• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

B. Analisis Capaian Kinerja

Perbaikan Pengelolaan Program Prioritas Nasional dan Pengelolaan

Keuangan Negara/Korporasi

Sasaran strategis yang pertama dari Renstra Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu

tahun 2015-2019 adalah “Meningkatnya Kualitas Akuntabilitas Pengelolaan

Keuangan dan Penggunaan Nasional” dengan sasaran program “Perbaikan

Pengelolaan Program Prioritas Nasional dan Pengelolaan Keuangan

Negara/Korporasi ”.

Pencapaian kinerja sasaran program “Perbaikan Pengelolaan Program Prioritas

Nasional dan Pengelolaan Keuangan Negara/Korporasi” diukur dengan tiga IKU,

yaitu “Perbaikan tatakelola manajemen risiko, dan pengendalian intern pengelolaan

program nasional”, “Persentase tindak lanjut rekomendasi tata kelola, manajemen

risiko dan pengendalian intern pengelolaan korporasi”, dan “Penyerahan hasil

pengawasan keinvestigasian kepada aparat penegak hukum”.

Sasaran program perbaikan pengelolaan program prioritas nasional dan pengelolaan

keuangan negara/korporasi terkait dengan tujuan pertama BPKP dalam rencana

strategis tahun 2015-2019 yaitu peningkatan kualitas akuntabilitas pengelolaan

keuangan dan pembangunan nasional yang bersih dan efektif.

Sasaran program ini diukur menggunakan tiga indikator kinerja utama (IKU) yaitu:

1. Perbaikan Tata Kelola, Manajemen Risiko, dan Pengendalian Intern Pengelolaan

Program Nasional, diukur dengan menghitung jumlah perbaikan hasil tindak

lanjut dibandingkan dengan jumlah rekomendasi. Pengukuran IKU dihitung

sebagai berikut:

Uraian capaian kinerja IKU 1 sasaran program “Perbaikan Pengelolaan Program

Prioritas Nasional dan Pengelolaan Keuangan Negara/Korporasi” sama dengan

IKU sasaran strategisnya.

Realisasi tahun 2016 IKU ini adalah sebanyak tindak lanjut dari Rekomendasi

Hasil Pengawasan atau dengan perhitungan sebagai berikut :

Bidang Rekomendasi Hasil Tindak

Lanjut (%)

IPP 43 31 72,09

APD 59 39 66,10

Jumlah 102 70 68,63

Realisasi indikator kinerja sasaran program “Perbaikan tata kelola, manajemen

risiko, dan pengendalian intern pengelolaan program nasional” sampai dengan

tahun 2016 adalah sebesar 68,63% dari target tahun 2016 sebesar 45%.

2. Persentase Tindak Lanjut Rekomendasi Tata Kelola, Manajemen Risiko dan

Pengendalian Intern Pengelolaan Korporasi, diukur dengan menghitung jumlah

laporan yang diserahkan ke korporasi dibandingkan dengan jumlah permintaan

(penugasan atas permintaan). Pengukuran IKU dihitung sebagai berikut:

Jumlah Perbaikan Hasil Tindak Lanjut

% Capaian IKU = X 100%

Jumlah Rekomendasi

Jumlah Laporan Yang Diserahkan ke Korporasi

Realisasi tahun 2016 IKU ini adalah sebanyak laporan yang diserahkan ke

korporasi atau dengan perhitungan sebagai berikut :

Bidang Permintaan (PP)

Laporan yang

diserahkan ke

korporasi

(%)

AN 31 31 100,00

Jumlah 31 31 100,00

Realisasi indikator kinerja sasaran program “Persentase tindak lanjut

rekomendasi tata kelola, manajemen risiko dan pengendalian intern pengelolaan

korporasi” sampai dengan tahun 2016 adalah sebesar 100,00% dari target tahun

2016 sebesar 100%.

3. Penyerahan Hasil Pengawasan Keinvestigasian kepada Aparat Penegak Hukum

(APH), diukur dengan menghitung jumlah laporan yang diserahkan ke APH/K/L

Pemerintah Daerah/Korporasi dibandingkan dengan jumlah permintaan

penugasan. Pengukuran IKU dihitung sebagai berikut:

Realisasi tahun 2016 IKU ini adalah sebanyak laporan yang diserahkan ke

Aparat Penegak Hukum (APH) atau dengan perhitungan sebagai berikut :

Bidang Permintaan (PP)

Laporan yang

diserahkan

Ke APH

(%)

Investigasi 39 39 100

Jumlah 39 39 100

Realisasi indikator kinerja sasaran program “Penyerahan hasil pengawasan

keinvestigasian kepada aparat penegak hukum” sampai dengan tahun 2016

adalah sebesar 100% dari target tahun 2016 sebesar 60%.

