• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Data

1. Analisis masalah 1

Permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja keuangan pada credit union Keling Kumang pada periode tahun 2012 sampai periode tahun 2016 sudah baik dengan

mengunakan system PEARLS. Sistem PEARLS itu sendiri terdiri dari protection (perlindungan), effective financial structure (struktur keuangan yang efektif), asset quality (kualitas aset), rate of return and cost (tingkat pendapatan dan biaya), liquidity (likuiditas), and sign of growth (tanda – tanda pertumbuhan).

Perhitungan dan pembahsan kinerja keuangan credit union Keling Kumang menggunakan system PEARS adalah sebagai berikut:

a. Perhitungan Kinerja Aktual

Perhitungan kinerja aktual di lakukan untuk mengetahui kinerja keuangan yang real pada Credit Union. Berikut penghitungan kinerja aktual:

1) Protection (Perlindungan)

Indikator protection ini untuk mengukur kecukupan dana cadangan risiko untuk menutupi provisi kredit lalai. Perhitungan protection adalah dengan menghitung nilai ketersediaan dana cadangan risiko terhadap pinjaman lalai lebih dari 12 bulan. Untuk perhitungan indikatornya sebagai berikut:

a) Ketersediaan dana cadangan risiko dan provisi pinjaman lalai lebih dari 12 bulan (P1)

Tujuan Protection digunakan untuk mengukur ketersediaan dana cadangan risiko dan provisi pinjaman lalai yang digunakan untuk menutup total pinjaman macet diatas 12 bulan.

Tabel 5.1: Perhitungan Rasio Ketrsediaan Dana Cadangan Rasio terhadap Total Pinjaman Lalai Lebih dari 12 Bulan

(P1) Credit union Keling Kumang

Sumber: Laporan Neraca dan Data Stasistik CUKK

n/a adalah singkatan yang lazim digunakan di kotak kosong pada tabel dan daftar, kepanjangannya adalah not applicable, not available atau no answer. Singkatan ini digunakan untuk menunjukkan informasi kosong pada sebuah sel tabel karena tidak diperlukan atau memang tidak ada. Dari perhitungan untuk tahun 2012 memiliki nilai sebesar 20% yang berarti setiap Rp 1,00 pinjaman lalai lebih dari 12 bulan dijamin dana cadangan sebesar Rp 0,2 dana cadangan risiko. Di tahun berikutnya, nilai rasio menurun menjadi 17% dari tahun sebelumnya sebesar 20% dan tahun 2014 kembali mengalami penurunan menjadi 15% dari tahun sebelumnya sebesar 17%. Penurunan rasio ini disebabkan terjadinya penurunan jumlah pinjaman lalai lebih dari 12 bulan sedangkan jumlah dana cadangan risiko mengalami perubahan tidak terlalu signifikan dari tahun sebelumnya. Berbeda pada tahun-tahun sebelumnya pada tahun 2015 dan 2016 tidak memiliki dana cadangan risiko yang mengakibatkan not available pada hasilnya. Dari

2012 Rp 15,213,940,262 Rp 76,415,467,575 20% 2013 Rp 15,533,970,993 Rp 89,991,617,800 17% 2014 Rp 14,517,392,704 Rp 96,781,686,875 15% 2015 n/a Rp 73,902,884,784 n/a 2016 n/a Rp 81,658,600,247 n/a Rata-rata 10%

Tahun Dana Cadangan Risiko

dan Provisi Pinjaman

Pinjaman Lalai > 12

perhitungan dapat dikatakan rasio tahun 2012 sampai tahun 2014 tidak ideal/tidak sehat menurut sistem PEARLS, karena nilai persentase kurang dari 100%. Kemudian perhitungan untuk rata-rata rasio P1 adalah 10% ini menunjukkan bahwa jauh dari kriteria ideal/sehat 100%.

b) Ketersediaan dana cadangan risiko terhadap total pinjaman lalai 1-12 bulan (P2)

Tujuan Protection digunakan untuk mengukur ketersediaan dana cadangan risiko bersih yang digunakan untuk menutup total pinjaman macet 1 sampai 12 bulan.

