• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

LANDASAN TEORI

D. Sistem PEARLS

Ada beberapa sistem penilaian yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan. Di antaranya: balance scorecard, CAMEL, analisis rentabilitas, reabilitas, dan solvabilitas. Seiring berjalannya waktu kebutuhan untuk menganalisis keuangan semakin berkembang dengan munculnya Credit Union. Untuk mengidentifikasi credit union yang mempunyai modal dasar rendah dan penyebab masalah lain yang timbul seperti kurangnya pendapatan, biaya operasi yang mahal atau kerugian yang tinggi karena piutang macet, maka terciptalah sistem yang dianggap mampu untuk menghitung kinerja keuangan credit union yang disebut sistem PEARLS. Sistem PEARLS dianggap paling tepat dibanding sistem lain karena pada penelitian ini hanya berfokus pada kinerja keuangannya saja seperti topik yang dipilih sebab pada sistem yang lain tidak hanya diukur kinerja keuangan seperti halnya menilai kinerja manajenennya juga.

Selain itu di beberapa sistem lain contohnya CAMEL terdapat dua kekurangan yaitu: neraca diabaikan padahal struktur neraca mempunyai pengaruh langsung terhadap efesiensi dan profitabilitas dan tidak memperhitungkan pertumbuhan bunga padahal pertumbuhan bunga sangat menguntungkan pada saat lingkungan ekonomi kurang mendukung dalam persaingan. Pada balanced scorecard digunakan oleh perusahaan yang berfokus pada profit dan memacu profitabilitas yang tinggi sedangkan Credit union untuk tujuan produktif, kesejahteraan anggota, dan tidak semata-mata mencari keuntungan.

1. Pengertian sistem PEARLS

Menurut Imanuel Imam dalam bukunya Transforming Organization, sistem adalah arahan baku yang disusun untuk membantu seseorang dalam menjalankan sesuatu pekerjaan tanpa kesalahan atau dengan kesalahan yang minimal (Munaldus dkk. 2011:xxvii).

Menurut Richardson (Munaldus dkk, 2011:166) PEARLS adalah suatu sistem monitoring kinerja keuangan yang dirancang guna membantu manajemen Credit Union dalam mengelola keuangannya dan digunakan untuk menilai tingkat kesehatan yang dikembangkan oleh WOCCU (World Council of Credit Union). (PEARLS adalah singkatan dari: Protection (perlindungan), Effective financial structure (struktur keuangan yang efektif), Asset quality (kualitas asset), Rates of return and cost (tingkat pendapatan dan biaya), Liquidity (likuiditas), Signs of growth (tanda-tanda pertumbuhan).

Ada 4 kegunaan PEARLS (Parahita dkk, 2011: 3) yaitu: a. Sebagai alat untuk memantau credit union

Kekuatan dan kelemahan Credit Union dapat segera diketahui dengan menggunakan PEARLS. Dengan demikian PEARLS dapat digunakan sebagai suatu peringatan dini.

b. Menstandarkan rasio dan rumus

Dengan rasio dan standar rasio maka dapat mengurangi perbedaan persepsi di kalangan aktivis Credit Union. Adanya kesepahaman dalam mengukur tingkat kesehatan Credit Union.

c. Dapat digunakan untuk peringkat suatu credit union

Dengan menggunakan PEARLS, maka ketika melakukan peringkat tidak terjadi banyak salah paham. Peringkat dapat dilakukan secara objektif karena dalam PEARLS tidak ada indikator kualitatif dan subjektif.

d. Sebagai alat pengawasan

Sistem PEARLS menyediakan kerangka sistem pengawasan suatu Credit Union, dengan melakukan analisis rasio semua area kunci PEARLS secara bulanan atau kuartalan, dengan begitu pengawasan dapat menyimpulkan tingkat kesehatan suatu Credit Union. Jika ditemukan kesalahan maka pengawas dengan mudah akan dapat melakukan perbaikan.

