• Tidak ada hasil yang ditemukan

Integrasi Analisis Data Tiga Partisipan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

4. Integrasi Analisis Data Tiga Partisipan

Setelah menjabarkan hasil dari ketiga partisipan, peneliti melakukan integrasi analisis ketiga partisipan berdasarkan teori penyesuaian diri menurut Schneiders (1964) yang terdiri dari motivasi, sikap terhadap realitas, dan pola dasar penyesuaian diri. Motivasi sendiri melihat bagaimana individu memenuhi keiginannya secara internal maupun eksternal. Bagian sikap terhadap realitas sendiri akan dilihat dari cara sikap individu yang positif dan negatif melihat lingkungan sosial. Pada pola penyesuaian diri, hasil data akan dikaitkan dengan enam pola dasar, yaitu kontrol emosi, penggunaan mekanisme pertahanan diri, ada frustrasi personal, kemampuan pertimbangan dan mengarahkan, kemampuan belajar dan memaafkan masa lalu, dan ada sikap realistik dan objektif.

a. Motivasi

Menjadi seorang gay tidak terjadi begitu saja. Beberapa kejadian dapat memicu seseorang menjadi gay. Kurangnya kasih sayang orang tua khususnya ayah dapat memicu partisipan menyukai laki-laki. Selain itu, pengalaman pahit dan menyakitkan yang pernah dialami juga mampu sebagai pencetus partisipan menjadi gay. Bahkan, pengaruh lingkungan sosial seperti pergaulan pun dapat memicu partisipan menyukai laki-laki. Memiliki orientasi seksual yang berbeda membuat ketiga partisipan ingin mendapatkan perhatian dan dukungan dari teman dan orang tua.

Misal dia bisa menerima saya sebagai gay, ya itukan lebih bagus juga. Mendukungnya misal saya punya harapan untuk begini dan dia mendukung, dukungannya bukan sekedar kayak mendukung tapi juga bisa membantu, memberikan saran. (line 118-122, partisipan 1)

Ya paling cari attention aja sih kayak kamu perhatian ke saya, saya akan perhatian ke kamu gitu. Belum menemukan karena aku juga belum mau untuk real relationship atau ke hal begitu. (line 968-971, partisipan 2)

..butuh seseorang gituloh butuh sosok seseorang sosok seseorang ayah sosok kakak sosok seorang cowo yang bisa diajak sharing kayak gitu. (line 446-448, partisipan 3)

Pada awalnya ketiga partisipan tidak memiliki pemahaman yang dalam terkait hal dan dunia gay. Partisipan baru mulai mencari tahu informasi mengenai gay ketika mereka mulai tertarik dengan laki-laki. Informasi tersebut digunakan untuk pencarian jati diri partisipan. Ketiga partisipan akhirnya mengetahui jika diri mereka memang menyukai laki-laki. Partisipan 1 dan 3 lebih menyukai melihat laki-laki yang ganteng, sedangkan partisipan 2 menyukai seksualitas laki-laki.

Sedangkan, ketika aku menyukai cowo itu kayak selalu ada yang bikin aku suka suka suka lagi gitu terus sama dia. (line 290-292, partisipan 1)

Jadi waktu itu aku jadi kepo kok ada sih yang kayak gini tapi gak tau aku kok mau ya kepo sama hal itu tiba-tiba aja interest terus nyoba nyari infonya. (line 251-254, partisipan 2)

Jadi dari SMP itu kayak oh iya kalo liat cowo ganteng itu kayak tertarik. (line 280-281, partisipan 3)

Walaupun menyukai laki-laki, partisipan tetap memiliki kriteria dalam mencari pacar. Partisipan 1 dan 3 lebih mencari laki-laki yang memiliki wajah ganteng dan sifat yang baik dan hangat. Hal ini berbeda dengan partisipan 2 yang lebih mementingkan pemenuhan seksualnya saja. Selain mencari pacar, ketiga partisipan juga memiliki kriteria khusus dalam mencari teman. Partisipan ingin memiliki teman laki-laki dan perempuan serta teman gay yang dapat menjaga rahasia.