Tabel 5.2: Perhitungan Rasio Ketrsediaan Dana Cadangan Rasio terhadap Total Pinjaman Lalai Lebih dari 12 Bulan

(P2) Credit union Keling Kumang

Sumber: Laporan Neraca dan Data Statistik CUKK

Dari perhitungan untuk tahun 2012 sampai tahun 2015 mengalami penurunan persentase di rasio masing-masing -52% pada tahun 2012 turun menjadi -107% pada tahun 2013 , pada 2014 kembali turun menjadi 140% dari tahun 2013 adalah -107% dan pada tahun 2015 turun menjadi -250% dari tahun 2014 adalah -140% yang berarti sudah tidak ada lagi dana cadangan risiko bersih yang dapat menjamin pinjaman lalai

2012 Rp (61,201,527,313) Rp 118,358,870,600 -52% 2013 Rp (74,457,646,807) Rp 69,630,502,250 -107% 2014 Rp (82,264,294,171) Rp 58,874,071,900 -140% 2015 Rp (73,902,884,784) Rp 29,561,153,914 -250% 2016 n/a Rp 29,163,785,803 n/a rata-rata -110%

Tahun Dana Cadangan Risiko Bersih (a)

Pinjaman Lalai 1-12 bulan

dengan kenaikan penyisihan dana cadangan risiko bahkan persentase setiap tahunnya mengalami penuruan yang sangat signifikan. Persentase yang menghasilkan nilai minus terjadi karena cadangan risiko bersih lebih rendah dibandingkan dengan pinjaman lalai 1 sampai 12 bulan. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa rasio pada lima tahun ini tidak ideal/tidak sehat karena sangat jauh dari kriteria sistem PEARLS yaitu 35%. Pada tahun 2016 tidak ada persentase di karenakan tidak adanya dana cadangan bersih sehingga memperoleh not available (n/a). Kemudian untuk ratarata rasio P2 adalah -110% yang berarti tidak masuk dalam kriteria ideal yaitu 35% 2) Effective financial structure (struktur keuangan yang efektif)

Indikator effective financial structure ini mengukur perbandingan komposisi nomor-nomor perkiraan yang paling penting pada neraca karena struktur finansial yang efektif digunakan untuk mencapai tingkat aman, kepastian mencapai tujuan dan kemampuan memperoleh keuntungan, keamanan dan kesehatan sementara pada saat yang bersamaan juga credit union harus memposisikan diri agar mampu mencapai pertumbuhan yang nyata dan agresif. Untuk perhitungan indikator sebagai berikut: a) Rasio perhitungan Piutang Bersih/Total Aset (E1)

Tujuan effective financial structure digunakan untuk mengukur persentase total asset yang tidak menghasilkan pendapatan.

Tabel 5.3: perhitungan Rasio Piutang Bersih terhadap Total Aset (E1) Credit union Keling Kumang

Sumber: Laporan Neraca dan Data Statistk CUKK

Dari perhitungan pada tahun 2012 diperoleh nilai sebesar 72% yang berarti bahwa setiap Rp1,00 total aset terdapat Rp. 0,72 total piutang yang beredar setelah dikurangi dana cadangan risiko, pada tahun 2013 persentase menurun menjadi 67% dari tahun 2012 yaitu 72%, persentase menurun karena piutang bersih meningkat dari tahun sebelumnya dan kenaikan total aset tidak terlalu besar peningkatannya. Tetapi pada tahun 2014 mengalami peningkatan kembali menjadi 68% dari tahun 2013 yaitu 67% karena total aset meningkat dari tahun sebelumnya sedangkan peningkatan piutang bersih tidak terlalu besar, namun pada tahun berikutnya mengalami penurunan kembali menjadi 65% pada tahun 2015 dari tahun 2014 yaitu 68,% dan 61% pada tahun 2016 dari tahun 2015 yaitu 65% di karenakan total aset mengalami peningkatan yang cukup besar sedangkan piutang bersihnya mengalami peningkatan yang tidak besar. Dari perhitungan dapat dikatakan rasio dalam lima tahun ini tidak ada yang ideal/sehat menurut sistem PEARLS,

2012 Rp 601,593,545,125 Rp 15,213,940,262 Rp 809,048,797,526 72% 2013 Rp 667,638,420,050 Rp 15,533,970,993 Rp 966,407,116,106 67% 2014 Rp 760,912,247,725 Rp 14,517,392,704 Rp 1,096,394,620,636 68% 2015 Rp 769,896,551,750 Rp - Rp 1,193,476,270,569 65% 2016 Rp 781,191,841,450 Rp - Rp 1,289,596,893,106 61% rata-rata 67% E1 = [( a-b)/c ] X 100% Tahun Total Pinjaman Beredar (a) Dana Cadangan Risiko (b) total aset (c)

karena nilai persentasenya lebih dari 5% Kemudian untuk rata-rata rasio E1 adalah 67% yang berarti tidak masuk dalam kreteria ideal/sehat 70-80%.

b) Simpanan non-saham (E5)

Indikator simpanan non-saham tujuannya untuk mengukur peresentase total asset yang didanai dari simpanan non-saham.