Dari hasil uraian diatas dapat disimpulkan bahwa semua IKU yang mendukung

sasaran program telah mencapai target.

Untuk mendukung capaian IKU tersebut, Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu

menghasilkan output berupa rekomendasi hasil pengawasan sebanyak 138

rekomendasi atau 100% dari target sebanyak 138 rekomendasi hasil

pengawasan.

Sasaran strategis ini didukung dengan dana sebesar Rp2.533.243.100,00 atau

Jumlah Laporan Yang Diserahkan ke APH

97,64% dari anggaran sebesar Rp2.614.825.000,00 dan SDM sebanyak 8.122

OH atau 56,96% dari rencana sebanyak 14.259 OH.

Perbaikan yang dihasilkan dari pelaksanaan peran BPKP memberikan jasa

assurance dan consulting dalam bidang tata kelola, manajemen risiko, dan

pengendalian intern pengelolaan program nasional dapat diuraikan, antara lain

sebagai berikut:

1. Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah Pusat;

a. Dalam rangka monitoring dan evaluasi program kegiatan prioritas nasional

pada BNN RI tahun 2016, Kepala BNN Provinsi Bengkulu melakukan

koordinasi kepada BNN Pusat terkait persetujuan pelaksanaan kegiatan

peningkatan kemampuan (capacity building) bagi petugas pelaksana

rehabilitas milik instansi pemerintah tahap selanjutnya, melaksanakan kegiatan

TOT pemberdayaan bidang P4GN di lingkungan masyarakat rawan

penyalahgunaan narkoba, workshop pemberdayaan anti narkoba di lingkungan

pendidikan, TOT pemberdayaan bidang P4GN di lingkungan pendidikan,

pembinaan teknis pemberdayaan masyarakat anti narkoba, dan monitoring

dan evaluasi pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat sesuai dengan

jadwal yang telah ditentukan.

b. Pelaksanaan program di Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu, Kepala

Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu menginstruksikan petugas operator

bidang pendataan dan informasi melalui PLKB yang ada di setiap wilayah di

Provinsi Bengkulu untuk melakukan up date data terkait fasilitas kesehatan

(Faskes) yang telah bekerja sama dengan BPJS dan melakukan pembaharuan

data tersebut ke dalam Aplikasi SIM BKKBN.

c. Dalam rangka perbaikan aksesibilitas dan mutu pelayanan kesehatan di DPTK,

dilakukan langkah-langkah strategis sebagai berikut:

1) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tengah menyampaikan secara resmi

dan tertulis Surat Keputusan Bupati Bengkulu Tengah Nomor 279 Tahun

2013 tentang Penetapan Wilayah Kerja Puskesmas dan Kriteria

Puskesmas serta Kriteria desa di Wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah

kepada Kementerian Kesehatan.

2) Kepala Dinas Kesehatan Kaur melakukan sosialisasi mengenai

pencegahan dan penyembuhan kasus penyakit menular kepada

masyarakat.

2. Bidang Pengawasan Akuntan Negara;

a. Pelaksanaan assessment GCG pada BUMD Kabupaten/Kota, BUMD melalui

penyusunan pedoman tata kelola perusahaan (code of corporate governance),

corporate plan dan RKAP perusahaan.

b. Langkah-langkah strategis yang dilaksanakan dalam rangka evaluasi internal

control BUMD, adalah:

1) Menyampaikan permasalahan penjualan oleh pengecer di atas Harga

Eceran Tertinggi (HET) kepada Dinas Perdagangan;

2) Menyampaikan permasalahan kelebihan stok pupuk urea bersubsidi di

gudang pengecer Gapoktan kepada Dinas Pertanian;

3) Mengkomunikasikan secara jelas rencana jangka panjang serta RKAP;

4) Melakukan sosialisasi tujuan perusahaan kepada semua karyawan;

5) Menyusun job description untuk tiap-tiap jabatan;

6) Memberlakukan formulir bernomor urut tercetak.

c. Evaluasi kinerja PDAM Kabupaten/Kota, menyampaikan langkah-langkah

strategis yang perlu dilakukan yaitu:

