• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONDISI UMUM KAWASAN

ANALISIS DAN SINTESIS

Aspek Biofisik

Lokasi dan Aksesibilitas Tapak

Jalan internal dengan lebar 3 meter dan perkerasan semen atau cone block dapat dimanfaatkan untuk jalur sirkulasi delman, namun penggunaannya harus disesuaikan dengan konsep sirkulasi. Jalur sirkulasi untuk kendaraan bermotor di areal sempadan situ tidak sesuai dengan pengembangan konsep sirkulasi, sehingga harus dialihfungsikan sebagai sirkulasi pejalan kaki dan delman, sehingga jalan harus dibuat dengan dua jalur (pejalan kaki dan delman).

Kemudahan aksesibilitas (pencapaian ke dalam site) ke Perkampungan Budaya Betawi (PBB) dapat menjadi daya tarik sendiri, sehingga dapat dikunjungi oleh wisatawan. Pusat-pusat kegiatan di sekitar PBB yang selama ini menjadi daya tarik masyarakat Jakarta menjadikan PBB sebagai area potensial dan sebagai tujuan wisata alternatif bagi wisatawan. Area potensial penarik pengunjung di sekitar PBB dapat dilihat pada Gambar 30.

Gambar 30. Area Potensial Penarik Pengunjung di Sekitar PBB

Jalur sirkulasi yang akan dikembangkan di tapak akan didominasi oleh sirkulasi pejalan kaki, sedangkan jalur kendaraan bermotor milik pengunjung hanya sampai areal parkir yang bersisian dengan jalan kolektor dan selanjutnya pengunjung dapat melanjutkan perjalanan dengan delman, atau be rjalan kaki.

(Lemtek FTUI dan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, 2001). Pemilihan delman sebagai alat transportasi utama karena delman sesuai dengan ruang lingkup kehidupan Betawi. Selain itu karena kecepatannya yang lambat sehingga pengunjung dapat menikmati suasana perkampungan Betawi disekelilingnya.

Pola Penggunaan Lahan

Dari data tata guna lahan di kawasan waterfront tersebut terlihat bahwa penggunaan untuk permukiman paling tinggi (35.40 %). Oleh karena itu, perlu penataan kembali permukiman tersebut sesuai dengan pengembangan kawasan

waterfront sebagai penunjang kawasan PBB sebagai tujuan wisata dan penunjang situ sebagai daerah resapan air. Oleh sebab itu, rumah-rumah penduduk harus bernuansa atau berarsitektur Betawi, dan sebagai daerah resapan air diberlakukan KDB sebesar 20 %. Kawasan permukiman mengakomodasi aktivitas seperti mempelajari pola -pola ruang dalam rumah adat Betawi, dan pekarangan rumah dapat dimanfaatkan bagi pengunjung yang ingin mengenal tanaman khas Betawi, serta memetik dan membeli hasil kebun warga.

Area perairan (Situ Babakan) sesuai dengan rencana Pemerintah Daerah DKI Jakarta akan diperluas menjadi 32 ha, sehingga dapat menunjang situ sebagai areal rekreasi yang mengakomodasi kegiatan seperti memancing dan bersampan.

Kawasan hijau dan rawa mendukung kestabilan kuantitas air situ. Fasilitas umum di sekitar situ akan menyebabkan turunnya kualitas maupun kuantitas air situ. Hal ini dapat disebabkan aktivitas pengunjung seperti membuang sampah di badan air dan penggunaan air situ. Pe mbatasan jumlah pengunjung sangat perlu dilakukan pada kawasan waterfront ini agar daya dukung sumberdaya tidak terlampaui dan sumberdaya itu sendiri tidak rusak.

Tanah

Tekstur tanah yang liat dengan permeabilitas dan drainase yang buruk menyebabkan permukaan tanah menjadi basah dan licin jika terkena air atau hujan sehingga tidak sesuai untuk jalan setapak dan pusat-pusat aktivitas manusia.

