• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

D. Analisis Bahan Hukum

Begitu isu hukum ditetapkan, perlu dilakukan penelusuran untuk mencari bahan-bahan hukum yang relevan terhadap isu yang dihadapi.46 Bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang telah dikumpulkan tersebut kemudian dikelompokkan dan dikaji berdasarkan pendekatan yang digunakan. Dalam penelitian ini, yang digunakan adalah pendekatan konseptual, pendekatan perundang-undangan, dan pendekatan

45 Ibid, h.181

46 Ibid, h. 237

perbandingan untuk memperoleh gambaran yang sistematis dan komprehensif dari bahan hukum primer dan sekunder yang diperoleh untuk menghasilkan preskripsi atau argumentasi hukum yang baru.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pengaturan Tentang Pemotongan Pajak Penghasilan Usaha Jasa Konstruksi

Pajak adalah suatu jenis pungutan yang dilakukan oleh Negara atas perintah undang-undang hal ini diperlukan untuk mempertahankan eksistensi suatu Negara. Hal ini sangat bisa dipahami karena tanpa dana yang memadai mustahil Negara akan dapat menjalankan roda pemerintahan dan melaksanakan pembangunan disegala bidang bahkan sangat mustahil suatu Negara dapat mempertahankan eksistensinya sebagai suatu Negara. Oleh karena itu dalam perkembangan sejarah bangsa Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka sudah dikenal suatu pungutan yang disebut pajak dengan istilah yang bermacam-macam, seperti pada zaman kerajaan-kerajaan yang pernah ada di bumi nusantara dikenal suatu pungutan oleh raja-raja dengan istilah upeti. Dalam perkembangannya setelah bangsa Indonesia dijajah oleh kolonial Belanda mulai dikenal pungutan pajak dengan istilah seperti pajak tanah, pajak hasil bumi, pajak perseroan, pajak penghasilan dan lain-lain.

Salah satu jenis pajak yang mendatangkan pendapatan besar bagi negara adalah jenis pajak pada pajak penghasilan, dimana pajak penghasilan adalah pajak yang dibebankan pada penghasilan perorangan, perusahaan atau badan hukum yang diperoleh dalam tahun pajak.

Sehingga sesuai dengan Undang-Undang No.36 Tahun 2008 tentang PPh bahwa penghasilan yang diperoleh sebuah perusahaan pun dikenakan

pajak penghasilan sehingga hal ini juga berlaku pada bidang usaha jasa konstruksi. Dalam UU No 36 Tahun 2008 dijelaskan bahwa usaha jasa konstruksi adalah layanan jasa konsultasi perencanaan pelayanan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultasi. Sedangkan pekerjaan konstruksi adalah sebagian rangkaian kegiatan perencanaan atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektronikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya, untuk mewujudkan suatu bangunan atau fisik lainnya.

Sehingga dari perspektif ini usaha jasa konstruksi dalam hal memberikan jasa usahanya kepada subjek hukum lain mendapatkan feedback berupa penghasilan atas jasa yang diberikan oleh pelaku usaha jasa konstruksi, akibat dari adanya penghasilan oleh pelaku usaha jasa konstruksi tersebut melalui instrument hukum diwajibkan kepada subjek wajib pajak pada usaha jasa konstruksi dikenakan pajak penghasilan sesuai dengan UU PPh, hal ini harus dilakukan karena pajak penghasilan memiliki peranan yang sangat penting serta jasa konstruksi pada dasarnya merupakan salah satu kegiatan dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya yang mempunyai peranan penting dalam pencapaian berbagai sasaran guna menunjang terwujudnya pembangunan nasional sehingga pendapatan wajib pajak pada usaha jasa konstruksi terbilang cukup besar sehingga dikenakan kepadanya pajak penghasilan.

Peraturan perpajakan mengenai usaha jasa konstruksi pun diatur khusus, dalam hal ini pengenaan pajak atas usaha jasa konstruksi berbeda

dengan wajib pajak badan pada umumnya. Sehingga pada usaha jasa konstruksi dikenakan pajak penghasilan berdasarkan perintah Undang-undang pajak penghasilan. Pengenaan dan tarif pajak atas jasa penghasilan dari usaha tersebut diatur dalam undang-undang bahwa atas penghasilan wajib pajak dan bentuk usaha tetap dari usaha bidang konstruksi, dikenakan pajak penghasilan berdasarkan Undang-Undang pajak penghasilan No.36 Tahun 2008 semua usaha jasa konstruksi yang mengatur semua penyedia jasa konstruksi baik yang berkualifikasi maupun yang tidak memiliki kualifikasi yang telah diatur dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 sehubungan imbalan dengan jasa konstruksi yang pajak penghasilannya tidak di hitung kembali di akhir tahun maka tarifnya sebesar 2% dari jumlah bruto.

