• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilakukan di peternakan puyuh milik bapak Wisyiarlis yang berlokasi di Desa Talago Sarik, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman. Peternakan puyuh ini merupakan salah satu peternakan puyuh di Kota Pariaman. Pemilihan lokasi penelitian ditetapkan dengan sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa peternakan ini dapat digolongkan menjadi peternakan dalam skala menengah di wilayah Pariaman, karena jumlah puyuh yang diternakkan mencapai 4 000 ekor dan jenis kegiatannya yang tidak hanya menghasilkan telur, tetapi juga menghasilkan DOQ yang menjadi input peternakan. Peternakan ini juga merupakan peternakan puyuh dengan produksi telur yang cukup besar dibandingkan peternak lainnya di wilayah Pariaman, serta menjadi pemasok telur puyuh di pasar-pasar wilayah Kota Pariaman. Selain itu, peternakan puyuh ini merupakan peternakan puyuh yang masih baru berdiri dan sedang dalam upaya pengembangan, sehingga masih memiliki peluang pasar yang besar dan cocok sebagai tempat penelitian, khususnya untuk studi kelayakan usaha peternakan puyuh. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2013.

Data dan Instrumentasi

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil pengamatan langsung di lapangan, serta wawancara dengan menggunakan panduan pertanyaan. Data sekunder diperoleh dari kumpulan data yang dimiliki oleh pemilik peternakan, bahan-bahan pustaka, situs internet, laporan penelitian, serta data-data dari instansi terkait. Jenis dan sumber data dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Jenis dan sumber data penelitian

Jenis Data Sumber

Data primer

Observasi Peternak

Wawancara Peternak, pedagang telur burung puyuh Data sekunder

Studi literatur Internet, buku, Badan Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Departemen Peternakan

Metode Pengolahan Data

Data yang diolah dan dianalisis bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data yang bersifat kualitatif dianalisis untuk mengkaji aspek non finansial, yaitu aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum dan aspek sosial. Sedangkan analisis data secara kuantitatif dilakukan untuk menganalisis kelayakan finansial usaha peternakan Bapak Wisyiarlis. Metode analisis kuantitatif yang digunakan adalah analisis kelayakan finansial berdasarkan kriteria kelayakan investasi, yaitu NPV, IRR, Net B/C dan PBP dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 dan kalkulator. Selain itu, dilakukan pula analisis sensitivitas untuk melihat sampai

berapa besar penurunan jumlah produksi telur, serta kenaikan harga pakan yang masih dapat ditoleransi.

Analisis Kelayakan Finansial

Analisis kelayakan finansial dilakukan dengan menggunakan kriteria investasi, yaitu NPV, IRR, Net B/C dan Payback Periods. Analisis kelayakan finansial bertujuan untuk menilai apakah investasi ini layak atau tidak untuk dijalankan dilihat dari aspek keuangan.

Net Present Value

Net Present Value (NPV) usaha peternakan burung puyuh adalah selisih

present value (PV) arus benefit dengan PV arus cost. NPV menunjukkan manfaat bersih yang diterima usaha peternakan selama umur proyek pada tingkat discount rate tertentu. NPV secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut (Nurmalina et al. 2010) :

    n t t i Ct Bt NPV 1 (1 ) Dimana :

Bt = penerimaan (benefit) bruto peternakan pada tahun ke-t, merupakan perkalian antara harga telur puyuh dengan jumlah telur yang dipanen dalam satu siklus (setahun).

Ct = biaya (cost) bruto peternakan pada tahun ke-t, terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi berupa kandang, instalasi listrik, dan peralatan pemeliharaan. Biaya operasional meliputi biaya tetap yaitu biaya tenaga kerja, listrik, BBM, sewa lahan, dan perawatan investasi; dan biaya variabel yaitu biaya bahan baku produksi serta kebutuhan variabel perusahaan.

n = umur ekonomis peternakan puyuh (tahun). Umur ekonomis ditetapkan 7 tahun didasarkan pada umur ekonomis barang investasi berupa kandang. i =

discount rate sebesar 5.57 persen, yaitu merupakan tingkat suku bunga rata- rata per bulan deposito Bank Indonesia (BI Rate) tahun 2014. Dalam metode NPV terdapat tiga kriteria kelayakan investasi yaitu :

1. NPV>0, artinya usaha peternakan dinyatakan layak untuk dilaksanakan. 2. NPV=0, artinya usaha peternakan mampu mengembalikan persis

sebesar social opportunity cost faktor produksi modal. 3. NPV<0, artinya usaha peternakan tidak layak dilaksanakan.

Internal Rate of Return

Internal Rate of Return (IRR) adalah nilai discount rate yang membuat NPV peternakan benilai nol. IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan intern tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan persen. IRR secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut (Nurmalina et al. 2010):

) (2 1 2 1 1 1 i i NPV NPV NPV i IRR     

Dimana :

i1 = Discount rate yang menghasilkan NPV positif

i2 = Discount rate yang menghasilkan NPV negatif NPV1 = NPV yang bernilai positif

NPV2 = NPV yang bernilai negatif

Dalam metode IRR terdapat tiga kriteria kelayakan investasi yaitu : 1. Jika IRR>tingkat discount rate, maka usaha peternakan layak

2. Jika IRR= tingkat discount rate, maka usaha peternakan tidak menguntungkan namun juga tidak merugikan

3. Jika IRR< tingkat discount rate, maka usaha peternakan tidak layak

Net Benefit Cost Ratio

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) merupakan angka perbandingan antara jumlah present value yang positif (sebagai pembilang) dengan jumlah present value yang negatif (sebagai penyebut). Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut (Nurmalina et al. 2010): Net B/C = 0 Ct - Bt Untuk 0 Ct - Bt Untuk ) 1 ( ) 1 ( 1 1       

  n t t n t t i Ct Bt i Ct Bt

Dalam metode Net B/C terdapat tiga kriteria kelayakan investasi yaitu :

1. Jika Net B/C = 1, maka NPV=0, usaha peternakan dikatakan layak, namun keuntungan yang diperoleh hanya sebesar opportunity cost nya. 2. Jika Net B/C > 1, maka NPV>0, usaha peternakan dikatakan layak. 3. Jika Net B/C < 1, maka NPV<0, usaha peternakan dikatakan tidak

layak.

