BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
A. Analisis Capaian Kinerja
Dalam mencapai visi dan misinya, BPPI melaksanakan program/kegiatan yang mengacu pada Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Perindustrian tahun 2015-2019 yang setiap awal Tahun Anggaran ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja BPPI tahun 20154. Pada TA. 2015 Tapkin BPPI meliputi 7 (tujuh) Sasaran Strategis untuk melaksanakan kinerjanya yaitu :
1. Sasaran Strategis I: Meningkatnya Investasi Sektor Industri; 2. Sasaran Strategis II: Meningkatnya Penerapan Standar;
3. Sasaran Strategis III: Meningkatnya Penguasaan Teknologi Industri dan Penerapan HKI; 4. Sasaran Strategis IV: Meningkatnya Industri yang Menerapkan Prinsip-Prinsip Industri Hijau; 5. Sasaran Strategis V: Meningkatnya Kemampuan Balai dan Hasil Litbang dalam Rangka
Meningkatkan Daya Saing Industri ;
6. Sasaran Strategis VI: Meningkatnya Layanan Jasa Teknis kepada Industri;
7. Sasaran Strategis VII : Meningkatnya Fasilitasi Kelembagaan Teknologi, Industri Hijau, Sarana dan Prasarana dan SDM BPKIMI;
Dari Sasaran strategis tersebut diatas pada TA. 2015 BPKIMI telah menetapkan Sasaran strategis untuk Program Pengembangan Teknologi dan Kebijakan Industri ada beberapa sasaran strategis dalam Renstra yang tidak tercantum pada Perjanjian Kinerja TA. 2015. Program/eselon I, namun Sasasaran Strategis tersebut terdapat dalam Tapkin TA. 2015 kegiatan/ Unit eselon II pelaksananya. Hal ini disebabkan adanya pemilihan skala prioritas dari Sasaran Startegis yang akan ditampilkan dalam Tapkin. TA. 2015. Selain itu, karena adanya reorganisasi di tingkat Kementerian Perindustrian dan BPPI belum sempat melakukan review Renstra BPPI pada TA. 2015.
Adapun, hasil capaian kinerja yang telah dilaksanakan dari masing-masing sasaran strategis tersebut adalah sebagai berikut :
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja
1. Sasaran Strategis I : Meningkatnya investasi sektor industri
Pertumbuhan industri pionir dan industri prioritas dihitung dari peningkatan jumlah investasi industri yang mengajukan permohonan fasilitas fiskal (tax holiday & tax allowance). Angka perhitungan diambil dari total nilai investasi industri yang mengajukan permohonan fasilitas fiskal (TH&TA) pada tahun 2015 dibagi dengan total investasi tahun 2014 (berdasarkan data BKPM), dan dijadikan Persen. Nilai investasi tahun 2014 sebesar 15 Triliyun.
Hingga bulan Desember 2015, total nilai investasi industri yang telah mendapatkan Tax Allowance sebesar Rp. 1,2 Trilyun. Nilai investasi tersebut dihitung dari investasi 16 Perusahaan yang telah memanfaatkan fasilitas fiskal. Dengan demikian terjadi kenaikan investasi sebesar 8% jika dibandingkan dengan tahun 2014.
Nilai investasi pada indikator ini hanya bisa dihitung dari investasi industri yang memanfaatkan fasilitas Tax Allowance, sedangkan nilai investasi untuk industri yang mengajukan Tax holidays belum bisa dihitung karena masih dalam proses pembahasan di Kementerian Keuangan sebagai instansi pengambil keputusan.
Diharapkan pada tahun mendatang, nilai investasi dapat lebih ditingkatkan dengan penambahan jumlah industri yang memanfaatkan fasilitas fiskal berupa Tax Holiday dan Tax Allowance.