Sedangkan untuk sifat pengenaannya diatur di dalam Pasal 4 ayat (2) huruf d yang perlakuannya tersendiri dalam pengenaan pajak atas jenis penghasilan tersebut termasuk sifat, besarnya, dan tata cara pelaksanaan pembayaran, pemotongan, atau pemungutan diatur dengan peraturan pemerintah. Sehingga dari uraian diatas dapat diketahui didalam Undang-Undang Pajak penghasilan ada dua pasal yang mengatur terkait tentang pajak penghasilan pada usaha jasa konstruksi dimana sifat dasar dari kedua pasal tersebut sangat berbeda ada yang bersifat final dan ada juga yang bersifat tidak final

Pengenaan pada pajak penghasilan, yang bersifat final adalah pajak yang dikenakan dengan tarif dan dasar pengenaan pajak tertentu atas penghasilan yang diterima atau diperoleh selama tahun berjalan.

Pembayaran, pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasilan Final (PPh Final) yang dipotong pihak lain maupun yang disetor sendiri bukan merupakan pembayaran dimuka atas PPh terutang akan tetapi merupakan pelunasan PPh terutang atas penghasilan tersebut, sehingga wajib pajak dianggap telah melakukan pelunasan kewajiban pajaknya.

Pengenaan PPh secara final mengandung arti bahwa atas penghasilan yang diterima atau diperoleh akan dikenakan PPh dengan tarif tertentu dan dasar pengenaan pajak tertentu pada saat penghasilan tersebut diterima atau diperoleh. PPh yang dikenakan, baik yang dipotong pihak lain maupun yang disetor sendiri, bukan merupakan pembayaran di muka atas PPh terutang tetapi sudah langsung melunasi PPh terutang untuk penghasilan tersebut. Dengan demikian, penghasilan yang dikenakan PPh final ini tidak akan dihitung lagi PPh nya di SPT Tahunan untuk dikenakan tarif umum bersama-sama dengan penghasilan lainnya.

Begitu juga, PPh yang sudah dipotong atau dibayar tersebut juga bukan merupakan kredit pajak di SPT Tahunan.

KEWAJIBAN Pemotong Pajak/Wajib PajaK

Pengguna Jasa Penyedia Jasa

Pemotongan Pajak Penghasilan

pemotongan dilakukan pada saat pembayaran

penyetoran sendiri dengan menggunakan Sural

Setoran Pajak (SSP) penyetoran paling

lama tanggall 10 bulan

berikutnya

Penyetoran paling lama tanggal 15 bulan berikutnya setelah

penerimaan pembayaran Pelaporan SPT Masa

PPh Final Pasal 4 ayat (2)

wajib disampaikan paling lama 20 hari setelah bulan dilakukan pemotongan pajak atau penerimaan

pembayaran

Membuat Faktur Pajak ya

Melaporkan SPT Masa PPN

Wajib menyampaikan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya masa pajak

Sedangkan pajak yang bersifat tidak final yaitu perhitungan pajak yang apabila wajib pajak dalam keadaan rugi Wajib Pajak tidak membayar Pajak Penghasilan namun pajak tersebut dapat dikreditkan dalam SPT tahun pajak, serta pajak yang bersifat tidak final dikenakan tarif umum progressif dan pajak yang tidak bersifat final Pajak Penghasilanya dihitung dari Penghasilan netto bukan bruto. Pajak yang bersifat final juga mengandung artinya bahwa penghasilan tersebut tidak perlu di gabung dengan penghasilan lainnya dalam perhitungan pajak penghasilan terhutang yang dalam pelaksanaannya pemungutanya diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Perusahaan yang bergerak di dalam usaha jasa konstruksi berdasarkan undang-undang PPh dikenakan dengan pajak yang bersifat final dan tidak bersifat final. dalam menyikapi pemotongan tarif yang bersifat final dan tidak final tersebut dalam jasa konstruksi yang dipungut oleh pemerintah mengakibatkan para pelaku usaha jasa kontraktor dan pemilik proyek diliputi ketidak pastian akan pelakuan perpajakan, terutama bagi pengusaha jasa konstruksi karena para pelaku usaha jasa konstruksi dalam prakteknya seperti tidak mempunyai acuan sehingga perlakuan atas sifat pengenaan dan tarif menjadi beragam di kalangan usaha jasa konstruksi.

