BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
C. ANALISIS DATA PENELITIAN
Tabel 4.4
Strategi Coping Penderita Myasthenia Gravis
Partisipan 1 Partisipan 2 Partisipan 3
Gambaran
Kondisi Penderita MG
Gejala awal - Terjatuh saat menari dan berjalan (12-14)
- Jatuh dan tubuh lemas saat basket (line 2-9)
- Ptosis, kelelahan
saat di panggung, nafas tidak kuat, vokal tinggi tidak kuat saat menyanyi (line 2-5; 5-13)
Diagnosis awal - Diagnosis awal diketahui tahun 2013 (line 1-7)
- Perasaan sedih dan tidak adil (27-31; 115-118)
- Diagnosis awal diketahui
tahun 2011 (line 9-15)
- Menerima diagnosis
September 2014;
muncul perasaan
kacau dan sedih,
sempat menyalah
Tuhan (line 109-113)
Gejala lain yang dialami
- Gejala lain yang dialami adalah sulit menelan,
- Gejala lain yang dialami adalah diplopia, ptosis,
- Gejala lain yang
44 barang yang dipegang terjatuh, ptosis, dan
diplopia, suara yang
sering hilang (line 53-62; 291-299)
- Kondisi saat haid (74-75)
kesulitan berjalan, kesulitan mengangkat gayung, mata
terasa berat, sulit
mengunyah, dan tersedak
makanan, kesulitan
tersenyum, kesulitan
berekspresi muka, kadang-kadang sesak nafas (line 20-23; 66-72; 75-76)
sengau, tidak bisa
menelan makanan, lemas (line 50-59; 22-37) - Terjatuh dari tetangga akibat lemas (line 348-355) Penyebab terpicunya MG muncul (kambuh)
- kelelahan, musim dingin, dan minum es dalam porsi yang banyak, batuk, serta panas matahari. (line 69-73; 135-138
- kelelahan, stress, kepanasan, kedinginan, sakit. (line 94-97; 431-438)
- Penyebab kondisi menurun
(line 440-442)
- Panas matahari (line 40-46; 150-178)
Perasaan yang muncul pada penderita MG
- Perasaan takut, sedih, kecewa (line 63-65; 83-85; 321-324)
- Perasaan sedih, stress, takut, perasaan tidak berguna, tidak memiliki harapan (line 245-248; 324-328; 331-334; 399-403)
Pengobatan - Terapi listrik, pengobatan alternatif Jepang, Cina, pengobatan tradisional, mestinon (302-311)
- Kondisi terparah (line 230-244) - Mestinon, plasmapharesis (line 251-253; 256-294; 310-316; 324-334; 396-307) - Mestinon (line 183-184; 193-104) Permasalahan-Permasalahan Yang Dihadapi - Gambaran aktivitas tidak berdampak (line 187-192) berdampak (line 83-85; 97-103;
- Gambaran aktivitas (line 32-38; 61-65; 153-173; 176-180)
- Gambaran aktivitas
(line 132-134; 142-148;342-344)
45 242-244; 266-268)
- Gambaran relasi dengan orang sekitar (line 93-95; 97-103)
- Gambaran relasi dengan
orang sekitar
tidak berdampak (line 203-207) berdampak (line 207-211) - Gambaran relasi dengan orang sekitar (line 243-248;254-264; 264-271; 271-272; 281; 285-289; 295-296; 296-301; 301-303; 312-317; 380-383; 385-388) - Gambaran sebagai pelajar tidak berdampak (line 187-192; 286-287) berdampak (line 244-251; 253-263; 266-268; 282-284; 341-350) - Gambaran sebagai mahasiswa
tidak berdampak (line
184-195; 221-228;
348-349)
berdampak(line 192-193; 214-219; 349-361; 366-368)
- Gambaran sebagai seorang
anak dan saudara:
tidak berdampak (line 200-203) berdampak (line 129-132) - Gambaran tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga (line 102-107;115-137; 379-380; 388-394) - Gambaran tanggung jawab sebagai
seorang ayah (line 409-416)
- Gambaran ketakutan
akan masa depan (line 410-412)
- Gambaran ketakutan akan
masa depan (line 456-459)
Strategi Coping Problem Focused
- - Active coping (line 18-23;
66-68; 410-412)
- Active coping (line40-43; 460-462)
- Active coping (line 15-18)