2. Rumus dalam sistem PEARLS

Sebagaimana disebut di atas ada enam komponen penting dalam penilaian kinerja Credit Union di sistem PEARLS, yaitu: Protection (perlindungan), Effective financial structure (struktur keuangan yang efektif), Asset quality (kualitas aset), Rates of return and cost (tingkat pendapatan dan biaya), Liquidity (likuiditas), Signs of growth (tanda-tanda pertumbuhan) dan terdapat pula bobot pemberian penilaian pada masing-masing indikator. Secara keseluruhan terdapat 44 indikator dari sistem PEARLS, tetapi yang diterapkan di Asia hanya 13 indikator berdasarkan seleksi yang dilakukan secara seksama oleh tim dari ACCU dan disesuaikan dengan konteks Asia. 13 indikator PEARLS yang diterapkan

oleh Credit Union di Asia adalah sebagai berikut (Munaldus dkk. 2011:166):

a. Protection (P)

Mutlak bagi Credit Union agar melindungi secara sungguh-sungguh aset-asetnya. Perlindungan diukur dengan: membandingkan antara total penyisihan dana cadangan untuk menutup kerugian atas piutang lalai; dan membandingkan antara total penyisihan, total kerugian terhadap total kerugian investasi bebas (non-regulated investement). Penyisihan dana ini biasa disebut dana cadangan risiko yang dialokasikan secara tahunan dan provisi kredit lalai yang dialokasikan setiap bulan.

Perlindungan terhadap kerugian atas piutang dianggap ideal jika Credit Union mampu menyisihkan dana cadangan risiko dan provisi kredit lalai sama besarnya dengan total piutang lalai atas 12 bulan dan ditambah dengan ketersediaan dana cadangan risiko dan provisi kredit lalai yang mampu menutup 35% dari total piutang lalai 1-12 bulan. Yang di maksud dengan piutang adalah pinjaman yang sedang beredar di tangan peminjam (anggota).

Pada kenyataannya sebagian besar Credit Union tidak mampu mengenal kerugian karena kredit lalai ini, apalagi melakukan Charge-off atasnya. Tanpa melakukan Charge-Charge-off atas kredit macet yang sudah tidak memberikan pendapatan merupakan tindakan penyelewengan terhadap prinsip-prinsip safety dan soundness. Sisa hasil usaha (SHU)

bersih yang dilaporkan sesungguhnya tidak rill (overstated), nilai aset terinflasi (inflated), provisi kredit lalai tidak memadai, dan simpanan para anggota tidak terlindungi.

Rumus dari protection (P):

Indikator ini mengukur kecukupan dana cadangan risiko dan provisi kredit lalai.

1) ketersediaan dana cadangan resiko dan provisi pinjaman lalai/ total pinjaman macet > 12 bulan (P1)

Tujuan : Mengukur ketersediaan dana cadangan risiko dan provisi pinjaman lalai yang digunakan untuk menutup total pinjaman macet > 12 bulan.

Keterangan:

a: Dana Cadangan Resiko + provisi pinjaman lalai (lihat di pasiva)

b: Total pinjaman lalai > 12 bulan rumus: P1= a/b x 100%

goal: 100% (ideal jika a=b)

2) ketersediaan dana cadangan risiko dan provisi pinjaman lalai bersih atau total pinjaman lalai 1-12 bulan (P2)

Tujuan: Mengukur ketersediaan dana cadangan risiko dan provisi pinjaman lalai bersih (di luar dana cadangan risiko untuk P1) untuk melindungi pinjaman lalai 1-12 bulan.

Keterangan:

a : total dana cadangan risiko dan provisi diluar untuk P1 b : total pinjaman lalai 1 sampai 12 bulan

rumus: P2= a/b x 100% goal: 35% (a>b)

b. Effective financial structure (E)

Merupakan faktor penting dalam menetukan potensi pertumbuhan, kemampuan memperoleh pendapatan, dan kekuatan keuangan menyeluruh. E ini mengukur aset, labilitas (utang) dan modal. E juga menunjukkan apakah struktur keuangannya ideal (sehat) atau tidak.