Untuk kenyamanan pengunjung, perlu adanya perkerasan pada jalur sirkulasi dan tempat-tempat aktivitas manusia. Untuk mempertahan kualitas dan kuantitas air situ serta potensi air tanah tapak, maka dalam rencana tata ruang harus mempertahankan keberadaan kawasan hijau, di areal inlet dan outlet situ ditanami tanaman dengan fungsi konservasi.

Pengembangan perkerasan dapat mengakibatkan meningkatnya aliran air ke luar. Hal ini dapat mengurangi jumlah air yang meresap ke lapisan tanah dibawahnya yang merupakan pemasok air yang dibutuhkan oleh mata air. Oleh karena itu, permukaan perkerasan perlu memiliki pori-pori, yang memberikan jalan bagi air untuk menuju lapisan tanah dibawahnya, sehingga aliran air tidak

hanya mengalir ke danau (Walker, 2002). Beberapa bahan yang memiliki sifat ini adalah beton aspal, kerikil dengan epoxy dan beton pracetak berbentuk kotak.

Mengingat salah satu fungsi kawasan sebagai daerah resapan air, maka jenis perkerasan yang digunakan sebaiknya harus dapat menyerap banyak air. Sistem perkerasan terbuka dapat meningkatkan penyerapan air tanah dan kualitas estetiknya lebih baik dari perkerasan lainnya (Brooks, 1988). Gambar 31 memperlihatkan Turfblok sebagai contoh perkerasan terbuka. Selain itu, sistem perkerasan terbuka (open paving system) juga dapat berperan sebagai pengendali erosi yang umum digunakan pada lereng yang rapuh di sepanjang jalan dan di pinggir danau atau sungai.

Gambar 31. Turfblok sebagai contoh perkerasan terbuka

Sumber : Walker, 2002. Rancangan Tapak dan Pembuatan Detil Konstruksi

Sifat fisik tanah yang sesuai adalah kesuburan tanah, derajat kemasaman tanah, dan kepekaan tanah terhadap erosi. Sedangkan sifat fisik tanah yang tidak sesuai adalah drainase yang buruk, kandungan zat organik dan unsur hara yang rendah, serta kedalaman efektif yang dangkal. Banjir dan genangan air pada tanah sedapat mungkin harus dihindari dengan cara perbaikan drainase. Sedangkan untuk meningkatkan kandungan zat organik dan unsur hara di tapak, diperlukan

usaha perbaikan melalui pemupukan, pengapuran, dan perbaikan sistem drainase tanah.

Topografi

Kondisi tanah yang rapuh dan mudah tererosi disebabkan karena pengaruh air hujan dan hembusan angin yang kencang (Hakim, 2002). Akar tanaman dapat mengikat tanah sehingga tanah menjadi kokoh dan tahan terhadap pukulan air hujan serta tiupan angin. Selain itu juga dapat berfungsi untuk menahan air hujan yang jatuh secara tidak langsung ke permukaan tanah. Tanaman Pencegah erosi dapat dilihat pada Gambar 32.

Sinar Matahari

Maksimal 45 derajat

Perhatikan Karakter Akar Jenis Tanaman Merambat

Karakter Tanah Air Hujan

Gambar 32. Tanaman Pencegah Erosi

Sumber : Hakim, 2002. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap.

Karakteristik kemiringan muka tanah akan menentukan daerah-daerah yang sesuai fungsi pemanfatannya dan segi enjineringnya. Pada daerah berkontur dengan kemiringan tertentu memerlukan penyelesaian kontruksi tertentu pula.

Kawasan in i dibagi menjadi tiga kelas yaitu 0-8 % ,8-15 %, dan >15%.

Kemiringan lereng 0-4 % diklasifikasikan sebagai daerah datar dan sesuai dengan aktivitas atau kegiatan padat seperti, tempat parkir (Hakim, 2002). Lebih lanjut dikemukakan kemiringan lereng 4-10 % sesuai untuk kegiatan sedang dan ringan seperti, tempat gazebo.

Bentukkan lereng dengan ketinggian yang bervariasi dapat menjadi potensi estetika secara visual dan menghilangkan kesan monoton pada tapak.