46 Coping - Suppresion of competing
activites (line 87-89; 93-95; 287-288)
- Planning (line 87-89; 92-95; 375-382; 387-397)
- Seeking social support for instrumental reasons (line 194-197)
- Suppresion of competing
activities (line 161-169)
- Planning 369-372)
- Seeking social support for instrumental reasons (line 336-342) - Suppresion of competing activities (line 102-107) - Planning (line 35-37; 68-70) - Seeking social support for instrumental reasons (line 396-407) Strategi Coping Emotion Focused Coping
- Turning to religion (line 180-185; 311-315)
- Turning to religion (line 54-57; 89-90; 319-320; 395-397) - Turning to religion (line 38-40; 100-101;384-385; 443-448) - Acceptance (line 120-122; 163-164; 266-268) - Acceptance (line 38; 80-82; 87-89; 176-180) - Acceptance (line 59-62; 62-70; 70-76; 92-96; 137-140; 261-264; 423-424) - Positive Reinterpretation (line 123-137) - Positive reinterpretation (line 15-16; 113-115; 286-287;320-328; 331-335) - Denial (line 27-33; 106-113) - Denial (line 9-12; 28-29; 43-50) - Proyeksi (line 164-169; 173-175)
- Seeking social support for emotional reasons (line 336-342) - Focusing on and venting emotion (207-220; 272-281) - Behavioral diseangement (line
47
344-348; 355-359)
Faktor Yang
Mempengaruhi Strategi Coping
- Social support (line 89-92; 113-114; 127-129; 142-148; 151-160; 190-191; 199-211; 214-221; 237-239; 271-276; 350-357; 358-363; 401-407)
- Social support (line 10-13; 57-59; 85-103; 121-123; 134-140; 141-144; 146-149; 200-203; 203-207; 320-322; 375-382)
- Social support (line
84-85; 167-178; 248-252; 270-271; 293-294; 303-308; 337-342; 352-354; 384-385 416-420; 431-434; 438-440; 442-452)
- Positive Beliefs (line 180-185)
- Positive beliefs (line 40-43; 89-90; 319-320)
- Positive beliefs (line 62-70; 76-81; 96-98; 103-112; 204-206; 457-471)
- Problem solving skills (line 375-382; 387-397)
- Problem solving skills (line 369-372)
- Problem solving
skills (line 68-70)
- Internal locus of control (line 123-127)
- Internal locus of control (line 248-250)
- Internal locus of
control (line 218-220; 437-438)
- Social skills (line 211-213) - Social skills (line 365-371)
48 1. Analisis P1
a. Gambaran Kondisi Penderita MG
Hasil penelitian menunjukkan bahwa P1 bahwa sudah mengalami gejala MG sejak kecil tetapi baru mengetahui penyakitnya ketika akan masuk kuliah. Saat mengetahui diagnosis dari dokter, P1 merasa sedih dan juga tidak adil karena ia mengalami kondisi seperti itu.
“Sebenernya aku tu ngalamin gejalanya itu dari kecil, tapi divonis sama dokternya itu waktu mau masuk kuliah karna waktu itu kan butuh surat itu kan buat ospek. Nah dokternya tu baru vonis itu. Tapi sebelumnya tu dokter tu udah ngasih tanda-tanda ga boleh ini ga boleh itu..” (line 1-7)
“Perasaannya sedih dong kan aku sebelumnya sudah searching-searching akibatnya nanti matanya kelopak matanya akan semakin menurun. Ya pasti perasaannya sedih kok kayak ga adil aja.... Ya soalnya ga adilnya kok harus aku gitu, kok enggak yang lain.” (line 27-31; 115-118)
Gejala awal yang dialami P1 adalah sering terjatuh saat menari dan saat berjalan karena kelelahan. P1 juga mengalami gejala lain seperti susah menelan, barang yang dipegang terjatuh, ptosis, dan
diplopia. Selain itu, P1 juga mengalami gejala suara yang sering
hilang. Kemudian jika P1 sedang batuk bisa terjadi berminggu-minggu karena batuk adalah musuh utama penderita MG
.