Tabel 5.4: Perhitungan Rasio Simpanan non-saham (E5) Credit Union Keling Kumang

Sumber: Laporan Neraca CUKK

Dari perhitungan tahun 2012 diperoleh nilai sebesar 81% yang berarti setiap Rp. 1,00 total asset didanai sebesar Rp. 0,81 oleh simpanan non-saham di tahun berikutnya mengalami persentase kenaikan yakni 82% pada tahun 2013 dari tahun 2012 yaitu 81%, pada tahun 2014 mengalami peningkatan yaitu 82% dari tahun 2013, pada tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar 83% dari tahun 2014 yaitu 82% dan pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 84% dari tahun 2015 yaitu 83% nilai persentase ini mengalami kenaikan dikarenakan total simpanan non-saham yang bersamaan dengan total aset dengan demikian nilai persentase untuk rasio ini dalam lima tahun

2012 Rp 657,264,833,736 Rp 809,048,797,526 81% 2013 Rp 788,494,097,369 Rp 966,407,116,106 82% 2014 Rp 899,084,510,892 Rp 1,096,394,620,636 82% 2015 Rp 985,691,251,434 Rp 1,193,476,270,569 83% 2016 Rp 1,077,835,938,216 Rp 1,289,596,893,106 84% rat-rata 82%

Tahun Total Simpanan

dapat dikatakan tidak ideal/tidak sehat karena melewati batas dari kriteria ideal/sehat yakni 70%-80%. Kemudian untuk rata-rata E5 adalah 82% yang berarti tidak masuk dalam kreteria ideal 70-80%.

c) Pinjamn ke pihak luar (E6)

Pinjaman dari luar ini mengukur persentase total asset yang di danai dari pihak luar.

Tabel 5.5: perhitungan rasio Pinjaman ke Pihak Luar terhadap Total Aset (E6) Credit Union Keling Kumang

Sumber: Laporan Neraca CUKK

Dari perhitungan tahun 2012, 2013, 2014,2015 dan 2016 diperoleh nilai not available (n/a) yang artinya tidak ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh credit union Keling Kumang untuk pihak luar.

d) Modal lembaga bersih (E9)

Modal lembaga ini bertujuan untuk mengukur ketersediaan modal lembaga bersih yaitu dana cadangan, dana risiko, hibah SHU ditahan dan SHU berjalan.

2012 n/a n/a Rp 809,048,797,526 n/a

2013 n/a n/a Rp 966,407,116,106 n/a

2014 n/a n/a Rp 1,096,394,620,636 n/a

2015 n/a n/a Rp 1,193,476,270,569 n/a

2016 n/a n/a Rp 1,289,596,893,106 n/a

rata-rata n/a

E6=(a+b) /c X 100% Tahun Total Kewajiban Pinjaman

Jangka pendek (a)

Total Kewajiban Pinjaman

Tabel 5.6: Perhitungan Modal Lembaga Bersih terhadap Total Aset (E9) Credit Union Keling Kumang

Sumber: Laporan Neraca dan Data Statistik CUKK

Dari perhitungan tahun 2012 diperoleh nilai sebesar 13% yang artinya setiap Rp 1,00 total aset didanai Rp. 0,13 dari modal lembaga bersih. Di tahun 2013 mengalami kenaikan menjadi 15% kenaikan persentase ini terjadi karena kenaikan modal lembaga bersih bersamaan dengan kenaikkan total aset. Namun pada tahun berikutnya mengalami penurunan terus menerus seperti menjadi 14% pada tahun 2014, 13% pada tahun 2015 dan 13% pada tahun 2016 penurunan persentase ini terjadi karena kenaikan total aset lebih banyak dibandingkan kenaikan total modal lembaga bersih. Namun rasio untuk nilai persentase pada lima tahun dapat dikatakan ideal/sehat menurut sistem PEARLS, karena sudah mencapai ≥ 10%. Kemudian untuk rata-rata rasio E9 adalah 14% yang berarti masuk dalam kriteria ideal yaitu ≥10%.

3) Asset quality (kualitas Aset)

Asset quality indikator untuk mengukur persentase aset-aset yang tidak menghasilkan yang berdampak negatif terhadap perolehan

2012 Rp 129,276,212,267 Rp 15,213,940,262 Rp 76,415,467,575 Rp 118,358,870,600 0 Rp 809,048,797,526 13% 2013 Rp 151,005,146,823 Rp 15,533,970,993 Rp 89,991,617,800 Rp 69,630,502,250 Rp 927,329,600 Rp 966,407,116,106 15% 2014 Rp 160,121,238,704 Rp 14,517,392,704 Rp 96,781,686,875 Rp 58,874,071,900 0 Rp 1,096,394,620,636 14% 2015 Rp 171,190,655,862 0 Rp 73,902,884,784 Rp 29,561,153,914 Rp 412,511,020 Rp 1,193,476,270,569 14% 2016 Rp 180,564,199,588 0 Rp 81,658,600,247 Rp 29,163,785,803 Rp 411,695,135 Rp 1,289,596,893,106 13% rata-rata 14% Aset-Aset yang

