PEMANFAATAN WHEY KEJU MOZZARELLA DAN TAHU SEBAGAI NUTRISI TAMBAHAN PADA MEDIA
PERTUMBUHAN KOLONI JAMUR KUPING (Auricularia auricula-judae J.Schort)
RISQA AULIYA ADIANI
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2021M/ 1441 H
PERTUMBUHAN KOLONI JAMUR KUPING (Auricularia auricula-judae J.Schort)
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Pada Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
RISQA AULIYA ADIANI 11160950000062
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2021M/ 1441 H
i
iii
ABSTRAK
Risqa Auliya Adiani. Pemanfaatan Whey Keju Mozzarella Dan Tahu Sebagai Nutrisi Tambahan Pada Media Pertumbuhan Koloni Jamur Kuping (Auricularia auricula-judae J.Schort). Skripsi. Program Studi Biologi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2021. Dibimbing oleh Nani Radiastuti dan Noverita.
Whey keju dan whey tahu merupakan limbah cair industri pangan yang sering ditemukan di lingkungan, jika kedua jenis whey dibuang secara sembarangan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan whey keju mozzarella dan tahu sebagai media pertumbuhan jamur kuping. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan variasi media dalam tiga pengulangan. Variasi media untuk media F0 antara lain PDA, PDA+
whey keju, PDA + whey tahu dan media F1 jagung, jagung + whey keju, jagung + whey tahu. Data kecepatan pertumbuhan media F0 dianalisis dengan anova dan uji BNT 5%.
Media F1 diamati pertumbuhan koloni dan ketebalan pada hari 7 dan 14. Hasil anova menunjukan adanya perbedaan pengaruh penggunaan whey keju mozzarella dan whey tahu dalam mempercepat pertumbuhan jamur kuping pada media F0 dan F1 dibandingkan media kontrol. 20% dan 40% whey keju mozzarella serta 20% dan 40%
whey tahu mampu mempercepat pertumbuhan jamur secara signifikan dibanding dengan media kontrol, 60 dan 80% whey keju mozzarella, dan 60 dan 80% whey tahu. Penelitian ini menunjukkan 40% whey keju mozzarella memberi pengaruh lebih baik dibanding media F0 PDA atau media F1 jagung dalam mempercepat pertumbuhan koloni jamur kuping.
Kata kunci: jamur kuping, whey keju mozzarella, whey tahu
v
ABSTRACT
Risqa Auliya Adiani. Utilization of Mozzarella Cheese whey and Tofu whey as Additional nutritients in the Growth Media of Ear Mushroom Colonies (Auricularia auricula-judae J.Schort).Undergraduate Thesis. Department of Biology. Faculty of Science and Technology. State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta. 2021. Advised by Nani Radiastuti and Noverita.
Mozzarella cheese whey and tofu whey is food industry wastewater found in environment. If mozzarella cheese whey and tofu whey thrown away can cause environmental pollution. This research aim to make use of mozzarella cheese whey and tofu whey into mushroom colony medium. The type of research used was an experiment with a factorial randomized completed (CRD) design method consisting of variation of the media with repetitions. Medium variation of F0 are PDA, PDA + mozzarella cheese whey, PDA + tofu whey and the medium F1 are corn, corn + mozzarella cheese whey, corn + tofu whey. Data on the ear mushroom growth rate of F0 medium were analyzes by ANOVA and LSD test. The F1 medium was observed for colony growth, thickness on 7 and 14 days. ANOVA results showed that there were differences in the effect of using mozzarella cheese whey and tofu whey in accelerating the growth of ear mushroom on F0 and F1 media compared to control media. 20 and 40%whey mozzarella cheese and 20 and 40% tofu whey were able to significantly accelerate the growth of fungi compared to control media, 60 and 80% whey mozzarella cheese, and 60 and 80% tofu whey. This study showed that 40% whey mozzarella cheese gave a better effect than F0 media (PDA) or f1 media (corn) in accelerating the growth of ear fungus colonies.
Keywords: Ear mushroom, mozzarella cheese whey, tofu whey
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta'alla penulis ucapkan, karena berkat karunia serta rahmatNYA penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul “Pemanfaatan Whey Keju Mozzarella Dan Tahu Sebagai Nutrisi Tambahan Pada Media Pertumbuhan Koloni Jamur Kuping (Auricularia auricula-judae J.Schort)” dengan baik. Salawat serta salam penulis curahkan kepada nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang telah mengantarkan umat manusia dari zaman jahiliyyah menuju zaman yang terang benderang. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana di Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu serta mendukung penulis dalam penulisan skripsi ini. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Lily Surraya Eka Putri, M. Env. selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, beserta jajarannya.
2. Dr. Priyanti, M. Si selaku Ketua Program Studi Biologi dan Narti Fitriana, M,Si selaku Sekretaris Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta serta selaku dosen penguji dalam sidang munaqosah yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun dalam proses penulisan skripsi
3. Dr. Nani Radiastuti M.Si. dan Noverita, M.Si. selaku pembimbing 1 dan pembimbing II yang telah memberikan waktu, pemikiran, saran dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan penelitian serta penulisan skripsi.
4. Reno Fitri M.Si. dan Iwan Aminudin, S. Hut. M.Si. selaku penguji seminar proposal dan seminar hasil yang telah memberikan arahan dan saran yang membangun dalam penulisan skripsi.
vii
5. Kepala Pusat Laboratorium Terpadu, Puji Astuti S.Si, Nur Amaliah Solihat S.Si, Festi S.Si dan Arina Findo sari S.Si yang telah membantu dan memberikan saran kepada penulis saat penelitian di laboratorium.
6. Kedua orang tua penulis, Bapak Moch. Ady Martono dan Ibu Rumini serta adik Rafida Adinda Mahdy yang selalu memberikan semangat dan dukungan sehingga penulis dapat meneylesaikan penelitian skripsi dengan baik.
7. Teman-teman seperjungan, Yeni, Cica, Rafika, dan Shabrina yang telah memberikan semangat dalam menjalankan penelitian ini.
8. Semua pihak yang terlibat dan berkontribusi dalam penulisan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, namun penulis berharap dengan karya ilmiah berupa skripsi ini bisa bermanfaat bagi pengembang ilmu pengetahuan serta semua pihak yang memerlukan.