1) Aset

a) 95% aset produktif terdiri atas piutang (pinjaman beredar), yaitu berkisar pada rentangan 70%-80% dari total aset; dan investasi likuid (tersedianya dana segar), yang berkisar pada rentangan 10%-20% dari total asset.

b) 95% aset produktif terdiri atas piutang (pinjaman beredar), yaitu berkisar pada rentangan 70%-80% dari total aset; dan investasi likuid (tersedianya dana segar), yang berkisar pada rentangan 10%-20% dari total asset.

c) 5% aset-aset yang tidak produktif terutama berupa aset-aset tetap (seperti tanah, gedung, perlengkapan, biaya dibayar di muka dll).

Credit Union didorong untuk memaksimalkan aset-aset produktif sebagai cara untuk memperoleh pendapatan yang memadai. Pinjaman beredar atau piutang biasa disebut portofolio pinjaman. Karena portofolio pinjaman adalah aset Credit Union yang paling menguntungkan, maka WOCCU merekomendasikan agar selalu berada pada 70%-80% dari total aset.

Apabila portofolio pinjaman di bawah 70% dari total aset, maka investasi likuid akan tinggi. Kondisi ini tidak diharapkan, karena pendapatan dari investasi likuid seperti bunga tabungan di bank tidak sebesar pendapatan dari investasi pada portofolio pinjaman. Sebaliknya, jika portofolio pinjaman di atas 80%, maka Credit Union tidak likuid, karena kekurangan dana segar untuk keperluan penarikan simpanan, pencairan kredit, atau keperluan lainnya. Situasi yang seperti ini juga akan membahayakan Credit Union.

Aset tidak produktif atau yang disebut dengan aset-aset tidak menghasilkan tidak boleh diatas 5% dari total aset Credit Union. Sekali Credit Union berbelanja aset-aset tetap (misal membeli tanah, membangun kantor, atau membeli kendaraan), tidak mudah menjual aset tersebut untuk mendapatkan dana segar.

2) Liability (utang)

70%-80% dari total utang untuk mengetahui aset CU, bisa dilihat pada kolom aktiva laporan keuangan CU. Sedangkan untuk mengetahui liability (utang) pada kolom pasiva. Rasio simpanan non-saham yang ideal berkisar pada 70-80% dari total aset CU. Jika keadaan ideal ini dapat dicapai maka bisa dikatakan bahwa CU sudah mampu mengembangkan program pemasaran secara efektif. Rasio ini juga menjukkan bahwa semangat anggota menabung di CU tinggi.

3) Modal

a) Modal saham (simpanan pokok + simpanan wajib) yang dianggap ideal apabila berada pada 10-20% dari total aset. b) Modal lembaga (dana cadangan umum, dana cadangan

risiko, donasi, SHU tak terbagi, dan SHU tahun berjalan yang dialokasikan untuk dana cadangan) yang dianggap ideal apabila berada minimal 10% dari total aset.

Dengan sistem permodalan yang baru, saham-saham anggota tidak lagi utama dan diganti dengan modal lembaga. Jadi konsentrasi Credit Union adalah membangun modal lembaga. Modal lembaga menjadi ukuran ketahanan Credit Union terhadap goncangan. Ketersediaan modal lembaga yang memadai (minimal 10% dari modal aset) bertujuan:

(1) Untuk mendanai (berfungsi sebagai pengganti) aset-aset yang tidak menghasilkan (tanah, gedung, perlengkapan, biaya dibayar di muka, kas).

Jika modal lembaga tidak memadai, maka untuk mendanai aset-aset yang tidak menghasilkan terpaksa mengambil dari simpanan anggota. Padahal simpanan anggota adalah dana mahal yang tiap bulan harus diberi balas jasa. Contoh, jika rasio modal lembaga 3%, sedangkan rasio aset-aset yang tidak menghasilkan 5%, itu atinya ada selisih sebesar 2%. Kekurangan 2% ini pasti diambil dari simpanan anggota.