Secara keseluruhan, capaian/realisasi dari indikator ini telah melebihi target yang telah ditetapkan. Realisasi tersebut dicapai melalui pelaksanaan kegiatan antara lain adalah:
- Menyusun rekomendasi untuk usulan fasilitas fiskal (Tax Allowance dan Tax Holiday); - Pengeluaran surat rekomendasi terkait fasilitas fiskal;
- Mengajukan permohonan pemanfaatan fasilitas fiskal kepada Kementerian Keuangan; - Rekapitulasi data industri pioneer dan industri prioritas yang mengajukan fasilitas fiskal; - Kalkulasi nilai investasi industri pionir dan industri prioritas yang mengajukan fasilitas fiskal
hingga Desember 2015.
2. Sasaran Strategis II : Meningkatnya penerapan standar
Indikator Kinerja I.1 Target Realisasi % Capaian
Pertumbuhan industri pionir dan industri prioritas
5,2 % 8,00 % 153,85%
Indikator Kinerja II.1 Target Realisasi % Capaian
Penurunan Impor Produk Industri yang SNI, ST dan/atau PTC Diberlakukan Secara Wajib
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja Indikator Kinerja dari Sasaran Strategis II adalah Rasio Penurunan Impor Produk Industri yang SNI, ST dan/atau PTC diberlakukan secara wajib terhadap tahun sebelumnya. Perhitungan indikator ini adalah dengan membandingkan nilai impor tahun 2015 untuk komoditi produk industri yang SNI, ST dan/atau PTC telah diberlakukan secara wajib dengan nilai import pada tahun sebelumnya pada periode yang sama tahun 2014.
Nilai impor periode Okt 2014 sebesar 4.743.178.461 US$ sedangkan pada periode Jan-Okt 2015 sebesar 4.260.171.932 US$. Dengan demikian terjadi penurunan nilai impor sebesar 10,18%. Nilai impor dihitung dari impor komoditi 99 SNI wajib (tidak termasuk biskuit, kompor 2 dan 3 tungku) dengan 227 nomor HS.
Realisasi indikator ini sebesar 10,18% telah melebihi sasaran yaitu sebesar 5%. Adapun kegiatan yang telah dilakukan untuk mendukung capaian indikator tersebut antara lain adalah: - Penyusunan Program Nasional Regulasi Teknis (PNRT) 2015-2016;
- Penyusunan Program Nasional Perumusan Standar (PNPS) 2015;
- Penyusunan Peraturan Menteri tentang Penunjukan LPK dalam rangka pemberlakuan SNI wajib;
- Pengawasan peberlakuan SNI;
- Rekapitulasi nilai impor produk ber-SNI Wajib dengan menggunakan data sekunder dari Pusdatin dan BPS;
- Kalkulasi rasio penurunan impor produk ber-SNI Wajib dengan menggunakan data sekunder.
Hasil dari kegiatan Standadisasi Industri selama TA. 2015 adalah telah dikonsensuskan sebanyak 116 RSNI pada tahun 2015, telah ditunjuk LPK untuk 102 SNI Wajib yang terdiri dari 38 LSPro dan 124 Lab. Uji (74 Lab dalam negeri dan 50 Lab Luar Negeri), dan telah disusun 7 (tujuh) Skema Sertifikasi Mutu Produk yaitu : mainan anak, kloset duduk, minyak goreng sawit, semen, tepung terigu, blok kaca, kompor LPG2 dan 3 tungku.
Bila dibandingkan regulasi teknis anatara Indonesia dan ASEAN dapat tergambar pada tabel dibawah ini :
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja Tabel 3.6
Cakupan Standar/Produk Terkait Harmonisasi Standar dan Regulasi Teknis di ASEAN dan Indonesia
No Sektor Regulasi Teknis di
Indonesia
Regulasi Teknis di ASEAN
1 Peralatan listrik dan elektronika
15 standar 133 standar IEC
2 Produk karet 3 standar 46 standar ISO
3 Pangan olahan 9 standar HS Code 16-22
4 Komponen otomotif 11 standar 19 regulasi UNECE
5 Produk kayu - 34 standar ISO
6 Bahan bangunan 23 standar Structural steel and steel bar 5 HS Codes on Glass Portland cement
Data Impor Produk yang Termasuk Dalam Cakupan Regulasi Teknis Pemberlakuan SNI, ST dan/atau PTC secara wajib di tingkat ASEAN, adalah sebagai berikut :
Tabel 3.7 Data Impor Produk
Tahun 2012 2013 2014 2015
(per November) Jumlah (US$) 1.267.842.966 1.157.011.528 931.249.299 678.328.263
Penurunan (%) 8,74 19,51 27,16
Dari tabel diatas dapat kita lihat, masih kurangnya regulasi teknis yang diberlakukan di Indonesia dibandingkan dengan negara ASEAN.