1) Menetapkan SK Direktur mengenai jabatan, tugas dan tanggung jawab

masing-masing pegawai di lingkungan PDAM Tirta Raflesia Kabupaten

Bengkulu Tngah, bagian teknik melakukan uji pengawasan kualitas air

minum sehingga dapat diinformasikan kepada pelanggan bahwa kualitas

air minum PDAM sudah seuai standar kesehatan;

2) Menyusun RKAP PDAM Tirta Dharma Kaupaben Rejang Lebong yang

dilengkapi dengan proyeksi neraca tahun berikutnya sesuai dengan

Keputusan Menteri Negara Otonomi Daerah Nomor 8 Tahun 2000 tentang

Pedoman Akuntansi PDAM;

3) PDAM Tirta Ratu Samban Kabupaten Bengkulu Utara berkoordinasi

dengan Dispenda tentang besaran jumlah pajak air minum permukaan

sehingga tidak terjadi penunggakan pajak daerah;

4) Menginstuksikan Tim SPI untuk menindaklanjuti sambungan ilegal dan

memberikan sanksi yang tegas kepada pegawai PDAM Tirta Dharma Kota

Bengkulu yang bekerja tidak sesuai aturan;

5) PDAM Tirta Dharma Kota Bengkulu menginventarisir pelanggan yang tidak

mendapat air kemudian membuat aturan khusus tertulis mengenai

permasalahan tersebut.

3. Bidang Pengawasan Akuntabilitas Pemerintah Daerah

a. Dalam hal perbaikan pelaksanaan penyerapan anggaran pemerintah daerah,

Kepala Daerah telah melakukan langkah-langkah, sebagai berikut:

1) Bupati Bengkulu Utara menginstruksikan Inspektur Kabupaten Bengkulu

Utara untuk secara berkala melakukan evaluasi penyerapan anggaran,

sehingga dapat mengambil langkah-langkah cepat dan tepat untuk

mengatasi setiap kendala dan hambatan yang dapat menghambat

penyerapan anggaran;

2) Bupati Bengkulu Tengah menginstruksikan kepada seluruh Kepala SKPD

untuk mengeksekusi belanja modal sesuai peruntukkannya dengan

memperhatikan/mengikuti prosedur yang berlaku.

b. Dalam hal evaluasi terhadap penyusunan dan penetapan APBD:

1) Gubernur Provinsi Bengkulu melaksanakan proses penyusunan dan

pembahasan APBD sesuai dengan ketentutan yang berlaku,

bersama-sama dengan DPRD Provinsi Bengkulu melakukan pembahaan KUA-PPAS

dan penyusunan APBD secara tepat waktu dengan mengutamakan

pembangunan untuk masyarakat Bengkulu;

2) Bupati Bengkulu Utara menginstruksikan Sekretaris Daerah selaku

koordinator TAPD untuk menyusun jadwal tahapan penetapan APBD

sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan

dijadikan untuk acuan dalam tahapan penetapan APBD.

c. Dalam hal reviu RKA pada Pemerintah Daerah Provinis Bengkulu dan

Kabupaten Mukomuko, telah dilakukan langkah-langkah perbaikan, sebagai

berikut:

1) Inspektur Provinsi Bengkulu melakukan pemantauan terhadap finalisasi

RPJMD Provinsi Bengkulu untuk periode 2016-2022 dan hasil reviu RKPD

Provinsi Bengkulu tahun 2017 sehingga bila dimungkinkan terjadi pengaruh

perubahan hasil reviu RKA-SKPD dan RKA-PPKD dapat segera dilakukan

penyesuaian;

2) Inspektur Kabupaten Mukomuko melakukan pemantauan terhadap

finalisasi RPJMD Kabupaten Mukomuko untuk periode 2016-2020

sehingga bila terjadi pengaruh perubahan hasil reviu SKPD dan

RKA-PPKD dapat segera dilakukan penyesuaian.

d. Dalam pelaksanaan DAK Reimbursment, Bupati Bengkulu Tengah

memerintahkan SKPD untuk menyelenggarakan pelatihan dan pembimbingan

teknis ke PU an untuk meningkatkan kompetensi pegawai dalam

melaksanakan pekerjaan, mengindentifikasi faktor risiko internal dan eksternal

dalam pengelolaan DAK dan langkah penanganan dampak dari risiko,

melakukan reviu dalam rangka pengelolaan DAK pada tingkat kegiatan.

