3. METODE PENELITIAN 1Bahan dan Alat 1Bahan dan Alat
4.2 Topografi, Tanah, dan Iklim .1Topografi .1Topografi
Wilayah Kabupaten Bima dikelilingi oleh beberapa pengunungan yaitu Gunung Tambora di Kecamatan Tambora, Gunung Sangiang di Kecamatan Wera, Gunung Maria di Kecamatan Wawo dan Gunung Soromandi di Kecamatan Donggo. Berdasarkan ketinggian dan kelerengan lahan, wilayah Kabupaten Bima dibedakan ke dalam 3 satuan morfologi utama yaitu morfologi pegunungan, morfologi perbukitan, dan morfologi dataran. Sekitar 32% dari wilayah Kabupaten Bima tergolong ke dalam morfologi perbukitan dan pegunungan. Satuan morfologi ini menyebar pada bagian tengah wilayah, membentang dari timur ke barat yang dicirikan oleh lahan berkelerengan lebih besar dari 40% dan ketinggian tempat lebih besar dari 500 mdpl. Satuan morfologi perbukitan dijumpai di wilayah bagian selatan Teluk Waworada yang dicirikan oleh dominasi lahan berkelerengan agak curam sampai curam. Satuan morfologi dataran menempati wilayah sekitar pantai Teluk Bima, dengan ciri ketinggian tempat antara 0-100 mdpl dengan kelerengan lahan datar sampai landai, dan menempati kurang lebih 22% dari luas wilayah Kabupaten Bima.
4.2.2 Tanah
Berdasarkan Peta Tanah Tinjau Pulau Sumbawa, kelompok jenis tanah yang dijumpai di Kabupaten Bima terdiri dari kompleks Aluvial, Regosol, Litosol dan Mediteran. Masing-masing jenis tanah tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Bima, dengan kompleks Mediteran sebagai jenis tanah dominan mencapai luas 154 111 ha. Berdasarkan kedalaman efektif tanah, lebih dari 50% dari total wilayah Kabupaten Bima atau sebesar 225 920 ha digolongkan ke dalam kelompok solum atau kedalaman tanah antara 60-90 cm. Tingkat erosi yang tenjadi pada wilayah Kabupaten Bima relatif tinggi. Sebanyak 37.8% dari total luas Kabupaten Bima berada dalam kelas tingkat bahaya erosi berat dan 28.4% lainnya berada pada kelas tingkat bahaya erosi sangat berat.
4.2.3 Iklim dan Hidrologi
Kabupaten Bima termasuk wilayah beriklim tropis dengan interval temperatur normal rata-rata antara 23.5 °C sampai 32.7 °C dan kelembaban
rata-rata 78%. Kabupaten Bima dapat dikategorikan sebagai daerah agak kering dengan nilai Q 140%. Rata-rata curah hujan selama tahun 2008 sebesar 77.6 mm/tahun, dengan curah hujan tertinggi tercatat pada bulan Maret mencapai 320 mm dengan 25 hari hujan, dan curah hujan terendah pada bulan Juli dan Agustus dengan curah hujan sebesar 0 mm atau sama sekali tidak terjadi hujan.
Kabupaten Bima pada umumnya memiliki drainase yang tergenang dan tidak tergenang. Pengaruh pasang surut hanya seluas 1 085 ha dengan lokasi terbesar di wilayah pesisir pantai, sedangkan lokasi yang tergenang terus menerus sepanjang tahun teridentifikasi pada 2 lokasi yaitu wilayah Dam Roka dan Dam Sumi. Terdapat 20 sungai besar di wilayah Kabupaten Bima, dimana Kecamatan Donggo dan Palibelo sebagai kecamatan yang paling banyak dilintasi oleh aliran sungai tersebut. Kecamatan Donggo dilintasi oleh 4 aliran sungai besar yaitu Sungai Padende, Sungai Mbawa, Sungai Kala, dan Sungai Manggi, sedangkan kecamatan Palibelo dilintasi oleh 3 aliran sungai besar yaitu Sungai Kawuwu Ncera, Sungai Kuta, dan Sungai Ntonggu.
