EFEKTIVITAS MEDIA FILM PENDEK KINETIK KARYA PUTRI TANJUNG DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI KELAS X DI SMK TRIGUNA UTAMA
TANGERANG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2019/2020
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
oleh
Lailia Mawaddah NIM 11160130000053
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2021
i ABSTRAK
LAILIA MAWADDAH. NIM 11130160000053. Skripsi Efektivitas Media Film Pendek Kinetik dalam Pembelajaran Menulis Puisi Kelas X di SMK Triguna Utama. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas IlmuTarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Pembimbing: Dr. Hindun, M.Pd. 2020.
Skripsi ini tentang efektivitas menulis puisi dengan menggunakan media film pendek Kinetik oleh siswa kelas X SMK Triguna Utama. Penulis memilih menggunakan media film pendek Kinetik untuk memberikan motivasi agar peserta didik mudah mendapatkan inspirasi dan menuangkan ide yang ada di dalam pikirannya menjadi sebuah puisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifnya media film pendek Kinetik dalam pembelajaran menulis puisi.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Unsur penilaian yang digunakan dalam analisis menulis puisi peserta didik ada empat, yaitu, tipografi. tema, diksi, dan amanat.
Hasil penelitian menunjukan bahwa efektivitas menulis puisi melalui film pendek Kinetik dapat membantu peserta didik untuk menulis puisi dengan mudah dan semangat. Hal ini dapat dilihat dari hasil pemerolehan skor peserta didik , yaitu nilai tertinggi mendapatkan skor 95 dengan judul “Bergerak untuk Berubah” dan nilai terendah mendapatkan skor 70 dengan judul Virus Corona. Nilai rata-rata menulis puisi kelas X tersebut adalah 84 dari 19 peserta didik. Jadi simpulannya adalah media film pendek Kinetik dapat dijadikan sebagai media dalam pembelajaran menulis puisi di tingkat SMK.
Kata Kunci: Efektivitas, Menulis Puisi, Media Film Pendek Kinetik.
ii ABSTRACT
LAILIA MAWADDAH. NIM 11130160000053. Thesis The Effectiveness of Kinetic Short Film Media in Learning Poetry Writing Class X at Senior High School Triguna Utama. Department of Indonesian Language and Literature Education, Faculty of Educational Sciences, Islamic State University Syarif Hidayatullah Jakarta. Advisor: Dr. Hindun, M.Pd. 2020.
This Thesis The Effectiveness of Kinetic Short Film Media in Learning Poetry Writing Class X at Senior High School Triguna Utama". The writer chooses to use the short film Kinetic to provide motivation so that students can easily get inspiration and pour the ideas that are in their mind into a poem. This study aims to determine the effect of the short film Kinetic media in learning to write poetry.
The research method used in this thesis is descriptive qualitative. The data collection technique by the writer consists of several things, including observation, interviews, and documentation. There are four elements of assessment used in the analysis of students' poetry writing, namely, typography, Themes, diction and message.
The results showed that the effectiveness of writing poetry through a short film Kinetic can help students to write poetry with ease and enthusiasm. This can be seen from the results of the scores, namely the value the highest gets a score of 95 with the title “Moves to Change” and a score lowest score of 70 with the title Corona Virus. Average value writing poetry in class X is 84 out of 19 students. So the conclusion is Kinetic short film media can be used as a medium in learning writing poetry at the SMK level.
Key words: Effectiveness, Writing Poetry, Media Short Films Kinetic.
iii
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmannirahim
Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis diberi kesempatan dan kemudahan untuk menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya yang telah memberikan petunjuk kepada kita semua sehingga kita dapat merasakan nikmat Iman dan Islam.
Skripsi berjudul “Efektivitas Media Film Pendek “Kinetik” Karya Putri Tanjung dalam Pembelajaran Menulis Puisi Kelas X di SMK Triguna Utama”
disusun guna memperoleh gelar sarjana pendidikan S-1 pada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan, arahan dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga laporan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr. Sururin, M. Ag selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajaran.
2. Makyun Subuki, M. Hum selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
3. Novi Diah Haryanti, M. Hum selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
4. Rosida Erowati, M.Hum. dosen pembimbing akademik yang membantu penulis dalam segala proses perkuliahan.
5. Dr. Hindun, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberi bimbingan, masukan maupun kritik dan saran yang sangat bermanfaat kepada penulis selama pengerjaan skripsi ini.
iv
6. Nur Syamsiyah, M.Pd selaku dosen penguji I dan Dra. Mahmudah Fitriyah, ZA, M.Pd selaku dosen penguji II yang telah memberikan arahan untuk perbaikan skripsi ini.
7. Seluruh dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan.
8. Pemimpin dan staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan kemudahan dalam meminjam buku-buku yang dibutuhkan.
9. Drs. Robani, M.Pd.I selaku kepala sekolah SMK Triguna Utama yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian untuk penulisan skripsi ini.
Noprizal Nurul Fajri S.Pd selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMK Triguna Utama yang senantiasa memberikan kesempatan, bimbingan, kritik maupun saran kepada penulis selama penelitian berlangsung.
10. Peserta Didik kelas X semester genap Akuntansi SMK Triguna Utama, yang telah meluangkan waktunya dan bersedia membantu penulis dalam penelitian ini.
11. Teristimewa untuk kedua orang tuaku, Ibunda Salbiah dan Ayahanda Akhmad Jaelani, yang tiada hentinya memberikan semangat dan doa kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
12. Kakakku Sahlatul Abidah, S.Pd, Muhamad Anshori Hikmat, S.Pd, Adikku Muhammad Jurayis, serta keponakanku Wahbah Zuhaily Alfida, yang selalu membuat ceria hidupku dan tiada hentinya memberikan dukungan untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
13. Teman-Teman seperjuangan PBSI 2016 khususnya kelas B, terima kasih atas kebersamaannya selama perkuliahan ini.
Tiada ucapan yang pantas penulis haturkan kepada semua pihak di atas kecuali iringan doa, semoga semua amal baik yang telah dilakukan dapat diterima di sisi Allah Swt dan mendapat balasan yang lebih baik.
Penulis telah melakukan semaksimal mungkin untuk menyelesaikan skripsi ini.