(2) Meningkatkan pendapatan

Modal lembaga bermanfaat dalam meningkatkan pendapatan karena tidak diberikan balas jasa. Modal lembaga ini sesungguhnya juga diputar, setidaknya dalam bentuk investasi likuid. Investasi likuid artinya uang Credit Union yang disimpan atau diinvestasikan di lembaga keuangan lain. Memahami arus kas sangat penting untuk memahami konsep ini.

(3) Menutup berbagai kerugian

Sebagai upaya akhir, modal lembaga digunakan untuk menutup berbagai kerugian kredit dan / kerugian operasional. Di banyak negara ada ketentuan yang

mengatur bahwa penggunaan modal lembaga untuk menutup kerugian kredit harus mendapat persetujuan rapat anggota. Namun hal demikian jangan sampai terlalu sering karena akan menggangu aliran kas CU. Indikator ini mengukur perbandingan komposisi dari nomor-nomor perkiraan yang paling penting pada neraca keuangan. Struktur keuangan yang efektif perlu untuk mencapai tingkat aman (safety), kesehatan (soundness), dan keuntungan (profitability), sementara pada saat yang sama Credit Union mempromosikan diri agar mampu mencapai pertumbuhan nyata yang agresif.

Aset-aset yang menghasilkan: a. Rasio Piutang yang beredar (E1)

Tujuan: mengukur persentase piutang pada total aset yang diinvestasikan dalam portofolio pinjaman (total aset).

Keterangan:

a : total pinjaman beredar (piutang) b : dana cadangan risiko

c : total aset

rumus: E1 : (a-b/c) x 100% goal: 70%-80%

b. Rasio simpanan non-saham (E5)

Tujuan: mengukur persentase total aset yang didanai dari simpanan non-saham.

Keterangan:

a : total simpanan non-saham b : total aset

rumus: a/b x 100% goal: antara 70% - 80% c. Rasio pinjaman dari luar (E6)

Tujuan: mengukur presentae total aset yang didanai dari pinjaman dari pihak luar.

Keterangan:

a : total kewajiban pinjaman jangka pendek b : total kewajiban pinjaman jangka panjang c : total aset

rumus: E6 =(a+b)/c x 100% goal: 0 >5%

d. Rasio modal lembaga(E9)

Tujuan: mengukur ketrsediaan modal lembaga bersih. Keterangan:

a : modal lembaga b :dana cadangan risiko

d : total pinjaman lali 1-12 bulan e : aset-aset yang bermasalah f : total aset

rumus: E9 = [(a+b) – (c+35%xd) +e)]/f x 100% goal: ≥10%

c. Aset quality (A)

Aset-aset yang tidak produktif adalah aset yang tidak meningkatkan pendapatan. Apabila rasionya di atas 5% dari total aset, maka dampak negatifnya akan sangat dirasakan. PEARLS digunakan untuk mengidentifikasi dampak dari aset-aset yang tidak menghasilkan ini, berupa:

1) Rasio kelalaian pinjaman

Rasio kelalaian pinjaman merupakan ukuran penting untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan Credit Union. Jika rasio kelalaian pinjaman tinggi (di atas 5% dari tital piutang), rasio ini akan berpengaruh pada indikator-indikator lainnya. Bahkan pertanda bahwa Credit Union akan mengalami krisis maka untuk menanggulanginya harus memperbaiki kualitas pelayanan pinjaman.

2) Persentase aset –aset yang tidak menghasilkan

Makin tinggi rasio aset-aset yang tidak menghasilkan, makin sulit Credit Union untuk meningkatkan pendapatannya karena aset-aset yang sudah berubah bentuk menjadi tanah, gedung,

kendaraan, perlengkapan idealnya rasio aset-aset yang tidak menghasilkan paling tinggi 5% dari total aset Credit Union. Rasio aset-aset yang tidak menghasilkan ini akan turun apabila banyak anggota baru yang menabung.

