3. METODE PENELITIAN 1Bahan dan Alat 1Bahan dan Alat
3.5 Analisis Data
3.5.1 Analisis Deskriptif Kualitatif
Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan kondisi sosial ekonomi responden, serta menganalisis karakteristik dan praktek pengelolaan hutan rakyat berdasarkan hasil observasi lapang, wawancara, dan kuisioner. Peubah-peubah yang dianalisis antara lain: orientasi pengusahaan dan alasan mengusahakan komoditas tertentu, luas dan ciri kekompakan lahan yang diusahakan sebagai hutan rakyat, serta sistem pengelolaan yang diterapkan
meliputi subsistem produksi, subsistem pengolahan hasil, dan subsistem pemasaran.
3.5.2 Analisis Pendapatan
Analisis pendapatan dilakukan untuk menghitung kontribusi pendapatan dari hutan rakyat terhadap total pendapatan rumah tangga responden, sehingga didapatkan gambaran bagaimana peranan hutan rakyat terhadap perekonomian rumah tangga responden. Kontribusi hutan rakyat dihitung dengan pendekatan relatifitas terhadap pendapatan total rumah tangga responden.
3.5.3 Analisis Kelayakan Finansial
Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk menilai kelayakan usaha tani hutan rakyat dilihat dari sudut pandang lembaga atau individu yang menanamkan modalnya. Cara menilai kelayakan suatu proyek yang paling banyak diterima untuk penilaian proyek jangka panjang adalah dengan menggunakan Discounted Cash Flow Analysis (DCF) atau analisis aliran kas yang terdiskonto menggunakan parameterBenefit Cost Ratio (BCR), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR).
1. Benefit Cost Ratio (BCR)
BCR merupakan perbandingan atau ratio antara total pendapatan terdiskonto dengan total biaya terdiskonto. Suatu usaha tani dinyatakan layak apabila nilai BCR lebih besar dari satu (BCR > 1). Semakin tinggi suku bunga yang digunakan dapat menyebabkan kemungkinan nilai BCR lebih kecil dari satu.
ܤܥܴ ൌσ ܤݐ ሺͳ ݅ሻ௧ ௧ σሺͳ ݅ሻܥݐ ௧ ௧ dimana
n : daur ekonomis usaha tani; t : tahun proyek;
Bt : penerimaan kotor petani pada tahun t; Ct : biaya usaha tani pada tahun t;
2. Net Present Value (NPV)
NPV adalah nilai diskonto dari selisih manfaat dan biaya aliran keluar masuknya uang yang juga berarti nilai keuntungan bersih pengusahaan pada saat ini. Suatu usaha tani dinyatakan layak apabila nilai NPV positif (NPV > 0).
ܸܰܲ ൌ ܤݐ െ ܥݐሺͳ ݅ሻ௧
௧
dimana
n : umur ekonomis usaha tani; t : tahun proyek.;
Bt : penerimaan kotor petani pada tahun t; Ct : biaya usaha tani pada tahun t;
i : suku bunga (discount rate). 3. Internal Rate of Return (IRR)
IRR adalah suatu tingkat suku bunga yang menunjukan NPV sama dengan biaya investasi pengusahaan usaha tani atau dapat juga diartikan sebagai tingkat suku bunga yang menyebabkan NPV sama dengan nol. Suatu usaha tani dipandang paling baik dari sudut penanaman modal apabila IRR berada di atas suku bunga yang berlaku (IRR > i). Cara yang digunakan untuk menentukan tingkat suku bunga yang ideal ialah dengan melakukan percobaan-percobaan secara interpolasi diantara suku bunga yang masih menghasilkan NPV positif dan suku bunga yang menghasilkan NPV negatif.
ܫܴܴ ൌ݅ᇱ ܸܸܰܲܰܲᇱെ ܸܰܲᇱ ᇱᇱሺ݅ᇱᇱെ݅ᇱሻ dimana
i’ : suku bunga yang digunakan untuk percobaan pertama;
i’’ : suku bunga yang digunakan untuk percobaan kedua;
NPV’ : nilai NPV untuk percobaan pertama; NPV’’ : nilai NPV untuk percobaan kedua. 4. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitifitas menurut Gittinger (1986) merupakan kegiatan pengukuran atau perhitungan ulang nilai kemanfaatan proyek dengan
menggunakan estimasi baru dari satu atau lebih komponen biaya atau hasil, sebagai salah satu usaha untuk mengantisipasi dan menghadapi ketidaktentuan yang dapat saja terjadi pada keadaan yang telah diramalkan. Melalui analisis ini, akan dilihat kesensitifan pengusahaan hutan rakyat apabila menghadapi fenomena pasar berupa penambahan biaya produksi dan pengurangan harga output sebesar 25%. Penambahan biaya produksi dapat terjadi karena adanya kecenderungan peningkatan biaya sarana produksi, sedangkan perubahan harga output dapat terjadi akibat fluktuasi keseimbangan neraca pasar.
