• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data Hasil Penelitian

Dalam dokumen Skripsi. oleh. Lailia Mawaddah NIM (Halaman 78-124)

HASIL PENELITIAN A. Profil Sekolah

C. Analisis Data Hasil Penelitian

Tabel 1.4 Ade Amelia

Penulis melihat hasil simakan peserta didik dari video yang ditonton dengan cara memperoleh ke bentuk puisi, maka berdasarkan kategori penilaian menulis puisi pada tabel 1.4 penulis menjelaskan bahwa :

Tipografi puisi yang dibuat oleh Ade Amelia adalah tipografi puisi inkonvensional, artinya puisi ini tidak terikat dalam pengaturan pembuatan puisi, akan tetapi puisi ini tetap menciptakan ritme. Puisi ini terdiri atas tiga bait. Puisi Ade Amelia menggunakan huruf kapital pada huruf awal setiap

No Aspek Penilaian Menulis Puisi skor Tipografi Tema Diksi Amanat

1 100 100 80 100 92,5

bait, menggunakan tanda baca lengkap, bait pertama terdapat 5 larik, bait ke-2 terdapat 4 larik, dan baik ke-3 terdapat 6 larik. Pada larik terakhir puisi ini terdapat tanda tanya untuk memberikan pertanyaan kepada pembaca apakah sudah siap untuk bergerak, hal ini dapat dibuktikan sebagai berikut:“Jadi, sudah siap bergerak untuk berubah?” kalimat tersebut sekaligus menjadi simpulan puisi yang telah Ade Amelia buat untuk membangkitkan pembaca agar lebih semangat lagi untuk membuat perubahan yang lebih baik.

Berdasarkan film yang ditonton sebelum menulis puisi, tema dalam puisi ini sesuai dengan tema yang sudah ditentukan oleh penulis yaitu, Bergerak untuk Berubah. Ade membuat puisi dengan judul Bergerak untuk Berubah, hal ini merupakan kesalah yang dilakukan oleh Ade karena seharusnya Bergerak untuk Berubah merupakan tema bukan judul puisi.

Akan tetapi isi puisi yang dibuat ade sudah sesuai dengan tema yang telah ditentukan, hanya saja kesalahan dalam membuat judul puisi.

Dalam puisi Ade Amelia tema yang terdeskripsikan dapat dirasakan secara eksplisit, hal ini dapat dibuktikan pada baik ke-2 larik ke-4 “Teruslah bergerak tanpa takut akan terjatuh” kutipan tersebut membuktikan bahwa Ade Amelia terang-terangan mendeskripsikan puisinya agar tema pada puisi ini dapat dirasakan langsung oleh pembaca.

Diksi pada puisi ini tidak bersifat konotatif, artinya susunan kata yang terdapat pada puisi ini tidak puitis dan tidak mempunyai efek keindahan.

Pada bait pertama larik ke-5 yakni “Yang terpenting adalah kita harus tetap bergerak”. Kata “bergerak” sebagai pilihan kata Ade Amelia belum memiliki makna konotatif.

Pesan yang disampaikan oleh Ade Amelia dalam puisinya sudah cukup tersampaikan. Dapat dilihat dalam kutipan puisi tersebut:

“… Jangan takut untuk memulai sesuatu yang baru Teruslah bergerak tanpa takut akan terjatuh,,,”

Amanat yang disampaikan pada puisi Ade Amelia jelas memberikan semangat kepada pembaca agar tidak takut untuk memulai sesuatu yang lebih baik.

Ade Amelia mendapatkan skor tipografi 100 karena tipografi puisi sudah terbentuk sebuah puisi, yaitu terdapat bait dan juga larik. Skor tema 100 karena puisi sudah sesuai dengan tema yang telah ditentukan yaitu, Bergerak untuk Berubah. Skor diksi 80 karena pemilihan kata terlalu banyak sehingga pembaca tidak memahami maknanya. Skor amanat 100 karena amanat yang disampaikan oleh Ade Amelia sudah disampaikan dengan jelas. Dari pemerolehan skor tersebut, jumlah skornya adalah 380, lalu dibagi 4 dan mendapatkan hasil 95 dengan kualifikasi sangat baik.