Lahan yang berlereng memiliki kesan yang dinamis (Simonds, 1983). Oleh karena itu, di tempat-tempat tersebut, dapat dibuat stop area dengan fasilitas seperti bangku taman sehingga pengunjung dapat menikmati pemandangan di tapak.

Tangga dan ramp dibutuhkan pada area yang tidak datar. Pada sirkulasi yang mendaki atau menurun, perlu dipertimbangkan sudut kemiringan jalan.

Penggunaan standar ketinggian anak tangga menjadi pertimbangan agar sudut kemiringan tangga tidak terlalu curam (Hakim, 2002). Lebih lanjut dikemukakan, penggunaan bordes (lantai rata diantara anak tangga berfungsi sebagai tempat beristirahat dan mengurangi kecuraman tangga) diperlukan. Secara keseluruhan penyesuaian ini akan mempengaruhi pembentukan muka tanah yang disesuaikan dengan desain pola sirkulasi yang diinginkan.

Hidrologi

Situ Babakan tidak sesuai jika digunakan untuk usaha perikanan dan peternakan (Bapedalda, 1997). Walaupun demikian, masih banyak terdapat Keramba Jaring Apung (KJA) sebagai tempat bertani ikan milik penduduk setempat.

Teknik untuk merehabilitasi situ dapat berupa usaha pencegahan (preventif) atau perbaikan (kuratif) (Bapedalda DKI Jakarta, 1997). Cara tersebut

dapat digunakan secara bersamaan untuk mendapatkan hasil yang terbaik, karena cara preventif akan memberi hasil dalam jangka panjang dan cara kuratif digunakan untuk mereduksi kapasitas sedimen. Dengan melihat kodisi situ-situ di DKI Jakarta, maka cara preventif yang dapat dilakukan untuk mengurangi masalah pencemaran situ adalah dengan mengendalikan masuknya materi pencemar ke dalam perairan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara berbagai berikut yang disesuaikan dengan kondisi Situ Babakan saat ini :

1. Melaksanakan peraturan tentang larangan membuang sampah, baik di badan air maupun di areal sempadan.

2. Membuat penahan sampah di inlet dan outlet situ. Sampah tersebut diangkat secara periodik dan dibuang ke tempat pembuangan sampah sementara atau akhir.

3. Penanaman areal sempadan situ dengan berbagai jenis tanaman khas betawi yang dapat melindungi situ dari erosi tanah dan menurunkan sedimen di dala m air limpasan yang masuk ke dalam situ pada musim hujan.

Cara-cara preventif tersebut dapat dipadukan dengan cara -cara kuratif sebagai berikut :

1. Memperdalam perairan situ dan pengerukan sedimen situ yang sesuai dengan rencana pemda DKI Jakarta mengenai pe rluasan/normalisasi Situ Babakan.

2. Menanam tumbuhan air pada zona sekitar inlet dan outlet Situ babakan yang dapat menurunkan zat pencemar di dalam air karena di serap oleh tumbuhan tersebut. Jenis tumbuhan air tersebut misalnya adalah tanaman eceng gondok yang ditanam dalam Keramba Jaring Apung (KJA).

Menurut Bapedalda DKI Jakarta (1997) salah satu teknologi tepat guna dan ekonomis serta masih dilakukan oleh negara maju seperti di California (USA) adalah Biological Control dengan menggunakan tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes). Tanaman ini mempunyai kemampuan untuk menyerap bahan pencemar, khususnya senyawa organik pada perairan danau dengan tingkat kesuburan yang tinggi. Namun, penggunaan tanaman eceng gondok juga dapat menimbulkan dampak negatif jika tidak ada pembatasan jumlahnya. Satu batang

eceng gondok dalam jangka waktu 52 hari akan menjadi seluas 1 m2 (Suprapti, 2000). Jika tidak dibatasi pertumbuhannya, maka permukaan danau akan tertutup tanaman eceng gondok dan kandungan O2 di air akan ber kurang, yang selanjutnya akan menyebabkan ekosistem air terganggu dan aktivitas rekreasi air akan terhambat.

