• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Belanja Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan

Dalam dokumen - LP2KD BUKU LP2KD 2016 (Halaman 74-85)

KEBIJAKAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN

PROGRAM DAERAH Program :

3.3.2. Analisis Belanja Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan

Analisis belanja daerah Kabupaten Aceh Tamiang untuk Penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan melihat belanja program/kegiatan reguler yang dilakukan pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Adapun belanja daerah ini akan dipilah berdasarkan sektor/dimensi kemiskinan yang akan diselaraskan dengan permasalahan kemiskinan yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang, yaitu :

1. Dimensi Ekonomi dan Ketenagakerjaan

Ekonomi dan Ketenagakerjaan merupakan salah satu indikator yang menggambarkan bagaimana keadaan kemiskinan di Kabupaten Aceh Tamiang. Dari dimensi ini terlihat berapa jumlah penduduk miskin serta tingkat kemiskinannya. Oleh karena itu dimensi ekonomi dan ketenagakerjaan ini perlu menjadi perhatian

khusus. Kabupaten Aceh Tamiang telah menganggarkan belanja sektor ekonomi dan ketenagakerjaan untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan seperti yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar. 3.1

Proporsi Belanja Sektor Ekonomi dan Ketenagakerjaan terhadap Total Belanja Daerah di Kabupaten Aceh Tamiang

Belanja sektor ekonomi dan ketenagakerjaan merupakan gabungan dari anggaran belanja dari beberapa Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) yang berbeda urusan pemerintahan daerah yang fokus pada urusan ekonomi dan ketenagakerjaan. Gambar diatas menjelaskan bahwa pada tahun 2013 belanja untuk sector ekonomi dan ketenagakerjaan sebesar Rp. 68.506.925.785,- atau 9,8% dari total belanja daerah sebesar Rp. 1.159.082.550.853,-. Ditahun 2014 anggaran belanja sector ekonomi dan ketenagakerjaan naik menjadi sebesar Rp.84.370.902.176,-, tetapi persentase nya menurun menjadi sebesar 9.4% bila dibandingkan dengan total belanja daerah. Selanjutnya pada tahun 2015 juga terjadi peningkatan anggaran belanja menjadi sebesar Rp. 88.326.748.379,- dengan persentase yang terus menurun menjadi 7.6% dibandingkan dengan total belanja daerah. Analisis diatas menunjukkan bahwa anggaran Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang untuk sektor ini relatif masih tergolong kecil yaitu dibawah 10% dari total belanja Kabupaten Aceh Tamiang.

7,6 %

9,8% 9,4%

Total Belanja Daerah

Total Belanja Sektor Ekonomi dan Ketenagakerjaan

Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Dari keseluruhan belanja sektor ekonomi dan ketenagakerjaan yang merupakan gabungan dari beberapa SKPK dapat dilihat proporsinya pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.2

Proporsi Total Belanja Sektor Ekonomi dan Tenaga Kerja di Kabupaten Aceh Tamiang

Dari keseluruhan belanja sektor ekonomi dan tenaga kerja, proporsi

belanja yang terbesar dari tahun 2013 hingga 2015 yaitu proporsi urusan pilihan pertanian sebesar Rp. 36.987.778.090,- di tahun 2013 dan sebesar Rp. 44.665.829.354,- ditahun 2014 serta sebesar Rp. 35.865.034.476,- ditahun 2015 yang dibebankan kepada Dinas Pertanian. Selain dari pada itu, urusan pertanian merupakan penyumbang PDRB terbesar di Kabupaten Aceh Tamiang. Proporsi terbesar selanjutnya ada pada beberapa urusan yaitu urusan pilihan Kelautan dan Perikanan, kehutanan dan

Dinas Kelautan dan Perikanan

Dinas Kehutanan dan Perkebunan

Dinas Pertanian dan Peternakan Badan Pelaksana Penyuluh Lapangan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi

Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi

perkebunan, pelaksana penyuluh lapangan, koperasi perindustrian dan perdagangan serta urusan sosial tenaga kerja dan transmigrasi.

