5. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Karakteristik Rumah Tangga Responden 1Karakteristik Rumah Tangga Responden
5.5 Analisis Preferensi Pengusahaan Hutan Rakyat
Preferensi merupakan pilihan realitas atau imajiner antara alternatif-alternatif pilihan berdasarkan kesenangan, kepuasan, dan dorongan-dorongan lain, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri seseorang. Dalam hubungannya dengan pengusahaan hutan rakyat, preferensi petani untuk mengusahakan atau tidak mengusahakan hutan rakyat akan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti yang diungkapkan oleh Predo (2003) yang menyatakan bahwa keputusan petani dalam menanam pohon dilahannya dipengaruhi oleh faktor harga kayu, karakteristik sosial-ekonomi, faktor tenurial dan luasan lahan, serta tingkat pengetahuan tentang sistem pemanfaatan lahan berbasis kayu.
Analisis preferensi pengusahaan hutan rakyat ini merupakan analisis statistik menggunakan regresi logistik. Populasi contoh diambil dari 6 desa lokasi penelitian dengan jumlah sebanyak 92 responden, yang terdiri dari 46 responden petani hutan rakyat dan 46 responden petani non hutan rakyat. Dalam analisis ini, digunakan 13 faktor yang diasumsikan mempengaruhi preferensi dan keputusan responden untuk mengusahakan atau tidak mengusahakan hutan rakyat di atas lahan miliknya, yaitu: umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, status sosial, penguasaan sawah, penguasaan lahan kering, curahan tenaga kerja keluarga,
pendapatan di luar sektor pertanian, kekosmopolitan, kebijakan, motivasi ekonomi, motivasi ekologi, dan motivasi sosial.
Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 13 faktor yang digunakan, hanya 5 faktor yang secara signifikan pada taraf nyata 5% dan 1 faktor secara signifikan pada taraf nyata 10%, mempengaruhi preferensi atau keputusan responden dalam mengusahakan hutan rakyat di lahan miliknya. Faktor-faktor tersebut adalah umur, tingkat pendidikan, penguasaan lahan kering, kebijakan, motivasi ekologi dan motivasi sosial.
Tabel 32. Hasil analisis preferensi menggunakan regresi logistik.
Peubah B S.E. Sig. Exp(B)
Konstanta -93.4 41.6 0.025 0.0
Umur 0.2 0.1 0.049 *) 1.2
Tingkat Pendidikan -0.8 0.4 0.057 **) 0.4
Penguasaan Lahan Kering 8.2 3.0 0.006 *) 3 705.7
Kebijakan 4.7 2.2 0.032 *) 113.6
Motivasi Ekologi 1.4 0.7 0.044 *) 4.1
Motivasi Sosial 2.7 1.3 0.032 *) 15.4
*)
Signifikan pada taraf nyata 5%; **) Signifikan pada taraf nyata 10%.
Sumber: Data Primer, 2010.
Model regresi logistik yang terbentuk adalah sebagai berikut:
Ln (p/1-p) = -93.4 + 0.2 Umur – 0.8 Pendidikan + 8.2 Penguasaan Lahan Kering + 4.7 Kebijakan + 1.4 Motivasi Ekologi + 2.7 Motivasi Sosial Dari model di atas dapat diterjemahkan bahwa:
1. Dengan menganggap faktor pendidikan, penguasaan lahan kering, kebijakan, motivasi ekologi, dan motivasi sosial tetap atau konstan, maka setiap peningkatan umur atau usia responden akan menyebabkan peningkatan peluang responden untuk mengusahakan hutan rakyat dengan faktor exp(0.2) atau sebesar 1.2 kali.
2. Dengan menganggap faktor umur, penguasaan lahan kering, kebijakan, motivasi ekologi, dan motivasi sosial tetap atau konstan, maka setiap penurunan jumlah waktu atau lamanya responden mengenyam pendidikan formal akan menyebabkan peningkatan peluang responden untuk mengusahakan hutan rakyat dengan faktor exp(-0.8) atau sebesar 0.4 kali.