Sedangkan bila melihat dari penurunan nilai impor produk SNI Wajib dari 99 SNI wajib
(tidak termasuk biskuit, kompor 2 dan 3 tungku dan blok kaca) dan 227 nomor HS, adalah :
Tabel 3.8
Penurunan nilai impor produk SNI Wajib
Tahun 2010 2011 2012 2013 2014
Jumlah (US$) 4.557.357.624 6.834.674.953 7.589.614.656 6.665.342.575 5.755.186.300
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja
Gambar 3.3 Penurunan nilai impor produk SNI Wajib
3. Sasaran Strategis III : Meningkatnya penguasaan teknologi industri dan Penerapan HKI a. Pertumbuhan pengembangan teknologi industri
Pengembangan teknologi industri dilihat dari pelaksanaan litbang dan aplikasi hasil litbang berdasarkan program prioritas dan intermediasi hasil litbang. Pertumbuhan dihitung dari peningkatan jumlah litbang yang siap diterapkan yang dilaksanakan pada tahun 2015 dibandingkan tahun 2014. Jumlah hasil litbang yang siap diterapkan dilakukan oleh Balai Besar/Baristand Industri pada TA. 2015 adalah 62(enam puluh dua) litbang, diharapkan pada TA. 2015 dapat naik 10 % menjadi 68(enam puluh delapan) hasil litbang. Namun, pada TA. 2015 pengembangan teknologi industri tidak mengalami pertumbuhan karena realisasinya 62 (enam puluh dua) hasil libang sama dengan TA. 2014.
Yang dapat terealisasi pada TA. 2015 adalah 62(enam puluh dua) hasil litbang, sehingga realisasinya tidak mencapai target yang diharapkan.
1 2 3 4 5 Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 Jumlah (US$) 4.557.357.624 6.834.674.953 7.589.614.656 6.665.342.575 5.755.186.300 2010 2011 2012 2013 2014 4.557.357.624 6.834.674.953 7.589.614.656 6.665.342.575 5.755.186.300 Tahun Jumlah (US$)
Indikator Kinerja III.1 Target Realisasi % Capaian
Pertumbuhan pengembangan teknologi industri
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja
Gambar 3.4
Jumlah pengembangan teknologi industri Tahun 2013 – 2015 Tabel 3.9
Pertumbuhan Pengembangan Teknologi Industri
2013 2014 2015 T R % T R % T R % Realisasi Pengembangan Teknologi Industri 87 96 110,34 30 62 206,67 68 62 91,18% Pertumbuhan Pengembangan Teknologi Industri -35,42% 0,00%
Untuk TA.2014, jumlah hasil litbang yang siap diterapkan menurun dibandingkan TA. 2013 dan pada TA. 2015 realisasinya sama dengan TA. 2014. TA. 2015 tidak ada pertumbuhan pengembangan teknologi industri karena adanya penurunan volume pengembangan litbang yang disebabkan berkurangnya alokasi anggaran dan meningkatnya kriteria kualitas litbang. Bila melihat hasil litbang yang dilaksanakan selama 5(lima) tahun terakhir dapat tergambar pada tabel dibawah ini :
2013 2014 2015 Target 87 30 68 Realisasi 96 62 62 0 20 40 60 80 100 120 Target Realisasi
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja
3.5 Gambar
Hasil litbang 2011-2015
Pada TA. 2015, hasil litbang yang termasuk pengembangan teknologi merupakan hasil litbang yang siap diterapkan, bukan total hasil litbang yang dilaksanakan selama TA. 2015. Untuk hasil litbang yang siap diterapkan memiliki kriteria tertentu yang berbeda dengan hasil libang yang dilaksanakan tiap tahun, yaitu :
- Hasil litbang kurun waktu 5 tahun terakhir (2010 sd 2014) telah dilakukan pilot project; - Telah dihitung tekno meternya;
- Telah memiliki mitra usaha/industri untuk dalam mengembang litbang tersebut.
