HASIL PENELITIAN
B. Analisis bentuk-bentuk pendidikan birrul waalidain dalam keluarga
Terjemahnya :
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.
Kata ( يَ عِيقْ يَ ف قْ عِصقْ ايَو ) “dan sederhanalah kamu dalam berjalan”. Yaitu berjalan secara sederhana maksudnya adalah tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat namun adil yaitu mengambil pertengahan.
Kata ( يَ عِتقْ يَص قْهعِ قْ ظُ قْ قْايَو) “dan lunakkanlah suaramu.” Yaitu janganlah kamu berlebihan dalam berbicara dan jangan mengeraskan suara pada sesuatu yang tidak bermanfaat.
Sehingga, dari itulah Allah SWT berfirman: ( ظُت قْ يَصل عِتايَ قْصلأقْا يَريَكويَا نعِا ريمحلا)“Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai”. Mujahid dan banyak Ulama berkata: perumpamaan keledai orang yang mengangkat suaranya tinggi-tingi, disamping itu merupakan hal yang dimurkai oleh Allah.
B. Analisis bentuk-bentuk pendidikan birrul waalidain dalam keluarga
Dalam hubungannya dengan anak, maka ada hal-hal yang orang tua antara bapak dan ibu berbeda pengorbanannya dan perasaan kasih
sayangnya. Pada umumnya hubungan ibu terhadap anak berbeda dengan hubungan ayah terhadap anaknya.6
Islam memandang dan memposisikan wanita sebagai ibu di tempat yang luhur dan sangat terhormat. Ibu adalah satu diantara dua orang tua yang mempunyai peran sangat penting dalam kehidupan setiap individu.
Di tangan ibu lah setiap individu dibesarkan dengan kasih sayang yang tak terhingga. Ibu, dengan taruhan jiwa raga telah memperjuangkan kehidupan anaknya, sejak anak masih dalam kandungan, lahir hingga dewasa. Secara tegas Al-Qur‟an memerintahkan setiap manusia untuk menghayati dan mengapresiasi ibu atas jasa-jasanya dengan berbuat baik kepadanya.7.
Di waktu menyusui, ketika anak masih kecil,yang banyak terlibat adalah ibu. Mulai di kandungan sampai bayi dua tahun seorang anak selalu lekat dengan ibu. Maka peranan ibu terhadap anaknya sangat besar yang tak dapat dinilai dengan materi.
Demikian kasih sayang ibu terhadap anak yang dilahirkannya, seperti pada dirinya sendiri. Kalau ada yang istimewa seorang ibu membuang anaknya atau seorang ibu membunuh anaknya yang masih bayi, hal itu suatu pengecualian yang merupakan hal yang tidak normal.
Kalau terjadi pasti ada sesuatu yang tidak beres pada jiwa ibu tersebut.
Oleh karenanya peranan ibu terhadap anaknya lebih besar daripada
6 Rachmat Djatnika, Sistem Ethika Islam (Jakarta : Akhlak Mulia, 2010), h. 209
7 Siti Muri‟ah, Nilai-nilai Pendidikan Islam & Wanita Karir, (Semarang:
RaSAIL, 2009), h. 147.
peranan ayahnya terhadap anaknya. Di dalam kehidupan sehari-hari umumnya seorang anak lebih dekat dengan ibunya daripada kepada ayahnya. Kalau ada suatu persoalan, minta sesuatu untuk kebutuhan, seorang anak lebih berani mengadu kepada ibunya daripada kepada ayahnya.8
Imam Bukhari sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Ali al-Hasyimi, mengawali bukunya al-Adab al-Mufrad dengan bab mengenai sikap hormat dan perbuatan baik kepada orang tua (birrul walidain), yang mana di situ beliau menempatkan perbuatan baik kepada ibu sebelum perbuatan baik kepada bapak, sesuai dengan ajaran Nabi saw.. Begitu juga dengan Ibn Abbas yang menganggap bahwa perbuatan baik kepada ibu merupakan tindakan terbaik untuk membawa seseorang lebih dekat kepada Allah.9
ُالله ىَّلَص ِالله ِل ْوُسَر ىَلِإ ٌلُجَر َءاَج َلاَق ُهْنَع ُالله ًَ ِضَر َةَرٌَْرُه ًِْبَأ ْنَع َلاَقَف َمَّلَس َو ِهٌَْلَع ِ َبا َ َص ِنْسُ ِب ِااَّنل قُّ َ َأ ْنَ ِالله َل ْوُسَر اٌَ :
َلاَق ؟ي
َ ْوُبَأ َلاَق ْنَ َّمُ َلاَق َ قُّ ُأ َلاَق ؟ ْنَ َّمُ َلاَق َ قُّ ُأ َلاَق ؟ ْنَ َّمُ َلاَق َ قُّ ُأ
Artinya :
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu „anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam dan berkata, „Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?‟ Nabi shalallaahu „alaihi wasallam menjawab, „Ibumu!‟ Dan orang tersebut kembali bertanya, „Kemudian siapa lagi?‟ Nabi shalallaahu „alaihi wasallam menjawab, „Ibumu!‟ Orang tersebut bertanya kembali,