3. Dengan menganggap faktor umur, pendidikan, kebijakan, motivasi ekologi, dan motivasi sosial tetap atau konstan, maka setiap peningkatan luas penguasaan lahan kering oleh responden akan menyebabkan peningkatan peluang responden untuk mengusahakan hutan rakyat dengan faktor exp(8.2) atau sebesar 3 705.7 kali.
4. Dengan menganggap faktor umur, pendidikan, penguasaan lahan kering, motivasi ekologi, dan motivasi sosial tetap atau konstan, maka setiap peningkatan nilai ratio antara kebijakan insentif dan disinsentif yang berkaitan dengan pengusahaan hutan rakyat akan menyebabkan peningkatan peluang responden untuk mengusahakan hutan rakyat dengan faktor exp(4.7) atau sebesar 113.6 kali.
5. Dengan menganggap faktor umur, pendidikan, penguasaan lahan kering, kebijakan, dan motivasi sosial tetap atau konstan, maka setiap peningkatan nilai motivasi ekologi responden akan menyebabkan peningkatan peluang responden untuk mengusahakan hutan rakyat dengan faktor exp(1.4) atau sebesar 4.1 kali.
6. Dengan menganggap faktor umur, pendidikan, penguasaan lahan kering, kebijakan, dan motivasi ekologi tetap atau konstan, maka setiap peningkatan nilai motivasi sosial responden akan menyebabkan peningkatan peluang responden untuk mengusahakan hutan rakyat dengan faktor exp(2.7) atau sebesar 15.4 kali.
5.5.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Preferensi Responden
Umur, tingkat pendidikan, penguasaan lahan kering, kebijakan, motivasi ekologi dan motivasi sosial merupakan faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi keputusan atau preferensi responden dalam mengusahakan atau tidak mengusahakan hutan rakyat di atas lahan miliknya. Faktor-faktor tersebut harus dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan petani target oleh pemerintah daerah atau pihak terkait lainnya, ketika ada penginisiasian pembangunan dan pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Bima.
a. Umur Responden
Petani-petani berusia tua atau pada kelas umur di atas usia produktif memiliki kecenderungan untuk mengusahakan lahan miliknya sebagai media membudidayakan tanaman keras berkayu dibandingkan dengan petani-petani berusia lebih muda yang lebih memilih mengusahakan lahan miliknya secara intensif sebagai sawah atau membudidayakan tanaman pangan lainnya. Dari wawancara, seperti yang tersaji pada sub bab 5.1.1, diketahui bahwa alasan keterbatasan fisik, harta waris, dan alasan konservasi lahan merupakan alasan-alasan yang menjadi latar belakang mengapa di lokasi penelitian petani-petani berusia tua lebih memiliki kecenderungan untuk masuk ke dalam pengusahaan hutan rakyat di bandingkan dengan petani-petani berusia lebih muda.
b. Tingkat Pendidikan
Pendidikan umumnya akan mempengaruhi cara dan pola pikir seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka wawasan berpikir cenderung akan semakin berkembang, semakin efisien dalam bekerja, dan semakin logis dalam mengambil keputusan, termasuk ketika berhadapan dengan keputusan untuk menentukan cara-cara berusaha tani yang lebih produktif.
Secara logis ketika berpikir jangka panjang, maka petani-petani dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan memiliki kecenderungan untuk masuk ke dalam pengusahaan hutan rakyat, atau dengan kata lain terdapat kecenderungan hubungan berbanding lurus antara tingkat pendidikan petani dengan keputusan untuk masuk ke dalam pengusahaan hutan rakyat. Hal tersebut disebabkan karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin tinggi pula pengetahuan dan kesadaran petani akan manfaat dan keuntungan ekonomi yang bisa didapatkan di akhir daur produksi serta tingginya manfaat lingkungan yang bisa diperoleh selama membudidayakan tanaman keras berkayu. Akan tetapi, hasil analisis preferensi menunjukkan hal sebaliknya. Tingkat pendidikan ternyata memiliki kecenderungan hubungan berbanding terbalik dengan preferensi atau keputusan responden dalam mengusahakan hutan rakyat, dimana semakin singkat waktu responden mengenyam pendidikan formal, maka semakin besar peluang diambilnya keputusan untuk mengusahakan hutan rakyat di atas lahan miliknya.
Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa keputusan petani di lokasi penelitian untuk mengusahakan atau tidak mengusahakan hutan rakyat lebih disebabkan oleh pertimbangan jangka pendek. Petani berpendidikan tinggi lebih berpikir untuk mengusahakan lahan miliknya dengan sistem yang dapat memberikan keuntungan yang lebih cepat dibandingkan dengan sekedar memanfaatkan lahannya sebagai tempat membudidayakan tanaman-tanaman penghasil kayu dengan daur produksi yang panjang. Tingginya tingkat pendidikan juga dapat meningkatkan kecenderungan seorang petani untuk keluar dari kerja sektor pertanian, karena dengan pendidikan yang lebih tinggi biasanya akan semakin terbuka dan tersedia alternatif pekerjaan di berbagai sektor lain.
c. Penguasaan Lahan Kering
Salah satu karakteristik hutan rakyat di lokasi penelitian adalah lokasi pengusahaannya yang hampir seluruhnya menyebar pada lahan-lahan kering, sehingga terbentuk kecenderungan jika semakin luas penguasaan lahan kering responden maka hampir dipastikan responden tersebut mengusahakan hutan rakyat. Kecenderungan tersebut turut dijustifikasi oleh hasil analisis preferensi yang menunjukkan bahwa faktor penguasaan lahan kering memiliki pengaruh terbesar dalam pengambilan keputusan untuk mengusahakan atau tidak mengusahakan hutan rakyat. Dengan mengasumsikan kelima faktor lainnya (umur, tingkat pendidikan, kebijakan, motivasi ekologi, dan motivasi sosial) konstan atau tetap, maka peluang responden untuk mengusahan hutan rakyat akan meningkat sebanyak 3 705.7 kali seiring dengan semakin luas lahan kering yang dikuasai oleh responden. Hal ini bisa pula didekati dari perbedaan yang mencolok antara rata-rata luas lahan kering yang dikuasai oleh kelompok responden petani hutan rakyat yaitu sebesar 0.95 ha/responden dan hanya sebesar 0.08 ha/responden untuk kelompok petani non hutan rakyat.
d. Kebijakan
Faktor kebijakan baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah secara langsung akan mempengaruhi motivasi petani dalam mengusahakan hutan rakyat. Semakin banyak diproduksi kebijakan-kebijakan yang memotivasi petani untuk membudidayakan tanaman keras seperti bentuk-bentuk subsidi dan kepastian
tenurial akan meningkatkan kecenderungan petani untuk mengusahakan hutan rakyat, dan begitu pula sebaliknya. Hal tersebut dapat terlihat dari rata-rata nilai ratio antara kebijakan insentif dan disinsentif terkait pengelolaan hutan rakyat, dimana untuk kelompok petani hutan rakyat menghasilkan rata-rata nilai ratio sebesar 2.27, dan hanya menghasilkan rata-rata nilai ratio sebesar 0.53 untuk kelompok petani non hutan rakyat. Temuan tersebut dapat dijustifikasi pula oleh hasil analisis preferensi yang menunjukkan bahwa jika menganggap faktor-faktor umur, pendidikan, penguasaan lahan kering, motivasi ekologi, dan motivasi sosial tetap atau konstan, maka setiap peningkatan nilai ratio antara kebijakan insentif dan disinsentif yang berkaitan dengan pengusahaan hutan rakyat akan menyebabkan peningkatan peluang responden untuk mengusahakan hutan rakyat sebesar 113.6 kali.