Jakarta, April 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 3
1.3. Hipotesis ... 3
1.4. Tujuan ... 3
1.5. Manfaat ... 4
1.6. Kerangka Berpikir ... 4
BAB. II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1. Jamur Kuping ... 5
2.2. Media Tumbuh Jamur Kuping ... 7
2.3. Whey Keju ... 8
2.4. Whey Tahu ... 10
BAB III. METODE PENELITIAN ... 11
3.1.Waktu dan Tempat ... 11
3.2.Alat dan Bahan ... 11
3.3.Rancangan Percobaan ... 11
3.4.Cara Kerja ... 13
3.4.1.Persiapan Pertumbuhan di Media F0 ... 13
3.4.2 Persiapan Penanaman Miselium di Media F1 ... 15
3.4.3 Analisis Kadar Proksimat Pada Whey ... 17
3.5.Analisis Data ... 19
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 21
4.1. Hasil Pertumbuhan Koloni Jamur Pada Media F0 ... 21
4.1.1. Fase Pertumbuhan Koloni Jamur Pada Media F0 ... 21
4.1.2. Hasil Diameter Koloni Jamur Pada Media F0 ... 23
4.1.3. Kecepatan Pertumbuhan Koloni Jamur Pada Media F0 ... 26
4.2. Hasil Pertumbuhan Miselium Jamur Pada Media F1 ... 30
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 38
5.1.Kesimpulan ... 38
5.2.Saran ... 38
ix
DAFTAR PUSTAKA ... 39 LAMPIRAN ... 46
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Kerangka berpikir penelitian ... 4
Gambar 2. Denah rancangan acak lengkap percobaan... 12
Gambar 3. Grafik fase pertumbuhan diameter koloni jamur selama 7 hari pada media kontrol ... 21
Gambar 4. Grafik fase pertumbuhan diameter koloni jamur selama 7 hari pada media whey keju ... 22
Gambar 5. Grafik fase pertumbuhan diameter koloni jamur selama 7 hari pada media whey tahu ... 22
Gambar 6. Hasil pertumbuhan koloni jamur kuping pada media F0 kontrol (PDA) .. 24
Gambar 7. Hasil pertumbuhan koloni jamur kuping pada media F0 whey keju ... 24
Gambar 8. Hasil pertumbuhan koloni jamur kuping pada media F0 whey tahu ... 24
Gambar 9. Pertumbuhan koloni pada media F0 pada hari ke tujuh ... 26
Gambar 10. Hasil pertumbuhan miselium bibit F1 hari 14 kontrol (jagung)... 31
Gambar 11. Hasil pertumbuhan miselium bibit F1 hari ke 14 whey keju ... 31
Gambar 12. Hasil pertumbuhan miselium bibit F1 hari ke 14 whey tahu ... 31
Gambar 13. Rata-Rata Pertumbuhan miselium pada media F1 ... 33
xi
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Komposisi pembuatan media F0 whey keju dan whey tahu ... 14 Tabel 2. Komposisi pembuatan media F1 whey keju dan whey tahu ... 16
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1. Hasil ANOVA tunggal pada pertumbuhan koloni jamur di media F1 ... 46 Lampiran 2. Kadar proksimat whey keju dan whey tahu ... 46 Lampiran 3. Hasil pertumbuhan miselium bibit F1 hari ke 7 ... 46 Lampiran 4. Hasil ANOVA tunggal pada pertumbuhan koloni jamur di media F1 ... 47
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Keju dan tahu merupakan bahan pangan yang tidak asing dikalangan masyarakat Indonesia. Industri keju dan tahu dalam produksinya akan menghasilkan limbah.
Limbah cair yang dihasilkan pada produksi keju dan tahu disebut whey. Whey dari hasil produksi keju dan tahu banyak yang dibuang ke lingkungan. Jika pembuangan limbah ini terus dilakukan dapat mencemari lingkungan karena whey masih mengandung beberapa kandungan gizi yang belum termanfaatkan. Volume susu yang dibuat menjadi keju sekitar 85 - 90% menghasilkan whey keju yang mengandung 55% nutrisi pada susu (Yusrina, Purwasih, & Fathurohman, 2019). Whey keju mengandung 50% padatan susu yang terdiri dari hampir 100% laktosa dan 20% total protein (Giroux, Veillette, &
Britten, 2018). Kandungan gizi yang masih terdapat di whey tahu antara lain karbohidrat (25-50%), lemak (10%) dan protein (40-60%) (Alfisyah & Susanto, 2014).
Whey keju dan tahu masih mengandung bahan organik yang dibuang sacara langsung ke lingkungan. Jika pembuangan limbah ini terus dilakukan dapat mencemari lingkungan, maka perlu dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan whey keju dan tahu.
Whey keju dan tahu bisa digunakan untuk budi daya jamur karena dalam budi daya jamur membutuhkan substrat yang mengandung karbohidrat, lemak dan protein untuk pertumbuhan jamur. Karbohidrat, lemak dan protein yang terkandung di dalam limbah pembuatan keju dan tahu dalam bentuk whey masih dapat dimanfaatkan. Biasanya substrat yang biasa digunakan untuk media F0 pada budi daya jamur adalah Potato Dextrose Agar (PDA). Media PDA dengan kualitas baik memiliki kekurangan yaitu harga yang mahal dan jamur tumbuh lambat pada media. Kecepatan pertumbuhan jamur di media PDA dapat dijelaskan pada penelitian Djuariah (2016) menunjukkan tiga spesies unggul jamur kuping (Auricularia spp.) yang ditumbuhkan di media PDA memiliki rata-rata kecepatan pertumbuhan koloni miselium 1,095 cm/hari.
Mayangsari, Hastuti, & Witjoro (2015) dalam penelitiannya menunjukkan jamur tiram
(Pleurotus ostreatus) yang ditumbuhkan di media PDA memiliki rata-rata kecepatan pertumbuhan koloni miselium 8,37 mm/hari sedangkan pada media whey keju mozarella 10,63 mm/hari dan media whey tahu 10,4 mm/hari.
Whey keju dan whey tahu sudah digunakan sebagai suplemen dalam pembuatan media tanam jamur, antara lain untuk media F1 dan media F2 dalam budi daya jamur tiram mengunakan serbuk kayu aspen dengan suplemen whey keju (Li-Shing-Tat &
Jelen, 1987), produksi miselium Ganoderma lucidum menggunakan whey keju (Lee, Song, Yu, & Hwang, 2003), pengaruh substitusi limbah cair tahu pada media tanam terhadap pertumbuhan dan produksi jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) (Alfisyah
& Susanto, 2014), dan pemanfaatan limbah tahu cair pada media tandan kosong kelapa sawit terhadap pertumbuhan jamur merang (Volvariella volvaceae) (Mirfa, 2018).
Menurut Alfisyah & Susanto (2014), whey tahu dengan konsentrasi 25% mampu meningkatkan produksi jamur tiram pada periode awal panen. Penelitian mengenai pemanfaatan whey keju dan tahu sebagai nutrisi tambahan pada media budi daya jamur kuping (Auricularia auricula) masih belum banyak dilakukan.
Penelitian ini menggunakan jamur kuping karena banyak dikonsumsi dan sering dibudidayakan di Indonesia (Agustini, Sufaati, Bharanti, & Runtuboi, 2018), mudah dijumpai secara liar maupun yang sudah ditangkar dan diperjual-belikan (Mumpuni, Purnomowati, & Risyanto, 2012). Jamur kuping salah satu jamur edible yang dapat hidup di kondisi iklim Indonesia yaitu suhu 25-28oC dan kelembapan 80-90%
(Djuariah, 2016).
Penelitian whey keju mozzarella dan tahu digunakan sebagai nutrisi tambahan pada media F0 untuk budi daya jamur tiram sudah dilakukan oleh Mayangsari, Hastuti, &
Witjoro (2015). Whey keju mozzarella dipilih sebagai sebagai nutrisi tambahan pada media pertumbuhan jamur karena pembuatan kejunya yang tidak dimatangkan mengandung 4.96±0.27% karbohidrat (De Meneses, MacIel, Da Rocha-Leão, &
Conte-Junior, 2020), 16,2% protein dan 0,9% lemak (Ismail, 2011) lebih tinggi dibanding jenis whey keju lain. Whey keju mozzarella dan tahu yang ditambahkan pada media biakan murni dapat mempercepat pertumbuhan koloni jamur tiram putih dibanding media PDA tanpa whey keju dan tahu.
