Hasil analisis profil komunitas desa Kalimantong menunjukkan bahwa komunitas peternak sapi pedaging adalah peternak dan petani.Pekerjaan sebagai peternak merupakan bagian dari kehidupan masyarakat secara turun temurun.Kelembagaan ekonomi dan pola adaptasi ekologi memperkuat jika masyarakat KTT initidak dapat melepaskan diri dari dunia beternak.
Memperhatikan dunia masyarakat yang begitu dekat dengan peternakan, memperlihatkan kalau masyarakat sangat membutuhkan program pemberdayaan KTT secara berkelanjutan. Disamping itu dengan di dukung oleh pola-pola budaya masyarakat semakin memperkuat harapan jika program pemberdayaan ini diharapkan akan berhasil.
Disamping kearifan lokal dan budaya masyarakat Kalimantong, masyarakat memiliki isu-isu sosial yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan program.Bagaimana masalah pilkada berisiko dalam pendistribusian ternak kepada KTT, sangketa lahan dapat menyulitkan bagi KTT untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan.Peran pemerintah Kabupaten dan pemerintah desa dalam masalah sosial cukup efektif dalam menyelesaikan persoalan sosial.
Implementasi Program Pemberdayaan KTT Sapi Pedaging
Pemerintah Sumbawa Barat melalui DKPP dan para pihak yang disebutkan didalam SOP melakukan pendistribusian ternak kepada KTT sapi pedaging yang dimaksudkan untuk melakukan program pemberdayaan KTT sapi pedaging di KSB agar menjadi produktif, meningkatkan peran serta KTT sapi pedaging dalam menciptakan akselerasi dan mendukung perluasan kesempatan kerja dan meningkatkan populasi melalui pemberdayaan KTT sapi pedaging.Program ini sudah dimulai dari tahun 2005 sampai 2012 sekarang ini, dalam kurun waktu tujuh tahun tersebut tercatat 48 Desa dari 56 Desa dan 8 (delapan) Kecamatan yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat yang mendapatkan bantuan dari program ini.
Angka-angka yang dilaporkan pada data skunder memperlihatkan perkembangan populasi ternak yang sangat signifikan. Data yang dimiliki oleh pemberi program memperlihatkan perkembangan populasi ternak sesuai dengan maksud dan tujuan padahal data ini sangat berbeda setelah dilakukan observasi lapangan dan wawancara mendalam. Persoalan perbedaan data ini terjadi karena tidak adanya monitoring dan evaluasi secara berkala dan komunikasi yang aktraktif diantara kedua pemberi program dan penerima program.
Pengawasan yang tidak rutin dan kurangnya ketegasan dari pemberi program dalam melakukan pendataan populasi secara berkala dan terbuka memberikan peluang bagi KTT sapi pedaging, menjadi ruang bagi KTT tidak terbuka ketika dilakukan pengecekan dilapanganSeperti pernyataan informan “A”
“…ketika dilakukan pemeriksaan atau regestrasi oleh pemberi program banyak yang membawa ternak orang lain yang tidak masuk
ke dalam KTT atau mengatakan sampi lo nimbo olot karena informasi petugas na datang sapi ada diatas gunung karena tidak memberikan informasi akan datang…”
Kondisi ini bisa terjadi setiap adanya pengecekan dan pengakuan KTT tetap dimasukkan sebagai laporan perkembangn populasi. Penjualan ternak jarang dilaporkan dan ketika ada pendataan seperti KTT beralasan kalau ternak itu mati. Jadi tidak mengherankan data-data skunder begitu enak untuk dipandang. Jika saja tahapan yang ada di dalam SOP dan Surat Perjanjian Kerja Ternak Pemerintah (SPKTP) diterapkan tentu saja persoalan ini tidak perlu terjadi.
Mengenal dengan baik tempat program pemberdayaan dilaksanakan, sangat diperlukan oleh tenaga pendamping yang ada guna memastikan segala perkembangan mengenai KTT dan ternak tidak mengalami kesulitan. Paham akan karakter masing-masing KTT hanya akan bisa dilakukan jika para tenaga pendamping ini mau belajar dan mendengarkan apa yang dirasakan oleh KTT. Analisis Implementasi Program Pemberdayaan KTT Sapi Pedaging
Dalam hal ini perlu dilihat tahapan dalam pendistribusian bantuan ternak sampai dengan monitoring dan evaluasi program, yaitu:
1. Seleksi dan Verifikasi Serta Tata Cara Pendistribusian Ternak
Pada tahap ini seharusnya pemberi program harus mengakomodir semua proposal dari KTT sapi pedaging, bukan membeda-bedakan sala satu KTT.Hubungan kedekatan dengan pemberi program kadang mumutus mekanisme seleksi dan verifikasi.Pengaruh politik terhadap program sangat dirasakan oleh pembri program maupun penerima program. Kelengkapan berkas dan tata cara pendistribusian bantuan ternak dapat tidak berlaku ketika ada pengaruh politik. Keterbatasan akses menjadi persoalan dalam mendapatkan bantuan ternak.
