Kuesioner yang dikirimkan berjumlah 45 kuesioner dengan jumlah kuesioner yang kembali sebanyak 40 kuesioner dan pemilihan sampel dilakukan dengan metode
convenience sampling. Berdasar tabel 11 dan 12 (terlampir), responden dalam penelitian
ini sebagian besar adalah pria yaitu 21 orang (52,5%) dan sisanya perempuan. Mayoritas responden berumur 24 tahun yaitu sebanyak 8 orang (20%) Umur minimal responden adalah 21 tahun dan maksimal adalah 47 tahun dengan rata-rata umur responden adalah 27,325 tahun. Lama kerja responden mayoritas kurang dari 3 tahun sebanyak 19 orang (47,5%). Responden didominasi oleh auditor junior yaitu 28 orang (70%). Responden memiliki pengalaman kerja minimal selama 0 tahun dan paling lama adalah lebih dari 3 tahun. Pengalaman kerja responden mayoritas kurang dari 2 tahun sebanyak 36 orang (90%).
27 Statistik Deskriptif
Komitmen profesional, skeptisme profesional, neuroticism, extraversion,
openness to experience, agreebleness, conscientiousness, locus of control internal, dan
intensi whistleblowing mempunyai nilai mean yang di atas nilai tengah skala teoritis Likert. Artinya rata-rata semua variabel cenderung tinggi dan berada pada tingkat “setuju”. Hasil analisis deskriptif atas variabel moderat neuroticism, openness to
experience, extraversion, agreeableness, conscientiousness, serta internal locus of control menunjukkan nilai tertinggi adalah conscientiousness dan nilai terendah adalah neuroticism. Data ini menunjukkan bahwa auditor yang menjadi responden dalam
penelitian ini cenderung memiliki sifat-sifat yang mendukung dilakukannya
whistleblowing yaitu terorganisir, dapat diandalkan, pekerja keras, disiplin diri, tepat
waktu, cermat, rapi, ambisius, keras hati, disiplin diri, penuh tanggung jawab, kompeten, teratur, tenang, dan berjuang untuk mendapatkan prestasi.
28
Tabel 13 Deskripsi Variabel Penelitian
Variables Min Max Means Standard Deviations
1. Komitmen Profesional 15 30 21,325 3,444 2. Skeptisme Profesional 90 149 111,58 10,986 3. Tipe Kepribadian Neuroticism 9 30 20,350 4,995 Extraversion 26 39 32,825 3,257 Openness to Experience 27 42 34,450 2,908 Agreeableness 20 34 30,250 3,176 Conscientousness 28 43 37,300 4,327
4. Locus of Control Internal 24 48 31,525 2,717 5. Whistleblowing 8 20 14,500 2,698
N = 40
Sumber: Data Primer yang Diolah (Oktober, 2014)
Pengujian Validitas dan Reliabilitas
Pada penelitian ini pengujian validitas dilakukan menggunakan analisis faktor dengan nilai Pearson Correlation (R hitung) > R kritis 0,30, sedangkan reliabilitas diukur dengan menggunakan uji statistik cronbach alpha dengan nilai α > 0,60. Berdasar tabel pengujian validitas dan reliabilitas (terlampir) dapat disimpulkan bahwa semua variabel yaitu komitmen profesional, skeptisme profesional, tipe kepribadian,
locus of control internal, serta intensi whistleblowing dikatakan valid dan reliable.
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Korelasi Rank
Spearman. Uji ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan variabel-variabel
independen terhadap variabel dependen. Hipotesis diuji melalui sebuah pengujian menggunakan nilai korelasi Rank Spearman (tabel 14 terlampir) serta tingkat signifikansi α = 0,05. Jika diperoleh nilai signifikansi < 0,05, maka korelasi antar variabel signifikan. Tabel 15 (terlampir) menyajikan nilai korelasi Rank Spearman (rs) dan tingkat signifikansi untuk masing-masing hipotesis.
