• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOE PENELITIAN

3.3. Metode Pengumpulan Data

3.5.2 Analisis biaya penerapan stimulansia

Stimulansia yang dibutuhkan selama penelitian yaitu untuk kebutuhan 60 pohon dengan periode panen sebanyak 15 kali. Hal-hal yang harus dihitung dalam analisis biaya penerapan stimulansia adalah sebagai berikut :

a. Biaya stimulansia Bi = Hi

1000 x 3 Keterangan :

Bi = Biaya stimulansia ke-i yang dikeluarkan setiap 1 kali penyemprotan (Rp/quarre/hari)

Hi = Harga stimulansia ke-i (Rp/liter)

Asumsi : satu kali semprotan adalah 1 ml/ quarre/ 3 hari b. Peningkatan produksi getah

Pi = Qi – R Keterangan :

Pi = Peningkatan produksi getah untuk stimulansia ke-i (g/quarre/panen) Qi = Produksi perlakuan stimulansia ke-i (g/quarre/panen)

R = Produksi getah pada pohon contoh kontrol/tanpa perlakuan (g/quarre/panen)

c. Pendapatan hasil peningkatan getah Zi = ��

1000 x C Keterangan :

Zi = Pendapatan hasil peningkatan getah dari stimulansia ke-i (Rp/quarre) C = Harga getah pinus (Rp/kg)

d. Nilai tambah stimulansia Ri = Zi – Bi

Keterangan :

BAB IV

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Sejarah Hutan Pendidikan Gunung Walat

Sejarah berdirinya HPGW dimulai pada tahun 1951. Pada tahun tersebut sudah mulai ditanami pohon damar (Agathis loranthifolia). Hutan yang ditanam pada tahun 19511952 tersebut saat ini telah berwujud sebagai tegakan hutan damar yang lebat di sekitar basecamp. Kemudian pada tahun 1967 Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penjajakan kerjasama dengan Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dan Direktorat Jenderal Kehutanan Departemen Pertanian untuk mengusahakan Hutan Gunung Walat menjadi Hutan Pendidikan.

Pada tahun 1968 Direktorat Jenderal Kehutanan memberikan bantuan pinjaman Kawasan Hutan Gunung Walat kepada IPB untuk digunakan seperlunya bagi pendidikan kehutanan yang dikelola oleh Fakultas Kehutanan IPB. Dan pada tahun 1969 diterbitkan Surat Keputusan Kepala Jawatan Kehutanan Daerah Tingkat I Jawa Barat No. 7041/IV/69 tertanggal 14 Oktober 1969 yang menyatakan bahwa Hutan Gunung Walat seluas 359 Ha ditunjuk sebagai Hutan Pendidikan yang pengelolaannya diserahkan kepada IPB.

SK Menteri Pertanian RI No. 008/Kpts/DJ/I/73 tentang penunjukan komplek Hutan Gunung Walat menjadi Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) pada tahun 1973 diterbitkan. Pengelolaan kawasan hutan Gunung Walat seluas 359 Ha dilaksanakan oleh IPB dengan status hak pakai sebagai hutan pendidikan dan dikelola Unit Kebun Percobaan IPB dengan jangka waktu 20 tahun. Pada tahun 1973 penanaman telah mencapai 53%. Tahun 1980 seluruh wilayah HPGW telah berhasil ditanami berbagai jenis tanaman, yaitu damar (Agathis lorantifolia), pinus (P. merkusii, P. insularis, P. oocarpa), puspa (Schima wallichii), kayu afrika (Maesopsis eminii), mahoni (Swietenia macrophylla), rasamala (Altingia excelsa), sonokeling (Dalbergia latifolia), gamal (Gliricidae sp), sengon (Paraserianthes falcataria), meranti (Shorea sp), dan akasia (Acacia mangium).