Bukan hanya penerima program yang masih perlu diberdayakan, pemberi program sendiri tidak berdaya dalam menghadapi kekuatan lain yang membuat mereka tidak punya pilihan dan kekuatan untuk menolak.
Banyak anggota KTT yang mendapatkan bantuan berkali-berkali dengan nama KTT yang berbeda, Kondisi ini berbanding terbalik dengan keinginan masyarakat yang belum memiliki ternak dan sangat berharap untuk mendapatkan bantuan. KTT yang ada kecendrungan karena kedekatan emosional walaupun secara ekonomi orang tersebut sudah mampu tetapi tetap mendapatkan ternak.
Tidak konsistennya langkah awal ini berimbas kepada tahapan selanjutnya, sehingga sebelum berjalan program pembedayaan ini sebenarnya sudah diketahui akan sampai dimana.
“…masih banyak pendistribusian diberikan kepada masyarakat
yang sudah mempunyai ternak dan dengan kondisi ekonomi yang
sangat baik…”
Kondisi ini berbanding terbalik dengan keinginan masyarakat yang belum memiliki ternak dan sangat berharap untuk mendapatkan bantuan.Kelompok- kelompok Tani Ternak yang ada kecendrungan karena kedekatan emosional walaupun secara ekonomi orang tersebut sudah mampu tetapi tetap mendapatkan
ternak.Program pemberdayaan dapat diterima oleh KTT sapi pedaging yang sangat membutuhkan bantuan ternak.Tapi dari hasil wawancara mendalam dan observasi dilapangan ditemukan kalau penerima bantuan ternak terkadang melanggar urutan mekanisme tersebut. Seperti pernyataan “B” informan:
„‟…Ketentuan-ketentuan dalam persyaratan calon penerima bantuan terkadang tidak semuanya dijalankan. Tidak sedikit yang sudah mendapatkan bantuan sudah memiliki ternak sebelumnya dan cendrung karena saling kenal baik maka dimasukkan dalam kelompok bukan berdasarkan kondisi ril di masyarakat. Sangat penting dipastikan oleh pemerintah daerah lewat tim verifikasi, kalau yang menjadi calon penerima bantuan benar-benar yang membutuhkan…‟‟
Program pemberdayaan masyarakat Kelompok Tani Ternak belum memperhatikan kondisi musim ketika akan melakukan pendistribusian ternak. Hal ini disampaikan “Z” (informan):
“…pendistribusian biasanya datang saat bulan kemarau dimana tidak ada makanan tersedia…”
Pengetahuan lokal dan adat ke biasaan KTT yang sudah beternak dari dulu seharusnya diperhatikan oleh pemberi program karena hanya KTT yang lebih paham.Budaya-budaya seperti seharusnya dimanfaatkan untuk keberhasilan program pemberdayaan dan dapat dikombinasikan dengan pengetahuan atau tekhnologi dari pemberi program.
2. Calon Penerima dan Calon Lokasi penerima bantuan ternak
Kalau diperhatikan urutan mekanisme bagi calon penerima dan calon lokasi, persyaratan yang sangat berat untuk dipenuhi oleh KTT. Pembuatan kandang dan fasilitas lainnya akan membutuhkan dana besar, walapun anggota KTT melaksanakan dengan system swadaya atau gotong royong tetap memakan biaya. Kondisi ekonomi KTT sudah sulit ditambah lagi dengan kewajiban sudah pasti membuat para KTT enggan untuk menerima bantuan.
Kondisi dilapangan memperlihatkan syarat tidak menjadi kewajiban bagi KTT, sehingga pelanggaran SOP semakin banyak dilakukan.Ketika pemberi program dan penerima program sepakat melanggar kewajiban sudah tentu berimplentasi kepada kewajiban-kewajiban lainnya.Hal ini sangat sulit dihindari ketika program pemberdayaan harus segera dilakukan karena kebutuhan masyarakat atau juga kepentingan dari kekuatan-kekuatan tertentu.