“Tapi gejalanya tu dari kecil ee kecil TK tu dulu waktu nari di panggung tu sering jatuh, trus jalan kalau kelelahan jatuh juga kayak gitu.” (line 12-14)
49
“Gejala lainnya itu, ee susah nelen.. Trus kalau misalnya terlalu capek misal bawa HP gini, nanti bisa jatuh sendiri tanpa sadar. Trus ee gejalanya ptosis. Ptosis itu kan matanya sayu ya, trus waktu mau berangkat sekolah waktu SMA naik motor itu pandangan diplop diplopia, jadi harus berhenti dulu. Diplopia kan pandangan ganda. Jadi waktu itu lihat kakek-kakek naik sepeda, bajunya sama sepedanya sama, itu kan pakai topi juga sama, yaampun. jadi harus berhenti dulu.” (line 53-62)
“Kalau dulu gejalanya belum terlalu banyak kalau sekarang tu suara sering ilang tu baru mulai tahun kemarin. Sebelumnya belum jadi sebelumnya ya cuma kalau capek jatuh terus diplopia ptosis susah nelen gitu, sekarang tambah itu. ...heeh suara ilang terus kalau batuk, batuk kan musuh utama MG ya, itu sampai bisa berminggu-minggu kalau sekarang.” (line 291-299)
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penyebab kondisi P1 menurun adalah kelelahan, musim dingin, dan minum es dalam porsi yang banyak, serta panas matahari. Diketahui pula bahwa MG menyebabkan P3 merasa sangat lemas pada seluruh bagian tubuhnya ketika sedang datang bulan.
“Kelelahan. Tapi, kelelahan iya kalau misalnya
musim dingin juga iya, kan syaraf yang diserang kan sama otot. Trus kalau misalnya minum es, minum es kan ga boleh terlalu banyak, itu juga bisa kambuh. Terus, kadang kalau lagi dapet datang bulan kayak gitu kan lemes... kalau lihat matahari terlalu lama juga ga boleh.” (line 69-73; 135-138)
“Terus, kadang kalau lagi dapet datang bulan kayak gitu kan lemes...Iya. Tapi lemesnya tu kalau dapat kan cuma di perut biasanya, kalau itu kayak di ee semua badannya tu sakit kayak gitu. kalau misalnya lagi dapet trus bener-bener itu, misal lagi tiduran, tiduran mau bangun tu ga bisa atau duduk di lantai terlalu lama mau berdiri ga bisa.” (line 74 -75; 76-81)
50
Ketika kondisi P1 sedang menurun, ia akan merasa sedih karena aktivitasnya menjadi terhambat. P1 juga merasa takut ketika mengalami diplopia di jalan,.
“Perasaannya waktu itu kayak takut, waktu itu langsung berhenti, soalnya kalau diterusin nanti malah kecelakaan.”(line 63-65)
“Perasaannya kalau lagi kambuh ya otomatis sedih dong kak karena aktivitasku jadi terhambat karena ga bebas keluar masuk rumah.” (line 83-85)
Untuk menjaga kondisi, P1 sudah melakukan berbagai macam pengobatan sederhana dari obat utama sampai alternatif/tradisional. Namun, dalam penelitian diketahui bahwa pengobatan ini menyebabkan P1 merasa kecewa dan sedih karena harus bolos sekolah
“Terapi listrik pernah terus apa sih kayak Jepang itu apa namanya, pernah dialternatif pengobatan Jepang pernah, Cina pernah, yang kalau terus kalau pengobatan tradisional tu dipijit tapi pake apa sih alat kayak kayu itu juga pernah, pake listrik juga pernah. Tapi yang utamanya Mestinon. Obatnya obatnya yang utama itu Mestinon.” (line 302-311)
“Waktu itu lebih ke SMP, ya waktu itu masih SMP, ya perasaannya kecewa, perasaannya sedih karena harus sering bolos sekolah.” (line 321-324)
b. Permasalahan-Permasalahan yang Dihadapi
Dari hasil penelitian diketahui bahwa gambaran kondisi-kondisi di atas menyebabkan permasalahan bagi P1 karena menimbulkan beberapa hambatan.