Faktor kebijakan dalam analisi ini adalah ratio antara jumlah kebijakan yang digolongkan oleh responden sebagai kebijakan insentif dan kebijakan disinsentif terkait dengan pengelolaan hutan rakyat. Batasan kebijakan insentif yang digunakan adalah peraturan dan kebijakan yang baik secara langsung maupun tidak langsung mampu memberikan dorongan atau stimulus kepada responden untuk mengusahakan hutan rakyat. Sebaliknya, kebijakan disinsentif didefiniskan sebagai peraturan dan kebijakan-kebijakan yang bersifat menghambat motivasi responden untuk mengusahakan hutan rakyat. Untuk mendapatkan nilai ratio kebijakan insentif dan disinsentif, responden dihadapkan pada pilihan untuk menggolongkan 9 jenis peraturan dan kebijakan terkait pengelolaan hutan rakyat ke dalam kelompok kebijakan insentif dan disinsentif. Peraturan dan kebijakan tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Pemberian kredit usaha hutan rakyat (KUHR) berdasarkan SK. Menhut Nomor. 20 Tahun 1997 tentang pendanaan dan usaha hutan rakyat.
(2) Penetapan limit harga untuk kayu bulat jenis jati berdasarkan SK. Bupati Bima Nomor. 429 Tahun 2001 tentang penetapan harga dasar sebagai dasar pungutan pajak pengeluaran atas hasil bumi, laut, hutan, hewan, perindustrian, dan hasil alam lainnya.
(3) Subsidi bibit Jati.
(5) Retribusi ijin usaha hutan rakyat berdasarkan Perda Kabupaten Bima Nomor 19. Tahun 2001 tentang retribusi ijin usaha aneka hasil hutan.
(6) Retribusi tebang untuk jenis jati berdasarkan Perda Kabupaten Bima Nomor 20. Tahun 2001 tentang retribusi pelayanan administrasi pengelolaan kayu milik dan non kayu.
(7) Retribusi angkutan kayu milik berdasarkan Perda Kabupaten Bima Nomor 20. Tahun 2001 tentang retribusi pelayanan administrasi pengelolaan kayu milik dan non kayu.
(8) Retribusi leges berdasarkan Perda Kabupaten Bima Nomor 25. Tahun 2001
tentang retribusi leges.
(9) Ijin kepemilikan chainsaw berdasarkan Perda Kabupaten Bima Nomor 21. Tahun 2001 tentang penjualan, pemilikan, dan penggunaan geregaji mesin. Hasil penggolongan oleh responden menunjukkan bahwa dari 9 peraturan dan kebijakan di atas, empat kebijakan (kebijakan 1, 2, 3, dan 4) oleh mayoritas responden digolongkan sebagai kebijakan insentif, sementara lima kebijakan lainnya (kebijakan 5, 6, 7, 8, dan 9) digolongkan sebagai kebijakan disinsentif. Kebijakan pemberian kredit usaha hutan rakyat dan kebijakan penetapan limit harga kayu bulat jati oleh sebagian besar responden petani hutan rakyat (89%) digolongkan sebagai kebijakan insentif. Sebaliknya, dua kebijakan tersebut digolongkan sebagai kebijakan insentif oleh hanya 60% dan 20% kelompok petani non hutan rakyat. Hasil lengkap penggolongan kebijakan dapat dilihat pada Tabel 33. di bawah ini:
Tabel 33. Jumlah dan frekwensi penggolongan kebijakan insentif dan disinsentif
Tipe Responden
Jumlah dan frekwensi penggolongan kebijakan
Insentif Disinsentif (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Petani HR 41 (89%) 41 (89%) 32 (70%) 18 (39%) 46 (1000%) 10 (22%) 6 (13%) 3 (7%) 2 (4%) Petani non HR 28 (60%) 9 (20%) 19 (41%) 2 (4%) 46 (1000%) 41 (89%) 37 (80%) 28 (61%) 2 (4%) Sumber: Data Primer, 2010.
e. Motivasi Ekologi
Agussabti (1997) menyatakan bahwa motivasi dapat menjelaskan alasan seseorang melakukan suatu tindakan, karena motivasi merupakan daya pendorong yang menyebabkan seseorang berbuat maupun tidak berbuat sesuatu guna mencapai tujuan yang diinginkannya. Motivasi ekologi dalam analisis ini merupakan persepsi responden akan dorongan yang berkaitan erat dengan manfaat atau jasa lingkungan yang dirasakan dari keberadaan hutan rakyat. Persepsi tersebut dinilai dari 5 butir pertanyaan berkaitan dengan manfaat lingkungan dari keberadaan hutan rakyat menggunakan skala likert 5 tingkat yang ditransformasi menjadi data laten berdasarkan pendekatan jumlah total. Informasi yang menggambarkan nilai motivasi ekologi responden yang digunakan dalam analisis preferensi ini telah melalui pengujian validitas dan reliabilitas data.