3. Hak dan Kewajiban
Dari interview mendalam, obeservasi lapangan dan FGD dengan penerima program dan pelaksana program, sepakat mengatakan jika system penyetoran bibit sapi di nilai sangat berat.Pandangan para KTT tidak mempersoalkan kewajiban-kewajiban harus dilakukan sebagaimana aturan yang ada, tetapi mereka berharap apa yang menjadi usulan mereka dapat juga diakomodir dalam program.
Dengan umur bibit yang kecil semakin kesulitan bagi KTT untuk melakukan pemeliharaan, saat seperti inilah kondisi ternak rawan penyakit dan
pada akhirnya akan mati. Ditambahkan “Z” ketua Kelompok Batu Putih (informan):
“…kalau bisa pendistribusian ini juga dibantu dengan biaya pemiliharaan
karena kalau tidak, para anggota kelompok yang punya kesulitan dalam memenuhi kehidupan sehari-hari terpaksa menjual ternaknya yang pada akhirnya
program ini tidak berkembang…”
Dari pandangan KTT sistem penyetoran ini memberatkan, pertama alasan umur bibit sapi ketika diterima sangat kecil dan kurus, perlu 3 tahun bagi yang betina akan melahirkan. Kedua, dengan waktu yang lama KTT akan lebih fokus pada pemeliharaan dengan pengeluaran rutin tapi tidak ada pemasukan. Banyak KTT sebelum melahirkan atau sebelum membayar kewajiban sapi sudah dijual.Sistem penyetoran ini bahkan di katakan sala satu anggota KTT nuya bantuan tapi pemerasan (bukan bantuan tapi pemerasan).System penyetoran bibit sapi bantuan pemerintah daerah pada tabel 9.
Tabel 9: Sistem penyetoran bibit sapi untuk bantuan Pemerintah Daerah
No Jenis Kelamin Penyetoran
Jantan Betina Jantan Betina
1 1 1 1 2
2 2 2
Sumber data: Diolah dari Interview mendalam
Sistem penyetoran Sai bayar dua (satu bayar dua) untuk bantuan ternak betina dan satu bayar satu untuk bantuan ternak jantan. Jika bantuannya jantan dan betina maka harus bayar 3, meski penyetoran memang tidak wajib dibayar setiap kelahiran. Penyetoran bibit kadang diberikan kepada ketua KTT atau diberikan kepada Kantor Cabang Dinas (KCD) Kecamatan.Beratnya sistem penyetoran bibit ini sesuai pernyataan A (informan),
“…ada kendala yang sangat berat dirasakan oleh masyarakat, terkait sistem penyetoran bibit sapi…”
Penyetoran bibit sapi mendapatkan tanggapan yang beragam dari penerima program dan pemberi program, dan saling menyudutkan satu sama lain. Bisa diantara ketua KTT dengan anggotanya atau pemberi program dengan KTT.Tidak ada keterbukaan siapa penerima penyetoranbibit sapi diberikan KTT.Dari beberapa kejadian bibit sapi hasil penyetoran ada yang dijual oleh KTT maupun pegawai yang terlibat dalam program.
Kalau bantuan yang diberikan berumur setahun, perlu waktu tiga tahun untuk kelahiran pertama. Dalam masa penantian yang panjang ini banyak KTT menjual ternak, ketiadaan jaminan ekonomi seperti dana pemeliharaan membuat usaha penggemukan tidak berjalan lancar sampai melakukan penyetoran. Tapi dari beberapa kegagalan anggota KTT, ada beberapa orang yang masih memiliki ternak.Bayangkan dengan program yang dilakukan Program Bumi Sejuta Sapi dari Provinsi setiap kelompok yang menerima bantuan diberikan uang tunai dan diwajibkan untuk membeli sapi yang sudah dalam keadaan hamil, dengan harapan
cepat terjadinya penambahan populasi dan tanpa ada system penyetoran yang akan dilakukan.
4. Pelaporan Monitoring dan Evaluasi Ternak
Kegiatan ini seharusnya menjadi landasan bagi pemberi program dalam melakukan evaluasikeberhasilan dan kegagalan program pemberdayaan.Pemantauan yang tidak langsung ke lapangan melahirkan asumsi data perkembangan bantuan tenak berbeda dengan kondisi dilapangan.Sehingga pemberi program menganggap program pemberdayaan berjalan sesuai dengan harapan, seperti data-data data sekunder yang terdapat di pemberi program sedangkan data empirisnya jauh berbeda.