Tabel 1.5 Adelisa

Penulis melihat hasil simakan peserta didik dari video yang ditonton dengan cara memperoleh ke bentuk puisi, maka berdasarkan kategori penilaian menulis puisi pada tabel 1.5 penulis menjelaskan bahwa :

Tipografi puisi yang dibuat oleh Adelisa adalah tipografi puisi inkonvensional, artinya puisi ini tidak terikat dalam pengaturan pembuatan puisi, akan tetapi puisi ini tetap menciptakan ritme. Puisi ini terdiri atas tiga bait. Puisi Adelisa sebagian baitnya menjorok ke dalam, penggunaan huruf kapital pada bait pertama larik pertama, setelah itu menggunakan huruf kecil. Penggunaan titik pada beberapa larik saja, puisi ini terdapat 3 bait dan seluruhnya terdapat 3 larik.

No Aspek Penilaian Menulis Puisi skor Tipografi Tema Diksi Amanat

1 100 100 70 100 92,5

Berdasarkan film yang ditonton sebelum menulis puisi, tema dalam puisi ini sesuai dengan tema yang sudah ditentukan oleh penulis. Hal ini dapat dibuktikan dengan puisinya yang berjudul “Hal Baru yang Tidak Terbayangkan”. Dalam puisi Adelisa tema yang dideskripsikan bisa dirasakan secara eksplisit, hal ini dapat dibuktikan pada bait pertama larik petama yakni “Setiap perjalanan yang kita lalui pasti ada rintangannya”.

Hal ini sesuai dengan tema, karena setiap orang yang ingin bergerak melakukan perubahan yang lebih baik pasti banyak rintangan atau cobaan yang harus dihadapi.

Diksi pada puisi ini tidak bersifat konotatif, artinya susunan kata yang terdapat pada puisi ini tidak puitis dan tidak mempunyai efek keindahan.

Sehingga puisinya tidak indah untuk dilantunkan. Terbukti pada bait ke pertama larik ke-3 yakni “dimana ada masalah disitu ada akhir cerita” kata

”dimana”, “masalah”, dan “disitu” sebagai pilihan kata Adelisa kurang patut atau belum memiliki makna konotatif sehingga tidak puitis saat dibaca.

Pesan yang disampaikan oleh Adelisa dalam puisinya sudah tersampaikan dengan baik. Dapat dilihat pada kutipan puisi tersbut:

“disitulah kita harus belajar dari masa lalu”

kutipan puisi tersebut memberikan pesan bahwa pembaca harus belajar dari masa lalu yang pernah dialami, sehingga bisa menjadi pelajaran agar hidup menjadi lebih baik.

Adelisa mendapatkan skor tipografi 100 karena bentuk puisinya sudah sangat baik dan bisa langsung dilihat oleh pembaca bahwa tulisan tersebut adalah puisi karena terdapat beberapa bait. Skor tema 100 karena tema puisi Adelisa telah sesuai dengan tema yang telah ditentukan, yaitu, Bergerak untuk Berubah. Skor diksi 70 karena pemilihan kata terlalu banyaj sehingga pembaca tidak memahami maknya. Skor amanat 100 karena pesan yang disampikan oleh Adelisa telah disampaikan dengan jelas. Dari pemerolehan skor tersebut, jumlah skornya adalah 370, lalu dibagi 4 dan mendapatkan hasil 92,5 dengan kualifikasi sangat baik.

