52
Uraian Komersial Rekonsiliasi Fiskal
Positif Negatif
Pendapatan Toko
Penjualan Rp 1,284,045,035.00 Rp 1,284,045,035.00
Harga Pokok Penjualan
Persediaan Barang Awal Rp 163,853,682.71 Rp 163,853,682.71
Pembelian Rp 1,278,060,763.00 Rp 1,278,060,763.00
Barang Tersedia Untuk Dijual Rp 1,441,914,445.71 Rp 1,441,914,445.71
Persediaan Barang Akhir Rp (164,329,471.41) Rp (164,329,471.41)
Harga Pokok Penjualan Rp 1,277,584,974.30 Rp 1,277,584,974.30
Pendapatan Kotor Rp 6,460,060.70 Rp 6,460,060.70 Pendapatan Jasa Laundry Rp 2,841,800.00 Rp 2,841,800.00 Pendapatan ATK Rp - Foto Copy Rp 13,000,000.00 Rp 13,000,000.00 SHU Puskopol Rp 9,599,455.00 Rp 9,599,455.00 Rp -
Jumlah Pendapatan Jasa Rp 587,517,100.00 Rp 577,917,645.00
Jumlah Pendapatan Rp 593,977,160.70 Rp 584,377,705.70
Beban Operasional
Beban ATK & administrasi Rp 29,838,050.00 Rp 29,838,050.00
Beban PPh Pasal 29 Tahun 2009 Rp 1,126,500.00 Rp 1,126,500.00 Rp -
Perbaikan Alat kantor Rp 860,000.00 Rp 860,000.00
Biaya RAT Rp 26,075,300.00 Rp 26,075,300.00
Beban Telepon Rp 1,623,800.00 Rp 1,623,800.00
Beban Listrik Rp 3,221,100.00 Rp 3,221,100.00
Operasional Pengurus & Pangawas Rp 27,550,000.00 Rp 27,550,000.00
Media Cetak-cetakan Rp 4,600,000.00 Rp 4,600,000.00
Beban Konsumsi/makan Rp 5,800,000.00 Rp 5,800,000.00
Beban Penyusutan Rp 30,109,638.83 Rp 197,916.00 Rp 30,307,554.83
Beban Lain-lain Rp 12,019.00 Rp 12,019.00
Beban Air Minum Rp 523,650.00 Rp 523,650.00
Jasa Pinjaman Rp 95,000,000.00 Rp 95,000,000.00
Beban Gaji / Upah Rp 198,600,000.00 Rp 198,600,000.00
Jumlah Beban Rp 424,940,057.83 Rp 423,615,641.83
SHU sebelum Pajak Rp 169,037,102.87 Rp 160,762,063.87
Pajak Rp 21,129,625.00 Rp 20,095,250,00
SHU setelah Pajak Rp 147,907,375.00 Rp 140,666,750.00
Tabel 4.2
Primer Koperasi Polres Metro Jakarta Selatan Rekonsiliasi Laba Rugi Komersial dan Fiskal
53 Pajak terutang tahun 2010 menurut Primer Koperasi Polres Metro Jakarta Selatan adalah sebesar Rp 20.129.625,00didapat dari SHU sebelum pajak (pendapatan yang menjadi objek pajak) setelah dilakukan koreksi fiskal oleh koperasi sehingga penghasilan kena pajak menjadi lebih kecil dibandingkan dengan penghasilan sebelum dilakukan koreksi fiskal, yaitu sebesar Rp 169.037.102,87 setelah dilakukan koreksi fiskal menjadi Rp 160.762.063,87 Berikut ini rincian koreksi fiskal yang dilakukan oleh koperasi untuk penghasilan kena pajak yang berakhir tanggal 31 Desember 2010.
Koreksi Negatif:
SHU Puskoppol Rp 9.599.455,00
SHU Puskoppol termasuk kategori koreksi negatif karena penghasilan dan biaya yang diakui dalam penghitungan laba bersih untuk akuntansi komersial tetapi tidak diakui dalam perhitungan akuntansi pajak. Dijelaskan juga di PPh Pasal 4 ayat (2) yaitu penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi. Kemudian di Undang - undang Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 23 ayat (1) atas penghasilan tersebut di bawah ini dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada wajib pajak dalam negeri atau bentuk
54 usaha tetap, dipotong pajak oleh pihak yang wajib membayarkan dan dalam pasal 4 ayat ayat (2) Penghasilan di bawah ini dapat dikenai pajak bersifat final dan pasal 4 ayat (3) f yang dikecualikan dari obyek pajak adalah dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor; dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
Beban PPh Pasal 29 tahun 2009 Rp 1.126.500,00
Beban PPh Pasal 29 tahun 2009 termasuk kategori koreksi negatif karena adanya pajak terutang yang belum dibayar di tahun 2009, sehingga pajak yang kurang tersebut baru bisa dibayarkan di tahun 2010. Tertuang pada Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 17 ayat (1) tentang tarif pajak yang diterapkan atas penghasilan kena pajak dan Pasal 9 ayat (1) h untuk menentukan besarnya peghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan pajak penghasilan.
