BAB III. METODE PENELITIAN
3.5. Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan analisis gabungan ANOVA. Apabila hasil uji ANOVA menunjukkan perbedaan pengaruh yang signifikan penggunaan whey keju dan whey tahu yang terhadap kecepatan pertumbuhan jamur kuping. Pendugaan hasil uji dibagi menjadi hipotesis nol (H0) hipotesis satu (H1).
H0: tidak terdapat perbedaan nyata penggunaan whey keju dan whey tahu terhadap kecepatan pertumbuhan jamur kuping.
H1: terdapat perbedaan nyata penggunaan whey keju dan whey tahu terhadap kecepatan pertumbuhan jamur kuping.
Hasil analisis anova yang memiliki perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji beda perlakuan menggunakan uji BNT pada taraf P. 0,05. Uji BNT dilakukan untuk menentukan macam whey yang lebih mampu dalam mempercepat pertumbuhan koloni jamur kuping.
21 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pertumbuhan Koloni Jamur Pada Media F0 4.1.1. Fase Pertumbuhan Koloni Jamur Pada Media F0
Hasil pengukuran diameter pertumbuhan koloni jamur kuping yang ditumbuhkan pada media whey keju mozarella dan whey tahu untuk menentukan kecepatan pertumbuhan hari ke 4 dan hari ke 7 setelah penanaman. Fase pertumbuhan yang terjadi pada rata-rata diameter koloni jamur kuping secara keseluruhan dari awal penanaman (0 hari) sampai akhir pengamatan (7 hari) dapat dilihat pada gambar 3-5.
Gambar 3. Grafik fase pertumbuhan diameter koloni jamur selama 7 hari pada media kontrol
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4
0 2 4 7
diameter koloni (cm)
Hari penanaman Pertumbuhan diameter koloni
Gambar 4. Grafik fase pertumbuhan diameter koloni jamur selama 7 hari pada media whey keju
Gambar 5. Grafik fase pertumbuhan diameter koloni jamur selama 7 hari pada media whey tahu
Data pada gambar 3-5 menunjukkan hari pertama penanaman koloni jamur masuk ke tahap lag. Fase lag dilihat dari tidak dihasilkannya koloni karena pada awal penanaman koloni masih harus beradaptasi dengan kondisi media yang digunakan.
0
PDA+ whey keju 20% PDA+ whey keju 40%
PDA+ whey keju 60% PDA+ whey keju 80%
0
PDA+ whey tahu 20% PDA+ whey tahu 40%
PDA+ whey tahu 60% PDA+ whey tahu 80%
23
Hari ke 2-7 merupakan fase eksponensial yaitu kondisi koloni jamur tumbuh dan berkembang dengan pesat.
Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media control yaitu 1,05 dan 3,71 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 20% whey keju yaitu 1,27 dan 6,53 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 40%
whey keju yaitu 1,3 dan 6,72 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 60% whey keju yaitu 1,15 dan 5,07 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 80%
whey keju yaitu 1,13 dan 4,7 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 20% whey tahu yaitu 1,25 dan 6,27 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 40%
whey tahu yaitu 1,22 dan 6,38 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 60% whey tahu yaitu 1,13 dan 4,95 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 80%
whey tahu yaitu 1,17 dan 4,72 cm.
Jamur yang ditumbuhkan di media PDA memiliki bentuk miselium berwarna putih tipis dan pada hari ke 2 miselum mulai tumbuh. Waktu yang dibutuhkan untuk koloni jamur kuping beradaptasi di media agar adalah pada 2 hari setelah inokulasi, sedangkan tumbuh memenuhi media agar dari 7-10 hari setelah inokulasi (HSI), sedangkan akhir pertumbuhan miselium antara 14-18 HSI (Djuariah, 2016).
4.1.2. Hasil Diameter Koloni Jamur Pada Media F0
Perbedaan diameter koloni jamur kuping pada media F0 pada suhu 25-28oC, pH 6 selama 7 hari ditunjukkan pada gambar 6,7, dan 8. Diameter koloni pada media 20% whey keju pada hari ke 7 sebesar 66 mm (Gambar 7A), 40% whey keju sebesar 73 mm (Gambar 7B), 60% whey keju pada hari ke 7 sebesar 57 mm (Gambar 7C), 80%
whey keju sebesar 49 mm (Gambar 7D). Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian 40%
whey keju dapat meningkatkan pertumbuhan jamur kuping pada media PDA+ whey keju dibandingkan dengan konsentrasi whey keju lainnya.