29 Pengujian Hipotesis 1
Hasil untuk hipotesis pertama menunjukkan nilai rs sebesar 0,100 dan tingkat signifikansi komitmen profesional terhadap intensi melakukan whistleblowing sebesar 0,270 > α. Artinya ada hubungan positif yang lemah dan tidak signifikan antara komitmen profesional terhadap intensi whistleblowing Auditor. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian sebelumnya yaitu Taylor dan Curtis (2010) dan Elias (2008) yang menemukan hubungan positif dan pengaruh signifikan komitmen profesional dengan intensi whistleblowing. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh penelitian sebelumnya menggunakan sampel yang lebih terfokus pada salah satu tingkatan auditor dalam KAP yaitu auditor senior (Taylor dan Curtis 2010) yang telah memiliki banyak pengalaman bekerja sebagai auditor sehingga mungkin cenderung berkomitmen pada profesinya dan merasa aman apabila melakukan whistleblowing. Begitu pula sampel mahasiswa auditing yang digunakan Elias (2008) yang mungkin dikarenakan mahasiswa belum terjun langsung dalam dunia kerja terutama sebagai auditor.
Namun, hasil penelitian ini sama dengan penelitian Jalil (2012) yang menemukan tidak ada pengaruh antara komitmen profesional terhadap intensi melakukan whistleblowing. Tidak terdukungnya hipotesis mungkin disebabkan ada faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi intensi seseorang melakukan
whistleblowing. Misalnya faktor risiko yang akan diterima oleh whistleblower
(Liyanarachchi dan Newdick 2009) yang salah satunya dapat dikeluarkan dari KAP bekerja sekarang bahkan tidak diterimanya lagi bekerja di KAP atau tempat lainnya, proteksi hukum perundang-undangan (Near dan Miceli 1985) yang kurang sehingga
whistleblower cenderung takut apabila kasus yang diungkapkan ingin dibawa ke ranah
hukum, kemungkinan organisasi yang tidak akan menanggapi, serta pertimbangan keamanan dalam melakukan whistleblowing. Seorang whistleblower umumnya akan berhadapan dengan mereka yang terkait langsung dengan praktek tidak etis dalam organisasi maka pilihan untuk melakukan whistleblowing akan menempatkan seseorang pada posisi tidak aman sehingga individu tidak terdorong untuk melakukan
30 Pengujian Hipotesis 2
Variabel skeptisme profesional berhubungan positif kuat dan signifikan terhadap intensi whistleblowing (rs=0,491) dengan Sig 0,001. Hal ini berarti auditor dengan skeptisme profesional yang tinggi akan terdorong melakukan whistleblowing dikarenakan adanya sifat kritis yang selalu ingin tahu kemudian individu cenderung akan mengevaluasi dan mendeteksi kecurangan yang mungkin terjadi dalam organisasi dan mungkin berhubungan dengan tindakan whistleblowing jika ada wrongdoing dalam organisasi yang harus diungkapkan. Individu dengan skeptisme profesional kemungkinan lebih berani dalam bertindak yang sesuai dengan kebenaran profesinya. Hasil penelitian ini dapat ditegaskan dengan penelitian Carpenter dan Reimers (2013) yang menemukan hubungan signifikan antara penekanan mitra pada skeptisme profesional mempengaruhi penilaian risiko fraud oleh auditor, dan penelitian Brown-Liburd et al (2013) yang menemukan bahwa auditor tanpa skeptisme profesional lebih cenderung menyetujui keinginan klien.