Bermasalah (e) Total Aset (f)

E9{(a+b)-(e+35%Xd) + e }/f X 100% Tahun Modal Lembaga (a) Dana Cadangan Risiko (b) Total Pinjaman Lalai > 12

bulan (c)

Total Pinjaman Lalai 1-12 bulan (d)

keuntungan seperti pinjaman lalai dan asset yang tidak menghasilkan.

a) Rasio Total Pinjaman Lalai terhadap Total Pinjaman Beredar

Tabel 5.7: perhitungan Total Pinjaman lalai/Total pinjaman Lalai (A1) Credit Union Keling Kumang

Sumber: Laporan Neraca dan Data Statistik CUKK

Pada perhitungan rasio tahun 2012 diperoleh nilai sebesar 32% yang berarti setiap Rp 1,00 pinjaman beredar terdapat Rp. 0,32 pinjaman lalai. Di tahun-tahun berikutnya persentase ini hampir semua mengalami kenaikan, seperti menjadi 26% pada tahun 2013, 23% pada tahun 2014, 13% pada tahun 2015 dan naik menjadi 14% penurunan persentase ini dikarenakan persentase penurunan total pinjaman lalai lebih kecil dibandingkan dengan penurunan total pinajaman beredar/piutang. Dari perhitungan tidak ada yang dapat dikatakan ideal/sehat menurut sistem PEARLS, karena nilai persentasenya kurang dari 5%. Kemudian untuk rata-rata rasio A1 adalah 21,78% yang artinya tidak masuk dalam kriteria ideal yaitu ≤5%. 2012 Rp 194,774,338,175 Rp 601,593,545,125 32% 2013 Rp 176,212,675,550 Rp 667,638,420,050 26% 2014 Rp 171,210,927,175 Rp 760,912,247,725 23% 2015 Rp 103,464,038,698 Rp 769,896,551,750 13% 2016 Rp 110,822,386,050 Rp 781,191,841,450 14% rata-rata 22%

Tahun Total Saldo Pinjaman Lalai

b) Asset-aset tidak menghasilkan/total asset (A2)

Aset-aset tidak menghasilkan ini bertujuan untuk mengukur total aset yang tidak menghasilkan pendapatan.

Tabel 5.8. Perhitungan aset-aset tidak menghasilkan/Total Aset (A2) credit union Keling Kumang

Sumber: Laporan Neraca CUKK

Dari perhitungan tahun 2012 diperoleh nilai persentase sebesar 7% yang berarti dalam setiap Rp.1,00 total aset terdapat Rp 0.07 total aset yang tidak produktif.. Pada tahun 2013 mengalami penurunan sehingga diperoleh nilai persentase 6 % yang berarti dalam setiap Rp 1,00 total aset terdapat Rp. 0,06 total aset tidak produktif dari tahun 2012 yaitu 7%, tahun 2014 mengalami penurunan sehingga diperoleh nilai persentase sebesar 5% yang berarti dalam setiap Rp. 1,00 total aset terdapat Rp. 0,05 total aset tidak produktif dari tahun 2013 yaitu 6%, pada tahun 2015 dan 2016 tidak mengalami penurunan atau pun kenaikan karena persentase yang diperoleh sebesar 5% yang berarti dalam setiap Rp. 1,00 total aset terdapat Rp. 0,05 total aset tidak produktif dari tahun sebelumnya. Dengan demikian dapat dikatakan pada tahun 2014, 2015 dan 2016 masuk dalam kriteria ideal/sehat karena

2012 Rp 55,440,309,951 Rp 809,048,797,526 7% 2013 Rp 59,241,737,972 Rp 966,407,116,106 6% 2014 Rp 52,243,178,687 Rp 1,096,394,620,636 5% 2015 Rp 55,280,850,880 Rp 1,193,476,270,569 5% 2016 Rp 60,375,526,564 Rp 1,289,596,893,106 5% rata-rata 5%

Tahun Total Aset Tidak

sudah mampu menekan total aset-aset tidak menghasilkan hingga persentase menjadi ≤ 5%. Kemudian untuk rata-rata A2 adalah 5,41% yang artinya tidak masuk dalam kriteria idela yaitu ≤ 5%.

