BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
C. Analisis dan Pembahasan Evaluasi Hasil Analisis
3. Opini negatif. Kecil
4. Premanisme. -
5. Pemalakan. -
Sumber: Data Diolah (2018)
C. Analisis dan Pembahasan Evaluasi Hasil Analisis Risiko Operasional berdasarkan Matriks Risiko
Langkah selanjutnya setelah melakukan analisis risiko operasional adalah mengevaluasi hasil analisis risiko operasional berdasarkan matriks risiko yang bertujuan untuk mengidentifikasi risiko-risiko operasional yang masuk dalam zona merah (high risk), zona kuning (medium risk), dan zona hijau
(low risk). Menurut Hery (2016:69), zona merah (high risk) artinya risiko
operasional tidak dapat ditoleransi sehingga harus segera dilakukan tindakan penanganan. Zona kuning (medium risk) artinya penanganan bersifat opsional apakah perusahaan akan melakukan penanganan atau tidak pada risiko operasional yang terjadi. Jika penanganan risiko operasional membutuhkan biaya yang lebih besar dari pada manfaat yang akan diperoleh, maka penanganan risiko operasional pada zona kuning (medium risk) umumnya
tidak dilakukan. Zona hijau (low risk) artinya risiko operasional kecil dan tidak perlu dilakukan penanganan pada risiko operasional yang terjadi.
1. Matriks Risiko Proses (Process Risk)
Matriks risiko proses bertujuan untuk mengidentifikasi risiko-risiko proses yang masuk dalam kategori zona merah (high risk), zona kuning (medium risk), dan zona hijau (low risk). Berdasarkan hasil analisis risiko operasional terkait risiko proses, maka hasil evaluasi risiko proses di Taman Wisata Candi Prambanan dapat dilihat melalui matriks risiko proses berikut:
Gambar 4. Matriks Risiko Proses (Process Risk)
Sumber: Data Diolah (2018)
Berdasarkan gambar 4, matriks risiko proses menunjukkan bahwa risiko proses berada di zona hijau (low risk). Matriks risiko proses dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Zona hijau (low risk)
1) Pada matriks (3,1) yaitu probabilitas terjadi sedang dan dampak sangat kecil terdapat pada penyataan nomor enam. Pernyataan pada matriks (3,1) adalah protes atau tuntutan karena kebijakan penataan pedagang dan pengasong.
Berdasarkan gambar 4, risiko proses hanya terdapat di zona hijau
(low risk) yaitu pada matriks (3,1). Matriks (3,1) menunjukkan bahwa
pernyataan nomor enam risiko proses memiliki probabilitas terjadi sedang dan dampak sangat kecil bagi kegiatan operasional Taman Wisata Candi Prambanan.
2. Matriks Risiko Sumber Daya Manusia (People Risk)
Matriks risiko sumber daya manusia bertujuan untuk mengidentifikasi risiko-risiko sumber daya manusia yang masuk dalam kategori zona merah (high risk), zona kuning (medium risk), dan zona hijau (low risk). Hasil evaluasi risiko sumber daya manusia di Taman Wisata Candi Prambanan tidak dibuat matriks karena teridentifikasi tidak memiliki risiko sumber daya manusia.
3. Matriks Risiko Sistem (System Risk)
Matriks risiko sistem bertujuan untuk mengidentifikasi risiko-risiko sistem yang masuk dalam kategori zona merah (high risk), zona kuning
(medium risk), dan zona hijau (low risk). Berdasarkan hasil analisis risiko
Taman Wisata Candi Prambanan dapat dilihat melalui matriks risiko sistem berikut:
Gambar 5. Matriks Risiko Sistem (System Risk)
Sumber: Data Diolah (2018)
Berdasarkan gambar 5, matriks risiko sistem menunjukkan bahwa risiko sistem berada di zona kuning (medium risk). Matriks risiko sistem dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Zona kuning (medium risk)
1) Pada matriks (4,3) yaitu probabilitas terjadi besar dan dampak sedang terdapat pada pernyataan nomor satu. Pernyataan pada matriks (4,3) adalah kerusakan sistem e-ticketing.
Berdasarkan gambar 5, risiko sistem hanya terdapat di zona kuning
(medium risk) yaitu pada matriks (4,3). Pada zona kuning (medium risk), risiko sistem terdapat pada matriks (4,3) menunjukkan bahwa
pernyataan nomor satu risiko sistem memiliki probabilitas terjadi besar dan berdampak sedang bagi kegiatan operasional Taman Wisata Candi Prambanan.