Tabel 1.6 Angelica Anandra

Penulis melihat hasil simakan peserta didik dari video yang ditonton dengan cara memperoleh ke bentuk puisi, maka berdasarkan kategori penilaian menulis puisi pada tabel 1.6 penulis menjelaskan bahwa :

Tipografi puisi yang dibuat oleh Angelica Anandra adalah tipografi puisi inkonvensional, artinya puisi ini tidak terikat dalam pengaturan pembuatan puisi, akan tetapi puisi ini tetap menciptakan ritme. Puisi ini terdiri atas dua bait. Puisi Angelica menggunakan huruf kapital dan huruf kecil pada setiap awal larik dan tidak menggunakan tanda baca. Puisi ini memiliki 2 bait dan setiap bait terdapat 4 larik. Tatap wajah puisi ini tidak ada yang menjorok ke kanan, setiap lariknya tertulis di bagian kiri.

Berdasarkan film yang ditonton sebelum menulis puisi, tema dalam puisi ini sangat tidak sesuai dengan film yang telah ditonton. Puisi ini

No Aspek Penilaian Menulis Puisi skor Tipografi Tema Diksi Amanat

1 80 40 70 90 70

berjudul “Tolak Rasisme”, artinya sama sekali tidak sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Meskipun tema pada puisi Angelica tidak sesuai dengan tema yang telah ditentukan, akan tetapi, puisi berjudul “Tolak Rasisme” yang dibuat oleh Angelica bisa dirasakan secara eksplisit. Hal ini dapat dibuktikan pada bait kedua larik ke-2, Angelica mengatakan:

“kami manusia yang berhak mendapat keadilan”.

Hal ini disampaikan oleh Anglica untuk mempertegas judul yang telah ia buat, yakni “Tolak Rasisme”.

Diksi pada puisi ini tidak bersifat konotatif, artinya susunan kata yang terdapat pada puisi ini tidak puitis dan tidak mempunyai efek keindahan.

Terbukti pada bait pertama larik ke-4 yakni “salah satunya warna kulit”

kata “salah satunya” senagai pilihan kata dari Angelica kurang tepat atau tidak memiliki makna konotatif.

Pesan yang disampaikan oleh Angelica Anandra dalam puisinya sudah cukup tersampaikan, meskipun temanya tidak sesuai. Hal ini dapat dibuktikan pada bait kedua larik ke-4 yakni, “belajarlah mencintai perbedaan untuk lebih menghargai”.

Angelica Anandra mendapatkan skor tipografi 80 karena bentuk puisinya terlalu padat sehingga terlihat seperti narasi. Skor tema 40 karena tidak sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Skor diksi 70 karena pemilihan kata terlalu banyak sehingga pembaca kurang memahami maknanya. Skor amanat yang didaptkan Angelica 90, meskipun keluar dari tema puisi, Angelica menyampaikan pesan di dalam puisinya dengan baik.

Dari pemerolehan skor tersebut, jumlah skornya adalah 280, lalu dibagi 4 dan mendapatkan hasil 70 dengan kualifikasi cukup.

Tabel 1.7 Ananda Pratama

Penulis melihat hasil simakan peserta didik dari video yang ditonton dengan cara memperoleh ke bentuk puisi, maka berdasarkan kategori penilaian menulis puisi pada tabel 1.7 penulis menjelaskan bahwa :

Tipografi puisi yang dibuat oleh Ananda Pratama adalah tipografi puisi inkonvensional, artinya puisi ini tidak terikat dalam pengaturan pembuatan puisi, akan tetapi puisi ini tetap menciptakan ritme. Puisi ini terdiri atas dua bait. Puisi yang dibuat oleh Ananda Pratama memiliki dua bait, bait pertama terdapat 3 larik dan bait ke-2 terdapat 5 larik. Puisi ini menggunakan huruf kapital bagian bait pertama pada larik pertama, selebihnya menggunakan

No Aspek Penilaian Menulis Puisi Skor Tipografi Tema Diksi Amanat

1 90 100 80 90 90

huruf kecil. Puisi ini juga menggunakan tanda baca untuk memberikan intonasi pada setiap pembacanya.