Perbandingan antara total belanja sektor ekonomi dan ketenagakerjaan dengan angka kemiskinan dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Gambar 3.3

Efektifitas Belanja Sektor Ekonomi dan Ketenagakerjaan terhadap Angka Kemiskinan di Kabupaten Aceh Tamiang

Tingkat kemiskinan di Kabupaten Aceh Tamiang dari tahun 2013 (15.13%) sampai dengan 2015 (14.57%) terus mengalami penurunan walaupun secara lambat. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja pemerintah yang berhubungan dengan program/kegiatan dalam pengentasan kemiskinan telah berjalan dengan efektif tetapi mulai mendekati kejenuhan. Tingkat kejenuhan ini sangat membutuhkan inovasi dalam pemilihan program/kegiatan pengentasan kemiskinan yang akan dilaksanakan agar tingkat kemiskinan dapat turun lebih cepat.

2. Dimensi Pendidikan

Belanja daerah Kabupaten Aceh Tamiang untuk sektor pendidikan semakin meningkat dari tahun ketahun seiring dengan meningkatnya belanja daerah. Hal ini dapat dilihat dari proporsi total belanja daerah terhadap total belanja sektor pendidikan pada gambar dibawah ini.

Total Belanja Program , 2013, 68,506,925,785 Total Belanja Program , 2014, 84,370,902,176 Total Belanja Program , 2015, 88,326,748,379 Tk. Kemiskinan, 2011, 15.13 Tk. Kemiskinan, 2012, 14.58 Tk. Kemiskinan, 2013, 14.57

Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Gambar. 3.4

Proporsi Total Belanja Daerah dengan Total Belanja Sektor Pendidikan

Pada tahun 2013 belanja sektor pendidikan sebesar 36.3% dari total belanja daerah yaitu sekitar Rp. 253.052.785.775.12,-, tahun 2014 sebesar 32.2% atau sekitar Rp. 289.426.637.924, tahun 2015 terjadi penurunan persentase belanja pendidikan menjadi sebesar 26.4% namun tidak mengurangi anggaran belanja pendidikan sebesar Rp. 305.953.942.099,-yang tetap meningkat dibanding tahun lalu. Penurunan persentase ini dikarenakan belanja daerah meningkat tajam di tahun 2015.

Permasalahan kemiskinan sektor pendidikan dapat dilihat pada beberapa indikator yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/MA. Permasalahan ini diketegorikan menjadi prioritas pertama untuk ditangani. Perbandingan antara belanja program pendidikan menengah dengan APK SMA/MA dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

36,3% 32,2% 26,4%

belanja daerah

Gambar 3.5

Efektifitas Anggaran Belanja Kegiatan Reguler pembangunan dan rehab gedung sekolah terhadap APK SMA/MA

di Kabupaten Aceh Tamiang

Gambar diatas menunjukkan terjadinya lonjakan belanja Program pendidikan menengah dari tahun ke tahun terutama ditahun 2014. Belanja ditahun 2013 sebesar Rp. 5.971.442.600,- dengan capaian APK sekitar (76.64%) dan APM (57.31%), ditahun 2014 belanja sebesar Rp. 18.330.503.973,- dengan nilai capaian APK (71.63%) dan APM (61.67%), ditahun 2015 belanja program ini sebesar Rp. 24.415.562.612,- dengan capaian APK (76.49%) dan APM (63.73%).

Bila dianalisis dengan ketercapain APK dan APM SMA/MA, maka dapat dikatakan bahwa peningkatan anggaran untuk program pendidikan menengah efektif atau berpengaruh terhadap perbaikan APK dan APM SMA/MA di Kabupaten Aceh Tamiang karena terjadi pertumbuhan APK SMA/MA sebesar 5.90% dan APM

Belanja Program Pendidikan Menengah, 2013, 5,971,442,600 Belanja Program Pendidikan Menengah, 2014, 18,330,503,973 Belanja Program Pendidikan Menengah, 2015, 24,415,562,612 APK SMA/MA, 2013, 67.64 APK SMA/MA, 2014, 71.63 APK SMA/MA, 2015, 76.49 APM SMA/MA, 2013, 57.31 APM SMA/MA, 2014, 61.67 APM SMA/MA, 2015, 63.73 Belanja Program Pendidikan Menengah

APK SMA/MA

Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) SMA/MA sebesar 7.61% yang sangat signifikan di tahun 2014 bila dibandingkan dengan pertumbuhan APK SMA/MA ditahun 2013 hanya sebesar 0.24%.