4) Rates of return and cost (Tingkat Pendapatan dan Biaya)

Rates of return and cost ini mengukur perolehan pendapatan rata-rata untuk setiap aset yang paling produktif yang tercantum pada neraca. Selain itu mengukur biaya rata-rata untuk setiap utang dan modal hasilnya digambarkan berdasarkan rata-rata aset dan hasil berkaitan menunjukkan credit union memperoleh pendapatan dan mampu membayar sesuai tingkat bunga pasar atas aset, utang dan modal.

a) Biaya Keuangan: Simpanan saham anggota/rata-rata simpanan saham (R7)

Simpanan saham anggota ini bertujuan untuk mengukur pendapatan (biaya) atas simpanan saham anggota.

Tabel 5.9: Perhitungan Simpanan Saham Anggota/Rata-rata Simpanan Saham (R7) Credit Union Keling Kumang

Sumber: Laporan Neraca dan Sisa Hasil Usha (SHU) CUKK

2012 Rp 92,987,603 Rp 4,353,766,825 Rp - Rp 95,049,960,000 Rp 83,835,317,100 5% 2013 Rp 3,279,681,952 Rp 3,259,853,925 Rp 40,855,750 Rp 122,788,435,930 Rp 95,049,962,000 6% 2014 Rp 1,515,309,300 Rp 2,865,426,553 Rp 48,414,310 Rp 104,564,847,230 Rp 122,788,435,930 4% 2015 Rp 1,010,497,978 Rp 1,256,135,414 Rp 11,606,250 Rp 114,235,810,340 Rp 104,564,847,230 2% 2016 Rp 781,947,684 Rp 1,980,833,203 Rp 13,442,000 Rp 130,063,830,600 Rp 114,235,810,340 2% rata-rata 4% R7= (a+b+c)/[(d+e)/2] X 100% Tahun

Total Deviden yang dibayarkan oleh Simpanan

Saham Anggota (a)

Total Premi Asuransi yang dibayarkan atas Simpanan

Anggota (b)

Total Pajak yang dibayarkan oleh Credit

Union (c)

Total Simpanan Saham Anggota Sampai Akhir Tahun Berjalan (d)

Total Simpanan Anggota Sampai Akhir

Dari perhitungan tahun 2012 diperoleh nilai persentase sebesar 5% yang artinya di setiap Rp. 1,00 rata-rata total aset/aktiva terdapat Rp. 0,05 biaya keuangan, tahun 2013 mengalami peningkatan persentase yaitu diperoleh nilai persentase sebesar 6% artinya setiap Rp. 1,00 rata-rata aset/aktiva terdapat Rp 0,06 biaya keuangan dari tahun 2012 yaitu 5%, tahun 2014 mengalami penurunan perssentase yaitu diperoleh nilai persentase sebesar 4% artinya setiap Rp, 1,00 rata-rata aset/aktiva terdapat Rp. 0,04 biaya keuangan dari tahun 2013, tahun 2015 kembali mengalami penurunan persentase yaitu diperoleh nilai persentase sebesar 2% artinya setiap Rp. 1,00 rata-rata aset/aktiva terdapat Rp. 0,02 biaya keuangan dari tahun 2014 yaitu 2%, tahun 2016 tidak mengami penurunan atau pun kenaikan persentase karena diperoleh persentase 2% yang artinya setiap Rp. 1,00 rata-rata aset/aktiva terdapat Rp. 0,02 biaya keuangan dari tahun 2015 yaitu 2%. Kemudian untuk rata-rata rasio R7 adalah 4% yang artinya tidak masuk dalam kriteria ideal yaitu 5%.

b) Biaya Operasional/Rata-rata Aset (R9)

Biaya operasional ini bertujuan untuk mengukur biaya yang terkait dengan manajemen dari semua aset CU. Biaya ini diukur sebagai persentase total aset dan menunjukkan derajat efesiensi operasional atau ketidak efesiensi operasional.

Tabel 5.10: Perhitungan Biaya Operasional/Rata-Rata Aset (R9) Credit Union Keling Kumang

Sumber: Laporan Neraca dan Sisa Hasil Usaha (SHU) CUKK

Dari perhitungan tahun 2012 diperoleh nilai persentase sebesar 6% yang berarti dalam setiap Rp 1,00 total aset/aktiva terdapat Rp 0,06 biaya operasional. Pada tahun 2013 sampai tahun 2016 tidak terjadi peningkatan ataupun penurunan karena diperoleh nilai persentase sebesar 5% yang berarti dalam setiap Rp 1,00 total aset/aktiva terdapat Rp 0,05 biaya operasional Kemudian untuk rata-rata rasio R9 adalah 5% yang berarti masuk dalam kriteria ideal 5%.