Diameter koloni pada media 20% whey tahu sebesar 64,5 mm (Gambar 8A), dan 40% whey tahu sebesar 71 mm (Gambar 8B), 60% whey tahu sebesar 49 mm (Gambar 8C), dan 80% whey tahu sebesar 47 mm (Gambar 8D). Media kontrol memiliki diameter koloni sebesar 4 mm (Gambar 6). Penambahan whey tahu 40%
memberikan hasil diameter koloni lebih besar dibanding dengan konsentrasi lainnya.
Gambar 6. Hasil pertumbuhan koloni jamur kuping pada media F0 kontrol (PDA)
Gambar 7. Hasil pertumbuhan koloni jamur kuping pada media F0 whey keju
(A. PDA+20% whey keju; B. PDA+40% whey keju; C. PDA+60% whey keju; D. PDA+80% whey keju)
Gambar 8. Hasil pertumbuhan koloni jamur kuping pada media F0 whey tahu
(A. PDA+20% whey tahu; B. PDA+40% whey tahu; C. PDA+60% whey tahu; D. PDA+80% whey tahu)
A B C D
A B C D
25
Koloni jamur kuping yang ditumbuhkan di media dengan kondisi baik mampu mendorong pertumbuhan miselium dan sporulasi. Pertumbuhan miselium dan sporulasi pada gambar 6-8 menunjukkan hasil yang berbeda-beda pada masing-masing media. Penelitian Sharma & Pandey (2010) menegaskan bahwa karakteristik (permukaan, zonasi, tekstur dan pewarnaan sebaliknya), diameter koloni dan sporulasi jamur uji sangat dipengaruhi oleh jenis medium pertumbuhan yang digunakan.
Data tersebut menunjukkan bahwa diameter koloni tertinggi terdapat pada media 40% whey keju dibanding dengan media lain. Hasil ini diperkuat oleh penelitian Mayangsari et al. (2015) menunjukkan koloni jamur tiram yang ditumbuhkan pada media whey keju memiliki diameter sebesar 91 mm. 40% whey keju dapat menghasilkan koloni tertinggi karena kandungan nutrisi pada konsentrasi tersebut sesuai untuk pertumbuhan koloni jamur kuping. Kandungan nutrisi seperti karbohidrat (laktosa), protein, nitrogen pada whey keju mampu meningkatkan pertumbuhan koloni jamur (Inglet, 2004).
Kadar proksimat pada whey keju mengandung lemak dan protein yang tinggi dibanding whey tahu (Lampiran 2). Kadar protein merupakan sumber utama nitrogen yang berperan dalam penyusunan membran sel untuk pertumbuhan mikroorganisme (Utami & Suprihadi, 2018). Kadar protein yang tinggi pada media whey keju menyebabkan peningkatan pertumbuhan diameter koloni jamur kuping.
Kadar proksimat pada whey keju memiliki kadar karbohidrat lebih sedikit dibanding whey tahu (Lampiran 2). Whey keju mengandung karbohidrat berupa laktosa (Tariq et al., 2013) sedangkan whey tahu mengandung karbohidrat berupa pati, amilosa, amilopektin (Febrianti, 2017) dan hemiselulosa (Fahlange, Smith, & Rackis, 1964).
Koloni jamur kuping pada media whey keju memiliki diameter terbesar kemungkinan disebabkan oleh kandungan karbohidrat berstruktur sederhana pada whey keju yang lebih cepat digunakan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan koloni dibanding dengan karbohidrat pada whey tahu, walaupun whey keju memiliki kandungan karbohidrat lebih sedikit daripada whey tahu (Yuanita, 2011).