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 687/Kpts-II/1992 tentang penunjukan komplek hutan gunung walat sebagai hutan pendidikan, pengelolaan kawasan hutan gunung walat sebagai hutan pendidikan dilaksanakan bersama antara Fakultas Kehutanan IPB dan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan/Balai Latihan Kehutanan (BLK) Bogor. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal 24 Januari 1993. Status hukum kawasan HPGW pada tahun 2005 dikuatkan oleh diterbitkannya SK Menhut No. 188/Menhut-II/2005, yang menetapkan fungsi hutan kawasan HPGW sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dan pengelolaannya diserahkan kepada Fakultas Kehutanan IPB dengan tujuan khusus sebagai Hutan Pendidikan (FAHUTAN IPB 2009).

4.2 Letak dan Luas Areal

Secara Geografis Hutan Pendidikan Gunung Walat berada pada 106°48'27''BT sampai 106°50'29''BT dan -6°54'23''LS sampai -6°55'35''LS. Secara administrasi pemerintahan HPGW terletak di wilayah Kecamatan Cibadak dan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi. Secara administrasi kehutanan termasuk dalam wilayah Dinas Kehutanan Kabupaten Sukabumi. Luas kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat adalah 359 Ha, terdiri dari tiga blok, yaitu Blok Timur (Cikatomas) seluas 120 Ha, Blok Barat (Cimenyan) seluas 125 Ha, dan Blok Tengah (Tangkalak) seluas 114 Ha (FAHUTAN IPB 2009).

Gambar 4 Sketsa lokasi HPGW.

4.3 Topografi dan Iklim

HPGW terletak pada ketinggian 460715 mdpl. Topografi bervariasi dari landai sampai bergelombang terutama di bagian selatan, sedangkan ke bagian utara mempunyai topografi yang semakin curam. Klasifikasi iklim HPGW menurut Schmidt dan Ferguson termasuk tipe B dan banyaknya curah hujan tahunan berkisar antara 16004400 mm. Suhu udara maksimum di siang hari 29° C dan minimum 19° C di malam hari (FAHUTAN IPB 2009).

4.4 Tanah dan Hidrologi

Tanah HPGW adalah kompleks dari podsolik, latosol dan litosol dari batu endapan dan bekuan daerah bukit, sedangkan bagian di barat daya terdapat areal peralihan dengan jenis batuan Karst, sehingga di wilayah tersebut terbentuk beberapa gua alam karst (gamping). Hutan Pendidikan Gunung Walat merupakan sumber air bersih yang penting bagi masyarakat sekitarnya terutama di bagian selatan yang mempunyai anak sungai yang mengalir sepanjang tahun, yaitu anak sungai Cipeureu, Citangkalak, Cikabayan, Cikatomas dan Legok Pusar. Kawasan HPGW masuk ke dalam sistem pengelolaan DAS Cimandiri (FAHUTAN IPB 2009).

4.5 Vegetasi

Tegakan Hutan di HPGW didominasi tanaman damar (Agathis lorantifolia), pinus (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), sengon (Paraserianthes falcataria), mahoni (Swietenia macrophylla) dan jenis lainnya seperti kayu afrika (Maesopsis eminii),rasamala (Altingia excelsa), Dalbergia latifolia, Gliricidae sp, Shorea sp, akasia (Acacia mangium), dan pinus (Pinus insularis dan Pinus oocarpa). Di HPGW paling sedikit terdapat 44 jenis tumbuhan, termasuk 2 jenis rotan dan 13 jenis bambu. Selain itu terdapat jenis tumbuhan obat sebanyak 68 jenis. Potensi tegakan hutan ± 10.855 m3 kayu damar, 9.471 m3 kayu pinus, 464 m3 puspa, 132 m3 sengon, dan 88 m3 kayu mahoni. Pohon damar dan pinus juga menghasilkan getah kopal dan getah pinus. Di HPGW juga ditemukan lebih dari 100 pohon plus damar, pinus, kayu afrika sebagai sumber benih dan bibit unggul (FAHUTAN IPB 2009).