51
1) Gambaran aktivitas
Penelitian di atas menunjukkan bahwa kondisi yang menurun menyebabkan P1 mengalami hambatan dalam beraktivitas karena P1 banyak menghabiskan waktu di rumah.
“Perasaannya kalau lagi kambuh ya otomatis
sedih dong kak karena aktivitasku jadi terhambat karena ga bebas keluar masuk
rumah.” (line 83-85)
Salah satu bentuk hambatan aktivitas yang dirasakan P1 adalah sudah tidak pernah menari lagi akibat sering jatuh di panggung.
“Ada. Karena dulu kan suka nari, sekarang kan udah enggak, karena ya itu dulu sering jatuh di panggung kan.” (line 242-244; 266-268)
P1 merasa kecewa karena aktivitasnya menjadi terhambat karena kondisi yang menurun.
“ya kecewa aja pasti gini, pasti teman-teman
ya ga semuanya temen-temen kan bisa mengerti keadaan aku ya, ada beberapa yang ngerti, tapi kan nanti kok jadi apa ya di mata mereka, kitanya seolah-olah jadi kayak orang males ga mau keluar ga mau istilahnya kalau
di masyarakat ga mau sawung gitu loh.” (line
52
Akan tetapi, P1 juga mengatakan kalau MG tidak memberikan dampak pada beberapa aktivitas seperti menulis.
“enggak, nulis tetep nulis, kuliah tetep kuliah,
ya mungkin kalau misalnya agak capek kan rumahnya jauh, Imogiri terus naik motor sendiri, kalau misalnya capek ya mungkin dianterin kalau ga nebeng temen yang deket kayak gitu. Kalau terpaksanya drop banget
kemarin ga berangkat.“(line 187-192)
2) Gambaran relasi dengan orang sekitar
MG menyebabkan terhambatnya aktivitas P1 dan menyebabkan dampak juga pada relasinya. P1 berpikir bahwa teman-temannya akan menganggap dirinya sebagai orang yang malas dan tidak mau bergabung.
“kemarin waktu malam senin ada pertemuan
sama teman-teman, aku ga ikut...ya ga semuanya temen-temen kan bisa mengerti keadaan aku ya, ada beberapa yang ngerti, tapi kan nanti kok jadi apa ya di mata mereka, kitanya seolah-olah jadi kayak orang males ga mau keluar ga mau istilahnya kalau di
masyarakat ga mau sawung gitu loh.” (line
93-95; 97-103)
3) Gambaran sebagai pelajar
Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa MG memberikan dampak pada tugas utama P1 sebagai siswa dalam beberapa aktivitas pelajaran misalnya dalam berolahraga saat masih SMA. P1 hanya bisa mengikuti aktivitas yang ringan
53
saja. Kemudian, penelitian juga menunjukkan bahwa MG juga berpengaruh ketika di bangku kuliah, yaitu tidak bisa terlibat dalam organisasi. Keterbatasan yang P1 alami sebagai siswa dan mahasiswa sempat menyebabkan ia tertekan.
“Terus kalau misalkan olahraga, olahraga tu
kalau misalnya ringan kita bisa ikut, tapi kalau misalnya yang berat berat ga bisa. Jadi misal kalau udah masuk ke SMA itu ya sebelumnya udah ee ngasih surat dokter sama guru olahraganya. Jadi ga bisa kalau misal yang ringan bisa kalau yang terlalu berat ga bisa ikut. Terus nanti minta tugas lain.” (line 244-251)
“oh kalau yang ini dulu tu waktu semester satu
kan organisasi-organisasi itu ya. ya. nah itu tu dah daftar udah bayar udah ikut wawancara tapi kan ga bisa ikut makrab. Karena makrabnya itu empat hari kan ga mungkin aku empat hari di luar, maksude di luar yang udaranya dingin kan ga mungkin kan nanti bakal. Nah gara ga boleh ikut it ee gara-gara ga boleh makrab kan jadinya di blacklist sama organisasi, jadi ga ikut dis di kampus ga
ada organisasi, jadi ikutnya di rumah.” (line
253-263)
“Awalnya iya, tapi sekarang udah biasa aja,
jalani aja lah mungkin ini yang terbaik gitu.”
