BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Temuan dan Pembahasan
3. Analisis Biaya
a. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap (Fixed Cost) adlah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan harus dikeluarkan walaupun produk yang dihasilkan banyak atau sedikit. Biaya tetap yang dianalisis dalam penelitian ini diantaranya meliputi biaya sewa lahan dan biaya sewa traktor (pembajakan sawah) yang dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut :
Tabel 4.20
Rata-rata Biaya Tetap Usahatani Padi Per Hektar Pada Sekali Musim Tanam
No Komponen Jumlah Biaya (Rp) Persentase
1 Sewa Lahan Rp 5.644.732,- 85,71%
2 Sewa Traktor Rp 940.938,- 14.29%
Total Rp 6.585.670,- 100%
Sumber : Data diolah (2018) 1) Lahan
Kegiatan usahatani responden di Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya dalam penggunaan input luas lahan sebagian besar memiliki status kepemilikan lahan sendiri, namun ada beberapa petani yang memiliki status kepemilikan lahan sewa, sehingga dalam kaidah usahatani semuanya dianggap sebagai lahan sewa. Karena untuk
69 petani dengan status kepemilikan lahan sendiri juga melakukan pembayaran pajak lahan. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa lahan adalah sebesar Rp 1.500.000,- per 100 bata atau 1.400 m2. Sehingga dari hasil pendataan oleh peneliti diperoleh rata-rata biaya sewa lahan adalah Rp Rp 5.644.732/ha.
2) Sewa Traktor
Sewa traktor adalah salah satu komponen biaya tetap yang dikeluarkan oleh petani untuk keperluan kegiatan pengolahan lahan. Sebagian besar petani di Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya telah menggunakan traktor untuk pengolahan lahannya, akan tetapi petani tersebut masih belum memiliki alat tersebut, sehingga petani menyewa traktor kepada petani lain maupun gapoktan. Namun ada juga beberapa petani yang masih menggunakan bajak tradisional berupa tenaga hewan ternak seperti kerbau untuk kegiatan pengolahan lahannya. Berdasarkan data dari tabel diatas bahwa dapat diketahui rata-rata biaya sewa traktor adalah sebesar Rp. Rp 940.938,-/ha.
b. Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya variabel atau biaya tidak tetap (Variable cost) sifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang dihasilkan. Biaya variabel yang digunakan dalam kegiatan usahatani di Kecamatan Cibeureum terdiri atas biaya bibit, pupuk, tenaga kerja dan pestisida. Besarnya biaya variabel yang dikeluarkan oleh petani dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 4.21
Rata-rata Biaya Variabel Usahatani Padi Per Hektar Pada Sekali Musim Tanam
No Komponen Jumlah Biaya Persentase
1 Bibit Rp 171.621,- 4,71%
2 Pupuk Rp 740.287,- 20.32%
3 Tenaga Kerja Rp 2.669.655 73,28%
4 Pestisida Rp 61.207,- 1,69%
Total Rp 3.642.770,- 100%
70 Berdasarkan hasil dari tabel diatas dapat diketahui bahwa rata-rata penggunaan biaya variabel kegaiatan usahatani padi do Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya adalah sebesar Rp 3.642.770,-, dengan persentase terbesar terdapat pada komponen tenaga kerja dengan persentase sebesar 73,28%.
Hal ini disebabkan karena dalam kegiatan usahatani terdapat beberapa urutan kegiatan diantaranya mulai dari kegiatan pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, pengairan, penyemprotan, hingga panen. Setiap kegiatan tersebut terutama untuk kegiatan pengolahan tanah, penanaman dan panen membutuhkan jumlah tenaga kerja yang tidak sedikit sehingga upah yang dikeluarkan oleh petani juga besar. Pengelompokan biaya variabel secara rinci dapat dilihat pada Lampiran. Untuk penjelasan secara umum berdasarkan rata-rata masing-masing biaya variabel akan dijelaskan sebagai berikut :
1) Bibit
Penggunaan input bibit dalam kegiatan usahatani, menggunakan bibit dengan berbagai macam varietas antara petani yang satu dengan yang lainnya. Adapun bibit yang digunakan diantaranya varietas ciherang, cibogo, pongga, IR64, tetapi yang paling banyak digunakan adalah bibit jenis Pongga dan IR64 dengan kisaran harga Rp 3.500,- . Dalam satu hektar lahan, rata-rata penggunaan benih di daerah penelitian adalah sebesar 49 kg/ha dengan biaya rata-rata satu hektar sebesar Rp171.605,-/ha tergantung dari jarak tanam yang digunakan maupun penyulaman yang dilakukan oleh petani.
