BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
3. Analisis Data Partisipan 3
Sejak kecil P3 kurang dekat dengan ayah dan kakak tirinya, hal tersebut membuat hubungan P3 dan keluarganya tidak hangat. Selain itu, P3 juga cukup kesulitan untuk mendapatkan teman, hal tersebut membuat ia merasa kesepian. P3 mencoba mengatasi rasa kesepiannya dengan mencari relasi pertemanan yang banyak. Akan tetapi, keinginan tersebut terwujud dalam dirinya yang suka melihat laki-laki yang tampan. Menurut P3, memiliki wajah ganteng mempermudah perempuan untuk mendekat kepadanya.
Semakin beranjak dewasa, P3 mulai menyadari bahwa teman tampan yang dicarinya ini merupakan sosok laki-laki yang ia butuhkan untuk menjadi pendamping. Hal tersebut diketahui P3 saat ia mimpi basah sedang berhubungan dengan seorang laki-laki. Setelah mimpi tersebut, P3 mulai menyukai laki-laki bukan hanya sebatas teman. P3 ingin memiliki hubungan pacaran. P3 menginginkan pacaran yang mengalir seperti hubungan pacaran heteroseksual pada umumnya. Keinginan P3 semakin kuat karena adanya dukungan yang positif dari orang terdekatnya.
b. Sikap terhadap realitas
Memiliki orientasi seksual yang dianggap aneh membuat P3 menutup bagian privasinya dari teman-temannya. P3 tetap mampu membuka dirinya jika ada teman yang mengajaknya untuk pergi
bersama atau meminta tolong. P3 sendiri merupakan pribadi yang suka menolong orang lain. Adanya sikap membantu dan menolong membuat P3 dapat menjalin hubungan pertemanan dengan orang-orang hingga memiliki teman yang dekat baik teman heteroseksual maupun homoseksual. P3 merasa adanya teman dapat membatu setiap individu dalam mengatasi tantangan dan masalah kehidupan serta dapat mengurangi stres.
P3 sendiri memulai hubungan pertemanannya dari media sosial. Pada awalnya P3 sengaja mengunduh facebook untuk mencari teman namun ternyata P3 dapat bertemu dengan laki-laki yang menjadi pacarnya melalui aplikasi tersebut. P3 sendiri berpacaran dengan pacarnya selama kurang lebih empat tahun. Keinginan yang telah terpenuhi membuat P3 merasa senang dan nyaman dengan kehidupannya. Bagi P3, penolakan yang dilakukan oleh orang-orang adalah hal yang wajar sehingga dirinya tidak merasa sedih. Bahkan sebaliknya, P3 tidak ingin mengubah sifatnya agar dapat diterima.
Dibalik sikap dan perilaku positif P3, dirinya pun juga masih terbiasa untuk melakukan sikap yang tertutup. P3 sendiri dahulu termasuk pribadi cenderung mementingkan keinginan pribadinya. Selain itu, P3 yang introvert semakin memperparah kemampuan sosialnya. Mendapatkan pertanyaan perihal keluarga membuat P3 menjadi pendiam. P3 merasakan dirinya menjadi sulit untuk menjalin
pertemanan. Hal inilah yang membuat P3 menjadi pribadi yang kurang terbuka dan selalu menyendiri.
Terkait dengan ketertarikan seksualnya, P3 merasa jika hubungan keluarganya memberikan pengaruh ke orientasi seksualnya. Ayah dan Ibu yang bercerai memberi pengaruh buruk ke P3 yang menjadi tidak dekat dengan seluruh anggota keluarganya di rumah. P3 pun cenderung tidak terbuka dengan keluarga meskipun sedang berada dalam masalah. Sifat menutup dirinya di rumah merambat pada kehidupan sosialnya di sekolah. P3 sering menunjukkan perilaku anti sosial seperti makan seorang diri. Teman yang memanfaatkan kebaikan hati P3 pun memberikan dampak yang kuat akan pengkhianatan. Perasaan kecewa dan kepercayaan yang dihancurkan membuat P3 memutuskan untuk tidak ingin terlalu dekat dan terbuka dengan orang lain.
