Gambar 2. Proses perpindahan bahan cemaran dari aktivitas darat ke lingkungan laut (Hutagalung, 1991)
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.4. Analisis Data
Data analisis logam berat Pb, Cd dan Cu dalam air pada stasiun pengamatan di bandingkan dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu KEPMEN LH No. 51 Tahun 2004 tentang ”Penetapan Baku Mutu Air Laut” sedangkan konsentrasi logam berat dalam organ kerang menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-4104 (1996) mengenai logam berat dalam makanan dan hasil-hasil perikanan lainnya yang dikonsumsi. Untuk mengetahui keeratan hubungan antara konsentrasi logam berat Pb, Cd dan Cu dalam air laut, sedimen dan organ kerang menggunakan analisis regresi korelasi/hubungan (Sudjana, 2001). Rumus koefisien korelasi (r) adalah sebagai berikut:
2 2 ) ( ) (Sx Sy Sxy Sxy =
1
)
)(
(
−
−
−
∑
n
y
y
X
X
i i1
)
(
2−
−
∑
n
x
x
i 1 ) ( 2 − −∑
n y yi Sy2 = Sx2 = r =
Keterangan :
r = Koefisien korelasi
Sxy = Sebaran nilai pengamatan x dan y Sx2 = Keragaman nilai x
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi PenelitianPropinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terletak di antara 80-120 Lintang Selatan hingga 1180-1250 Bujur Timur. Secara geografis, Nusa Tenggara Timur terletak di belahan paling Selatan Indonesia. Di bagian barat berbatasan dengan Propinsi Nusa Tenggara Barat, di sebelah utara berbatasan dengan Selat Makassar, di timur berbatasan dengan Propinsi Maluku dan Negara Timor Lorosae serta di selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia. Propinsi Nusa Tenggara Timur terdiri atas 566 pulau. Dari jumlah tersebut 246 pulau telah mempunyai nama sedangkan 320 pulau lainnya belum memiliki nama, sementara hanya 42 pulau yang berpenghuni dan selebihnya hanya merupakan tempat persinggahan nelayan.
Kota Kupang memiliki iklim yang sangat tipikal yang dicirikan dengan musim penghujan 3-4 bulan setiap tahunnya dan jumlah hari hujan 100 hari dengan suhu berkisar antara 23oC-34oC (BPS Kota Kupang, 2003). Kondisi iklim di kota Kupang cenderung tergolong dalam semi-arid (lahan kering). Jenis tanah meliputi jenis tanah mediterania seluas 1.110.807 ha (23,45%); litosol seluas 1.903.184 ha (40,19%); Alufial seluas 136,250 ha (2,46%) grumusol seluas 136,750 ha (2.88%) dan regosol seluas 64,250 ha (1,36%), kedalaman tanah sekitar 30-60 cm, kondisi ini disebabkan oleh struktur batuan induk berupa koral dan tanah yang terbuka karena vegetasi sangat terbatas sehingga rentan terhadap erosi.
Perairan Teluk Kupang berada di wilayah Pulau Timor yang terdiri dari kawasan dengan iklim dan lahan yang kering serta tidak subur, sehingga sumberdaya laut dan pantainya dapat menjadi salah satu alternatif dalam upaya pemanfaatan sumberdaya alam. Kondisi pantai dan perairan di Teluk Kupang dipengaruhi oleh sungai yang bermuara ke Teluk. Sungai yang cukup berpengaruh adalah sungai Kuka di pantai utara, Sungai Beno, Sungai Nun Kurus di bagian timur serta Sungai Oesao, Sungai Noel Baki, Sungai Manikin, Sungai Oesapa dan Sungai Kalidendeng di pantai selatan. Secara geografis daerah Kecamatan Alak di sebelah utara berbatasan dengan Teluk Kupang, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Kupang Barat/Kecamatan Maulafa, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Kelapa Lima/Kecamatan Oebobo dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kupang dan Kecamatan Kupang Barat. Permukaan tanah terdiri dari batu-batuan karang yang tidak rata serta tanah yang berwarna merah dan putih yang berada pada ketinggian dari permukaan laut di sebelah Selatan 100-250 meter dan di sebelah utara 0-50 meter.
Suhu udara maximum 350C dan beriklim tropis. Geografis Kecamatan Kelapa Lima di sebelah utara berbatasan dengan Teluk Kupang, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Oebobo, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Tarus dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Alak. Permukaan daratan terdiri dari batu-batuan karang yang tidak rata serta berwarna merah dan putih yang berada pada ketinggian 50 meter dari permukaan laut, suhu udara maximum 350C dan beriklim tropis. Jumlah penduduk di Kecamatan Alak sebanyak 35.402 jiwa dengan kepadatan per km2 394 jiwa sedangkan di Kecamatan Kelapa Lima sebanyak 66.965 jiwa dengan luas wilayah 18.24 Km2 (BPS Kota Kupang, 2003).
Penelitian yang dilakukan di perairan Teluk Kupang, meliputi dua (2) Kecamatan, yaitu Kecamatan Alak dengan luas wilayah 24.16 Km2 dengan jumlah penduduk 16.493 jiwa sedangkan Kecamatan Kelapa Lima dengan luas wilayah 782 Km2 dengan jumlah penduduk 26.164 jiwa. Lokasi pengambilan sampel untuk stasiun I (ST1) di Kelurahan Alak (pelabuhan) yang terletak di antara 10° 12' 06" LS hingga 123° 31' 35" BT, stasiun II (ST2) di Kecamatan Namosain (Darmaga nelayan) yang terletak di antara 10° 12' 06" LS hingga 123° 31' 35" B, stasiun III (ST3) di Kecamatan Fatufeto (Sungai Kalidendeng) yang terletak di antara 10° 09' 38" LS hingga 123° 34' 31" BT, sedangkan stasiun IV (ST4) di Kelurahan Oeba ( pantai Oeba) yang terletak di antara 10° 09' 08" LS hingga 123° 35' 43" BT dan stasiun V (ST5) di Kelurahan Oesapa (Sungai Oesapa) yang terletak di antara 10° 08' 34" LS hingga 123° 38' 03" BT.