Di areal HPGW terdapat beraneka ragam jenis satwa liar yang meliputi jenis-jenis mamalia, reptilia, burung dan ikan. Dari kelompok jenis mamalia terdapat babi hutan (Sus scrofa), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kelinci liar (Nesolagus sp), meong congkok (Felis bengalensis), tupai (Callociurus sp. J), trenggiling (Manis javanica), musang (Paradoxurus hermaphroditic). Dari kelompok jenis burung (Aves) terdapat sekitar 20 jenis burung, antara lain: Elang Jawa, Emprit, Kutilang dan lain-lain. Jenis-jenis reptilia antara lain biawak, ular dan bunglon. Terdapat berbagai jenis ikan sungai seperti ikan lubang dan jenis ikan lainnya. Ikan lubang adalah ikan sejenis lele yang memiliki warna agak merah. Selain itu terdapat pula lebah hutan (Apis dorsata) (FAHUTAN IPB 2009).

4.6 Penduduk

Penduduk di sekitar Hutan Pendidikan Gunung Walat umumnya memiliki mata pencaharian sebagai petani, peternak, tukang ojek, pedagang hasil pertanian dan bekerja sebagai buruh pabrik. Pertanian yang dilakukan berupa sawah lahan basah dan lahan kering. Jumlah petani penggarap yang dapat ditampung dalam program agroforestry HPGW sebanyak 300 orang petani penggarap.

Penyadap getah pinus berjumlah 32 penyadap dengan karakteristik yang beragam baik dari segi pendidikan dan umur. Mayoritas penyadap berdomisili di desa sekitar Hutan Pendidikan Gunung Walat yakni Desa Nangerang, Desa Citalahab, Desa Cipereu dan Desa Cijati. Penghasilan rata-rata yang diperoleh penyadap dari hasil menyadap getah pinus adalah Rp. 400.000-Rp. 500.000/bulan (FAHUTAN IPB 2009).

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Kondisi Lapangan Lokasi Penelitian

Penyadapan getah pinus dilakukan pada dua tempat yang berbeda. Pertama di Blok Cikatomas dengan topografi landai sampai curam dan berada pada ketinggian 691716 mdpl. Blok Cikatomas didominasi oleh tegakan P. merkusii

dan P. oocarpa. Lokasi penelitian kedua dilakukan di Blok Tangkalak. Lokasi ini berada pada ketinggian 663687 mdpl dan didominasi oleh tegakan P. insularis.

Gambar 5 Tempat lokasi penelitian di Blok Cikatomas.

Dari ketiga masing-masing jenis pinus diambil 40 pohon untuk diberi perlakuan yaitu 20 pohon sebagai kontrol dan 20 pohon menggunakan stimulansia ETRAT 1240.

(a) (b) (c)

Gambar 6 Pohon (a) P. merkusii, (b) P. oocarpa, (c) P.insularis.

5.2 Produktivitas Getah Pinus dengan Metode Quarre Menggunakan Stimulansia ETRAT 1240

Penyadapan pinus dengan menggunakan metode quarre menghasilkan getah yang berkualitas baik. Namun, secara fisik kualitas getah dari metode quarre tidak lebih bagus dari metode bor. Ada kotoran hasil sadapan yang masuk ke dalam tempat penampungan getah. Getah pinus dari metode quarre lebih cepat mengalami pembekuan karena getah yang keluar dari pohon mengalami koagulasi. Selain itu, kekurangan dari metode quarre adalah luka sadapan yang luas menyebabkan pohon pinus lebih mudah terserang penyakit.

Sejak bulan Mei 2011 Hutan Pendidikan Gunung Walat sudah menggunakan stimulansia organik yaitu ETRAT. ETRAT merupakan larutan yang mengandung Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dan stimulansia organik. Dengan demikian ETRAT mempunyai 2 fungsi yaitu meningkatkan kapasitas produksi getah dan memperlancar keluarnya getah (Santosa 2011). Bahan kimia yang terkandung yang terkandung dalam ETRAT 1240 tidak berbahaya bagi kesehatan

penyadap, kondisi pohon yang disadap dan lingkungan sekitar. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan di Hutan Pendidikan Gunung Walat, juga telah menggunakan stimulansia organik, namun berbahan dasar jeruk nipis dan lengkuas. Menurut Aziz (2010), pengggunaan stimulania organik dari bahan jeruk nipis konsentrasi 50% menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan CAS.

