alat semprot Unit 60 000 1 60 000
12 Ember plastik Unit 3 0000 5 150 000
13 Keranjang panen Unit 15 000 10 150 000
14 Alas kotoran Lembar 60 000 35 2 100 000
15 Nampan air Unit 6 000 24 144 000
16 Tempat pakan Unit 5 000 145 725 000
17 Tempat minum Unit 35 000 6 210 000
18 Terpal Unit 80 000 2 160 000
19 Termometer Unit 20 000 3 60 000
20 Lampu emergensi Unit 70 000 2 140 000
21 Pengatur suhu Unit 150 000 3 450 000
22 Cangkul Unit 40 000 1 40 000
23 Bantalan jok Unit 300 000 1 300 000
24 Tempat minum anakan
Unit 7 000 10 70 000
Total 95 624 000
Selain biaya investasi juga terdapat biaya reinvestasi yang dikeluarkan oleh perusahaan apabila biaya investasi yang dikeluarkan telah habis umur ekonomisnya. Tidak semua biaya barang investasi mengalami reinvestasi, hanya beberapa biaya saja yang umur ekonomisnya tidak selama umur proyek. Pada peternakan Bapak Wisyiarlis, komponen biaya yang tidak memerluka reinvestasi selama 7 tahun umur usaha adalah bangunan kandang, motor, generator dan cangkul. Biaya reinvestasi yang dikeluarkan peternakan dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Biaya reinvestasi pada pola usaha I
No Uraian Biaya reinvestasi tahun ke-
a 2 3 4 5 6 7 1 Rak pembesaran 9 135 000 9 135 000 2 Kandang starter 630 000 630 000 3 Kandang tetas 1 350 000 4 Motor 16 220 000 5 Tandon air 1200 000 6 Pompa air 400 000 400 000 400 000 7 Selang 150 000 8 Alat semprot 60 000 60 000 60 000 60 000 60 000 60 000 9 Ember plastik 150 000 150 000 150 000 10 Keranjang panen 150 000 150 000 150 000 150 000 150 000 150 000 11 Alas kotoran 2 100 000 2 100 000 2 100 000 2 100 000 2 100 000 2 100 000 12 Nampan air 144 000 13 Tempat pakan 725 000 725 000 14 Tempat minum 210 000 210 000 210 000 15 Terpal 160 000 160 000 160 000 16 Termometer 60 000 60 000 60 000 17 Lampu emergensi 140 000 140 000 140 000 140 000 140 000 140 000 18 Pengatur suhu 450 000 19 Bantalan jok 300 000 300 000 20 Tempat minum anakn 70 000 70 000 70 000 Total 2 450 000 3 500 000 13 240 000 3 650 000 20 464 000 15 640 000 a)Biaya reinvestasi per tahun [Rp]
b. Biaya Operasional
Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan secara berkala selama proyek berjalan. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap yaitu biaya yang besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan dan nilainya sama setiap tahun. Biaya tetap yang dikeluarkan peternakan tiap tahun terdiri atas gaji karyawan, perawatan kendaraan, listrik dan air, BBM, perawatan kandang, pajak kendaraan, konsumsi pekerja, biaya komunikasi, THR karyawan. Rincian biaya tetap peternakan dapat dilihat di Tabel 13.