3
Proses pengujian whey dilakukan dalam dua tahap yaitu pemberian whey pada media agar (F0) dan, media biji-bijian (F1). Kadar proksimat dilakukan dengan mengukur karbohidrat, lemak, dan protein. Kandungan karbohidrat dianalisis dengan metode titrimetri, protein dianalisis dengan metode kjeldahl, dan lemak dianalisis dengan metode soxhletasi. Kandungan proksimat dilakukan pada penelitian ini untuk mengetahui hubungan kadar proksimat whey keju dan tahu terhadap pertumbuhan koloni jamur kuping. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pengaruh penambahan whey keju mozarella dan whey tahu pada media F0 dan F1 untuk mempercepat pertumbuhan koloni jamur kuping dalam budi daya jamur kuping.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah apakah penambahan whey keju mozarella dan whey tahu pada media F0 dan F1 dapat mempercepat pertumbuhan koloni jamur kuping?
1.3. Hipotesis
Hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah penambahan whey keju mozzarella dan whey tahu pada media F0 dan F1 dapat mempercepat pertumbuhan koloni jamur kuping
1.4. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui apakah whey keju mozarella dan whey tahu dapat mempercepat pertumbuhan koloni jamur kuping sampai pertumbuhan di media F0 dan F1.
2. Menentukan konsentrasi perlakuan whey keju mozzarella dan whey tahu yang mampu mempercepat pertumbuhan koloni jamur kuping.
1.5. Manfaat
Penelitian ini bermanfaat bagi pembudidaya jamur, produsen pembuat keju dan tahu bahwa limbah industri whey keju mozzarella dan whey tahu pada media F0 dan F1 dapat mempercepat pertumbuhan jamur kuping.
1.6. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir pada penelitian ini dijelaskan sebagai berikut:
Gambar 1. Kerangka berpikir penelitian pembuatan media whey keju dan tahu untuk pertumbuhan koloni jamur kuping
Whey dari hasil sampingan pembuatan tahu dan keju banyak dibuang ke lingkungan
Mengandung banyak nutrisi untuk pertumbuhan jamur
Whey dimanfaatkan sebagai nutrisi untuk pertumbuhan jamur
Dihasilkan peningkatan pertumbuhan jamur kuping
Pembuatan media jamur F0 dan F1 yang ditambah whey tahu (20, 40, 60, 80%) /
whey keju (20, 40, 60, 80%)
Dianalisis hubungan kandungan proksimat kedua jenis whey terhadap
pengaruh pertumbuhan jamur Whey diuji kandungan proksimat
Data kandungan karbohidrat, protein dan lemak dianalisis pada kedua jenis whey
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Jamur Kuping
Jamur merupakan salah satu organisme penting ciptaan Allah SWT selain hewan, tumbuhan, manusia dan ciptaan Allah lainnya. Jamur merupakan salah satu ciptaan Allah SWT yang patut disyukuri dan dipelajari oleh manusia sebagaimana dalam QS Az-zumar (39) ayat 21 mengatakan:
“Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang- orang yang mempunyai akal sehat. (QS Az-zumar (39): 21).”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa proses tanaman tumbuh lalu menjadi kering dan hancur merupakan proses dekomposisi senyawa-senyawa organik yang dilakukan oleh Jamur. Proses ini menunjukkan bahwa jamur tersebut memberi manfaat bagi orang yang mengetahuinya. Selain itu, Allah SWT menuntut manusia untuk terus mempelajari kejadian yang terjadi di alam.
Ilmu biologi yang terus berkembang menunjukkan bahwa jamur memiliki peran penting diantaranya mendekomposisi senyawa-senyawa organik, bersimbiosis dengan tumbuhan membentuk mikoriza, bersimbiosis dengan hewan dalam mencerna
makanan, dan dapat dimanfaatkan nutrisinya untuk memenuhi kebutuhan tubuh manusia (Madingan, Martinko, Stahl, & Clark, 2011).
Jamur kuping (Auricularia auricula) merupakan salah satu jamur yang banyak dikonsumsi dan dibudayakan di Indonesia selain jamur shitake (Lentinula edodes), jamur merang (Volvariela volvaceae), dan jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) (Agustini et al., 2018) Auricularia spp. adalah jamur yang masuk ke dalam familia Auriculariaceae dan anggota Basidiomycetes. Kayu lapuk menjadi tempat tumbuh alami jamur ini. Ciri-ciri tubuh buah jamur ini bersifat kartilaginous, berlapis lilin dengan variasi warna mulai dari coklat sampai hitam jika dikeringkan (Mumpuni et al., 2012). Menurut Pasaribu (2019) jamur kuping memiliki miselium bersekat yang terdiri dari miselium primer (sel-sel miselium berinti satu, hasil dari perkecambahan basidiospora) dan miselium sekunder (sel-sel penyusun miselium berinti dua, hasil dari penggabungan dua inti kompatibel dari miselium). Menurut Utoyo (2010) bahwa Auricularia auricular disebut sebagai jamur kuping gajah atau jamur kuping merah (red jelly) karena tubuh buahnya berbentuk seperti kuping.
Jamur kuping dapat tumbuh dengan baik pada kondisi lingkungan dengan kelembapan tinggi (75-90%), pH sekitar 4,5-7,5 dan suhu sekitar 25-280C seperti di Indonesia merupakan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan jamur kuping (Mumpuni et al., 2012; Nurilla, Setyobudi, & Nihayati, 2013). Jamur kuping bisa didapatkan secara liar di alam dan yang sudah dijual-belikan dalam bentuk bibit jamur hasil budi daya atau jamur kering yang siap konsumsi (Mumpuni et al., 2012).
Jamur kuping dapat bereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual dengan frakmentasi hifa, sementara reproduksi seksual dengan persatuan dua hifa yang kompatibel. Tubuh buah jamur kuping disebut basidokarp. Basidiokarp memiliki sel dikariotik terminal disebut basidium. Basidium mengalami karyogami menghasilkan inti diploid. Inti diploid mengalami meiosis membentuk 4 inti haploid (basidiospora). Siklus hidup jamur kuping diawali dengan basidiospora yang jatuh di tempat dengan kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhannya. Spora akan berkecambah membentuk miselium haploid (fase 1). Fase ini dapat ditemukan saat perbanyakan media F0. Dua miselium yang berbeda tipe mating bersatu dan
7
mengalami plasmogami membentuk miselium dikariotik. Fase ini dapat ditemukan saat perbanyakan media F1. Jika kondisi iklim memungkinkan maka miselium dikariotik membentuk tubuh buah. Fase ini dapat ditemukan saat produksi jamur (Madingan et al., 2011)
Jamur kuping kaya akan kandungan protein dan karbohidrat dibandingkan dengan sayur-sayuran. Menurut Setyawati (2019), jamur kuping memiliki sifat hipoglikemia, antivirus, antibakteri, penghambat sel-sel kanker, immunostimulator, efek menurunkan kolestrol serta kandungan protein sebesar 7,7%, karbohidrat sebanyak 73,6%. Literatur lain menyebutkan jamur kuping mengandung air 89,1%, karbohidrat 2,8 %, lemak 5,3 %, protein 4,2%, serat 19,8%, N bebas 63%, abu 4,7%, dan kalori 351 mg (Chang, Buswell & Chiu, 1993).