5) Liquidity (Likuditas)

Indikator ini menunjukkan apakah CU dapat secara efektif menangani utang tunainya sehingga CU bisa selalu mempunyai uang ketika sewaktu-waktu anggota menarik simpanannya kemudian uang “nganggur” juga digunakan untuk memastikan aset-aset yang tidak menghasilkan jangan sampai mengurangi pendapatan CU.

a) Likuditas terhadap simpanan saham (L1)

Likuditas terhadap simpanan saham bertujuan utuk mengukur ketahanan cadangan kas likuid untuk memenuhi penarikan

2012 Rp 43,573,056,866 Rp 809,048,797,526 Rp 650,263,834,575 6% 2013 Rp 43,144,966,209 Rp 966,407,116,106 Rp 809,048,797,526 5% 2014 Rp 48,342,715,830 Rp 1,096,394,620,636 Rp 966,407,116,106 5% 2015 Rp 55,968,808,986 Rp 1,193,476,270,569 Rp 1,096,394,620,636 5% 2016 Rp 65,982,639,732 Rp 1,289,596,893,106 Rp 1,193,476,270,569 5% rata-rata 5%

Tahun Total Biaya Operasional (a)

Total Aset Sampai Akhir

simpanan, setelah membayar semua kewajiban jangka pendek < 30 hari.

Tabel 5.11: Perhitungan Dana Likuit terhadap Total Simpanan Non Saham(L1) Credit Union Keling Kumang

Sumber: Laporan Neraca CUKK

Dari perhitungan tahun 2012 memperoleh nilai -85%, pada tahun 2013 meningkat menjadi -82% dari tahun 2012 yaitu -85%, tahun 2014 meningkat menjadi -80% dari tahun 2013 yaitu -82%, pada tahun 2015 mengalami peningkatan menjadi -73% dari tahun 2014 yaitu -80% dan pada tahun 2016 mengalami peningkatan menjadi 71% dari tahun 2015 yaitu -73%. Persentase yang menghasilkan nilai minus terjadi karena dana likuit lebih rendah dibandingkan dengan total simpanan non-saham. Dengan demikian dapat dikatakan rasio pada lima tahun ini tidak masuk dalam kriteria ideal/sehat karena sangat jauh dari kriteria ideal/sehat yaitu ≥ 15%. Kemudian untuk rata-rata rasio L1 adalah -78% yang artinya tidak masuk dalam kriteria ideal yaitu ≥ 15%.

6) Signs of Growth (Tanda-tanda pertumbuhan)

Signs of growth mengukur persentase pertumbuhan di setiap nomor perkiraan yang paling penting dilaporan keungan dan pertumbuhan anggota. Dalam kondisi ekonomi dengan inflasi tinggi,

2012 Rp 44,352,803,152 Rp 75,652,384,775 Rp 679,772,585,259 Rp 657,264,833,736 -85% 2013 Rp 56,569,324,861 Rp 89,214,595,475 Rp 793,438,607,469 Rp 788,494,097,369 -82% 2014 Rp 92,223,746,512 Rp 125,346,769,921 Rp 936,273,381,932 Rp 899,084,510,892 -80% 2015 Rp 132,056,976,918 Rp 168,602,116,389 Rp 1,022,285,614,707 Rp 985,691,251,434 -73% 2016 Rp 147,315,872,365 Rp 192,754,331,125 Rp 1,109,032,693,518 Rp 1,077,835,938,216 -71% rata-rata -78% L1=(a+b-c)/d X 100% Total Simpanan

Non-Saham (d) Tahun Total Investasi Likuid yang

Menghasilakan (a)

Total Aset Likuid yang Tidak Menghasilkan (b)

Total Kewajiban Jangka Pendek < 30 hari (c)

pertumbuhan nyata (setelah dikurangi dengan inflasi) merupakan kunci ketahanan jangka panjang CU.

a) Pertumbuhan Anggota (S10)

Pertumbuhan anggota ini bertujuan untuk mengukur pertumbuhan anggota credit union tahun berjalan.

Tabel 5.12: Perhitungan Pertumbuhan Anggota (S10) Credit Union Keling Kumang

Sumber: Laporan Data Statistik CUKK

Dari perhitungan pada tahun 2012 diperoleh nilai persentase 12%, pada tahun 2013 menunjukkan nilai persentase 10% yang berarti terjadi penurunan jumlah anggota dari tahun 2012 yaitu 12%, tahun 2014 menurun menjadi 9% yang berarti terjadi penurunan jumlah anggota dari tahun 2013 yaitu 10%, tahun 2015 menurun kembali menjadi 5% yang berarti terjadi penurunan jumlah anggota dari tahun 2014 yaitu 9%, tahun 2016 terus menurun hingga menjadi 3% yang berarti terjadi penurunan jumlah anggota dari tahun 2015 yaitu 5%. Dengan demikian bisa dikatakan hanya pada tahun 2012 yang masuk dalam kriteria ideal/sehat karena hanya pada tahun 2012 yang memenuhi kriteria ideal/sehat yaitu > 12%. Kemudian untuk

2012 128350 114337 12% 2013 140804 128350 10% 2014 153282 140804 9% 2015 160558 153282 5% 2016 165231 160558 3% rata-rata 8%

Tahun Jumlah Anggota Terakhir

(a)

Jumlah Angota Sampai

rata-rata rasio adalah 8% yang artinya tidak masuk dalam kriteria ideal yaitu > 12%.

a) Pertumbuhan Total Aset

Pertumbuhan Total Aset bertujuan untuk mengukur pertumbuhan total aset tahun berjalan.