Tabel 13. Biaya tetap per tahun pada pola usaha I
No Uraian Biaya per tahuna
1 Gaji karyawan 46 800 000 2 Perawatan kendaraan 540 000 3 Listrik 840 000 4 BBM 1 080 000 5 Ceret 30 000 6 Sapu 60 000 7 Pemeliharaan kandang 100 000 8 Pajak kendaraan 180 000 9 Pulsa 300 000 10 THR karyawan 800 000 11 Sodokan sampah 30 000 12 Keperluan dapur 7 200 000
Total biaya opersional-tetap 59 960 000
a)Biaya operarional tetap per tahun [Rp]
Biaya variabel adalah biaya yang besarnya dipengaruhi oleh jumlah produk dalam produksi puyuh di peternakan. Biaya variabel pada pola usaha I ini terdiri atas pakan puyuh, vitamin, vaksin, obat-obatan, sekam, tali rafia, busa, kantong kresek. Pakan puyuh berupa dedak berkonsentrat dengan kebutuhan pakan sekitar 12 kg per hari. Vitamin diberikan setiap hari dengan cara dicampurkan ke dalam air minum puyuh. Vaksin diberikan satu kali setiap tahunnya dengan biaya Rp100 000.00 untuk kebutuhan dua bangunan kandang. Obat-obatan yang digunakan oleh peternak ketika puyuh sakit adalah obat-obatan herbal yang berasal dari jahe yang digiling sampai hancur dengan blender kemudian dicampurkan kedalam air minum puyuh. Sekam dibutuhkan sebagai pelapis alas kotoran yang berupa tripleks sehingga alas tidak mudah rusak dan kotoran puyuh lebih mudah dikumpulkan. Tali rafia dipakai sebagai pengikat tutup keranjang panen yang juga berfungsi sebagai wadah untuk mengangkut telur puyuh ketika diantarkan kepada konsumen. Kantong kresek ukuran kecil diperlukan sebagai wadah telur puyuh saat konsumen langsung melakukan pembelian untuk kebutuhan rumah tangga diman jumlah telur yang dibeli tidak terlalu banyak. Biaya variabel pada pola usaha I tahun pertama dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Biaya variabel pola usaha I
a)Jumlah biaya variabel per tahun [Rp]
No Uraian Satuan Kebutuhan per tahun Biayaa
1 Pakan puyuh Kg 4 320 23 328 000
2 Vitamin Bungkus 720 2 520 000
3 Vaksin Botol 1 100 000
4 Obat-obatan Kg 20 50 000
5 Sekam Karung 360 360 000
6 Tali rafia Gulung 2 30 000
7 Busa Lembar 24 150 000
Analisis Kelayakan Finansial
Analisis kelayakan finansial dilihat dari kriteria nilai NPV, Net B/C, IRR, dan Payback Period. Pada pola usaha I, diperoleh hasil analisis finansial yang disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15. Hasil analisis finansial pola usaha I
No Kriteria investasi Hasil
1 Net B/C 4.906
2 IRR 88%
3 NPV 711 120 576
4 PAYBACK PERIODE 1.063
Berdasarkan analisis finansial di atas dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya puyuh untuk petelur di peternakan (tanpa usaha pembibitan sendiri) ini memperoleh NPV > 0 yaitu sebesar Rp711 120 576.00 yang artinya bahwa usaha puyuh untuk petelur ini layak untuk dijalankan. Nilai NPV yang sama dengan 711 120 576.00 juga menunjukkan manfaat bersih yang diterima dari usaha puyuh untuk petelur selama umur proyek terhadap tingkat diskon (discount rate) yang berlaku. Kriteria lain yang dianalisis adalah Net B/C, pada pola usaha I ini diperoleh Net B/C > 1 yaitu sebesar 4.906 yang menyatakan bahwa usaha puyuh untuk petelur layak dijalankan. Nilai Net B/C sama dengan 4.906 artinya setiap Rp 1 yang dikeluarkan selama umur proyek menghasilkan 4.906 satuan manfaat bersih. IRR yang diperoleh dari analisis finansial pola usaha I adalah 88 persen dimana IRR tersebut lebih besar dari discount factor yang berlaku yaitu 5.75 persen. Nilai IRR tersebut menunjukkan tingkat pengembalian internal proyek sebesar 88 persen dan karena IRR > 5.75 persen, maka usaha ini layak dan menguntungkan untuk dijalankan. Pola usaha puyuh untuk petelur ini memiliki periode pengembalian biaya investasi selama 1.063 tahun atau 1 tahun 7 bulan 17 hari.