Zat Pengatur Tumbuh yang sangat berperan dalam proses keluarnya getah adalah ethylene. Ethylene merupakan senyawa berbentuk gas yang banyak berperan dalam perubahan suatu tanaman, seperti terjadi perubahan dalam membran yang permeabel dari dinding saluran getah sehingga selama ada aliran getah, air dapat masuk ke dalam saluran getah dan jaringan-jaringan di sekitarnya (Santosa 2011). Secara alami, ethylene ada di dalam tanaman (ethylene endogen). Menurut Santosa (2011), pembentukan getah di dalam tanaman dapat ditingkatkan dengan mengaktifkan ethylene endogen dan adanya stres (pembuatan luka sadap). Dengan demikian, peningkatan produksi getah dapat dilakukan dengan memberikan zat yang mengandung ethylene (exsogen) yang akan merangsang pembentukan ethylene endogen pada tanaman sehingga proses metabolisme sekunder dapat ditingkatkan.

Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua perlakuan untuk masing-masing jenis pinus. Pertama penyadapan metode quarre dengan menggunakan stimulansia ETRAT 1240 dan kedua penyadapan metode quarre tanpa stimulansia (kontrol). Dari hasil pengamatan selama selama 15 kali panen getah dengan periode sadap 3 hari sekali maka dapat diketahui produktivitas getah dengan menggunakan stimulansia dan tanpa stimulansia.

Berikut adalah hasil produktivitas rata-rata getah pinus.

Tabel 6 Produktivitas rata-rata getah pinus berdasarkan perlakuan dan frekuensi panen (gram/quarre/panen)

Panen ke- Perlakuan

A1 A2 B1 B2 C1 C2 1 24,60 33,35 39,70 40,40 23,10 20,10 2 6,15 17,25 11,60 14,05 9,40 12,60 3 13,30 38,15 20,45 30,10 19,05 24,90 4 17,95 48,05 24,95 42,05 21,60 31,40 5 22,45 54,30 24,15 42,75 24,30 37,80 6 22,50 66,85 27,40 51,65 21,80 44,75 7 30,75 77,65 38,45 72,05 31,90 56 8 30,20 74,25 35,15 56,95 30,40 51,30 9 34,35 77,35 40 72,40 32,30 57,60 10 30,70 70,30 39 69,55 31,65 59,10 11 35,70 76,10 46 81,20 29,70 57,30 12 38,60 70,10 47,15 79,95 40,90 60,30 13 35,95 67,30 46,6 70,85 33,65 52,10 14 36,50 62,60 47,65 73,35 31,35 53,35 15 31,95 63,35 45,50 70,70 34,50 53,95 Total 411,65 896,95 533,75 868 415,6 672,55 Rata-Rata per panen 27,44 59,80 35,58 57,87 27,71 44,84 Rata-Rata gram/hari 9,15 19,93 11,86 19,29 9,24 14,95 Keterangan : A1 = P. merkusii kontrol

A1 = P. merkusii menggunakan ETRAT B1 = P. oocarpa kontrol

B2 = P. oocarpa menggunakan ETRAT C1 = P. insularis kontrol

C2 = P. insularis menggunakan ETRAT

Berdasarkan Tabel 6, produktivitas tertinggi terdapat pada perlakuan P. merkusii menggunakan ETRAT dengan rata-rata produktivitas getah sebesar 19,93 g/quarre/hari, sedangkan untuk produksi rata-rata terendah adalah perlakuan kontrol pada P. merkusii sebesar 9,15 g/quarre/hari. Dari masing- masing perlakuan untuk setiap jenis pinus terlihat perbedaan produktivitas getah antara pemberian ETRAT dan tanpa ETRAT.