Tabel 5.13: Perhitungan Total Aset (S11) Credit Union Keling Kumang

Sumber: Laporan Data Statistik CUKK

Dari perhitungan tahun 2012 diperoleh nilai persentase sebesar 24%, tahun 2013 diperoleh nilai persentase sebesar 19% yang berarti terjadi penurunan total aset dari tahun 2012 yaitu 24%, pada tahun 2014 diperoleh nilai persentase sebesar 13% yang berarti terjadi penurunan total aset dari tahun 2013 yaitu 19%, pada tahun 2015 diperoleh nilai persentase sebesar 9% yang berarti terjadi penurunan total aset dari tahun 2014 yaitu 13% dan pada tahun 2016 diperoleh nilai persentase sebesar 8% yang berarti terjadi penurunan total aset dari tahun 2015 yaitu 9%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada tahun 2012, 2013 dan 2014 yang tingkat pertumbuhan asetnya masuk dalam kriteria ideal/sehat

2012 Rp 809,048,797,526 Rp 650,263,834,575 24% 2013 Rp 966,407,116,106 Rp 809,048,797,526 19% 2014 Rp 1,096,394,620,636 Rp 966,407,116,106 13% 2015 Rp 1,193,476,270,569 Rp 1,096,394,620,636 9% 2016 Rp 1,289,596,893,106 Rp 1,193,476,270,569 8% rata-rata 15%

Tahun Total Aset Tahun Berjalan (a)

Total Aset Sampai Akhir

menurut sistem PEARLS yaitu 10%. Kemudian untuk rata-rata rasio S11 adalah 15% yang artinya masuk dalam kriteria ideal sistem PEARLS yaitu 10%.

b. Penghitungan Kinerja Indek

Setelah mendapatkan hasil kinerja aktualnya maka langkah berikut ini adalah untuk mengetahui kinerja indek agar bisa mendapatkan satu angka di setiap aspeknya. Berikut penghitungan kinerja Indek (P1):

Tabel 5.14 Penghitungan PI untuk Protection (P)

Tabel 5.15 Penghitungan PI Effective Financial Structure (E)

Tabel 5.16 Perhitungan PI Assets Quality (A)

2012 -16 68 -24%

2013 -45 68 -66%

2014 -62 68 -91%

2015 -125 68 -184%

2016 0 68 0%

Tahun Rata-rata kinerja aktual P1 dan P2 (a)

Rata-rata kinerja rasio P1 dan P2 (b) Kinerja Indeks = (a/b)X100% 2012 42 39 108% 2013 41 39 105% 2014 41 39 105% 2015 40 39 103% 2016 39 39 100%

Tahun Rata-rata kinerja aktual E1, E%, E6 dan E9 (a)

Rata-rata kinerja rasio E1, E5, E6 dan E9 (b) Kinerja Indeks = (a/b)X100% 2012 20 5 400% 2013 16 5 320% 2014 14 5 280% 2015 9 5 180% 2016 9 5 180%

Tahun Rata-rata kinerja aktual A1 dan A2 (a)

Rata-rata kinerja rasio A1 dan A2 (a)

Kinerja Indeks = (a/b)X100%

Tabel 5.17 Perhitungan PI Rates Of Return and Cost (R)

Tabel 5.18 Perhitungan PI Liquidity (L)

Tabel 5.19 Perhitungan PI Sign of Growth (S)

c. Penghitungan Skor

Tabel 5.20 Penghitungan Protection (P) Skor

2012 5 5 100%

2013 5 5 100%

2014 4 5 80%

2015 3 5 60%

2016 4 5 80%

Tahun Rata-rata kinerja aktual R7 dan R9 (a)

Rata-rata kinerja rasio R7 dan R9 (b) Kinerja Indeks = (a/b)X100% 2012 -85 15 -567% 2013 -82 15 -547% 2014 -80 15 -533% 2015 -73 15 -487% 2016 -71 15 -473%

