• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

METODE PENELITIAN

3.4 Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil pengamatan mengenai pengaruh pengayaan pakan alami terhadap perilaku kukang jawa, dianalisis dan disajikan secara deskriptif dilengkapi dengan gambar, tabel, dan kurva atau grafik yang relevan. Untuk mengetahui persentase nilai suatu perilaku dari total lamanya pengamatan perilaku dalam sehari, digunakan rumus:

Persentase perilaku (%) =

Keterangan:

X = frekuensi perilaku dalam n menit pengamatan

Y = total frekuensi perilaku dalam 300 menit pengamatan

Selanjutnya, untuk mengetahui persentase penggunaan masing-masing enrichment dari seluruh enrichment yang diberikan digunakan rumus:

Persentase enrichment (%) =

Keterangan:

A = frekuensi penggunaan enrichment dalam n menit pengamatan B = total frekuensi penggunaan enrichment dalam 300 menit pengamatan

Pengujian terhadap hubungan antara parameter yang diukur dan diamati menggunakan hipotesis sebagai berikut:

H0 = tidak ada pengaruh enrichment terhadap perilaku kukang jawa

Hipotesis tersebut kemudian diuji menggunakan uji X2 atau Khi-kuadrat (Walpole 1997) melalui rumus:

X2 = Keterangan:

Oi = nilai pengamatan perilaku kukang jawa Ei = nilai harapan perilaku kukang jawa

Ei =

Pengambilan keputusan atas hipotesis tersebut dilakukan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:

Jika X2 hitung > dari X2 tabel, maka tolak H0 Jika X2 hitung < dari X2 tabel, maka terima H0 Untuk mengetahui nilai pada X2tabel, maka digunakan rumus:

db = (p-1) Keterangan:

p = banyaknya ulangan

Selain itu, selang kepercayaan (SK) yang digunakan adalah sebesar 99% atau α = 0,01.

BAB IV

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Letak dan Luas

Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia berlokasi di Jl. Curug Nangka Blok Pasir Loji RT 04 RW 05 Kampung Sinar Wangi, Kelurahan Sukajadi Kecamatan Taman Sari Ciapus Bogor. Luas lahan yang digunakan sekitar satu hektar.

4.2 Status dan Sejarah Singkat Lokasi Penelitian

Yayasan IAR Indonesia adalah lembaga non profit yang bergerak di bidang penyelamatan satwaliar Indonesia dan merupakan organisasi cabang dari IAR UK. Yayasan IAR Indonesia berdiri tanggal 29 Januari 2007 dan memfokuskan perhatiannya terhadap beberapa satwaliar Indonesia seperti elang bondol (Haliastur indus), elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), kukang (Nycticebus coucang) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) serta beruk (Macaca nemestrina). Saat ini Yayasan IAR Indonesia memfokuskan kegiatannya pada satwa primata, yaitu kukang, monyet ekor panjang dan beruk di Ciapus, serta orangutan di Ketapang. Walaupun monyet ekor panjang dan beruk adalah satwa yang tidak dilindungi di Indonesia, namun mengingat perlakuan yang sangat kejam dari manusia, bukan hal yang mustahil jika lambat laun mereka akan segera punah juga.

Yayasan IAR Indonesia yang bertempat di Ciapus, Bogor sampai saat ini telah menampung 25 individu monyet ekor panjang, 10 individu beruk serta 93 individu kukang. Kukang itu sendiri terdiri dari 38 individu kukang jawa (Nycticebus javanicus), 48 individu kukang sumatera (Nycticebus coucang) dan 7 individu kukang kalimantan (Nycticebus menagensis). Seluruh individu satwa primata yang berada di Yayasan IAR Indonesia Ciapus Bogor ini ditempatkan pada kandang sosialisasi, kandang isolasi ataupun kandang sanctuary yang sesuai dengan fungsi dan tujuan pemeliharaan individu satwa tersebut.