3.5.4 Analisis Preferensi Pengusahaan Hutan Rakyat
Prefrensi merupakan pilihan realitas atau imajiner antara alternatif pilihan berdasarkan kesenangan, kepuasan, dan dorongan-dorongan lain, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri seseorang. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang akan mempengaruhi keputusan responden untuk masuk ke dalam pengusahaan hutan rakyat.
Tabel 2. Faktor-faktor yang diasumsikan mempengaruhi keputusan petani dalam mengusahakan hutan rakyat.
No Peubah Batasan Operasional Satuan
(1) (2) (3) (4)
1 Umur
responden
Usia responden kepala keluarga, terhitung sejak dilahirkan sampai saat wawancara dilakukan.
tahun
2 Tingkat
pendidikan
Lamanya responden menempuh pendidikan formal. tahun
3 Tanggungan
keluarga
Jumlah anggota keluarga yang masih menjadi tanggungan kepala keluarga.
jiwa
4 Status sosial Kedudukan responden dalam masyarakat berdasarkan
total bobot jabatan formal dan informal yang dimiliki.
unit
5 Penguasaan
sawah
Luas lahan responden yang diusahakan sebagai sawah. ha
6 Penguasaan
lahan kering
Total luas lahan kering responden baik lahan yang dimanfaatkan maupun lahan yang tidak dimanfaatkan.
ha
7 Curahan
tenaga kerja
Jumlah tenaga kerja dalam keluarga. Ukuran disetarakan dalam hari kerja pria (HKP) dengan faktor konversi 1,00 untuk pria usia produktif (15-64 tahun), 0,7 untuk wanita usia produktif, dan 0,3 untuk anak-anak pada rentang umur 10-14 tahun (Rusli, 1995).
HKP
8 Pendapatan
non pertanian
Pendapatan responden sebulan terakhir yang berasal dari luar sektor pertanian.
(1) (2) (3) (4)
9 Sifat
kosmopolit responden
Keterbukaan responden terhadap inovasi usaha tani yang diukur dari jumlah keikutsertaan responden dalam kegiatan penyuluhan dan pertemuan kelompok tani setahun terakhir terkait pengusahaan dan pengelolaan tanaman keras
unit
10 Kebijakan Ratio antara jumlah kebijakan insentif dan kebijakan
disinsentif terkait pengusahaan hutan rakyat
berdasarkan preferensi responden.
unit
11 Motivasi
Ekonomi
Persepsi responden akan dorongan yang berkaitan erat dengan manfaat ekonomi yang dirasakan dari keberadaan hutan rakyat. Data diperoleh berdasarkan persepsi responden akan butir-butir pertanyaan yang diajukan dalam wawancara, sebagai berikut:
usaha tani hutan rakyat (HR) dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga (RT)
Skala likert 5 tingkat yang ditransformasi menjadi data laten dengan pendekatan jumlah total. (1) Sangat tidak setuju (2) Tidak setuju (3) Netral (4) Setuju (5) Sangat setuju
HR dapat digunakan sebagai modal dalam
pemenuhan kebutuhan insidentil keluarga
tanaman keras/kayu memberikan keuntungan
terbesar dibandingkan komoditi lain yang
diusahakan di atas lahan milik
usaha tani HR dapat memenuhi kebutuhan kayu
(pertukangan) RT
kayu hasil HR merupakan sumber energi (kayu
bakar) RT
12 Motivasi
Ekologi
Persepsi responden akan dorongan yang berkaitan erat dengan manfaat ekologi/lingkungan yang dirasakan dari keberadaan hutan rakyat. Butir pertanyaan yang digunakan:
HR dapat menjaga dan mempertahankan kesuburan
tanah
HR sebagai usaha untuk mencegah terjadinya erosi,
longsor dan banjir
(1) Sangat tidak setuju (2) Tidak setuju (3) Netral (4) Setuju (5) Sangat setuju
HR dapat memperbaiki dan mempertahankan
sumber-sumber air
HR dapat memperbaiki dan mempertahankan iklim
mikro
HR diusahakan agar lahan milik tidak terlantar
13 Motivasi
Sosial
Persepsi responden akan dorongan yang berkaitan erat dengan alasan dan manfaat sosial yang dirasakan dari keberadaan hutan rakyat. Butir pertanyaan yang digunakan:
HR sebagai tanda atas penguasaan lahan
mengusahakan HR karena merupakan kegiatan atau
usaha yang diwariskan oleh orang tua
mengusahakan HR karena dorongan warga sekitar
atau rekan dalam kelompok tani yang juga mengusahakan HR
HR dapat digunakan sebagai warisan dan tabungan
hari tua
HR dapat menjadi media pendidikan lingkungan
(1) Sangat tidak setuju (2) Tidak setuju (3) Netral (4) Setuju (5) Sangat setuju
Peubah berskala likert akan melalui pengujian validitas dan reliabilitas data untuk mengetahui konsistensi dan kelayakan butir pertanyaan terhadap nilai total. Kekonsistensian instrument diketahui dengan cara mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total menggunakan formula korelasi moment product pearson. Butir pertanyaan dinyatakan valid jika nilai koefisien korelasi (r-hitung) positif dan lebih besar dari nilai r-tabel. Butir pertanyaan yang tidak valid dikeluarkan dan tidak disertakan dalam uji reliabilitas. Reliabilitas instrumen diuji menggunakan pendekatan cronbach alpha. Instrumen dinyatakan reliable/handal/terpercaya jika nilai koefisien reliabilitas (r-hitung cronbach alpha) positif dan lebih besar dari nilai r-tabel. Jika hasil perhitungan menunjukan instrumen tidak reliable berarti instrumen tersebut tidak dimasukan sebagai faktor untuk menduga preferensi responden dalam mengusahakan hutan rakyat.
