• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Asuhan Keperawatan dengan Risiko Jatuh

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA JUDUL (Halaman 44-52)

BAB 4 ANALISIS SITUASI

4.2 Analisis Asuhan Keperawatan dengan Risiko Jatuh

Asuhan keperawatan diberikan selama tujuh pekan dengan berfokus pada diagnosa risiko jatuh. Asuhan keperawatan dengan risiko jatuh diberikan kepada nenek Tj yang sudah tinggal di STW karya Bhakti Tresna Werdha sejak tanggal 15 Maret 2013. Alasan ingin tinggal di STW karena kemauan sendiri untuk bertemu dengan teman sebaya yang bisa diajak berkomunikasi dan supaya tidak merasa kesepian. Alasan masuk tersebut sesuai dengan konsep STW yang akan memberikan fasilitas pelayanan kesehatan berupa konsultasi ahli, asuhan keperawatan, fisioterapi, farmasi, rawat jalan, rawat inap, rujukan RS dan kegawatdaruratan; pelayanan sosial berupa pembinaan

Universita s Indone sia

mental spiritual sesuai keyakinan, senam, seni tradisional (angklung), bernyanyi, kegiatan keterampilan membuat anyaman atau menyulam, berkebun, dan kegitan bincang-bincang dengan beberapa tokoh atau instansi.

Konsep STW merupakan hunian masa kini yang terdapat di wilayah perkotaan sebagai tempat pelayanan kepada para lansia yang ingin mengaktualisasikan diri. Konsep tersebut sejalan dengan pemaparan Harahap & Amelia (2010) bahwa Panti Sasana Tresna Werdha (PSTW) merupakan wadah bagi para usia lanjut atau satu perkumpulan yang berada di suatu wilayah perkotaan dengan anggota para usia lanjut di wilayah tersebut. Selain itu latar belakang dilakukannya pelayanan dan pembinaan terhadap lansia di PSTW oleh Pemda DKI Jakarta, antara lain karena semakin tergesernya nilai- nilai pola keluarga kecil yang mengakibatkan terlantarnya sebagian lansia (Nataprawira, 2012).

Klien keloaan utama yang diberikan asuhan keperawatan di wisma Bungur selama tujuh pekan ialah Nenek Tj, saat ini berusia 66 tahun 7 bulan. Berdasarkan usianya nenek Tj sudah dikategorikan sebagai lansia. Hal ini sesuai dengan definisi lansia menurut Undang- Undang RI No.13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, disebutkan bahwa Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun keatas. Selain itu, Usia 66 tahun 7 bulan merupakan usia yang berisiko untuk lebih mudah terjatuh yang sesuai dengan faktor risiko yang dipaparkan dalam Nanda (2012) bahwa salah satu faktor risiko jatuh ialah usia lebih dari 65 tahun.

Nenek Tj sudah berada di STW lebih dari tiga tahun juga mengalami masalah kesehatan lansia yang ada di perkotaan. Masalah kesehatan yang dialami ialah stroke pada tahun 1995, riwayat hipertensi, riwayat penyakit jantung, riwayat osteoporosis, dan riwayat jatuh. Masalah yang dialami klien merupakan masalah perkotaan yang merupakan penyebab kematian tertinggi di perkotaan sejalan dengan Data Riskesdas 2007 yang menunjukkan angka kematian terbesar diperkotaan akibat stroke sebesar 15,9%, sementara itu prevalensi

Universita s Indone sia

lainnya yaitu: hipertensi (31,7%), arthritis (30.3%), penyakit jantung (7.2%), dan cedera (7,5%).

Masalah stroke akan mengakibatkan lansia mengalami penurunan sistem muskuloskeletal yang akan berpengaruh terhadap keseimbangan tubuh lansia karena menyebabkan penurunan kekuatan otot, terutama otot ekstremitas bawah sehingga lansia susah atau terlambat mengantisipasi bila terpeleset atau tersandung (Tinetti, 1992; Kane, 1994; Reuben, 1996; Campbell & Brocklehurst, 1987 dalam Darmojo, 2004). Sedangkan Kane dan Ouslander (dalam Siburian, 2007) menjelaskan urutan tiga teratas dari masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia, yaitu immobility (kurang bergerak), instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh), incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar). Masalah kesehetan yang dipaparkan ini sama seperti masalah yang dialami oleh klien. Nenek Tj saat ini post stroke dan merasa lemah pada ekstremitas kanan; kaki kiri merasa lemah karena adanya osteoporosis. Perasaan lemah ini membuat nenek Tj kurang bergerak, sehinggal terlihat tidak stabil saat berjalan dan berdiri. Ketidakstabilan ini akan menyebabkan lansia mudah mengalami jatuh.