4.2. Nilai pH
Nilai pH suatu perairan memiliki ciri yang khusus yaitu adanya keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan yang diukur adalah konsentrasi ion hidrogen. Adanya karbonat, hidroksida dan bikarbonat dapat menaikkan kebasaan air, sementara adanya asam-asam mineral bebas dan asam karbonat menaikkan pH. Derajat keasaman (pH) air laut di Teluk Kupang berkisar antara 8,26-8,45. Kisaran pH air laut di Teluk Kupang cenderung bersifat basa. Hal
ini disebabkan wilayah Kota Kupang khususnya perairan Teluk Kupang secara keseluruhan memiliki topografi yang sangat unik karena didominasi oleh struktur
batuan induk berupa koral/karang dan tanah yang terbuka karena vegetasi penutup sangat sedikit sehingga rentan terhadap erosi yang dapat melarutkan
koral sebagai batuan yang banyak mengandung mineral terutama kalsium sehingga sulit untuk mencapai pH netral. Nilai pH air laut di perairan Teluk Kupang pada setiap lokasi pengamatan masih berada pada kategori yang layak
untuk kegiatan sektor perikanan. Hal ini juga sesuai dengan kriteria kualitas air laut yaitu 7-8,5 ( Kepmen LH RI No 51 tahun 2005) tentang Baku Mutu air Laut.
Nilai pH pada setiap stasiun pengamatan dapat dilihat pada Gambar 6.
6 6.5 7 7.5 8 8.5 9 Nilai pH Stasiun Pengamatan pH 8.34 8.41 8.45 8.26 8.27 ST 1 ST 2 ST 3 ST 4 ST 5
Gambar 6. Nilai rata-rata pH pada setiap stasiun pengamatan 4.3. Suhu
Suhu perairan merupakan salah satu parameter fisika yang sangat penting bagi kehidupan biota air, oleh karena itu untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan yang optimal setiap biota mempunyai batas toleransi yang berbeda-beda terhadap suhu terendah dan suhu tertinggi. Suhu perairan berpengaruh terhadap kelarutan oksigen, komposisi subtrat, luas permukaan yang mendapatkan sinar matahari, kekeruhan maupun kecepatan reaksi kimia di
dalam air yang juga mempengaruhi proses osmoregulasi, dan pernapasan organisme perairan. Oleh sebab itu dengan meningkatnya suhu perairan, maka
kehidupan organisme di dalamnya juga dapat terpengaruh dan pada kondisi ekstrim dapat menyebabkan kematian. Secara umum suhu berpengaruh langsung terutama terhadap biota perairan berupa reaksi enzimatik pada organisme dan tidak berpengaruh langsung terhadap struktur dan dispersi
hewan air (Nontji, 1984). Disamping itu suhu juga mempunyai hubungan langsung terhadap densitas air dan salinitas (Kinne, 1970) oleh karena itu
perubahan suhu air dapat mempengaruhi struktur komunitas biota.
Pada daerah tropis suhu permukaan laut berkisar antara 27-29 0C dan daerah subtropis berkisar antara 15-20 0C. Menurut Soegiarto dan Birowo (1983) suhu pada lapisan permukaan di perairan Indonesia berkisar antara 26-30 0C, pada lapisan tengah (termoklin) berkisar antara 9-26 0C dan pada lapisan dalam (hipolimnion) berkisar antara 2-8 0C yang merupakan suhu yang paling kecil. Menurut Nontji (1987), suhu permukaan laut di perairan Indonesia pada umumnya berkisar antara 28-31 0C.
6 6.5 7 7.5 8 8.5 9 Nilai pH ST 1 ST 2 ST 3 ST 4 ST 5 Stasiun Pengamatan Batas atas Batas bawah
Hasil pengukuran suhu yang dilakukan di lima stasiun pengamatan dengan tiga kali ulangan menunjukkan bahwa suhu di perairan Teluk Kupang berkisar antara 28,53-29,10 0C (Gambar 7). Suhu terendah terdapat pada stasiun IV sedangkan suhu tertinggi terdapat pada stasiun V. Kisaran suhu ini sesuai dengan keadaan yang terdapat di perairan Teluk Kupang yaitu pada bulan Januari sampai dengan bulan April yang merupakan musim hujan, akan tetapi curah hujannya tidak menentu dan intensitas penyinaran matahari masih tinggi bahkan juga disertai oleh angin yang kencang, sehingga akan mempengaruhi suhu di perairan secara umum, khususnya di perairan Teluk Kupang. Tingginya intensitas penyinaran dan kondisi permukaan laut yang lebih tenang menyebabkan penyerapan panas ke dalam air laut lebih tinggi, sehingga suhu air menjadi maksimum. Selain itu terjadi pula perubahan suhu pada air laut yang dipengaruhi oleh evaporasi, curah hujan dan bahan-bahan lain yang masuk ke dalam perairan. Perubahan suhu yang terjadi pada setiap stasiun pengamatan (Gambar 7) masih dalam toleransi untuk kehidupan biota laut pada umumnya (Nontji, 1984).
Gambar 7. Rata-rata suhu pada setiap stasiun pengamatan