Dari sisi tekhnis dan administrasi memudahkan fiskus dalam menggenjot penerimaan pajak tetapi problem utama sistem ini adalah tidak mencerminkan keadilan di karenakan penerapan pajak penghasilan final bagi sebagian besar pengusaha jasa konstruksi dapat menjadi sangat memberatkan dan sebaliknya sangat menguntungkan bagi pelaku usaha

jasa kontraktor karena mampu memperoleh margin besar. Perlakuan ketentuan pajak penghasilan final ini lebih merupakan bentuk proteksi pemerintah terhadap pelaku usaha kontraktor tertentu dibandingkan dengan keinginan untuk meningkatkan penerimaan pajak. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008, usaha jasa konstruksi termasuk sebagai objek pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Final Pasal 4 ayat (2) huruf d.

Dalam kegiatan usaha jasa konstruksi, kontraktor atau pengusaha jasa konstruksi yang memberikan layanan jasa konstruksi menjadi subjek pajak, baik bagi yang sudah atau belum memiliki sertifikasi dan kualifikasi sebagai profesional dalam bidang konstruksi dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nomor 11 Tahun 2006. Sertifikasi dan kualifikasi ini dinyatakan dalam Sertifikat Badan Usaha (SBU) yang diterbitkan oleh LPJK. SBU adalah sertifikat tanda bukti legalisasi formal atas tahapan kapabilitas kemampuan usaha dengan ketentuan menurut klasifikasi dan kualifikasi usaha. SBU menunjukkan klasifikasi dan kualifikasi jenis pekerjaan yang dapat dilaksanakan oleh kontraktor selaku subjek pajak

Pada Usaha jasa konstruksi yang dikenakan pajak bersifat final sesuai dengan Pasal 4 ayat (2), meliputi 3 (tiga) kelompok yaitu

a. Jasa perencanaan konstruksi, pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan (ahli profesional) di bidang perencanaan jasa konstruksi yang mampu membuat pekerjaan dalam bentuk dokumen perencanaan bangunan fisik

b. Jasa pelaksana konstruksi, pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan (ahli profesional) di bidang pelaksanaan jasa konstruksi yang mampu melaksanakan kegiatannya untuk merealisasikan suatu hasil perencanaan menjadi bangunan atau bentuk fisik lain, termasuk di dalamnya pekerjaan konstruksi yang terintegrasi, yaitu penggabungan fungsi layanan dalam model penggabungan perencanaan, pengadaan, dan pembangunan, serta model penggabungan perencanaan dan pembangunan.

Jasa perawatan, pemeliharaan, dan perbaikan oleh penyedia jasa yang memiliki Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) termasuk ke dalam kelompok jasa pelaksana konstruksi

c. Jasa pengawasan konstruksi, pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan (ahli profesional) di bidang pengawasan jasa konstruksi yang mampu melakukan aktivitas pengawasan sejak awal hingga selesai dari pelaksanaan pekerjaan konstruksi, termasuk di dalam kelompok jasa ini adalah jasa penilai

Dan pada usaha jasa konstruksi yang tidak bersifat final diataur dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Pajak Penghasilan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai jenis jasa lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c angka 2 diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri keuangan. Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur jenis jasa lain ini adalah Peraturan Menteri Keuangan nomor 244/PMK.03/2008.

Apabila kita perhatikan lebih jauh Pasal 1 peraturan menteri keuangan,

setidaknya terdapat dua jenis jasa konstruksi yang dikelompokkan sebagai jenis jasa lainnya yaitu

1. Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC, dan/atau TV kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;

2. Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC, TV kabel, alat transportasi /kendaraan dan/atau bangunan, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi.

Sehingga dari perspektif Peraturan Pemerintah nomor 51 tahun 2008 sebagai dasar pengenaan pajak maka dua jenis jasa diatas dapat dikelompokkan kedalam jasa pelaksanaan konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha sehingga akan dikenakan PPh final dengan tarif empat persen, namun karena dalam peraturan menteri keuangan dua jenis jasa tersebut dikelompokkan ke dalam jenis jasa lain maka perlakuannya bukan merupakan objek PPh final tetapi merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2.