Hal ini menyebabkan pengembangan hasil litbang untuk sampai pada tahap “siap diterapkan” cenderung terhambat dan tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan dikarenakan perlu pengembangan lanjutan dari hasil litbang yang membutuhkan Sumber Daya (anggaran, SDM, dan infrastruktur) yang lebih besar.
Sasaran program meningkatnya penguasaan teknologi industri merupakan upaya pengembangan kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi industri tidak lepas dari upaya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan dukungan sarana prasarana litbang. Tatangan yang dihadapi dalam mengembangkan tingginya kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi industri adalah:
- Keterbatasan sumber daya litbang (SDM, sarana, dan prasarana litbang);
- Masih kurangnya pelatihan di bidang teknologi yang sesuai dengan kebutuhan peningkatkan kompetensi SDM Peneliti di Balai;
- Masih terbatasnya dukungan peralatan laboratorium dari segi kapasitas, sedangkan usia peralatan yang ada rata-rata relatif sudah tua;
- Masih terbatasnya pemanfaatan hasil litbang di lingkungan masyarakat industri, bila dibandingkan jumlah litbang yang potensial untuk diterapkan.
2011 2012 2013 2014 2015 Target 168 194 250 256 200 Realisasi 186 200 182 161 200 Capaian 110,71% 103,09% 72,80% 62,89% 100,00% 0 50 100 150 200 250 300
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja - Mayoritas pelaku industri masih sangat tergantung dengan teknologi dari luar negeri; - Terbatasnya akses terhadap sumber-sumber informasi, teknologi, dan pelayanan litbang
teknologi;
- Kerja sama atau kolaborasi litbang antar lembaga litbang pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Industri relatif masih rendah jika dibandingkan Negara lain;
- Masih terdapat peneliti/perekayasa maupun pelaku industri yang belum memahami pentingnya HKI dan cara mendaftarkan HKI.
Langkah-langkah yang telah dilakukan, antara lain :
- Mempertajam fokus litbang lindustri yang berorientasipada pemetaan kebutuhan usaha; - Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas litbang industri dengan memperkuat SDM,
kelembagaan intermediasi, dan sarana litbang;
- Meningkatkan networking (jejaring) dengan lembaga/institusi dalam dan luar negeri serta pelaku industri;
- Memperkuat kompetensi inti Balai dan memperkuat pemasaran bersama Balai; - Meningkatkan komersialisasi hasil litbang teknologi.
b. Pertumbuhan penerapan inovasi teknologi industri
Penerapan inovasi teknologi industri dilihat dari teknologi hasil litbang yang diterapkan di industri khususnya pada IKM. Pertumbuhan dihitung dengan membandingkan jumlah litbang yang diimplementasikan pada TA. 2015 dibandingkan TA. 2014. Pada TA. 2014 sebanyak 45 (empat puluh lima) hasil litbang yang telah diterapkan di industri, untuk mencapai pertumbuhan 10%, maka ditargetkan pada TA. 2015 terdapat 49(empat puluh sembilan) hasil litbang yang diterapkan pada industri.