4.1.3. Kecepatan Pertumbuhan Koloni Jamur Pada Media F0
Hasil dari rata-rata kecepatan koloni jamur yang diamati dilakukan uji ANOVA. Hasil statistika ANOVA dalam rancangan acak tunggal pada Lampiran 1 menunjukkan bahwa F hitung (4,752) lebih besar dari F tabel dengan taraf signifikan 5% (3,15), maka hipotesis penelitian H1 diterima. Hasil analisis ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan pengaruh penggunaan whey keju dan whey tahu yang ditambahkan pada medium F0 terhadap kecepatan pertumbuhan jamur kuping. Jenis whey yang lebih baik dapat diketahui berdasarkan uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf signifikan 5%. Hasil pengukuran koloni jamur kuping pada media F0 yang sudah diuji BNT dapat dilihat pada gambar 9.
Gambar 9. Pertumbuhan koloni pada media F0 pada hari ke tujuh
Koloni jamur kuping yang ditumbuhkan di media kontrol memiliki kecepatan rata-rata pertumbuhan 3,8 mm/hari (Gambar 9). Hasil kecepatan pertumbuhan koloni jamur kuping pada media kontrol yang diamati sesuai dengan penelitian Jo, Kim, Seok, Jung, & Park (2014) memiliki rata-rata kecepatan pertumbuhan koloni jamur kuping pada media PDA 2,58-4,2 mm/hari.
Hasil uji Beda Nyata Terkecil 5% yang disajikan pada gambar 9 menunjukkan bahwa kecepatan pertumbuhan jamur kuping yang ditumbuhkan pada medium 20%
3,8a
27
whey keju, 40% whey keju, 20% whey tahu dan 40% whey tahu ternyata berbeda secara signifikan (notasi b) dengan medium kontrol. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa kedua macam whey, yaitu medium 20% whey keju, 40% whey keju, 20% whey tahu dan 40% whey tahu memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan dengan medium kontrol (PDA), whey keju dan tahu konsentrasi lainnya.
Media PDA dengan penambahan 20% whey keju, 40% whey keju, 20% whey tahu dan 40% whey tahu dapat mempercepat pertumbuhan diameter koloni jamur kuping dibanding dengan media PDA. Pertumbuhan koloni ini disebabkan oleh nutrisi yang terkandung di whey keju maupun whey tahu. Whey keju dan tahu memiliki kandungan nutrisi yang dapat mempercepat pertumbuhan jamur kuping, karena sel-sel jamur menyerap nutrisi lebih banyak dibandingkan dengan medium PDA. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Mayangsari et al. (2015) menunjukkan hasil yang sama bahwa whey keju dan whey tahu mampu meningkatkan kecepatan pertumbuhan koloni jamur jenis lain yaitu jamur tiram sebesar 10,63 mm/hari dan 10,4 mm/hari.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Inglet (2004) menyebutkan bahwa konsentrasi tinggi pada pemberian whey keju termodifikasi sebesar 100%, 80%, dan 60% untuk pertumbuhan Lentinus edodes tidak menghasilkan pertumbuhan. Hasil berbeda pada whey keju termodifikasi pada konsentrasi rendah 10%, 20% dan 40%
menunjukkan pertumbuhan Lentinus edodes pertumbuhan lambat saat miselium memasuki substrat. Menurut Alfisyah & Susanto (2014) konsentrasi 25-35% whey tahu mampu meningkatkan pertumbuhan jamur tiram dibanding kontrol. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi rendah pada pemberian whey keju sebesar 20% dan 40% serta whey tahu sebesar 20% dan 40% dapat meningkatkan pertumbuhan koloni jamur lebih baik dibanding dengan konsentrasi media yang tinggi.
Menurut Tariq et al. (2013) whey keju mengandung sumber karbon, nitrogen, mineral dan vitamin. Sumber karbon berupa laktosa dan asam laktat. Whey keju mengandung laktosa sebesar 4.5% (wt/vol) dan asam laktat sebesar 0.1-0.8% (wt/vol), sumber nitrogen berupa protein sebesar 0.8% (wt/vol), dan lemak. Mineral yang terkandung dalam whey keju berupa garam sebesar 1% (wt/vol), fosfor, potasium, sodium, kalsium, besi, magnesium, seng, tembaga, mangan dan selenium. Vitamin
yang terkandung dalam whey keju berupa vitamin B6, vitamin B12, tiamin, riboflavin, dan asam pantotenat.