Pada pemanenan pertama, hasil rata-rata produktivitas getah pada ketiga jenis pinus cukup tinggi karena keluarnya deposit getah dari sel-sel parenkim. Saat pinus berusaha melakukan reaksi terhadap pelukaan kedua, deposit getah telah berkurang banyak untuk menanggapi reaksi stres pada pelukaan pertama. Hal ini menyebabkan persediaan getah di dalam pohon sangat sedikit sehingga pada pemanenan getah yang kedua produktivitas rata-rata pada ketiga jenis pinus menurun. Pada pelukaan ketiga, ketiga jenis pohon pinus sudah dapat beradaptasi dengan membentuk getah yang baru, sehingga hasil produktivitas rata-rata pada setiap perlakuan di pemanenan ketiga kembali meningkat. Menurut Santosa (2011), produktivitas yang masih rendah pada awal periode penyadapan sampai dengan 12 hari disebabkan pemberian ZPT memerlukan waktu untuk mempengaruhi metabolisme sekunder. ZPT (ethylene) membutuhkan waktu untuk mengubah bentuk dari cair menjadi gas di dalam jaringan tanaman. Setelah itu proses untuk membangkitkan ethylene di dalam tanaman pun memerlukan waktu hingga tercapainya proses metabolisme sekunder (pembentukan getah) dapat berjalan dengan stabil.

Secara umum, kecenderungan hasil rata-rata produktivitas getah menggunakan ETRAT ditampilkan pada Gambar 7.

Gambar 7 Grafik kecenderungan produktivitas rata-rata getah pinus menggunakan stimulansia ETRAT dalam frekuensi panen (gram/pohon/panen). 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 P ro dukt iv it as (g/ quar re /pa n en) Panen ke- Pinus merkusii Pinus oocarpa Pinus insularis

Dari Gambar 7, terlihat setelah panen kedua produksi getah dari ketiga jenis pinus mengalami peningkatan. Produktivitas yang paling tinggi terdapat pada perlakuan menggunakan ETRAT pada P. merkusii diikuti dengan pengunaan ETRAT pada P. oocarpa. Dari panen pertama sampai pada panen ke 10 produktivitas getah P. merkusii berada pada tingkat paling atas diantara pinus yang lain, namun pada panen ke 11 produktivitas P. oocarpa mencapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Peningkatan produktivitas P. oocarpa pada panen ke-11 menunjukkan bahwa respon yang dibutuhkan P. oocarpa terhadap stimulansia ETRAT lebih lama dibanndingkan dengan P. merkusii. Tingkat produktivitas getah P. oocarpa yang tinggi di Hutan Pendidikan Gunung Walat dipengaruhi oleh tempat tumbuhnya. P. oocarpa akan mengalami pertumbuhan yang sangat baik pada ketinggian antara 600-800 mdpl, pada suhu 13-23° C dengan curah hujan antara 650-2000 mm per tahun (CABI, 2002). Produktivitas

P. insularis dengan menggunakan stimulansia ETRAT memiliki nilai lebih kecil dari P. merkusii dan P. oocarpa, karena getah P. insularis yang keluar cepat mengalami koagulasi sehingga mempercepat penutupan jaringan saluran resin. Pada panen ke 8 produktivitas getah pada masing-masing perlakuan jenis pinus mengalami penurunan, hal ini dipengaruhi oleh hujan. Menurut Sugiyono (2001) pada suhu yang rendah dan kelembaban yang tinggi, getah yang membeku akan menyumbat saluran getah dan muara akan tertutup akibatnya getah yang mengalir akan terhenti. Hasil rata-rata produktivitas getah tanpa menggunakan stimulansia dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Grafik kecenderungan produktivitas rata-rata getah pinus tanpa menggunakan stimulansia ETRAT dalam frekuensi panen (gram/pohon/panen).