2.2. Media Tumbuh Jamur Kuping
Media tumbuh untuk jamur kuping merupakan proses awal yang menentukan bahan-bahan yang digunakan untuk pertumbuhan jamur. Kegiatan ini sangat penting karena dapat mempengaruhi kualitas pertumbuhan jamur. Media F0 untuk pertumbuhan jamur kuping digunakan media Potato Dextrose Agar (PDA). PDA adalah media yang mengandung sari kentang, dexstrose dan agar. Media PDA dapat dibuat sendiri maupun dibeli di distributor bahan laboratorium. Menurut Chang &
Miles (2004), media PDA mengandung sari kentang 200 g, dextrose 20 g, dan agar 20 g dalam 1 liter air. Selain itu, bahan alternatif pengganti media PDA bisa digunakan dari limbah pertanian atau industri. Sumber substrat media lain yang dapat digunakan seperti limbah kapas, jerami padi, serbuk gergaji, ampas tebu, sisa selulosa, rerumputan liar (Kalutharage & Rathnasinghe, 2019), dedak, gandum, serbuk kayu ek (Xue, Zong, Liu, & Wei, 2019), ampas kedelai (Zhang, Yao, & Song, 2016), whey keju, dan whey tahu (Mayangsari et al., 2015).
Biji-bijian digunakan sebagai media tumbuh jamur untuk perbanyakan media F1. Biji-bijian yang bisa digunakan untuk media pertumbuhan F1 diantaranya sorgum (Maulidina, Eko, & Nawawi, 2015), jagung (Sugiyanto, 2016), biji padi dan biji kacang panjang (Fiantiningsih, 2017), tauge kacang hijau, beras merah, kacang merah, dan
kedelai (Wulandari, 2016). Pembuatan media F1 dengan biji-bijian lebih dipilih daripada media kayu karena murah, tingkat keberhasilan tinggi dan mudah pembuatannya (Rachmat, 2000).
Media tumbuh jamur di media F2 antara lain serbuk gergaji, dedak, dan kapur.
Komposisi media tumbuh beragam. Penelitian Djuariah (2016) menggunakan media tumbuh antara lain serbuk gergaji 82%, dedak 10%, kapur 2%, TSP murni 3% dan gypsum 3%. Sedangkan penelitian Nurcahyo & Susantiningrum (2015) menggunakan serbuk gergaji, dedak halus (bekatul), dan kapur dengan komposisi masing-masing 81, 18 dan 1%. Bahan-bahan tersebut dicampur sebagai bahan dasar baglog untuk pertumbuhan jamur.
Serbuk kayu gergaji mengandung zat yang dapat membantu atau menghambat pertumbuhan jamur. Menurut Kalsum, Fatimah, & Catur (2011) Kayu yang mengandung karbohidrat, selulosa, lignin, hemiselulosa, dan serat dapat membantu pertumbuhan jamur sebaliknya kayu yang mengandung getah dan ekstraktif (zat pengawet alami pada kayu) dapat menghambat pertumbuhan jamur. Oleh karena itu, serbuk kayu yang digunakan untuk menumbuhkan jamur sebaiknya berasal dari kayu yang tidak memiliki zat ekstraktif (Hartartiyana, 2014).
Kapur ditambah pada media untuk mengatur tingkat kemasaman media dan sumber kalsium. Bekatul ditambah pada media sebagai sumber karbon (C), nitrogen (N), karbohidrat, vitamin B1, dan B2. Bekatul yang digunakan harus masih baru dan tidak bau tengik dari berbagai jenis padi. Dedak digunakan untuk meningkatkan nutrisi media tanam seperti sumber karbon (C), nitrogen (N), dan karbohidrat. Air digunakan sebagai pembentuk kelembapan dan sumber air bagi pertumbuhan jamur (Makmur, 2019). Gypsum atau CaSO4 berfungsi untuk mengokohkan media baglog dan sumber kalsium (Ca) (Zubaidah, Saputera, & Sartika, 2013).
2.3. Whey Keju
Limbah cair yang dihasilkan oleh keju disebut sebagai whey. Whey keju dihasilkan dari pemisahan hasil penggumpalan susu dengan enzim rennet berupa curd. Volume susu yang dibuat menjadi keju sekitar 85 - 90% menghasilkan whey keju yang
9
mengandung 55% nutrisi pada susu (Yusrina et al., 2019). Whey keju mengandung 50%
padatan susu yang terdiri dari hampir 100% laktosa dan 20% total protein (Giroux et al., 2018). Kandungan vitamin yang terdapat di dalam whey keju antara lain vitamin B6, vitamin B12, asam pantotenik, ribovlavin, dan thiamin (Tariq, Sameen, Khan, Huma, & Yasmin, 2013). Whey keju mengandung 93,42% air, 0,46% abu, 0,22% kadar asam laktat, 0,76% protein, 5,43% laktosa dan pH 4,6 (Nursiwi, Utami, Andriani, &
Purnama Sari, 2015). Menurut (Kartikasari, 2017) 10 liter susu untuk memproduksi 1 kg keju dapat menghasilkan 8 - 9 liter Whey.
Keju lunak yang proses pembuatannya tidak dimatangkan atau disebut keju segar disebut keju mozzarella. Keju ini digumpalkan menggunakan enzim rennet. Enzim protease yang didapat dari lambung anak sapi disebut enzim rennet (Kartikasari, 2017).
Selain susu dan rennet, keju mozzarella dibuat dari beberapa komposisi yang berbeda- beda seperti asam sitrat, garam, Sodium tripolyphosphate (STPP), Carboxymethyl cellulose (CMC), natrium sitrat (Rohmatussolihat, Nurindah Sari, Lisdiyanti, Widyastuti, & Sukara, 2015), garam beryodium, pemantap kalsium klorida, kultur laktat (Bahar 2018), kultur bakteri (Streptococcus thermophylus) (Cupi, 2020), Lactococcus lactis (Haryanto, 2013).
Keju mozzarella akan menghasilkan produk sampingan berupa whey. Whey dari pembuatan keju mozzarella mengandung 4.96±0.27% karbohidrat (De Meneses et al., 2020), 16,2% protein dan 0,9% lemak (Ismail, 2011) lebih tinggi dibanding jenis whey keju lain. Whey keju ricotta mengandung karbohidrat 4.51±0.17%, protein 0.51±0.04%, dan lemak 0,02% (De Meneses et al., 2020). Whey Keju cheddar mengandung karbohidrat 4.36% dan protein 1,59% (Gernigon, Piot, Beaucher, Jeantet,
& Schuck, 2009). Whey Keju feta mengandung karbohidrat 5.07%, protein 1.3%, dan lemak 0.03% (Boumba, Voutsinas, & Philippopoulos, 2001).
Penelitian mengenai pemanfaatan whey keju untuk media pertumbuhan jamur masih sangat minim. Beberapa penelitian tentang pemanfaatan whey keju antara lain untuk penanaman jamur tiram pada serbuk kayu aspen (Li-Shing-Tat & Jelen, 1987), substrat alternatif produksi miselium Ganoderma lucidum (Lee et al., 2003), dan media biakan murni jamur tiram (Mayangsari et al., 2015).
Penelitian Lee et al., (2003) menunjukkan whey keju dapat meningkatkan produksi miselium Ganoderma lucidum. Penelitian Mayangsari et al. (2015) menggunakan whey keju sebagai bahan tambahan untuk media F0 pada jamur tiram putih. Berdasarkan penelitian tersebut, media yang ditambah dengan whey keju dapat mempercepat pertumbuhan jamur tiram putih dibanding dengan media PDA.