Timbul sebuah pertanyaan sederhana terkait permasalahan pada usaha jasa konstruksi, mengapa didalam UU No 38 Tahun 2008 tentang PPh Pasal yang mengatur tentang pemungutan pajak pada usaha jasa konstruksi dibedakan bahkan perbedaan tersebut berefek pada sifat

pengenaan pajaknya, ada yang bersifat final ada juga yang tidak bersifat final, sehingga apa hal yang melatar belakangi dilakukan hal tersebut oleh penyusun undang-undang PPh karena seyogianya sebuah regulasi disusun dengan pertimbangan yang jelas dan tepat olehnya pastilah ada alasan mengapa harus ada dua pasal yang mengatur tentang usaha jasa konstruksi dengan konsekuensi sifat pengenaan kedua pasal tersebut berbeda

Latar belakang adalah dasar atau titik tolak untuk memberikan pemahaman mengenai apa yang menjadi penyebab sehingga sesuatu dapat terjadi seperti ini ataupun seperti itu. Sehingga pertanyaaan terkait apa yang menjadi latar belakang ketentuan pengaturan pajak Pasal 4 ayat (2) huruf d dan Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 pada usaha jasa konstruksi adalah pertanyaan yang meminta jawaban terkait penyebab adanya ketentuan pasal tersebut dalam undang-undang sehingga hal ini yang menjadi alasan mengapa terjadi pemotongan pajak yang berbeda pada usaha jasa konstruksi terkait dua ketentuan tersebut.

Secara singkat ketentuan PPh Final untuk jasa konstruksi diatur dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (2) dan PP Nomor 51 tahun 2008 jo PP Nomor 40 Tahun 2009, hanya diterapkan pada pemberi jasa (pengusaha jasa konstruksi dari lembaga berwenang misalnya LPJK). Namun jika pengusaha jasa konstruksi tidak memiliki izin atau sertifikat dari lembaga berwenang (tidak memiliki SBU dan SIUJK) dari LPJK, maka pengenaannya bukanlah PPH Pasal 4 ayat (2) final melainkan PPH Pasal 23.

Adanya perbedaan pemungutan pajak pada usaha jasa konstuksi pada Pasal 4 ayat (2) huruf d dan Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 dilatar belakangi karena pendapatan yang didapatkan oleh kedua subjek hukum pajak pada usaha jasa konstruksi yang diatur pada kedua Pasal tersebut berbeda, pada Pasal 4 ayat (2) UU PPh diterapkan kepada usaha-usaha yang memiliki Sertifikat Badan Usaha (SBU) dimana pengertian SBU adalah bukti pengakuan formal tingkat Kompetensi usaha jasa pelaksana konstruksi (KONTRAKTOR) dan usaha jasa perencana konstruksi atau jasa pengawas konstruksi (KONSULTAN) sebagai perwujudan hasil Sertifikasi dan Registrasi badan usaha yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Jasa sehingga dari perspektif ini untuk mendapatkan sertifikat badan usaha mensyaratkan adanya tenaga ahli sebagai syarat untuk mendapatkan SBU dengan adanya tenaga ahli tinggat kredibilitas perusahaan semakin tinggi sehingga akan semakin seringnya jasa dari perusahaan konstruksi tersebut digunakan oleh subjek hukum lain yang mengakibatkan pemberian jasa tersebut berbanding lurus dengan sumber pendapatan wajib pajak pada usaha jasa konstruksi olehnya melihat fenomena ini perlu adanya perlakuan khusus bagi pelaku usaha jasa konstruksi yang memiliki SBU yang diberikan oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi.

Perlakuan berbeda ini mencerminkan sikap bahwa apa yang menjadi suatu penarikan pajak haruslah didasarkan sesuai dengan porsi wajib pajak tersebut, sehingga perlu perlakuan khusus untuk pelaku pajak pada usaha jasa konstruksi yang memiliki sertifikat badan usaha dengan

subjek hukum pada usaha jasa konstruksi yang belum teregistrasi dalam LPJK dan otomatis tidak memiliki SBU dan LPJK, maka pengenaan PPh atas imbalan yang mereka terima bukan objek PPh Final Pasal 4 ayat (2) huruf d atas jasa konstruksi. Imbalan yang mereka terima merupakan objek PPh Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2. Itupun kalau mereka berstatus Wajib Pajak Badan (perusahaan) dalam negeri sehingga adanya perlakuan berbeda dianatara keduanya.