Berdasarkan Gambar 8, rata-rata produktivitas pada ketiga jenis pinus lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan yang mengunakan ETRAT. P.oocarpa

memiliki rata-rata produktivitas tertinggi dengan nilai sebesar 11,86 g/quarre/hari, diikuti oleh P. insularis dan P.merkusii dengan nilai masing-masing sebesar 9,24 g/quarre/hari dan 9,15 g/quarre/hari

Produktivitas getah pinus dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor dari dalam pohon itu sendiri seperti jenis, diameter dan umur tegakan. Menurut Wibowo (2006) pengaruh diameter pohon pinus berhubungan dengan getah pinus yang dihasilkan, sehingga dengan adanya pertumbuhan diameter pohon menyebabkan volume kayu gubal semakin besar. Oleh karena itu, semakin besar volume kayu gubal, maka saluran getah yang terkandung pada pohon pinus akan semakin banyak dan produksi getah pinus akan semakin meningkat. Selain itu, produktivitas getah pinus juga dipengaruhi oleh faktor tempat tumbuh pohon dan perlakuan yang diberikan terhadap pohon seperti cara penyadapannya.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 P ro dukt iv it as (g/ quar re /pa n en) Panen ke- Pinus merkusii Pinus oocarpa Pinus insularis

(a) (b)

(c) (d)

(e) (f)

Pada Gambar 9 terlihat perbedaan warna getah untuk masing-masing jenis pinus. Getah P. merkusii memiliki warna kuning cerah. Warna getah P. oocarpa

kuning keputihan, sementara warna getah P. insularis cendrung putih dan bertekstur menggumpal seperti gula pasir.

Mengacu kepada Tabel 6, maka dapat dihitung persentase peningkatan produktivitas getah menggunakan stimulansia ETRAT. Persentase peningkatan produktivitas getah yang paling tinggi adalah pemberian stimulansia ETRAT pada

P. merkusii sebesar 117,81% dari kontrol (tanpa ETRAT) diikuti oleh P. insularis

sebesar 76,19%. Pada pengamatan di lapangan, peningkatan produktivitas getah dengan menggunakan ETRAT pada P. oocarpa tidak berbeda jauh dengan P. merkusii, namun untuk produktivitas jumlah getah pada kontrol jauh lebih banyak terdapat pada jenis P. oocarpa sehingga pemberian stimulansia pada P. oocarpa

hanya menambah produktivitas sebesar 62,65%. Dilihat dari masing-masing perlakuan dari ketiga kelompok terlihat jelas bahwa ada perbedaan produktivitas getah. Untuk perlakuan kontrol rata-rata produktivitas 30,25 (gram/quarre/hari), sedangkan untuk penggunaan ETRAT pada kelompok pinus diperoleh rata-rata produktivitas 54,17 (gram/quarre/hari).

5.3 Pengaruh Stimulansia terhadap Produktivitas penyadapan Getah Pinus Untuk mengetahui pengaruh pemberian stimulansia ETRAT 1240 terhadap produktivitas penyadapan pada masing-masing jenis pinus dilakukan pengolahan statistik terhadap data hasil pengukuran. Hasil pengujian analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian ETRAT 1240 pada ketiga jenis pinus memberikan pengaruh nyata terhadap produktivitas masing-masing jenis pinus pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hal ini ditunjukkan dengan nilai F hitung sebesar 3,3834003 lebih besar dari F tabel pada tingkat nyata 5% yaitu sebesar 3,079. Demikian juga halnya untuk tingkat perlakuan pada ketiga jenis pinus menunjukkan pengaruh yang nyata. Hal ini ditunjukkan dengan nilai F hitung 50,390321 lebih besar dari F tabel yaitu 3,927. Analisis ragam pengaruh pemberian stimulansia ETRAT 1240 terhadap produktivitas penyadapan pinus dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Analisis ragam pengaruh pemberian stimulansia ETRAT 1240 terhadap produktivitas pada ketiga jenis pinus (gram/quarre/hari)

Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat Kuadrat tengah Fhitung F0,05 Kelompok 2 256,165 128,082 3,3834003* 3,079 Perlakuan 1 1907,576 1907,576 50,390321* 3,927 Galat 2 4315,605 37,856 Total 5 6612,672 *Nyata = Fhitung > F0,05

Oleh karena pada keragaman kelompok memiliki pengaruh yang nyata terhadap produktivitas pinus, maka analisis lanjutan dilanjutkan dengan Uji Duncan yang disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8 Hasil Uji Duncan pengaruh pemberian ETRAT 1240 terhadap produktivitas penyadapan pada ketiga jenis pinus

Jenis Pinus N Produktivitas rata-rata (gram/quarre/hari)

P. merkusii 20 19,9322a

P. oocarpa 20 19,2889ab

P. insularis 20 14,9456b

Huruf superscript yang berbeda dalam kolom “Produktivitas rata-rata”menunjukkan nilai yang berbeda nyata (P<0.05)

Hasil Uji Duncan membandingkan pengaruh jenis pinus terhadap pemberian ETRAT 1240. Seperti yang terlihat pada Tabel 8 huruf superscript yang ditunjukkan memberikan arti yang tidak terlalu signifikan antara jenis P. merkusii

dengan P. oocarpa, demikian juga antara P. oocarpa dengan P. insularis. Namun untuk P. merkusii dengan P. insularis memiliki nilai yang sangat berbeda nyata, ini dibuktikan dengan huruf superscript yang berbeda.

5.4 Analisis Biaya Penggunaan Stimulansia

Dalam penelitian ini juga dilakukan analisis biaya untuk mengetahui seberapa besar tambahan pendapatan dari penggunaan stimulansia terhadap masing-masing jenis pinus. Analisis biaya terdiri atas biaya stimulansia ETRAT per quarre/hari, peningkatan produktivitas getah dan pendapatan hasil getah per

quarre/hari, sehingga didapatkan nilai tambah dari produktivitas getah masing- masing jenis pinus. Hasil dari analisis biaya disajikan dalam Tabel 9.

Tabel 9 Analisis biaya stimulansia Jenis pinus Biaya stimulansia (Rp/quarre/ hari) Peningkatan produktivitas getah (g/quarre/hari) Pendapatan hasil peningkatan getah (Rp/quarre/hari) Nilai tambah penggunaan stimulansia (Rp/quarre/hari) 1 2 3 4(3-1) P. merkusii 4 10,78 80,85 76,85 P. oocarpa 4 7,43 55,73 51,73 P. insularis 4 7,04 52,80 48,80 Keterangan :

1 = Biaya stimulansia (Rp/quarre/hari)

2 = Produksi getah dengan menggunakan stimulansia – produksi getah kontrol 3 = s(2 : 1000)% * Rp 7.500

Stimulansia yang digunakan adalah ETRAT 1240 dengan harga Rp 12.000/liter. Asumsi untuk penggunaan stimulansia setiap koakan adalah 1 ml dan harga getah pinus di pasaran sebesar Rp 7.500/kg. Harga stimualansia ETRAT 1240 diperoleh dari CV. Permata Hijau Lestari yang merupakan produsen produk tersebut, sedangkan harga getah pinus berasal dari harga jual getah pinus di Hutan Pendidikan Gunung Walat.

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa nilai tambah yang paling tinggi terdapat pada jenis P. merkusii sebesar Rp 76,85/quarre/hari diikuti dengan P. oocarpa

dan P. insularis dengan nilai masing-masing sebesar Rp 51,73/quarre/hari dan Rp 48,80/quarre/hari.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Pemberian stimulansia ETRAT 1240 pada ketiga jenis pinus (P. merksuii, P. oocarpa, dan P. insularis) memberikan pengaruh terhadap produktivitas getah pinus.