Semakin tinggi manfaat lingkungan akan keberadaan pohon dan tanaman keras berkayu yang dirasakan oleh seseorang maka dapat menyebabkan semakin tinggi kecenderungan sesorang tersebut untuk menanam pohon dan membudidayakan tanaman keras berkayu. Hasil analisis preferensi menunjukkan bahwa dengan menganggap faktor lain (umur, tingkat pendidikan, penguasaan lahan kering, kebijakan, dan motivasi sosial) konstan, maka peluang responden untuk mengusahakan hutan rakyat akan meningkat sebesar 4.1 kali seiring dengan semakin besar penilaian responden terhadap manfaat ekologi dari keberadaan hutan rakyat itu sendiri. Kelompok petani hutan rakyat cenderung memberikan penilaian yang lebih tinggi tentang manfaat lingkungan dari keberadaan hutan rakyat dibandingkan dengan kelompok petani non hutan rakyat. Hal tersebut ditunjukkan oleh rata-rata nilai total motivasi ekologi, dimana pada kelompok petani hutan rakyat didapatkan rata-rata nilai total sebesar 20.4 dan hanya sebesar 18.8 pada kelompok petani non hutan rakyat. Perbedaan tersebut tampak lebih nyata jika dilihat dari penilaian responden terhadap manfaat keberadaan hutan rakyat sebagai upaya untuk mencegah terjadinya erosi, longsor, dan banjir. Sebanyak 76% responden petani hutan rakyat memberikan penilaian tertinggi terhadap manfaat tersebut, dan hanya sebanyak 22% dari total responden petani non hutan rakyat yang memberikan nilai tertinggi untuk jenis manfaat tersebut.
f. Motivasi Sosial
Motivasi sosial merupakan persepsi responden akan dorongan yang berkaitan erat dengan alasan dan manfaat sosial yang dirasakan dari keberadaan hutan rakyat. Semakin tinggi manfaat sosial akan keberadaan pohon dan tanaman keras berkayu yang dirasakan oleh seseorang maka dapat menyebabkan semakin tinggi kecenderungan seseorang tersebut untuk menanam pohon dan membudidayakan tanaman keras berkayu.
Hasil analisis preferensi menunjukkan bahwa dengan menganggap faktor lain (umur, tingkat pendidikan, penguasaan lahan kering, kebijakan, dan motivasi ekologi) konstan, maka peluang responden untuk mengusahakan hutan rakyat akan meningkat sebesar 15.4 kali seiring dengan semakin besar penilaian responden terhadap manfaat sosial dari keberadaan hutan rakyat itu sendiri. Kelompok petani hutan rakyat cenderung memberikan penilaian yang lebih tinggi tentang manfaat sosial hutan rakyat dibandingkan dengan kelompok petani non hutan rakyat. Hal tersebut ditunjukkan oleh rata-rata nilai total motivasi sosial, dimana pada kelompok petani hutan rakyat didapatkan rata-rata nilai total sebesar 20.3 dan hanya sebesar 18.6 pada kelompok petani non hutan rakyat. Perbedaan tersebut tampak lebih nyata jika dilihat dari penilaian responden terhadap manfaat keberadaan hutan rakyat sebagai sebuah tradisi turun menurun dan sebagai bentuk lain dari tabungan. Sebanyak 22% responden petani hutan rakyat memberikan penilaian tertinggi terhadap manfaat sosial yang menyatakan bahwa hutan rakyat sebagai sebuah tradisi turun temurun, dan hanya sebanyak 2% dari total responden petani non hutan rakyat yang memberikan nilai tertinggi untuk jenis manfaat tersebut. Sedangkan untuk manfaat sosial yang menyatakan hutan rakyat sebagai bentuk lain dari ✎tabungan hari tua✏, sebanyak 91% responden petani hutan rakyat memberikan penilaian tertinggi dan hanya 20% petani non hutan rakyat yang memberikan penilaian tertinggi untuk jenis manfaat sosial tersebut.