Keramba Jaring Apung (KJA) merupakan salah satu cara untuk membatasi biomassa eceng gondok. Dengan ukuran jaring KJA yang sangat kecil dan dilengka pi dengan ijuk, biji, bunga, dan tanaman eceng gondok dapat tersangkut jaring (tidak tersebar ketempat lain), dan mudah dibuang. Dengan adanya produksi tanaman air (biomassa) dari perlakuan ini dapat dipanen dan dilakukan pengomposan dengan menggunakan cacing komersial dan kascing (tanah kompos) sehingga dapat digunakan sebagai pupuk. KJA yang berisi eceng gondok dialokasikan dibagian paling luar di sekitar outlet Situ Babakan (Bapedalda DKI Jakarta, 1997).

Penggunaan Situ Babakan sebagai tempat memelihara ikan dengan KJA merupakan potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat dan menarik perhatian pengunjung. Jika KJA berkembang tanpa batas, akan menimbulkan dampak yang buruk bagi aktivitas manusia di danau dan sekitarnya. Menurut jika jumlah KJA berkembang tanpa batas, maka akan menyebabkan penumpukan limbah organik yang menumpuk di dasar waduk.

Hal ini dapat menyebabkan pendangkalan situ, menghasilkan bau tak sedap serta mengakibatkan berkurangnya kualitas dan kuantitas air situ (Garno dan Adibroto, 1999).

Agar limbah organik yang dihasilkan tidak mencemari seluruh situ, maka letak KJA sebaiknya berada pada outlet situ. Untuk menjaga kualitas dan kuantitas air situ, maka kawasan di sekitar inlet dan outlet situ dijadikan kawasan preservasi. Rekreasi air dapat dilaksanakan di tengah situ dengan pembagian ruang untuk berbagai jenis rekreasi yang akan dikembangkan.

Berdasarkan hasil analisis mikrobiologi perairan Bapedalda DKI Jakarta (2004), konsentrasi mikrobiologi baik Coliform maupun Fecal coli masih di bawah baku mutu. Coliform dan Fecal coli di kenal sebagai penyebab penyakit Diare serta sering kali merupakan wabah penyakit bagi manusia. Untuk

pencegahan tercemarnya situ oleh Coliform dan Fecal coli maka dapat dilakuka n penyuluhan pembuatan septic tank , tidak mengizinkan pembuangan tinja secara langsung ke situ (badan air), dan penggunaan eceng gondok untuk pengelolaan perairan situ sehingga jumlah mikroba yang berbahaya dapat ditahan pertumbuhannya.

Kualiatas air Situ Babakan termasuk kategori sedang. Untuk mencegah semakin buruknya kualitas air tersebut maka perlu dilakukan pembuatan sistem aerasi untuk menambah oksigen terlarut dalam air yang penting bagi proses oksidasi senyawa organik yang komplek menjadi lebih sederhana. Dengan demikian golongan peruntukan air dapat lebih baik lagi. Salah satu cara pembuatan sistem aerasi yaitu dengan sestem air mancur (Bapedalda, 1997).

Selain itu, untuk mencapai pengelolaan perairan situ yang baik, maka diperlukan sistem pemantauan yang dapat digunakan (operasional) sebagai tolak ukur keberhasilan tingkat pengelolaan yang telah dilaksanakan.

Iklim

Penyebaran vegetasi yang baik merata dapat menyebabkan kondisi iklim mikro yang lebih nyaman dibandingkan pada tempat terbuka. Penanaman vegetasi di tapak telah dilakukan pada awal pengembangan namun penanaman tanaman peneduh terutama dipinggir-pinggir pada bagian tertentu kerapatannya masih kurang. Oleh karena itu, perlu dilakukan penambahan pepohonan atau struktur peneduh pada tempat-tempat terbuka. Adanya pepohonan dan peneduh dapat menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk dan nyaman bagi pengunjung melalui penurunan temperatur. Pepohonan lebih cenderung meningkatkan kelembaban, sehingga kelembaban udara di tapak perlu diperhatikan untuk mengetahui tipe pohon yang akan ditanam. Pengendalian iklim mikro dengan pepohonan dapat dilihat pada Gambar 33.

