• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN LANSKAP KOMPLEKS GALLERY WEST , KEBUN JERUK, JAKARTA BARAT

4. Bangunan dan Fasilitas

5.3.4 Analisis dan Sintesis

Gambar 14. Kondisi Tanaman Existing

5.3.4 Analisis dan Sintesis

Tahap analisis dan sintesis merupakan proses pengembangan potensi dan kekurangan yang ada pada tapak. Menurut Simonds (1983), pada proses analisis dilakukan kajian terhadap data, peraturan pemerintah, kendala, potensi dan program pengembangan. Sedangkan sintesis merupakan tahap persiapan mengekplorasi rencana alternatif, analisis perbandingan, penilaian dampak, konsolidasi dan metode implementasi.

Simonds dan Starke (2006) menyatakan bahwa analisis yang kurang sensitif dan lebih praktis karena tekanan waktu, ekonomi, dan temperamen publik terkadang dapat mengakibatkan tujuan menjadi kurang tercapai. Pada proses analisis, Konsultan Lanskap Oemadi_zain melakukan analisis secara cepat (quick analysisis) dalam mencapai tahap konsep dengan data-data dari arsitek maupun

owner.

Setelah melakukan studi reference lebih lanjut lagi, tema mixed-use development yang menghadirkan beragam fungsi bangunan dalam satu kawasan sangat cocok untuk perkantoran yang terletak pada area strategis yang cukup padat, sehingga analisis untuk menuju tahap konsep seharusnya menghadirkan area fasilitas-fasilitas sebagai berikut:

1. Menghubungkan antara satu fungsi bangunan ke fungsi bangunan lain. Contoh penghubung antar fungsi area yang berbeda adalah dengan jalur pedestrian, jogging track maupun jembatan penghubung sebagai jalur jalan (walks).

2. Menghadirkan fasilitas untuk beragam aktivitas dari fungsi bangunan yang berbeda. Pada kawasan Gallery West akan dibangun apartemen,

hotel dan gedung utama perkantoran, sehingga dibutuhkan fasilitas yang berbeda untuk tiap fungsi bangunan.

3. Efisien dan efektif untuk pembangunan yang berkelanjutan. Dalam hal ini konsep mixed-use (yang diajukan klien) merupakan konsep yang efisien dalam dana pembangunan infrastruktur, efesien energi (ramah lingkungan), efektif dalam pergerakan antar bangunan dan saling menguntungkan antar bangunan.

Pada analisis tinjauan di lapang yang dilakukan oleh mahasiswa, terdapat beberapa poin yang penting pada tapak:

1. Area tapak memiliki pergerakan angin yang kencang sehingga beberapa fasilitas tapak yaitu cone pembatas jalan terbawa angin. Dibutuhkan pohon dan barrier tanaman penghalang untuk mengurangi laju angin.

2. Berlokasi pada kawasan strategis yang cukup padat lalu lintas menimbulkan kebisingan pada tapak sehingga dibutuhkan tanaman peredam bising.

3. Cuaca pada tapak yang cukup panas sehingga mengurangi kenyamanan

user dalam tapak. Diperlukan pohon-pohon dengan tajuk peneduh.

4. Area pedestrian yang nyaman bagi pejalan kaki kurang diperhatikan ukuran dan penempatannya sehingga user berjalan pada area driveways.

5. Belum terlihatnya jalur untuk masing-masing pengguna jalan, pengendara kendaraan sehingga dibutuhkan pemisahan jalur yang berbeda untuk masing-masing aktivitas jalan.

Analisis pada proyek Gallery West juga mengambil peluang-peluang keterhubungan dengan ketersediaan yang ada pada tapak, level, hubungan visual dengan area tetangga dan citiview. Dalam aspek lanskap, desain diharapkan dapat menampung:

1. Aktivitas-aktivitas yang ada dalam kawasan tapak. 2. Memenuhi drainase kawasan

4. Fungsi kawasan serta fasilitas dan aspek-aspek yang terkait dalam kebutuhan user segala golongan dan usia pada tapak.

5. Kelengkapan fasilitas di setiap area perencanaan pembangunan merupakan hal utama kebutuhan user pada tahap analisis dan sintesis kawasan mixed-use.

Kelengkapan fasilitas dari segi lanskap disesuaikan dengan hasil perencanaan arsitek dan keinginan developer.

5.3.4.1 Uraian Singkat Proyek Gallery West (Landscape Brief)

Dalam Landscape brief, pemilik dari proyek memberikan deskripsi singkat mengenai keinginan terhadap hasil dari pelaksanaan proyek Gallery West. Gambaran umum tentang konsep Gallery West menurut keinginan owner akan dijadikan acuan dalam proses perancangan bagi konsultan desain kelak.