3. Dimensi Kesehatan

Total anggaran belanja Kabupaten Aceh Tamiang dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 3.7

Proporsi Total Belanja Sektor Kesehatan terhadap Total Belanja APBK Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2011-2013

Peningkatan total belanja Kabupaten yang terus meningkat dari tahun ke tahun diiringi dengan peningkatan total belanja untuk sektor kesehatan. Pada tahun 2013, alokasi anggaran untuk sektor kesehatan Rp. 77.858.230.260 ,- atau sekitar 11,2%, dari total belanja daerah, dan terjadi peningkatan tajam di tahun 2014 menjadi sebesar Rp. 126.480.866.739,- atau sekitar 14,1%. Pada tahun 2015 anggaran belanja meningkat terus menjadi Rp. 134.008.785.592,- atau sebesar 11.6% dari total belanja daerah. Belanja untuk sector kesehatan terus meningkat meskipun persentase terjadi fluktuatif dikarenakan belanja daerah terus meningkat tajam. Dari data diatas dapat dikatakan bahwa anggaran belanja untuk sektor kesehatan sudah melebihi mandat nasional yaitu 10% dari belanja APBK.

Permasalahan yang dihadapi Kabupaten Aceh Tamiang pada sektor kesehatan yaitu tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

11.2% 14.1% 11.6%

Total Belanja Daerah

Total Belanja Sektor Kesehatan

Indikator-indikator diatas merupakan indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Perbandingan antara belanja program peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak dengan AKI, AKB dan AKBA dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.8

Efektifitas Anggaran Belanja Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak terhadap AKI, AKB, dan AKBA

di Kabupaten Aceh Tamiang

Dari grafik diatas menggambarkan bahwa terjadi peningkatan anggaran Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak mulai tahun 2013 hingga 2015. Peningkatan ini berbanding lurus dengan ketercapain Angka Kematian Ibu (AKI) dan Bayi (AKB) serta Balita (AKBA) yang semakin menurun. Di tahun 2013 realisasi anggaran sebesar Rp. 152.450.000,- pencapaian AKI sebesar 321 jiwa per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 24.03 jiwa per 1.000 kelahiran hidup serta

AKBA sebesar 17.85 jiwa per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2014, realisasi

anggaran meningkat menjadi Rp. 406.874.408,- dengan nilai AKI menurun menjadi 159.86 jiwa per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menurun menjadi 14.56 jiwa per

Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) 1.000 kelahiran hidup serta AKBA sebesar 15.87 jiwa per 1.000 kelahiran hidup. Peningkatan anggaran ini berbanding lurus dengan penurunan AKI, AKB dan AKBA. Pada tahun 2015, realisasi anggaran melonjak tajam menjadi Rp. 1.785.866.700,- dan hasil pencapaian nilai AKI menurun menjadi 126.80 jiwa per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menurun menjadi 12.00 jiwa per 1.000 kelahiran hidup serta AKBA sebesar 12.70 jiwa per 1.000 kelahiran hidup. Peningkatan anggaran ini berbanding lurus dengan penurunan AKI, AKB dan AKBA. Kerja keras dinas kesehatan selama 3 tahun ini berhasil untuk menekan dan menurunkan indikator AKI, AKB dan AKBA.