5.5.2 Faktor-faktor Yang Tidak Mempengaruhi Preferensi Responden
Jumlah tanggungan, status sosial, penguasaan sawah, curahan tenaga kerja keluarga, pendapatan di luar sektor pertanian, kekosmopolitan, dan motivasi ekonomi merupakan faktor-faktor yang tidak mempengaruhi preferensi atau
keputusan responden dalam mengusahakan atau tidak mengusahakan hutan rakyat.
a. Jumlah Tanggungan Kepala Keluarga
Jumlah tanggungan kepala keluarga merupakan jumlah anggota keluarga yang belum menikah atau bekerja dan masih menggantungkan hidupnya pada responden. Jumlah tanggungan kepala keluarga akan berkaitan erat dengan pengeluaran rutin rumah tangga. Semakin banyak jumlah tanggungan keluarga akan menyebabkan semakin tinggi kebutuhan hidup yang harus disediakan oleh kepala rumah tangga. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kecenderungan kepala keluarga untuk menambah sumber penghasilan dan atau berusaha pada bidang usaha yang mampu memberikan penghasilan yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat.
Berkaitan dengan pengusahaan hutan rakyat, maka semakin tinggi jumlah tanggungan yang menjadi beban petani maka akan semakin tinggi kecenderungan petani tersebut untuk tidak masuk ke dalam pengusahaan hutan rakyat. Hal tersebut disebabkan karena hutan rakyat umumnya merupakan jenis usaha tani yang bersifat jangka panjang, sehingga untuk memenuhi kebutuhan tanggungan keluarga, petani tersebut harus berusaha di luar sektor hutan rakyat seperti bertani padi yang memliki kecenderungan menghasilkan pendapatan dalam waktu yang lebih singkat. Hasil analisis preferensi menunjukkan bahwa faktor jumlah tanggungan keluarga tidak secara signifikan mempengaruhi preferensi petani untuk masuk ke dalam pengusahaan hutan rakyat. Hal tersebut diduga karena kelompok petani hutan rakyat maupun kelompok petani non hutan rakyat memiliki rata-rata jumlah tanggungan keluarga yang sama yaitu 3 jiwa tanggungan per kepala keluarga petani.
b. Status Sosial Responden
Status sosial dinilai dari peran atau kedudukan responden dalam masyarakat, berdasarkan total bobot jabatan formal dan informal yang melekat pada diri responden. Informasi mengenai jenis dan jumlah jabatan formal dan informal tersebut digali melalui wawancara, kemudian dilakukan pembobotan
menggunakan pendekatan expert judgment dari 5 ahli yang merupakan informan kunci dalam penelitian ini.
Tabel 34. Pembobotan jabatan responden dengan pendekatan expert judgment. Jabatan Dalam
Masyarakat Ahli 1 Ahli 2 Ahli 3 Ahli 4 Ahli 5 Jumlah Bobot
Kepala Desa 9 9 9 9 9 45 0.19
Sekertaris Desa 5 7 5 5 5 27 0.11
Bendahara Desa 1 3 1 1 1 7 0.03
Tata Usaha Desa 1 3 1 1 1 7 0.03
Ketua RT 1 1 1 1 1 5 0.02
Anggota BPD 7 7 7 7 5 33 0.14
Imam Masjid 9 7 9 7 5 37 0.15
Tokoh Adat 9 9 9 7 7 41 0.17
Pengurus Kel. Tani 3 5 5 3 1 17 0.07
Guru 3 3 1 5 5 17 0.07
Pengurus Parpol 1 1 1 1 1 5 0.02
Total 241 1.00
*Keterangan:
Ahli 1: Daryanto SP., Petugas Penyuluh Pertanian; Ahli 2: Prima Kusuma S.Sos., Staf Bidang Program Bappeda Kab. Bima; Ahli 3: Ahyar S.Hut., Kasi Perencanaan Dinas Kehutanan Kab. Bima; Ahli 4: Arifin SE., Ketua Koperasi Simpan Pinjam Flamboyan; Ahli 5: Drs. Ahmad Rifai, Mantan Ketua KAPET Bima.