Beban Penyusutan Rp 197.916,00
Beban penyusutan termasuk kategori koreksi negatif karena terjadi perbedaan perhitungan beban penyusutan, disebabkan koperasi mengukur
55 nilai ekonomis masa manfaat 10 tahun, tetapi seharusnya koperasi menghitung nilai ekonomis masa manfaat 8 tahun yang menyebabkan terjadinya beda waktu, yaitu adanya penghasilan atau biaya yang dapat diakui saat ini oleh akuntansi pajak, biasanya terjadi karena perbedaan metode pengakuan . Seperti yang tertuang pada Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 11 ayat (6) yaitu tentang besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.03/2009 tentang jenis-jenis harta yang termasuk dalam kelompok harta berwujud bukan bangunan untuk keperluan penyusutan.
SHU sebelum pajak (komersial) Rp 169.037.102,87
Koreksi Negatif:
SHU Puskoppol Rp 9.599.455,00
Beban PPh Pasal 29 tahun 2009 Rp 1.126.500,00
Beban Penyusutan Rp 197.916,00
SHU sebelum pajak (fiskal) Rp 160.762.063,87 Pembulatan PKP: Rp 160.762.063,87 – Rp 063,87 = Rp 160.762.000,00 Perhitungan PPh Badan Tahun 2010:
(50% x 25%) x Rp 160.762.000,00 = Rp 20.095.250,00 SHU setelah pajak:
56
Uraian Komersial Rekonsiliasi Fiskal
Positif Negatif
Pendapatan Toko
Penjualan Rp 1,453,932,590.00 Rp 1,453,932,590.00
Harga Pokok Penjualan
Persediaan Barang Awal Rp 164,329,471.00 Rp 164,329,471.00
Pembelian Rp 1,502,123,351.00 Rp 1,502,123,351.00
Barang Tersedia Untuk Dijual Rp 1,666,452,822.00 Rp 1,666,452,822.00
Persediaan Barang Akhir Rp (224,672,702.00) Rp (224,672,702.00)
Harga Pokok Penjualan Rp 1,441,780,120.00 Rp 1,441,780,120.00
Pendapatan Kotor Rp 12,152,470.00 Rp 12,152,470.00
Pendapatan Jasa
Jasa Simpan Pinjam Rp 543,573,714.75 Rp 543,573,714.75
Laundry Rp 3,445,825.00 Rp 3,445,825.00
SHU Puskopol Rp 7,047,403.00 Rp 7,047,403.00 Rp -
Jumlah Pendapatan Jasa Rp 559,066,942.75 Rp 552,019,539.75
Jumlah Pendapatan Rp 571,219,412.75 Rp 564,172,009.75
Beban Operasional
Beban ATK & Administrasi Rp 36,273,300.00 Rp 36,273,300.00
Beban PPh Pasal 29 Tahun 2010 Rp 1,250,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp -
Operasional Mobil Rp 925,000.00 Rp 925,000.00
Pajak Kendaraan Rp 1,600,000.00 Rp 1,600,000.00
Perbaikan Alat kantor Rp 735,000.00 Rp 735,000.00
Pendidikan Pengurus & Pegawai Rp 2,250,000.00 Rp 2,250,000.00
Biaya RAT Rp 44,250,500.00 Rp 44,250,500.00
Beban Telepon Rp 2,193,000.00 Rp 2,193,000.00
Beban Listrik Rp 3,222,200.00 Rp 3,222,200.00
Operasional Pengurus & Pangawas Rp 14,650,000.00 Rp 14,650,000.00
Media Cetak-cetakan Rp 550,000.00 Rp 550,000.00
Beban Konsumsi/makan Rp 12,072,000.00 Rp 12,072,000.00
Beban Penyusutan Rp 37,280,471.50 Rp 2,375,000.00 Rp 39,655,471.50
Beban Lain-lain Rp 4,500,000.00 Rp 4,500,000.00
Beban Air Minum Rp 304,250.00 Rp 304,250.00
Jasa Pinjaman Rp 68,650,000.00 Rp 68,650,000.00
Beban Gaji / Upah Rp 201,850,000.00 Rp 201,850,000.00
Jumlah Beban Rp 432,555,721.50 Rp 428,930,721.50
SHU sebelum Pajak Rp 138,663,691.25 Rp 142,086,094.25