Sikap negatif lainnya muncul ketika P3 mengetahui bahwa dirinya memiliki orientasi seksual gay. Setelah P3 menyadari ketertarikan seksualnya, P3 mulai menutup diri dari semua orang yang dapat memicu rasa tertariknya. Perilaku menutup diri juga terjadi ketika P3 mencari teman. Hal ini dikarenakan adanya perasaan takut membuat nama keluarga malu karena identitasnya. P3 pun tidak berani untuk bertemu dengan orang yang dikenal dari sosial media. P3 menutup dirinya dan melakukan perilakunya secara sembunyi-sembunyi.
c. Pola dasar penyesuaian diri
Memiliki keinginan yang tidak terwujud mengharuskan P3 untuk mengolah emosi dan perilakunya guna mencari jalan untuk mengatasinya. Akan tetapi, ketika masih muda P3 mudah merasa cemas khususnya perihal identitas seksualnya. Merasa perlu untuk mengatasi ketakutannya, P3 mencoba mengontrol perasaan dan pikirannya agar perilakunya tidak terlalu terlihat di lingkungan. Ketakutan akan diusir dari sekolah dan dari rumah membuat P3 mengatur emosinya.
Walaupun P3 melakukan usaha kontrol emosi namun adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan membuat P3 beberapa kali tidak dapat menahan perilakunya, seperti saat ia dekat dengan seorang laki-laki. P3 menjadi kurang mampu untuk mengolah emosinya diarenakan rasa sayang kepada kenalannya tersebut. P3 menjadi semakin senang dan sering bertemu dengan kenalan (yang menjadi pacarnya) di rumahnya. Saat situasi sepi, P3 kerap kali memegang tangan atau memeluk pacarnya. Hubungan tersebut berlanjut hingga P3 harus putus dengan pacarnya. Rasa sakit hati yang kuat menjadikan P3 gelap mata, P3 menjadi sering mencari orang untuk diajak berhubungan seksual.
Walaupun demikian, P3 tetap mampu kembali menjadi dirinya seperti sebelum patah hati karena ingin berubah. P3 merasa dirinya perlu untuk berubah menjadi lebih baik dan peduli dengan dirinya
sendiri. P3 mencoba untuk menahan keinginannya dan mencari kegiatan yang lebih positif. Kini, P3 mampu bersikap dewasa dan mampu menunjukkan sikap menerima dan mengontrol hal yang tidak nyaman dalam mengatasi masalah.
Dalam mengatasi masalah tidak jarang P3 menggunakan avoidant coping stress seperti saat P3 mengatasi masalah terkait dengan keluarganya. Sering mendapatkan pertanyaan terkait permasalahan keluarganya membuat P3 merasa malu dan memilih untuk menutup diri. Adanya pengalaman dikecewakan semasa SMP semakin memicu P3 menjadi pribadi yang tertutup. Mengalami kejadian tidak menyenangkan selama bertahun-tahun membuat pandangan P3 ke orang-orang menjadi negatif. P3 mulai menutup dirinya dengan berusaha menolak untuk membantu orang lain. Adanya tekanan dan norma sosial yang ada membuat P3 menyembunyikan dan berperilaku secara sembunyi-sembunyi.
Tekanan yang dirasakan juga membuat P3 menjadi sering menggunakan MPD, seperti menekan perasaan sukanya agar tidak semakin menyukai laki-laki, mencari berbagai aktivitas serta tidak membuka sosial medianya untuk menekan rasa tertariknya pada laki-laki (supresi). P3 juga melakukan penyangkalan agar terbebas dari berbagai pertanyaan yang dapat memicu rasa takutnya. Bahan, P3 berpura-pura menyukai hingga berpacran dengan perempuan.