Analisis Nilai Pengganti (Switching Value)
Analisis nilai pengganti (switching value) digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan maksimal pada harga output dan harga input variabel yang dapat ditolerir sehingga usaha yang dilakukan masih layak dilaksanakan.
Switching value atau nilai pengganti ditentukan dengan uji coba sampai dapat menghasilkan nilai NPV yang mendekati nol. Hasil switching value pada pola usaha I disajikan pada Tabel 16.
Tabel 16. Hasil analisis switching value pola usaha I
No Parameter Besaran
1 Penurunan jumlah produksi telur 54.49
2 Kenaikan harga pakan 545.70
a)Besaran nilai parameter switching value [%]
Dari hasil analisis switching value di atas dapat dilihat bahwa batas maksimal perubahan terhadap penurunan jumlah produksi serta kenaikan harga pakan masing-masing adalah 54.49 persen dan 545.70 persen. Apabila perubahan yang terjadi melebihi batas tersebut, maka usaha puyuh untuk petelur di
peternakan ini menjadi tidak layak atau tidak menguntungkan. Besarnya penurunan jumlah produksi telur puyuh sebesar 54.49 persen, menunjukkan bahwa usaha puyuh untuk petelur masih layak apabila penurunan yang terjadi terhadap jumlah produksi telur puyuh tidak lebih besar dari 54.49 persen. Sementara itu, besarnya kenaikan harga pakan yang masih mendatangkan keuntungan bagi usaha puyuh petelur peternakan adalah 545.70 persen. Ini berarti kenaikan harga pakan memiliki pengaruh yang lebih kecil dibandingkan dengan penurunan jumlah produksi telur puyuh.
Berdasarkan hasil analisis switching value terhadap pola usaha I dapat disimpulkan bahwa jumlah produksi telur dan harga pakan merupakan hal yang berpengaruh terhadap kelayakan usaha puyuh peternakan. Namun tingkat produksi telur puyuh memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kelayakan usaha dibandingkan dengan pengaruh harga pakan. Hal ini dapat dilihat dari besarnya persentase perubahan yang dapat mengubah tingkat kelayakan usaha puyuh untuk petelur di peternakan.
Menurut pengalaman peternakan, pada jenis pola usaha I pernah terjadi penurunan produksi telur puyuh sampai sebesar 50 persen, sehingga dapat dikatakan bahwa kelayakan usaha peternakan sangat peka terhadap perubahan. Penurunan produksi tersebut terjadi pada saat pasokan bibit puyuh dari peternak lain mulai tersendat karena serangan penyakit. Puyuh-puyuh peternakan yang mati akibat stress maupun sakit tidak dapat secara langsung diganti dengan puyuh yang baru, sehingga jumlah produksi telur peternakan mengalami penurunan. Untuk kenaikan pakan yang terjadi tidak terlalu signifikan, karena pemasok bahan cukup banyak dan mudah diperoleh.
Analisis Kelayakan Finansial Pola II (Budidaya Puyuh Petelur dan Pembibit dengan Populasi 8 000 Ekor)
Pada pola jenis ini, peternakan mengusahakan 8 000 ekor puyuhnya untuk dijadikan puyuh petelur dan puyuh pembibit. Pemenuhan jumlah puyuh petelur diusahakan dari hasil pembibitan sendiri dengan menambah investasi berupa mesin tetas. Mesin tetas yang diperlukan agar mampu memenuhi kebutuhan puyuh peternakan berjumlah enam buah dengan kapasitas 500 butir telur.
Arus Penerimaan (Inflow)
Arus penerimaan pada pola usaha II yaitu usaha budidaya puyuh petelur dan pembibit diperoleh dari hasil penjualan telur puyuh, puyuh pembibit, puyuh jantan, puyuh afkir, serta kotoran puyuh. Selain itu, penerimaan juga diperoleh dari nilai sisa biaya investasi proyek.