4. Matriks Risiko Insidental (Event Risk)
Matriks risiko insidental bertujuan untuk mengidentifikasi risiko-risiko insidental yang masuk dalam kategori zona merah (high risk), zona kuning (medium risk), dan zona hijau (low risk). Berdasarkan hasil analisis risiko operasional terkait risiko insidental, maka hasil evaluasi risiko insidental di Taman Wisata Candi Prambanan dapat dilihat melalui matriks risiko insidental berikut:
Gambar 6. Matriks Risiko Insidental (Event Risk)
Sumber: Data Diolah (2018)
Berdasarkan gambar 6, matriks risiko insidental menunjukkan bahwa risiko insidental berada di zona kuning (medium risk). Matriks risiko insidental dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Zona kuning (medium risk)
1) Pada matriks (3,2) yaitu probabilitas terjadi sedang dan dampak kecil terdapat pada pernyataan nomor satu dan empat. Pernyataan
pada matriks (3,2) adalah kunjungan publik ditutup akibat bencana alam dan kebakaran.
2) Pada matriks (4,2) yaitu probabilitas terjadi besar dan dampak kecil terdapat pada pernyataan nomor dua. Pernyataan pada matriks (4,2) adalah tingkat kunjungan wisatawan yang menurun akibat bencana alam.
3) Pada matriks (5,2) yaitu probabilitas terjadi sangat besar dan dampak kecil terdapat pada pernyataan nomor tiga. Pernyataan pada matriks (5,2) adalah penurunan pendapatan akibat bencana alam.
Berdasarkan gambar 6, risiko insidental hanya terdapat di zona kuning (medium risk) yaitu pada matriks (3,2), (4,2), dan (5,2). Matriks (3,2) menunjukkan bahwa pernyataan nomor satu dan empat risiko insidental memiliki probabilitas terjadi sedang dan berdampak kecil bagi kegiatan operasional Taman Wisata Candi Prambanan. Matriks (4,2) menunjukkan bahwa pernyataan nomor dua risiko insidental memiliki probabilitas terjadi besar dan berdampak kecil bagi kegiatan operasional Taman Wisata Candi Prambanan. Matriks (5,2) menunjukkan bahwa pernyataan nomor tiga risiko insidental memiliki probabilitas terjadi sangat besar dan berdampak kecil bagi kegiatan operasional Taman Wisata Candi Prambanan.
5. Matriks Risiko Bisnis (Business Risk)
Matriks risiko bisnis bertujuan untuk mengidentifikasi risiko-risiko bisnis yang masuk dalam kategori zona merah (high risk), zona kuning
(medium risk), dan zona hijau (low risk). Berdasarkan hasil analisis risiko
operasional terkait risiko bisnis, maka hasil evaluasi risiko bisnis di Taman Wisata Candi Prambanan dapat dilihat melalui matriks risiko bisnis berikut:
Gambar 7. Matriks Risiko Bisnis (Business Risk)
Sumber: Data Diolah (2018)
Berdasarkan gambar 7, matriks risiko bisnis menunjukkan bahwa risiko bisnis berada di zona merah (high risk), zona kuning (medium
risk), dan zona hijau (low risk). Matriks risiko bisnis dapat diuraikan
sebagai berikut:
a. Zona merah (high risk)
1) Pada matriks (3,4) yaitu probabilitas terjadi sedang dan dampak besar merupakan risiko bisnis lain yang terjadi di Taman Wisata
Candi Prambanan. Risiko bisnis lain pada matriks (3,4) adalah isu terorisme.
b. Zona kuning (medium risk)
1) Pada matriks (3,2) yaitu probabilitas terjadi sedang dan dampak kecil terdapat pada pernyataan nomor tiga. Pernyataan pada matriks (3,2) adalah opini negatif.
c. Zona hijau (low risk)
1) Pada matriks (2,1) yaitu probabilitas terjadi kecil dan dampak sangat kecil terdapat pada pernyataan nomor satu. Pernyataan pada matriks (2,1) adalah kurang dapat memberdayakan UMKM.
Berdasarkan gambar 7, risiko insidental terdapat di zona merah
(high risk), zona kuning (medium risk), dan zona hijau (low risk).
Pada zona merah (high risk), risiko bisnis lain terdapat pada matriks (3,4). Matriks (3,4) menunjukkan bahwa isu terorisme memiliki probabilitas terjadi sedang dan berdampak besar bagi kegiatan operasional Taman Wisata Candi Prambanan. Pada zona kuning
(medium risk), risiko bisnis terdapat pada matriks (3,2). Matriks (3,2)
menunjukkan bahwa pernyataan nomor tiga risiko bisnis memiliki probabilitas terjadi sedang dan berdampak kecil bagi kegiatan operasional Taman Wisata Candi Prambanan. Pada zona hijau (low
risk), risiko bisnis terdapat pada matriks (2,1). Matriks (2,1)
probabilitas terjadi kecil dan berdampak sangat kecil bagi kegiatan operasional Taman Wisata Candi Prambanan.
D. Analisis dan Pembahasan Strategi Penanganan Risiko Operasional