LSM ini bergerak di bidang penyelamatan satwa, baik satwa domestik maupun satwaliar. Kegiatan utama Yayasan IAR Indonesia meliputi 3R yaitu rescue (penyelamatan), rehabilitation (rehabilitasi), dan release (pelepasliaran).

Tujuan utamanya dari program Yayasan IAR Indonesia yaitu menghentikan perdagangan satwaliar dan memperjuangkan kesejahteraan yang lebih baik bagi satwa di seluruh dunia.

4.3 Fasilitas

Yayasan IAR Indonesia memiliki satu bangunan kantor utama, dua buah blok besar kandang sosialisasi, satu blok kandang isolasi dan dua blok kandang sanctuary. Selain itu terdapat klinik hewan, gudang pakan, ruang kebersihan kandang dan guesthouse.

4.4 Kondisi Fisik

Yayasan IAR Indonesia terletak di kaki Gunung Salak dengan ketinggian tempat sekitar 750 m dpl. Kondisi topografinya cenderung bergelombang dengan kemiringan lahan sekitar 10-15%. Berdasarkan Klasifikasi Schmid dan Ferguson, wilayah ini termasuk ke dalam tipe iklim A, dengan curah hujan rata-rata tahunan sekitar 4000 mm per tahun. Jumlah hari hujan sebanyak 187 per tahun dengan kelembaban nisbi per tahun sekitar 88%. Temperatur udara tahunan adalah sekitar 20-22o C. Jenis tanah di wilayah ini termasuk ke dalam jenis tanah latosol. Kondisi air yang ada di wilayah ini cukup baik dan sangat melimpah. Sumber air bagi warga sekitar berasal dari sungai ciapus atau air dari pegunungan.

4.5 Kondisi Biotik

Vegetasi di Yayasan IAR Indonesia umumnya berupa vegetasi semak berumput, yang didominasi tegakan bambu dan kaliandra. Selain itu pula ada berbagai jenis pohon buah atau tanaman pakan yang sengaja ditanam di sekitar kandang untuk memenuhi kebutuhan makan satwa yang dipelihara. Sementara beberapa jenis satwa yang dijumpai selama penelitian beraneka ragam mulai dari mamalia, burung dan reptil seperti bajing kelapa, elang jawa, cekakak sungai, kodok, ular daun dan lain-lain.

4.6 Kondisi Sosial Masyarakat

Masyarakat yang tinggal di sekitar Yayasan IAR Indonesia sebagian besar memiliki mata pencaharian bertani dan berladang, baik di lahan milik sendiri ataupun mengelola lahan milik orang lain. Jenis tanaman yang ditanam di ladang

misalnya singkong, buncis, kacang panjang dan lain-lain. Hasil dari berladang tersebut dapat dikonsumsi sendiri atau dijual ke pasar. Selain bertani dan berladang, banyak juga yang bekerja sebagai penjaga vila yang disewakan di sekitar objek wisata Curug Nangka yang letaknya tidak begitu jauh dari Yayasan IAR Indonesia.

Masyarakat juga tidak ada yang merasa terganggu atau tidak suka dengan adanya Yayasan IAR Indonesia di wilayah sekitar mereka karena banyak juga yang tenaga sumberdaya manusianya diberdayakan untuk menjadi pekerja di Yayasan IAR Indonesia. Sehingga tercipta hubungan yang baik pula antara masyarakat sekitar kawasan dengan Yayasan IAR Indonesia.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Manajemen Pemeliharaan 5.1.1 Jumlah satwa yang dipelihara

Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia yang berada di Ciapus Bogor merupakan pusat penyelamatan dan rehabilitasi primata khususnya jenis kukang dan macaca. Jumlah dari ketiga jenis spesies kukang yang dipelihara di Yayasan IAR Indonesia berdasarkan jenis kelamin dan kelas umurnya ditunjukkan pada Tabel 3.

