• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.10 Potensi Karbon

5.11.1 Analisis Data Nekromasa

Untuk mengetahui perbedaan kadar karbon pada nekromasa berdasarkan tingkat dekomposisinya maka dilakukan uji lanjut-T dengan menggunakan software Minitab version 14.0. Hasil uji-T kadar karbon pada nekromasa berdasarkan dekomposisi tidak lapuk, setengah lapuk, dan lapuk dari setiap kondisi hutan gambut dapat dilihat pada Tabel 33.

Tabel 33 Hasil uji-T kadar karbon (%C) nekromasa berdasarkan tingkat dekomposisi di semua kondisi hutan gambut

Nilai P-value untuk setiap dekomposisi %C Tidak Lapuk vs %C Setengah Lapuk %C Tidak Lapuk vs %C Lapuk %C Setengah Lapuk vs %C Lapuk 0.000** 0.005** 0.437tn

Keterangan : (**) = sangat nyata pada taraf nyata 0.01 tn = tidak berbeda nyata

Pada Tabel 33 menunjukan bahwa perbedaan nilai kadar karbon antara nekromasa setengah lapuk dan nekromasa lapuk tidak berbeda nyata, dimana nilai P-value >0.05 yaitu 0.437, sedangkan perbedaan kadar karbon antara nekromasa tidak lapuk dan setengah lapuk serta nekromasa setengah lapuk dan lapuk sangat nyata, dimana nilai P-value <0.01 yaitu 0.000 dan 0.005. Berdasarkan hasil uji diatas, nekromasa setengah lapuk dan lapuk tidak berbeda nyata artinya kedua kelas dekomposisi ini memberikan kadar karbon yang sama. Dekomposisi tidak lapuk berbeda nyata dengan dekomposisi setengah lapuk dan lapuk yang artinya bahwa dekomposisi tidak lapuk pada nekromasa paling berbeda dalam memberikan kadar karbon, dimana kadar karbon pada dekomposisi tidak lapuk paling besar dibandingkan dekomposisi lainnya.

Perbedaan kadar karbon pada nekromasa setengah lapuk terhadap nekromasa lapuk dapat dikarenakan oleh proses penyusutan kayu, serangan jamur pembusuk, dan bahan kimia di dalam kayu (zat ekstraktif) yang cukup berbeda. Sampel dekomposisi lapuk pada nekromasa diambil dalam kondisi yang sudah hancur hingga membusuk dan berbentuk serbuk ketika kering dengan warna kayu merah coklat sampai coklat tua, sedangkan sampel nekromasa setengah lapuk yang diambil memiliki kondisi kayu yang keras hingga lunak, kayu keropos namun masih dapat mempertahankan bentuknya dan memiliki warna kayu asli sampai warna coklat kemerahan.

Pada uji-T selanjutnya yang akan dibandingkan adalah biomassa serta potensi karbon tersimpan pada nekromasa setengah lapuk dan lapuk dari semua kondisi hutan gambut yang disajikan pada Tabel 34 dan Tabel 35.

Tabel 34 Hasil uji-T biomassa nekromasa setengah lapuk dan lapuk Biomassa

Two-sample T for B.SL vs B.L N Mean StDev SE Mean Bio.SL 83 873 1391 153 Bio.L 83 73 235 26

Difference = mu (Bio.SL) - mu (Bio.L) Estimate for difference: 799.962

95% CI for difference: (492.037; 1107.887)

T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 5.16 P-Value = 0.000 DF = 86

Tabel 35 Hasil uji-T potensi karbon nekromasa setengah lapuk dan lapuk Potensi Karbon

Two-sample T for C.SL vs C.L N Mean StDev SE Mean C.SL 83 0.386 0.591 0.065 C.L 83 0.033 0.102 0.011 Difference = mu (C.SL) - mu (C.L) Estimate for difference: 0.353755

95% CI for difference: (0.222964; 0.484547)

T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 5.38 P-Value = 0.000 DF = 86

Berdasarkan Tabel 34 dan Tabel 35 di atas dapat dilihat bahwa perbandingan biomassa nekromasa setengah lapuk dan lapuk memiliki nilai T-value 5.16 sedangkan perbandingan potensi karbon nekromasa setengah lapuk dan lapuk memiliki nilai T-value 5.38. Nilai T-value yang diperoleh adalah positif yang menunjukan bahwa biomassa serta potensi karbon nekromasa setengah lapuk lebih besar dibandingkan pada dekomposisi lapuk, walaupun konsentrasi/persen kadar karbon setengah lapuk (45.93%) lebih kecil dari pada persen kadar karbon pada dekomposisi lapuk (46.41%). Hasil uji-T menunjukan bahwa nilai biomassa serta potensi karbon antara nekromasa setengah lapuk dan lapuk adalah sangat berbeda nyata dimana nilai P-value <0.01 yaitu 0.000.