Namun tentunya masih terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki. Oleh karena
v
itu, penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan para pembaca serta kemajuan ilmu pengetahuan, khusunya di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Jakarta, 22 Januari 2021
Lailia Mawaddah
vi
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI LEMBAR PENGESAHAN MUNAQOSAH
LEMBAR PENGESAHAN KARYA ILMIAH
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 6
C. Pembatasan Masalah ... 6
D. Rumusan Masalah ... 6
E. Tujuan Penelitian ... 7
F. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II LANDASAN TEORETIK ... 8
A. Efektivitas Pembelajaran ... 8
B. Media Film ... 10
C. Pembelajaran Menulis ... 19
D. Menulis Puisi ... 23
E. Pendidikan Jarak Jauh ... 34
F. Penelitian Relevan ... 37
BAB III METODELOGI PENELITIAN ... 40
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 40
B. Subjek dan Objek Penelitian ... 40
C. Metode Penelitian ... 40
D. Instrument Penelitian ... 42
E. Teknik Pengumpulan Data ... 42
F. Teknik Analisis Data ... 47
vii
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 50
A. Profil Sekolah ... 50
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 57
C. Analisis Data Hasil Penelitian ... 63
BAB V PENUTUP ... 106
A. Simpulan ... 106
B. Saran ... 106
DAFTAR PUSTAKA ... 108 LAMPIRAN
RIWAYAT PENULIS
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Wawancara dengan Peserta Didik ... 44
Tabel 1.2 Wawancara dengan Guru Bahasa Indonesia ... 45
Tabel 1.3 Penjelasan Skor Penilaian Puisi ... 63
Tabel 1.4 Data Penulisan Puisi Ade Amelia ... 65
Tabel 1.5 Data Penulisan Puisi Adelisa ... 67
Tabel 1.6 Data Penulisan Puisi Angelica Anandra ... 69
Tabel 1.7 Data Penulisan Puisi Ananda Pratama ... 71
Tabel 1.8 Data Penulisan Puisi Devira Aryani ... 73
Tabel 1.9 Data Penulisan Puisi Desmayanti Nurul ... 75
Tabel 1.10 Data Penulisan Puisi Gloria Natalia ... 78
Tabel 1.11 Data Penulisan Puisi Hardinda Raisha ... 80
Tabel 1.12 Data Penulisan Puisi Lulu Dwi ... 82
Tabel 1.13 Data Penulisan Puisi Marsya Adelia ... 84
Tabel 1.14 Data Penulisan Puisi Puji Lestari ... 86
Tabel 1.15 Data Penulisan Puisi Ririn Aryani ... 88
Tabel 1.16 Data Penulisan Puisi Rifai Malik ... 90
Tabel 1.17 Data Penulisan Puisi Rudhita Puspawati ... 92
Tabel 1.18 Data Penulisan Puisi Sri Yulia ... 94
Tabel 1.19 Data Penulisan Puisi Stefani Angel ... 96
Tabel 1.20 Data Penulisan Puisi Wulan S ... 98
Tabel 1.21 Data Penulisan Puisi Yuni Cahyani ... 100
Tabel 1.22 Data Penulisan Puisi Zahra Nurshafa ... 102
Tabel 1.23 Rekapitulasi Nilai Menulis Puisi ... 104
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Lembar Uji Referensi
Lampiran 2 : RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
Lampiran 3 : Transkip Hasil Wawancara dengan Guru dan Siswa Lampiran 4 : Lembar Dokumentasi Penelitian
Lampiran 5 : Surat Bimbingan Skripsi
Lampiran 6 : Surat Permohonan Izin Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Menulis puisi adalah salah satu materi dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang terdapat dalam kurikulum 2013 yang sedang berlaku di Indonesia pada saat ini. Siswa diminta untuk dapat menalar, berimajinasi kemudian menuangkannya ke dalam tulisan. Menuangkan ide yang ada di dalam pikiran ke dalam tulisan itu sangat penting terutama bagi para peserta didik, agar peserta didik terlatih dalam menulis sehingga mereka terbiasa untuk membuat karya tulis yang bermanfaat untuk para pembaca.
Pramoedya Ananta Toer mengatakan “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Sebuah kata-kata yang menggambarkan betapa tingginya sebuah karya tulis, ilmu setinggi langit pun kalau tidak ditulis akan hilang ditelan zaman. Dengan bahasa, seseorang harus bisa atau mengerti cara berkomunikasi dengan baik dan benar. Maka, perlu adanya pembelajaran bahasa di sekolah. Pembelajaran bahasa membuat peserta didik lebih tangkas dalam berpikir dan juga memperluas ilmu pengetahuan. Peserta didik diharapkan mampu menangkap informasi dengan baik dan benar.
Bahasa memiliki peranan penting bagi peserta didik terutama bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi bangsa Indonesia.
Menulis tentunya memerlukan bahasa, karena bahasa adalah hal terpenting yang dibutuhkan manusia untuk berkomunikasi secara lisan maupun tulisan. Dalam berkomunikasi, manusia dapat mencurahkan semua yang ada dipikirannya, bertukar pikiran, berpendapat, dan berhubungan dengan manusia lainnya.
Keterampilan berbahasa terdapat empat aspek yaitu, keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Dari empat aspek keterampilan tersebut,
keterampilan menulis adalah hal yang sulit dikuasai oleh kebanyakan orang bahkan oleh penutur bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, pembelajaran menulis sangat penting untuk peserta didik, agar ia mampu menuangkan ide yang ada di dalam pikirannya menjadi sebuah tulisan.
Menulis puisi adalah satu pelajaran bahasa Indonesia yang penting untuk para peserta didik. Menulis puisi dapat membuat peserta didik menuliskan kata-kata indah untuk melatih keterampilan menulis mereka.
Pelajaran menulis puisi bukan hanya untuk mengenal teori, ciri-ciri, dan membaca puisi saja, tetapi peserta didik juga diharapkan bisa membuat puisi melalui pengalaman mereka atau melalui film yang diubah menjadi bentuk tulisan.
Kurangnya minat menulis peserta didik terlihat saat penulis melakukan observasi di sekolah, jika peserta didik ditugaskan membuat karya tulis seperti cerpen atau puisi mereka sering menolak. Para peserta didik tidak terbiasa dan mereka merasa tidak percaya diri pada tulisan yang mereka buat. Peranan guru sangat penting untuk memotivasi peserta didik agar mereka mampu menghasilkan karya tulis yang baik.
Guru memiliki tanggung jawab untuk memotivasi, membimbing, dan memberikan fasilitas terbaik kepada peserta didik agar tujuan belajar dapat tercapai. Proses belajar mengajar pelajaran bahasa Indonesia sering membuat peserta didik merasa jenuh, karena metode yang digunakan metode konvensional. Pada pelajaran menulis biasanya guru hanya menjelaskan atau ceramah di dalam kelas, sehingga membuat peserta didik jenuh dengan pelajaran bahasa Indonesia, khususnya menulis.
Minat menulis di sekolah kini sudah sangat kurang, guru harus mencari media untuk membangun minat dan kepahaman peserta didik agar mereka dapat memperoleh karya tulis yang baik. Peserta didik harus dilatih untuk menghasilkan karya tulis yang baik tentunya dengan menggunakan metode yang sesuai dengan keperluan pengembangan materi. Metode yang digunakan oleh guru harus bisa membuat peserta didik merasa nyaman atau
suka dengan metode yang diberikan, maka mereka juga akan mengikutinya dengan baik dan mau mencoba untuk menulis.
Media yang digunakan saat pembelajaran kepada peserta didik harus sesuai dengan kategori pelajarannya. Jika medianya sudah sesuai, maka peserta didik akan mudah menangkap ilmu yang diberikan oleh guru. Begitu juga dalam pembelajaran menulis puisi, pelajaran menulis puisi dengan menggunakan media film diharapkan mampu membuat peserta didik lebih efektif dan semangat dalam menulis puisi. Dengan menonton film, peserta didik akan menyimak apa yang mereka dengar dan lihat, lalu berimajinasi sehingga dapat menuangkannya menjadi sebuah tulisan.
Media visual adalah media yang melibatkan indera penglihatan.1 Media visual tentu saja berbeda dengan media audio visual. Media visual hanya berupa gambar tidak bersuara dan tidak bergerak, seperti grafik, diagram, bagan, dan peta. Media visual ini biasanya sering digunakan oleh guru yang di sekolahnya tidak tersedia alat untuk menggunakan media audio visual.
Media audio visual ini dapat dibagi menjadi dua jenis. Jenis pertama, dilengkapi fungsi peralatan suara dan gambar dalam satu unit, dinamakan media audio-visual murni, seperti film gerak (movie) bersuara. Jenis kedua adalah media audio visual tidak murni yakni apa yang kita kenal dengan slide.2 Media audio visual jenis pertama yang peneliti gunakan sebagai media pembelajaran menulis puisi kelas X SMK Triguna Utama.
Video film pendek Kinetik digunakan untuk menarik perhatian peserta didik. Kisah anak muda yang terdapat di film pendek Kinetik sangat cocok untuk ditayangkan di kelas X, karena film tersebut memiliki isi atau pesan yang sangat baik untuk para peserta didik. Film ini selain untuk menarik perhatian peserta didik, juga diharapkan dapat bermanfaat. Penulis menggunakan media film pendek yang mengedukasi peserta didik agar
1 Yuhdi Munadi, Media Pembelajaran; Sebuah Pendekatan Baru, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2012), h. 81.