4. Dimensi Prasarana Dasar

Prasarana dasar merupakan salah satu indikator yang menggambarkan bagaimana keadaan kemiskinan di Kabupaten Aceh Tamiang. Minimnya keadaan prasarana dasar suatu masyarakat atau komunitas akan mencerminkan keadaaan kemiskinannya. Prasarana dasar yang baik dan terpenuhi akan menunjang tingkat kesehatan dan pendidikan seseorang, dan keadaan ini akan meningkatkan derajat kesejahteraan suatu masyarakat. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang telah menganggarkan belanja sektor prasarana dasar untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan seperti yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.9

Proporsi Total Belanja Sektor Prasarana Dasar terhadap Total Belanja Daerah di Kabupaten Aceh Tamiang

18.8% 10,1% 22,9% Total Belanja Daerah

Total Belanja Sektor Prasarana Dasar

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan anggaran belanja untuk sektor prasarana dasar pada 3 tahun kebelakang seiring dengan peningkatan total belanja daerah serta demi mensukseskan visi misi Bupati Kabupaten Aceh Tamiang 2013-2017.

Pada tahun 2013, anggaran belanja untuk sektor prasarana dasar sebesar Rp. 70.210.806.252,- atau sekitar 10,1%. Pada tahun 2014, anggaran belanja dialokasikan sebesar Rp. 168.737.105.317,- atau sekitar 18.8% dari total belanja daerah dan pada tahun 2015 belanja terus mengalami peningkatan yaitu sebesar Rp. 265.712.751.972,- atau sebesar 22,9% dari total belanja daerah.

Dari pembahasan Bab 2.2 tentang kondisi kemiskinan multidimensi dapat dilihat bahwa permasalahan yang dihadapi Kabupaten Aceh Tamiang untuk sektor prasarana dasar yaitu proporsi rumah tangga dengan sanitasi layak yang terus

menurun dari tahun ke tahun. Keadaan ini dikategorikan menjadi prioritas ke-1

untuk ditangani karena semakin jauh dari capaian nasional tahun 2013 yaitu 60,45%. Perbandingan antara program sanitasi lingkungan berbasis masyarakat yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang terhadap proporsi rumah tangga dengan sanitasi layak dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Gambar 3.11

Efektifitas Anggaran Belanja Program Sanitasi Lingkungan berbasis masyarakat terhadap Proporsi Rumah Tangga

Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD)

Pada tahun 2013, anggaran belanja program sanitasi lingkungan berbasis masyarakat sebesar Rp. 11.923.152.158,-, dengan posisi proporsi rumah tangga dengan sanitasi layak sebesar 49,69%. Pada tahun 2014, anggaran menurun tajam menjadi Rp. 2.529.789.000,- dan proporsi rumah tangga dengan sanitasi layak yang dicapai juga menurun dengan tajam menjadi 22,54%. Pada tahun 2015, realisasi anggaran meningkat kembali menjadi Rp. 8.952.240.203,- dengan proporsi yang menurun sedikit menjadi sebesar 21%. Analisis diatas menggambarkan bahwa terjadi fluktuatif alokasi anggaran yang berakibat pada penurunan indicator proporsi rumah tangga dengan sanitasi layak yang berarti program sanitasi lingkungan berbasis masyarakat yang dilaksanakan tidak sejalan atau tidak mempengaruhi angka proporsi rumah tangga dengan sanitasi layak.

T o tal Bel an ja Pro g ram S an itas i Li n g ku n g an b e rb as is masyar akat , 2013 , 11,923, 152,158 T o tal Bel an ja Pro g ram S an itas i Li n g ku n g an b e rb as is masyar akat , 2014 , 2,529, 789,000 T o tal Bel an ja Pro g ram S an itas i Li n g ku n g an b e rb as is masyar akat , 2015 , 8,925, 240,203 Proporsi Rumah Tangga dengan sanitasi layak, 2013, 49.69 Proporsi Rumah Tangga dengan sanitasi layak, 2014, 22.54 Proporsi Rumah Tangga dengan sanitasi layak, 2015, 21 Total Belanja Program Sanitasi Lingkungan berbasis masyarakat

Proporsi Rumah Tangga dengan sanitasi layak

BAB IV

Dalam dokumen - LP2KD BUKU LP2KD 2016 (Halaman 74-85)

Dokumen terkait