Payback Period

Payback Period (PBP) adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas. Metode Payback Period ini merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu (periode) pengembalian investasi suatu usaha. Perhitungan ini dapat dilihat dari perhitungan benefit bersih yang diperoleh setiap tahun. Semakin cepat waktu pengembalian, semakin baik untuk diusahakan. Secara matematis dirumuskan (Nurmalina et al. 2010): Ab 1  riod Payback Pe Dimana :

I = besarnya biaya investasi usaha peternakan yang diperlukan

Ab = manfaat (benefit) bersih yang dapat diperoleh usaha peternakan pada setiap tahunnya

Kriteria penilaiannya yaitu jika payback period lebih pendek dari maksimum payback period-nya, maka usaha peternakan dapat diterima. Namun jika payback period lebih lama dari maksimum payback period-nya, maka proyek ditolak.

Metode Penyusutan

Untuk menghitung pajak penghasilan yang merupakan komponen dalam laba rugi dan cash flow diperlukan perhitungan penyusutan aktiva tetap. Metode penyusutan yang digunakan adalah metode penyusutan garis lurus. Secara matematis, rumus penyusutan garis lurus yaitu sebagai berikut (Soeharto, 2001):

Ekonomis Umur sisa Nilai - perolehan Nilai Penyusutan

Analisis Switching Value

Analisis Switching Value merupakan suatu pendekatan dalam analisis sensitivitas untuk menguji secara sistematis apa yang akan terjadi terhadap kelayakan suatu proyek apabila terjadi kejadian-kejadian yang berbeda dengan perkiraan dalam perencanaan.

Analisis Switching Value digunakan untuk mengetahui tingkat perubahan harga output dan produksi sehingga keuntungan mendekati normal dimana NPV sama dengan nol. Analisis Switching Value dilakukan dengan metode menguji coba sehingga mendapatkan nilai NPV sama dengan nol. Jika nilai NPV yang dihasilkan pada kondisi normal positif maka yang dilakukan adalah dengan melakukan penurunan produksi dan harga output dan peningkatan biaya.

Variabel yang menjadi parameter dalam analisis switching value penelitian ini adalah :

a. Penurunan produksi telur puyuh dengan asumsi faktor lain tetap (ceteris paribus)

b. Kenaikan harga beli bahan pakan dengan asumsi faktor lain tetap (ceteris paribus)

Asumsi Dasar yang Digunakan

Dalam penelitian peternakan puyuh ini menggunakan beberapa asumsi dasar yaitu :

1. Umur proyek didasarkan pada umur ekonomis bangunan kandang yaitu selama tujuh tahun.

2. Pengusaha menggunakan modal sendiri.

3. Tingkat diskonto yang digunakan merupakan tingkat suku bunga rata- rata per bulan deposito Bank Indonesia (BI Rate) tahun 2012, yaitu 5.75 persen.

4. Keadaan ekonomi selama proyek berlangsung diasumsikan tetap. 5. Biaya investasi dikeluarkan pada tahun ke-1 dan biaya reinvestasi

dikeluarkan untuk peralatan yang telah habis umur ekonomisnya. 6. Harga untuk seluruh input yang digunakan dalam analisis ini adalah riil.

Harga input yang digunakan adalah harga yang berlaku pada saat penelitian.

7. Masing-masing puyuh petelur mampu bertelur sebanyak satu butir per hari dengan peluang keberhasilan perolehan telur layak jual setelah dilakukan sortasi pasca panen yaitu sebesar 92 persen. Persentase tersebut didasarkan pada pengalaman usaha peternakan selama ini. 8. Tingkat kematian puyuh tidak lebih dari 5 persen.

9. Harga jual telur puyuh selama tujuh tahun diasumsikan tetap yaitu Rp 240 per butir.

10.Harga jual bibit puyuh (DOQ) selama tujuh tahun diasumsikan tetap yaitu Rp3 500.00 per ekor.

11.Pola usaha yang diusahakan dibedakan menjadi dua pola. Pembedaan tersebut berdasarkan karakteristik usaha, yaitu usaha yang sedang dijalankan saat ini dan usaha rancangan pengembangan. Pola usaha I merupakan usaha yang dijalankan pada awal berdirinya perusahaan, yaitu usaha puyuh petelur saja sebanyak 4 000 ekor. Pola II merupakan usaha yang akan diusahakan, yaitu penggabungan antara usaha puyuh petelur merangkap usaha puyuh pembibit, pada pola II ini peternak berencana menambah puyuh petelurnya dari 4 000 ekor menjadi 8 000 ekor.

12.Jumlah puyuh pada pola usaha II disesuaikan dengan kapasitas maksimal mesin tetas yang digunakan pada masing-masing pola. 13.Telur puyuh fertil yang dihasilkan puyuh pembibit yaitu 85 persen

dengan persentase keberhasilan penetasan 70 persen dan 60 persen dari telur yang menetas adalah puyuh betina.

14.Analisis data menggunakan data pajak penghasilan yang dikenakan berdasarkan tarif pajak menurut UU Republik Indonesia tahun 2014 tentang Tarif umum PPH wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap sebesar 1 persen.

Dokumen terkait