2 Ibid, h. 113.
lebih semangat mencari ilmu untuk memberikan manfaat kepada orang lain dan diri sendiri.
Film pendek Kinetik dipilih oleh penulis agar para peserta didik dapat mengetahui bahwa ilmu yang mereka miliki harus diaplikasikan agar bermanfaat untuk orang lain dan diri sendiri. Edukasi tersebut perlu dilakukan karena, banyak sekali peserta didik yang tidak memanfaatkan ilmunya, mereka hanya pergi ke sekolah lalu pulang dengan tangan kosong.
Artinya, tidak ada ilmu yang mereka bawa pulang untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah melakukan penayangan film pendek Kinetik, selanjutnya peserta didik menulis sebuah puisi dengan tema “Bergerak untuk Berubah”
sesuai dengan isi dari film pendek Kinetik. Melalui tayangan film pendek yang berdurasi dua puluh empat menit empat belas detik ini diharapkan lebih membuat peserta didik bersemangat dibandingkan dengan media visual biasa yang hanya dijelaskan melalui gambar tanpa suara.
Media audio visual bisa juga berupa sinetron, drama satu babak, atau film pendek, akan tetapi, pelajaran bahasa Indonesia di sekolah hanya berdurasi 45 menit, jika peneliti atau guru menggunakan media audio visual berupa sinema elektronik atau biasa disebut sinetroni akan mengabiskan banyak waktu hanya untuk menonton, karena sinetron ini memiliki program bersambung yang tidak mungkin digunakan untuk media pembelajaran di sekolah. Sedangkan, media audio visual berupa drama satu babak merupakan suatu genre sastra yang akan sulit dipahami oleh peserta didik, karena jika ingin memahami drama satu babak harus dinikmati dengan menonton. Memahami drama butuh waktu yang cukup lama karena peserta didik harus memahami juga tentang sastra, karena penelitian ini ingin mengetahui seberapa efektifnya media audio visual film pendek dalam pembelajaran menulis puisi, maka peneliti memilih menggunakan film pendek berjudul Kinetik yang hanya berdurasi dua puluh empat menit empat belas detik.
Film-film yang dibuat khusus untuk pmbelajaran hendaknya berdurasi pendek.3 Peneliti memilih film pendek agar siswa lebih fokus mencari motivasi untuk menulis puisi, karena film pendek hanya membahas satu konsep saja. Film pendek yang berdurasi hanya dua puluh empat menit empat belas detik diharapkan lebih efektif karena sisa waktu pelajaran di kelas dapat digunakan untuk menjelaskan materi puisi dan praktik menulis puisi.
Peneliti memilih film pendek Kinetik karena film tersebut memberikan inspirasi untuk para penonton. Film Kinetik menceritakan tentang tiga anak muda yang memiliki sifat terpuji. Film yang berdurasi pemdek ini mampu membuat penontonnya terenyuh ketika menonton film tersebut. Film yang berdurasi pendek ini mengajarkan bahwa manusia harus melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Seseorang tidak boleh berdiam dalam kekosongan dan melakukan yang hal tidak bermanfaat. Film ini memotivasi semua orang untuk bergerak melakukan perubahan yang bermanfaat untuk orang lain, khususnya untuk mereka yang berada di daerah terpencil dan sangat membutuhkan bantuan.
Film pendek Kinetik adalah sebuah karya anak muda Indonesia yang bernama Putri Indahsari Tanjung atau biasa disapa Putri Tanjung. Putri Tanjung merupakan anak sulung dari seorang miliarder yang bernama Chairil Tanjung, meski Putri Tanjung dilahirkan dari seorang pengusaha yang kaya, bukan berarti ia mengandalkan orang tuanya. Sejak usia 15 tahun Putri Tanjung sudah mulai berkarya dan pada akhirnya ia membuat creativepreneur di bidang penyelenggara acara untuk memotivasi anak muda agar bergerak di dunia bisnis seperti dirinya. Pada usia yang masih muda, Putri Tanjung kini dipilih oleh Presiden Republik Indonesia untuk menjadi staf khusus kalangan milenial. Hal-hal menarik yang dimiliki Putri Tanjung membuat saya ingin memperkenalkan kepada peserta didik melalui film pendek Kinetik yang ia buat persis seperti dirinya. Film pendek Kinetik
3 Ibid, h. 119.
bagi saya sangat menggambarkan sosok seorang Putri Tanjung, yaitu seorang pemuda yang harus bekerja keras untuk perubahan yang lebih baik.
Peneliti mengharapkan film pendek Kinetik menjadi inspirasi dan motivasi untuk para peserta didik di SMK Triguna Utama. Film pendek ini dijadikan media untuk pembelajaran menulis puisi agar peserta didik memiliki motivasi untuk menulis. Peserta didik diharapkan mampu menulis puisi dengan tema “bergerak untuk perubahan” setelah menonton film pendek Kinetik.
Peneliti melakukan penelitian tentang Efektivitas Media Film Pendek Kinetik Karya Putri Tanjung dalam Pembelajaran Menulis Puisi pada Kelas X di SMK Triguna Utama untuk memberikan rangsangan agar timbul semangat menulis bagi para siswa/i di SMK Triguna Utama Tangerang Selatan Tahun Pelajaran 2019/2020.
Media film untuk pelajaran menulis puisi dapat diasumsikan lebih efektif daripada metode konvensional. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui seberapa efektifnya media film untuk pembelajaran menulis puisi, dengan judul Efektivitas Media Film Kinetik Karya Putri Tanjung dalam Pembelajaran Menulis Puisi pada Kelas X di SMK Triguna Utama.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat teridentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1. Siswa kurang motivasi dalam pembelajaran menulis puisi.
2. Siswa kurang praktik menulis di kelas.
3. Guru bahasa Indonesia belum menggunakan media yang efektif yang merangsang peserta didik agar termotivasi untuk menulis.
4. Pengaruh media film dalam pembelajaran menulis puisi.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka perlu adanya batasan masalah di dalam penelitian ini agar penelitian ini lebih fokus dan mendalam kajiannya. Oleh karena itu, penelitian ini dibatasi pada permasalahan Efektivitas Media Film Pendek ‘Kinetik’ Karya Putri Tanjung dalam Pembelajaran Menulis Puisi pada Kelas X di SMK Triguna Utama yang dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020 dengan film berdurasi 24 menit 14 detik.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, muncul berbagai masalah.
Masalah-masalah yang muncul diantaranya sebagai berikut:
1. Bagaimana efektivitas media film pendek Kinetik karya Putri Tanjung dalam pembelajaran menulis puisi kelas X SMK Triguna Utama Tangerang Selatan tahun pelajaran 2019/2020?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui:
1. Keefektifan pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan media film Kinetik.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara praktis dan teoritis:
1. Manfaat Praktis a. Bagi Guru
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh guru dalam mengajar, agar kegiatan belajar mengajar lebih efektif dan menyenangkan.
b. Bagi Peserta Didik
Penggunaan media film ini diharapkan dapat membuat peserta didik termotivasi untuk melakukan kegiatan menulis puisi.
c. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan proses kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia di sekolah.
2. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat membantu guru bahasa Indonesia dalam menentukan media yang efektif untuk kegiatan belajar mengajar, khususnya pelajaran menulis puisi.