4.3 Tutupan Lahan
Tutupan lahan di Kabupaten Bima didominasi oleh tutupan hutan lahan kering primer dengan luas 141 566 ha atau sekitar 33% dari total luas wilayah Kabupaten Bima. Formasi semak belukar dan padang rumput atau savana juga banyak ditemukan di wilayah ini, dengan luasan masing-masing mencapai 32% dan 12% dari total luas wilayah Kabupaten Bima. Faktor pembatas kondisi geografis dan fisik alami menyebabkan hanya sekitar 1 152 ha atau kurang dari 1% lahan yang teridentifikasi sebagai sawah. Dengan mengasumsikan areal-areal pertanian lahan kering, tanah terbuka, semak belukar, dan savana atau padang rumput cocok sebagai lokasi untuk membudidayakan tanaman keras berkayu, maka didapatkan seluas 226 900 ha lahan yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai areal pengembangan hutan rakyat.
Tabel 5. Formasi tutupan lahan Kabupaten Bima pada tahun 2006
Tutupan lahan Luas (ha) Persentase (%)
Hutan Lahan Kering Primer 141 567 33.36
Hutan Lahan Kering Sekunder 48 753 11.14
Hutan Mangrove Primer 136 0.03
Hutan Mangrove Sekunder 339 0.08
Pemukiman dan Lahan Terbangun 4 088 0.93
Pertanian Lahan Kering 2 560 0.59
Pertanian Lahan Kering Campur Semak 16 535 3.78
Rawa 2 429 0.56 Savana 53 959 12.33 Sawah 1 153 0.26 Semak Belukar 143 827 32.88 Tambak 629 0.14 Tanah Terbuka 21 217 4.85 Tubuh Air 274 0.06 Total 437 465 100.00
Sumber: Olahan Data GIS.
4.4 Kependudukan
Sampai dengan tahun 2009, Kabupaten Bima memiliki jumlah penduduk sebanyak 416 446 jiwa, yang terdiri dari 205 882 jiwa penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 210 564 jiwa penduduk berjenis kelamin perempuan. Kecamatan Sape merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar yaitu 49 899 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terkecil tercatat pada Kecamatan Wawo sebesar 3 159 jiwa. Rata-rata kepadatan penduduk di Kabupaten Bima sebesar 98 jiwa/km2, dengan Kecamatan Bolo sebagai kecamatan terpadat (409 jiwa/km2), dan Kecamatan Tambora sebagai kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah (8 jiwa/km2).
Berdasarkan struktur angkatan kerja, penduduk Kabupaten Bima didominasi oleh penduduk usia produktif (15-64 tahun) sebesar 61.1% dari total jumlah penduduk, diikuti oleh penduduk pada usia 0-14 tahun sebesar 34.4%, dan penduduk di atas usia produktif sebesar 4.5%. Angka Beban Ketergantungan (ABK) di Kabupaten Bima tercatat sebesar 63.81 yang berarti setiap 100 jiwa penduduk usia produktif harus menanggung 64 jiwa penduduk yang tidak produktif. Semakin kecil angka beban ketergantungan akan menunjukan struktur angkatan kerja yang lebih baik. Tercatat pada tahun 2009, jumlah angkatan kerja yang yang dihitung pada usia produktif adalah sebesar 254 225 jiwa yang terdiri dari penduduk yang bekerja sebesar 167 070 jiwa, penduduk yang sedang mencari pekerjaan sebesar 8 438 jiwa, penduduk yang sedang menyelesaikan pendidikan sebesar 24 396 jiwa, penduduk yang hanya mengurus rumah tangga sebesar 43 817 jiwa, serta penduduk lainnya sebesar 10 503 jiwa. Industri pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan merupakan industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Kabupaten Bima yaitu sebesar 115 533 jiwa, dan diikuti oleh industri sektor perdagangan dengan daya serap sebesar 17 900 jiwa.