2.4. Whey Tahu
Whey tahu atau air dadih dari produksi tahu masih mengandung bahan-bahan organik yang berguna untuk pertumbuhan jamur. Bahan organik yang terdapat pada whey tahu antara lain karbohidrat (25-50%), lemak (10%) dan protein (40-60%) (Alfisyah & Susanto, 2014). Whey tahu masih mengandung bahan organik banyak dibuang ke sungai oleh para produsen tahu. Jika whey tahu terus dibuang ke sungai, maka bahan-bahan organik yang terdapat pada whey tahu dapat mencemari lingkungan.
Penelitian mengenai pemanfaatan whey tahu untuk media pertumbuhan jamur masih sangat minim. Beberapa penelitian tentang pemanfaatan whey tahu antara lain untuk media tandan kosong kelapa sawit terhadap pertumbuhan jamur merang (Mirfa, 2018), media tanam untuk pertumbuhan dan produksi jamur tiram putih (Alfisyah & Susanto, 2014) dan media biakan murni jamur tiram putih (Mayangsari et al., 2015).
Penelitian Mayangsari et al. (2015) menggunakan whey tahu sebagai bahan tambahan untuk media F0 pada jamur tiram putih. Berdasarkan penelitian tersebut, media yang ditambah dengan whey tahu dapat mempercepat pertumbuhan jamur tiram putih dibanding dengan media PDA.
11 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari - April 2021. Penelitian dilakukan di Pusat Laboratorium Terpadu Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta. Analisis kadar proximat jamur (kadar protein, lemak dan karbohidrat) dilakukan di Laboratorium Terpadu IPB Bogor, Jawa Barat.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah pinset, pisau bedah, sendok teh, sedotan diameter 5 mm, magnetic stirrer, hot plate, pembakar spirtus, cawan petri diameter 9 cm, autoklaf, inkubator, plastic wrap kecil, pH meter, oven, eksilator, timbangan analitik, erlenmeyer 1000 mL, gelas ukur 1000 mL, cawan porselin, botol kaca ukuran 75-100 g, laminar airflow cabinet, alat tulis, kamera, panci volume 6,8 kg, dan drum.
Bahan utama yang digunakan adalah jamur kuping dari Laboratorium Mikologi IPB, alkohol 70%, kertas steril, whey keju mozzarella dari produsen keju trie’s cheese Kota Depok, whey tahu dari Pabrik Tahu di Kedaung, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, bubuk PDA, label, kertas saring steril, kapas, 3 kg jagung, suplemen, alumunium foil, plastik tahan panas.
3.3. Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 9 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan dapat dilihat pada gambar 2. Koloni miselium jamur kuping ditumbuhkan ke media F0 (media pertumbuhan awal dengan menggunakan PDA) berupa media agar lalu miselium yang dihasilkan dipindah ke media F1 (media jagung) dengan tiap perlakuan dilakukan 3 kali pengulangan.
Kontrol PK1 PK2 PK3 PK4 PT1 PT2 PT3 PT4
Kontrol PK1 PK2 PK3 PK4 PT1 PT2 PT3 PT4
Kontrol PK1 PK2 PK3 PK4 PT1 PT2 PT3 PT4
Gambar 2. Denah Rancangan Acak Lengkap percobaan
Keterangan:
Kontrol: F0 (PDA) dipindahkan ke media F1 (jagung)
PK1: F0 (PDA + whey keju 20%) dipindahkan ke media F1 (jagung + whey keju 20%) PK2: F0 (PDA + whey keju 40%) dipindahkan ke media F1 (jagung + whey keju 40%) PK3: F0 (PDA + whey keju 60%) dipindahkan ke media F1 (jagung + whey keju 60%) PK4: F0 (PDA + whey keju 80%) dipindahkan ke media F1 (jagung + whey keju 80%) PT1: F0 (PDA + whey tahu 20%) dipindahkan ke media F1 (jagung + whey tahu 20%) PT2: F0 (PDA + whey tahu 40%) dipindahkan ke media F1 (jagung + whey tahu 40%) PT3: F0 (PDA + whey tahu 60%) dipindahkan ke media F1 (jagung + whey tahu 60%) PT4: F0 (PDA + whey tahu 80%) dipindahkan ke media F1 (jagung + whey tahu 80%)
Tahap perbanyakan di media F0 dilakukan 3x pengulangan Tahap penanaman di media F1 dilakukan 3x pengulangan PK : PDA + whey keju
PT : PDA + whey tahu
13
3.4. Cara Kerja
Penelitian ini dilakukan persiapan pertumbuhan koloni di media F0, persiapan penanaman miselium di media F1.
3.4.1. Persiapan Pertumbuhan di Media F0 3.4.1.1. Pembuatan Media PDA
Pembuatan medium PDA dilakukan dengan cara 13 g bubuk PDA dilarutkan dengan akuades 333 mL. Selanjutnya media PDA dihomogenkan menggunakan magnetic stirrer di atas hot plate. Lalu disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 1210C dengan tekanan 1,5 atm selama 15 menit. Kemudian media yang telah steril didinginkan hingga mencapai suhu 45-500C dan dituang ke cawan Petri steril.
3.4.1.2. Pembuatan Media PDA + Whey Keju/Tahu
Pembuatan medium PDA+ whey keju/tahu dilakukan dengan cara persiapan whey keju dan whey tahu. Sebanyak 120 ml whey keju dilakukan pemanasan 85-950C selama 15 menit dan dibiarkan di suhu ruang selama 24 jam. Proses ini dilakukan sebanyak 3x (Sakinah, 2018). Hari ke 3 sebelum dilakukan pemanasan, whey keju dan whey tahu terlebih dahulu diatur pH dengan penambahan NaOH hingga mencapai pH 6 dan ditambahkan 1,8 g agar. Lalu, whey dihomogen kembali dengan magnetic stirrer.
Sebanyak 9,36 g bubuk PDA dilarutkan dengan akuades 120 mL. Selanjutnya media PDA dihomogenkan menggunakan magnetic stirrer di atas hot plate. Lalu disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 1210C dengan tekanan 1,5 atm selama 15 menit. Media PDA dan whey keju/tahu dimasukkan dan dicampur ke Erlenmeyer dengan konsentrasi yang tercantum pada tabel 1.
Tabel 1. Komposisi pembuatan media F0 whey keju dan whey tahu
Kemudian media yang telah steril didinginkan hingga mencapai suhu 45-500C.
lalu media dituang ke cawan Petri steril.
3.4.1.3. Inokulasi Eksplan Jamur Kuping
Jamur kuping dipotong di dekat ujung atas tangkai, dan diletakkan di selembar kertas bersih. Jamur dibiarkan di atas kertas selama 10 menit. Cetakan spora pertama dibuang karena kemungkinan terdapat bakteri dan mikroorganisme lain. Selanjutnya jamur diletakkan di atas selembar kertas bersih dan tutupi dengan gelas kimia bersih untuk menghilangkan arus udara. Spora akan ditumpahkan di atas kertas steril selama 20 hingga 30 menit. Cetakan spora siap digunakan untuk inokulasi (Chang & Miles, 2004). Spora jamur kuping diletakkan di cawan berisi media PDA. Media PDA diinkubasi di suhu 25-280C selama 4 sampai 5 hari. Miselium yang terbentuk di atas PDA dipotong dengan diameter 5 mm menggunakan pisau yang sudah disterilkan.