Pajak Rp 17,332,875.00 Rp 17,760,750.00
SHU setelah Pajak Rp 121,330,125.00 Rp 124,325,250.00
Tabel 4.3
Primer Koperasi Polres Metro Jakarta Selatan Rekonsiliasi Laba Rugi Komersial dan Fiskal
57 Pajak terutang tahun 2011 menurut Primer Koperasi Polres Metro Jakarta Selatan adalah sebesar Rp 17.332.875,00 didapat dari SHU sebelum pajak (pendapatan yang menjadi objek pajak) setelah dilakukan koreksi fiskal oleh koperasi sehingga penghasilan kena pajak menjadi lebih kecil dibandingkan dengan penghasilan sebelum dilakukan koreksi fiskal, yaitu sebesar Rp 138.663.691,25 setelah dilakukan koreksi fiskal menjadi Rp 142.086.094,25. Berikut ini rincian loreksi fiskal yang dilakukan oleh koperasi untuk penghasilan kena pajak yang berakhir tanggal 31 Desember 2011.
Koreksi Negatif:
SHU Puskoppol Rp 7.047.403,00
SHU Puskoppol masuk kategori koreksi negatif karena penghasilan dan biaya yang diakui dalam penghitungan laba bersih untuk akuntansi komersial tetapi tidak diakui dalam perhitungan akuntansi pajak. Dijelaskan juga di PPh Pasal 4 ayat (2) yaitu penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi. Kemudian di Undang - undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 23 ayat (1) a atas penghasilan tersebut di bawah ini dengan dan dalam bentuk apapun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada wajib pajak dalam negeri atau bentuk
58 usaha tetap, dipotong pajak oleh pihak yang wajib membayarkan, sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto diatas dan dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 4 ayat (3) f yaitu yang dikecualikan dari objek pajak adalah dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor.
Beban PPh Pasal 29 tahun 2010 Rp 1.250.000,00
Beban PPh Pasal 29 tahun 2010 masuk kategori koreksi negatif karena adanya pajak terutang yang belum dibayar di tahun 2010, sehingga pajak yang kurang tersebut baru bisa dibayarkan di tahun 2011. Tertuang pada Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 17 ayat (1) yaitu tentang tarif pajak yang diterapkan atas penghasilan kena pajak dan Undang-undang No.36 tahun 2008 pasal 9 ayat (1) h yaitu untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan pajak penghasilan.
Beban Penyusutan Rp 2.375.000,00
Beban penyusutan termasuk kategori koreksi negatif karena terjadi perbedaan perhitungan beban penyusutan, disebabkan koperasi mengukur
59 nilai ekonomis masa manfaat 10 tahun, tetapi seharusnya koperasi menghitung nilai ekonomis masa manfaat 8 tahun yang menyebabkan terjadinya beda waktu, yaitu adanya penghasilan atau biaya yang dapat diakui saat ini oleh akuntansi pajak, biasanya terjadi karena perbedaan metode pengakuan. Seperti yang tertuang pada Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 11 ayat (6) yaitu tentang besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.03/2009 tentang jenis-jenis harta yang termasuk dalam kelompok harta berwujud bukan bangunan untuk keperluan penyusutan.