S i a n g M a l a m

Siang Malam

Gambar 33. Pengendalian Iklim Mikro dengan Pepohonan

Simber : Brooks, 1988. Site Planning: Evaluat ion, Process, and Development

Dominasi warna hijau tanaman juga akan membantu menambah kesejukan, karena warna hijau termasuk dalam kelompok warna sejuk. Warna hijau yang dihadirkan oleh dedaunan banyak mengandung klorofil dan di pagi hari akan memberikan kesegaran pada mata.

Warna-warna panas seperti merah sebaiknya tidak digunakan secara berlebihan untuk menghindari peningkatan suhu udara. Untuk perkerasan (paving) warna -warna panas ini di siang hari akan menyilaukan pandangan mata dan memantulkan hawa panas. Oleh sebab itu pemilihan warna yang mendekati warna alami (natural) untuk perkerasan sangat cocok, karena bermanfaat baik secara

biologis maupun psikis bagi para pengunjung dan penduduk sekitar. Secara umum pemilihan warna untuk perkerasan (paving) dan bangunan yang telah dibangun sudah memenuhi kriteria di atas.

Kelembaban rata-rata bulanan 79,70 %, dengan kisaran 72,54-86,55 %.

Adanya elemen air (Situ Babakan) dapat meningkatkan kelembaban udara (Laurie, 1986). Secara umum kelembaban udara di kawasan Situ Babakan cukup tinggi dengan rata-rata. Manusia dapat beraktivitas dengan nyaman pada kondisi kelembaban udara ideal, yaitu sekitar 40-75% (Laurie, 1990). Peningkatan kelembaban di daerah tropis menyebabkan kenyaman manusia berkurang, namun gerakan air akan menimbulkan kesejukan dari segi psikologis (Brooks, 1988).

Disamping itu, manusia telah toleran terhadap kelembaban relatif yang tinggi daripada suhu yang tinggi.

Untuk mengatasi kelembaban yang cukup tinggi dapat dilakukan pengaturan massa vegetasi dan struktur bangunan yang tepat dan memenuhi syarat kenyamanan. Pengaturan massa vegetasi yaitu menggunakan pepohonan yang berbatang tegak dengan percabangan yang jarang dan tinggi cabang 2,5-3 m di atas permukaan tanah. Selain itu dibawah pohon tidak ditanami semak atau perdu.

Pengunaan jenis pepohonan yang tepat dan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, akan memungkinkan sirkulasi udara yang dapat menurunkan kelembaban.

Struktur pohon yang tidak menghambat pergerakan udara dapat dilihat pada Gambar 34. Sedangkan struktur bangunan yaitu dengan penyediaan shelter dan gazebo.

B e b a s p e r c a b a n g a n 2 . 5 - 3 . 0

A n g i n B a t a n g t e g a k d e n g a n p e r c a b a n g a n j a r a n g

Gambar 34. Struktur Pohon yang Tidak Menghambat Pergerakan Udara

Curah hujan rata-rata 191,42 mm/bulan, dengan kisaran 57,72-321,13 mm/bulan. Curah hujan yang terja di di kawasan Situ Babakan termasuk tinggi.

Curuh hujan yang tinggi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bagi vegetasi dan Situ Babakan itu sendiri. Pengunaan vegetasi dapat membantu mengatasi kekeringan pada musim kemarau karena air di permukaan tanah akan diikat akar tanaman. Curah hujan yang cukup tinggi akan menghambat aktivitas di tapak, sehingga perlu disediakan tempat berlindung dari hujan. Peneduh harus dapat dimanfaatkan pada waktu curah hujan tinggi maupun rendah. Pada waktu curah hujan rendah, peneduh akan melindungi pengunjung dari terik matahari.

Peneduh tersebut dapat berupa pepohonan atau shelter dan gazebo yang bernuansa budaya betawi agar membentuk unity dengan lingkungan tapak (Gambar 35).