Potongan jamur kuping tersebut dimasukkan ke media PDA, media PDA + whey tahu, media PDA + whey keju. Cawan Petri yang sudah dimasukkan eksplan lalu diinkubasi di inkubator (25-280C dan pH 6) selama 7 hari (Mayangsari et al., 2015).
Media Komposisi
PK1 PDA 80% (48 mL) + whey keju 20% (12 mL) PK2 PDA 60% (36 mL)+ whey keju 40% (24 mL) PK3 PDA 40% (24 mL) + whey keju 60% (36 mL) PK4 PDA 20% (12 mL) + whey keju 80% (48 mL) PT1 PDA 80% (48 mL) + whey tahu 20% (12 mL) PT2 PDA 60% (36 mL)+ whey tahu 40% (24 mL) PT3 PDA 40% (24 mL) + whey tahu 60% (36 mL) PT4 PDA 20% (12 mL) + whey tahu 80% (48 mL)
15
3.4.1.4. Pengamatan Koloni Jamur Pada Media F0
Data diameter koloni merupakan hasil rerata pengukuran diameter koloni berdasarkan (Handiyanto, Hastuti, & Prabaningtyas, 2013). Pengukuran kecepatan pertumbuhan koloni jamur (mm/hari) dilakukan menggunakan rumus kecepatan tumbuhan. Teknik pengumpulan data dengan diukur rata-rata diameter koloni jamur kuping pada masing-masing perlakuan setiap hari dari hari ke 4 dan 7 setelah inokulasi.
Rumus untuk menghitung kecepatan pertumbuhan (v) menurut Lilly dan Barnet (1951); Chang & Miles (2004) sebagai berikut.
Kecepatan pertumbuhan (v)
=diameter koloni akhir (7 hari)-diameter koloni awal (4 hari) rentang hari pengukuran
3.4.2. Persiapan Penanaman Miselium di Media F1 3.4.2.1 Pembuatan Media Kontrol
Metode yang digunakan untuk persiapan penanaman di media F1 berdasarkan penelitian Djuariah (2016), Maulidina et al. (2015) dan Sugiyanto (2016). Jagung digunakan sebagai media F1. 3 kg jagung dicuci dengan air yang mengalir. Jagung direndam selama kurang lebih 3-4 jam (Syafitri, 2019a). Jagung dikukus selama 30-40 menit kemudian didinginkan. Kemudian dikemas menggunakan botol kaca kapasitas 75-100 g/botol kaca yang sudah disterilkan sebelumnya. Jagung dimasukkan ke botol dengan mengisinya setinggi 11 cm dari 19 cm tinggi botol. Botol ditutup dengan kapas steril dan kertas steril. Botol disterilisasi di dalam panci kukusan 85-90oC selama 8 jam (Djuariah, 2016).
Alat, bahan dan ruang tempat memindahkan bibit disterilkan dengan menyemprotkan alcohol 70% dan sinar UV. Bibit F0 berupa miselium dalam cawan dipotong 1 cm2 dengan pisau steril dan ditanam ke jagung dengan pinset steril di dalam Laminar airflow cabinet. Kemudian media diinkubasi suhu 25-280C dengan
kelembapan 60-70% sampai miselium jamur tumbuh 100% memenuhi media F1 dan miselium menebal/siap digunakan. Pengamatan dilakukan dengan menghitung pertumbuhan miselium pada minggu 1 dan minggu 2. Pertumbuhan miselium ditentukan dengan mengukur miselium dari media dekat bibir botol sampai miselium yang memenuhi media (Syafitri, 2019b).
3.4.2.2 Pembuatan Media F1 dengan Penambahan Whey Keju/ Whey Tahu Metode yang digunakan untuk persiapan penanaman di media F1 berdasarkan penelitian Djuariah (2016), Maulidina et al. (2015) dan Sugiyanto (2016). Sebanyak 3 kg jagung dicuci dengan air yang mengalir. Jagung direndam suplemen (whey keju / whey tahu) dan diaduk sampai seluruh permukaan jagung terlapisi suplemen. Jagung direndam selama kurang lebih 3-4 jam (Syafitri, 2019a). Lalu, jagung dikukus selama 30-40 menit kemudian didinginkan. Selanjutnya siapkan 3 kg jagung yang dicuci dengan air yang mengalir. Jagung dikukus selama 30-40 menit lalu didinginkan.
Jagung dan whey keju/tahu dicampur ke dalam botol kaca kapasitas 75-100 g/botol kaca dengan komposisi campuran seperti pada tabel 2. Kemudian, botol ditutup dengan kapas steril dan kertas steril. Botol disterilisasi di dalam panci kukusan 85-90oC selama 8 jam (Djuariah, 2016).
Tabel 2. Komposisi pembuatan media F1 whey keju dan whey tahu Media Komposisi
PK1 Jagung 80% (80 g) + jagung whey keju 20% (20 g) PK2 Jagung 60% (60 g )+ jagung whey keju 40% (40 g) PK3 Jagung 40% (40 g) + jagung whey keju 60% (60 g) PK4 Jagung 20% (20 g) + jagung whey keju 80% (80 g) PT1 Jagung 80% (80 g) + jagung whey tahu 20% (20 g) PT2 Jagung 60% (60 g )+ jagung whey tahu 40% (40 g) PT3 Jagung 40% (40 g) + jagung whey tahu 60% (60 g) PT4 Jagung 20% (20 g) + jagung whey keju 80% (80 g)
17
Alat, bahan dan ruang tempat memindahkan bibit disterilkan dengan menyemprotkan alcohol 70% dan sinar UV. Bibit F0 berupa miselium dalam cawan dipotong 1 cm2 dengan pisau steril dan ditanam ke media jagung dengan pinset steril di dalam Laminar airflow cabinet. Kemudian diinkubasi suhu 25-280C dengan kelembapan 60-70% pada sampai miselium jamur tumbuh 100% memenuhi media F1 dan miselium menebal/siap digunakan. Pengamatan dilakukan dengan menghitung pertumbuhan miselium pada minggu 1 dan minggu 2. Pertumbuhan miselium ditentukan dengan mengukur miselium dari media dekat bibir botol sampai miselium yang memenuhi media (Syafitri, 2019b)
3.4.3. Analisis Kadar Proksimat Pada Whey
Analisis kadar proksimat dilakukan untuk mengetahui kadar protein kasar, kadar lemak dan kadar karbohidrat pada whey keju dan tahu. Analisis kadar proximat (Protein dan lemak) menggunakan metode yang bersumber dari SNI 01-2891-1992 (1992). Analisis kadar karbohidrat menggunakan metode yang bersumber dari Chemists (1990).