ݎܾ݅ ൌ
ሺேכσሺכǤሻሻିሺσכ σǤሻቆටሺேכσ మሻିሺσሻమቇכቆටሺேכσǤమሻିሺσǤሻమቇ
dimana
rbi : koefisien korelasi skor butir ke-i dengan skor total (r-hitung)
N : jumlah responden
Xij : skor butir ke-i responden ke-j
Y.j : skor total seluruh butir untuk responden ke-j ݎ ൌቂሺିଵሻ ቃ כቂͳ െቀσ ఙఙ௧మమቁቃ dengan, ߪܾଶൌσሺ݆ܺ݅ሻଶെ൬ሺσ ݆ܺ݅ሻܰ ൰ଶ ܰ ߪݐଶൌ σሺܻǤ ݆ሻଶെ൬ሺσ ܻǤ ݆ሻܰ ൰ଶ ܰ dimana
r : koefisien reliabilitas instrumen (r-hitung cronbach alpha)
k : jumlah butir pertanyaan
Óób2 : total varian butir
ót2 : total varian
N : jumlah responden
Xij : skor butir ke-i responden ke-j
Peluang seseorang dalam memilih opsi tertentu dapat dinilai menggunakan model regresi logistik. Gasperz (1990), Santosa dan Ashari (2005), serta Geaghan (2005), menyatakan bahwa model regresi logistik merupakan salah satu model dalam analisis statistik yang digunakan untuk mencari fungsi hubungan dalam sebuah populasi data, dimana peubah terikatnya merupakan peubah kualitatif yang berbentuk kategoris (dikotomis/nominal/ordinal) dengan peubah bebas yang terdistribusi normal maupun tidak terdistribusi normal, yang dapat berupa peubah kontinu atau peubah kategoris atau kombinasi antara keduanya. Peubah terikat atau respon dalam regresi logistik merupakan kombinasi linier dari peubah bebas. Nilai peubah terikat selanjutnya akan ditransformasikan menjadi probabilitas dengan fungsi logit sehingga dapat digunakan untuk menghasilkan nilai rasio peluang diterimanya suatu prediksi.
Geaghan (2005), menyatakan bahwa model logistik merupakan model yang didasarkan pada fungsi peluang logistik komulatif yang dapat digunakan untuk mengetahui kecenderungan pengaruh faktor bebas terhadap peluang munculnya respon yang bersifat dummy, yang diformulasikan sebagai berikut:
ൌͳ ݁ݔͳ ିൌͳ ݁ݔିሺఈାఉଵଵǥାఉሻͳ
Fungsi logistik kemudian diturunkan menjadi fungsi linear sehingga didapatkan formula untuk menduga peluang munculnya respon tertentu sebagai berikut:
൫ͳ ݁ݔି൯ ൌ ͳ݁ݔିൌଵି ቀଵି ቁ ൌ ݁ݔሺఈାఉଵଵǥାఉሻ
dimana:
(p/1-p) = peluang responden untuk masuk ke dalam pengusahaan hutan rakyat.
exp = bilangan natural (2,71828).