Penelitian pertumbuhan Auricularia spp. terhadap berbagai sumber nutrisi media sudah dilakukan oleh (Jo et al., 2014). Laktosa sebagai sumber karbon pada whey keju menghasilkan rata-rata pertumbuhan miselium Auricularia spp. sebesar 66,3 mm/14 hari.
whey keju mengandung vitamin berupa thiamine dan ribovlavin. Thiamine dapat menghasilkan rata-rata pertumbuhan miselium Auricularia spp. sebesar 51,8 mm/14 hari.
ribovlavin dapat menghasilkan rata-rata pertumbuhan miselium Auricularia spp. sebesar 52,54 mm/14 hari. whey keju mengandung asam organik berupa asam sitrat dan asam laktat. Asam sitrat dapat menghasilkan rata-rata pertumbuhan miselium Auricularia spp.
sebesar 43,38 mm/13 hari. asam laktat dapat menghasilkan rata-rata pertumbuhan miselium Auricularia spp. sebesar 55,76 mm/13 hari. NaCl sebagai sumber mineral pada whey keju menghasilkan rata-rata pertumbuhan miselium Auricularia spp. sebesar 53,76 mm/10 hari. Kandungan nutrisi seperti laktosa, thiamine, ribovlavin, asam sitrat, asam laktat, dan Nacl inilah yang meningkatkan pertumbuhan koloni jamur kuping pada whey keju.
Whey tahu menunjukkan peningkatkan pertumbuhan jamur kuping. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan whey tahu dapat mempercepat pertumbuhan diameter koloni jamur kuping dibanding dengan media PDA.
Pertumbuhan koloni ini disebabkan oleh nutrisi yang terkandung di whey tahu. Whey tahu memiliki kandungan nutrisi yang dapat mempercepat pertumbuhan jamur kuping, karena sel-sel jamur menyerap nutrisi lebih banyak dibandingkan dengan medium PDA.
Menurut Alfisyah & Susanto (2014) bahwa di dalam limbah cair tahu masih terdapat komponen organik seperti karbohidrat (25-50%), nitrogen (40 mg/l), protein (40-60%) dan lemak (10%) yang diperlukan jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) sebagai nutrisi pertumbuhan. Menurut Fahlange, Smith, & Rackis (1964) Whey tahu mengandung oligosakarida seperti sukrosa, rafinosa, galaktan, hemiselulosa, stachyose, dan berbagai glikosida. Nitrogen yang terkandung dalam whey tahu diantaranya berupa asam amino bebas, peptida, protein dan senyawa nitrogen lainnya.
29
Whey tahu juga mengandung fosfor dan garam fitat yang termasuk kedalam jenis mineral.
Penelitian pertumbuhan Auricularia spp. terhadap beberapa sumber nutrisi media whey tahu sudah dilakukan oleh (Jo et al., 2014). Pati merupakan sumber karbon dari whey tahu menghasilkan rata-rata pertumbuhan miselium Auricularia spp. sebesar 51,32 mm/14 hari. Asam asetat sebagai sumber asam organic pada whey tahu menghasilkan rata-rata pertumbuhan miselium Auricularia spp. sebesar 20,48 mm/13 hari.
Karbohidrat, protein, lemak, dan nitrogen merupakan beberapa sumber nutrisi pada media yang menjadi factor tumbuhnya miselium dengan optimum. Karbohidrat dan lemak berfungsi sebagai sumber energi jamur untuk pembentukan jaringan sel.
Protein berfungsi pembentukan dinding sel. Nitrogen berfungsi sebagai penyusun kitin polisakarida yang merupakan komponen untuk pembentukan asam amino dan dinding sel jamur. Vitamin berfungsi sebagai koenzim sedangkan mineral berfungsi dalam pertumbuhan jamur (Chang & Miles, 2004).
Selain nutrisi yang terkandung di dalam media, faktor abiotik tempat inkubasi media F0 berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur. Tempat inkubasi media F0 memiliki suhu 25-280C, kelembapan 70%, pH medium 5.6-6 dan kondisi lingkungan gelap. Faktor lingkungan tersebut telah memenuhi kriteria kondisi optimal untuk pertumbuhan jamur kuping (Nurilla et al., 2013).