Jatuh didefinisikan sebagai suatu kejadian yang menyebabkan subjek yang sadar menjadi berada di permukaan tanah tanpa disengaja dan tidak termasuk jatuh akibat pukulan kekerasan, kehilangan kesadaran, kejang, atau awitan secara paralisis secara mendadak. Jatuh dapat mengakibatkan berbagai jenis cedera dan kerusakan fisik, serta psikologis (Stanley & Beare, 2007). Nenek Tj setahun yang lalu pernah mengalami jatuh di sekitar STW, kejadian jatuh yang dialami membuat dirinya menjadi takut untuk melakukan aktifitas fisik dan merasa dirinya lemah.

Pengalaman jatuh yang dialami setahun sebelumnya menyebabkan klien memiliki risiko jatuh. Risiko jatuh didefinisikan sebagai peningkatan kemungkinan untuk jatuh yang dapat menyebabkan cedera fisik. Faktor risiko seseorang mengalami risiko jatuh ialah dewasa, pernah memiliki riwayat

Universita s Indone sia

terjatuh sebelumnya, menggunakan kursi roda, usia lebih dari 65 tahun, perempuan (lebih tua), hidup sendiri, prosthesis gerak bawah, penggunaan alat bantu (walker, tongkat), fisiologi penyakit akut, kondisi post operasi, sulit penglihatan, sulit pendengaran, arthritis, hipotensi ortostatik, tidak dapat tidur, pusing ketika menggerakan atau menegakkan kepala, anemia, penyakit vaskular, neoplasma (lelah, mobilitas terbatas), inkontinensia, diare, penurunan kekuatan ekstrimitas bawah, perubahan gula darah post prandial, masalah kaki, kerusakan mobilitas fisik, kerusakan keseimbangan, kesulitan berjalan, kurang proprioseptif (penolakan sepihak), serta neuropati (Nanda, 2012).

Faktor risiko jatuh yang ada pada klien berdasarkan Nanda (2012) antara lain usia lebih dari 65 tahun, saat ini usianya sudah 66 tahun 7 bulan; pernah memiliki riwayat terjatuh sebelumnya, klien pada tahun lalu mengalami jatuh yang menyebabkan trauma; berjenis kelamin perempuan (lebih tua); hidup sendiri di kamar salah satu wisma Bungur; merasa lemah pada kaki kiri karena osteoporosis dan kaki kanan karena post stroke; merasa mudah lelah dan merasa bahwa mobilitasnya terbatas; memiliki masalah kaki, klien sering merasa nyeri pada lutut kirinya; kerusakan mobilitas fisik dengan sulit berjalan, lambat dan kaki diseret; kerusakan keseimbangan dengan nilai BBS 35; kurang proprioseptif (penolakan sepihak) dengan tidak mau melakukan akifitas fisik. Berdasarkan pemaparan tersebut, nenek Tj memiliki 11 faktor risiko terjadinya jatuh.

Jatuh dapat mengakibatkan trauma serius, seperti nyeri, kelumpuhan bahkan kematian. Hal ini menimbulkan rasa takut dan hilangnya rasa percaya diri sehingga lansia membatasi aktivitasnya sehari- hari yang menyebabkan menurunnya kualitas hidup pada lansia yang mengalaminya (Stockslager & Schaeffer, 2008). Sejalan dengan pemaparan tersebut, kejadian jatuh yang pernah dialami klien membuat dirinya memiliki rasa takut yang besar dan hilangnya rasa percaya diri sehingga nenek Tj memilih untuk membatasi aktivitas fisik sehari- hari.

Universita s Indone sia

Tiga faktor yang berhubungan dengan jatuh pada lansia baik di rumah dan institusi yaitu kelemahan ekstremitas bawah, masalah pada kaki, dan gangguan keseimbangan dan gaya berjalan (Tinetti dan Speechley (1990) dalam Bogle Thorbahn, 1996). Dari hasil pengkajian didapatkan data bahwa tiga faktor yang berhubungan jatuh pada lansia tersebut juga dialami oleh klien. Faktor pertama ialah kelemahan ekstremitas bawah, klien mengalami kelemahan pada ekstremitas kanan atas bawah dan ekstremitas kiri bawah. Kelemahan ekstremitas yang dialami karena riwayat penyakit stroke dan osteoporosis yang dialaminya. Osteoporosis yang lebih umum terjadi pada wanita, merupakan faktor penting terhadap insiden jatuh yang lebih tinggi di antara kaum wanita yang berusia 75 tahun (Cumming, SR, et al, 1985 dalam Stanley dan Beare, 2007). Faktor berikutnya ialah terkait masalah kaki, selain terjadi kelemahan, klien juga sering merasakan adanya nyeri pada sendi lutut yang disebabkan karena nilai asam uratnya mencapai 7,2. Faktor ketiga yang berhubungan dengan jatuh gangguan keseimbangan. Klien merasa dengan bertambahnya usia keseimbangan tubuh menjadi terganggu. Faktor terakhir ialah terkait gaya berjalan. Berdasarkan observasi yang dilakukan, terlihat gaya berjalan klien lemah, lambat, langkah pendek, kaki diseret, dan tangan berpegangan pada benda-benda disekitarnya.