e. Dalam rangka pelaksanaan optimalisasi PAD, adapun langkah-langkah

perbaikan yang dilaksanakan adalah:

1) Gubernur Provinsi Bengkulu menginstruksikan Kepala Dinas Pendapatan

Daerah Provinsi Bengkulu menetapkan target PAD pada APBD Provinsi

Bengkulu berdasarkan potensi PAD atas hasil pendataan di lapangan;

2) Bupati Rejang Lebong memerintahkan Kepala Dinas Kebudayaan dan

Pariwisata Kabupaten Rejang Lebong berkoordinasi dengan Dinas

Pendapatan Daerah Kabupaten Rejang Lebong untuk menyusun Perbup

yang mengatur mengenai tata cara penerbitan Surat Ketetapan Pajak

Daerah (SKPD) atau dokumen lain yang dipersamakan , SPTPD, SKPDKB,

dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 ayat (3) dan ayat

(5) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan

Retribusi Daerah;

3) Bupati Mukomuko memerintahkan Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan

Keuangan dan Aset Daerah sebagai instansi pemungut pajak daerah

Kabupaten Mukomuko melakukan pendataan potensi terhadap wajib pajak

daerah dan membuat database potensi pajak daerah secara berkala;

4) Bupati Bengkulu Utara memerintahkan kepada Kepala Dinas Pendapatan

Kabupaten Bengkulu Utara mengoptimalkan potensi pajak hotel dengan

cara mealakukan pemeriksaan pajak hotel dengan tahapan mengusulkan

Perbup Bupati Utara tentang pedoman atau tata cara pemeriksaan pajak

daerah sebagai dasar pedoman pelaksanaan pemeriksaan pajak daerah;

5) Bupati Kaur menginstruksikan kepada Kepala DPPKAD Kabupaten Kaur

untuk membuat mekanisme/prosedur pemutahiran database potensi dan

melakukan pemutahiran database potensi PAD secara berkala.

f. Perbaikan pelaksanaan pengawasan lintas sektoral pembangunan daerah

bidang kesejahteraan rakyat (Program PPM) pada pemerintah daerah dengan

melaksanakan surveilans kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan di Kabupaten Kepahiang.

4. Bidang Pengawasan Investigasi

a. Kepala Kejaksaan Tinggi Bengkulu dan Kepala Kejaksaan Negeri di wilayah

Provinsi Bengkulu, memproses penyimpangan yang terjadi sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan uraian

sebagai berikut:

1) Penyimpangan pengadaan benih ikan pada Dinas Kelautan dan Perikanan

Provinsi Bengkulu TA. 2015.

2) Penyimpangan perkara dugaan tindak pidana korupsi kegiatan

pembangunan gedung RSUD Mukomuko pada Dinas Pekerjaan Umum

Kabupaten Mukomuko TA. 2012 dan 2013.

3) Penyimpangan kegiatan pekerjaan pengadaan 1 unit kapal penangkap ikan

12 GT pada Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Kaur TA. 2015.

4) Penyimpangan kegiatan program keluarga harapan (PKH) Kementerian

Sosial RI di Desa Sebayur Jaya Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu

Utara TA. 2011 s.d TA. 2015.

5) Penyimpangan pengadaan tanah untuk tempat pemrosesan akhir (TPA)

sampah di Kabupaten Kepahiang pada Bagian Pemerintah Umum

Sekretariat Daerah Kabupaten Kepahiang TA. 2014.

6) Penyimpangan dana perluasan sawah di desa Talang Perapat Kecamatan

Seluma Barat Kabupaten Seluma TA. 2013 dan penyimpangan proses

pembangunan unit sekolah baru (USB) SMAN 10 Seluma Desa Padang

Kuas Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma TAM 2012.

b. Pemberian keterangan ahli kepada penyidik telah dituangkan dalam Berita

Acara Pemeriksaan maupun di persidangan Tipikor untuk didengar

pendapatnya terkait dengan keahliannya.

c. Melaksanakan sosialisasi prgoram anti korupsi di SMA/SMK se-Kabupaten

Rejang Lebong, dan STAIN Curup sehingga mampu meningkatkan

pemahaman dan kepedulian terhadap pemberantasan korupsi, sehingga

mampu menjauhkan diri dari perilaku-perilaku korupsi.

d. Melaksanakan sosialisasi Fraud Control Plan (FCP) pada PDAM Tirta Dharma

Kota Bengkulu dan RSUD Kota Bengkulu sebagai komitmen dalam

upaya-upaya pencegahan TPK.

e. Kepala Polda Bengkulu dan Kepala Polres di wilayah Provinsi Bengkulu,

memproses penyimpangan yang terjadi sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku, dengan uraian sebagai berikut:

Kecamatan Curup Tengah Kabupaten Rejang Lebong TA. 2014.