Hasil yang berbeda ditunjukkan pada medium 60% whey keju, 60% whey keju, 80% whey tahu dan 80% whey tahu memiliki hasil yang sama secara signifikan (notasi a) dengan medium kontrol. Hasil pertumbuhan koloni di media whey keju 60%, whey keju 80%, whey tahu 60% dan whey tahu 80% tidak berbeda secara signifikan dengan kontrol disebabkan karena dipengaruhi oleh kondisi air yang tinggi di dalam media tanam yang dapat menyebabkan miselium busuk lalu mati (Satriayanto 2011).
Koloni juga membutuhkan oksigen dan karbondioksida yang cukup untuk pertumbuhannya. Pertumbuhan koloni pada 60% whey keju, 60% whey keju, 80% whey tahu dan 80% whey tahu lambat karena kurang terpenuhi kadar oksigen dan karbondioksida. Media yang kurang unsur oksigen akan mengakibatkan pertumbuhan koloni kecil dan abnormal yang akhirnya menimbulkan kematian (Djarijah & Djarijah
2001). Koloni membutuhkan kandungan karbondioksida yang tinggi sekitar 15-20%
dari volume udara. Jika karbondioksida terlalu tinggi akan menyebabkan pertumbuhan terganggu yang menghasilkan pertumbuhan koloni lambat (Adiyuwono, 2001).
Jamur kuping membutuhkan kandungan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan koloni yang optimal. Pertumbuhan koloni pada 60% whey keju, 60% whey keju, 80%
whey tahu dan 80% whey tahu lambat karena kandungan protein yang tinggi pada keempat media tersebut. Media F0 untuk pertumbuhan jamur membutuhkan kandungan protein sekitar 0,13-1% (Zurbano, 2018) dan (Bellettini et al., 2019). Jika kandungan protein terlalu sedikit maka dapat menghambat pertumbuhan koloni, sedangkan kelebihan protein dapat memperlambat pertumbuhan miselium (Yang, Guo,
& Wan, 2013)
4.2. Hasil Pertumbuhan Miselium Jamur Pada Media F1
Miselium jamur kuping yang telah ditumbuhkan pada media F1 selanjutnya ditumbuhkan pada media berupa biji jagung yang telah diberi perlakuan whey keju dan whey tahu. Hasil penelitian tentang media F1 meliputi warna, kerapatan, dan panjang miselium (cm) hari ke 7 hingga hari ke 14. Hasil pertumbuhan miselium di media F1 memiliki perbedaan ketinggian berdasarkan media yang digunakan. Hasil pertumbuhan miselium bibit F1 pada hari ke 7 tercantum pada lampiran 3. Lampiran 3 menunjukkan pertumbuhan miselium jamur di media jagung yang mengandung 20, 40, 60, dan 80%
whey keju yang diamati 7 hari setelah inokulasi dengan ketinggian masing-masing 6;
7,1; 4,9; dan 4,8 cm. Hasil yang berbeda pada pertumbuhan miselium jamur di media jagung yang mengandung 20, 40, 60, dan 80% whey tahu yang diamati 7 hari setelah inokulasi memiliki ketinggian 5,6; 6,13; 4,83; dan 4,77 cm. Hasil pertumbuhan miselium dari keseluruhan media whey keju dan media whey tahu memiliki hasil pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan media kontrol dengan ketinggian 4,67 cm.
Gambar 11A, 11B, 11C, 11D menunjukkan pertumbuhan miselium jamur di media jagung yang mengandung 20, 40, 60, dan 80% whey keju yang diamati 14 hari setelah inokulasi dengan ketinggian masing-masing 8,8; 9,33; 7,9; dan 7,7 cm. Gambar
31
12A, 12B, 12C, 12D menunjukkan pertumbuhan miselium jamur media jagung yang mengandung 20, 40, 60, dan 80% whey tahu yang diamati 14 hari setelah inokulasi dengan ketinggian masing-masing 8,63; 9,1; 7,83; dan 7,63 cm. Hasil pertumbuhan miselium dari keseluruhan media whey keju dan media whey tahu memiliki hasil pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan media kontrol dengan ketinggian 7,67 cm (Gambar 10).