9 BAB II
LANDASAN TEORETIK 1. Efektivitas Pembelajaran
1. Pengertian Efektivitas
Miarso dalam Jurnal Pendidikan Usia Dini karya Afifatu Rohmawati mengatakan bahwa, efektivitas pembelajaran merupakan salah satu standar mutu pendidikan yang sering kali diukur dengan tercapainya tujuan, atau dapat juga diartikan sebagai ketepatan dalam mengelola suatu situasi, “doing the right the things”.1 Maksud pengertian di atas, efektivitas merupakan tujuan penting dalam suatu kegiatan terutama kegiatan belajar mengajar. Sebagai seorang guru seharusnya bisa melakukan suatu hal yang benar dalam kegiatan belajar mengajar agar ilmu yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
Clements dan Battista dalam Trianto, dewasa ini dapat dilihat bahwa sebagian besar pola pembelajaran masih bersifat transmitif, pengajar mentransfer dan menggerojokkan konsep secara langsung kepada peserta didik. Dalam pandangan ini, siswa secara pasif “menyerap”
struktur pengetahuan yang diberikan guru atau yang terdapat dalam buku pelajaran. Pembelajaran hanya sekadar penyampaian fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan kepada siswa.2 Penjelasan tersebut merupakan gambaran umum di sekolah yang kurang efektif dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Membuat suasana yang efektif di kelas, perlu adanya kreativitas seorang guru untuk menciptakan suasana yang akrab dan membuat peserta didik aktif di dalam kelas.
Misalnya, dengan menggunakan media atau selalu berusaha membuat peserta didik terlibat dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga suasana kelas menjadi efektif.
1 Afifatu Rohmawati, “Efektivitas Pembelajaran”, Jurnal Pendidikan Usia Dini, Vol. 9, 2015, h. 16.
2 Trianto Ibnu badar al-Tabany, mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual, (Jakarta: Kencana, 2017), h. 19-20.
Soemosasmito dalam Trianto menjelaskan bahwa suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila memenuhi persyaratan utama keefektivan pengajaran, yaitu:
a. Presentasi waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap KBM;
b. Rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi di antara siswa;
c. Ketetapan antara kandungan materi ajaran dengan kemampuan siswa (orientasi keberhasilan belajar) diutamakan; dan
d. Mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif, mengembangkan struktur kelas yang mendukung butir b, tanpa mengabaikan butir d.3
Pembelajaran efektif adalah apabila tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan berhasil guna diterapkan dalam pembelajaran.
Pembelajaran efektif dapat tercapai jika mampu memberikan pengalaman baru, membentuk kompetensi peserta didik dan menghantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal guru harus mampu merancang dan mengelola pembelajaran dengan metode atau model yang tepat.4
Efektivitas proses pembelajaran di kelas dan di luar kelas sangat di tentukan oleh kompetensi para guru, di samping faktor lain seperti: anak didik, lingkungan, dan fasilitas. Mereka tidak hanya memerankan fungsi sebagai subjek dan mentransfer pengetahuan kepada anak didik, melainkan juga melakukan tugas-tugas sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator dalam PBM, baik di dalam maupun di luar kelas. Untuk menjalankan tugas-tugas itu secara efektif dan efesien, para guru harus memiliki kompetensi tertentu. Merujuk pada konsep yang dianut di
3 Ibid., h. 22.
4 Asis Saefuddin dan Ika Berdiati, Pembelajaran Efektif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), h. 34.
lingkungan Depdiknas, sebagai “instruction leader” guru harus memiliki kompetensi, yakni:
Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kependidikan perlu senantiasa dikembangkan menuju mutu unjuk kerja profesional yang penuh.5
2. Media film
1. Pengertian Media
Kata “media” berasal dari kata Latin, merupakan bentuk jamak dari kata “medium”. Secara harfiah kata tersebut mempunyai arti perantara atau pengantar. Akan tetapi sekarang kata tersebut digunakan, baik untuk bentuk jamak maupun mufrad. Kemudian telah banyak pakar dan juga organisasi yang memberikan batasan mengenai pengertian media.
Beberapa di antaranya mengemukakan bahwa media adalah sebagai berikut:
a. Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Jadi media adalah perluasan dari guru.
b. National Education Association (NEA) memberikan batasan bahwa media merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi perangkat kerjanya.
c. Briggs berpendapat bahwa media merupakan alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar.
d. Association of Education Comunication Technology (AECT) memberikan batasan bahwa media merupakan segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan.
e. Sedangkan Gagne berpendapat bahwa berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
5 Ajat Rukajat, Manajemen Pembelajaran, (Yogyakarta: Deeplubish, 2018), h. 60-61.
f. Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa untuk belajar.6
2. Jenis-Jenis Media
Ada beberapa jenis media di antaranya, media audio, media visual, media audio visual, dan multimedia. Media tersebut memiliki bentuk yang berbeda-beda dan setiap materi pembelajaran di sekolah pasti membutuhkan media yang berbeda sesuai dengan kebutuhan materi.
Media audio adalah media yang hanya melibatkan indera pendengaran dan hanya mampu memanipulasi kemampuan suara semata. Dilihat dari pesan yang diterimanya media audio ini menerima pesan verbal dan non verbal. Pesan verbal audio yakni bahasa lisan atau kata-kata, dan pesan non verbal audio adalah seperti bunyi-bunyian dan vokalisasi, seperti gerutuan, gumam, musik, dan lain-lain.
Jenis-Jenis media yang termasuk media ini adalah program radio dan program media rekam (software), yang disalurkan melalui hardware seperti radio dan alat-alat perekam seperti phonograph record (disc recording), audio tape (tape recorder) yang menggunakan pita magnetik (cassette), dan compact disk. Program radio sangat sesuai dengan sasaran dalam jangkauan yang luas; dan dalam dunia pendidikan telah digunakan untuk Pendidikan Jarak Jauh. Sedangkan program media rekam sangat mungkin untuk sasaran dalam jangkauan terbatas, seperti dalam proses pembelajaran di kelas kecil maupun di kelas besar (ruang auditorium).
Media visual ialah media yang hanya melibatkan indera penglihatan.
Termasuk dalam jenis media ini adalah media cetak verbal, media cetak- grafis, dan media visual non-cetak. Pertama, media visual verbal, adalah media visual yang memuat pesan-pesan verbal (pesan linguistik berupa
6 Rudi Susilana dan Cepi Riyana, Media Pembelajaran Hakikat, pengembangan, pemanfaatan, dan Penilaian, (Bandung: CV Wacana Prima, 2018), h. 5-6.
tulisan). Kedua, media visual-nonverbal-grafis adalah media visual yang memuat pesan non verbal yakni berupa simbol-simbol visual atau unsur-unsur grafis, seperti gambar (sketsa, lukisan, dan foto), grafis, diagram, bagan, dan peta. Ketiga, media visual non verbal-tiga dimensi adalah media visual yang memiliki tiga dimensi, berupa model, seperti miniature, mock up, specimen, dan diamora.7
Media audio visual adalah media yang melibatkan indera pendengaran dan penglihatan sekaligus dalam satu proses. Sifat pesan yang dapat disalurkan melalui media dapat berupa pesan verbal dan non verbal yang terlihat layaknya media visual juga pesan verbal dan non verbal yang terdengar layaknya media audio di atas. Pesan visual yang terdengar dan terlihat itu dapat disajikan melalui program audio visual seperti film dokumenter, film drama, dan lain-lain. Semua program tersebut dapat disalurkan melalui peralatan seperti film, video, dan juga televisi dan dapat disambungkan pada alat proyeksi (projectable aids).
Terakhir, multimedia yakni media yang melibatkan berbagai indera dalam sebuah proses pembelajaran. Termasuk dalam media ini adalah segala sesuatu yang memberikan pengalaman secara langsung bisa melaui komputer dan internet, bisa juga melalui pengalaman berbuat dan pengalaman terlibat. Termasuk dalam pengalaman berbuat adalah lingkungan nyata dan karyawisata; sedangkan termasuk dalam pengalaman terlibat adalah permainan dan simulasi, bermain peran dan forum teater.8
3. Fungsi Media
Pada dasarnya fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai sumber belajar. Fungsi-fungsi yang lain merupakan hasil pertimbangan
7 Yudhi Munadi, (Media Pembalajaran Sebuah Pendekatan Baru, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2012), h. 55-56.
8 Ibid., h. 56-57.
pada kajian ciri-ciri umum yang dimilikinya, bahasa yang dipakai menyampaikan pesan dan dampak atau efek yang ditimbulkannya.
Ciri-ciri (karakteristik) umum media yang dimaksud adalah kemampuannya merekam, menyimpan, melestarikan, merekontruksi, dan mentransportasikan suatu peristiwa atau objek. Kemudian, yang dimaksud bahasa yang dipakai menyampaikan pesan adalah bahasa verbal dan bahasa nonverbal. Terakhir adalah efek yang ditimbulkannya, bentuk konkret dari efek ini adalah terjadinya perubahan tingkah laku dan sikap siswa sebagai akibat interaksi antara dia dengan pesan; baik perubahan itu secara invidu maupun secara kelompok.9
4. Manfaat Media
Perolehan pengetahuan siswa seperti yang digambarkan oleh kerucut pengalaman Edgar dale bahwa pengetahuan akan semakin abstrak apabila pesan hanya disampaikan melalui kata verbal. Hal ini memungkinkan terjadinya verbalisme. Artinya siswa hanya mengetahui tentang kata tanpa memahami dan mengerti makna yang terkandung didalamnya. Hal semacam ini akan menimbulkan kesalahan persepsi siswa. Oleh karena itu, sebaiknya siswa memiliki pengalaman yang lebih konkrit, pesan yang ingin disampaikan benar-benar dapat mencapai sasaran dan tujuan.
Secara umum media mempunyai kegunaan:
a. Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya indera.
c. Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
d. Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori, dan kinestetiknya.
9 Ibid., h. 36.
e. Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang sama.
Selain itu, kontribusi media pembelajaran menurut Kemp dan Daylon:
a. Menyampaikan pesan pembelajaran dapat lebih terstandar b. Pembelajaran dapat lebih menarik
c. Pembalajaran dapat lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
d. Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek e. Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan
f. Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan di manapun diperlukan
g. Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan
h. Peran guru berubah ke arah yang positif.10
5. Pengertian Film
Jika mendengar kata film, sering kali seseorang mengasosiasikannya dengan sebuah tampilan cerita yang terdapat pada media layar yang sangat besar dan berhubungan dengan gedung pertunjukan. Namun, sebetulnya film merupakan proses dari perkembangan teknolgi yang cukup panjang. Hingga saat ini dikenal dua macam bidang yang berkaitan dengan film, yakni film yang menggunakan pita seluloid dan film yang berkaitan dengan penggabungan beberapa film (video). Tak dapat dipungkiri bahwa teknologi film (video) berawal dari film yang menggunakan pita seluloid, yaitu suatu bentuk penangkapan gambar secara tunggal. Pada awalnya orang-orang mengenal film dengan bahan
10 Rudi susilana, op. cit., h. 9
seluloid yang sangat mudah terbakar. Perkembangan jenis bidang itu pada akhirnya mengarah pada bidang fotografi.11
6. Jenis-Jenis Film a. Film Dokumenter
Film dokumenter adalah film yang menceritakan suatu kejadian tertentu atau realitas tertentu dengan pengambilan cerita suatu kejadian yang benar-benar pernah terjadi di suatu tempat.12
Film dokumenter tidak hanya terbatas pada kejadian masyarakat tertentu saja, tetapi banyak pula film dokumenter yang menyajikan berbagai tayangan selain manusia, misalnya bercerita tentang hewan, tumbuhan, perkembangan ilmiah, teknologi, dan lain-lain. Adanya film dokumenter bahkan menjadi salah-satu tayangan yang sangat ditunggu masyarakat. Para pembuat film kini banyak yang berfokus untuk menggeluti film jenis ini. Sebagai contoh misalnya penayangan dari saluran National Gheografhic atau Discovery Channel yang menayangkan berbagai jenis hewan, tumbuhan, dan kebudayaan masyarakat tertentu menunjukan bahwa keberadaan film dokumenter mendapat sambutan bagi pecinta film- film ini. Di Indonesia sendiri film dokumenter dipelopori oleh stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang selanjutnya berkembang seiring dengan bermunculannya stasiun-stasiun televisi swasta di Nusantara.13
b. Film Panjang
Film yang berdurasi panjang adalah film yang lebih dari 60 menit, biasanya, lamanya sekitar 90-100 menit bahkan lebih. Film jenis ini merupakan jenis film yang biasa diputar di bioskop-bioskop atau dalam bentuk VCD/DVD. Bila dibandingkan dengan jenis film
11 Ivan Masdudin, Mengenal Dunia Film, (Jakarta: Multi Kreasi Satudelapan, 2011), h. 3.
12 Ibid., h. 14.
13 Ibid., h. 14-15.
lainnya, film berdurasi panjang merupakan film yang paling marak diproduksi dan keberadaannya paling banyak di pasaran. Bahkan film berdurasi pendek hampir tak pernah diputar di bioskop- bisokop. Maka film berdurasi panjang biasanya merupakan film asosiasi dari sebuah sosok film yang ada di hadapan masyarakat.14 c. Film Pendek
Film pendek adalah film yang durasi ceritanya kurang dari 60 menit. Para pembuat film jenis ini banyak pula yang bertujuan sebagai jembatan atau bahan percobaan untuk membuat film-film berdurasi panjang. Di beberapa negara, film jenis ini biasanya banyak dibuat oleh para mahasiswa yang sedang belajar untuk membuat film. Namun demikian, banyak pula para pembuat film yang sengaja menggarap film jenis ini sebagai suatu karya film pendek yang “serius”, sehingga film pendek bukan lagi sebagai arena percobaan, tetapi dewasa ini sebagai bagian dari karya yang benar-benar terbentuk dari sebuah konsep yang matang. Keberadaan film pendek bahkan banyak yang diikutsertakan dalam kegiatan festival film. sehingga, banyak mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Bahkan banyak pula para pembuat film yang mengkhususkan diri di bidang jenis film pendek.15
Pada penelitian ini, penulis memilih film pendek Kinetikí karya Putri Tanjung yang berdurasi dua puluh empat menit empat belas detik. Film ini penulis dapatkan di aplikasi Youtube di akun Putri Tanjung. Film pendek Kinetik mengisahkan tiga anak muda yang bernama Karim, Dhea dan Kevin. Mereka sudah bersahabat sejak kecil dan sekarang sudah sukses dibidangnya masing-masing.
Karim sebagai desainer interior, Dhea sebagai penari, dan Kevin sebagai programmer.
14 Ibid., h. 17-18.
15 Ibid., h. 17.
Ketiga anak muda tersebut ternyata masih belum puas dengan kesuksesan yang mereka miliki. Karim mengajak kedua temannya, yaitu Dhea dan Kevin untuk menuangkan ilmu yang mereka miliki agar lebih bermanfaat untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan. Akhirnya, Karim mengajak Dhea dan Kevin untuk memperbaiki sekolah di sebuah Desa yang berjarak hanya 2 jam dari Kota Jakarta.
Film pendek Kinetik yang disutradarai oleh Putri Tanjung ini, benar-benar memperbaiki dan mendesain ulang sekolah yang terdapat di film tersebut. Hal ini menunjukan bahwa, Putri Tanjung ingin menggerakan semangat anak muda agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
d. Film Jenis Lain 1) Program Televisi
Salah satu acara yang sekarang sedang digemari oleh pemirsa adalah televisi. Saat ini televisi menjadi salah satu kebutuhan manusia, hampir setiap rumah dilengkapi dengan televisi. Maka para pembuat program televisi pun belomba-lomba mempersembahkan karyanya bagi pemirsa televisi.
Secara umum, program atau tayangan televisi dibagi menjadi dua bagian, yaitu program yang berkaitan dengan fiksi dan non fiksi. Program fiksi yaitu program yang berkaitan dengan film- film atau sinema yang diciptakan dari berbagai inspirasi-inspirasi pembuat film. Sementara program yang berkaitan dengan non fiksi berupa penayangan veriety show, berita atau liputan, dan lain-lain.16
Masa pandemi ini membuat orang lebih sering menonton televisi, karena smartphone yang biasa digunakan untuk menonton tayangan di Youtube atau mencari informasi melalui
16 Ibid., h. 19-21.
internet sudah tidak bisa dilakukan, karena smartphone yang mereka miliki sekarang digunakan untuk sekolah online atau pendidikan jarak jauh.
2) Video Klip
Salah satu acara yang sekarang menjadi trend di masyarakat adalah video klip. Video klip merupakan film pendek yang biasanya lahir dari cerita musik atau film yang penayangannya dipadukan dengan musik. Lirik dari musik itulah yang menjadi naskah atau acuan bagi para pembuat video klip.17
3) Iklan Televisi
Iklan televisi merupakan salah satu media untuk menyampaikan informasi dari beberapa pihak yang berkepentingan dengan menggunakan media televisi.
Penayangan iklan yang paling banyak dilakukan saat ini terutama mengenai produk perusahaan tertentu.18 Terkait masa pandemi virus corona ini, iklan televisi lebih sering menayangkan produk- produk yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang untuk menjaga sistem imun tubuh di masa pandemi ini, seperti iklan vitamin C, hand sanitizer, sabun mandi pembunuh bakteri, dan lain-lain.
7. Sejarah Film
Indonesia termasuk pula salah satu negara yang kini giat memajukan industri film. Berbagai upaya dan kreativitas para seniman film Indonesia seolah ingin memberikan yang terbaik di bioskop-bioskop ataupun tayangan ke rumah-rumah.
Catatan perfilman di Indonesia diawali dengan pemutaran film lokal Indonesia “Loetoeng Kasaroeng” yang diproduksi oleh NV java Film Company pada tahun 1926. Harian De Lecomotif menuliskan bahwa
“inilah film yang merupakan tonggak pertama dalam industry Hindia
17 Ibid., h. 21
18 Ibid., h. 22.
sendiri ….” Dengan para pemainnya yang terdiri atas para priayi yang berpendidikan dan dibuat di sebelah Barat Kota Padalarang. Untuk pertama kalinya, film itu di putar di Bioskop Majestik, yaitu di jalan Braga, Bandung. Kawasan tersebut merupakan kawasan perbelanjaan kaum elit para meneer Belanda. Pemutaran film tersebut sebagai salah satu sarana hiburan di tengah aktivitas dan berbagai macam kegiatan yang berlangsung saat itu.
Keberlangsungan peninggalan pada masa Belanda berlangsung terus hingga masa kemerdekaan. Setelah itu, sekitar tahun 1980 konsep perfilman Indonesia kembali hadir dengan konsep yang baru pula.
Keberadaan beberapa film seperti “Catatan si Boy”, “Blok M” dan lain- lain sempat membuat perfilman kembali mendapat perhatian dari lapisan masyarakat. Beberapa aktor dan aktris yang terkenal saat itu diantaranya Meriam Belina, Onky Alexander, Paramitha Rusady dan lain-lain.
Beberapa tahun setelah itu, Indonesia masih menunjukkan kestabilan dalam bidang perfilman. Hal itu ditandai dengan masih adanya festival film Indonesia yang selalu diadakan setiap tahunnya.
Meskipun demikian, memasuki tahun 1990 perfilman Indonesia mengalami kemerosotan daya saing yang disebabkan kurang adanya variasi dalam penyajian sebuah film. Saat itu tema-tema yang diambil oleh para penggagas film hanya berkutat pada tema yang hampir sama, yaitu khusus orang dewasa. Akibatnya para pesaing film dari luar sempat merebut industri perfilman di Indonesia seperti produksi Hollywood dan Hongkong.
Kegiatan industri perfilman Indonesia kembali setelah banyaknya respon dari pemutaran film “Petualangan Sherina” yang dibintangi oleh Sherina Munaf. Film tersebut merupakan film musikal yang ditujukan
bagi anak-anak saja, berbagai kalangan pun ikut menikmati pemutaran film tersebut.19
3. Pembelajaran Menulis 1. Pengertian Menulis
Menulis adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan tulisan. Orang yang melakukan kegiatan coret mencoret di tembok itu juga bisa dikatakan dia sedang menulis, dengan atau tanpa maksud dan perangkat tertentu. Namun demikian, yang dimaksud dalam buku ini adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui Bahasa tulis kepada orang lain agar lebih mudah dipahami. Definisi di atas mengungkapkan bahwa menulis yang baik adalah menulis yang bisa dipahami oleh orang lain. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menulis berarti melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan.20
Menulis merupakan suatu kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan (infomasi) secara tertulis kepada pihak lain dengan menggunakan Bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Aktivitas menulis melibatkan beberapa unsur, yaitu: penulis sebagai penyampaian pesan, isi tulisn, saluran atau media, dan pembaca.21
Menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk Bahasa tulis dalam tujuan, misalnya memberitahu, meyakinkan, atau menghibur. Hasil dari proses kreatif ini biasa disebut dengan istilah karangan atau tulisan. Kedua istilah tersebut mengacu pada hasil yang sama meskipun ada pendapat yang mengatakan kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Istilah menulis sering melekatkan pada proses kreatif yang sejenis ilmiah. Sementara
19 Ibid ., h. 24-27.
20 Nurudin, Dasar-Dasar Penulisan, (Malang: UMM Press, 2010), h. 4.
21 Dalman, Keterampilan Menulis, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), h. 3.
istilah mengarang sering dilekatkan pada proses kreatif yang berjenis nonilmiah.22
The central theoretical concept of WAC (Writing Across the Curriculum) from its Vygotsian origins in the work of James Britton and his colleagues in the UK (1975) is that students not only learn to write but also write to learn. This concept provides a deeper understanding of writing than the transmission (sender-receiver model.) Writing is a tool for learning instead of merely a tool for assessing learning. Writing is conceived as a means of engaging students with the problems and methods of a discipline as well as a means of sorting students.23
Leki dalam Rosa M Manchon mengatakan bahwa the need for a dialogue with students about the role of writing in their lives, and the needs to makes writing enhance learner options rather than limit them.24
Definisi di atas menjelaskan bahwa menulis adalah kegiatan penting untuk melatih peserta didik dalam berpikir, siswa tidak hanya belajar menulis, tetapi menulis untuk belajar. Menulis adalah alat untuk belajar, dengan menulis peserta didik dapat membiasakan diri untuk berargumen, membuat karya yang akan menjadi sejarah untuk dirinya atau bahkan untuk dunia.
2. Bentuk-Bentuk Tulisan
a. Karya tulis ilmiah, dalam hal ini termasuk menulis laporan suatu hasil penelitian, menulis buku ilmiah, menulis artikel (menulis tentang sejarah, menulis masalah Iptek, menulis masalah politik,
22 Ibid., h. 3.
23 David R. Russell, “Contradictions regarding teaching and writing (or writing to learn) in the disciplines: What we have learned in the USA”, Revista De Docencia Universitaria, Vol. 11, 2013, h. 164
24 Rosa M Manchon, Writing and Foreign Language Contexts Learning, Teaching, and Research, (Bristol: Library of Congress Catalonging, 2009), h. 3.
dan menulis masalah konomi dan pembangunan), menulis feature, dan lain sebagainya yang dibahas secara ilmiah.
b. Karangan bebas (karya tulis bebas), dalam hal ini termasuk menulis cerita pendek, cerita bersambung, cerita silat, laporan suatu perjalanan, dan resensi.
c. Karya tulis drama dan film, yaitu tulisan yang disiapkan sebagai naskah pembuatan drama dan film yang lazim disebut “skenario”
atau tonil/film script. Apabila tulisan khusu ini akan dipentaskan menjadi judul drama atau judul film, maka perlu bantuan dari orang yang mengerti seni drama atau seni panggung atau seni film. Orang yang bisa mengatur pementasan tersebut dinamakan sutradara.25
3. Manfaat Menulis
a. Memiliki kemampuan berpikir logis dan sistematis. Seorang penulis terbiasa meyajikan data dan fakta yang disajikan dalam tulisan sebagai sebuah karya yang sitematis untuk memudahkan pembaca menangkap makna dari tulisan yang disajikan.
b. Bermanfaat bagi orang lain.
c. Semangat berbagi dengan orang lain, membuat tujuan hidup sebagai manusia akan jelas karena pangkal dari kebahagiaan pada hakikatnya adalah menemukan tujuan hidup.
d. Memiliki wawasan luas. Anda harus selalu memperkaya khazanah wawasan dengan terus belajar dan belajar, sehingga dengan sendirinya wawasan Anda akan semakin terbuka lebar. Ilmu dan pengetahuan yang Anda ajarkan pun akan semakin Anda kuasai.
e. Andalah yang paling pertama tahu. Anda akan terus termotivasi untuk mencari tahu hal-hal baru yang nantinya akan Anda bagikan kepada orang lain. Kalaupun bukan data baru yang Anda sajikan,
25 Ratna Dewi Pudiastuti, Meretas Badai Lebih Sehat Jika Menulis, (Jakarta: PT Alex Media Komputindo Kompas Gramedia, 2015), h. 135-136.
paling tidak tulisan Anda merupakan interpretasi baru dari hal-hal lama.
f. Memperbaiki kondisi mental. Manusia butuh saluran-saluran untuk mengekspresikan perasaan jiwanya. Saat memiliki perasaan yang sedang marah, jengkel, atau bahkan senang, tidak mungkin jika kondisi tersebut kita biarkan saja.
g. Berani melakukan evalusai diri. Saat Anda menulis, maka kritikan pertama yang Anda dapatkan bukanlah dari orang lain melainkan dari diri Anda sendiri. Anda tentu tidak mau jika tulisan Anda tidak mendapatkan apresiasi yang menggembirakan pembaca sehingga Anda akan selalu melakukan koreksi terhadap tulisan Anda.
h. Memiliki pengahasilan secara materi. Selagi masih bisa menulis, teruslah menulis karena tulisan Anda menjadi pundi-pundi tabungan. Apalagi jika Anda menulis buku yang system pembayarannya royalty. Itu bisa menjadi jaminan masa pensiun karena selama buku Anda terus dicetak, uang Anda akan terus mengalis ke kas Anda.
i. Memengaruhi orang lain. Lewat tulisan, Anda bisa memengaruhi orang lain atau paling tidak mengajar mereka berpikir seperti layaknya Anda berpikir. Seperti halnya buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya R.A Kartini yang bisa memengaruhi banyak orang untuk berpikir tentang perlunya memberi ksempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan.
j. Menulis menjadikan hidup abadi. Anda akan terus dikenang karena karya-karya Anda yang terus “berdialog” dengan generasi setelah Anda.26
26 Ibid., h. 142-143.
4. Ciri-Ciri Tulisan yang Baik
Mc. Mahan dan Day dalam Henry Guntur Tarigan merumuskan secara singkat ciri-ciri tulisan yang baik itu seperti berikut ini:
a. Jujur: jangan coba memalsukan gagasan atau ide Anda.
b. Jelas: Jangan membingungkan para pembaca.
c. Singkat: jangan memboroskan waktu para pembaca.
d. Usahakan keanekaragaman: panjang kalimat yang beraneka ragam;
berkarya dengan penuh kegembiraan.27
4. Menulis Puisi
Modal menulis puisi yang bagus adalah kepekaan perasaan. Jika seseorang sering mengamati kehidupan sekitar dan ikut berempati merasakan perasaan orang/makhluk lain, maka orang tersebut akan mempunyai kepekaan perasaan. Siapapun bisa ikut sedih melihat orang berduka. Ikut gembira dengan kesuksesan yang diraih teman. Bahkan merasakan penderitaan belalang yang patah kakinya.
Sedemikian sulitkah untuk bisa menulis puisi.28 Menulis puisi adalah hal yang menyenangkan, setiap orang bisa menulis puisi dengan berbagai cara misalnya, ketika seseorang melihat keindahan alam, apa yang terlintas dipikirannya, lalu dituangkan ke dalam tulisan, maka jadilah puisi. Bagitu juga dengan menonton film sebelum membuat puisi, seperti yang peneliti lakukan untuk media pembelajaran menulis puisi.
1. Pengertian Puisi
Puisi adalah misteri yang di dalamnya terkandung seberkas sinar, sarat akan pesan dan memberi gairah dalam menyulam hidup.29 Selanjutnya, dituturkan oleh Ratna Dewi seputar definisi puisi, yakni
27 Henry Guntur Tarigan, Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung:
CV Angkasa, 2013), Edisi Revisi, h. 7.
28 Aveus Har, Yuk Menulis! Diary, Puisi, dan Cerita Fiksi, (Yogyakarta: Penerbit G- Media, 2011), h. 51-52
29 Ratna Dewi, op.cit., h. 111.
puisi meupakan nyanyian yang di dalamnya mengandung unsur puisi akan terasa syahdu didengar penuh imajinasi dan puitis. Isi dari puisi merupakan ungkapan jiwa penyairnya, kebahagiaan, dan kesedihan yang mewarnai hidupnya.
Dengan mengenal unsur-unsur puisi, seseorang akan merasakan keindahan hidup dan kedamaian hakiki bahwa hidup berjalan seperti air yang mengalir. Setiap apa yang orang pikirkan, orang lihat, bisa menjadi ritme dan membentuk puisi.
Blinderman dalam Nicholas Mazza mengatakan bahwa traced the use of poetry to deal with emotional problems even further in history to preliterate times when incantations and invocations were used. Often then purpose of the chanted word was to bring about changes in self, other, or the environment.30
Puisi adalah suatu unikum, hasil dari pengamatan yang unik seorang penyair.31 Sebelum menulis puisi, tentunya seorang penyair merasakan sesuatu yang dialami oleh penyair atau yang dilihat langsung, misalnya ia melihat pemandangan yang indah, film yang menarik, atau kesedihan yang benar-benar dialami. Lalu, penyair menuangkan perasaannya ke dalam tulisan dengan kata-kata indah, yaitu puisi.
2. Ragam Puisi
Amminuddin dalam Ana Yuliati, ditinjau dari bentuk maupun isinya, ragam puisi dibedakan antara lain sebagai berikut.
a. Puisi epic, yakni suatu puisi yang mengandung cerita kepahlawanan, baik yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan, maupun sejarah.
b. Puisi naratif, puisi yang di dalamnya mengandung suatu peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita. Termasuk dalam jenis puisi naratif
30 Nicholas Mazza, Poetry Therapy Theory and Practice, (New York: Routlede, 2016), cet. 2, h. 6.
31 Ajib Rosidi, Puisi Indonesia Modern, (Bandung: PT Pustaka Jaya, 2012), h. 81.
ini adalah apa yang biasa disebut sebagai suatu ragam puisi yang berkisah pengasihnya, kecemburuan, kedengkian, ketakutan, dan kepedihan.
c. Puisi lirik, puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam pendapat pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya.
d. Puisi dramatik, puisi yang menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat tingkah laku, dialog, maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu. Dalam puisi dramatik dapat saja penyair berkisah tentang dirinya atau orang lain yang diwakilinya lewat orang lain.
e. Puisi didaktik, puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya ditampilkan secara eksplisit.
f. Puisi satirik, puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kelemahan atau ketidakberesan kehidupan suatu kelompok maupun suatu masyarakat.
g. Romansa, puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap kekasih.
h. Elegi, puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedih dan kedukaan seseorang.
i. Ode, puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa ataupun sikap kepahlawanan
j. Hymne, puisi yang berisi pujian kepada Tuhan maupun ungkapan rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air.32
Sejumlah ragam puisi tersebut tidaklah dijadikan bahan dalam penelitian ini, melainkan sebagai pijakan teori oleh peneliti. Adapun peneliti butuh satu ragam puisi untuk diterapkan kepada peserta didik.
Sesuai dengan tema dalam film pendek “Kinetik” peneliti memilih ragam puisi didaktik untuk diterapkan kepada peserta didik.
32 Ana yuliati, “ Jenis Puisi Penyair Muda Bangkalan dalam kumpulan Puisi Bersama keluarga Besar Penyair Bangkalan”, Jurnal Sastra Aksara, Vol. 6, 2018, h. 5-6.
3. Unsur Pembentuk Puisi
Unsur pembentuk puisi terbagi menjadi dua bagian yaitu, unsur intrinsik puisi dan unsur ekstrinsik puisi. Kedua unsur tersebut dibutuhkan dalam membuat sebuah puisi. Pertama, unsur intrinsik puisi terbagi menjadi dua bagian yaitu, hakikat puisi dan struktur puisi.
Hakikat puisi adalah unsur-insur yang diungkapkan penyair dalam puisi. Hakikat puisi terdiri atas tema, rasa, nada, dan amanat atau pesan.
Hakikat puisi disebut juga struktur batin puisi.
a. Tema
Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Gagasan penyair cenderung tidak selalu sama dan besar kemungkinan untuk berbeda-beda. Oleh karena itu, puisi yang dihasilkannya pun akan berlainan. Tema mengacu pada penyairnya. Tema tentulah merupakan kombinasi atau sintesis dari bermacam-macam pengalaman, cita-cita, ide, dan bermacam- macam unsur yang ada dalam pikiran penulis. Tema yang sering digunakan dalam puisi seperti tema ketuhanan (religious), kemanusiaan, cinta, patriotisme, perjuangan, kegagalan hidup, alam, kebaikan, kepahlawanan, kesedihan, kerinduan, kesetiakawanan, pendidikan, budi pekerti, dan perpisahan.
b. Perasaan
Suasana perasaan penyair diekspresikan dan mampu dihayati pembaca. Perasaan penyair dapat berupa sikap pandangan, perbuatan, ataupun watak khusus. Perasaan penyair akan muncul saat mengahadapi sesuatu. Perasaan yang menjiwai puisi bisa perasaan gembira, sedih, terharu, terasing, tersinggung, patah hati, sombong, marah, semangat, tercekam, dan lain sebagainya.
c. Nada
Nada (tone) yaitu sikap penyair terhadap pembacanya.
Dengan kata lain, sikap sang penyair terhadap para penikmat
karyanya. Dari sikap itulah tercipta suasana puisi. Sebuah puisi dapat bernada sinis, protes, menggurui, memberontak, main-main, bercanda, serius (sungguh-sungguh), patriotik, belas kasih, dendam, membentak, memelas, takut, mencekam, mencemooh, merendahkan, menyanjung, dan lain sebagainya.
d. Amanat
Amanat, pesan, atau nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi. Amanat ditentukan sendiri oleh pembaca berdasarkan cara pandang pembaca terhadap sesuatu. Jadi, setiap pembaca dapat berbeda-beda dalam menentukan amanat puisi. Meskipun demikian, amanat tidak dapat lepas dari tema yang ditentukan penyair.
Selanjutnya, struktur puisi disebut juga unsur pembangun puisi secara fisik. Unsur-Unsur pembangun puisi tersebut sebagai kesatuan struktur. Unsur fisik puisi meliputi larik, bait, pertautan, diksi, imaji, rima, dan irama.
a. Larik
Puisi merupakan kelompok kata yang tidak membentuk kalimat dan alenia/paragraph. Kelompok kata atau kumpulan kata tersebut membentuk larik atau baris.
Contoh:
Di Mesjid Kuseru saja Dia Sehingga datang juga Kami pun bermuka-muka.
...
Dikutip dari: Chairil Anwar, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, Jakarta, Dian Rakyat, 2006
Bait pertama terdiri atas dua larik. Sementara itu, bait kedua hanya ada satu larik.
b. Bait
Bait merupakan kumpulan larik atau kumpulan baris. Setiap bait para puisi baru lebih bebas daripada puisi lama. Tiap bait ada yang terdiri atas dua baris, tiga baris, bahkan delapan baris.
Contoh:
Selamat Tinggal Aku bekerja
Bukan buat ke pesta
…
Dikutip dari: Chairil Anwar, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, Jakarta, Dian Rakyat, 2006
Pada sajak selamat tinggal satu bait terdiri atas dua larik.
c. Pertautan
Pertautan merupakan pertalian antarlarik atau antarbait yang membentuk kesatuan sebuah sajak. Pertalian inilah yang membuat sajak tersebut bermakna dan menarik. Larik-larik dalam sajak saling berhubungan dalam membentuk bait. Bait-bait dalam sajak saling berhubungan. Isi dalam bait puisi pun juga harus berhubungan.
Contoh:
Pematang Sehabis Panen Padi telah dirontokkan
Ditarik dua sapi, lambang keperkasaan petani Di atas pematang orang-orang mengembalakan Senyum dan pengharapan
Dikutip dari: Hasta Indriayana, Tuhan Aku Lupa Menulis Sajak Cinta, Yogyakarta, Jendela 2005
Larik-Larik sajak tersebut saling bertautan. Pertautan ini membentuk satu kesatuan sebuah sajak yang menceritakan suasana
pematang sawah. Suasana tersebut diceritakan pnyair dalam bentuk sajak. Sajak tersebut sangat puitis dan menarik.
d. Diksi
Kata-Kata dalam puisi bersifat konotasi dan puitis. Konotasi berarti memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. Puisi berarti mempunysi efek keindahan dan berbeda dari kata-kata dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, kata-kata dalam puisi merupakan kata- kata khas. Untuk ketepatan pilihan kata, penyair sering mengganti kata, bahkan ada baris atau kalimat diubah susunannya atau justru dihilangkan. Penyair juga menggunakan berbagai gaya Bahasa atau majas.
Contoh:
Sajak Hijau
kutanam Padi dan cinta kasih di sawahku di hatimu
…
Dikutip dari: Piek ardijanto Soeprijadi, Biarkan angin Itu, Jakarta, Grasindo, 1996
Penyair menggunakan pilihan kata (diksi) yang memiliki kesamaan bunyi pada akhir larik /di sawahku/ di hatimu/. Pada bait tersebut, penyair membuat perbandingan antara sawah dan hati.
e. Pengimajian
Pengimajian adalah kata atau susunan kata yang dapat memperjelas makna yang dinyatakan oleh penyair. Pengimajian disebut juga citraan.
Contoh:
Abdul Muluk
…
Mendengarkan titah sultan paduka, Permaisuri menjawab lakunya suka.
“alat perkakas hadirlah belaka, Menantikan sampati saat ketika”
…
Dikutip dari: Sukini dan wendi Widya Ratna Dewi, Kumpulan Syair, Klaten, Intan Pariwara, 2009
Saat membaca kutipan syair di atas pembaca seolah-olah permaisuri mendengar titah sultan paduka. Ini berarti kutipan syair tersebut mengandung imaji pendengaran.
f. Rima dan Irama
Rima disebut juga sajak atau persamaan bunyi. Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk menhasilkan efek merdu.
Penggunaan rima puisi mendukung perasaan dan suasana hati.
Bunyi merdu yang umum dalam setiap puisi adalah aliterasi dan asonansi. Aliterasi merupakan bunyi merdu yang dihasilkan bunyi konsonan, sedangkan sonansi merupakan bunyi merdu yang dihasilkan bunyi vokal. Irama merupakan perhentian keras-lembut, tinggi-rendah, atau panjang-pendek kata secara brulang-ulang.
Irama bertujuan menciptakan gelombang yang memperindah puisi.
Contoh:
Sajak Coklat Petang hari Angina mati Aku sendiri Di teluk sepi