Berdasarkan film yang ditonton sebelum menulis puisi, tema dalam puisi ini sesuai dengan tema yang sudah ditentukan oleh penulis yaitu, Bergerak untuk Berubah. Hal ini dapat dibuktikan dengan puisinya yang berjudul “Percaya Pada Prinsip”. Dalam puisi Ananda Pratama tema yang dideskripsikan bisa dirasakan secara eksplisit. Hal ini dapat dibuktikan pada bait ke-2 larik ke 4 yakni, “jangan ragu dan takut untuk melangkah” larik tersebut membuktikan bahwa tema pada puisi Ananda Pratama telah sesuai dengan tema yang telah ditentukan, yakni “Bergerak untuk Berubah”.

Diksi pada puisi ini tidak bersifat konotatif, artinya susunan kata yang terdapat pada puisi ini tidak puitis dan tidak mempunyai efek keindahan.

Terbukti pada bait pertama larik ke-1 yakni ”tidak peduli apa warna kulitmu”. Kata “peduli” sebagai pilihan kata dari Ananda Pratama belum memiliki makna konotatif.

Pesan yang disampaikan oleh Ananda Pratama dalam puisinya sudah cukup tersampaikan. Dapat dilihat dalam kutipan puisi tersebut:

“,,, jangan ragu dan takut untuk melangkah Karena tujuanmu mengubah dunia,,,”

Pesan yang disampaikan oleh Ananda Pratama dalam puisinya sudah cukup jelas dan mudah didapatkan oleh pembaca.

Anandra Pratama mendapatkan skor tipografi 90 karena bentuk puisinya terlihat kurang rapih. Skor tema 100 karena telah sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Skor diksi 80 karena pemilihan kata oleh Ananda terlalu banyak, sehingga kurang dipahami maknanya. Skor amanat 90 karena pesan yang disampaikan oleh Ananda sudah disampaikan dengan jelas. Dari pemerolehan skor tersebut, jumlah skornya adalah 360, lalu dibagi 4 dan mendapatkan hasil 90 dengan kualifikasi baik.

Tabel 1.8 Devira Aryani

Penulis melihat hasil simakan peserta didik dari video yang ditonton dengan cara memperoleh ke bentuk puisi, maka berdasarkan kategori penilaian menulis puisi pada tabel 1.8 penulis menjelaskan bahwa:

Tipografi puisi yang dibuat oleh Devira Aryani adalah tipografi puisi inkonvensional, artinya puisi ini tidak terikat dalam pengaturan pembuatan puisi, akan tetapi puisi ini tetap menciptakan ritme. Puisi ini terdiri atas

No Aspek Penilaian Menulis Puisi Skor Tipografi Tema Diksi Amanat

1 100 100 80 100 95

empat bait, bait pertama terdapat 4 larik, bait kedua terdapat 4 larik, bait ke-3 terdapat 6 larik, dan bait ke-4 terdapat ke-3 larik. Puisi Devira menggunakan huruf kapital dan huruf kecil dan menggunakan tanda baca. Puisi Devira juga sama seperti puisi-puisi peserta didik sebelumnya yaitu tidak ada yang menjorok ke kanan hanya saja puisi ini lebih banyak bait dan lariknya.

Berdasarkan film yang ditonton sebelum menulis puisi, tema dalam puisi ini sesuai dengan tema yang sudah ditentukan oleh penulis. Hal ini dapat dibuktikan pada puisinya yang berjudul “Impian”. Dalam puisi Devira Aryani tema yang dideskripsikan bisa dirasakan secara eksplisit. Hal ini dapat dibuktikan pada bait kedua larik ke-4, yakni “bukan tentang apa yang kita punya tapi apa yang kita lakukan”. Kata “lakukan” pada larik tersebut sama halnya seperti kata “bergerak” sesuai dengan tema yakni

“Bergerak untuk Berubah”.

Diksi pada puisi ini tidak bersifat konotatif, artinya susunan kata yang terdapat pada puisi ini tidak puitis dan tidak mempunyai efek keindahan.