4.5 Perekonomian
Struktur ekonomi yang terbentuk di suatu daerah ditentukan oleh peranan masing-masing sektor dalam menciptakan nilai tambah. Struktur ekonomi tersebut menggambarkan potensi dan ketergantungan suatu daerah terhadap kemampuan berproduksi dari masing-masing sektor. Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumberdaya alam dan faktor-faktor produksi lainnya dalam menciptakan nilai tambah. Data PDRB Kabupaten Bima atas dasar harga konstan untuk tahun 2005-2007 menunjukan bahwa perolehan PDRB di Kabupaten Bima didominasi oleh sektor pertanian diikuti oleh sektor perdagangan dan sektor jasa, dengan sektor listrik, gas dan air bersih menempati peringkat terakhir.
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator keberhasilan
pembangunan suatu daerah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2006, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bima tercatat sebesar 4.26% dan meningkat pada tahun 2007 menjadi sebesar 4.56%. Pada tahun 2006, sektor listrik, gas dan air bersih menempati sektor dengan laju pertumbuhan terbesar yaitu 7.49%, dan sektor pertanian sebagai sektor dengan kenaikan laju pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 4.38% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 0.14%. Pada tahun 2007, tercatat dua sektor dengan laju pertumbuhan tertinggi yaitu sektor perdagangan dan sektor pengangkutan dan komunikasi dengan laju sebesar 7.36%, dan 7.33%.
Tabel 6. PDRB Kabupaten Bima atas dasar harga konstan tahun 2000, menurut lapangan usaha tahun 2005-2007 (dalam juta Rupiah)
Lapangan usaha 2005 2006 2007 PDRB % PDRB % PDRB % 1. Pertanian 632 520 52.26 660 251 52.32 679 944 51.53 2. Pertambangan dan Penggalian 37 027 3.06 37 823 3.00 39 552 3.00 3. Industri Pengolahan 34 505 2.85 35 260 2.79 36 565 2.77 4. Listrik, Gas,
dan Air Bersih 2 396 0.20 2 575 0.20 2 656 0.20
5. Bangunan 75 564 6.24 77 106 6.11 82 546 6.26 6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 180 765 14.94 190 633 15.11 204 657 15.51 7. Pengangkutan dan Komunikasi 84 238 6.96 88 758 7.03 95 264 7.22 8. Keuangan dan Jasa Perusahaan 32 562 2.69 33 771 2.68 35 157 2.66 9. Jasa-jasa 130 755 10.80 135 705 10.75 143 121 10.85
Tabel 7. Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Bima atas dasar harga konstan tahun 2000, menurut lapangan usaha tahun 2005-2007
Lapangan usaha Laju pertumbuhan PDRB (%)
2005 2006 2007
1. Pertanian 0.14 4.38 2.98
2. Pertambangan dan Penggalian 2.94 2.15 4.57
3. Industri Pengolahan 1.22 2.19 3.70
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 4.13 7.49 3.14
5. Bangunan 1.64 2.04 7.06
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 3.23 5.46 7.36
7. Pengangkutan dan Komunikasi 5.00 5.37 7.33
8. Keuangan dan Jasa Perusahaan 2.56 3.71 4.10
9. Jasa-jasa 1.73 3.79 5.46
PDRB 1.37 4.26 4.56
Sumber: BPS Kabupaten Bima, 2010. 4.6 Sektor Kehutanan
Kawasan hutan negara mendominasi penggunaan lahan di Kabupaten Bima dengan luas definitif mencapai 57% dari total luas daratan atau sebesar 250 369 ha. Kawasan hutan negara di Kabupaten Bima terbagi ke dalam kelas Hutan Lindung seluas 83 189 ha, Hutan Konservasi seluas 55 600 ha, Hutan Produksi Terbatas seluas 66 866 ha, Hutan Produksi Tetap seluas 44 740 ha, dan Hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) seluas 6 800 ha.
Tabel 8. Luas kawasan hutan Kabupaten Bima sampai dengan tahun 2007
Kawasan Luas (ha) Luas definitif
(ha)
Rencana luas kawasan hutan/TGHK (ha)
Hutan Lindung 83 189
250 369 257 195
Hutan Konservasi 55 600
Hutan Produksi Terbatas 66 866
Hutan Produksi Tetap 44 740
Hutan Produksi yang dapat di
konversi (HPK) 6 800
Sumber: Dishut NTB, 2008.