Zi = fungsi linear preferensi responden terhadap pengusahaan hutan rakyat
â0 = intersep
âi = koefisien regresi faktor ke-i Xi = faktor ke-i (i = 1, 2, …, i)
Hasil analisis akan diinterpretasikan dengan pendekatan nilai peluang atau probabilitas. Santoso (2000) mengungkapkan bahwa pengujian dan interpretasi model regresi logistik dapat terbagi ke dalam beberapa proses, yaitu: menilai kelayakan model, menilai kontribusi peubah bebas dalam model, menguji signifikasi pengaruh peubah bebas, dan menentukan nilai perbandingan peluang respon.
3.5.5 Analisis Ketersediaan Lahan
Analisis ketersediaan lahan adalah analisis yang difokuskan untuk mengetahui luasan dan sebaran lahan yang tersedia dan sesuai untuk pengembangan hutan rakyat berdasarkan preferensi responden sebagai subjek pengelola. Analisis ini menggunakan 6 kriteria dasar sebagai kriteria lahan yang diinginkan oleh responden sebagai lokasi membudidayakan tanaman keras berkayu dan mengusahakan hutan rakyat, yaitu: (1) status lahan, (2) jenis lahan, (3) kelerengan lahan, (4) jarak lahan dari pemukiman, (5) jarak lahan dari jalan kabupaten, dan (6) jarak lahan dari sumber air atau sungai. Tingkat kepentingan atau bobot kriteria ditentukan oleh responden menggunakan metode ranking.
Selanjutnya dilakukan analisis resiko terhadap lahan-lahan yang tergolong ke dalam lahan tersedia dan sesuai untuk pengembangan hutan rakyat, dengan faktor pembatas berupa rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang yang terdapat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bima Tahun 2006-2025. Analisis resiko dilakukan untuk mendapatkan sebaran lahan-lahan prioritas untuk pembangunan dan pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Bima.
Tabel 3. Kriteria dasar yang digunakan dalam analisis ketersediaan lahan.
Kriteria Batasan
Operasional Indikator Keterangan
(1) (2) (3) (4)
Status lahan Status kepemilikan
lahan
- Lahan milik / Non Kawasan Hutan - Lahan negara / Kawasan Hutan 1. Bobot kriteria ditentukan dengan menggunakan metode ranking. 2. Rating indikator ditentukan berdasarkan prosentase terbesar (majority) dari tiap skor indikator.
3. Lahan tersedia yang dapat diprioritaskan sebagai lahan pengembangan hutan rakyat adalah area-area dengan nilai skor di atas nilai skor minimum yang ditentukan oleh responden
Jenis lahan Jenis lahan
berdasarkan tipe penutupan lahannya.
- Pertanian lahan basah, - Pertanian lahan kering, - Padang rumput/savana, - Tanah terbuka dan
semak-belukar Kelerengan lahan Kelas kelerengan lahan - Datar ( < 8%) - Landai (8 – 15%) - Agak curam (16– 25 %) - Curam (26 – 40%) - Sangat curam (> 40%) Jarak pemukiman Jarak maksimum lahan dari pemukiman - < 1 km - 1 – 10 km - > 10 km
Sumber air Jarak maksimum
lahan dari sungai
- < 200 m - 200 – 1000 m - > 1000 m
Aksesibilitas Jarak maksimum
lahan dari jalan Kabupaten.
- < 3 km - 3 – 6 km - > 6 km
Keterangan: Penetapan skor minimum Operasi spasial
Gambar 3. Diagram alir analisis ketersedian lahan pengembangan hutan rakyat berdasarkan preferensi responden.
Preferensi Responden Kriteria Lahan Indikator Pembobotan Nilai Minimum SKOR MINIMUM DATA INPUT Peta kawasan hutan Skoring status lahan Peta tutupan lahan Query jenis lahan Skoring jenis lahan Query pemukiman Peta tematik pemukiman Peta kelerengan lahan Skoring kelerengan lahan Peta pemukiman Buffering pemukiman Skoring jarak lahan dari pemukiman Peta jaringan jalan kabupaten Buffering jaringan jalan Skoring jarak lahan dari jalan kabupaten Peta jaringan sungai Buffering jaringan sungai Skoring jarak lahan dari sungai SKOR TOTAL Query lahan sesuai hutan rakyat Peta ketersediaan lahan untuk pengembangan hutan rakyat Analisis resiko Peta lahan prioritas untuk pengembangan hutan rakyat
Secara ringkas, rangkaian analisis yang dilakukan dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk diagram alir berikut:
Gambar 4. Diagram alir rangkaian analisis dalam penelitian.
Data Primer Data Skunder
Analisis Karakteristik dan Praktek Pengelolaan Hutan Rakyat Analisis Kelayakan Usaha tani Hutan Rakyat Analisis Preferensi Pengusahaan Hutan Rakyat Analisis Ketersediaan dan Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan
Hutan Rakyat
Model Pengelolaan Hutan Rakyat yang Sebaiknya Dikembangkan di