Carpino (2006) menjelaskan bahwa faktor lingkungan merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi kejadian jatuh pada lansia. Hal ini terlihat saat mahasiswa melakukan intervensi di kamar klien, lantai di dekat kamar mandi sering basah dan licin. Sedangkan kejadian jatuh akan cenderung menurun pada lingkungan yang sudah dikenal. Penelitian Af’idah (2008) menunjukkan hasil 5 dari 8 responden di Panti Werdha Hargodedali Surabaya yang sudah lama tinggal antara 5-15 tahun tidak pernah jatuh dalam 3 bulan terakhir. Penelitian tersebut sesuai dengan kenyataan yang terjadi, pada tahun keempat berada di STW klien mengalami kejadian jatuh di kamar.

Berdasarkan faktor- faktor yang sudah dipaparkan pada paragraf sebelumnya menunjukkan bahwa nenek Tj memiliki risiko jatuh, sehingga perlu dilakukan

Universita s Indone sia

pencegahan risiko jatuh agar kejadian jatuh tidak dialaminya lagi. Pencegahan sekunder bertujuan untuk mencegah lansia tidak mengalami kejadian jatuh lagi. Tujuan semua intervensi keperawatan yang berhubungan dengan jatuh adalah untuk meminimalkan risiko jatuh untuk mencegah terjadinya jatuh lagi. Kunci untuk pencegahan jatuh adalah memiliki pe ngetahuan tentang kemungkinan penyebab jatuh, orang tersebut, lingkungan, dan riwayat jatuhnya. Observasi langsung tentang kemampuan seseorang untuk mengubah posisi dan berjalan sangat penting dilakukan (Stanley & Beare, 2007).

Pencegahan jatuh pada lansia dapat dilakukan dengan mengindentifikasi faktor risiko, penilaian keseimbangan, gaya berjalan, diberikan latihan fleksibilitas gerakan, latihan keseimbangan fisik, koordinasi keseimbangan serta mengatasi faktor lingkungan (Darmojo, 2004). Pencegahan jatuh yang diimplementasikan pada klien ialah sejalan dengan pemaparan sebelumnya. Mahasiswa mengindentifikasi faktor risiko, dimana nenek Tj memiliki 11 faktor risiko yang menyebabkan jatuh; penilaian keseimbangan dilakukan dengan menggunakan skala keseimbangan Berg dengan nilai saat pengkajian ialah 35 yang berarti klien memiliki risiko jatuh sedang dan memerlukan alat bantu jalan; mengidentifikasi gaya berjalan, saat awal pengkajian gaya berjalan terlihat sulit, lambat, lemah, langkah pendek, kaki diseret, den tangan berpegangan pada benda disekitarnya; diberikan latihan fleksibilitas gerakan dengan rutin latihan ROM dan mengikuti senam STW mulai dari pekan ketiga mahasiswa melakukan praktik profesi; latihan keseimbangan fisik dilakukan secara rutin lebih dari lima keli dengan lima gerakan keseimbangan dan dengan instrument skala keseimbangan Berg; koordinasi keseimbangan serta mengatasi faktor lingkungan dimana mahasiswa berusaha menciptakan lingkungan yang aman seperti lantai yang bersih, tidak licin, me letakkan barang-barang pada tempat yang mudah dijangkau.

Berdasarkan hasil observasi, modifikasi lingkungan untuk pencegahan jatuh sudah diaplikasikan oleh STW. Hal tersebut mendukung klien untuk melakukan pencegahan jatuh. Modifikasi lingkngan yang ada a ntara lain

Universita s Indone sia

terdapat pegangan tangan pada setiap dinding di wisma yang ada di STW. Selain di dinding wisma, pegangan tangan juga terdapat di dalam toilet. Pencahayaan di kamar, di wisma, dan lingkungan STW sudah cukup baik. Selain itu tangga berundak dibuat dengan jarak yang pendek sehingga lansia bisa menjangkaunya dan tidak mudah terjatuh.