2. Penggunaan ETRAT 1240 pada P. merkusii menghasilkan rata-rata produktivitas penyadapan sebesar 19,93 gram/quarre/hari, P. oocarpa sebesar 19,29 gram/quarre/hari dan P. insularis sebesar 14,95 gram/quarre/hari. 3. Penggunaan ETRAT 1240 menghasilkan nilai tambah produktivitas

penyadapan sebesar Rp 76,85/quarre/hari untuk P. merkusii, Rp 51,73/quarre/hari untuk P. oocarpa, dan Rp 48,80/quarre/hari untuk P. insularis.

6.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai periode pelukaan quarre

untuk jenis P. oocarpa dan P. insularis.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui produktivitas getah jenis P. oocarpa dan P. insularis dengan teknik penyadapan metode lain antara lain dengan metode bor.

3. Perlu dilakukan penelitian terkait dengan penyebaran getah dan kerapatan saluran getah.

DAFTAR PUSTAKA

Anggita NB. 2012. Rendemen dan Kualitas Gondorukem dan Terpentin Hasil Pengolahan Getah Pinus (Pinus merkusii) Setelah Penyimpanan [skripsi]. Bogor: Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB Bogor.

Azis F. 2010. Peningkatan produktivitas getah pinus melalui penggunaan stimulansia organik [skripsi]. Bogor: Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB Bogor.

Budiatmoko SD. 2007. Stimulansia. Duta Rimbai Edisi 19/Th. 2/ September 2007. Hal 30-31.

[CABI]. 2002. Pines of Silvicultural Importance. New York : Publishing

Departemen Kehutanan. 1991. Indonesia Wood Atlas. Bogor: Pusat Pendidikan dan Pengembangan Hasil Hutan.

Departemen Kehutanan. 1999. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehutanan. Jakarta : Dephut.

Departemen Kehutanan. Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan. 2001. Informasi singkat benih Pinus merkusii Junght. Et deVriese. Jakarta.

Dewi IR. 2008. Peranan dan Fungsi Fitohormon bagi Pertumbuhan Tanaman [makalah]. Bandung: Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran Bandung.

Doan ANG. 2007. Ciri-ciri Fisik Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) Banyak Menghasilkan Getah dan Pengaruh Pemberian Stimulansia serta Kelas Umur terhadap Produksi Getah Pinus di RPH Sawangan dan RPH Kemiri KPH Kedu Selatan, Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

[FAHUTAN IPB] Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. 1989. Penyempurnaan Cara Penyadapan Getah Pinus Untuk Peningktan Produksi getah. Laporan Penelitian Fakultas Kehutanan IPB dan Perum Perhutani.

[FAHUTAN IPB] Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. 2009. Rencana Pembangunan Hutan Pendidikan Gunung Walat 2009-2013. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

FAO. 2010. Resin. http://www.fao.org. ( 17 Desember 2011)

Gardner FP, Pearce RB, Mitchell RL. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.

Kamilla H. 2004. Analisis Biaya Produksi di Pabrik Gondorukem dan TerpetinCimanggu, KPH Banyumas Barat, Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah.Skripsi Sarjana. Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan,Institut pertanian Bogor. Bogor.

Kramer PJ, Kozlowski TT. 1960. Physiologi of trees. New York: McGraw-Hill Book Company.

Matangaran JR. 2006. Catatan untuk Penyadap Getah Pinus. Duta Rimba

edisi8/th.1/30 September – 30 Oktober 2006: 22-23.

Mirov NT. 1964. The Genus Spesies. New York : The Roland Press Company. Pandit IKN, Kurniawan D. 2008. Struktur Kayu: Sifat Kayu sebagai Bahan Baku

dan Ciri Diagnostik Kayu Perdagangan Indonesia. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB.

Panshin A, Carl de Zeeuw. 1977. Textboox of Wood Technology (Structure, Identification, Properties and Uses of the Commercial Woods of the United States and Canada. Fourth Edition.United Staties of America: McGraw-Hill Book Company.

Perhutani. 2006. Gondorukem produksi nonkayu yang menjanjikan.

Dokumen terkait