Tabel 3 Jumlah kukang di Yayasan IAR Indonesia berdasarkan jenis kelamin dan kelas umur

Kelas umur Nycticebus javanicus Nycticebus coucang Nycticebus menagensis Total Jantan Betina Jantan Betina Jantan Betina

Anak 0 1 0 2 0 0 3

Remaja 2 0 1 1 1 0 5

Dewasa 16 19 20 24 2 4 84

Total 18 20 21 27 3 4 93

Sedangkan jumlah ketiga spesies kukang yang dipelihara dari tahun 2009- 2011 dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini.

Tabel 4 Jumlah kukang di Yayasan IAR Indonesia pada tahun 2009-2011

Tahun Nycticebus javanicus Nycticebus coucang Nycticebus menagensis Total Jantan Betina Jantan Betina Jantan Betina

2009 25 16 22 19 1 3 86

2010 25 18 21 24 3 4 95

2011 18 20 21 27 3 4 93

Kukang sumatera, kukang jawa dan kukang kalimantan (Gambar 4) yang berada di Yayasan IAR Indonesia berasal dari berbagai lokasi Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) maupun berbagai daerah serahan dari masyarakat. Kukang tersebut sebagian besar berasal dari PPS Tegal Alur (PPSTA). Selain itu juga ada pula yang berasal dari BKSDA Jawa Timur, BKSDA Serang, PPS Cikananga (PPSC), serta serahan masyarakat dari daerah Bandung dan Jabodetabek. Terhitung mulai bulan Januari-Juni 2011, Yayasan IAR Indonesia telah melepasliarkan dua individu kukang jawa jantan dan tiga individu kukang jawa betina di Tapos serta satu individu kukang sumatera jantan di Lampung.

(a) (b) (c) Gambar 4 Jenis spesies kukang (a) sumatera; (b) jawa; (c) kalimantan.

Data keluar-masuk kukang yang ada di Yayasan IAR Indonesia sejak November 2009 hingga Juni 2011 dapat dilihat pada Lampiran 1. Pada tahun 2009 terdapat 86 individu kukang yang terdiri dari 71 individu yang diterima dan 11 individu yang mati tanpa ada kukang yang dilepasliarkan ke alam karena manajemen dan pengelolaan yang masih baru untuk rehabilitasi kukang. Kemudian pada tahun 2010, terdapat 95 individu kukang yang terdiri dari 47 individu yang diterima, 35 individu yang mati dan 16 individu yang telah dilepasliarkan ke alam. Sedangkan pada tahun 2011 terdapat 93 individu kukang yang terdiri dari 13 individu yang diterima, 12 individu yang mati serta 6 individu yang telah dilepasliarkan.

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa dalam pemeliharaan dan pengelolaan kukang yang dilakukan oleh Yayasan IAR Indonesia sudah cukup baik, walaupun perbandingan jumlah individu yang masuk dan yang mati dengan yang berhasil dilepasliarkan berbanding terbalik. Hal ini dikarenakan banyak kukang yang diterima Yayasan IAR Indonesia dalam kondisi yang tidak dapat dilepasliarkan kembali ke alam karena kondisi gigi yang tidak baik atau karena hal lain akibat hasil sitaan atau serahan dari masyarakat yang sudah pernah dipelihara oleh manusia. Namun untuk kondisi kukang yang baik, Yayasan IAR Indonesia selalu mengupayakan agar kukang tersebut dapat dilepasliarkan kembali ke alam.

5.1.2 Prosedur penerimaan dan pelepasliaran satwa

Kukang yang baru masuk hasil sitaan atau serahan dari masyarakat melalui pelaporan ke Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia pertama kali yang dilakukan yaitu dimasukkan ke dalam rescue. Kemudian dilakukan identifikasi jenis spesies dan jenis kelamin, penimbangan berat badan dan suhu tubuh, tes fisik apakah perlu terapi atau suplemen tambahan, cek keutuhan gigi yang dilakukan dengan isolasi atau karantina selama minimal 30 hari, observasi perilaku serta diagnosa penunjang yang terdiri dari xray thorax dan tuberculin skin test sebanyak minimal tiga kali.