Tahun Rata-rata kinerja aktual L1 (a) Rata-rata kinerja rasio L1(b) Kinerja Indeks = (a/b)X100% 2012 18 11 164% 2013 15 11 136% 2014 11 11 100% 2015 7 11 64% 2016 5 11 45%

Tahun Rata-rata kinerja aktual S10 dan S11 (a)

Rata-rata kinerja rasio S10 dan S11 (b) Kinerja Indeks = (a/b)X100% 2012 -24 16.7 -4% 2013 -66 16.7 -11% 2014 -91 16.7 -15% 2015 -184 16.7 -31% 2016 0 16.7 0%

Tahun Kinerja Indeks (a) kriteria skor (b) Skor =

Tabel 5.21 Penghitungan Effective Financial Structure ( E )

Tabel 5.22 Penghitungan Assets Quality (A)

Tabel 5.23 Perhitungan Rates of Return and Cost (R)

Tabel 5.24 Perhitungan Liquidity (L)

2012 108 21.2 23%

2013 105 21.2 22%

2014 105 21.2 22%

2015 103 21.2 22%

2016 100 21.2 21%

Tahun Kinerja Indeks (a) Kriteria Skor (b) Skor =

(axb)x100% 2012 400 19.2 77% 2013 320 19.2 61% 2014 280 19.2 54% 2015 180 19.2 35% 2016 180 19.2 35%

Tahun Kinerja Indeks (a) Kriteria Skor (b) Skor =

(axb)x100% 2012 100 13.1 13% 2013 100 13.1 13% 2014 80 13.1 10% 2015 60 13.1 8% 2016 80 13.1 10%

Tahun Kinerja Indeks (a) Kriteria Skor (b) Skor = (axb) x100% 2012 -567 15.2 -86% 2013 -547 15.2 -83% 2014 -533 15.2 -81% 2015 -487 15.2 -74% 2016 -473 15.2 -72%

Tahun Kinerja Indeks (a) Kriteria Skor (b) Skor =

Tabel 5.25 Perhitungan Sign of Growth (S)

d. Perhitungan total skor

Setelah semua pengitungan didapatkan, maka berikutnya akan dilakukan penjumlahan skor akhir dengan memasukan semua pengitungan sebelumnya kedalam tabel. Berikut ini adalah tabel untuk mengetahui jumlah skor akhir yang didapat selama lima tahun.

Tabel 5.26 Penghitungan Jumlah Skor Akhir Kinerja Keuangan Tahun 2012 berdasarkan analisis PEARLS

Dari hasil kinerja keuangan tahun 2012 diperoleh persentase sebesar 47% yang artinya kinerja keuangan masuk dalam kategori buruk, walaupun demikian ada beberapa rasio yang masuk dalam kinerja yang ideal yaitu total pinjaman beredar terhadap total aset (E1), total pinjaman pada pihak luar terhadap total aset (E6), simpanan saham anggota terhadap rata-rata simpanan saham (R7), total biaya

2012 164 14.6 24%

2013 136 14.6 20%

2014 100 14.6 15%

2015 64 14.6 9%

2016 45 14.6 7%

Tahun Kinerja Indeks (a) Kriteria Skor (b) Skor =

(axb)x100% P1 100.00% 20% P2 35.00% -52% E1 70-80% 72% E5 70-80% 81% E6 <5% 0% E9 >10% 13% A1 ≤5% 32% A2 <5% 7% R7 >5% 5% R9 5% 6% liqudity L1 >5% -85% -567% 15.2% -86% S10 >12% 12% S11 10% 24% 100% 47%

Skor = (kinerja indek X kriteria skor)X100% 16.7% -4% 21.2% 23% 19.2% 77% 13.1% 13% signs of growth

Rasio Ideal Kinerja Aktual RASIO

Protection

Effective financial structure

asset quality

rates of return and cost

Kinerja Indeks Kriteria Skor -24%

108%

400% 100%

164% 14.6% 24%

operasional terhadap rata-rata aset (R9), pertumbuhan anggota (S10) dan pertumbuhan aset (S11)

Tabel 5.27 Penghitungan Jumlah Skor Akhir Kinerja Keuangan Tahun 2013 berdasarkan analisis PEARLS

Dari hasil skor akhir kinerja keuangan tahun 2013 diperoleh persentase sebesar 22% yang berarti kinerja keuangan masuk dalam kategori buruk, walaupun demikian ada beberapa rasio yang masuk dalam kriteria ideal yaitu total pinjaman pada pihak luar terhadap total aset (E6), simpanan saham terhadap rata-rata simpanan saham (R7), total biaya operasional terhadap rata-rata aset (R9) dan pertumbuhan aset (S11).

Tabel 5.28 Jumlah Skor Akhir Kinerja Keuangan Tahun

Dokumen terkait