Gambar 35. Shelter, gazebo , dan Pohon sebagai Peneduh

Kecepatan angin rata-rata bulanan 4,9 km/jam, dengan kisaran 4-6,57 km/jam. Kecepatan tersebut berada dalam kisaran angin yang nyaman yaitu

1,0-6,0 km/jam. Angin yang tidak terlalu kencang dapat meningkatkan kenyamanan manusia. Tanaman dapat mengurangi kecepatan angin sekitar 40-50 % (Gambar 36) (Hakim, 2002). Suara desiran angin yang alami dan sejuk merupakan kualitas akustik yang berpotensi untuk dikembangkan. Terdapatmya elemen air seperti Situ Babakan dapat menciptakan angin yang sejuk dan meningkatkan kenyamanan manusia. Penggunaan tanaman semak dan pohon dapat mengendalikan arah dan kecepatan angin. Tanaman tersebut diatur sedemikian rupa sesuai dengan fungsinya seperti untuk menghalangi, menyaring maupun membelokkan arah angin supaya kecepatan anginnya tidak terlalu besar.

Gambar 36. Tanaman Dapat Mengurangi Kecepatan Angin Sekitar 40-50 %

Sumber : Hakim, 2002. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap

Intensitas penyinaran matahari rata-rata bulanan 54,41 %, dengan kisaran 35,36-70,83 %. Intensitas matahari yang tinggi sangat baik untuk tanaman, namun mengakibatkan ketidaknyamanan manusia karena suhu tubuh dan lingkungan tinggi. Intensitas dan lama penyinaran matahari yang tinggi akan menaikkan suhu tubuh manusia baik melalui proses radiasi langsung, konveksi maupun konduksi.

Kondisi ini dapat diatasi dengan membuat peneduh alami maupun buatan yang dapat menaungi pengunjung dari terik matahari.

Vegetasi dan Satwa

Pepohonan yang berada di sekitar danau dengan penyebaran relatif merata dapat berpotensi untuk menyerap air dan penahan erosi, tetapi masih perlu penataan tanaman sehingga dapat menunjang tema pengembangan PBB. Selain berfungsi ekologis, tanaman tersebut juga berfungsi sebagai tanaman peneduh dan estetis. Oleh karena itu, diperlukan penambahan tanaman peneduh dan estetis pada jalur sirkulasi dan pusat aktivitas manusia yang juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas estetis tapak. Jenis tanaman yang tersebar dipinggir danau, umumnya jenis tanaman keras dan mencirikan corak tanaman khas betawi dapat memberikan lingkungan bernuansa khas Betawi. Tabel 12 memperlihatkan Alternatif Tanaman yang ditanam di Situ Babakan.

Tabel 13. Alternatif Tanaman yang ditanam di Situ Babakan

No. Kriteria Tanaman Nama Tanaman Latin

1. Tanaman Langka Duwet/ Jamblang Syzygium cumini

Gandaria Bouea macriphylla

Kantil Michelia alba

Kecapi Sandoricum koetjape

Menteng/ kepundung Baccaurea rasemosa

Nagasari Mesua ferrea

Namnam Cinometra cauliflora

Rukem Flacourtia rukam

Sawo Kecik Manilkara kauki

Sawo Duren Crysophyllum cainito Sempur Dillenia philippinensis 2. Tanaman Habitat Burung Asam Kranji Pithecollobium dulce

Bumbu Kuning Bambusa vulgaris

Beringin Ficus benyamina

Bisbul Diospyros philippensis

Buni Antidesma bunius

Cendana Santalum album

Jambu Mawar Syzygium jambos

Kemiri Aleuritis moluccana

Kersen Muntingia calabura L.

Kluwek Pangium adule

Lobi-lobi Flocourtia inermis Roxb.

Pinang Areca catecu

Tanjung Mimisops elingi

3. Tanaman produktif Alpokat -

Belimbing Averhoa carambola L.

Mangga -

Jambu air Eugenia jambos

Pete -

4. Tanaman eksotis Flamboyan Delonix regia

Kamboja Plumeria

Kemuning cina Aglaia odorata

Kenanga Canangium odoraatum

5. Tanaman bunga Kembang merak Caesalpinia pulcherima Melati costa Brunfelsia sp.

Puring Codiacum variegatum

Bougenvil Bougenville sp.