Gambar 10. Hasil pertumbuhan miselium bibit F1 hari 14 kontrol (jagung)
Gambar 11. Hasil pertumbuhan miselium bibit F1 hari ke 14 whey keju
(A. 20% whey keju; B. 40% whey keju; C. 60% whey keju; D. 80% whey keju)
Gambar 12. Hasil pertumbuhan miselium bibit F1 hari ke 14 whey tahu
(A. 20% whey tahu; B.40% whey tahu; C.60% whey tahu; D. 80% whey tahu)
A B C D
A B C D
Pertumbuhan miselium pada 40% whey keju memiliki pertumbuhan yang tinggi jika dibandingkan penelitian (Syafitri, 2019a) memiliki ketinggian pertumbuhan miselium jamur kuping pada hari ke 7 dan 14 di media kacang hijau sebesar 2,1 dan 3,6 cm serta 1,7 dan 4,3 cm di media kacang merah, Wijayanti (2019) memiliki ketinggian pertumbuhan miselium jamur kuping pada hari ke 7 dan 14 di media sorgum sebesar 2,8 dan 4,5 cm serta di media kacang tolo sebesar 2 dan 3,2 cm, Nurchasanah (2019) memiliki ketinggian pertumbuhan miselium jamur kuping pada hari ke 7 dan 14 di media padi 3,5 dan 7,33 cm serta di media lamtoro 4,83 dan 7,66 cm.
Pertumbuhan miselium pada 40% whey keju memiliki ketinggian tertinggi dibanding media lain karena kandungan nutrisi seperti karbohidrat (laktosa), protein, nitrogen pada whey keju mampu meningkatkan pertumbuhan miselium jamur (Inglet, 2004) dan (Tariq et al., 2013).
Miselium yang terbentuk pada keseluruhan media F1 menunjukkan karakteristik yang sama yaitu miselium memiliki ketebalan tipis dan kerapatan merata berwarna putih (Gambar 10-12). Kandungan nutrisi yang dapat diserap dari media tanam mempengaruhi ketebalan miselium jamur. Apabila nutrisi yang dimiliki media tanam baik dapat membantu penebalan miselium jamur dan kecocokan nutrisi antara kebutuhan jamur dengan kandungan media tanam dapat menjadi factor ketebalan miselium jamur. Hasil pengamatan ini menunjukkan media jagung yang diberi whey keju dan whey tahu dapat digunakan sebagai media tanam F1 jamur kuping karena dapat beradaptasi dengan baik pada media biji jagung.
Menurut Ananda (2017), miselium akan tumbuh pada media setelah 3-4 hari inokulasi. Menurut Djuariah (2016), miselium jamur kuping yang ditanam pada media biji jagung akan tumbuh pada media setelah 3-5 hari dan akan tumbuh memenuhi botol 14-18 hari setelah inokulasi. Koloni akan terbentuk setelah miselium tumbuh pada permukaan media. Miselium yang tumbuh dengan baik memiliki warna putih seperti kapas dangan kerapatan pertumbuhan yang tinggi. Hasil pengamatan ini sejalan dengan penelitian Nurjannah (2016) bahwa miselium akan tampak berwarna putih kapas, padat tumbuh melekat dan sukar dilepaskan dari media tanamnya. Menurut Sugianto (2012), miselium bibit jamur bekerja efektif dengan memanfaatkan unsur-unsur yang tersedia
33
dalam substrat sehingga memacu pembentukan percabangan miselium, sehingga miselium memenuhi media dengan kerapatan bagus.
Selain itu, miselium yang baik tidak terdapat kontaminan didalam suatu media.
Menurut Sharma & Pandey (2010) bahwa kontaminan yang biasanya menyerang pada media berupa bakteri, kapang dan khamir. Koloni miselium berupa serat-serat berwarna hitam, hijau, coklat dan biru menunjukkan kontaminan dari cendawan, sedangkan lendir pada miselium menandakan adanya bakteri.