2) Penyimpangan penggunaan penyertaan modal di Kabupaten Rejang

lebong.

3) Penyimpangan penyaluran raskin di Desa Simpang Beliti Kec. Binduriang

Kabupaten Rejang Lebong.

f. Kepala Dinas PU Kabupaten Kaur melakukan upaya penyelesaian hambatan

jaringan distribusi PLN dengan mengupayakan PT. Arkindo untuk melakukan

pembayaran biaya atas pemasangan tiang listrik sebesar Rp93.148.500,00

sehingga Satker Lisdes Bengkulu dapat melaksanakan pengadaan tiang listrik

pengganti dan pemasangan kembali melalui pelakana pekerjaan yaitu PT.

Shanty Abadi Mandiri.

Sasaran Program 2

Meningkatnya Kualitas Penerapan SPIP Pemerintah Daerah/Korporasi

Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem

Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), BPKP melakukan pengawasan intern atas

akuntabilitas keuangan negara dan pembinaan penyelenggaraan SPIP dalam rangka

mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih. Sejak pergantian

pemerintahan pada tahun 2014, lembaga BPKP menjadi bagian dari Kantor

Kepresidenan, dan perannya dipertajam lagi dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor

192 Tahun 2014 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, dan Instruksi

Presiden Nomor 9 Tahun 2014 tentang Peningkatan Kualitas Sistem Pengendalian Intern

dan Keandalan Penyelenggaraan Fungsi Pengawasan Intern dalam rangka Mewujudkan

Kesejahteraan Rakyat. Pengawasan intern tidak lagi hanya bertujuan untuk meningkatkan

akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, namun lebih luas lagi yaitu mewujudkan

kesejahteraan rakyat.

Sasaran strategis yang kedua dari Renstra Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu tahun

2015-2019 adalah “Meningkatnya Maturitas Sistem Pengendalian Intern pada

Kementerian, Lembaga, Pemerintah Daerah dan Korporasi dan Program Prioritas

Pembangunan Nasional” dengan sasaran program “Meningkatnya kualitas penerapan

SPIP Pemda/Korporasi”.

Pencapaian sasaran program “Meningkatnya kualitas penerapan SPIP Pemda/Korporasi”

diukur dengan IKU “Persentase tindak lanjut rekomendasi perbaikan penyelenggaraan

SPIP K/L” dengan menghitung jumlah perbaikan hasil tindak lanjut dibandingkan

temuan/saran/rencana tindak penyelenggaraan SPIP”

Pencapaian sasaran program ini diukur menggunakan tiga indikator kinerja kegiatan,

yaitu:

1. Maturitas SPIP Pemerintah Kabupaten/Kota (level 3)

Indikator Kinerja Utama (IKU) “Maturitas SPIP Pemerintah Kabupaten/Kota (Level 3)”

mencerminkan kualitas penyelenggaraan SPIP seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota

yang diharapkan berada pada level 3. Maturitas SPIP Pemerintah Kabupaten/Kota

diukur dengan menghitung jumlah K/L/P yang mencapai level 3 SPIP dibandingkan

dengan populasi K/L/P yang menjadi mitra unit kerja yang bersangkutan.

Dari 10 pemerintah kabupaten/kota, telah dilakukan assessment terhadap 6

pemerintah kabupaten/kota dengan hasil semua kabupaten/kota masih berada pada

level 1 dan 2 ini berarti tingkat maturitas SPIP yang masih relatif rendah ditingkat

Pemerintah Kabupaten/Kota.

Realisasi indikator kinerja sasaran program “Maturitas SPIP Pemerintah

Kabupaten/Kota (Level 3)” sampai dengan tahun 2016 adalah sebesar 0% dari target

tahun 2016 sebesar 10%. Ini berarti bahwa untuk tahun 2016 tidak ada Pemerintah

Kabupaten/Kota di Provinsi Bengkulu yang penyelenggaraan SPIP nya mencapai

level 3.