Tabel 3.10
Teknologi Hasil Litbang Yang Diterapkan Di Industri
Indikator Kinerja III.2 Target Realisasi % Capaian
Pertumbuhan penerapan inovasi teknologi industri 10 -22,22 0,00% 2011 2012 2013 2014 2015 Target 50 32 45 10 49 Realisasi 25 33 42 45 35 Capaian 50,00% 103,13% 93,33% 450,00% 71,43%
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja
Gambar 3.6 realisasi Teknologi Hasil Litbang Yang Diterapkan Di Industri
Pada tahun 2015 sebanyak 35 (tiga puluh lima) teknologi hasil litbang yang telah diimplementasikan pada industri. Pertumbuhan dari Penerapan inovasi teknologi industri pada TA. 2015 tidak mecapai target dari target 48 (empat puluh delapan) hasil litbang atau naik 10,00% dari TA. 2014, tidak terealisasi karena menurun menjadi 35 (tiga puluh lima) hasil libang atau -22,22%.
Tabel 3.11
Pertumbuhan penerapan inovasi teknologi industri
2013 2014 2015
T R T R T R
Penerapan inovasi
teknologi industri 45 42 10 45 49 35 Pertumbuhan 27,27% 7,14% -22,22%
Bila dibanding TA. 2013-2015 realisasi TA. 2015 mengalami penurunan. Penurunan tersebut disebabkan, adanya penambahan kriteria untuk meningkatkan kualitas hasil litbang, yaitu :
- Hasil litbang dalam kurun waktu 5 tahun (2010 sd 2014)yang telah diterapkan pada dunia usaha/ industri;
- Sudah ada bukti kerja sama/MoU;
- Hasil litbang itu telah digunakan untuk berproduksi oleh industri tersebut
Tatangan yang dihadapi dalam menumbuhkan penerapan inovasi teknologi industri adalah :
- Keterbatasan anggaran dan sumber daya litbang (SDM, sarana, dan prasarana litbang);
50 32 45 10 49 25 33 42 45 35 0 10 20 30 40 50 60 2011 2012 2013 2014 2015
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja - Masih kurangnya pelatihan di bidang teknologi yang sesuai dengan kebutuhan satker
BPKIMI dalam meningkatkan kompetensi SDM Peneliti di Balai;
- Masih terbatasnya dukungan peralatan laboratorium dari segi kapasitas dan usia peralatan yang rata-rata relatif sudah tua atau rusak. Sementara itu, dalam beberapa kasus terdapat bantuan peralatan baru namun terhambat pada kemampuan operasional teknis atau daya listrik pada satker tertentu;
- Terbatasnya penyediaan anggaran Litbang karena untuk menyelesaikan program/kegiatan prioritas lainnya;
- Masih terbatasnya pemanfaatan hasil litbang di lingkungan masyarakat industri, bila dibandingkan jumlah litbang yang potensial untuk diterapkan. Hal ini antara lain disebabkan oleh banyak pelaku industri yang masih sangat tergantung dengan teknologi dari luar negeri dan masih terbatasnya akses terhadap sumber-sumber informasi, teknologi, dan pelayanan litbang teknologi.
- Minimnya hasil litbang yang dapat dimanfaatkan oleh mayarakat industri karena umumnya masih dalam bentuk prototype atau uji coba, sehingga menyebabkan kontribusi litbang terhadap pembangunan ekonomi masih kurang;
- Kerja sama atau kolaborasi litbang antar lembaga litbang pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Industri relatif masih rendah jika dibandingkan Negara lain;
- Masih terdapat peneliti/perekayasa maupun pelaku industri yang belum memahami pentingnya HKI dan cara mendaftarkan HKI;
Langkah-langkah yang telah dilakukan, antara lain :
- Mempertajam fokus litbang lindustri yang berorientasipada pemetaan kebutuhan usaha;
- Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas litbang industri dengan memperkuat SDM, kelembagaan intermediasi, dan sarana litbang;
- Meningkatkan networking (jejaring) dengan lembaga/institusi dalam dan luar negeri serta pelaku industri;
- Memperkuat kompetensi inti Balai dan memperkuat pemasaran bersama Balai; - Meningkatkan Komersialisasi Hasil Riset Teknologi;
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja
c. Pertumbuhan penerapan HKI di Sektor Industri
Pertumbuhan penerapan HKI di sektor industri dilihat dari jumlah fasilitasi pendaftaran paten hasil litbang teknologi Balai Besar/Baristand tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 2014. Sebanyak 7 (tujuh) pendaftaran paten telah difasilitasi pada tahun 2014. Sedangkan, pada tahun 2015 telah dilakukan fasilitasi pendaftaran 14(empat belas) Paten hasil litbang Balai Besar/Baristand di lingkungan Kemenperin yang siap diterapkan di industri. Terjadi peningkatan jumlah paten yang difasilitasi tahun 2015 sebesar 100%.