Menurut konsep yang dideskripsikan pihak owner, Gallery West akan menjadi “the Gate of West” dimana menyediakan tempat dalam mengejar karir serta entrepreneurship, dimana menyediakan tempat hunian yang aman dan nyaman di tengah kota dengan lingkungan yang hijau dan bersahabat ( eco-friendly). Gallery West menyediakan “Gallery West Citywalk” dimana akan menjadi tempat berkumpul keluarga dan sahabat dan kunjungan ke Modern Contemporary Art Museum (MOCAM).

Pemilik memiliki konsep exterior lanskap “Green Fencing” dimulai dari BMW car show room ,Wisma AKR, Toyota show room dan menara Gallery West sehingga sepanjang jalan Panjang - Perjuangan akan memiliki pemandangan hijau yang sama, untuk sosialisasi dengan pihak tetangga.

Lanskap ground level pada area Gallery West akan menjadi area kota yang bersih dimana area lanskap dan hardscape bernuansa contemporary art sehingga memiliki warna yang selaras dengan MOCAM (Modern Contemporary Art Museum) yang terletak di lantai 4 gedung. Atap parkir dengan lanskap modern dan dana yang sesuai akan dibuat untuk mengumpulkan air hujan sebagai penampungan air mentah untuk konsumsi, sehingga menjadi green carpark

pertama yang mengkonservasi lingkungan. Apartment ground akan menjadi hutan bagi Gallery West, karena direncanakan apartment tower akan dikelilingi ground

yang luas, dan bila dimungkinkan letak swimming pool akan berada disana atau di

atas roof carpark.

5.3.5 Konsep

5.3.5.1 Konsep Dasar

Konsep dasar yang direncanakan oleh pengembang proyek adalah konsep

Mixed-use development. Konsep ini bertujuan untuk memberi kenyamanan dan keamananan bagi warga dengan mendekatkan fungsi hunian dengan fungsi lain seperti perkantoran, jasa dan komersial. Menurut Urban Landscape Institute, (ULI, 1976 dalam Suwantoro, 2011), yang di maksud dengan mixed-use development adalah:

1. Mengakomodasi tiga atau lebih fungsi yang dapat menghasilkan pendapatan/produk.

2. Menempatkan fungsi-fungsi signifikan dan integrasi fisik dari komponen-komponennya.

3. Menyelaraskan pembangunan dengan rencana kota yang konsisten.

Dalam perkembangannya, mixed-use development banyak dilakukan pada pembangunan kawasan baru ataupun revitalisasi kawasan. Secara umum mixed-use development dapat dilakukan dalam tiga pendekatan (Grant, 2002 dalam Suwantoro, 2011), yaitu:

1. Menambah dan memperkuat intensitas penggunaan lahan (land intensity)

2. Menambah dan memperkuat keragaman penggunaan lahan (land diversity)

3. Mengintegrasikan kembali penggunaan lahan yang tersegregasi (land integrity)

Beberapa keuntungan dari konsep pembangunan mixed-use (Llewelyn-Davies, 2000 dalam Suwantoro, 2011) yaitu, menciptakan akses yang nyaman ke berbagai fasilitas; meminimalkan kemacetan dalam perjalanan ke tempat bekerja; memberi kesempatan yang lebih besar untuk berinteraksi sosial; mendorong kehadiran komunitas sosial yang beragam; adanya stimulasi visual dari perbedaan bangunan dalam jarak dekat; meningkatkan keamanan dan kenyaman bagi pejalan; mendorong efisiensi energi, penggunaan ruang dan bangunan; mengakomodasi pilihan yang lebih beragam, baik lokasi atau jenis bangunan; meningkatkan vitalitas dan kehidupan kota atau kawasan pada skala pedestrian; dan

memperpanjang aktivitas pada fasilitas-fasilitas kota dan fungsi-fungsi pendukungnya.

Konsep mixed-use berhubungan dengan kedekatan jarak, maka keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh jarak untuk berjalan ke fasilitas-fasilitas yang sering digunakan. Penempatan pusat aktivitas dapat diterapkan pada persimpangan jalan dan sepanjang sirkulasi pergerakan utama. Dengan memasukkan fungsi hunian ke dalam fungsi lain secara mixed-use akan dapat memperpanjang aktivitas perkantoran dan komersial. Dalam skala besar (macro land use), pembangunan mixed-use berorientasi kepada penataan blok-blok bangunan yang berbeda fungsi dalam satu kawasan secara horizontal, misalnya penempatan shopping mall yang berdekatan dengan kantor, hunian dengan kantor,

convention center dan lain-lain. Dalam hal ini, konsep mixed-use sangat cocok diterapkan pada pembangunan di kota-kota besar yang padat dengan kebutuhannya yang ragam. Penempatan fungsi gedung yang berbeda dalam jarak yang dekat pada sebuah kawasan memberikan keuntungan bagi user dan kegiatan di dalamnya.