3) Mendanai aset-aset yang tidak menghasilkan

WOCCU menuntut agar 100% dari aset-aset yang tidak menghasilkan atau aset-aset tetap didanai dari modal lembaga. Indikator A mengukur persentase aset-aset yang tidak menghasilkan berdampak negatif terhadap perolehan keuntungan dan solvency (ketahanan). E terdiri atas pinjaman lalai (delinquency), aset-aset yang tidak menghasilkan dan pendananaan aset-aset yang tidak menghasilkan.

(a) Total pinjaman lalai (A1)

Tujuan: mengukur persentase total pinjaman lalai di portofolio pinjaman, mengunakan kreteria saldo pinjaman yang lalai yang sudah di-charge-off yang masih dalam masa penagihan.

Keterangan:

a : total kelalaian pinjaman b : total pinjaman beredar rumus: A1= a/b x 100% goal: ≤ 5%

(b) Aset-aset yang tidak menghasilkan (A2)

Tujuan: mengukur persentase total aset yang tidak menghasilkan pendapatan.

Yang termasuk aset-aset yang tidak menghasilkan: uang tunai kas/brankas, cash-bond, materai, biaya dibayar di muka, persediaan, aset-aset tetap (tanah, gedung, kendaraan, perlengkapan), aktiva dalam penyelesaian dan aset-aset bermasalah.

Keterangan:

a : total aset yang tidak menghasilakn b: total aset

rumus: A2= a/b x 100% goal: ≤ 5%

d. Rates of return and cost (R)

Sistem PEARLS dapat mengetahui semua komponen penting yang berkontribusi terhadap besarnya keuntungan bersih (net earning) atau selisih hasil usaha. Tujuannya adalah untuk membantu pihak manajemen dalam menghitung hasil investasi dan menilai biaya-biaya operasional. Ada 4 area utama investasi, yaitu: 1) Portofolio pinjaman

Total pendapatan dari bunga pinjaman, pendapatan dari benda, dan pendapatan dari jasa pelayanan dibagi dengan total piutang (pinjaman beredar).

2) Investasi likuid

Semua pendapatan dari bunga tabungan di bank dan cadangan likuiditas yang disimpan dipusat koprasi kredit dibagi dengan total dana yang di investasikan ditempat tersebut.

3) Investasi keuangan

Banyak Credit Union menginvestasikan dana likuidnya dalam investasi keuangan (seperti disekuritas pemerintah) yang menghasilkan pendapatan lebih tinggi dari pada jika di investasikan di bank. Pendapatan dari investasi seperti ini dibagi dalam total investasi jenis lain.

4) Investasi non-keuangan lainnya

Setiap investasi yang tidak temasuk dalam kategori a-c di atas. Diklasifikasikan sebagai investasi di bukan lembaga keuangan. Di beberapa Credit Union, ada investasi di supermarket, farmasi, sekolah dan proyek-proyek perumahan. Semua pendapatan dari investasi sejenis ini di bagi dengan total investasi di sektor ini.

5) Biaya intermediasi keuangan

Meliputi biaya untuk membayar balas jasa simpanan saham dan non-saham, simpanan unggulan dan bunga pinjaman dari puskopdit. Tidak seperti yang terjadi di bank komersial yang meminimalkan biaya modal, Credit Union berusaha

semaksimal mungkin memberikan balas jasa simpanan anggota tanpa mengabaikan stabilitas lembaga.

6) Biaya administrasi

Area kritis lain yang memerlukan analisis mendalam adalah biaya administrasi, banyak Credit Union bersaing ketat dengan bank dalam hal besarnya tingkat bunga simpan dan bunga pinjaman. Tetapi biaya administrasi per unitnya jauh lebih tinggi, mengapa? Karena ukuran pinjamannya kecil. Biaya administrasi tetap (fixed administrative expenses) tidak dapat disebarkan ke jumlah pinjaman yang lebih besar. Contoh biaya tetap untuk menangani pinajaman Rp. 10.000.000 hampir sama dengan pinjaman Rp. 100.000.000. Biaya administrasi yang tinggi merupakan salah satu alasan penting mengapa banyak Credit Union gagal memperoleh keuntungan. Target “ideal” yang direkomendasikan oleh sistem PEARLS adalah menjaga biaya administrasi sebesar 5% dari rata-rata aset.