SHU sebelum pajak (komersial) Rp 138.663.691,25
Koreksi Negatif:
SHU Puskoppol Rp 7.047.403,00
Beban PPh Pasal 29 tahun 2010 Rp 1.250.000,00
Beban Penyusutan Rp 2.375.000,00
SHU sebelum pajak (fiskal) Rp 142.086.094,25 Pembulatan PKP: Rp 142.086.094,25 – Rp 094,25 = Rp 142.086.000,00 Perhitungan PPh Badan Tahun 2011:
(50% x 25%) x Rp 142.086.000,00 = Rp 17.760.750,00 SHU setelah pajak:
60
Uraian Komersial Rekonsiliasi Fiskal
Positif Negatif
Pendapatan Toko
Penjualan Rp 1,676,738,500.00 Rp 1,676,738,500.00
Harga Pokok Penjualan
Persediaan Barang Awal Rp 224,672,702.00 Rp 224,672,702.00
Pembelian Rp 1,797,974,276.00 Rp 1,797,974,276.00
Barang Tersedia Untuk Dijual Rp 2,022,646,978.00 Rp 2,022,646,978.00
Persediaan Barang Akhir Rp (333,690,615.00) Rp (333,690,615.00)
Haraga Pokok Penjualan Rp 1,688,956,363.00 Rp 1,688,956,363.00
Pendapatan Kotor Rp (12,217,863.00) Rp (12,217,863.00)
Pendapatan Jasa
Jasa Simpan Pinjam Rp 676,874,920.60 Rp 676,874,920.60
Laundry Rp 4,837,600.00 Rp 4,837,600.00
SHU Puskopol Rp 10,027,800.00 Rp 10,027,800.00 Rp -
Jumlah Pendapatan Jasa Rp 698,740,320.60 Rp 688,712,520.60
Jumlah Pendapatan Rp 686,522,457.60 Rp 676,494,657.60
Beban Operasional
Beban ATK & administrasi Rp 38,181,400.00 Rp 38,181,400.00
Beban PPh Pasal 29 Tahun 2011 Rp 1,937,475.00 Rp 1,937,475.00 Rp -
Perbaikan Alat kantor Rp 665,000.00 Rp 665,000.00
Biaya RAT Rp 57,925,000.00 Rp 57,925,000.00
Beban Telepon Rp 1,593,300.00 Rp 1,593,300.00
Beban Listrik Rp 3,679,400.00 Rp 3,679,400.00
Operasional Pengurus & Pangawas Rp 24,490,000.00 Rp 24,490,000.00
Media Cetak-cetakan Rp 656,000.00 Rp 656,000.00
Beban Konsumsi/makan Rp 12,651,500.00 Rp 12,651,500.00
Beban Penyusutan Rp 35,789,222.00 Rp 2,375,000.00 Rp 38,164,222.00
Beban Lain-lain Rp 12,000,000.00 Rp 12,000,000.00
Beban Air Minum Rp 1,739,500.00 Rp 1,739,500.00
Jasa Pinjaman Rp 92,500,000.00 Rp 92,500,000.00
Beban Gaji / Upah Rp 253,800,000.00 Rp 253,800,000.00
Jumlah Beban Rp 537,607,797.00 Rp 538,045,322.00
SHU sebelum Pajak Rp 148,914,660.60 Rp 154,629,995.60
Pajak Rp 18.614.250,00 Rp 19,328,625.00
SHU setelah Pajak Rp 130,299,750.60 Rp 135,300,375.00
Tabel 4.4
Primer Koperasi Polres Metro Jakarta Selatan Rekonsiliasi Laba Rugi Komersial dan Fiskal
61 Pajak terutang tahun 2012 menurut Primer Koperasi Polres Metro Jakarta Selatan adalah sebesar Rp 18.614.250,00 didapat dari SHU sebelum pajak (pendapatan yang menjadi objek pajak) setelah dilakukan koreksi fiskal oleh koperasi sehingga penghasilan kena pajak menjadi lebih kecil dibandingkan dengan penghasilan sebelum dilakukan koreksi fiskal, yaitu sebesar Rp 148.914.660,60 setelah dilakukan koreksi fiskal menjadi Rp 154.629.995,60. Berikut ini rincian koreksi fiskal yang dilakukan oleh koperasi untuk penghasilan kena pajak yang berakhir tanggal 31 Desember 2012.
Koreksi Negatif:
SHU Puskoppol Rp 10.027.800,00
SHU Puskoppol termasuk kategori koreksi negatif karena penghasilan dan biaya yang diakui dalam penghitungan laba bersih untuk akuntansi komersial tetapi tidak diakui dalam perhitungan akuntansi pajak. Dijelaskan juga di PPh Pasal 4 ayat (2) yaitu penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi. Kemudian di Undang - undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 23 ayat (1) a atas penghasilan tersebut di bawah ini dengan dan dalam bentuk apapun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada wajib pajak dalam negeri atau bentuk
62 usaha tetap, dipotong pajak oleh pihak yang wajib membayarkan, sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah bruto diatas dan dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 4 ayat (3) f yaitu yang dikecualikan dari objek pajak adalah dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor.
Beban PPh Pasal 29 tahun 2011 Rp 1.937.475,00
Beban PPh Pasal 29 tahun 2011 termasuk kategori koreksi negatif adanya pajak terutang yang belum dibayar di tahun 2010, sehingga pajak yang kurang tersebut baru bisa dibayarkan di tahun 2011. Tertuang pada Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 17 ayat (1) yaitu tentang tarif pajak yang diterapkan atas penghasilan kena pajak dan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 9 ayat (1) h yaitu untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan pajak penghasilan.