Terbukti pada bait pertama larik ke-4 yakni “Bermimpilah setinggi langit”

kata “setinggi” sebagai pilihan kata kurang tepat dan pada bait ke-3 larik pertama yakni “Tak mudah untuk melalui perubahan” kata “melalui”

sebagai pilihan kata dari Devira belum memiliki makna konotatif.

Pesan yang disampaikan oleh Devira Aryani dalam puisinya sudah cukup tersampaikan. Dapat dilihat dalam kutipan puisi tersebut:

“,,, bermimpilah setinggi langit,,,”

Larik tersebut merupakan pesan yang disampaikan oleh Devira agar pembaca mempuntai mimpi setinggi langit.

Devira Aryani mendapatkan skor tipografi 100 karena bentuk puisinya sudah sangat baik karena terlihat beberapa bait pada puisinya. Skor tema 100 karena telah sesuai dengan tema yang telah ditntukan. Skor diksi 80 karena masih terdapat diksi yang kurang pas. Skor amanat 100 karena pesan yang disampaikan sudah tersampaikan dengan baik. Dari pemerolehan skor tersebut, jumlah skornya adalah 380, lalu dibagi 4 dan mendapatkan hasil 95 dengan kualifikasi sangat baik.

Tabel 1.9 Desmayanti Nurul

Penulis melihat hasil simakan peserta didik dari video yang ditonton dengan cara memperoleh ke bentuk puisi, maka berdasarkan kategori penilaian menulis puisi pada tabel 1.9 penulis menjelaskan bahwa:

Tipografi puisi yang dibuat oleh Desmayanti Nurul H adalah tipografi puisi inkonvensional, artinya puisi ini tidak terikat dalam pengaturan pembuatan puisi, akan tetapi puisi ini tetap menciptakan ritme. Puisi ini terdiri atas empat bait, bait pertama terdapat 3 larik, bait ke-2 terdapat 3 larik, bait ke-3 terdapat 3 larik, dan bait ke-4 terdapat 4 larik. Puisi

No Aspek Penilaian Menulis Puisi skor Tipografi Tema Diksi Amanat

1 80 100 90 100 92.5

Demayanti menggunakan satu tanda baca pada bait ke-4 larik ke 3, bait-bait puisi yang ditulis oleh Desmayanti berawal dari kiri dan tidak ada yang menjorok ke kanan.

Berdasarkan film yang ditonton sebelum menulis puisi, tema dalam puisi ini sesuai dengan tema yang sudah ditentukan oleh penulis. Hal ini dapat dibuktikan pada puisinya yang berjudul “Terus Melangkah”. Dalam puisi Demayanti tema yang dideskripsikan bisa dirasakan secara eksplisit.

Terbukti pada bait ke-4 larik ke 2 yakni “pompalah kesadaran untuk sebuah perubahan”. Larik tersebut membuktikan bahwa tema pada puisi Desmayanti dapat dirasakan dengan jelas.

Diksi pada puisi ini bersifat konotatif, artinya susunan kata yang terdapat pada puisi ini puitis dan mempunyai efek keindahan. Terbukti pada bait ke-2 larik ke-3, yakni “menafkahi kehidupan selangkah-demi selangkah” kata “menafkahi” sebagai pilihan kata Desmayanti memiliki makna konotatif.

Pesan yang disampaikan oleh Desmayanti Nurul H dalam puisinya sudah tersampaikan dengan baik. Dapat dilihat dalam kutipan puisi tersebut:

“,,, keluarlah dari lembata kebodohan

Pompalah kesadaran untuk sebuah perubahan,,,”

Pesan yang disampaikan oleh Desmayanti pada puisinya dapat ditemukan dengan mudah oleh pembaca.