Pajak yang bersifat final juga pada usaha jasa konstruksi tidaklah mengatur bahwa seluruh kegiatan usaha jasa konstruksi haruslah dikenakan pajak yang bersifat final, Pasal 4 ayat (2) huruf d pada undang-undang PPh merupakan lex spesialis untuk pemotongan pajak pada usaha jasa konstruksi tertentu. Pendapatan yang didapatkan oleh usaha jasa konstruksi yang memilik SBU berbeda dengan pelaku usaha jasa konstruksi yang belum terdaftar di LPJK hal ini sejalan dengan Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nomor 11 Tahun 2008 dimana dijelaskan salah satu wujud dari pengakuan keahlian dan profesional jasa konstruksi tersebut adalah dengan adanya Sertifikat Badan Usaha (SBU) yang diterbitkan oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK).

Pajak yang bersifat final juga diartikan sebagai pajak yang tidak bisa dikreditkan oleh wajib pajak pada pelaku usaha jasa konstruksi, hal ini meniscayakan bahwa pajak penghasilan haruslah dibayarkan tiap tahun oleh pelaku usaha jasa konstruksi dalam keadaan apapun, dengan alasan bahwa perusahan yang memilik SBU adalah perusahaan yang memiliki kredibilas dan profesionalistas yang tinggi sehingga pendapatan yang diperoleh wajib pajak pada usaha tersebut terbilang cukup besar sehingga

diatur didalam undang-undang pajak penghasilan bahwa perusahan jasa konstruksi yang memiliki kualisasi dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final

Sedangkan yang melatar belakangi sehingga adanya Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 didalam Undang-Undang No 28 Tahun 2008 terkait pemotongan pajak jasa konstruksi diperuntukan untuk usaha jasa konstruksi yang belum memilik Sertifikat Badan usaha atau SBU yang diterbitkan oleh LPJK alasanya karena pendapatan yang diperoleh dengan jasa yang diberikan berbeda dengan pelaku usaha yang memilliki SBU.

Seperti uraian diatas bagi mereka yang belum teregister dalam LPJK dan otomatis tidak memiliki SBU dari LPJK, maka pengenaan PPh atas imbalan yang mereka terima bukan objek PPh Final Pasal 4 ayat (2) huruf d Jasa Konstruksi. Imbalan yang mereka terima merupakan objek PPh Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2. Menurut Thomasik Patasik, Kepala Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Pajak bahwa pengenaan PPH 23 ditujukan pada pengusaha jasa konstruksi yang masih menyewa alat konstruksi 47

Memang fakta dilapangan menunjukan bahwa kedua jenis jasa dalam praktiknya merupakan satu kesatuan pekerjaan dalam sebuah proyek pembangunan konstruksi. Lalu, apakah itu berarti pengusaha konstruksi yang tidak mempunyai izin usaha dan/atau sertifikat jasa konstruksi ‘dipaksa’ membayar PPh yang bersifat final sehingga untuk usaha jasa konstruksi yang berbeda dari segi pendapatan dan administrasi formalnya dalam pemotongan pajaknya itu menjadi harus dibedakan juga

47 Hasil wawancara dengan Thomasik Patasik, Kepala Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Pajak Kabupaten Toraja Utara Pada tanggal 31 Mei 2017

Di samping itu, jika ketentuan terkait pemotonganya juga didalam regulasi tidak jelas akan mempersulit terutama dalam menentukan mana biaya-biaya usaha yang terkait dengan PPh Final dan yang tidak terkait PPh Final

Sehingga dari proposisi diatas jelas ada perbedaan yang melatar belakangi sehingga ada Pasal 4 ayat (2) huruf d dan Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 terkait pemotongan usaha jasa konstruksi yang berbeda sifat, dimana ada yang bersifat final dan ada juga yang bersifat tidak, oleh karena itulah, ketentuan PPh Final Jasa Konstruksi sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (2) huruf d UU PPh dan PP Nomor 51 Tahun 2008 jo. PP Nomor 40 Tahun 2009, hanya diterapkan bila pemberi jasa (pengusaha jasa konstruksi) telah mengantongi izin usaha atau sertifikasi jasa konstruksi dari lembaga berwenang (misalnya LPJK). Jika izin atau sertifikat (SBU) itu masih berlaku, sehingga hal inilah yang menjadi alasan sehingga adanya kedua Pasal tersebut ada didalam Undang-Undang yang mengatur pemotongan pajak penghasilan pada usaha jasa konstruksi di dalam UU PPh.