Mengelak dan berbohong adalah perilaku yang sering dilakukan P3 saat merasa terdesak.
Merasa dirinya semakin menyukai laki-laki membuat P3 menyalahkan pacarnya sebagai bentuk pertahanan dirinya. P3 menganggap perilaku hangat dan lembut pacar semakin membuat dirinya terjerumus untuk menyukai laki-laki. Penyangakalan yang dilakukan menjadikan P3 merusak dirinya dengan melakukan seks bebas agar dapat terlepas dari perasaan sakit hati dan kecewa. Meskipun demikian, P3 akhirnya menyadari kesalahannya dan ingin berubah ke arah yang lebih baik.
Selama ini P3 juga mengalami luka yang membuatnya tertutup. Berbagai kejadian buruk yang dialami memunculkan perasaan tidak percaya dan dingin bagi P3 dalam menjalani hidup selama masa sekolah, seperti keluarga yang tidak memberikan kasih sayang serta teman yang kadang memanfaatkan kebaikannya. Adanya tekanan dari keluarga dan teman membuat P3 menjadi pribadi yang tertutup dan tidak mudah percaya pada orang lain. P3 semakin sulit untuk mendapatkan teman hingga mengalami ketakutan jika ia sulit untuk bersosialisasi.
Selama menjalani hari-hari, P3 melakukan pertimbangan dalam memenuhi keinginannya maupun menjaga privasinya. Semasa SD hingga SMK, P3 mengambil tindakan untuk menutup identitasnya dengan menahan atau menekan rasa tertariknya pada laki-laki. P3 pun
sengaja mencoba mendekati perempuan untuk menghilangkan rasa sukanya terhadap laki-laki. P3 akan membahas perempuan atau hal-hal yang terkait dengan perempuan saat kumpul bersama temannya. Selain itu, agar terlihat seperti laki-laki pada umumnya, P3 mengarahkan dirinya tetap menyukai aktivitas berbau olahraga.
P3 juga melakukan pertimbangan dalam mencari teman. P3 menggunakan aplikasi sosial media untuk mempercepat dan memperluas jangkauan pertemanannya. P3 akhirnya menjadi kecanduan dan sering membuka sosial media karena mampu memperluas jangkauan pertemanannya. P3 merasa senang karena teman-temannya tidak memberi penilaian yang aneh kepada dirinya. P3 tidak merasa takut karena menemukan teman-temannya yang juga berorientasi sama karena jika diumbar maka sama saja mengumbar diri sendiri.
Saat mendapatkan tekanan atas masalah percintaannya, P3 bingung untuk menceritakan kepada siapa. Keinginan agar merasa tenang membuat P3 akhirnya memberi tahu ke beberapa teman dekatnya perihal identitas dirinya. Selain ke sahabat terdekatnya, P3 akhirnya memberi tahu identitasnya kepada orang tuanya. Sejak identitasnya diketahui, P3 lebih menjaga sikap dan perilakunya agar dapat menjaga perasaan orang tuanya. P3 juga berusaha untuk berpikir logis dan aman seperti bersikap biasa jika di depan umum namun berpelukan dan sebagainya saat di dalam kamar.
P3 merasa semakin bertambahnya usia, maka pola pikirnya pun semakin dewasa. P3 menjadi mampu untuk memahami dan peduli dengan dirinya sendiri. P3 mengarahkan hidupnya agar lebih positif karena sebelumnya dirinya pernah mengambil jalan yang salah terlebih saat dirinya putus ketika itu. Setelah mengalami berbagai kejadian, P3 merasa dirinya menjadi lebih bijak dalam berperilaku di masyarakat dan berani dalam menghadapi suatu masalah..