Pengujian Hipotesis 3
Penelitian ini menemukan bahwa neuroticism dan openness to experience berhubungan positif lemah dan tidak signifikan dengan masing-masing rs 0,056 (Sig 0,365) dan 0,245 (Sig 0,064) yang berarti neuroticism dan openness to experience tidak memperkuat hubungan antara komitmen profesional dan skeptisme profesional auditor terhadap intensi melakukan whistleblowing. Variabel lainnya yaitu extraversion,
agreeableness, dan conscientiousness berhubungan positif lemah dan signifikan dalam
memperkuat hubungan antara komitmen profesional dan skeptisme profesional auditor terhadap intensi melakukan whistleblowing dengan nilai rs masing-masing 0,295 (Sig 0,032), 0,266 (Sig 0,048), dan 0,300 (Sig 0,030). Hasil ini bertentangan dengan LePine dan Van Dyn (2001) yang menemukan bahwa neuroticism berhubungan negatif dengan
whistleblowing. Namun sejalan dengan penelitian ini bahwa extraversion, agreeableness dan conscientiousness berpengaruh positif signifikan terhadap whistleblowing, sedang openness to experience tidak berpengaruh terhadap intensi
31
kepribadian dalam bentuk extraversion tinggi dalam interaksi interpersonal yang memprediksi perilaku proaktif dalam bentuk whistleblowing.
Hasil penelitian ini mungkin dapat disebabkan individu yang memiliki
neuroticism rendah cenderung akan lebih gembira, puas, dan aman terhadap hidup
sehingga mereka tidak melakukan whistleblowing karena merasa tidak adanya jalur aman untuk mengungkapkannya. Kemudian auditor dengan extraversion akan cenderung melakukan whistleblowing dikarenakan memiliki motivasi untuk melakukan perubahan dan menyukai tantangan. Mereka mungkin tidak akan hanya diam apabila mengetahui adanya wrongdoing yang terjadi dalam organisasi dan dapat lebih nyaman serta ahli dalam mengkomunikasikan pikiran mereka mengenai wrongdoing tersebut.
Conscientiousness dan agreebleness memperkuat hubungan karena conscientiousness
dapat menjadi kecenderungan untuk menjadi seorang individu aktif dan bertanggung jawab yang mengambil alih tanggung jawab ketika masalah timbul. Whistleblowers adalah individu yang harus aktif dan mampu dalam melanjutkan niat mereka tentang
wrongdoing report yang ada. Agreebleness yang berhubungan positif mungkin
disebabkan facet terus terangnya yang membuat individu agreebleness terdorong berterus terang kepada pihak luar mengenai wrongdoing yang terjadi atau dengan kata lain melakukan whistleblowing.
Pengujian Hipotesis 4
Locus of control internal yang berarti individu mengaitkan hasil dengan tindakan
mereka sendiri ternyata hipotesis yang diuji terdukung secara empiris dalam penelitian ini bahwa semakin tinggi locus of control internal akan semakin memperkuat hubungan antara komitmen profesional dan skeptisme profesional auditor terhadap intensi melakukan whistleblowing karena mempunyai nilai rs sebesar 0,310 dan Sig 0,026. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Jalil (2012) yang menemukan bahwa
locus of control internal tidak memoderasi hubungan komitmen profesional dengan
intensi melakukan whistleblowing pada auditor. Namun hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, Chiu (2003) menyatakan locus of control internal memoderasi hubungan antara penilaian etika dengan niat melakukan whistleblowing. Serta Curtis
32
dan Taylor (2009) yang mengungkapkan bahwa individu dengan locus of control internal lebih cenderung melakukan whistleblowing. Hal ini mungkin disebabkan seorang individu dengan internal locus of control yang tinggi cenderung melakukan
whistleblowing karena individu memiliki keyakinan bahwa nasib atau event-event dalam
kehidupannya berada di bawah kontrol sehingga ia tidak terpengaruh oleh organisasi dan tetap berambisi dan berkomitmen melakukan whistleblowing karena individu dengan lokus kendali internal akan melihat lebih banyak tantangan dalam pekerjaan mereka; individu juga merasa diri mereka memiliki kendali atas pekerjaan mereka sehingga mungkin individu yakin bahwa mereka tetap mendapatkan keberhasilan dalam pekerjaan mereka; cenderung menghubungkan hasil-hasil positif dengan tindakan-tindakan mereka sendiri; dan mereka akan bekerja lebih karena mereka menentukan tujuan yang lebih ambisius, berkomitmen, dan bertahan lebih lama dalam berusaha mencapai tujuannya.