Realisasi ini jauh melebihi sasaran yang diharapkan yaitu 10%. Adapun kegiatan yang telah dilakukan untuk mendukung capaian indikator tersebut antara lain adalah : bimbingan penerapan HKI hasil litbang, sosialisasi Fasilitasi software paten,konsultansi proses pengajuan paten, pengajuan paten ke Kemenkumham.
Tabel 3.12
Pertumbuhan penerapan HKI di Sektor Industri 2013-2015
2013 2014 2015
T R T R T R
Penerapan HKI di
Sektor Industri 5 5 5 7 8 14
Pertumbuhan 0,00% 40,00% 100,00%
Untuk tahun 2015, ditargetkan 8(delapan) paten yang dapat difasilitasi yang dilakukan melalui paten mapping Industri Prioritas, koordinasi di Bidang HKI, dan Deseminasi Hasil Litbang Berbasis HKI. Telah didaftarkan 15 (lima belas) Paten Hasil Litbang dan 10 (sepuluh) diantaranya saat ini sedang dalam proses percepatan publikasi .
Tabel 3.13
Judul Litbang yang difasilitasi Paten TA. 2015
No Satker/Unit Judul Invensi Inventor Jenis Insentif Data Paten
1. Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang
Metode Pengukuran Kadar Karet Kering Dengan Alat Pres
Nasruddin Paten Pendaftaran Paten dan Percepatan
Publikasi
P00201504140 6 Juli 2015
2. Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang
Tinta Stempel Berbahan Dasar Ekstrak Gambir (Uncaria Gambier Rixb) dan Proses Pembuatannya
a. Silfia b. Failisnur c. Hendri Muchtar
Paten Pendaftaran Paten dan Percepatan
Publikasi
P00201504141 6 Juli 2015
3. Balai Besar Pulp & Kertas
Pembuatan Chipboard Dari bahan Baku Sludge industri
a. Ir. Henggar Hardiani, M.Si
Paten Pendaftaran Paten dan Percepatan
P00201504138 6 Juli 2015
Indikator Kinerja III.3 Target Realisasi % Capaian
Pertumbuhan penerapan HKI di Sektor Industri
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja
No Satker/Unit Judul Invensi Inventor Jenis Insentif Data Paten
c. Teddy Kardiansyah, S.Si
d. Rina Masriani, S.Si., M.Si.