B. Penerapan Pemotongan Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 Terkait Pemotongan Pajak Penghasilan Usaha Jasa Konstruksi

Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan. Secara Umum, penerapan fungsi pajak sebagai alat pengatur dalam bidang sosial dan ekonomi. Sehinngga penerapan pajak memiliki posisi yang sama pentingnya untuk menjamin kesejahteraan rakyat sehingga dalam

pemungutan pajak pada usaha jasa konstruksi subjek dan objek pajak harus jelas agar pendapatan dari pajak nantinya dapat dikelola dengan baik dan benar agar penerapan pajak pada usaha jasa konstruksi nantinya dapat memberikan keadilan secara universal. Terkait penerapan Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 yang menentukan bahwa :

(1) Atas penghasilan tersebut di bawah ini dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap, dipotong pajak oleh pihak yang wajib membayarkan:

c. sebesar 2% (dua persen) dari jumlah bruto atas:

2. imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.

Berdasarkan ketentuan diatas bukanlah ketentuan lex spesialis sebagaimana Pasal 4 ayat (2) UU PPh. Dan hal ini hanya diterapkan kepada subjek hukum wajib pajak pada usaha jasa konstruksi yang belum memiliki kualifisaki secara formal, atau belum memiliki sertifikat badan usaha yang diterbitkan oleh lembaga pengembangan jasa konstruksi. Hal ini juga diterapkan bagi pengusaha kecil dalam hal ini wajib pajak pada usaha jasa konstruksi yang memenuhi kualifikasi dikenakan PPh final sedangkan wajib pajak yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai pengusaha kecil dikenakan PPh tidak bersifat final.

Perlakuan yang membedakan antara wajib pajak yang bergerak dalam bidang konstruksi yang memenuhi kualifikasi dengan wajib pajak

yang bergerak dalam bidang konstruksi yang tidak mempunyai kualifikasi tidak selamanya memberikan keadilan bagi wajib pajak. Dilihat dari kesederhanaan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan memang cukup adil karena pada umumnya pengusaha yang tidak memiliki kualifikasi tidak memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan baik seperti pengusaha menengah dan besar. Namun dilihat dari beban kewajiban PPh yang harus dibayar tidak selamanya perlakuan tersebut memberikan keadilan bagi wajib pajak yang memenuhi klasifikasi karena bisa jadi justru pengusaha yang memiliki kualifikasi menanggung beban pajak yang lebih besar seperti bila dalam aktivitas bisnisnya perusahaan menderita kerugian.

Dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Pajak Penghasilan diatur bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai jenis jasa konstuksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c angka 2 diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri keuangan. Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur jenis jasa lain ini adalah Peraturan Menteri Keuangan nomor 244/PMK.03/2008. Jika digunakan parameter Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2008 sebagai dasar pengenaan pajak maka dua jenis jasa diatas dapat kita kelompokkan kedalam jasa pelaksanaan konstruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha sehingga akan dikenakan pemotongan PPh Pasal 23.

Terkait penerapan pada pembayaran pajak pada usaha jasa konstruksi dilakukan oleh pihak pemotong dengan cara membuat ID billing terlebih dahulu, lalu membayarnya melalui Bank Persepsi

ATM, teller bank, fitur bayar pajak online di OnlinePajak yang telah disetujui oleh Kementerian Keuangan. Jatuh tempo pembayaran adalah tanggal 10, sebulan setelah bulan terutang pajak penghasilan. Sebagai tanda bahwa PPh Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 telah dipotong, pihak pemotong harus memberikan bukti potong (rangkap ke-1) yang sudah dilengkapi kepada pihak yang dikenakan pajak tersebut dan bukti potong (rangkap ke-2) pada saat melakukan e-Filing pajak PPh Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 di Online Pajak. Setelah itu Pelaporan dilakukan oleh pihak pemotong dengan cara mengisi SPT Masa PPh Pasal 23, lalu bisa melaporkannya melalui fitur lapor pajak online atau efiling gratis di Online Pajak. Jatuh tempo pelaporan adalah tanggal 20, sebulan setelah bulan terutang pajak penghasilan.

Tarif PPh Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 dikenakan atas nilai Dasar Pengenaan Pajak (DPP) atau jumlah bruto dari penghasilan. Ada dua jenis tarif yang dikenakan pada penghasilan pada Pasal 23 PPh yaitu 15% dan 2%, tergantung dari objek PPh 23 tersebut. Dan untuk usaha jasa konstruksi dikenakan tariif pajak 2% berdasarkan UU PPh. Jumlah bruto maksudnya yaitu seluruh jumlah penghasilan yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap. Penerapan pajak pada usaha jasa konstruksi sangat tergantung pada undang-undang PPh terkait penjelasan yang mana sebenarnya yang menjadi objek pajak

Dokumen terkait