Beban Penyusutan Rp 2.375.000,00
Beban penyusutan termasuk kategori koreksi negatif karena terjadi perbedaan perhitungan beban penyusutan, disebabkan koperasi mengukur
63 nilai ekonomis masa manfaat 10 tahun, tetapi seharusnya koperasi menghitung nilai ekonomis masa manfaat 8 tahun yang menyebabkan terjadinya beda waktu, yaitu adanya penghasilan atau biaya yang dapat diakui saat ini oleh akuntansi pajak, biasanya terjadi karena perbedaan metode pengakuan. Seperti yang tertuang pada Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 11 ayat (6) yaitu tentang besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.03/2009 tentang jenis-jenis harta yang termasuk dalam kelompok harta berwujud bukan bangunan untuk keperluan penyusutan.
SHU sebelum pajak (komersial) Rp 148.914.660,60
Koreksi Negatif:
SHU Puskoppol Rp 10.027.800,00
Beban PPh Pasal 29 tahun 2011 Rp 1.937.475,00
Beban Penyusutan Rp 2.375.000,00 +
SHU sebelum pajak (fiskal) Rp 154.629.995,60 Pembulatan PKP: Rp 154.629.995,60 – Rp 995,60 = Rp 154.629.000,00 Perhitungan PPh Badan Tahun 2012:
(50% x 25%) x Rp 154.629.000,00 = Rp 19.328.625,00 SHU setelah pajak:
64 2. Perhitungan PPh Badan
Tabel 4.5
a. Perhitungan PPh Badan Primkoppolres Metro Jakarta Selatan 2010
Keterangan Sebelum
Perencanaan
Setelah Perencanaan Penghasilan Kena Pajak Rp 169.037.102,87 Rp 160.762.063,87 PPh Badan :
(50% x 25%) x Rp 169.037.000,00 Rp 21.129.625,00
(50% x 25%) x Rp 160.762.000,00 Rp 20.095.250,00
Total PPh Badan Terutang Rp 147.907.375,00 Rp 140.666.750,00
Hasil dari tax planning yang dilakukan pada Primkoppolres Metro Jakarta Selatan adalah penghasilan kena pajak sebelum perencanaan pajak pada tahun 2010 sebesar Rp 169.037.102,87 menurun setelah dilakukannya perencanaan pajak menjadi sebesar Rp 160.762.063,87 berarti ada item pajak yang belum terhitung atau belum ikut terbayar. Beban PPh Pasal 29 tahun 2009 termasuk kategori koreksi negatif karena adanya item pajak terutang yang belum dibayar di tahun 2009, sehingga pajak yang kurang tersebut baru bisa dibayarkan di tahun 2010. Tertuang pada Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 17 ayat (1) tentang tarif pajak yang diterapkan atas penghasilan kena pajak dan Pasal 9 ayat (1) h untuk menentukan besarnya peghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan pajak penghasilan. Sebelum perencanaan beban PPh badan tahun 2010 sebesar Rp 21.129.625,00 menurun menjadi sebesar Rp 20.095.250,00.
Menurunnya beban PPh badan pada tahun 2010 menyebabkan menurunnya pajak penghasilan juga, yang terjadi pada tahun 2010 sebesar
65 Rp 147.907.375,00 menurun menjadi sebesar Rp 140.666.750,00. Penerapan perencanaan pajak yang dilakukan pada koperasi Primkoppolres Metro Jakarta Selatan tidak terbukti dapat mengefisiensikan beban pajak pada tahun 2010 karena beban pajak koperasi tidak berkurang meskipun sudah menerapkan perencanaan pajak yang baik dan benar. Penerapan tax planning pada Primkoppolres Metro Jakarta Selatan tidak berhasil pada tahun 2010, karena pada tahun 2010 dari segi perpajakan tidak terjadi efisiensi pajak dan dari segi akuntansi tidak terjadi peningkatan laba.