Desmayanti Nurul H mendapatkan skor tipografi 80 karena bentuk puisinya terlalu padat, sehingga terlihat seperti narasi. Skor tema 100 karena telah sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Skor diksi 90 karena pemilihan kata yang digunakan kurang teliti, sehingga maknanya kurang jelas. Skor amanat 100 karena Desmayanti telah menyampaikan pesan dalam puisinya dengan baik.. Dari pemerolehan skor tersebut, jumlah skornya adalah 370, lalu dibagi 4 dan mendapatkan hasil 92,5 dengan kualifikasi sangat baik.

Tabel 1.10 Gloria Natalia

Penulis melihat hasil simakan peserta didik dari video yang ditonton dengan cara memperoleh ke bentuk puisi, maka berdasarkan kategori penilaian menulis puisi pada tabel 1.10 penulis menjelaskan bahwa:

Tipografi puisi yang dibuat oleh Gloria Natalua adalah tipografi puisi inkonvensional, artinya puisi ini tidak terikat dalam pengaturan pembuatan puisi, akan tetapi puisi ini tetap menciptakan ritme. Puisi ini terdiri atas tiga bait. Gloria membuat puisi dengan tipografi yang berbeda dari teman-temannya. Puisi Gloria menggunakan larik-larik yang panjang dan pendek.

Posisi puisi ini berada di tengah-tengah, pergantian larik panjang dan pendek sangat bervariasi. Puisi Gloria menggunakan huruf kapital dan huruf pendek juga tidak menggunakan tanda baca.

Berdasarkan film yang ditonton sebelum menulis puisi, tema dalam puisi ini sesuai dengan tema yang sudah ditentukan oleh penulis. Hal ini dapat dibuktikan dengan puisinya yang berjudul “Bergerak Demi Perubahan”. Dalam puisi Gloria tema yang dideskripsikan secara eksplisit.

Terbukti pada bait ke-2 larik ke-1 dan 2 yakni

“barisan muda generasi bergerak Menggantikan yang berserak..”

Diksi pada puisi ini bersifat konotatif, artinya susunan kata yang terdapat pada puisi ini puitis dan mempunyai efek keindahan. Terbukti pada bait ke-2 larik ke-2, yakni “menggantikan yang berserak” kata “berserak”

sebagai pilihan kata Gloria memiliki makna konotatif.

Pesan yang disampaikan oleh Gloria Natalia dalam puisinya sudah tersampaikan dengan baik. Dapat dilihat dalam kutipan puisi tersebut:

“,,, bergeraklah demi sebuah perubahan”

No Aspek Penilaian Menulis Puisi Skor Tipografi Tema Diksi Amanat

1 100 100 90 100 97,5

Larik tersebut merupakan sebuah pesan yang disampaikan oleh Gloria dalam puisinya.

Gloria Natalia mendapatkan skor tipografi 100 karena bentuk puisinya sudah sangat baik dan bisa langsung dilihat oleh pembaca bahwa tulisan tersebut adalah puisi. Skor tema 100 karena telah sesuai dengan ketentuan.

Skor diksi 90 karena diksi yang digunakan cukup baik. Skor amanat 100 karena Gloria telah menyampaikan pesan di dalam puisinya dengan baik.

Dari pemerolehan skor tersebut, jumlah skornya adalah 390, lalu dibagi 4 dan mendapatkan hasil 97,5 dengan kualifikasi sangat baik.

Tabel 1.11 Hardinda Raisha

Penulis melihat hasil simakan peserta didik dari video yang ditonton dengan cara memperoleh ke bentuk puisi, maka berdasarkan kategori penilaian menulis puisi pada tabel 1.11 penulis menjelaskan bahwa:

Tipografi puisi yang dibuat oleh Hardinda Raisha adalah tipografi puisi inkonvensional, artinya puisi ini tidak terikat dalam pengaturan pembuatan puisi, akan tetapi puisi ini tetap menciptakan ritme. Puisi ini terdiri atas tiga bait, bait pertama terdapat 5 larik, bait ke-2 terdapat 4 larik, dan bait ke-3 terdapat 5 larik. Larik-larik pada puisi Hardinda dimulai dari sisi kiri dan tidak ada larik yang menjorok ke kanan. Hardinda menggunakan huruf

No Aspek Penilaian Menulis Puisi skor Tipografi Tema Diksi Amanat

1 100 100 80 90 92,5

kapital dan huruf kecil pada puisinya dan hanya menggunakan satu tanda baca yaitu tanda tanya pada akhir puisi.