Hasil dari panjang miselium yang diamati dilakukan uji ANOVA. Hasil statistika ANOVA dalam rancangan acak tunggal pada lampiran 4 menunjukkan bahwa F hitung (4,375) lebih besar dari F tabel dengan taraf signifikan 5% (3,15), maka hipotesis penelitian H1 diterima. Hasil analisis ANOVA menunjukkan perbedaan pengaruh penggunaan whey keju dan whey tahu yang ditambahkan pada medium F1 terhadap kecepatan pertumbuhan jamur kuping. Jenis whey yang lebih baik dapat diketahui berdasarkan uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf signifikan 5%. Gambar 11 menunjukkan rata-rata pertumbuhan panjang miselium jamur kuping pada media F1 dengan pemberian whey keju dan whey tahu hari ke 7 hingga ke 14 yang sudah dilakukan uji BNT 5%.
Gambar 13. Rata-Rata Pertumbuhan miselium pada media F1
4,67
Rata-rata pertumbuhan miselium pada media F1 dari hari ke 7 sampai hari ke 14 mengalami peningkatan pertumbuhan berdasarkan gambar 13. Hasil pertumbuhan miselium di media F1 memiliki perbedaan ketinggian berdasarkan media yang digunakan. Hasil uji Beda Nyata Terkecil 5% yang disajikan pada gambar 13 menunjukkan bahwa kecepatan pertumbuhan jamur kuping yang ditumbuhkan pada medium 20% whey keju, 40% whey keju, 20% whey tahu dan 40% whey tahu ternyata berbeda secara signifikan (notasi b) dengan medium kontrol. Hasil yang berbeda ditunjukkan pada medium 60% whey keju, 60% whey keju, 80% whey tahu dan 80%
whey tahu memiliki hasil yang sama secara signifikan (notasi a) dengan medium kontrol. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa kedua macam whey, yaitu medium 20% whey keju, 40% whey keju, 20% whey tahu dan 40% whey tahu memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan dengan medium kontrol (PDA) dan whey keju dan whey tahu konsentrasi lainnya.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Inglet (2004) menyebutkan bahwa konsentrasi tinggi pada pemberian whey keju termodifikasi sebesar 100, 80, dan 60%
untuk pertumbuhan Lentinus edodes tidak menghasilkan pertumbuhan. Hasil berbeda pada whey keju termodifikasi pada konsentrasi rendah 10, 20 dan 40% menunjukkan pertumbuhan Lentinus edodes pertumbuhan lambat saat miselium memasuki substrat.
Menurut Alfisyah & Susanto (2014) konsentrasi 25-35% whey tahu mampu meningkatkan pertumbuhan jamur tiram dibanding kontrol. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi rendah pada pemberian whey keju sebesar 20 dan 40% serta whey tahu sebesar 20 dan 40% dapat meningkatkan pertumbuhan koloni jamur lebih baik dibanding dengan konsentrasi media yang tinggi.
Biji jagung lazim digunakan petani sebagai media tanam bibit F1. Pemilihan media F1 berupa biji jagung harus memiliki kualitas yang baik karena media digunakan sebagai sumber nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan miselium. Hasil analisis kandungan gizi menunjukkan bahwa 100 gr biji jagung mengandung karbohidrat sebanyak 73,3 gram, lemak sebanyak 3,9 gram dan protein sebanyak 9,2 gram (Wulandari, 2016) lebih tinggi dari biji jenis lain. Menurut Achmad (2013) media pertumbuhan harus memenuhi beberapa standar yaitu 1) biji dalam kondisi bagus yang
35
baru dipanen dan tua pada bonggolnya (kering) bukan yang berumur lama, 2) tidak terkontaminasi, 3) kondisi biji tidak rusak, 4) kadar air dalam biji tidak lebih dari 12%.
Gambar 13 menunjukkan bahwa media jagung yang diberi whey keju dan whey tahu memiliki pertumbuhan yang berbeda-beda tergantung dengan konsentrasi whey yang diberikan. Konsentrasi whey yang diberikan berpengaruh pada kondisi air di
Gambar 13 menunjukkan bahwa media jagung yang diberi whey keju dan whey tahu memiliki pertumbuhan yang berbeda-beda tergantung dengan konsentrasi whey yang diberikan. Konsentrasi whey yang diberikan berpengaruh pada kondisi air di