e. Sonny Kurnia Wirawan, S.Si 4. Balai Besar
Kerajinan dan Batik
Komposisi Lilin Batik Untuk Produk Batik Warna Alami dan Proses Pembuatannya
a. Farida
b. Evi Yuliati Rufaida c. Agus Haerudin d. Vivin Atika e. Yohanes Ruwanto f. Djoko Aryudar Romadhona g. Dalmisih
Paten Pendaftaran Paten dan Percepatan
Publikasi
P00201505382 2 September
2015
5. Balai Riset dan Standardisasi Industri Medan
Rancang Bangun Mesin Pengering Sistem Hibrida Termal Surya (Solar Thermal) dan Pompa Kalor (Heat Pump) Untuk Pengeringan Biji Kakao Indonesia
a. Ir. Maruhal Situmorang, MM b. Dr. Ir. Sari Farah
Dina, MT c. Dr. Eng. Himsar
Ambarita, ST., MT d. Ir. Pander Sitindaon e. Siti Masriani
Rambe, ST., MT f. Jimmy Gibson
Simanjuntak, ST g. Alhamra
Paten Pendaftaran Paten dan Percepatan
Publikasi
P00201505380 2 September
2015
6. Balai Riset dan Standardisasi Industri Banjarbaru
Papan Partikel Tanpa Perekat Dari Limbah Tanda Kosong Kelapa Sawit dan Proses Pembuatannya
Budi Tri Cahyana, ST Paten Pendaftaran Paten dan Percepatan
Publikasi
P00201505383 2 September
2015
7. Balai Riset dan Standardisasi Industri Banjarbaru
Produk Papan Bermotif (Com-ply) untuk Interior dan Proses Pembuatannya
Ir. Suroto Paten Pendaftaran Paten dan Percepatan
Publikasi
P00201505381 2 September
2015 8. Balai Riset dan
Standardisasi Industri Banjarbaru
Pengolahan Biodiesel Dari Minyak Jelantah dan Proses Pembuatannya
Evy Setiawati, S.Si Paten Pendaftaran Paten dan Percepatan
Publikasi
P00201507087 2 November 2015
9. Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang
Nanoenkapsulat Katekin dari Gambir (Uncaria gambir Roxb) dan Proses Pembuatannya a. Gustri Yeni b. Khaswar Syamsu c. Ono Suparno d. Etik Mardliyati Paten Percepatan Publikasi P00201507088 2 November 2015
10. Balai Besar Kimia
dan Kemasan Alat dan Metode Untuk Pembuatan Bahan Bakar Cair Dari Limbah Plastik
a. Rahyani Ermawati b. Siti Naimah c. Mangala Tua Marpaung d. Irma Rumondang e. Silvie Ardhanie Aviandharie f. Bumiarto Nugrohojati g. Novi Nur Aidha
Pendaftaran Paten dan Percepatan
Publikasi
P00201507089 2 November 2015
11. Balai Riset dan Standardisasi Industri Manado
Bahan Pengenyal Mie Basah Berbasis Abu Pembakaran Sabut Kelapa dan Proses Pembuatannya
Fahri Ferdinand Polli, M.Si
Paten Pendaftaran Paten P00201508167 4 Desember 2015
12. Balai Besar Industri
Hasil Perkebunan Sistem Getar Pada Meja Getar Untuk Pencetakan Permen Coklat
a. Muh. Ruslan Yunus b. Imran Thamrin c. Kalsum Lahman d. Rahmad Wahyudi
Paten Pendaftaran Paten P00201508170 4 Desember 2015
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja
No Satker/Unit Judul Invensi Inventor Jenis Insentif Data Paten
13. Balai Besar Industri
Hasil Perkebunan Pengaduk dan Kontrol Suhu Pemanasan Alat Ko Kristalisasi Pembuatan Minuman Serbuk
a. Muh. Ruslan Yunus b. Justus E. Loppies c. Imran Thamrin d. Rahmad Wahyudi
Paten Pendaftaran Paten P00201508171 4 Desember 2015
14. Balai Besar Kulit,
Karet dan Plastik Alat uji Suhu Pengkerutan Kulit Tersamak Sistem Digital
a. R. Jaka Susila b. Tri Rahayu Setyo
Utami c. Wahyu Pradana Arsitika d. Syaiful Harjanto Paten Sederhana Pendaftaran Paten P00201508173 4 Desember 2015
Adapun capaian selama 2011-2015 adalah sebagai berikut : Tabel 3.14
Perbandingan Jumlah Pendaftaran Perlindungan HKI Tahun 2010-2014
Memperhatikan data diatas, terlihat bahwa realisasi telah melampaui target, namun masih terdapat kendala dalam kegiatan fasilitasi tersebut, diantaranya :
1) masih terbatasnya pengetahuan dan informasi mengenai pentingnya perlindungan produk HKI di Balai Besar dan Baristand Industri,
2) minimnya pengetahuan inventor terhadap penulisan deskripsi aplikasi paten.