2) Pupuk
Jenis pupuk yang digunakan petani Kecamatan Cibeureum diantaranya adalah jenis pupuk urea, ponska, KSL, NPK dan organik. Untuk harga pada masing-masing pupuk adalah urea seharga Rp 2.500,-/kg, organik seharga Rp 750,-/kg dan untuk Ponska, KSL dan NPK sebesar Rp 3.000,-/kg. Penggunaan dan kombinasi pupuk yang digunakan pada setiap petani berbeda-beda. Tetapi ada satu pupuk yang paling sering dan pasti dipakai petani dalam kegiatan usahatani padinya yaitu jenis pupuk urea. Untuk
71 lebih jelasnya terdapat pada lampiran. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan pupuk adalah sebesar 311 kg/ha dengan rata-rata biaya sebesar Rp 740.287,-/ha.
3) Tenaga Kerja
Penggunaan tenaga kerja sebagian besar petani padi di Kecamatan Cibeureum adalah berasal dari tenaga kerja di luar keluarga atau biasa disebut dengan tenaga kerja borongan. Sistem pembayaran yang dilakukan dengan petani dengan cara pemberian hasil panen yang telah disepakati.
Penggunaan tenaga kerja sendiri biasa dibagi-dibagi tiap kegiatan. Untuk pembersihan lahan biasanya menggunakan tenaga kerja wanita dengan jumlah setengah dari total jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan secara keseluruhan. Misalnya, pada kegiatan pembersihan lahan dan penanaman bibit membutuhkan 5 orang tenaga kerja wanita, kemudian ketika masa panen, kelima tenaga kerja wanita ini akan dibutuhkan kembali dengan penambahan 5 orang tenaga kerja laki-laki dikarenakan ketika masa panen, tidak semua kegiatan bisa dilakukan oleh tenaga kerja wanita, seperti ngarit tanaman padi. Sedangkan pada kegiatan pembajakan sawah, petani hanya memerlukan tenaga kerja 1 orang.
Untuk pengupahan, biasanya tenaga kerja akan diupah dengan gabah hasil panen, yaitu sebesar 20% untuk satu rombongan dalam satu kali panen. Kemudian untuk mengetahui berapa biayanya, peneliti mengkonversikan jumlah gabah yang diupahkan menjadi rupiah dengan harga yang berlaku dimana per kilogramnya sebesar Rp 7.000,-.
4) Pestisida
Salah satu cara yang dilakukan oleh petani padi di Kecamatan Cibeureum untuk menghasilkan produksi padi yang baik adalah pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida. Pestisida yang digunakan adalah jenis pestisida Furadan. Rata-rata biaya yang dibutuhkan untuk pengendalian hama penyakit yang menyerang tanaman padi dalam satu hektar lahan sawah adalah Rp. 61.200,-/ha. Dalam kegiatan usahatani padi,petani kecamatan Cibeureum sangat sedikit menggunakan pestisida dikarenakan para petani hanya menggunakan pestisida apabila sudah
72
terlihat ada hama yang menyerang tanaman padi. Apabila tidak terlihat tanda-tanda hama, petani kerap tidak menggunakan pestisida.
c. Biaya Total Usahatani Padi
Total biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam kegiatan usahatani padi di Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya adalah sebagai berikut :
Tabel 4.22
Total Biaya Usahatani Padi Per Hektar Pada Sekali Musim Tanam
No Komponen Jumlah Biaya Persentase
1 Biaya Tetap Rp 6.585.670,- 64,38%
2 Biaya Variabel Rp 3.642.770,- 35,62%
Total Rp 10.228.440,- 100%
Sumber : Data Diolah (2018)
Berdasarkan data di atas bahwa biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk kegiatan usahatani padi adalah sebesar Rp 10.228.440,- /hektar/musim tanam. Presentase terbesar terdapat pada pengeluaran biaya tetap sebesar
64,38 %, hal ini disebabkan karena dalam biaya tetap, petani harus mengeluarkan biaya untuk sewa lahan sebesar Rp 5.644.732,-