Prosedur penerimaan satwa yang paling utama yaitu pertama dengan pemeriksaan dan pengukuran fisik serta identifikasi tuberkulin. Pemeriksaan fisik tersebut terdiri dari pengukuran tubuh, cek keutuhan gigi, pemeriksaan umum yang terdiri dari pemeriksaan mukosa, suhu tubuh, gizi, dan kesehatan serta keutuhan anggota tubuh. Setelah itu kemudian dilakukan pula pemeriksaan anestesi, tuberculinasi, de-worming, pemeriksaan feses, cek darah, serta pemasangan microchip.

Sedangkan untuk satwa yang akan dilepasliarkan harus diadaptasikan dan diobservasi perilakunya terlebih dahulu di kandang pre-habituasi yang berada di Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia. Kemudian setelah berada di kandang pre-habituasi lalu dipindahkan ke kandang habituasi yang berada di Tapos selama kurang lebih 10-14 hari atau tergantung kondisi dari masing-masing individunya dan dilakukan observasi pula untuk memastikan bahwa satwa tersebut sudah dapat bertahan hidup di alam. Kandang habituasi tersebut berukuran 60 m2 serta menggunakan jaring net dan fiberglass sebagai pembatasnya. Setelah itu kemudian mengirimkan surat ke Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) tempat pelepasliaran. Selanjutnya kukang yang akan dilepasliarkan tersebut dipakaikan radio collar sekitar satu sampai dua minggu sebelum dilakukan pelepasliaran. Dan terakhir sebelum dilepasliarkan dilakukan kembali cek kesehatan yang meliputi cek darah, cek keutuhan gigi, sampel rambut, suhu tubuh, cek respirasi, dan cek berat badan.

5.1.3 Kandang

Kukang yang berada di Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia seluruhnya berjumlah 93 ekor yang ditempatkan pada beberapa jenis kandang sesuai fungsi dan kegunaannya. Jenis dan fungsi kandang yang terdapat di Yayasan IAR Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Jenis dan fungsi kandang yang ada di Yayasan IAR Indonesia

No. Jenis Kandang Ukuran Unit Fungsi

1. Kandang karantina 2 x 2 m2 6 Karantina satwa baru agar meminimalisir kemungkinan adanya penyakit yang dibawa 2. Kandang individu 2 x 2 m2 20 Rehabilitasi satwa agar mampu

bersifat liar kembali setelah dipelihara manusia

3. Kandang sosialisasi 3 x 3 m2 14 Sosialisasi satwa dengan individu lainnya agar mampu berinteraksi dengan sesamanya

4. Kandang sanctuary 5 x 6 m2 10 Adaptasi satwa dengan kondisi asli di habitat alaminya

5. Kandang sanctuary pre-habituasi 7 x 7 m2 2 Adaptasi satwa yang akan dilepasliarkan sebelum ke kandang habituasi

Kandang individu hanya berisi satu individu kukang baik yang jantan atau betina, atau kukang betina bersama anaknya yang masih bayi. Kandang sosialisasi (Gambar 5) berisi tiga atau empat individu dengan ketentuan satu jantan dan banyak betina atau banyak jantan dan banyak betina. Sedangkan kandang sanctuary (Gambar 5) dan kandang sanctuary pre-habituasi berisi empat atau lima individu dengan ketentuan yang sama dengan kandang sosialisasi. Jenis kandang sangat ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu: jenis satwa, jumlah individu, umur satwa, tujuan penelitian, keselamatan kerja pekerja, faktor keselamatan dan kesejahteraan satwa, dan kondisi iklim setempat (Rahman 2011).