Pemenuhan jumlah puyuh petelur pada tahun pertama yaitu disesuaikan dengan hasil penetasan DOQ dari mesin tetas yang ada. Setiap bulan mesin mampu menetaskan 3 000 ekor DOQ dimana sekitar 80 persen yaitu 2 400 ekor adalah puyuh betina. Puyuh yang dihasilkan dibesarkan sampai umur seminggu dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan puyuh petelur dan pembibit. Pada bulan ke-6 dan ke-12 puyuh betina hasil penetasan diseleksi untuk puyuh pembibit dan untuk puyuh petelur. Hal ini dilakukan karena pada bulan ke-6 dan ke-12 puyuh pembibit mengalami pengafkiran sehingga harus diganti dengan puyuh yang baru. Jumlah produksi per tahun dan nilai penjualan telur puyuh disajikan pada Tabel 17.
Tabel 17. Jumlah produksi dan nilai penjualan telur puyuh peternakan pola II
Tahun Produksia Hargab Penjualanc
1 225 000 240 64 800 000 2 1 656 000 240 397 440 000 3 1 656 000 240 397 440 000 4 1 656 000 240 397 440 000 5 1 656 000 240 397 440 000 6 1 656 000 240 397 440 000 7 1 656 000 240 397 440 000
a) Jumlah produksi telur per tahun [butir]; b) Harga jual telur per butir [Rp/butir]; c) Jumlah penjualan telur per tahun [Rp]
Puyuh pembibit yang dijual oleh peternakan adalah puyuh betina yang lolos seleksi dan memiliki fisik sempurna dan bagus. Harga jual puyuh pembibit peternakan selama umur proyek diasumsikan tetap yaitu Rp3 500.00 per ekor dan merupakan puyuh betina. Pada tahun pertama penjualan puyuh pembibit baru belum dapat dimulai. Hal ini terjadi karena pada tahun pertama puyuh-puyuh betina yang dihasilkan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan puyuh petelur peternakan sendiri sebanyak. Pada tahun ke-2 hingga ke-7, peternakan mampu menjual puyuh pembibit sebanyak 18 000 ekor per tahun, dimana seiap bulannya peternak diasumsikan mampu menjual sebanyak 1 500 ekor puyuh pembibit. Jumlah produksi dan nilai penjualan puyuh pembibit di peternakan dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Jumlah produksi dan nilai penjualan puyuh pembibit peternakan pola II
Tahun Produksia Hargab Penjualanc
1 - - - 2 18 000 3 500 63 000 000 3 18 000 3 500 63 000 000 4 18 000 3 500 63 000 000 5 18 000 3 500 63 000 000 6 18 000 3 500 63 000 000 7 18 000 3 500 63 000 000
a) Jumlah produksi bibit per tahun [ekor]; b) Harga jual bibit per butir [Rp/ bibit]; c) Jumlah penjualan bibit per tahun [Rp]
Untuk penjualan puyuh pejantan dan puyuh afkir hampir dilakukan setiap bulan. Pada tahun kedua peternakan menjual puyuh pejantan dan puyuh yang telah afkir sebanyak 200 ekor puyuh setiap bulanya. Harga jual puyuh jantan yaitu Rp5 000.00 per ekor. Jumlah produksi dan nilai penjualan puyuh pejantan di peternakan dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Jumlah produksi dan nilai penjualan puyuh pejantan dan puyuh afkir di peternakan pola II
Tahun Produksia Hargab Penjualanc
1 - - - 2 2 400 5 000 12 000 000 3 2 400 5 000 12 000 000 4 2 400 5 000 12 000 000 5 2 400 5 000 12 000 000 6 2 400 5 000 12 000 000 7 2 400 5 000 12 000 000
b)Jumlah produksi puyuh jantan dan puyuh akhir per tahun [ekor]; b) Harga puyuh per ekor [Rp];
c) Jumlah penjualan puyuh jantan dan puyuh afkir per tahun [Rp]