7) Biaya provisi pinjaman lalai/macet

Jenis biaya terakhir yang dievaluasi oleh PEARLS adalah biaya provisi pinjaman lalai atau macet. Standar akuntansi tradisional biasanya memasukkan provisi kerugian atas pinjaman sebagai bagian dari biaya administrasi secara keseluruhan. Dalam kenyataannya, pengalokasioan provisi yang memadai menunjukkan suatu tipe pengeluaran yang sama sekali berbeda.

Ini terkait langsung dengan analisis kredit yang benar dan teknik pengembalian pinjaman yang efektif. Dengan memisahkan pengeluaran provisi ini dari biaya administrasi, maka ada gambaran yang lebih jelas tentang titik lemah administrasi kredit Credit Union.

Rumus untuk mengukur rates of return and cost (R):

Indikator ini mengukur pendapatan perolehan rata-rata untuk setiap aset yang paling produktif yang tercantum pada neraca. Disamping itu, R mengukur biaya rata-rata untuk setiap utang dan modal yang paling penting. Hasilnya merupakam perolehan investasi rata-rata dan bukan hasil “spread analysis” khusus yang digambarkan berdasarkan pada basis rata-rata aset. Hasil yang berkaitan menunjukkan apakah Credit Union memperoleh pendapatan dan mampu membayar sesuai tingkat bunga pasar atas aset, utang dan modal.

a) Biaya keuangan : Simpanan saham anggota/ Rata-rata simpanan saham (R7)

Tujuan: mengukur pendapatan (biaya) atas simpanan saham anggota.

a : total dividen yang dibayarkan pada simpanan anggota

b : total premi asuransi yang dibayarkan atas simpanan saham anggota

c : total pajak yang dibayarkan oleh CU atas dividen simpanan saham

d : total simpanan saham anggota sampai akhir tahun lalu

rumus: R7= (a+b+c)/[(d+e)/2]x100%

goal: sama atau lebih besar dari R5 (>inflasi) b) Biaya operasional/rata-rata aset (R9)

Tujuan: mengukur biaya yang terkait dengan manajemen dari semua aset CU. Biaya ini diukur sedagai persentase total aset dan menunjukkan drajat efesiensi operasional atau ketidak efesiensian operasional.

Keterangan:

a : total biaya operasioanal (diluar provisi untuk pinjaman lalai)

b : total aset sampai akhir tahun ini c : total aset sampai akhir tahun lalu rumus: R9=a/[(b+c)/2]x100%

goal: 5% e. Liquidity (L)

Manajemen likuiditas yang baik menjadi suatu keterampilan penting karena Credit Union menjalankan struktur keuangan dari simpanan saham menjadi simpanan non-saham yang bisa bergerak cepat. Perubahan-perubahan yang terjadi setelah model tradisional,

simpanan saham anggota tidak likuid dan sebagian besar pinjaman pada pihak luar dapat dikembalikan dalam priode yang lama, sehingga terjadi sedikit intensif untuk menjaga cadangan likuiditas. Likuiditas dulunya dipandang berdasarkan ketersediaan uang tunai untuk dipinjam anggota. Dengan memperkenalkan penekanan pada simpanan non-saham yang dapat ditarik sewaktu-waktu, konsep likuiditas jelas berubah. Sekarang likuiditas merajuk pada uang tunai yang selalu harus tersedia untuk penarikan simpanan maupun pencairan pinjaman. Ini merupakan variabel yang tidak mudah dikontrol oleh Credit Union.

Menjaga cadangan likuiditas yang cukup merupakan modal utama dalam manajemen keuangan yang sehat. Sistem PEARLS menganalisis likuiditas dari dua perspektif yaitu:

1) Total cadangan likuiditas

Indikator ini mengukur persentase simpanan non-saham yang di investasikan sebagai aset likuid baik di bank maupun di Pusat Koprasi Kredit. Target yang ideal di jaga pada minimum 15% setelah membayar semua kewajiban jangka pendek (30 hari atau kurang)

2) Cadangan likuid yang menganggur

Cadangan likuid itu penting, tetapi cadangan likuid ini juga menjadi opportunity cost yang hilang. Dan dana-dana yang disimpan di bank atau investasi berpendapatan rendah tidak

sebanding dengan biaya membeli dana tersebut. Ada kemungkinan dana tersebut dari sumber yang mahal. Oleh sebab itu, penting menjaga Idle money sekecil mungkin.