Dari hasil observasi dilapangan, tidak rutinnya petugas dinas yang datang melakukan monitoring dan evaluasi, menyebabkan Kelompok Tani Ternak kesulitan melakukan konsultasi ketika ternak dalam kondisi sakit, kedatangan dinas biasanya hanya ada ketika akan dilakukan penyetoran bibit. Dalam pelaksanaan yang ada di lapangan sangat sulit menjumpai petugas peternakan dilapangan, Akibat kurangnya kontrol seperti ini, banyak KTT melakukan pengobatan sendiri dan terkadang banyak menggunakan obat-obat tradisional.sangat jarang petugas datang melihat atau memeriksa ternak, hanya kita yang melapor ke Dinas, itupun belum tentu langsung untuk di cek. Disamping itu program pemberdayaan masyarakat Kelompok Tani Ternak ini seharusnya memperhatikan kondisi musim ketika akan melakukan pendistribusian ternak.
Kurang maksimalnya monitoring dan evaluasi membuat KTT menganggap program yang ada sebagai hibah dari pemerintah karena tidak pernah datang dan ditanya tentang perkembangan ternak yang sudah diberikan.Dalam pelaksanaan yang ada di lapangan sangat sulit menjumpai petugas peternakan dilapangan, hal ini dipertegas oleh T (informan)
“…sangat jarang petugas datang melihat atau memeriksa ternak,
hanya kita yang melapor ke Dinas, itupun belum tentu langsung untuk
di cek…”
Kebiasaan dalam waktu yang lama seperti ini, akan menyulitkan bagi pemberi program untuk memulai dari mana menangani persoalan yang sudah menumpuk dalam beberapa tahun. Tahapan dari implementasi program dari indikatorm uraian dan harapan pada tabel 10.
Tabel 10. Tahapan implementasi program dengan indikator uraian dan harapan
No Indikator Uraian Harapan
1 Seleksi dan verifikasi Serta tata Cara pendistribusian ternak KTT yang mendapatkan bantuan bibit sapi, yang
punya dekat dengan
pemberi program/pihak
lain yang punya
kekuatan menentukan
kebijakan baik kedekatan
emosional maupun
Seleksi dilakukan sesusi
dengan SOP dan Dinas yang
membidangi program ini
punya ketegasan dan tidak tunduk kepada pihak lain yang akan merusak program
kedekatan politik
2 Calon Penerima
dan calon lokasi penerima bantuan ternak
Calon penerima yang sudah lolos verifikasi administrasi, diberatkan dengan kewajiban pada point (a) telah memiliki fasilitas balai pertemuan,
kandang kumpul,
kandang jepit, papan
nama kelompok dan
buku administrasi, (b) memiliki lahan menanam makanan ternak (HTM). Syarat ini menyulitkan KTT karena tidak ada dana pemeliharaan dan
pembuatan kandang
yang diberikan
Selain bantuan ternak, KTT
mengharapkan bantuan
pembuatan fasilitas penunjang
dan diberikan dana
pemeliharaan ternak
3 Hak dan kewajiban Dititikberatkan pada
kualitas bibit yang
terlalu kecil dan kurus sehingga rentan penyakit dan system penyetoran yang memberatkan KTT.
Bantuan yang diberikan seperti bantuan ternak dari provinsi dan kalaupun diberlakukan system penyetoran tapi tidak seperti sekarang
4 Pelaporan
monitoring dan evaluasi ternak
Pelaporan monitoring
tidak dilakukan teratur,
akibatnya pemberi
program tidak tahu data
dan pekembangan
ternak. Hubungan
dengan KTT tidak lancar
sehingga persoalan
ternak tidak segera
ditanggulangi. Evaluasi
ternak juga jarang
dilakukan akibatnya
program tidak
mendapatkan perbaikan
dari pertama adanya
program sampai dengan saat ini.
Harus selaksanakan untuk
memudahkan perkembangan
ternak dan KTT dan dilakukan perbaikan terhadap program berdasarkan persoalan yang ditermukan dilapangan.
