• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 2. Proses perpindahan bahan cemaran dari aktivitas darat ke lingkungan laut (Hutagalung, 1991)

III. BAHAN DAN METODE 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

4.4. Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut merupakan salah satu gas yang terlarut dalam perairan. Keberadaan oksigen ini secara alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfir. Semakin tinggi suhu dan semakin meningkat ketinggian (altitude) serta semakin kecil tekanan atmosfir, maka konsentrasi oksigen terlarut semakin kecil (Jeffries dan Mills, 1996 dalam Effendi, 2003). Hal ini sesuai dengan pendapat Brown (1987) yang mengemukakan bahwa peningkatan suhu sebesar 1oC akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai nol (anaerob). Hubungan antara kadar oksigen terlarut dan suhu menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu maka kelarutan oksigennya semakin

Batas atas Batas bawah 25 26 27 28 29 30 31 32 33 S u h u (o C) ST 1 ST 2 ST 3 ST 4 ST 5 Stasiun pengamatan

berkurang. Kelarutan oksigen dan gas-gas lain ini akan berkurang dengan meningkatnya salinitas, sehingga kadar oksigen di laut cenderung lebih rendah dari kadar oksigen di perairan tawar.

Berdasarkan pengukuran nilai oksigen terlarut (DO) yang dilakukan di perairan Teluk Kupang menunjukkan bahwa DO rata-rata berkisar antara 6,07-6,55 mg/L. Gambar 8 menunjukkan bahwa nilai pada setiap stasiun sangat bervariasi, nilai DO tertinggi terjadi pada ST3 sedangkan nilai terendah pada ST5. Adanya nilai DO yang bervariasi disebabkan karena tiap stasiun menerima cemaran yang berbeda-beda ditinjau dari tingkat aktivitas dan masuknya air limbah melalui air sungai. Adanya fluktuasi kadar oksigen terlarut yang terjadi pada lokasi penelitian antar stasiun ini dipengaruhi oleh percampuran (mixing), pergerakan (turbulensi) massa air, terjadinya akitivitas fotosintesis, repirasi dan limbah (effluent) yang masuk ke dalam badan perairan. Pada Gambar 8 memperlihatkan konsentrasi oksigen terlarut yang sangat bervariasi namun nilai-nilai tersebut masih dalam kisaran baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah yakni > 6,0 mg/L (Kepmen LH No. 51 tahun 2004.

Gambar 8. Rata-rata oksigen terlarut (DO) pada setiap stasiun pengamatan

4.5. Salinitas

Salinitas air laut berfluktuasi tergantung pada musim, topografi, pasang surut, dan jumlah air tawar. Salinitas merupakan gambaran jumlah garam dalam suatu perairan (Dahuri, et al, 1996). Sebaran salinitas di air laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai (Nontji, 1987). Salinitas minimum terdapat pada daerah sekitar khatulistiwa dan salinitas maksimum terdapat pada lintang 20o LU dan 20o LS, salinitas mengalami penurunan ke

5 5.5 6 6.5 7 Oksigen terlarut (mg/L) ST 1 ST 2 ST 3 ST 4 ST 5 Stasiun pengamatan Baku Mutu

arah kutub. Keadaan salinitas yang rendah pada daerah sekitar khatulistiwa disebabkan oleh tingginya curah hujan (Sidjabat, 1973). Vernberg dan Venderg (1977) mengklasifikasikan konsentrasi salinitas pada perairan menjadi empat kategori. Pertama perairan hiperhaline dengan salinitas di atas 40%, kedua euhaline (salinitas 30-40o/oo), mixohaline dengan salinitas antara 0,5-30o/oo, dan limnetic water dengan salinitas lebih kecil dari 0,5o/oo. Barnes dan Hughes (1988) mengemukakan bahwa perairan yang memiliki salinitas lebih kecil dari 0,5 o/oo bersifat tawar sedangkan salinitas antara 0,5-30o/oo bersifat payau.

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di setiap stasiun menunjukkan bahwa rata-rata salinitas di perairan Teluk Kupang berkisar antara 32,03-32,87o/oo.

Gambar 9menunjukkan bahwa pada setiap stasiun nilai salinitasnya bervariasi, hal ini disebabkan adanya pengaruh air tawar dari muara sungai, kecepatan arus dan curah hujan yang terjadi pada saat penelitian berlangsung (Pebruari-Maret 2005), akan tetapi nilai salinitas di perairan Teluk Kupang masih bersifat euhaline (30-40o/oo), dan masih dalam kisaran peraturan pemerintah yang berlaku.