Sumber: Data Primer, 2010.
Status sosial menunjukkan tingkat penghargaan masyarakat kepada individu yang bersangkutan dalam kelompok organisasi atau masyarakat. Status sosial dapat dilihat dengan menggunakan pendekatan peran. Sumarlan (2004) menyatakan bahwa status sosial akan merujuk pada sekumpulan tingkah laku yang terpilih, yang dikumpulkan dan disosialisasikan dalam suatu posisi atau peran tertentu dalam sistem sosial. Lebih lanjut dinyatakan bahwa status sosial akan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal dan internal seperti tingkat pendidikan, kekharismatikkan, kecakapan fungsional, kemampuan politik, serta penguasaan materi dan lahan.
Status sosial dapat menjadi salah satu indikator tingkat keterbukaan, wawasan, tingkat pendidikan, serta kekharismatikan dan kearifan seseorang. Semakin tinggi status sosial seseorang maka terdapat kecenderungan semakin tinggi pula tingkat keterbukaan, wawasan, tingkat pendidikan, serta kekharismatikan dan kearifannya terhadap masalah-masalah yang terjadi dan berlangsung di dalam komunitas masyarakat tempat ia berada. Sehubungan dengan pengusahaan hutan rakyat, terdapat kecenderungan jika semakin tinggi
status sosial petani maka semakin tinggi pula kemungkinan petani tersebut untuk masuk ke dalam pengusahaan hutan rakyat. Petani-petani dengan status sosial yang tinggi cenderung akan memiliki wawasan dan kearifan ekologi yang lebih baik dibandingkan dengan petani-petani dengan status sosial yang lebih rendah. Mereka cenderung akan memberikan penilaian yang tinggi akan manfaat lingkungan atau ekologi akan keberadaan pohon dan hutan. Petani dengan status sosial yang tinggi juga akan cenderung lebih terbuka terhadap penerapan teknologi-teknologi rehabilitasi lahan melalui budidaya tanaman keras berkayu.
Penilaian status sosial responden di lokasi penelitian menunjukkan bahwa kelompok petani hutan rakyat memiliki rata-rata nilai status sosial sebesar 4.07. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan dengan rata-rata nilai status sosial untuk kelompok petani non hutan rakyat yang hanya sebesar 2.13. Jika merujuk dari nilai rataan tersebut, seharusnya terdapat kemungkinan faktor status sosial akan memiliki pengaruh signifikan terhadap peluang petani untuk masuk ke dalam pengusahaan hutan rakyat. Akan tetapi, hasil analisis preferensi menunjukkan bahwa faktor ini tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Temuan ini diduga disebabkan karena faktor status sosial untuk kasus di lokasi penelitian lebih berpengaruh terhadap hubungan sosial yang bersifat formil dan administratif dan tidak sampai menyentuh ke dalam ranah yang berkaitan dengan cara petani dalam memanfaatkan lahan miliknya. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil inventarisasi jabatan responden dalam masyarakat yang lebih didominasi oleh jabatan-jabatan yang bersifat formil.
c. Penguasaan Sawah
Luas sawah yang dikuasai oleh petani akan mempengaruhi apakah seorang petani akan masuk ke dalam pengusahaan hutan rakyat. Setyawan (2002) menyatakan bahwa semakin tinggi luas sawah yang dikuasai oleh seorang petani maka kecenderungan petani tersebut untuk masuk ke dalam pengusahaan hutan rakyat akan semakin kecil. Hal tersebut berkaitan langsung dengan ketersediaan tenaga kerja dalam keluarga. Budidaya padi merupakan jenis budidaya intensif yang memerlukan curahan tenaga kerja yang tinggi, sehingga semakin tinggi luas sawah yang dikuasai oleh petani maka semakin tinggi pula curahan tenaga kerja yang diperlukan dalam proses produksi dan menyebabkan responden cenderung
memfokuskan tenaga kerja dalam keluarga yang dimilikinya untuk mengolah