8 Rachmat Djatnika, Sistem Ethika Islam (Jakarta : Akhlak Mulia, 2010), h. 211.
9 Muhammad Ali al-Hasyimi, Menjadi Muslmi Ideal, hlm. 80-81.
„Kemudian siapa lagi?‟ Beliau menjawab, „Ibumu.‟ Orang tersebut bertanya kembali, „Kemudian siapa lagi,‟ Nabi shalallahu „alaihi wasallam menjawab, „Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no.
2548).10
Dalam Hadist tersebut diatas menjelaskan bahwa perbandingan hak antara ibu dan bapak adalah 3:1, sebagaimana Nabi saw menjawab pertanyaan dari seseorang tentang siapa yang paling berhak untuk dimuliakan (berbuat baik), Nabi saw. menjawab : “Ibumu, Ibumu, Ibumu”
lalu kemudian, “Bapakmu”.
10 Imam Abi al-Husain Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Juz IV, h. 1974.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas ada tiga poin penting yang patut digarisbawahi:
1. Pendidikan anak. Anak harus dididik sesuai dengan kepribadiannya, sehingga dia mampu mengaktualisasikan dirinya. Ada dua faktor yang perlu diperhatikan yang sangat mempengaruhi pendidikan anak, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern adalah dirinya (psikologisnya) sendiri. Sedangkan faktor ekstern adalah kondisi keluarganya. Meskipun masih banyak faktor-faktor lain, akan tetapi ini hanya sebagai penekanan.
2. Makna birrul walidain. Birrul walidain dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, ketaatan kepada orang tua selama perintahnya untuk kebaikan dan kebenaran; dan kedua, berbuat baik kepada keduanya tanpa kecuali.
Selain itu, perlu dilihat kembali sisi lain kemungkinan pemaknaan tambahan birrul walidain, yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban orang tua dan anak.
3. Secara garis besar, dapat ditarik beberapa relevansi konsep birrul walidain dengan pendidikan anak. Pertama, dilihat dari paralel dasar pijaknya, yaitu kemanusiaan. Sebagaimana pendidikan anak berpijak kepada kemanusiaan begitu juga dengan birrul walidain; kedua,, dilihat
66
dari aspek materi, birrul walidain merupakan bagian dari materi pendidikan anak; ketiga, karena birrul walidain merupakan bagian dari materi pendidikan maka metode yang digunakan juga tidak berbeda;
keempat, penanaman nilai-nilai birrul walidain dan secara lebih luas, pendidikan anak terwadahi oleh keluarga.
B. Saran
1. Tulisan ini sebagai sumbangan ilmiah dan sekaligus menjadi pertimbangan, bagi pelaksana pendidikan di rumah tangga., agar melihat permasalahan birrul walidain dan pendidikan anak tidak hanya sepihak.
2. Kepada teman-teman mahasiswI yang sekaligus sebagai calon orang tua hendaknya lebih bijak dalam mengambil sikap menghadapi anak-anaknya jika nanti sudah punya anak.
3. Kepada para orang tua dan calon orang tua secara umum agar dapat mengambil pelajaran dan lebih memahami keinginan anak-anaknya.
Dari pernyataan-pernyataan diatas peneliti menyadari bahwa penelitian ini belum sempurna dan banyak terjadi kendala dan hambatan. Hal tersebut bukan karena faktor kesengajaan, namun terjadi karena keterbatasan peneliti dalam melakukan penelitian. Keterbatasan waktu, pustaka dan tentunya keterbatasan kemampuan.
Penelitian ini mengkaji tentang konsep Al-Qur’an tentang birrul walidain dan implikasinya terhadap pendidikan anak dalam keluarga dalam Al-qur’an dalam QS. Al-Isra’ (17) : 23-24, QS. Al-Ankabut (20) : 8, dan QS.
Luqman (31) : 13-19, tentu saja banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat tentang konsep Al-Qur’an tentang birrul walidain dan implikasinya terhadap pendidikan anak dalam keluarga sebagaimana yang telah peneliti sebutkan dalam bab I, bab II, bab III. Akan tetapi, dalam penelitian ini hanya dipaparkan beberapa ayat Al-Qur’an, utamanya lebih membahas QS.
Luqman (31) : 13-19 pada bab III.
Keterbatasan peneliti dalam melakukan penelitian tidak lepas dari pengetahuan, dengan demikian peneliti menyadari keterbatasan kemampuan khususnya dalam pengetahuan membuat karya ilmiah. Tetapi peneliti sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan penelitian sesuai kemampuan keilmuan serta bimbingan dari dosen pembimbing.
DAFTAR PUSTAKA