5.3.5.2 Konsep Lanskap

Peningkatan emisi karbon di bumi yang disebabkan oleh pemakaian sumber daya alam yang berlebih mengakibatkan pemanasan global yang disebut efek rumah kaca. Hal tersebut berdampak buruk bagi suhu dan keadaan lingkungan. Salah satu solusi dalam mengurangi emisi karbon adalah dengan penerapan green building pada setiap kegiatan pembangunan dan pemakaian sumber daya alam sehingga efisien dan efektif.

Konsep Lanskap yang diterapkan pada proyek pembangunan Gallery West

adalah pembangunan yang mengarah pada green building. Green building

merupakan suatu konsep untuk meningkatakn efisiensi sumber daya yang dibutuhkan untuk sebuah gedung, rumah atau fasilitas lainnya. Green building

didefinisikan sebagai sebuah perencanaan dan perancangan bangunan melalui sebuah proses yang memperhatikan lingkungan dan menggunakan sumber daya secara efisien pada seluruh siklus hidup bangunan dari mulai pengolahan tapak, perancangan, pembangunan, penghunian, pemeliharaan, renovasi dan perubahan bangunan (US EPA, 2006 dalam www.bplhd.jakarta.go.id).

Undang-undang Republik Indonesia No.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengisyaratkan tentang pembangunan kota berwawasan lingkungan dengan amanat perihal proporsi ruang terbuka dan ruang terbangun, dimana luas Ruang Terbuka Hijau minimal 30% dari total keseluruhan kota; terdiri dari minimal 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% merupakan ruang terbuka privat. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lain. Untuk lebih meningkatkan fungsi dan proporsi ruang terbuka hijau, pemerintah, masyarakat, dan swasta didorong untuk menanam tumbuhan di atas bangunan gedung miliknya yang lebih dikenal sebagai taman atap (green roof dan green wall). Undang-undang RI tentang Penataan Ruang telah mengakomodasikan pembangunan kawasan perkotaan berwawasan lingkungan dengan tetap mempertimbangkan kelestarian lingkungan dan diharapkan menjadi alat kendali bagi setiap pembangunan fisik (Ismaun, 2008).

Dalam Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.38 tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau menjelaskan mengenai jenis dan luas bangungan yang masuk ke dalam kriteria untuk memenuhi persyaratan bangungan ramah lingkungan (green building) adalah:

- Sarana Pendidikan seluas >10.000 m2

- Hotel dan Sarana Kesehatan seluas > 20.000 m2

- Perkantoran, Pertokoan dan Apartemen seluas > 50.000 m2

Sedangkan persyaratan teknis bangunan gedung hijau untuk bangunan gedung baru meliputi: efisiensi energy, efisiensi air, kualitas udara dalam ruang, pengelolaan lahan dan limbah, dan pelaksanaan kegiatan konstruksi.

Analisis

Dalam The Sustainable Urban Development Reader (2004) terdapat 6 prinsip Green Architecture (bangunan hijau) yaitu:

1. Hemat energi/Conserving energy: Pengoperasian bangunan harus meminimalkan penggunaan bahan bakar atau energi listrik (sebisa mungkin memaksimalkan energi alam sekitar lokasi bangunan).

2. Memperhatikan kondisi iklim/Working with climate: Mendisain bagunan harus berdasarkan iklim yang berlaku di lokasi tapak kita, dan sumber energi yang ada.

3. Minimizing new resources: mendisain dengan mengoptimalkan kebutuhan sumberdaya alam yang baru, agar sumberdaya tersebut tidak habis dan dapat digunakan di masa mendatang/ Penggunaan material bangunan yang tidak berbahaya bagi ekosistem dan sumber daya alam.

4. Tidak berdampak negatif bagi kesehatan dan kenyamanan penghuni bangunan tersebut/Respect for site: Bangunan yang akan dibangun, nantinya jangan sampai merusak kondisi tapak aslinya, sehingga jika nanti bangunan itu sudah tidak terpakai, tapak aslinya masih ada dan tidak berubah ( tidak merusak lingkungan yang ada ).

5. Merespon keadaan tapak dari bangunan/Respect for user: Dalam merancang bangunan harus memperhatikan semua pengguna bangunan dan memenuhi semua kebutuhannya.

6. Menetapkan seluruh prinsip-prinsip green architecture secara keseluruhan/Holism: Ketentuan diatas tidak baku, artinya dapat kita pergunakan sesuai kebutuhan bangunan kita.

Dalam pembangunan gedung baru di kawasan Gallery West, prinsip-prinsip tersebut merupakan faktor penting dalam tercapainya konsep Green Building. Dari segi perencanaan lanskap, penerapkan prinsip tersebut dapat terlihat dari:

Dokumen terkait