Berdasarkan film yang ditonton sebelum menulis puisi, tema dalam puisi ini sesuai dengan tema yang sudah ditentukan oleh penulis. Hal ini dapat dibuktikan pada puisinya yang berjudul “Perubahan”. Dalam puisi Hardinda Raisha tema yang dideskripsikan bisa dirasakan secara eksplisit.

Terbukti pada bait ke-3 larik ke-1 yakni “Dari bergerak untuk berubah”

larik tersebut dengan jelas mendeskrispsikan tema yang telah ditentukan.

Diksi pada puisi ini tidak bersifat konotatif, artinya susunan kata yang terdapat pada puisi ini tidak puitis dan tidak mempunyai efek keindahan.

Terbukti pada bait ke-3 larik ke-3 yakni “melihat orang lain” kalimat tersebut belum memiliki makna konotatif.

Pesan yang disampaikan oleh Hardinda Raisha dalam puisinya sudah cukup tersampaikan. Dapat dilihat dalam kutipan puisi tersebut:

“…harus tetap dihadapi,,,”

larik tersebut merupakan pesan yang disampaikan oleh Hardinda pada puisinya.

Hardinda Raisha mendapatkan skor tipografi 100 karena bentuk puisinya sudah sangat baik dan bisa langsung dilihat oleh pembaca bahwa tulisan tersebut adalah puisi. Skor tema 100 karena telah sesuai dengan ketentuan. Skor diksi 80 karena masih terdapat diksi yang kurang pas. Skor amanat 90, karena di dalam puisi Hardinda pesan yang disampaikan masih samar-samar sehingga pesan dalam puisi belum tersampaikan dengan baik..

Dari pemerolehan skor tersebut, jumlah skornya adalah 370, lalu dibagi 4 dan mendapatkan hasil 92,5 dengan kualifikasi sangat baik.

Tabel 1.12 Lulu Dwi

No Aspek Penilaian Menulis Puisi skor Tipografi Tema Diksi Amanat

1 100 70 70 90 82,5

Penulis melihat hasil simakan peserta didik dari video yang ditonton dengan cara memperoleh ke bentuk puisi, maka berdasarkan kategori penilaian menulis puisi pada tabel 1.12 penulis menjelaskan bahwa:

Tipografi puisi yang dibuat oleh Lulu Dwi adalah tipografi puisi inkonvensional, artinya puisi ini tidak terikat dalam pengaturan pembuatan puisi, akan tetapi puisi ini tetap menciptakan ritme. Puisi ini terdiri atas tiga bait, bait pertama terdapat 6 larik, bait ke-2 terdapat 8 larik, dan bait ke-3 terdapat 4 larik. Puisi Lulu sama seperti puisi peserta didik lainnya, yaitu tidak ada larik yang menjorok ke kanan, semua larik berawal dari sisi kiri, hanya saja puisi ini terlihat lebih padat sehingga hampir seperti prosa. Puisi ini menggunakan huruf kapital dan huruf kecil.

Berdasarkan film yang ditonton sebelum menulis puisi, tema dalam puisi ini tidak sesuai dengan tema yang sudah ditentukan oleh penulis. Isi puisi ini tidak mengisahkan tentang kerja keras untuk sebuah perubahan

Berdasarkan film yang ditonton sebelum menulis puisi, tema dalam puisi ini tidak sesuai dengan tema yang sudah ditentukan oleh penulis. Isi puisi ini tidak mengisahkan tentang kerja keras untuk sebuah perubahan

Dalam dokumen Skripsi. oleh. Lailia Mawaddah NIM (Halaman 78-124)

Dokumen terkait