Untuk penerimaan dari hasil penjualan kotoran pada pola usaha II tidak berbeda dengan penerimaan pada pola usaha I. Untuk penjualan kotoran, peternakan mendapatkan Rp500 000.00 pada tahun pertama dan Rp1 200 000.00 pada tahun kedua dan seterusnya. Setiap bulan, peternakan menghasilkan kotoran puyuh sebanyak 20 karung. Harga jual kotoran puyuh per karung yaitu Rp5 000.00. Jumlah produksi dan nilai penjualan kotoran puyuh dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Jumlah produksi dan nilai penjualan kotoran puyuh peternakan pola II
Tahun Produksia Hargab Penjualanc
1 100 5 000 500 000 2 240 5 000 1 200 000 3 240 5 000 1 200 000 4 240 5 000 1 200 000 5 240 5 000 1 200 000 6 240 5 000 1 200 000 7 240 5 000 1 200 000
a)Jumlah produksi kotoran puyuh per tahun [karung]; b)Harga jual kotoran puyuh per tahun [Rp/karung]; c)Total penjualan kotoran puyuh per tahun [Rp]
Sama seperti pada pola usaha I, penerimaan perusahaan juga diperoleh dari nilai sisa (salvage value) biaya investasi yang dikeluarkan pada tahun pertama yang tidak habis terpakai selama umur proyek. Nilai sisa yang terdapat hingga akhir umur proyek dapat ditambahkan sebagai manfaat proyek. Nilai sisa pada proyek dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Nilai sisa biaya investasi proyek pada pola II
No Uraian Umura Nilai sisab
1 Motor 5 9 732 000
2 Tandon air 5 720 000
3 Pompa air 2 200 000
a)Umur komponen investasi [tahun]; b)Nilai sisa komponen investasi [Rp] Arus Pengeluaran (Outflow)
Arus pengeluaran pada pola usaha II terdiri dari pengeluaran untuk biaya investasi, serta biaya operasional yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya Investasi
Biaya investasi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan pada tahun pertama proyek. Biaya investasi pada pola usaha II terdiri dari :
1. Bangunan kandang yang berisi rak kandang grower sebanak 4 unit bangunan.
2. Kandang grower yang digunakan untuk tempat produksi puyuh-puyuh yang siap bertelur sampai menjelang umur afkir.
3. Kandang starter yang digunakan untuk menempatkan puyuh yang baru dikeluarkan dari mesin tetas untuk dibesarkan dahulu sampai umur sebulan sebelum dipindahkan ke kandang grower.
4. Kandang tetas yang digunakan untuk menetaskan telur bibit untuk memenuhi kebutuhan peternakan dengan kapasitas 500 butir telur per kandang tetas.
5. Motor yang digunakan sebagai alat angkutt untuk mendistribusikan telur puyuh.
6. Telur bibit, hanya dibeli pada tahun pertama untuk ditetaskan sendiri dan dikembang biakkan sebagai sumber kebutuhan puyuh petelur.
7. Tandon air, digunakan untuk menampung air dari sumur pompa yang dialirkan ke keran di depan masing-masing kandang. Keran air ini berfungsi untuk memberi minum puyuh maupun tempat membersihkan peralatan pakan dan minum puyuh.
8. Pompa air, berfungsi sebagai alat memompa air dari sumber air (sumur). 9. Selang, digunakan untuk mengalirkan air dari tandon penampungan air. 10.Generator, digunakan pada penggunaan mesin giling jagung serta
penerangan kandang puyuh jika terjadi pemadaman listrik. 11.Alat semprot, digunakan untuk proses vaksinasi kandang.
12.Ember plastik, berfungsi untuk menampung air di keran air yang digunakan saat mencuci peralatan pakan serta minum, juga untuk tempat persiapan minum puyuh.