Kembang sepatu Hibiscus rosasinensis Anggrek tanah Spathoglotis plicata Air mata pengantin Passiflora edulis Sumber : Dinas Pertamanan (2000)

Tanaman khas Betawi dapat berfungsi sosial budaya dan ekonomi.

Keanekaragaman tanaman yang berada di pekarangan penduduk dapat berfungsi dalam rangka ketahanan pangan masyarakat. Selain itu, manfaat bagi pengunjung yaitu pada saat musim buah pengunjung dapat menikmati buah-buahan secara langsung. Tanaman buah, sayur, umbi-umbian, dan buah-buahan dimanfaatkan oleh penduduk dengan cara menjualnya secara langsung maupun diolah terlebih dahulu. Contoh produk olahan yang dibuat oleh penduduk setempat adalah bir pletok (jahe, kayu secang, daun pandan, daun jeruk, lada hitam, dan biji pala) dan jus belimbing. Kegiatan ini dapat menjadi sumber penghasilan penduduk setempat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk sekitar, selain itu juga dapat melestarikan tanaman terutama tanaman khas Betawi.

Dengan adanya keberadaan kawasan hijau dan badan air dapat menjaga fungsi tapak sebagai daerah resapan air, mempengaruhi iklim mikro, dan mendatangkan berba gai jenis satwa liar, misalnya burung, ikan dan serangga.

Kicauan burung dapat menambah nuansa alam pada tapak, sehingga dapat dikembangkan untuk fungsi rekreasi pasif.

Situ Babakan merupakan habitat yang baik bagi berbagai jenis ikan, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk pemancingan umum dan khusus (disewakan), serta tempat pemeliharaan ikan di dalam keramba-keramba milik penduduk setempat. Untuk memenuhi kegiatan ini maka diperlukan pembuatan dek-dek pemancingan.

Visual dan Akustik

Tanama n yang diletakkan ditepi danau menimbulkan bayang-bayang yang dicerminkan oleh permukaan air (refleksi) sehingga dapat menghasilkan pemandangan yang menarik (Gambar 37). Dalam konteks lingkungan, kesan

estetis itu menyebabkan nilai kualitasnya akan bertambah (Hakim, 2002).

Berbagai aktivitas penduduk di situ seperti memancing dan menjala ikan dengan cara tradisional mengundang keingintahuan pengunjung untuk melihatnya dari dekat.

Gambar 37. Refleksi Tanaman terhadap Kolam

Sumber : Hakim, 2002. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap

Danau Situ Babakan tidak dapat dilihat secara menyeluruh dari satu sisi karena luas dan bentuknya. Hal tersebut dapat mengundang keinginan pengunjung untuk menelusurinya lebih jauh sehingga dibutuhkan kemudahan aksesibilitas untuk pengunjung yang dapat ditempuh dari dua sisi, yaitu dari 2 sisi, yaitu melalui jalan darat atau melalui perairan. Bagi pengunjung yang ingin menempuh jalan darat dapat dibuat jalan setapak di luar areal sempadan situ, sedangkan yang

ingin lewat danau dapat menggunakan perahu dan rakit. Untuk mempersingkat waktu dibuat juga jembatan yang menghubungkan kedua sisi situ.

Suara kicauan burung, desiran angin dan gemerisik dedaunan dapat memberikan nuansa alam yang nyaman ditapak. Umumnya bunyi-bunyi tersebut dapat dinikmati di tepi situ babakan yang ditunjang dengan keberadaan kawasan hijau. Potensi tersebut dipertahankan dan dikembangkan dengan menyediakan

Suara kicauan burung, desiran angin dan gemerisik dedaunan dapat memberikan nuansa alam yang nyaman ditapak. Umumnya bunyi-bunyi tersebut dapat dinikmati di tepi situ babakan yang ditunjang dengan keberadaan kawasan hijau. Potensi tersebut dipertahankan dan dikembangkan dengan menyediakan

Dokumen terkait