3.4.3.1. Analisis Kadar Protein Kasar
Kadar protein kasar pada whey diukur dengan metode kjeldahl. Metode kjeldahl terdiri dari tiga tahap yaitu destruksi, distilasi dan titrasi. Sampel yang telah dihaluskan ditimbang 1 g. Lalu, sampel dimasukkan ke dalam labu Kjeldahl 200 ml (dapat juga menggunakan tabung reaksi). Larutan ditambahkan dengan 1 g CuSO4 dan ditambah dengan 2,5 mL H2SO4 pekat. Selanjutnya, cuplikan didestruksi selama 2 jam pada suhu 1000C. Setelah hasil destruksi didinginkan. Kemudian, hasil destruksi dimasukkan ke dalam labu bulat yang telah diberi batu didih, 50 mL akua DM (demineralisasi) dan 15 mL NaOH 50 % w/v. Selanjutnya, larutan dilakukan distilasi. Distilat ditampung dalam erlenmeyer yang berisi 10 mL HCL 0,02N; 4 tetes metil merah dan 4 tetes metilen biru hingga volume total mencapai 40 mL. Kemudian, larutan dalam erlenmeyer dititrasi dengan larutan NaOH yang telah distandarisasi dengan larutan H2C2O4 0,02 N. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari ungu menjadi hijau. Volume NaOH
yang digunakan untuk titrasi dicatat. Replikasi untuk masing-masing cuplikan sebanyak lima kali. Perhitungan kadar protein total diperoleh dengan rumus:
Kadar protein kasar(%)
=
(NaOH untuk penitar blanko(mL)-NaOH untuk titar sampel(mL )x konsentrasi NaOH x 14,008 x 0,65
bobot sampel (g) x 100%
3.4.3.2. Analisis Kadar Lemak Total
Kadar lemak total pada whey diukur dengan metode soxhletasi. 2 g sampel ditimbang, lalu dimasukkan ke dalam kertas saring yang dialasi kapas. Kertas saring yang berisi sampel disumbat dengan kapas, selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu tidak lebih dari 80º C selama ± 1 jam. Kertas berisi sampel dimasukkan ke dalam alat Soxhlet yang sudah dihubungkan dengan labu lemak berisi batu didih yang telah dikeringkan dan diketahui bobotnya. Setelah itu, diekstrak dengan pelarut petroleum eter selama lebih kurang 6 jam. Petroleum eter disulingkan dan ekstrak lemak dikeringkan dalam oven pada suhu 105ºC. Lalu didinginkan dan ditimbang hingga bobot tetap. Perhitungan kadar lemak total diperoleh dengan rumus:
Kadar lemak total (%)
=bobot labu lemak sesudah ekstraksi(g)-bobot labu lemak sebelum ekstraksi(g)
bobot sampel(g) x 100%
3.4.3.3. Analisis Kadar Karbohidrat
Penetapan kadar karbohidrat dalam bentuk pati dilakukan berdasarkan metode titrimetri. Sebanyak 2 g bahan dimasukkan kedalam erlenmeyer, lalu ditambahkan akuades sampai volume 50 mL. Kemudian disentrifus selama 15 menit dengan kecepatan 5000 rpm. Suspensi disaring dengan kain saring, dan endapannya dicuci dengan akuades sampai diperoleh filtrat sebanyak 250 ml. Endapan dipindahkan secara kuantitatif dari kain saring kedalam erlenmeyer 500 ml dengan pencucian menggunakan 200 ml akuades kemudian ditambahkan HCl 25% sebanyak 20 ml,
19
dihidrolisis dibawah pendingin balik selama 1,5 jam dan didinginkan. Selanjutnya dinetralkan dengan NaOH 45% dan dilakukan pengenceran sampai volumenya 500 ml.
Lalu disaring dengan kain saring.
Sebelum penentuan kadar pati sampel, terlebih dahulu dibuat kurva standar dengan membuat larutan glukosa standar (10 mg glukosa anhidrat/100 ml air), dari larutan glukosa standar tersebut dilakukan 6 kali pengenceran sehingga diperoleh larutan glukosa dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 mg/ml. Sebanyak 7 buah tabung reaksi bersih, masing-masing diisi dengan 1 ml larutan glukosa standar tersebut di atas.
Satu tabung diisi akuades sebagai blanko. Kemudian dalam tabung reaksi ditambahakan fenol 5% sebanyak 1 ml. Panaskan dengan penangas air pada suhu 30oC selama 20 menit. Kurva standar glukosa dengan OD (Optical Density). Optical density masing-masing larutan tersebut dibaca pada panjang gelombang 490 nm. Penentuan kadar pati sampel dilakukan seperti cara penentuan kurva standar glukosa. Jumlah kadar pati ditentukan berdasarkan OD larutan contoh dan kurva standar dapat dihitung berdasarkan rumus berikut:
kadar pati (%)=
Glukosa yang diperoleh dari kurva standar x Volume sampel (ml) x Faktor pengenceran sampel x 0,9
bobot sampel (g) x 100%
3.5. Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan analisis gabungan ANOVA. Apabila hasil uji ANOVA menunjukkan perbedaan pengaruh yang signifikan penggunaan whey keju dan whey tahu yang terhadap kecepatan pertumbuhan jamur kuping. Pendugaan hasil uji dibagi menjadi hipotesis nol (H0) hipotesis satu (H1).
H0: tidak terdapat perbedaan nyata penggunaan whey keju dan whey tahu terhadap kecepatan pertumbuhan jamur kuping.
H1: terdapat perbedaan nyata penggunaan whey keju dan whey tahu terhadap kecepatan pertumbuhan jamur kuping.
Hasil analisis anova yang memiliki perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji beda perlakuan menggunakan uji BNT pada taraf P. 0,05. Uji BNT dilakukan untuk menentukan macam whey yang lebih mampu dalam mempercepat pertumbuhan koloni jamur kuping.
21 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pertumbuhan Koloni Jamur Pada Media F0 4.1.1. Fase Pertumbuhan Koloni Jamur Pada Media F0
Hasil pengukuran diameter pertumbuhan koloni jamur kuping yang ditumbuhkan pada media whey keju mozarella dan whey tahu untuk menentukan kecepatan pertumbuhan hari ke 4 dan hari ke 7 setelah penanaman. Fase pertumbuhan yang terjadi pada rata-rata diameter koloni jamur kuping secara keseluruhan dari awal penanaman (0 hari) sampai akhir pengamatan (7 hari) dapat dilihat pada gambar 3-5.
Gambar 3. Grafik fase pertumbuhan diameter koloni jamur selama 7 hari pada media kontrol
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4
0 2 4 7
diameter koloni (cm)
Hari penanaman Pertumbuhan diameter koloni
Gambar 4. Grafik fase pertumbuhan diameter koloni jamur selama 7 hari pada media whey keju
Gambar 5. Grafik fase pertumbuhan diameter koloni jamur selama 7 hari pada media whey tahu
Data pada gambar 3-5 menunjukkan hari pertama penanaman koloni jamur masuk ke tahap lag. Fase lag dilihat dari tidak dihasilkannya koloni karena pada awal penanaman koloni masih harus beradaptasi dengan kondisi media yang digunakan.
0 1 2 3 4 5 6 7 8
0 2 4 7
diameter koloni (cm)
Hari penanaman
PDA+ whey keju 20% PDA+ whey keju 40%
PDA+ whey keju 60% PDA+ whey keju 80%
0 1 2 3 4 5 6 7
0 2 4 7
diameter koloni (cm)
Hari penanaman
PDA+ whey tahu 20% PDA+ whey tahu 40%
PDA+ whey tahu 60% PDA+ whey tahu 80%
23
Hari ke 2-7 merupakan fase eksponensial yaitu kondisi koloni jamur tumbuh dan berkembang dengan pesat.
Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media control yaitu 1,05 dan 3,71 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 20% whey keju yaitu 1,27 dan 6,53 cm. Rata- rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 40%
whey keju yaitu 1,3 dan 6,72 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 60% whey keju yaitu 1,15 dan 5,07 cm. Rata- rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 80%
whey keju yaitu 1,13 dan 4,7 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 20% whey tahu yaitu 1,25 dan 6,27 cm. Rata- rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 40%
whey tahu yaitu 1,22 dan 6,38 cm. Rata-rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 60% whey tahu yaitu 1,13 dan 4,95 cm. Rata- rata koloni diameter jamur kuping yang terbentuk pada hari ke 4 dan 7 di media 80%
whey tahu yaitu 1,17 dan 4,72 cm.
Jamur yang ditumbuhkan di media PDA memiliki bentuk miselium berwarna putih tipis dan pada hari ke 2 miselum mulai tumbuh. Waktu yang dibutuhkan untuk koloni jamur kuping beradaptasi di media agar adalah pada 2 hari setelah inokulasi, sedangkan tumbuh memenuhi media agar dari 7-10 hari setelah inokulasi (HSI), sedangkan akhir pertumbuhan miselium antara 14-18 HSI (Djuariah, 2016).
4.1.2. Hasil Diameter Koloni Jamur Pada Media F0
Perbedaan diameter koloni jamur kuping pada media F0 pada suhu 25-28oC, pH 6 selama 7 hari ditunjukkan pada gambar 6,7, dan 8. Diameter koloni pada media 20% whey keju pada hari ke 7 sebesar 66 mm (Gambar 7A), 40% whey keju sebesar 73 mm (Gambar 7B), 60% whey keju pada hari ke 7 sebesar 57 mm (Gambar 7C), 80%
whey keju sebesar 49 mm (Gambar 7D). Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian 40%
whey keju dapat meningkatkan pertumbuhan jamur kuping pada media PDA+ whey keju dibandingkan dengan konsentrasi whey keju lainnya.
Diameter koloni pada media 20% whey tahu sebesar 64,5 mm (Gambar 8A), dan 40% whey tahu sebesar 71 mm (Gambar 8B), 60% whey tahu sebesar 49 mm (Gambar 8C), dan 80% whey tahu sebesar 47 mm (Gambar 8D). Media kontrol memiliki diameter koloni sebesar 4 mm (Gambar 6). Penambahan whey tahu 40%
memberikan hasil diameter koloni lebih besar dibanding dengan konsentrasi lainnya.
Gambar 6. Hasil pertumbuhan koloni jamur kuping pada media F0 kontrol (PDA)
Gambar 7. Hasil pertumbuhan koloni jamur kuping pada media F0 whey keju
(A. PDA+20% whey keju; B. PDA+40% whey keju; C. PDA+60% whey keju; D. PDA+80% whey keju)
Gambar 8. Hasil pertumbuhan koloni jamur kuping pada media F0 whey tahu
(A. PDA+20% whey tahu; B. PDA+40% whey tahu; C. PDA+60% whey tahu; D. PDA+80% whey tahu)
A B C D
A B C D
25
Koloni jamur kuping yang ditumbuhkan di media dengan kondisi baik mampu mendorong pertumbuhan miselium dan sporulasi. Pertumbuhan miselium dan sporulasi pada gambar 6-8 menunjukkan hasil yang berbeda-beda pada masing-masing media. Penelitian Sharma & Pandey (2010) menegaskan bahwa karakteristik (permukaan, zonasi, tekstur dan pewarnaan sebaliknya), diameter koloni dan sporulasi jamur uji sangat dipengaruhi oleh jenis medium pertumbuhan yang digunakan.
Data tersebut menunjukkan bahwa diameter koloni tertinggi terdapat pada media 40% whey keju dibanding dengan media lain. Hasil ini diperkuat oleh penelitian Mayangsari et al. (2015) menunjukkan koloni jamur tiram yang ditumbuhkan pada media whey keju memiliki diameter sebesar 91 mm. 40% whey keju dapat menghasilkan koloni tertinggi karena kandungan nutrisi pada konsentrasi tersebut sesuai untuk pertumbuhan koloni jamur kuping. Kandungan nutrisi seperti karbohidrat (laktosa), protein, nitrogen pada whey keju mampu meningkatkan pertumbuhan koloni jamur (Inglet, 2004).
Kadar proksimat pada whey keju mengandung lemak dan protein yang tinggi dibanding whey tahu (Lampiran 2). Kadar protein merupakan sumber utama nitrogen yang berperan dalam penyusunan membran sel untuk pertumbuhan mikroorganisme (Utami & Suprihadi, 2018). Kadar protein yang tinggi pada media whey keju menyebabkan peningkatan pertumbuhan diameter koloni jamur kuping.
Kadar proksimat pada whey keju memiliki kadar karbohidrat lebih sedikit dibanding whey tahu (Lampiran 2). Whey keju mengandung karbohidrat berupa laktosa (Tariq et al., 2013) sedangkan whey tahu mengandung karbohidrat berupa pati, amilosa, amilopektin (Febrianti, 2017) dan hemiselulosa (Fahlange, Smith, & Rackis, 1964).
Koloni jamur kuping pada media whey keju memiliki diameter terbesar kemungkinan disebabkan oleh kandungan karbohidrat berstruktur sederhana pada whey keju yang lebih cepat digunakan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan koloni dibanding dengan karbohidrat pada whey tahu, walaupun whey keju memiliki kandungan karbohidrat lebih sedikit daripada whey tahu (Yuanita, 2011).
4.1.3. Kecepatan Pertumbuhan Koloni Jamur Pada Media F0
Hasil dari rata-rata kecepatan koloni jamur yang diamati dilakukan uji ANOVA. Hasil statistika ANOVA dalam rancangan acak tunggal pada Lampiran 1 menunjukkan bahwa F hitung (4,752) lebih besar dari F tabel dengan taraf signifikan 5% (3,15), maka hipotesis penelitian H1 diterima. Hasil analisis ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan pengaruh penggunaan whey keju dan whey tahu yang ditambahkan pada medium F0 terhadap kecepatan pertumbuhan jamur kuping. Jenis whey yang lebih baik dapat diketahui berdasarkan uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf signifikan 5%. Hasil pengukuran koloni jamur kuping pada media F0 yang sudah diuji BNT dapat dilihat pada gambar 9.
Gambar 9. Pertumbuhan koloni pada media F0 pada hari ke tujuh
Koloni jamur kuping yang ditumbuhkan di media kontrol memiliki kecepatan rata-rata pertumbuhan 3,8 mm/hari (Gambar 9). Hasil kecepatan pertumbuhan koloni jamur kuping pada media kontrol yang diamati sesuai dengan penelitian Jo, Kim, Seok, Jung, & Park (2014) memiliki rata-rata kecepatan pertumbuhan koloni jamur kuping pada media PDA 2,58-4,2 mm/hari.
Hasil uji Beda Nyata Terkecil 5% yang disajikan pada gambar 9 menunjukkan bahwa kecepatan pertumbuhan jamur kuping yang ditumbuhkan pada medium 20%
3,8a
7,52b 7,74b
5,59a 5,09a
7,15b 7,38b
5,44a 5,07a
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
kontrol PK (20%
whey keju)
PK (40%
whey keju)
PK (60%
whey keju)
PK (80%
whey keju)
PT (20%
whey tahu)
PT (40%
whey tahu)
PT (60%
whey tahu)
PT (80%
whey tahu)
Kecepatan Pertumbuhan (mm/hari)
Perlakuan
Series 1