Kalo lainnya itu pernah juga kek pernah dekat gitu sama temanku ya macam aku deketin gitu karena temanku menarik. (line 354-356, partisipan 1)

Jadi pas sampai ke explore sendiri kemudian menemukan ehh titik interest saya sendiri gitu kayak aku ngerasa kayak jadi suka gitu. (line 279-281, partisipan 2)

Sehubungan dengan mendapatkan teman, partisipan mengungkapkan salah satu cara termudah menemukan teman gay adalah melalui sosial media dan aplikasi khusus gay. Adakalanya partisipan juga menggunakan aplikasi untuk mencari pacar. Selain diperuntukan mencari teman dan pacar, partisipan juga menggunakan aplikasi untuk menghabiskan waktu di saat bosan. Partisipan hanya menggunakan aplikasi tersebut hanya sebatas mencuci mata. Keinginan memiliki teman membuat ketiga partisipan mampu

memperluas jangkauan pertemanannya hingga memiliki beberapa teman dekat yang gay.

Apa ya awalnya tuh kayak penasaran aja sih iseng-iseng cari. Kan kayak kalo dating apps kan di ehh untuk straight cewe dan cowo itu kan ada. (line 382-384, partisipan 1)

Ya karena butuh pemenuhan desireku karena aku merasa bahwa oke aku punya ini tapi aku tidak bisa mengeluarkannya di real lifeku di real accountku di kehidupan nyataku. Jadi ya saya akan membuat alter account yang isinya sangat berbeda dengan kehidupanku yang asli. (line 190-195, partisipan 2)

Aku bikin facebook nah tapi masih belum berani kayak ketemu orang atau chat orang cuma kayak oh ngeadd orang karena ngeadd friend karena fotonya bagus, orangnya keknya ganteng gitu gitu orangnya menarik. (line 319-324, partisipan 3)

Selain memiliki keinginan internal, partisipan juga mendapatkan motivasi dari pengaruh eksternal. Pengaruh eksternal yang didapatkan partisipan yaitu perhatian dan perilaku asertif. Mendapatkan dukungan dari teman kampus maupun teman gay membuat partisipan merasa senang dan tidak sendiri. Partisipan merasa nyaman dengan bantuan dan dukungan dari teman-teman gaynya. Selain itu, adanya respon positif teman kampus membuat partisipan semakin nyaman karena merasa diterima.

...ya tertarik untuk menyukai lah jadi tertarik suka gitu kayak suka orang terus gimana sih macam nyari perhatiannya gitu. (line 536-538, partisipan 1)

Dukungannya ya bisa dari jadi teman, bisa di ajak diskusi, nanya kalo bingung gitu walaupun gak dalam bentuk tindakan ya lebih ke support. (line 750-753, partisipan 2)

Aku ceritain aku kayak gini gini dan aku lagi ada masalah dari dunia ini kayak gini gini gini seperti itu dan respon mereka pasti yang aku ceritain pasti baik. (line 761-764, partisipan 3)

Di balik beberapa motivasi di atas, terdapat beberapa motivasi lain yang dinginkan oleh partisipan. Partisipan 1 mengatakan jika dirinya ingin menjadi dirinya sendiri, dalam hal ini berperilaku sesuai dengan apa yang ia rasakan. Selain itu, partisipan juga ingin agar kaum gay juga mendapatkan hak yang setara dengan kaum heteroseksual. Bagi partisipan 2, dirinya hanya ingin memenuhi kebutuhan desirenya saja. Sedangkan, partisipan 3 sendiri ingin menjalin pertemanan yang banyak karena dirinya yang sulit untuk mendapat teman ketika masih bersekolah dulu. Selain itu, partisipan 3 juga ingin menjalani hidup dengan perilaku trait senormal mungkin. b. Sikap terhadap realitas

Ketiga partisipan merupakan pribadi yang suka beraktivitas, hal ini membuat partisipan menyukai kegiatan yang ramai atau sekedar berkenalan dengan orang baru. Partisipan mampu untuk membangun sikap terbuka dan berkenalan, serta berbaur dan berkumpul bersama dengan teman kampus maupun teman sesama gay. Selain senang berkumpul, partisipan merasa senang saat menolong dan membantu orang yang sedang kesusahan. Memiliki sifat yang

ramah dan suka bergaul membuat partisipan mampu untuk membangun hubungan pertemanan. Ketiga partisipan merasa jika diri mereka memiliki teman dekat yang dapat menemani dan membantu walau hanya sebatas via chat. Sejuh ini, ketiga partisipan memiliki jaringan pertemanan yang luas mulai dari teman kampus hingga teman gay di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, salah satu partisipan pernah mengikuti sebuah komunitas gay di Yogyakarta.