Sumber data: diolah dari wawancara mendalam dan FGD
Analisis Ketidaberdayaan KTT pedaging di Kabupaten Sumbawa Barat Paradgima dari pemberi program terhadap masyarakat KTT adalah paradigma tidak berdaya, KTT dilihat hanya penerima bantuan tanpa dilabeli dengan kemampuan diri dan kemauan untuk berusaha memperbaiki hidup dan tanggungjawab dirinya.Pandangan seperti ini telah mengurangi tanggungjawab dari pemberi program sampai dengan tenaga tekhnis yang ada dilapangan. Hal ini diperkuat oleh pernyataan informan:
“…Sejatinya program ini sudah diketahui tidak akan berjalan baik, ditambah dengan program “sampi Pitu‟ ” (sapi tuju) semakin memperparah program yang sudah ada.Program tetap dilakukan meskipun belum ada perbaikan tetapi tetap dilakukan karena merupakan program daerah dan tidak adanya kemampuan dari tenaga- tenaga tekhnis dalam memberikan penjelasan ke tingkat lebih tinggi. Pada akhirnya bisa dilihat kalau perangkat pemerintah sendiri dari dinas tekhnis sampai dengan tenaga lapangan tidak berdaya secara struktural karena masih tunduk kepada kekuatan lain yang tidak
disebutkan dalam peraturan atau kibijakan pemerintah…”
Pengawalan kebijakan dari pemerintah sangat lemah sehingga program yang sudah disusun dengan baik namun belum berjalan dengan maksimal, 8 (delapan ) tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuag program, seharusnya sudah menghasilkan sesuatu yang lebih baik bagi pemberdayaan KTT. Ini membuktikan bahwa tidak semua kegagalan hanya datang dari KTT tetapi pembuat kebijakan juga memegang porsinya dalam kegagalan karena faktanya pemberi program juga tidak berdaya secara struktural dari tekanan politik dan kepentingan yang lain. Disampaikan informan
“…Pendistribusian ternak kepada KTT seringkali dipengaruhi oleh politik, dimana pemerintah terkadang ikut memberikan ruang yang cukup bagi partai/orang politik tertentu dalam memberikan bantuan
walaupun prosedur administrasi dari KTT belum dilengkap…”
Ketidakberdayaan bukan juga milik penerima program tapi juga pemberi program, karena tidak memiliki kekuatan dalam menentukan program sesuai dengan aturan yang ada tapi tetap dipengaruhi atau dibawah tekanan pihak lain, sehingga implementasi program tidak berjalan maksimal.
Tenaga pendamping dan pengawas yang merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah diharapkan menjadi yang terdepan dalam memastikan program pemberdayaan berjalan sebagaimana mestinya tetapi observasi lapangan menunjukkan kalau ketersediaan perwakilan pemerintah inilah sala satu indikasi kegagalan program. Dari wawancara mendalam yang dilakukan dengan perangkat pemerintah ini ditemukan beberapa hal yang merupakan kendala pada pemberi program seperi; Sumber Daya Manusia dari pendamping/pengawas, pelatihan dan kecakapan dalam berinteraksi dengan masyarakat KTT, struktur di dinas yang membawahi program pemberdayaan dianggap masih belum terarah, fasilitas dan infrastruktur dan dana untuk monitoring dan evaluasi program. Disampaikan informan:
“…ketegasan pemerintah selaku pemberi program dalam
memberlakukan aturan sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja Ternak Pemerintah (SPKTP) dimana didalamnya terdapat beberapa sanksi bahkan pidana bagi pihak-pihak yang melanggar perjanjian”. Kelemahan ini diartikan oleh KTT sebagai sebuah peluang membuat kelalaian baru dan seterusnya…”
Analisis ketidakberdayaan tentang uraian, KTT dan pemberi program pada tabel 11.
Tabel 11. Uraian ketidakberdayaan KTT dan pemberi program
No Uraian KTT Pemberi program
1 Relasi kekuasaan Informasi dikuasai
oleh orang terdekat pemberi program
Staf tidak berdaya terhadap kekuatan politik
2 Kekuasaan ekonomi Tidak memiliki
kontrol terhadap
kualitas bibit
Tidak memiliki
dana pemeliharaan ternak
Staf tidak berdaya terhadap
penentuan tender sapi
3 Kekuasaan sosial Ketiadaan akses
informasi dan teknologi Tidak ada pendidikan dan pelatihan Tidak bersemangat karena sistem penyetoran memberatkan
Staf tidak punya keberanian memutuskan
Dari interview mendalam berdasarkan tipe kreteria, pertanyaan dan evaluasi program ditemukan kalau program pemberdayaan yang sudah dilakukan hanya sebatas melaksanakan kewajiban pemberi program. Tahapan ini hanya seremonial karena setelah ini tidak ada tejalin hubungan komunikasi aktif diantara dua belah pihak. Penerima program menganggap bantuan yang diberikan hanya sebagai sumbangan pemerintah, jadi apapun yang akan dilakukan terhadap bantuan (bibit sapi) bukan lagi tanggungjawab pemberi program. Jadi banyak bantuan ternak yang diberikan langsung dijual
Efektitas program, belum memuaskan KTT sapi pedaging Karena program ini tanpa melibatkan masyarakat sebagai bagian dari program pemberdayaan. Resfonsifitas, partisipasi masyarakat hanya ketika bantuan akan diberikan setelah itu tidak ada komunikasi dan intraksi antara penerima program dan pembuat program
Perataan(Equity), selama program berjalan terdapat 5 KTT sapi pedaging yang mendapatkan program tetapi dengan program yang berbeda. KTT sapi pedaging Lang Aor mendapat bantuan dari Provinsi NTB, 4 KTT lainnya mendapat bantuan pemerintah daerah KSB dengan jumlah ternak yang berbeda beda.