(a) (b)

Rahman (2011) menjelaskan bahwa dalam perencanaan perkandangan terdapat beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan yaitu: 1) kandang harus dibuat sedemikian rupa dengan maksud untuk mendukung kenyamanan psikologis bagi satwa yang ada di dalamnya; 2) kandang dibuat sesuai dengan ukuran satwa dan perilakunya sehingga satwa dapat tumbuh dengan normal dan kandang harus mampu mencegah adanya kemungkinan timbulnya penyakit; 3) kandang harus dilengkapi dengan sarana salinitas yang baik; 4) kandang dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan peneliti dan perawat satwa untuk mengelola satwa; 5) kandang dibuat berdasarkan standar baku yang telah direkomendasikan oleh Animal Welfare Act (1985) yaitu dengan memperhatikan kondisi sanitasi, kebersihan dan ventilasi yang baik.

Menurut Badan National Institute of Health (1985) dalam Rahman (2011) idealnya suatu ukuran kandang individual yang direkomendasikan untuk satwa primata ketika satwa dipisahkan dalam koloni atau dikenakan suatu perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Ukuran kandang individual yang direkomendasikan untuk satwa primata

Berat badan Luas alas minimal Tinggi minimal

< 1 kg 0,15 m² 50,8 cm

1 kg – 3 kg 0,28 m² 76,2 cm

3 kg – 15 kg 0,40 m² 76,2 cm

15 kg – 25 kg 0,74 m² 91,4 cm

> 25 kg 2,33 m² 213,4 cm

Sumber: National Institute of Health (1985) dalam Rahman (2011).

Seluruh jenis kandang tersebut terbuat dari kawat besi dan beratapkan fiberglass. Untuk kandang karantina lantainya sudah berupa keramik dan dindingnya sebagian terbuat dari tembok dan sisanya kawat. Namun untuk kandang sanctuary pre-habituasi lantainya masih berupa tanah dan hanya separuh bagian kandang yang diberi atap. Hal ini dimaksudkan untuk membiasakan kukang yang akan dilepasliarkan dengan kondisi sebenarnya di alam liar. Sedangkan kandang sanctuary, kandang sosialisasi dan kandang individu lantainya sudah tidak berupa tanah lagi melainkan sudah disemen.

Untuk menjaga kebersihan, kandang kukang dibersihkan setiap hari pada sore hari antara pukul 15.00-17.00 sebelum dilakukan pemberian pakan di waktu aktif kukang. Kandang dibersihkan dengan cara menyapu sisa-sisa pakan dan feses atau kotoran-kotoran lainnya yang berjatuhan di lantai kandang,

membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar kandang serta membersihkan lantai kandang yang berupa semen dengan menyiram dan menyikatnya. Sedangkan untuk kandang karantina, dibersihkan dengan cara disapu dan dipel. Sistem salinitas yang ada cukup baik untuk mendukung terjaganya kebersihan lingkungan sekitar kandang.

5.1.4 Pakan

Jenis pakan yang diberikan kepada kukang yang berada di Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia yaitu beberapa jenis buah-buahan, serangga dan telur serta beberapa jenis makanan tambahan, seperti cicak dan yogurt (Gambar 6). Pola pakan primata umumnya dibagi ke dalam tiga kategori berdasarkan kuantitas jenis pakan yang dikonsumsi yaitu frugivorus (banyak memakan buah), folivorus (banyak makan dedaunan) dan insectivorus (banyak memakan serangga) (NRC 2003, Rowe 1996). Pemilihan jenis pakan ini didasari pada karakteristik gigi dan sistem pencernaan yang dimiliki (Prayogo 2006). Kukang termasuk ke dalam frugivorus yang mencukupi kebutuhan proteinnya dari mengkonsumsi serangga.

(a) (b)

Gambar 6 Jenis pakan kukang (a) buah jambu biji; (b) jangkrik (serangga).