Nah waktu itu ada setelah beberapa hari kalo gak salah itu setelah aku gabung ada yang ngajakin ketemuan gitu dari grup ngajakin meet up rame-rame. (line 404-407, partisipan 1)

Ya pernah tapi pernah cuma kurang dari lima orang. Waktu itu karena awalnya berawal dari chat-chat kan. (line 214-215, partisipan 2)

Jadi kayak makin memudahkan mau nyari yang sekitar sekitar aja atau yang jauh. Jadi ya udah pergaulannya makin jadi ya udahlah mulai punya banyak teman sharing terus dengar pengalaman-pengalaman mereka. (line 625-629, partisipan 3)

Sejauh ini partisipan dapat membangun hubungan pertemanan dengan baik. Keinginan untuk mendapatkan teman menjadikan partisipan menjaga perilakunya di depan teman-temannya agar terlihat baik. Hal tersebut membuat teman partisipan tidak mengetahui identitas partisipan. Setelah cukup mengenal temannya, partisipan baru mulai akan membuka dirinya sedikit demi sedikit. Ketiga partisipan merasa senang karena teman kampus mereka mampu untuk

bersikap open minded. Selain itu, teman partisipan juga kerap kali memberikan saran atau perhatiannya sebagai tempat curhat partisipan. Teman yang terbuka membuat salah satu partisipan sempat memiliki keinginan untuk melakukan coming out.

Kayak kalo dikelas mungkin ya kita sama-sama ee berteman berteman aja ngobrol biasa aja. (line 999-1001, partisipan 1)

Ada, ada yang bener-bener cuma teman jadi teman ini kenalan dari tahun 2014 sampai sekarang dan emang kita beneran teman banget. (line 722-724, partisipan 3)

Selain melakukan perilaku yang positif, ketiga partisipan pun kerap kali melakukan perilaku negatif ke lingkungan sosial. Tuntutan dan batasan norma yang ada di lingkungan membuat partisipan merespon secara negatif ketika tidak sesuai dengan keinginan mereka. Ketiga partisipan menjadi lebih menjaga perilaku di depan umum. Partisipan cenderung menunjukkan sikap tidak berminat ketika mendapatkan pertanyaan terkait hal privasinya.

Kalo misalnya aku lagi ada masalah terus mau membawa itu pas main kan kayak suasana waktu bareng-bareng ngumpulkan gak enak jadinya. (line 26-28, partisipan 1)

Hmm kalo kalo ke teman-teman ya enggak pernah di depan teman-teman. (line 124-125, partisipan 2)

Partisipan sengaja menjaga sikapnya di masyarakat karena adanya pandangan dan stigma negatif terkait gay. Hujatan dan komentar yang menyudutkan di sosial media adalah hal yang ingin

dihindari oleh partisipan. Pandangan negatif bahkan adanya sikap penolakan yang nyata di masyarakat membuat partisipan merasa cemas dan takut sehingga partisipan menjaga perilakunya agar sesuai dengan agama, norma sosial, dan budaya di Indonesia. Kecemasan dan ketakutan tersebut membuat partisipan cenderung berlebihan dalam membuat citra dirinya sebagai seorang yang normal “heteroseksual”.

Hari ku disitu kebanyakan kalo misalkan gimana ya kalo misalnya banyak orang yang tau juga kan seperti yang tadi aku bilang kalo di Indonesia kan juga gak terlalu diterima. (line 517-520, partisipan 1)

Teman-temanku aja kadang kalo liat berita atau informasi di ig pasti suka nyeletuk kayak ngomong ngapain sih kayak gitu. (line 327-329, partisipan 2)

Bahkan dengan keluarga sendiri, jadi dulu sempet emang yang bener-bener kalo punya masalah dihadapin sendiri... (line 229-231, partisipan 3)

Partisipan sengaja menutup identitas aslinya karena adanya pengalaman buruk terkait identitasnya, dalam hal ini teman partisipan melakukan hal yang tidak disukai oleh partisipan. Pengalaman buruk tersebut memicu ketiga partisipan untuk menjadi pribadi yang berlebihan dalam menutup diri. Partisipan cenderung menjadi pribadi yang mudah cemas dan takut, berpikiran negatif, dan mudah tertutup. Nah gak tau apa motivasinya dia itu juga menyebarkan itu ke temen-temen. (line 668-670, partisipan 1)