Perbandingan biomassa dan potensi karbon tersimpan pada nekromasa berdasarkan tingkat dekomposisi di setiap kondisi hutan gambut dapat dihitung melalui uji-T, dimana terdapat nilai T-value negatif dan positif serta nilai P-value sangat nyata, nyata dan tidak berbeda nyata. Nilai T-value negatif menunjukan dekomposisi yang dibandingkan dengan dekomposisi lain memiliki nilai yang lebih kecil, begitu pula sebaliknya dengan T-value bernilai positif. Sedangkan taraf sangat nyata pada P-value yang berarti bahwa memiliki tingkat perbedaan yang sangat besar karena nilainya <0.01. Selain itu, P-value yang memiliki nilai

antara 0.01–0.05 yang berarti nyata perbedaannya, dan P-value dengan nilai >0.05 yang berarti tidak berbeda nyata. Hasil uji-T biomassa dan potensi karbon berdasarkan tingkat dekomposisi di setiap kondisi hutan dapat dilihat pada Tabel 36 dan Tabel 37.

Tabel 36 Hasil uji-T biomassa nekromasa berdasarkan tingkat dekomposisi

Kondisi Hutan Bio. TL vs Bio. SL Bio. TL vs Bio. L Bio. SL vs Bio. L

T-value P-value T-value P-value T-value P-value

Primary forest -2.36 0.032* 0.42 0.677tn 2.44 0.027*

LOA 1.99 0.054tn 3.81 0.001** 2.63 0.015*

Secondary forest 2.33 0.025* 3.64 0.001** 1.76 0.089tn

Degraded forest 0.91 0.371tn 2.84 0.010** 3.65 0.002**

Keterangan : (**) = sangat nyata pada taraf nyata 0.01 (*) = nyata pada taraf nyata 0.05 tn = tidak berbeda nyata

Tabel 37 Hasil uji-T potensi karbon (C) nekromasa berdasarkan tingkat dekomposisi di setiap kondisi hutan gambut

Kondisi Hutan C. TL vs C. SL C. TL vs C. L C. SL vs C. L

T-value P-value T-value P-value T-value P-value

Primary forest -2.47 0.026* 0.51 0.611tn 2.59 0.021*

LOA 2.18 0.037* 3.95 0.001** 2.74 0.012*

Secondary forest 2.55 0.015* 3.86 0.001** 1.83 0.078tn

Degraded forest 1.08 0.290tn 3.04 0.007** 3.72 0.001**

Keterangan : (**) = sangat nyata pada taraf nyata 0.01 (*) = nyata pada taraf nyata 0.05 tn = tidak berbeda nyata 5.11.2 Analisis Data Serasah

Perbedaan kadar karbon pada serasah berdasarkan tingkat dekomposisinya dapat diketahui dengan melakukan uji lanjut-T. Hasil uji-T kadar karbon serasah (serasah kasar/SK dan serasah halus/SH) dari setiap kondisi hutan gambut dapat dilihat pada Tabel 38.

Tabel 38 Hasil uji-T kadar karbon (%C) serasah berdasarkan tingkat dekomposisi

Kondisi Hutan %C. SK vs %C. SH T-value P-value Primary forest -0.67 0.549 tn LOA -0.16 0.885 tn Secondary forest -1.06 0.368 tn Degraded forest 0.97 0.405 tn

Pada Tabel 38 menunjukan bahwa perbedaan kadar karbon antara serasah kasar dan serasah halus dari setiap kondisi hutan gambut memiliki nilai P-value >0.05 yang berarti bahwa H0 diterima yaitu tidak ada perbedaan diantara keduanya atau tidak berbeda nyata perbedaannya. Oleh karena itu, perhitungan antara serasah kasar dan serasah halus dapat digabungkan menjadi serasah saja tanpa ada pendekomposisian.

Pada uji-T selanjutnya yang akan dibandingkan adalah biomassa dan potensi karbon serasah (serasah kasar/SK dan serasah halus/SH) di setiap kondisi hutan gambut yang dapat dilihat pada Tabel 39.

Tabel 39 Hasil uji-T biomassa dan potensi karbon (C) serasah kasar/SK dan serasah halus/SH di setiap kondisi hutan gambut

Kondisi Hutan Bio. SK vs Bio. SH C. SK vs C. SH

T-value P-value T-value P-value

Primary forest 0.11 0.921tn -0.19 0.859 tn

LOA 1.31 0.322tn 1.16 0.367 tn

Secondary forest 6.55 0.007** 6.51 0.007**

Degraded forest 1.18 0.358tn 1.31 0.322 tn

Keterangan : (**) = sangat nyata pada taraf nyata 0.01 tn = tidak berbeda nyata

Berdasarkan Tabel 39, dapat dilihat bahwa perbandingan biomassa dan potensi karbon serasah kasar dan halus di setiap kondisi hutan gambut memiliki nilai P-value tidak berbeda nyata dan sangat nyata, selain itu dapat dilihat pula nilai T-value positif dan negatif. Nilai T-value positif menunjukan bahwa serasah kasar memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan serasah halus, begitu pula sebaliknya dengan T-value bernilai negatif. Pada kondisi hutan primer, hutan bekas tebangan dan hutan terdegradasi perbandingan biomassa dan potensi karbon serasah kasar dan halus memiliki nilai P-value >0.05 yang berarti tidak berbeda nyata. Sedangkan pada kondisi hutan sekunder perbedaannya sangat nyata antara serasah kasar dan serasah halus yaitu nilai P-value <0.01. Perbedaan hutan sekunder dengan kondisi hutan lainnya dikarenakan oleh nilai T-value kadar karbon yang besar dan P-value yang kecil. Selain itu dipengaruhi oleh produksi serasah kasar sekunder yang sangat besar dibandingkan serasah halusnya.

BAB VI