2. Persentase BUMD yang Kinerjanya Minimal Berpredikat Baik dari BUMD yang Dibina

BUMD dibentuk dalam rangka memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi

daerah. BPKP melakukan pengawasan terhadap BUMD dalam rangka meningkatkan

kinerja agar BUMD berperan optimal sebagai salah satu pemicu kesejahteraan

masyarakat di daerah.

Indikator Kinerja Utama (IKU) “Persentase BUMD yang kinerjanya minimal

berpredikat baik dari BUMD yang dibina” diukur dengan menghitung jumlah BUMD

yang kinerjanya mendapatkan skor minimal baik dibandingkan dengan jumlah BUMD

yang dievaluasi kinerja oleh BPKP pada tahun berjalan.

Realisasi IKU “Persentase BUMD yang kinerjanya minimal berpredikat baik dari

BUMD yang dibina” sampai dengan tahun 2016 adalah sebesar 14,29% dari target

sebesar 52%. Realisasi tersebut merupakan BUMD yang kinerjanya minimal

berpredikat baik sebanyak 1 BUMD dari 7 BUMD yang dievaluasi.

3. Persentase BLUD yang Kinerjanya Minimal Baik dari BLUD yang Dibina

BLUD dibentuk dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa

mengutamakan mencari keuntungan, namun tetap memperhatikan efisiensi dan

produktivitas sehingga wajib menerapkan praktik bisnis yang sehat. Undang-Undang

Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, mengamanatkan Rumah Sakit yang

didirikan Pemerintah dan Pemerintah Daerah harus berbentuk Unit Pelaksana Teknis

dari Instansi yang bertugas di bidang kesehatan, dengan pengelolaan berbentuk

Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan. Untuk itu, BPKP melakukan pengawasan terhadap BLUD

dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja BLUD.

Indikator Kinerja Utama (IKU) “Persentase BLUD yang kinerjanya minimal baik dari

BLUD yang dibina” diukur dengan menghitung jumlah BLUD yang kinerjanya

mendapatkan skor minimal baik dibandingkan dengan jumlah BLUD yang dievaluasi

kinerja oleh BPKP pada tahun berjalan.

Realisasi IKU “Persentase BLUD yang kinerjanya minimal baik dari BLUD yang

dibina” sampai dengan tahun 2016 adalah sebesar 25% dibandingkan dengan target

sebesar 14%. Realisasi tersebut merupakan BLUD yang kinerjanya minimal

berpredikat baik sebanyak 1 BLUD dari 4 BLUD yang dibina.

Dari hasil uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dari 3 IKU yang mendukung sasaran

program “Meningkatnya Kualitas Penerapan SPIP Pemda/Korporasi”, satu IKU telah

mencapai target yaitu indikator kinerja “Persentase BLUD yang kinerjanya minimal

berpredikat baik dari BLUD yang dibina”, dan dua IKU yang tidak mencapai target yaitu

“Persentase BUMD yang kinerjanya minimal berpredikat baik dari BUMD yang dibina” dan

“Maturitas SPIP Pemerintah Kabupaten/Kota (level 3)”. Hal tersebut disebabkan:

1) Pegawai BPKP yang melakukan pembinaan SPIP masih banyak yang belum pernah

mengikuti Diklat Implementasi SPIP;

2) Jumlah pegawai Pemerintah Daerah di wilayah Provinsi Bengkulu masih banyak

yang blum pernah mengikuti sosialisasi dan diklat terkait SPIP;

3) Kurannya komitmen Pimpinan/Kepala Daerah dalam penyelenggaraan SPIP di

wilayah Provinsi Bengkulu;

4) Satuan tugas penyelenggaraan SPIP Pemerintah Daerah kurang berfungsi karena

terbatasnya dukungan dana.

Untuk mendukung proses kegiatan peningkatan Kualitas Penerapan SPI Pemerintah

Daerah/Korporasi tersebut, Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu menghasilkan output

berupa rekomendasi sebanyak 34 rekomendasi dan telah ditindaklanjuti atau 100% dari

target 34 rekomendasi dalam rangka peningkatan SPIP.

Pencapaian sasaran strategis ini didukung dengan dana sebesar Rp845.924.350,00 atau

89,25% dari anggaran sebesar Rp947.817.000,00, dan SDM sebanyak 1.541 OH atau

107,01% dari rencana sebanyak 1.440 OH.