Pakan jenis buah yang biasa diberikan pada kukang di Yayasan IAR Indonesia yaitu pisang, pepaya, sawo, jambu biji, jeruk, mangga dan alpukat. Selain jenis buah, untuk memenuhi kebutuhan proteinnya, kukang juga diberi pakan jenis serangga seperti jangkrik, ulat sagu dan ulat jerman. Selain itu, diberi pula pakan berupa telur ayam dan telur puyuh yang diberikan setiap dua hari sekali secara bergantian. Smuts et al. (1987) menyatakan bahwa komposisi pakan

harian kukang di alam yaitu terdiri dari 50% buah, 40% hewan mangsaan seperti serangga, moluska, dan kadal serta 10% getah dan sisanya adalah telur burung, buah coklat, pucuk atau tunas pohon dan jenis serangga yang berbau dan menjijikan. Pakan tambahan yang biasa diberikan yaitu cicak dan yogurt. Cicak diberikan setiap dua minggu sekali atau tergantung ketersediaannya. Sedangkan yogurt diberikan kepada kukang yang masih remaja atau kukang yang sedang membutuhkan vitamin tambahan.

Pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada pukul 18.00 dan pukul 23.00 setiap harinya. Kombinasi pakan yang diberikan setiap kali pemberian pakan yaitu satu macam jenis buah dan satu macam jenis serangga. Jenis pakan yang diberikan setiap kali pemberian pakan juga bervariasi sesuai dengan persediaan pakan yang ada. Pakan diberikan dengan cara diletakkan pada tempat pakan atau box serangga yang tersedia (Gambar 7), diletakkan di atas kandang atau diletakkan tersembunyi dibalik batang-batang pohon.

(a) (b)

Gambar 7 (a) tempat meletakkan pakan (bambu) dan air (wadah berwarna hijau); (b) tempat meletakkan serangga (jangkrik).

Menurut USDA National Nutrient database (2007) (Lampiran 2), dari nilai kandungan gizi yang diketahui, dapat dilihat bahwa kandungan energi terbesar pada setiap 100 gram pakan terkandung pada buah alpukat. Selain alpukat, kandungan energi terbesar juga terkandung pada telur puyuh dan telur ayam. Oleh sebab itu, apabila kukang diberi pakan telur tidak akan dikombinasikan dengan jenis buah melainkan dikombinasikan dengan jenis serangga. Hal ini dikarenakan untuk menghindari kelebihan energi yang dikonsumsi yang akan menyebabkan tingginya aktivitas kukang.

5.1.5 Pemeliharaan Kesehatan

Pemeliharaan kesehatan yang dilakukan di Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia terutama tertuju kepada satwa yang dipelihara serta perawat satwa (keeper) kandang. Hal ini dilakukan untuk menghindari penularan penyakit baik dari satwa ke manusia maupun dari manusia ke satwa (zoonosis). Selain itu, pemeliharaan kesehatan juga dilakukan di sekitar lingkungan kandang agar tidak terjangkit penyakit menular kepada satwa yang dipelihara maupun kepada petugas kandangnya.

Pemeliharaan kesehatan bagi satwa yang ditampung di Yayasan IAR Indonesia dilakukan dengan melakukan pemeriksaan medical cek-up keseluruhan pada masing-masing individu setiap tujuh minggu sekali. Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan gigi, rambut dan feses, penimbangan berat badan serta pemberian obat cacing atau vitamin tambahan yang dibutuhkan.

Pemeliharaan kesehatan bagi petugas kandang dilakukan dengan memberi vaksinasi kepada seluruh petugas kandang agar tidak mudah terserang penyakit. Selain itu juga petugas kandang wajib menerapkan safety prosedur yang telah ditetapkan oleh Yayasan IAR Indonesia, seperti menggunakan masker, sepatu boot dan baju lapang saat sedang bertugas di kandang. Pemeliharaan kesehatan bagi lingkungan sekitar kandang juga dilakukan dengan disediakannya disinfektan di beberapa plot area yang akan memasuki kandang. Disinfektan juga disediakan di beberapa kandang untuk memudahkan petugas kandang yang sedang membersihkan kandang setiap harinya. Selain itu juga disediakan tempat cuci tangan dan tempat kebersihan peralatan kandang.