29 30 31 32 33 34 35 36 Salinitas (mg/L) ST 1 ST 2 ST 3 ST 4 ST 5 Stasiun pengamatan Batas atas Batas bawah

Gambar 9. Rata-rata salinitas pada setiap stasiun pengamatan

4.6. Kesadahan

Kesadahan (hardness) adalah gambaran kation logam divalen (valensi dua). Kation-kation tersebut dapat bereaksi dengan sabun sehingga membentuk endapan (presipitasi) maupun anion-anion yang terdapat dalam air yang juga dapat membentuk endapan atau menimbulkan perkaratan pada peralatan logam. Tingkat kesadahan ditentukan oleh keberadaan kalsium dan magnesium sebagai anion penyusun alklinitas yaitu bikarbonat dan karbonat. Kesadahan perairan berasal dari kontak air dengan tanah dan bebatuan.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan di laboratorium menunjukkan bahwa kesadahan tertinggi pada ST2 yakni 584,13 mg/L dan nilai terendah pada ST4 dengan nilai sebesar 481,51 mg/L. Nilai kesadahan di perairan Teluk Kupang berkisar antara 481,51-584,13 mg/L. Pada Gambar 10 terlihat bahwa nilai kesadahan dari lima stasiun tidak memperlihatkan perbedaan yang signifikan antara stasiun satu dengan stasiun lainnya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh struktur tanah dan batuan koral yang mengandung kalsium karbonat (CaCO3). Selain kalsium karbonat, kation dan anion sebagai penyusun kesadahan seperti Mg, Sr, Fe, Mn dan sebagai pasangannya adalah HCO3, SO4 Cl- NO3 dan SiO3. Perairan yang memiliki nilai kesadahan kurang dari 120 mg/L dan lebih dari 500 mg/L CaCO3 dianggap kurang baik bagi peruntukan domestik, pertanian dan industri, namun air sadah lebih disukai oleh organisme dari pada air lunak (Effenfi, 2003). Kadar maksimum kesadahan untuk kehidupan organisme akuatik sebesar 500 mg/L (WHO, 1992 dalam Effendi, 2003).

0 100 200 300 400 500 600 Kesadahan (mg/L) ST 1 ST 2 ST 3 ST 4 ST 5 Stasiun pengamatan Baku mutu

Gambar 10. Rata-rata kesadahan pada setiap stasiun pengamatan

4.7. Kekeruhan

Kekeruhan merupakan gambaran sifat optik air dari suatu perairan yang ditentukan berdasarkan banyaknya sinar yang dipancarkan dan diserap oleh partikel-partikel yang ada dalam air tersebut (Hariyadi, et al. 1992). Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut, maupun bahan organik dan anorganik berupa planton dan mikroorganisme lain (APHA, 1976; Davis Cornwell, 1991 dalam Effendi, 2001).

Kekeruhan juga dapat mengganggu kehidupan biota karena dapat menghambat penetrasi sinar yang masuk ke dalam perairan, kekeruhan yang

tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi, misalnya pernafasan dan daya lihat organisme akuatik, serta dapat mempersulit usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan. Batas maksimum yang dianjurkan dalam peraturan pemerintah yakni dalam Kepmen LH No.51 tahun 2005 tentang baku mutu kualitas air laut untuk perikanan

adalah > 5 NTU

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan pada lima stasiun pengamatan menunjukkan bahwa kekeruhan berkisar antara 2,82-7,85 NTU (Gambar 11). Kekeruhan tertinggi terjadi pada ST1, ST3, ST5, sedangkan yang

terendah terdapat pada ST4 dan ST2. Terjadinya kekeruhan yang bervariasi disebabkan setiap lokasi memiliki kondisi yang berbeda-beda. Stasiun yang kekeruhannya tinggi pada umumnya disebabkan karena pada stasiun tersebut

terdapat muara sungai yang merupakan wadah berbagai pencemaran yang berasal dari perkotaan, sedangkan di stasiun lainnya tidak terdapat aliran sungai.

Tingginya kekeruhan pada ketiga stasiun tersebut disebabkan adanya curah hujan yang cukup tinggi sehingga menimbulkan erosi baik erosi dari daerah perkotaan maupun dari daerah pegunungan dan erosi ini membawa partikel-partikel baik berupa bahan organik maupun bahan anorganik. Pada Gambar 10 menunjukkan bahwa nilai kekeruhan pada ketiga stasiun sudah melewati baku mutu, namun pada kedua stasiun lainnya masih layak/sesuai dengan Kepmen LH

No.51 tahun 2005 tentang baku mutu kualitas air laut untuk perikanan. Tingginya kekeruhan pada ketiga stasiun tersebut dapat mengganggu kehidupan baik hewan, tumbuhan maupun organisme yang berada di perairan, khususnya di perairan Teluk Kupang. Tingginya kekeruhan ini menyebabkan penetrasi cahaya

sedangkan hewan terutama yang hidup menetap seperti kerang lambat laun akan mengalami kepunahan.

Gambar 11. Rata-rata kekeruhan pada setiap stasiun pengamatan

Dokumen terkait