Mengalami berbagai kejadian memberikan juga banyak pelajaran dan pengalaman. P3 banyak mengambil pembelajaran dari kesalahan-kesalahan yang pernah dirinya buat. P3 banyak belajar semasa dirinya bekerja, seperti lebih peka dan peduli dengan orang lain. P3 juga belajar untuk lebih terbuka dalam berinteraksi dengan orang lain dibandingkan semasa sekolah. P3 jadi mudah untuk menerima keadaan yang tidak sesuai harapan. P3 merasa beruntung pernah bekerja dan mendapatkan pengalaman team work semasa dirinya kerja. P3 pun mampu untuk menerima pendapat orang lain.
P3 menyesali ia berpacaran dengan perempuan, P3 merasa hal tersebut merupakan masa egois dirinya karena rasa takutnya jika ketahuan. Setelah berhenti bekerja, P3 belajar bahwa memiliki teman dapat memberikan pandangan dan pengetahuan baru. P3 merasa memiliki teman dapat membantu dan menolong ia saat kesusahan. Terkait interaksi sosial, P3 pun banyak mendapatkan pengalaman
yang berharga, seperti mulai terbuka dan menjalin pertemanan dengan teman kampusnya karena pengalaman selama bekerja.
Saat menyikapi lingkungan, P3 berusaha bersikap realistik dan objektif khususnya perihal keterbatasan dirinya. P3 yang introvert ditambah gaya belajar SMK seperti kuliah membuat P3 menjadi sulit untuk mencari teman. Hal tersebut membuat P3 merasa kecewa dengan teman-temannya hingga pernah membangun pandangan negatif ke orang-orang. Walaupun demikian, P3 tidak mengurangi perilakunya yang suka membantu orang lain sesuai dengtan kemampuannya. Berbeda dengan P3 yang dahulu menyukai membantu orang lain tanpa memperhatikan batas kemampuannya hingga kadang lupa akan dirinya.
Memilih bekerja merupakan jembatan P3 dalam melihat dunia luar yang lebih luas. P3 menyadari bahwa sifat egois tidak dapat dirinya terus dilakukan. P3 melihat bahwa teman-teman kerjanya dapat memahami dirinya dikala ia tidak dapat bekerja dengan optimal. P3 menyadari bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam menghadapi masalah. Keputusan untuk bekerja memberikan pandangan baru bagi P3. P3 telah menjadi pribadi yang ceria dan penuh harapan terlebih adanya teman yang mampu memberikan dukungan sehingga ia tidak merasa sendirian di dunia ini.
Sejauh ini P3 memahami mengapa Indonesia belum dapat menerima keberadaan gay. Kuatnya budaya dan agama yang dianut
membuat P3 tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima. Di sisi lain, P3 ketahuan karena ia sering menunjukkan perilaku yang mencurigakan kepada keluarganya seperti datang ke rumah di tengah malam. Setelah ketahuan, P3 akhirnya memberi tahu kepada orang tuanya dan kepada beberapa teman dekatnya. Penerimaan orang tua tidak membuat P3 leluasa untuk membawa laki-laki ke rumahnya melainkan ia harus semakin selektif untuk menjaga perasaan orang tuanya.
d. Hasil member checking
P3 menambahkan jika tidak ingin diketahui maka individu perlu untuk mengatur dan mengontrol perilakunya. P3 menyadari jika kontrol emosi memang sulit dilakukan namun untuk kebaikan diri sendiri maka seseorang memang perlu untuk berkorban. Selain itu, P3 juga menambahkan bahwa saat ini dirinya ingin menyanyangi dan menjadi dirinya sendiri karena dirinya sudah lelah dengan semua kejadian buruk yang pernah dirinya lalui. P3 merasa kejadian tersebut banyak menguras tenaga, emosi, dan fisiknya. P3 kerap kali menjadi malas makan dan insomnia bahkan dirinya terkadang masuk rumah sakit karena merasa tertekan. Keinginan berupa hidup yang tenang dan nyaman membuat P3 menutuskan untuk memperbaiki hidupnya dengan baik.