5.1.6 Pengelolaan lingkungan di sekitar kandang

Lingkungan biotik terdiri dari satwa dan tumbuhan yang terdapat di sekitar kandang. Satwa lain yang berada di sekitar kandang yaitu monyet ekor panjang dan beruk yang juga merupakan satwa lain selain kukang yang dipelihara oleh Yayasan IAR Indonesia, berbagai jenis burung, beberapa jenis reptil dan amfibi serta jenis mamalia lain seperti kucing, anjing, musang dan bajing kelapa. Keberadaan jenis-jenis satwa lain tersebut secara umum tidak mengganggu kukang yang ada.

Sedangkan jenis tumbuhan yang berada di sekitar kandang didominasi oleh tanaman kaliandra dan bambu. Selain itu ada juga beberapa jenis bambu yang ditanam di dalam kandang, pohon buah seperti pohon pisang, pohon mangga, pohon kelapa, pohon markisa, pohon pete, pohon kakau, pohon bacang, dan lain- lain. Jenis-jenis tanaman tersebut sengaja ditanam untuk menunjang kebutuhan pakan maupun pengayaan kandang bagi satwa yang dipelihara. Selain itu, ditanamnya berbagai jenis pepohonan tersebut diharapkan mampu menciptakan iklim mikro yang baik di sekitar kandang. Tanaman yang ditanam di dalam kandang kukang seperti bambu krisik, pohon markisa, pohon mangga, pohon nangka, pohon jambu biji, kopi dan kaliandra diharapkan dapat membantu mengurangi penyimpangan perilaku bagi kukang.

Selain itu, untuk melengkapi kondisi kandang menyerupai kondisi di alamnya, diberikan pula potongan-potongan pohon matoa, kakau dan lain-lain untuk menciptakan suasana teduh dan nyaman bagi kukang bersembunyi ketika tidur. Tali karet, ranting-ranting, bentangan karung, anyaman bambu (Gambar 8) dan box yang terbuat dari tripleks yang disediakan di dalam kandang dimaksudkan sebagai suatu sarana agar kukang dapat mengekspresikan perilaku alaminya, baik perilaku makan, perilaku bermain maupun perilaku istirahat (tidur).

(a) (b)

Gambar 8 Sarana di dalam kandang (a) Anyaman bambu untuk bermain kukang; (b) Bentangan karung dan box untuk tempat istirahat (tidur) kukang. Suhu yang tercatat di lokasi penelitian yaitu berkisar antara 19-240 C. Pada pagi hari suhu yang tercatat yaitu sekitar 19-200 C. Sedangkan pada siang hari berkisar antara 23-240 C dan pada malam hari suhunya antara 21-220C. Selain itu,

kelembabannya berkisar antara 75-97%. Hari hujan yang terjadi sepanjang malam hanya terjadi pada beberapa malam di awal pengambilan data. Selanjutnya hujan atau gerimis hanya terjadi beberapa saat bahkan di beberapa malam menjelang akhir pengambilan data cuacanya cerah.

Intensitas cahaya sekitar kandang tidak terlalu terang. Setiap kandang hanya diberi lampu lima watt berwarna kuning atau merah yang akan dimatikan seluruhnya ketika keeper pulang. Pemberian lampu ini dimaksudkan agar mampu mengundang datangnya jenis-jenis serangga malam yang terpengaruh oleh cahaya sehingga melatih kukang untuk dapat berburu serangga (personal communication, Mursid). Selain itu juga untuk memudahkan para keeper observasi tanpa mengganggu aktifitas kukang dengan silaunya cahaya lampu.

5.2 Pengaruh Pengayaan Pakan terhadap Perilaku 5.2.1 Jenis pengayaan pakan

Jenis pengayaan yang diberikan pada kukang yaitu jenis pakan yang terdapat di alam, seperti kaliandra, sirihan, sengon dan pete. Keberadaan kaliandra dan sirihan (Gambar 9) di habitat alaminya dimanfaatkan sebagai sumber pakan yang dapat dimakan sari bunganya. Kukang memakan sari bunga tumbuhan ini dengan cara menjilati sari bunganya. Selain sari bunganya, kukang juga memakan

Dokumen terkait