3) kewenangan penetapan paten ada di instansi lain yaitu Kemenhunkam dan proses penetapan paten butuh waktu panjang;
4) beberapa usulan paten tidak memenuhi kualifikasi yang ditetapkan
Untuk mengatasi kendala tersebut salah satu upaya yang dilakukan adalah menyelenggarakan Pelatihan Patent Drafting sehingga dapat meningkatkan pengetahuan para peneliti mengenai penulisan deskripsi paten.
d. Jumlah Balai yang difasilitasi untuk mendukung Science Park
Indikator Kinerja Realisasi
TA. 2011 Realisasi TA. 2012 Realisasi TA. 2013 Realisasi TA. 2014 Realisasi TA. 2015
Jumlah Pendaftaran Perlindungan HKI 5 5 5 7 14
Indikator Kinerja III.4 Target Realisasi % Capaian
Jumlah Balai yang difasilitasi untuk mendukung Science Park
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja Sebanyak 3 (tiga) balai telah difasilitasi untuk mendukung kegiatan Science Park, yaitu Balai Besar Industri Agro (BBIA), Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) dan Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T).
Dalam rangka mendukung pembentukan Science dan Techno Park (STP), Balai industri telah melakukan beberapa program terkait, yaitu :
- Pelatihan pengolahan pangan bagi pelaku usaha (IKM)
- Litbang yang terkait Alsintan dalam rangka mendukung ketahanan pangan - Litbang terkait energi alternatif
Selain itu juga telah dilakukan beberapa workshop dan FGD untuk pembentukan Sistem Technopreneurship dalam rangka menunjang Fasilitasi Science Park.
Adapun kegiatan yang telah dilakukan untuk mendukung capaian indikator tersebut antara lain adalah:
- Mengikuti rapat-rapat inter Kementerian terkait STP - Workshop pembentukan STP
- Forum Group Discussion terkait STP - Monev kegiatan fasilitasi STP
4. Sasaran Strategis IV: Meningkatnya industri yang menerapkan prinsip-prinsip industri hijau
a. Pertumbuhan industri yang menerapkan konservasi energi
Salah satu azas penyelenggaraan perindustrian adalah : efisien, ramah lingkungan dan berkelanjutan dan salah satu tujuan perindustrian adalah mewujudkan industri yang maju, berdaya saing dan mandiri serta industri hijau (Pasal 3 UU No. 3 tahun 2014 tentang Perindustrian). Untuk mewujudkan industri hijau antara lain melaksanakan manajemen energi sesuai dengan amanat pada Pasal 34 UU No. 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, disamping itu Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi GRK sebesar 29 % pada tahun 2030 dari kondisi saat ini (Bussines As Usual /BAU) jika dengan usaha sendiri atau 41% jika dengan bantuan lembaga internasional.
Indikator ini merupakan pertumbuhan industri yang menerapkan konservasi energi untuk target pada tahun 2015-2019, pada tahun 2015 terdapat 27 perusahaan industri baru
Indikator Kinerja IV.1 Target Realisasi % Capaian
Pertumbuhan industri yang menerapkan konservasi energi
Laporan Kinerja Tahun 2015 Bab III Akuntabilitas Kinerja yang mengikuti program implementasi konservasi energi bekerjasama dengan Energy Conservation Center Japan (ECCJ). Kegiatan yang dilakukan untuk mendukung upaya konservasi energi di industri antara lain berupa audit energi, bimbingan teknis, pelatihan, dan konsultasi.
Indikator kinerja, karena sebelumnya di tahun 2011-2014 dilakukan penyusunan pedoman konservasi energi di 8 (delapan) sektor industri lahap energi, yaitu pulp kertas, baja, semen, pupuk, keramik, kimia, tekstil serta makanan minuman dan kimia lainnya. Berikut tabel yang dapat menjelaskan tahapan dan target yang akan dicapai untuk indikator Pertumbuhan iindustri yang menerapkan konservasi energi.
Pada tahun 2014, terdapat 110 industri yang sudah menerapkan konservasi energi,