Kegiatan yang telah dilakukan dalam mencapai sasaran program meningkatnya kualitas

penerapan SPIP Pemda/Korporasi, adalah sebagai berikut:

1. Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu telah melakukan kegiatan asistensi SIMDA pada

Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota Bengkulu dan implementasi SIMDA

Desa pada desa se-Kabupaten di wilayah Provinsi Bengkulu, dalam rangka

mendukung perbaikan penyelenggaran SPIP. Sehingga langkah-langkah perbaikan

yang dapat dilaksanakan, adalah:

a) Melakukan rekonsiliasi data aset, realisasi anggaran, saldo kas di bendahara

pengeluaran dan bendahara umum daerah secara berkala pada tahun anggaran

berjalan;

b) Melaksanakan pendampingan dan monitoring yang efektif agar dapat menerapkan

SIMDA Pendapatan secara komprehensif;

c) Melakukan rekonsiliasi antara SIMDA Pendapatan dan SIMDA Keuangan baik fisik

maupun program;

d) Melakukan koordinasi dengan Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu untuk serah

terima aplikasi Siskeudes, dan monitoring implementasi Siskeudes di wilayah

Kabupaten.

2. Dalam rangka peningkatan pencapaian level maturitas SPIP, langkah-langkah

strategis yang dilaksanakan, adalah:

a) Melakukan sosialisasi atau diseminasi kebijakan dan prosedur kepada seluruh

pegawai;

b) Mengkomunikasikan aturan perilaku kepada seluruh pegawai dalam

masing-masing unit kerja, standar kompetensi jabatan dan uraian tugas, dan

promosi/mutasi pejabat struktural serta pegawai berdasarkan kompetensi

jabatan/pegawai;

c) Menyusun pedoman penilaian risiko (identifikasi risiko) termasuk pengaturan

penilaian risiko pada saat penyusunan perencanaan dan pencapaian tujuan

organisasi;

d) Melakukan pemantauan/evaluasi penerapan aturan perilaku (kode etik) secara

berkala dan terdokumentasi.

3. Dalam pelaksanaan bimbingan teknis GCG PDAM/BUMD, diambil langkah-langkah

strategis, seperti:

a) Menandatangani pernyataan pakta integritas dan menyusun pedoman aturan

perilaku (code of conduct) bagi pegawai di lingkungan PDAM Tirta Ratu Samban

Kabupaten Bengkulu Utara;

b) Menyusun SOP sebagai pedoman dan acuan dalam menjalankan operasional

PDAM Tirta Teabo Emas Kabupaten Lebong yaitu SOP bagian keuangan, SOP

bagian produksi, SOP bagian perencanan, SOP bagian transmisi distribusi dan

kebijakan lainnya yaitu kebijakan pengendalian dokumen dan kebijakan SPI.

4. Atas pelaksanaan verifikasi hibah air pada PDAM Tirta Raflesia Kabupaten Bengkulu

Tengah memberikan rekomendasi sebanyak 363 sambungan rumah yang layak

untuk dibayar oleh Kementerian Keuangan, memberikan teguran tertulis kepada tim

PPHP dan kepada kontraktor untuk mengganti katup searah dan plug kran yang

berbahan dasar kuningan.

5. Pelaksanaan asistensi/bimbingan teknis implementasi SIA (Sistem Informasi

Akuntansi) BLUD, Direktur RSUD menunjuk petugas administrator dan operator SIA

BLUD melalui SK Direktur RSJ Soeprapto Provinsi Bengkulu, meningkatkan

kemampuan pegawai yang terkait dengan penyusunan RBA dengan mengikuti

pelatihan penyusunan RBA, melakukan pencatatan hutang secara tertib, sehingga

saldo hutang dicatat secara up to date.

Sasaran Program 3

Meningkatnya Kapabilitas Pengawasan Intern Pemerintah Daerah

Arah kebijakan dan strategi pengawasan BPKP menjadi salah satu pendukung

terwujudnya sasaran pembangunan nasional, yaitu terwujudnya penguatan sistem

pengawasan intern pemerintah melalui:

a. Peningkatan kapabilitas pengawasan intern melalui peningkatan Internal Auditor

Capability Model (IACM) APIP yang mampu mendorong pemantapan penerapan

sistem pengendalian intern kementerian, lembaga, pemerintah daerah dan korporasi

(K/L/P/K) dan mampu bersinergi dengan APIP lain dalam membangun tata kelola yang

Dokumen terkait