Beberapa area pada kawasan hutan di Kabupaten Bima tergolong ke dalam kelas lahan kritis, baik akibat faktor alami maupun akibat aktivitas manusia. Sebesar 59 702 ha atau sekitar kurang lebih 24% dari luas hutan definitif di Kabupaten Bima tergolong ke dalam lahan kritis.
Tabel 9. Luas lahan kritis Kabupaten Bima sampai dengan tahun 2007
Kekritisan lahan Dalam kawasan
(ha)
Luar kawasan (ha)
Dalam areal
budidaya (ha) Total (ha)
Kritis 59 702 42 358 30 189 132 248
Potensial Kritis 70 899 47 843 21 745 140 487
Tidak Kritis 119 768 27 134 17 828 166 205
Jumlah 250 369 117 335 69 762 437 465
Sumber: Dishut NTB, 2008.
Berdasarkan sumber penerimaan pada tahun 2007, sektor kehutanan di Kabupaten Bima memberikan kontribusi pendapatan negara sebesar Rp2 960 160 100 yang bersumber dari Provisi Sumberdaya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR). Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan jumlah penerimaan dari sumber yang sama pada tahun 2006, yaitu sebesar Rp2 930 257 200.
Gambar 6. Peta kawasan hutan Kabupaten Bima. 4.7 Infrastruktur Transportasi dan Komunikasi
Keberadaan sarana transportasi dan komunikasi memiliki peranan penting dalam mendukung perkembangan usaha dan roda perekonomian di suatu wilayah. Transportasi dan komunikasi yang baik akan memperlancar arus keluar masuk
barang dari suatu wilayah dan secara langsung akan mempengaruhi perluasan akses pasar oleh pelaku usaha.
Dalam jaringan transportasi nasional, Kabupaten Bima memegang peranan cukup penting yaitu sebagai salah satu simpul jaringan lintas selatan dalam sistem transportasi darat (Jakarta-Bali-Bima-Kupang-Dili-Tual). Total panjang jalan di Kabupaten Bima pada tahun 2007 adalah sebesar 832 km, dengan panjang jalan teraspal sebesar 312 km. Walau telah didukung oleh panjang jalan dan kondisi jalan yang terus meningkat, akan tetapi masyarakat terutama penduduk yang bertempat tinggal dan berusaha pada daerah yang jauh dari pusat ekonomi masih merasakan hambatan transportasi. Hal ini disebabkan karena terbatasnya sarana dan trayek angkutan umum maupun angkutan barang untuk daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan. Masalah tersebut terutama dirasakan oleh penduduk di Kecamatan Langgudu, Sanggar, dan Tambora.
Kabupaten Bima memiliki dua pelabuhan laut sebagai pelabuhan pengumpan lokal dan regional yaitu Pelabuhan Sape di Kecamatan Sape yang dikelola oleh PT. ASDP yang melayani penyeberangan dari Sape menuju Pulau Komodo, serta Pelabuhan Waworada di Kecamatan Langgudu yang dikelola oleh pemerintah daerah Kabupaten Bima yang melayani penyeberangan lokal di Kecamatan Langgudu. Pergerakan ekonomi di Kabupaten Bima juga didukung oleh ketersediaan infrastruktur Pelabuhan Udara M. Salahuddin. Pelabuhan udara yang terletak kurang lebih 15 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Bima ini melayani rute penerbangan Denpasar-Bima dan Mataram-Bima.
Selain infrastruktur transportasi darat, laut, dan udara, infrastruktur komunikasi juga memliki peran yang tidak kalah penting dalam mendukung pengembangan wilayah. Pelayanan telekomunikasi di Kabupaten Bima dikelola oleh Kantor Pelayanan PT.Telkom Tbk. Cabang Bima, serta didukung pula oleh beberapa perusahaan penyedia layanan telepon seluler yang telah menjangkau hampir seluruh wilayah Kabupaten Bima.
5. HASIL DAN PEMBAHASAN