Biasanya mereka tuh dukung terus tiba-tiba enggak gitu lagi malah jadi menentang kan bingungin. (line 603-605, partisipan 2)

Ya aku senang pastinya punya teman kayak gitu tapi kalo yang namanya inikan bukan sebuah kayak hal gampang gitu loh... (772-774, partisipan 3)

Partisipan telah melakukan berbagai perilaku yang negatif selama melihat relaitas di lingkungan. Selain perilaku di atas, partisipan juga menunjukkan sikap dan perilaku yang berbeda satu dengan lainnya. Pada partisipan 1 cenderung pemilih dalam berteman. Selain melakukan penilaian, partisipan 1 juga tidak ingin terlihat jelek di lingkungan. Partisipan akan menutupi keburukan atau kelemahannya agar tetlihat baik. Di sisi lain, Partsipan 2 telah mengetahui jika orientasi seksualnya berbeda namun karena partisipan belum siap sehingga dirinya mengalami konflik internal, dalam hal ini partisipan mengalami perubahan sikap dan emosi. Pada partisipan 3, memiliki latar belakang keluarga yang bercerai membuat dirinya menutup diri dan malu saat teman-teman kelasnya ingin tahu tentang kondisi keluarganya.

c. Pola penyesuaian diri

Berbagai tuntutan realitas dan adanya pembatasan aturan norma membuat partisipan perlu mengembangkan kemampuannya dalam menyesuaikan diri. Penyesuaian diri merupakan bagaimana

cara individu untuk mengatasi berbagai ketegangan yang dirasakan agar dapat selaras dengan lingkungan. Penyesuaian diri sendiri mencakup enam bagian pola yaitu kontrol emosi, mekanisme pertahanan diri, frustrasi personal, pertimbangan rasional dan mengarahkan diri, kemampuan belajar dan memaafkan masa lalu, serta sikap realistik dan objektif.

Kontrol emosi dapat diartikan sebagai cara seseorang mengendalian dirinya secara sadar untuk membentuk perilaku yang sesuai dengan masalah yang dihadapi. Dalam bersosialisasi, partisipan mampu menunjukkan sikap yang tenang dan santai. Sikap tenang dan santai tersebut dilakukan partisipan bertemu dengan orang baru maupun teman non-gay. Selain saat bertemu dengan orang baru, partisipan juga menunjukkan perilaku yang tenang untuk mencegah orang lain mengetahui identitas seksualnya. Mampunya mengontrol emosi membuat partisipan sering menggunakan cara tersebut untuk mengatasi masalah.

..kalo ada orang yang menarik kayak aku menunjukkan dengan kasih kode-kode gitu? Ya kalo di kampus enggak terlalu sih ya mungkin karena ya itulah hari-hariku gitu lo. (line 513-516, partisipan 1)

Aku kayak biasa aja jadi diriku yang mereka kenalnya... (line 52-53, partisipan 2)

Aku ya sebisa mungkin lingkungan tidak mengetahui keadaanku yang seperti ini. (line 1078-1079, partisipan 3)

Bentuk lainnya yang dilakukan oleh partisipan yaitu menahan keinginannya dengan cara menerima kenyataan tersebut walaupun sulit. Seringnya melakukan hal tersebut membuat partisipan kini mampu untuk mengolah emosinya, partisipan mampu untuk menunjukkan pembawaan diri yang tenang bahkan partisipan beberapa kali menunjukkan sikap tidak peduli.

Selama itu gak untukku atau gak menyinggungku kayaknya aku bakal lebih milih diem deh. (line 594-595, partisipan 1)

Kita diliatin orang tapi kan kita biasa aja gak takut gitu karena kan biasa tuh ya kalo ngumpul kan heboh cerita kan kita juga ceritanya gak yang aneh-aneh... (line 230-233, partisipan 2)

Di sisi lain, partisipan juga dapat melakukan kontrol emosi yang kurang efektif. Sering kali partisipan kurang mampu mengendalikan rasa senangnya ketika bertemu dengan orang yang mereka sukai (laki-laki). Perasaan senang yang meluap-luap membuat partisipan menunjukkan perilakunya secara langsung seperti sengaja menggoda untuk memeluk dan merangkul. Adanya perasaan senang tersebut membuat partisipan menjadi senang untuk bertemu dengan orang yang mereka sukai setiap hari.