Rumus liquidity (L)

Indikator ini menunjukkan apakah Credit Union dapat secara efektif menangani uang tunainya sehingga Credit Union selalu memiliki uang yang cukup mana kala secara tiba-tiba para anggota menarik simpanannya. Dengan kata lain cadangan likuiditas selalu kuat. Disamping itu, uang menganggur (idle) juga diukur untuk memastikan bahwa aset-aset yang tidak menghasilkan jangan sampai mengurangi pendapatan Credit Union.

a) Investasi likuid + aset Likuid – kewajiban jangka pendek/simpanan non-saham (L1)

Tujuan: mengukur kesehatan cadangan kas likuid untuk memenuhi tarikan simpanan, setelah membayar semua kewajiban jangka pendek < 30 hari (masuk dalam non-interest bearing liabilities)

Keterangan:

a : total investasi likuid yang menghasilkan b : total aset likuid yang tidak menghasilkan

c : total kewajiban jangka pendek < 30 hari (non-interest bearing liabilities)

rumus: L1= (a+b-c)/d x 100% goal: 15- 20 %

f. Sig of growth (S)

Cara paling bagus menjaga nilai aset adalah melalui pertumbuhan aset yang kuat dan cepat dengan tetap menjaga tingkat keuntunganh yang memadai. Melihat pertumbuhan aset saja tidaklah cukup. Keuntungan Dari sistem PEARLS adalah mengkaitkan pertumbuhan dengan perolehan keuntungan, juga dengan area kunci lain dengan menilai kekuatan sistem secara keseluruhan pertumbuhan diukur dalam 5 area kunci:

1) Total aset

Pertumbuhan total aset adalah salah satu rasio yang penting. Banyak rumus yang digunakan dalam rasio PEARLS memasukkan total aset sebagai faktor pembagi. Pertumbuhan aset yang kuat dan konsisten menyempurnakan rasio-rasio PEARLS. Dengan membandingkan pertumbuhan berdasarkan total aset terhadap area kunci lainnya, akan mudah diketahui perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur neraca yang mungkin akan berdampak positif atau negatif terhadap perolehan pendapatan. Idealnya semua Credit Union mencapai pertumbuhan positif nyata (misalnya, pertumbuhan bersih setelah mengurangkannya dengan tingkat inflasi) setiap tahun.

2) Pinjaman

Portofolio pinjaman (pinjaman beredar) merupakan aset Credit Union yang penting dan menguntungkan. Jika pertumbuhan total pinjaman sebanding dengan pertumbuhan total aset, maka tingkat keuntungan yang diperoleh dapat dijaga. Sebaliknya, apabila tingkat pertumbuhan pinjaman menurun, maka tingkat pendapatan juga akan menurun.

3) Simpanan non-saham

Dengan pendekatan baru pada penekanan mobilisasi simpanan, simpanan non-saham merupakan tulang punggung pertumbuhan. Pertumbuhan total aset bergantung pada pertumbuhan simpanan. Program pemasaran produk simpanan yang andal akan meningkatkan jumlah simpanan anggota. Akhirnya berpengaruh pada pertumbuhan area-area kunci yang lain.

4) Simpanan saham

Meskipun simpanan saham anggota tidak lagi menjadi penekan, beberapa Credit Union masih menjaga ketergantungan pada pertumbuhan simpanan saham. Jika laju pertumbuhan saham berlebihan, ini menjadi pertanda bahwa ketidakmampuan Credit Union menerapkan sistem baru dalam mempromosikan simpanan selain simpanan saham.

5) Modal lembaga

Dokumen terkait