Pencegahan risiko jatuh yang dilakukan secara rutin ialah latihan aktifitas fisik. Aktivitas fisik adalah pergerakan tubuh yang secara substansial meningkatkan penggunaan energi dan dapat berupa kegiatan sehari-hari (berjalan, mengerjakan pekerjaan rumah, berkeb un) maupun aktivitas seperti olahraga, berenang, bersepeda, senam, fitness (Skelton, 2001). Motivasi klien pada pekan ketiga menjadi berubah dan semangat untuk latihan fisik. Latihan fisik yang dilakukan antara lain mengerjakan pekerjaan kamar, senam, fitness, dan latihan keseimbangan. Klien rutin merapihkan kamar, menyapu, mencuci piring dan mencuci pakaian. Berdasarkan teori sebelumnya melakukan pekerjaan rumah sama dengan melakukan aktivitas fisik. Selain itu klien juga kembali rajin dan semangat melakukan senam dan fitness yang ada di STW. Senam dan fitness mulai dilakukan pada peka ketiga, selama empat kali dalam satu pekan sesuai dengan pekasanaan dari pihak STW. Setiap kali megikuti senam, klien berusaha untuk aktif dan mengikuti gerakan sesuai dengan arahan yang diberikan oleh struktur. Laihan fisik lain yang dilakukan ialah latihan fisik. Pembahasan terkait latihan keseimbangan akan dipaparkan pada sub bab berikutnya.

Tahap akhir dari asuhan keperawatan ialah adanya evaluasi yang dapat menunjukkan tingkat keberhasilan dari implememtasi yang sudah dilakukan. Evaluasi dilakukan dengan menanyakan respon klien atas latihan fisik sudah yang dilakukan selama lima pekan. Evaluasi dilakukan dengan penilaian kembali dari instrumen skala jatuh Morse dan skala keseimbangan Berg. Nilai skala jatuh Morse pada pekan ketujuh ialah 45 yang bearti klien memiliki risiko jatuh rendah, sedangkan pada penilaian jatuh saat awal bernilai 55. Nilai skala keseimbangan saat dievaluasi ialah 49 bearti klien memiliki risiko jatuh

Universita s Indone sia

rendah dan tidak memerlukan alat bantu, sedangkan nilai skala keseimbangan pada saat pekan pertama ialah 35 bearti klien memiliki risiko jatuh sedang. Klien menunjukkan respon positif atas latihan yang sudah dilakuakan selama lima pekan, klien merasa senang karena tubuh menjadi lebih ringan dan pakaian yang dulunya tidak bisa dikenakan saat ini menadi dapat dikenakan kembali. Selain itu klien juga mengatakan akan tetap semangat untuk melakukan senam setiap pagi, namun belum berani untuk melakukan latihan keseimbangan secara mandiri. Klien masih membutuhkan peran perawat ataupun mahasiswa keperawatan yang dapat mendampingi dalam melakukan latihan keseimbangan.

Implementasi yang diberikan selama tujuh pekan membuktikan bahwa sampai terakhir mahasiswa praktik, klien tidak mengalami kejadian jatuh. Hasil tersebut menunjukan keberhasilan dari implementasi yang dilakukan oleh mahasiswa selama tujuh pekan. Keberhasilan dari implementasi didukung oleh beberapa faktor, antara lain faktor dari diri klien, faktor lingkungan, dan faktor dari mahasiswa. Klien memiliki kemauan yang besar untuk melakukan aktivitas fisik. Klien aktif dan semangat dalam menjalankan setiap latihan yang diberikan. Selain latihan keseimbangan, klien juga berpartisipasi dalam senam yang diadakan di STW, serta melakukan latihan ROM secara mandiri. Faktor lingkungan mendukung keberhasilan implementasi jatuh karena di lingkungan wisma dan STW sudah terdapat pegangan pada setiap dindingnya; lantai selalu bersih dan tidak licin; tangga dibuat sesuai dengan langkah lansia; letak barang tidak menghambat jalan; serta pencahayaan di kamar dan di STW yang adekuat. Mahasiswa menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan karena mahasiswa melatih keseimbangan klien sesuai dengan teori yang dijelaskan sebelumnya, memotivasi untuk senantiasa aktif berpartisipasi melakukan aktivitas fisik, serta mengevaluasi respon klien atas setiap latihan yang dilakukan.

Universita s Indone sia

4.3 Latihan Keseimbangan dalam Mengatasi Masalah Jatuh pada Lansia

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA JUDUL (Halaman 44-52)

Dokumen terkait