Kalo kita jalan bareng ya udah kayak cowo sama cewe pacaran pada umumnya kalo naik motor ya boncengan tapi terus pegangan kalo memang pas lagi sepi selagi ada kesempatannya gitu aja. (line 873-877, partisipan 3)

..aku juga pernah kek sengaja godain gitu kek kalo gak dipeluk gak aku kasih gitu terus terus awalnya dia gak mau tapi pas aku juga bercandain lagi ya dia langsung meluk terus ngambil dari aku. (line 365-368, partisipan 1)

Bagi para partisipan, banyak hal yang dapat membuat kontrol emosi menjadi sulit. Mendapatkan pertanyaan terkait orientasi seksualnya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi partisipan. Bagi partisipan, pertanyaan tersebut sama saja dengan mengungkapkan dirinya. Seringnya mendapatkan pertanyaan membuat partisipan menjadi sensitif terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan pacar. Rasa jenuh mendapatkan pertanyaan membuat partisipan cenderung memilih untuk menutupi dirinya dengan mengabaikan pertanyaan tersebut. Saat ini, partisipan cenderung memilih untuk diam menjaga jarak ketimbang mengeluarkan rasa marahnya ke teman-temannya.

...aku mungkin gak akan marahan mungkin gak akan menunjukkan secara terang-terangan marah... (line 146-147, partisipan 1)

aku itu takut aja kalo ketahuan kek ada apa ya hm cemas gitu kalo aku ketahuan gitu. Jadi aku merasa lebih nyaman kalo aku simpan sendiri gitu gak ceritain ke siapapun walaupun itu teman dekatku bahkan orang tuaku pun enggak. (line 80-84, partisipan 2)

..tapi masih belum mau atau bener-bener terbuka ya karena pada waktu itu masih tau yang namanya malu dan gak mau

bikin susah orang gitu lo kayak menjaga nama baik keluarga. (line 300-303, partisipan 3)

Mekanisme pertahanan diri (MPD) adalah kemampuan melakukan tindakan mengatasi masalah dengan penggunaan mekanisme pertahanan diri. Awal mengetahui orientasinya, partisipan belum dapat menerima orientasi seksualnya. Partisipan menyangkal dirinya dengan berusaha menyukai perempuan. Partisipan yang merasa bingung memutuskan untuk mencari informasi sendiri di internet untuk memastikan identitasnya.

Maksudku jangan gini sih ee kita kan gak gak milih gituloh jadi gay kita gak milih kita gak bisa milih kita tertariknya sama siapa kita orientasi seksualnya kita kemana kita gak milih. (line 1038-1041, partisipan 1)

Kalo mau dibilang keinginan buat kenapa sih kamu jadi kayak gini tuh sejujurnya aku udah menanyakan itu dari aku emang SMP pertama kali udah mulai tertarik sama cowo. (line 406-409, partisipan 3)

Menyukai laki-laki merupakan hal yang dianggap dosa dan tabu, hal tersebut membuat partisipan berupaya untuk mengubah dirinya menyukai perempuan. Usaha yang dilakukan sia-sia membuat partisipan melakukan disosiasi untuk mengurangi rasa sedih dan penolakan atas dirinya sendiri. Partisipan cenderung menganggap jika orientasi seksual yang mereka miliki merupakan pemberian Tuhan

atau memang sudah menjadi takdir sehingga mereka memilih untuk menerima kenyataan tersebut.

...kita juga gak bisa memaksakan orang untuk menerima itu kan itu kan juga hak dia mau menerima atau enggak gitu kan. (line 219-222, partisipan 1)

..sejauh apapun itu kalo aku bisa kayak gini berarti aku emang gini kayak ini pasti jalanku gitu udah takdirnya gitu karena kenapa aku mau nyoba dan tertarik. (line 356-359, partisipan 2)

Jenis MPD lainnya yang muncul adalah kompensasi. Pada MPD ini, partisipan merasa jika dirinya mereka memiliki kelebihan yang dapat ditingkatkan walaupun diri mereka memiliki orientasi seksual yang dianggap berbeda. Partisipan berfokus ingin meningkatkan kelebihan yang ada dan menutup kekurangan yang ada. Partisipan berusaha untuk mengejar suatu hal yang dapat membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Ya tolong pandang kami jadi sebagai manusia aja gitu lo. Toh kita juga gak merugikan mereka kan, selama saling tidak merugikan itu ga apa apa deh. (line 1217-1220, partisipan 1)