Ketepatan, KTT sapi pedaging yang mendapatkan program masih melihat kedekatan antara pemberi program dan penerima program dan yang punya akses politik kepada penentu kebijakan. Program pemberdayaan belum mampu mengurangi kesenjangan ekonomi KTT sapi pedaging dengan masyarakat sekitar
Belum ada upaya pelatihan atau pembinaan dan pendampingan KTT sapi pedagig secara berkala di desa Kalimantong. Keterlibatan KTT sapi pedaging hanya menjadi objek program bukan menjadi bagian dalam program pemberdayaan. Analisis Penerima Program dan Pemberi Program Sebagai Penentu Keberdayan KTT Sapi Pedaging di Kabupaten Sumbawa Barat
Analisis penentu keberdayaan KTT sapi pedaging di KSB terletak pada penerima program dan pemberi program. Keberadaan 2 (dua) faktor ini menjadi sangat menentukan keberhasilan dari program pemberdayaan.
Dari FGD, wawancara mendalam dan observasi lapangan dapat disimpulkan beberapa penerima program dan pemberi program KTT disajikan dalam tabel 12.
Tabel 12.Penerima program dan pemberi programprogram pemberdayaan No. penerima program No. pemberi program
1 Keterbatasan Akses 1 Kepemimpinan 2 Keterbatasan Akses Pemeliharaan 2 Konsistensi Implementasi Program 3 Pendidikan dan Pelatihan KTT 3 Fasilitator 4 Ketiadaan Jaminan
Ekonomi 4 Monitoring dan Evaluasi
Sumber data: Diolah dari hasil wawancara mendalam dan FGD Penerima Program
Keterbatasan Akses, dari keseluruhan KTT sapi pedaging yang mengajukan proposal hanya 5 yang mendapatkan bantuan ternak di desa Kalimantong. KTT yang mendapatkan bantuan ternakpunya kedekatan dengan pemberi program ataupun pihak lain yang punya pengaruh kepada kebijakan seperti partai polik. Sedangkan yang tidak punya akses sangat sulit mendapatkan bantuan ternak.Akses ini bisa kepada program pemerintah daerah maupun program provinsi. Pendistribusian ternak masih tidak tepat sasaran anggota/ KTT seringkali mendapatkan bantuan lebih dari sekali padahal masih banyak KTTyang secara administrasi layak untuk mendapatkan bantuan..
Keterbatasan Akses Pemeliharaan, dengan usia bibit sapi yang sangat kecil tentu membutuhkan waktu yang lama dalam pemeliharaan, waktu 2 tahun dibutuhkan untuk membesarkan bibit sapi sampai dengan usia melahirkan. Kualitas bibit Sapi mendapat banyak keluhan KTT sapi pedaging kalau pendistribusian bantuan ternak sapi telalu kecil sehingga rentan dengan penyakit dan kematian.Dari wawancara mendalam dengan infoman “C” mengatakan bahwa.
„ …kalau bibit sapi yang diberikan sangat tidak lanyak atau sering
Tidak seperti program dari provinsi NTB, bantuan ternak yang diberikan sudah siap bunting/sudah bunting.Jadi waktu pemeliharaan tidak selama program yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Bagi bantuan bibit sapi jantan wajib menyetorkan satu bibit sapi dan bantuan bibit sapi betina wajib menyetorkan dua bibit sapi kepada pemberi program.Penyerotan bisa dilakukan sekaligus atau rentang waktu dua tahun sekali. Pindidikan dan Pelatihan KTT, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan teknologi baru yang dibutuhkan KTT sapi pedaging dalam upaya mendukung program.Sapi-sapi yang terserang penyakit