Tabel 4.6
b. Perhitungan PPh Badan Primkoppolres Metro Jakarta Selatan 2011
Keterangan Sebelum
Perencanaan
Setelah
Perencanaan %
Penghasilan Kena Pajak Rp 138.663.691,00 Rp 142.086.094,25 2,408 % PPh Badan :
(50% x 25%) x Rp 138.663.000,00 Rp 17.332.875,00
(50% x 25%) x Rp 142.086.000,00 Rp 17.760.750,00 2,409 %
Total PPh Badan Terutang Rp 121.330.125,00 Rp 124.325.250,00 2,409 %
Hasil dari tax planning yang dilakukan pada Primkoppolres Metro Jakarta Selatan adalah penghasilan kena pajak sebelum perencanaan pajak pada tahun 2011 terjadi peningkatan, meningkat dari Rp 138.663.691,25 menjadi Rp 142.086.094,25. Sebelum perencanaan beban PPh badan tahun 2011 sebesar Rp 17.332.875,00 meningkat menjadi Rp 17.760.750,00. Meningkatnya beban PPh badan pada tahun 2011 menyebabkan meningkatnya pajak penghasilan juga, yang terjadi pada tahun 2011 sebesar Rp 121.330.125,00 meningkat menjadi sebesar Rp 124.325.250,00.
66 Pada tahun 2011 terbukti dapat mengefisiensikan beban pajak karena beban pajak koperasi berkurang. Penerapan tax planning pada Primkoppolres Metro Jakarta Selatan berhasil pada tahun 2011, karena pada tahun 2011 dari segi perpajakan terjadi efisiensi pajak dan dari segi akuntansi terjadi peningkatan laba.
Tabel 4.7
c. Perhitungan PPh Badan Primkoppolres Metro Jakarta Selatan 2012
Keterangan Sebelum
Perencanaan
Setelah
Perencanaan %
Penghasilan Kena Pajak Rp 148.914,660,00 Rp 154.629.995,00 3,696 % PPh Badan :
(50% x 25%) x Rp 148.914.000,00 Rp 18.614.250,00
(50% x 25%) x Rp 154.629.000,00 Rp 19.328.625,00 3,695 %
Total PPh Badan Terutang Rp 130.299.750,60 Rp 135.300.375,00 3,695 %
Hasil dari tax planning yang dilakukan pada Primkoppolres Metro Jakarta Selatan adalah penghasilan kena pajak sebelum perencanaan pajak pada tahun 2012 meningkat juga dari sebesar Rp 148.914.660,60 menjadi sebesar Rp 154.629.995,00. Sebelum perencanaan beban PPh badan tahun 2012 sebesar Rp 18.614.250,00 meningkat menjadi sebesar Rp 19.328.625,00. Meningkatnya beban PPh badan pada tahun 2012 menyebabkan meningkatnya pajak penghasilan juga, yang terjadi pada tahun 2012 sebesar Rp 130.299.750,00 meningkat menjadi sebesar Rp 135.300.375,00.
Pada tahun 2012 terbukti dapat mengefisiensikan beban pajak karena beban pajak koperasi berkurang. Penerapan tax planning pada Primkoppolres Metro Jakarta Selatan berhasil pada tahun 2012, karena pada
67 tahun 2012 dari segi perpajakan terjadi efisiensi pajak dan dari segi akuntansi terjadi peningkatan laba.
Dari hasil analisis rekonsiliasi berdasarkan perhitungan diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa adanya tax planning itu sangat berguna bagi koperasi untuk mengefisiensikan dan mengetahui beban pajak PPh badan. Penghematan pajak diperoleh karena biaya-biaya komersial dapat meminimalkan untuk dikoreksi fiskal sehingga jumlah SHU setelah pajak penghasilan dan SHU sebelum pajak penghasilan bisa meningkat, menurun dan juga mampu memperjelas pajak koperasi yang semestinya di bayar. Perencanaan pajak yang telah dilakukan di koperasi Primkoppolres Metro Jakarta Selatan sudah sesuai dengan undang-undang perpajakan yang berlaku, seperti yang terjadi saat koreksi fiskal negatif dengan menyesuaikan akun SHU Puskoppol dengan Undang-undang PPh Pasal 4 ayat (2) dan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 23 ayat (1).
Dampak dari tax planning yang diterapkan pada Primkoppolres Metro Jakarta Selatan yaitu dengan menerapkan tax planning maka pengambilan keputusan keuangan dan manajerial dengan sepenuhnya yang diambil dapat mempertimbangkan konsekuensi bagi koperasi. Pada Primkoppolres Metro Jakarta Selatan dampak tax planning juga muncul yaitu menghindari pelanggaran atas peraturan yang berlaku, baik yang berupa sanksi admnistrasi maupun sanksi denda. Secara tidak langsung tax planning mampu mengoptimalkan kredit pajak yang diperkenankan.
68
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN