Interval Skor Frekuensi Persentase Kategori
B. Analisis Data
1. Pengujian Prasyarat a. Uji Normalitas
Uji normalitas sampel di sini dimaksudkan untuk menguji normal tidaknya populasi. Dalam pengujian normalitas peneliti
menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov yang memusatkan
perhatian pada penyimpangan (deviasi) terbesar. Berikut ini disajikan tabel ringkasan hasil pengujian normalitas:
Tabel V. 5 Hasil Uji Normalitas Variabel Asymp.
sig
Taraf
Signifikansi Kesimpulan Motivasi Masuk
Program Studi 0,301 0, 05 Normal
Keaktifan Mengikuti
Kegiatan Kampus 0,372 0, 05 Normal
Fasilitas Belajar 0,487 0, 05 Normal
62
Hasil pengujian normalitas untuk variabel motivasi masuk program studi menunjukkan bahwa nilai probabilitas (ρ) 0,301 > 0,05 berarti distribusi variabel motivasi masuk program studi normal. Hasil pengujian untuk variabel keaktifan mengikuti kegiatan kampus menunjukkan bahwa nilai probabilitas (ρ) 0,372 > 0,05 berarti distribusi variabel keaktifan mengikuti kegiatan kampus normal. Hasil pengujian untuk variabel fasilitas belajar menunjukkan bahwa nilai probabilitas (ρ) 0,487 > 0,05 berarti distribusi variabel fasilitas belajar mahasiswa normal. Hasil pengujian untuk variabel indeks prestasi menunjukkan bahwa nilai probabilitas (ρ) 0,754 > 0,05 berarti distribusi variabel indeks prestasi mahasiswa normal. Hasil pengujian dengan menggunakan program SPSS for windows versi 18.0 dapat dilihat pada lampiran.
b. Uji Linieritas
Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebas memiliki hubungan linier atau tidak dengan variabel terikatnya.
Tabel V. 6 Hasil Uji Linieritas Variabel
Bebas
Variabel
Terikat df Fhitung Ftabel Kesimpulan Motivasi
Masuk Prodi
Indeks
Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kampus Indeks Prestasi 12:53 1,136 1,940 Linier Fasilitas Belajar Indeks Prestasi 10:55 0,518 2,008 Linier
Pengujian linieritas untuk hubungan motivasi masuk program studi dengan indeks prestasi diperoleh nilai Fhitung
sebesar 0,984 sedangkan nilai Ftabel dengan db pembilang 19 dan
penyebut 46 dengan taraf signifikan 5% diperoleh nilai Ftabel
sebesar 1,817. Dengan demikian disimpulkan bahwa hubungan motivasi masuk program studi dengan indeks prestasi adalah linier. Pengujian linieritas untuk hubungan keaktifan mengikuti kegiatan kampus dengan indeks prestasi diperoleh nilai Fhitung sebesar
1,136 sedangkan nilai Ftabel dengan db pembilang 12 dan
penyebut 53 dengan taraf signifikan 5% diperoleh nilai Ftabel
sebesar 1,940. Dengan demikian disimpulkan bahwa hubungan keaktifan mengikuti kegiatan kampus dengan indeks prestasi adalah linier. Pengujian linieritas untuk hubungan fasilitas belajar dengan indeks prestasi diperoleh nilai Fhitung sebesar 0,518
sedangkan nilai Ftabel dengan db pembilang 10 dan penyebut 55
dengan taraf signifikan 5% diperoleh nilai Ftabel sebesar 2,008.
Dengan demikian disimpulkan bahwa hubungan fasilitas belajar dengan indeks prestasi adalah linier. Hasil pengujian dengan
64
menggunakan program SPSS for windows versi 18.0 dapat dilihat
pada lampiran.
2. Pengujian Hipotesis
a. Pengaruh motivasi masuk program studi terhadap indeks prestasi mahasiswa
1) Rumusan Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini:
Ho = Tidak ada pengaruh motivasi masuk program studi terhadap indeks prestasi mahasiswa.
Ha = Ada pengaruh motivasi masuk program studi terhadap indeks prestasi mahasiswa.
2) Pengujian Hipotesis
Dari hasil analisis data (lampiran) menunjukkan bahwa besar hubungan antar variabel motivasi masuk program studi dengan indeks prestasi mahasiswa yang dihitung dengan koefisien korelasi adalah sebesar 0,193. Hal ini menunjukkan hubungan yang sangat lemah. Arah hubungan yang positif (tidak ada tanda negatif pada angka 0,193) menunjukkan semakin tinggi motivasi masuk program studi akan membuat indeks prestasi mahasiswa cenderung meningkat. Demikian pula sebaliknya, makin rendah
motivasi masuk program studi maka semakin rendah pula indeks prestasi mahasiswa.
Uji signifikansi berdasarkan pada probabilitas jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima dan sebaliknya jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Tingkat signifikansi koefisien korelasi satu sisi dari output (diukur dari probabilitas) menghasilkan angka 0,059. Oleh karena probabilitas > 0,05 yaitu 0,059, maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara motivasi masuk program studi dengan indeks prestasi mahasiswa.
Harga koefisien korelasi sederhana (r) antar variabel motivasi masuk program studi dengan indeks prestasi mahasiswa adalah sebesar 0,193 dengan koefisien determinasi (r²) sebesar 0,037. Ini berarti bahwa indeks prestasi mahasiswa yang disebabkan oleh motivasi masuk program studi sebesar 3,7% dan sebesar 96,3% dipengaruhi oleh variabel yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antar variabel motivasi masuk program studi dengan indeks prestasi lemah.
Berdasarkan hasil analisis regresi, didapat persamaan regresi sebagai berikut (lampiran):
66
Keterangan :
Y = Indeks Prestasi Mahasiswa
X = Motivasi Masuk Program Studi
Koefisien regresi b bernilai positif sebesar 0,015 yang berarti setiap terjadi penambahan 1 satuan untuk variabel motivasi masuk program studi, maka variabel indeks prestasi mahasiswa akan mengalami penambahan sebesar 0,015. Namun sebaliknya jika motivasi masuk program studi menurun sebesar 1 satuan maka indeks prestasi mahasiswa juga diprediksi mengalami penurunan sebesar 0,015. Jadi, tanda + menyatakan arah hubungan yang searah, yaitu kenaikan/penurunan variabel independen (X) akan mengakibatkan kenaikan/penurunan variabel dependen (Y).
Hasil pengujian hipotesis di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi dari variabel motivasi masuk program studi terhadap indeks prestasi mahasiswa adalah 0,015. Sedangkan nilai probabilitasnya (ρ) sebesar 0,118 pada taraf signifikansi 0,05. Dari hasil analisis ini menunjukkan bahwa pengaruh motivasi masuk program studi terhadap indeks prestasi mahasiswa adalah tidak signifikan karena nilai
probabilitas (ρ) sebesar 0,118 lebih besar dari taraf
disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh motivasi masuk program studi terhadap indeks prestasi mahasiswa.
b. Pengaruh keaktifan mengikuti kegiatan kampus terhadap indeks prestasi mahasiswa
1) Rumusan Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini:
Ho = Tidak ada pengaruh keaktifan mengikuti kegiatan kampus terhadap indeks prestasi mahasiswa.
Ha = Ada pengaruh keaktifan mengikuti kegiatan kampus terhadap indeks prestasi mahasiswa.
2) Pengujian Hipotesis
Dari hasil analisis data (lampiran) menunjukkan bahwa besar hubungan antar variabel keaktifan mengikuti
kegiatan kampus dengan indeks prestasi mahasiswa yang
dihitung dengan koefisien korelasi adalah 0,050. Hal ini menunjukkan hubungan yang lemah. Arah hubungan yang positif (tidak ada tanda negatif pada angka 0,050) menunjukkan semakin tinggi keaktifan mengikuti kegiatan kampus akan membuat indeks prestasimahasiswa cenderung meningkat. Demikian pula sebaliknya, makin rendah keaktifan mengikuti kegiatan kampus maka semakin rendah pula indeks prestasi mahasiswa.
68
Uji signifikansi berdasarkan pada probabilitas jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima dan sebaliknya jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Tingkat signifikansi koefisien korelasi satu sisi dari output (diukur dari probabilitas) menghasilkan angka 0,343. Oleh karena probabilitas > 0,05 yaitu sebesar 0,343, maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara keaktifan mengikuti kegiatan kampus dengan indeks prestasi mahasiswa.
Harga koefisien korelasi sederhana (r) antar variabel keaktifan mengikuti kegiatan kampus dengan indeks prestasi mahasiswa adalah sebesar 0,050 dengan koefisien determinasi (r²) sebesar 0,003. Ini berarti bahwa indeks prestasi mahasiswa yang disebabkan oleh keaktifan mengikuti kegiatan kampus sebesar 0,3% dan sebesar 99,7% dipengaruhi oleh variabel yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa lemahnya hubungan antar variabel keaktifan mengikuti kegiatan kampus dengan indeks prestasi.
Berdasarkan hasil analisis regresi, didapat persamaan regresi sebagai berikut (lampiran):
Keterangan :
Y = Indeks Prestasi Mahasiswa
X = Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kampus
Koefisien regresi b bernilai positif sebesar 0,006 yang berarti setiap terjadi penambahan 1 satuan untuk variabel keaktifan mengikuti kegiatan kampus, maka variabel indeks prestasi mahasiswa akan mengalami penambahan sebesar 0,006. Namun sebaliknya jika keaktifan mengikuti kegiatan kampus menurun sebesar 1 satuan maka indeks prestasi mahasiswa juga diprediksi mengalami penurunan sebesar 0,006. Jadi, tanda + menyatakan arah hubungan yang searah, yaitu kenaikan/penurunan variabel independen (X) akan mengakibatkan kenaikan/penurunan variabel dependen (Y).
Hasil pengujian hipotesis di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi dari variabel keaktifan mengikuti kegiatan kampus terhadap indeks prestasi mahasiswa adalah 0,006. Sedangkan nilai probabilitasnya (ρ) sebesar 0,687 pada taraf signifikansi 0,05. Dari hasil analisis ini menunjukkan bahwa pengaruh keaktifan mengikuti kegiatan kampus terhadap indeks prestasi mahasiswa adalah tidak signifikan karena nilai probabilitas (ρ) sebesar 0,678 lebih besar dari taraf signifikansi (α) sebesar 0,05. Dengan
70
demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh keaktifan mengikuti kegiatan kampus terhadap indeks prestasi mahasiswa.
c. Pengaruh fasilitas belajar terhadap indeks prestasi mahasiswa 1) Rumusan Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini:
Ho = Tidak ada pengaruh fasilitas belajar terhadap indeks prestasi mahasiswa.
Ha = Ada pengaruh fasilitas belajar terhadap indeks prestasi mahasiswa.
2) Pengujian Hipotesis
Dari hasil analisis data (lampiran) menunjukkan bahwa besar hubungan antar variabel fasilitas belajar dengan indeks prestasi mahasiswa yang dihitung dengan koefisien korelasi adalah – 0,201. Hal ini menunjukkan hubungan yang lemah. Arah hubungan yang negatif (ada tanda negatif pada angka 0,201) menunjukkan semakin mendukung fasilitas belajar akan membuat indeks prestasi mahasiswa cenderung menurun. Demikian pula sebaliknya, semakin tidak mendukung fasilitas belajar maka semakin tinggi indeks prestasi mahasiswa.
Uji signifikansi berdasarkan pada probabilitas jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima dan sebaliknya jika
probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Tingkat signifikansi koefisien korelasi satu sisi dari output (diukur dari probabilitas) menghasilkan angka 0,051. Oleh karena probabilitas > 0,05 yaitu 0,051, maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara fasilitas belajar dengan indeks prestasi mahasiswa.
Harga koefisien korelasi sederhana (r) antar variabel fasilitas belajar dengan indeks prestasi mahasiswa adalah sebesar 0,201 dengan koefisien determinasi (r²) sebesar 0,041. Ini berarti bahwa indeks prestasi mahasiswa yang disebabkan oleh fasilitas belajar sebesar 4,1% dan sebesar 95,9% dipengaruhi oleh variabel yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa lemahnya hubungan antar variabel fasilitas belajar dengan indeks prestasi mahasiswa.
Berdasarkan hasil analisis regresi, didapat persamaan regresi sebagai berikut (lampiran):
Y = 3,437 – 0,029 (X) Keterangan :
Y = Indeks Prestasi Mahasiswa X = Fasilitas Belajar
72
Koefisien regresi b bernilai negatif sebesar - 0,029 yang berarti setiap terjadi penambahan 1 satuan untuk fasilitas belajar, maka variabel indeks prestasi mahasiswa akan mengalami penurunan sebesar 0,029. Namun sebaliknya jika fasilitas belajar menurun sebesar 1 satuan maka indeks prestasi mahasiswa juga diprediksi mengalami penambahan sebesar 0,029. Jadi, tanda negatif (-) menyatakan arah hubungan yang berlawanan, yaitu kenaikan/penurunan variabel independen (X) akan mengakibatkan penurunan/ kenaikan variabel dependen (Y).
Hasil pengujian hipotesis di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi dari variabel fasilitas belajar terhadap indeks prestasi mahasiswa adalah - 0,029. Sedangkan nilai probabilitasnya (ρ) sebesar 0,102 pada taraf signifikansi 0,05. Dari hasil analisis ini menunjukkan bahwa pengaruh fasilitas belajar terhadap indeks prestasi mahasiswa adalah tidak signifikan karena nilai probabilitas (ρ) sebesar 0,102 lebih besar dari taraf signifikansi (α) sebesar 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh fasilitas belajar terhadap indeks prestasi mahasiswa.
C. Pembahasan
1. Pengaruh Motivasi Masuk Program Studi terhadap Indeks Prestasi
Mahasiswa
Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada pengaruh motivasi masuk program studi terhadap indeks prestasi mahasiswa. Hal ini didukung oleh perhitungan statistik yang menunjukkan bahwa nilai probabilitas koefisien regresi (ρ) sebesar 0,118 lebih besar dari taraf signifikansi sebesar 0,05.
Deskripsi motivasi masuk program studi sebagian besar mahasiswa dikategorikan memiliki motivasi masuk program studi cukup tinggi (26 responden atau 39%). Menurut Sartain (Ngalim Purwanto, 1990:61), pada umumnya suatu motivasi/dorongan adalah suatu pernyataan yang kompleks dalam organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive).
Deskripsi indeks prestasi mahasiswa menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa dikategorikan memiliki indeks prestasi yang tinggi (32 responden atau 48%). Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan yang dikembangkan oleh mata pelajaran dan lazimnya ditunjukkan oleh nilai test atau berupa angka yang diberikan oleh guru/dosen. Prestasi belajar selalu dikaitkan dengan test hasil belajar atau test prestasi (Masidjo, 1995:102-103). Keberhasilan dalam kegiatan yang disebut belajar akan tampak dalam prestasi
74
belajar yang diraihnya. Penilaian prestasi belajar akademik di perguruan tinggi dinyatakan dalam indeks prestasi (IP).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi masuk program studi ternyata tidak berpengaruh terhadap indeks prestasi. Menurut dugaan peneliti hasil penelitian ini disebabkan karena adanya faktor-faktor lain yang lebih dominan dalam mempengaruhi indeks prestasi mahasiswa. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor internal, faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar selain motivasi masuk program studi. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek, yakni aspek fisiologis (kondisi umum jasmani dan tonus/tegangan otot) dan aspek psikologis (intelegensi, sikap, bakat, minat) dan faktor eksternal yaitu faktor eksternal seorang individu yang terdiri atas dua macam, yakni faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial.
Motivasi masuk program studi yang cukup tinggi tidak menjamin indeks prestasi akan menjadi tinggi, hal itu tergantung apakah motivasi tersebut dari dalam dirinya atau dari orang lain. Prayitno (1989:11) mengemukakan bahwa individu yang termotivasi secara intrinsik aktifitasnya lebih baik dalam belajar dari pada individu yang termotivasi secara ekstrinsik. Seorang individu yang memiliki motivasi intrinsik menunjukkan keterlibatan dan aktifitasnya yang tinggi dalam belajar sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan bentuk motivasi yang keberadaannya karena pengaruh rangsangan
dari luar. Motivasi ekstrinsik bukan merupakan perasaan atau keinginan yang sebenarnya yang ada dalam diri individu tersebut. Oleh karena itu, mahasiswa dalam menjatuhkan pilihan pada program studi yang dipilih sebaiknya terlebih dahulu mempertimbangkan apa motivasi mereka sehingga mereka ingin masuk pada program studi tersebut.
Keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam mengarahkan dan mendukung dalam pemilihan masuk program studi. Dengan adanya arahan dan dukungan dari keluarga, maka mahasiswa dapat memilih program studi yang diinginkan sesuai dengan minat, bakat, kecerdasan, lingkungan belajar yang mereka dambakan saat memasuki program studi yang diinginkannya serta cita-cita setelah lulus nanti sehingga mahasiswa tersebut memiliki motivasi yang tinggi pada waktu masuk program studi. Diharapkan dengan adanya motivasi yang tinggi dan dengan adanya pengambilan keputusan secara sadar dan tepat dalam memilih masuk program studi tertentu maka dapat mempengaruhi hasil belajar sehingga mendapatkan indeks prestasi yang tinggi.
2. Pengaruh Keaktifan Mengikuti Kegiatan Kampus terhadap Indeks
Prestasi Mahasiswa.
Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada pengaruh keaktifan mengikuti kegiatan kampus terhadap indeks mahasiswa. Hal ini didukung oleh perhitungan statistik yang menunjukkan bahwa nilai
76
probabilitas koefisien regresi (ρ) sebesar 0,687 lebih besar dari taraf signifikansi sebesar 0,05.
Deskripsi keaktifan mengikuti kegiatan kampus sebagian besar mahasiswa dikategorikan memiliki keaktifan mengikuti kegiatan kampus yang sedang (39 responden atau 58%). Dalam proses belajar di perguruan tinggi, terutama pada masa awal perkuliahan, mahasiswa dikenalkan dan diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai aktivitas/kegiatan yang dapat mengembangkan kepribadiannya, bakat serta kemampuan di berbagai bidang di luar bidang akademik. Mengikuti kegiatan kampus memberikan nilai positif yang akan membuat mahasiswa mendapatkan pengalaman baru yang tidak akan mungkin di dapat dari ruang kuliah saja. Mengikuti kegiatan kampus akan memberikan ruang kepada mahasiswa untuk dapat berkreasi dan beraktivitas secara lebih luas. Mahasiswa akan banyak berinteraksi dengan orang lain yang berlatar belakang berbeda-beda. Di sinilah kemampuan komunikasi dan emosi (emotional quotient) mahasiswa
akan terlatih dalam menghadapi berbagai persoalan dan konflik yang terjadi. Kedewasaan berpikir mahasiswa akan semakin tumbuh seiring aktifnya berorganisasi di kampus. Bahkan seringkali pengalaman berorganisasi di kampus akan sedikit banyak membantu mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti.
Deskripsi indeks prestasi menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa dikategorikan memiliki indeks prestasi yang tinggi (32
responden atau 48%). Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan yang dikembangkan oleh mata pelajaran dan lazimnya ditunjukkan oleh nilai test atau berupa angka yang diberikan oleh guru/dosen. Prestasi belajar selalu dikaitkan dengan test hasil belajar atau test prestasi (Masidjo, 1995:102-103). Keberhasilan dalam kegiatan yang disebut belajar akan tampak dalam prestasi belajar yang diraihnya. Penilaian prestasi belajar akademik di perguruan tinggi dinyatakan dalam indeks prestasi (IP).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan mengikuti kegiatan kampus ternyata tidak berpengaruh terhadap indeks prestasi. Menurut dugaan peneliti hasil penelitian ini disebabkan karena adanya faktor-faktor lain yang lebih dominan dalam mempengaruhi indeks prestasi mahasiswa. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor internal, faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar selain keaktifan mengikuti kegiatan kampus. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu sendiri meliputi dua aspek, yakni aspek fisiologis (kondisi umum jasmani dan tonus/tegangan otot) dan aspek psikologis (intelegensi, sikap, bakat, minat) dan faktor eksternal yaitu faktor eksternal individu yang terdiri atas dua macam, yakni faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial.
Upaya menumbuhkan minat mahasiswa untuk aktif dalam kegiatan kampus harus menjadi perhatian baik bagi orang tua, mahasiswa, serta otoritas kampus. Upaya membangun komunikasi
78
untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya aktif dalam kegiatan kampus baik bagi orang tua dan mahasiswa perlu dilakukan. Dengan aktif mengikuti kegiatan kampus akan memberikan nilai positif yang akan membuat mahasiswa mendapatkan pengalaman baru yang tidak akan mungkin di dapat dari ruang kuliah saja, mahasiswa dapat berkreasi dan beraktivitas secara lebih luas. Mahasiswa dapat belajar berorganisasi, berinteraksi dengan banyak orang, mendapatkan teman baru sampai dengan belajar untuk menghargai orang lain sehingga kedewasaan berpikir mahasiswa akan semakin tumbuh. Aktif dalam kegiatan kampus juga dapat membantu perkembangan individu mahasiswa menjadi lebih baik, karena banyak pelajaran/hal penting yang dapat mahasiswa dapatkan. Akan tetapi terlalu banyak berorganisasi dan aktif mengikuti kegiatan kampus terkadang memberikan keasyikan tersendiri, sehingga mahasiswa yang bersangkutan lupa akan tujuan utamanya, yaitu belajar. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya absen kuliah dan tidak mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Oleh karena itu mahasiswa harus dapat mengatur waktu, tenaga dan fikirannya sebaik mungkin baik untuk kuliah maupun untuk ikut aktif dalam kegiatan kampus. Mahasiswa juga harus mampu menyeimbangkan dan mengetahui hal yang menjadi prioritas sehingga keaktifan dalam mengikuti kegiatan kampus dapat menjadi salah satu faktor penunjang dalam mencapai indeks prestasi yang tinggi.
3. Pengaruh Fasilitas Belajar Terhadap Indeks Prestasi Mahasiswa
Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada pengaruh fasilitas belajar terhadap indeks prestasi mahasiswa. Hal ini didukung oleh perhitungan statistik yang menunjukkan bahwa nilai probabilitas koefisien regresi (ρ) sebesar 0,102 lebih besar dari taraf signifikansi sebesar 0,05.
Deskripsi fasilitas belajar sebagian besar mahasiswa dikategorikan memiliki fasilitas belajar yang sangat mendukung (38
responden atau 57%). Fasilitas belajar mempunyai fungsi untuk
menunjang dan menggalakkan kegiatan belajar agar kegiatan belajar tersebut berjalan dengan lancar dan baik.
Deskripsi indeks prestasi menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa dikategorikan memiliki indeks prestasi yang tinggi (32 responden atau 48%). Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan yang dikembangkan oleh mata pelajaran dan lazimnya ditunjukkan oleh nilai test atau berupa angka yang diberikan oleh guru/dosen. Prestasi belajar selalu dikaitkan dengan test hasil belajar atau test prestasi (Masidjo, 1995:102-103). Keberhasilan dalam kegiatan yang disebut belajar akan tampak dalam prestasi belajar yang diraihnya. Penilaian prestasi belajar akademik di perguruan tinggi dinyatakan dalam indeks prestasi (IP).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas belajar ternyata tidak berpengaruh terhadap indeks prestasi. Menurut dugaan peneliti
80
hasil penelitian ini disebabkan karena adanya faktor-faktor lain yang lebih dominan dalam mempengaruhi indeks prestasi mahasiswa. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar selain fasilitas belajar. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu tersebut meliputi dua aspek, yakni aspek fisiologis (kondisi umum jasmani dan tonus/tegangan otot) dan aspek psikologis (intelegensi, sikap, bakat, minat) dan faktor eksternal yaitu faktor eksternal individu yang terdiri atas dua macam, yakni faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan
non sosial.
Fasilitas belajar yang sangat mendukung tidak menjamin indeks prestasi menjadi tinggi, begitu juga sebaliknya fasilitas belajar yang tidak mendukung juga tidak menjamin indeks prestasi menjadi rendah. Hal itu dikarenakan bagaimana pemanfaatan dari fasilitas belajar itu sendiri. Mahasiswa yang memiliki fasilitas belajar yang sangat mendukung tetapi tidak digunakan dengan baik maka akan sia-sia saja. Oleh karena itu dibutuhkan peran orang tua bukan hanya dalam memberikan fasilitas belajar tetapi juga dalam memberikan pengawasan apakah fasilitas belajar yang diberikan sudah digunakan secara optimal atau belum. Mahasiswa yang memiliki fasilitas belajar yang lengkap harus mempunyai semangat belajar yang tinggi dan menggunakan fasilitas belajar yang ada dengan baik. Sebaliknya mahasiswa yang memiliki fasilitas belajar yang kurang lengkap harus
dapat menggunakan fasilitas belajar yang ada secara optimal dan tetap semangat dalam belajar. Diharapkan dengan adanya pengawasan dari orang tua dan tanggung jawab yang dimiliki mahasiswa dalam menggunakan fasilitas belajar yang ada maka fasilitas belajar dapat menjadi salah satu faktor penunjang dalam mencapai indeks prestasi yang tinggi.
1