Aku paham dan berusaha aja sebisa mungkin melakukan yang terbaik kayak nyari pengalaman kegiatan biar bisa hidup tenang dan biasa. Gak terlalu mau pusingin juga hal kayak gini biar aja mengalir mau kemana atau gimana nantinya. (line 779-784, partisipan 2)

MPD lainnya yang muncul pada ketiga partisipan adalah rasionalisasi. Ketiga partisipan cenderung membenarkan alasan-alasan yang mereka ucapkan. Partisipan juga cenderung menyalahkan dan berusaha menunjukkan hal yang benar dari pemikiran-pemikiran mereka. Adanya dukungan yang didapatkan dari teman gay membuat partisipan merasa nyaman dengan orientasinya sehingga partisipan pun cenderung menjauhi orang-orang yang menolak gay.

..Soalnya gay kan juga laki-laki gitu kalo misalnya sikap dan personal itu dari orangnya masing-masing gak bisa dibilang kayak ee okedeh kalo kebanyakan orang memandang kalo misalnya oh gay? Pasti ngondek gitu kan. (line 496-501, partisipan 1)

Jadi aku memandang bahwa ini tuh sebuah hal yang lain atau jenis lain dari Tuhan ciptakan gitu aja. (line 832-834, partisipan 2)

Partisipan 3 sendiri juga melakukan MPD dengan jenis supresi. Menyukai laki-laki adalah hal yang disukai oleh partisipan. Partisipan pun ingin memiliki pacar yang dapat dibawa kemana-mana bersama. Akan tetapi, perasaan tersebut tidak dapat dilakukan karena adanya penolakan. Adanya agama dan budaya membuat hubungan sejenis dianggap aneh dan berdosa. Tidak ingin ketahuan membuat partisipan mencoba untuk menekan orientasinya tersebut.

..awal-awal kayak jijik sendiri kayak apaan sih gitu gak ah akhirnya kayak dilupain pelan pelan cuma kadang itu masih

ngerasa atau menilai oh itu orang menarik.... (line 429-432, partisipan 3)

Selain melakukan mekanisme pertahanan diri, partisipan juga melakukan coping stres. Partisipan sering mengelak, berbohong, dan memblok pertanyaan saat merasa terdesak. Ketiga partisipan cenderung mengelak atau berbohong ketika mendapatkan pertanyaan perihal pacar. Sedangkan, partisipan cenderung memblok pertanyaan ketika teman partisipan menanyakan lebih jauh perihal pacar partisipan.

Nah suatu hari aku ditanya sama kakakku pas lagi sama dia, kakakku nanya kalian pacaran ya gitu kita jawabnya enggak kita temenan kok temenan. (line 830-833, partisipan 3)

Ada orang gitu aku jawabnya kayak gitu. Respon mereka ohh ya udah, oh doang paling. Paling aku balik nanya nya kepo banget sih... (line 896-898, partisipan 1)

MPD lainnya yang dilakukan adalah mempersepsikan teman-temannya harus menerima dirinya. Partisipan 1 merasa ketika dirinya dekat dengan teman-temannya maka temannya tersebut pasti akan menerima dirinya.

Kalo misalnya mereka yang nanya itu kan berarti kan mereka yang ingin tau gitukan, mereka yang nanya berarti mereka kan udah siap dengan jawaban apapun kan. Harusnya kalo mereka berani bertanya itu artinya mereka udah siap dengan jawaban apapun. (line 874-879, partisipan 1)

Frustrasi personal dapat diartikan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk mengorganisir kemampuannya sehingga memunculkan perasaan tidak berdaya. Dalam hal ini, ketiga partisipan pernah mengalami perasaan bingung ketika pertama kali menyukai laki-laki. Kebingungan ini terjadi karena adanya ajaran agama yang didapatkan, hal ini membuat partisipan merasa bersalah karena memiliki kodrat yang berbeda. Perbedaan perasaan tersebut membuat partisipan mengalami konflik internal karena menyukai laki-laki.

Ya dulu kan aku juga masih bingung masalah penolakan diri sendiri itu lo kayak aku dulu sempat mikir oh ini salah kayak

Dokumen terkait