(line 266-268)
Selain keterbatasan dalam berorganisasi, MG menyebabkan kondisi P1 mudah menurun jika kelelahan akibat banyaknya ujian dan tugas.
54
“Iya, kemarin kambuh juga karena terlalu
capek kan ujian ujian tugas ujian tugas jadi ya
gampang capek.” (line 282-284)
Perasaan paling down P1 alami ketika tidak bisa les karena dapat mengakibatkan kelelahan. P1 mengira kelelahan dapat menyebabkan buta sehingga hal tersebut membuat P1 sempat merasa tidak memiliki harapan hidup.
“Yang paling down? ya waktu itu, ga ada, ada
gasih. waktu ya waktu ee mau kelas tiga, kelas tiga SMA pingin banget les tapi malah divonis sama dokter kayak gitu. Maksudnya ga boleh kecapean nanti pikirnya waktu itu bisa buta ternyata enggak kan. Ga boleh kecapean karena lama-lama kalau kecapean njuk matanya ga bisa dibuka atau ga bisa liat. Waktu itu mikirnya tu bisa buta kan, jadi aduh harapan hidupnya tu kayak gimana udah
burem.” (line 341-350)
Namun, dari hasil wawancara dengan P1, terlihat juga bahwa MG tidak memberikan dampak pada kegiatan kuliah dan nilai kuliah. Hal ini berdasarkan pernyataan P1 yang mengatakan bahwa:
“Kalau kegiatan enggak sih, kalau nilai ujian
tetep nilaiku biasa aja. Tapi kalau misalnya lebih mengurangi aktivitas keluar rumah. (line 187-192; 286-287)
55
P1 memiliki ketakutan akan masa depan yaitu apabila penyakitnya akan semakin parah dan sampai pada tingkat dimana pernafasannya juga diserang.
“Takutnya kalau ee penyakitnya naik level.
Naik level kan pernafasan juga bisa diserang, jadi harus lebih hati-hati....” (line 410-412)
c. Strategi Coping
Dari hasil penelitian diketahui bahwa P1 memiliki berbagai strategi
coping untuk mengelola permasalahan-permasalahan tersebut, seperti
berikut:
1) Problem Focused Coping
Active Coping
Ketika P1 mengalami gejala-gejala MG di awal maupun yang muncul setelahnya, ia langsung memberitahu kepada dokter tentang kondisi dirinya. Selain itu, untuk menghadapi ketakutannya akan masa depan, P1 lebih menjaga kondisi dirinya agar kondisinya tidak semakin parah.
“Iya ngomong sama dokternya juga tapi
memang itu gejalanya sih, salah satu gejala juga.” (line 18-23; 66-68)
“Takutnya kalau ee penyakitnya naik
level. Naik level kan pernafasan juga bisa diserang, jadi harus lebih hati-hati....” (line 410-412)
56
Suppresion to competing activites
Untuk mencegah kondisi yang menurun, P1 mengurangi aktivitas di luar rumah. Pengurangan aktivitas ini juga dilakukan P1 untuk mencegah kelelahan akibat aktivitas yang cukup padat di kuliahnya.
“yang kalau barusan itu mengurangi keluar rumah karena cuacanya ini kan lagi ekstrem kan.” (line 87-89; 93-95; 287-288)
Planning
Untuk mencegah kondisi mudah menurun, P1 memikirkan serta melakukan langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan misalnya kalau cuaca ekstrem sebaiknya ia mengurangi keluar rumah, mengurangi minuman dingin dan bersoda. Selain itu, ia juga mengontrol dirinya dengan mengetahui batas-batas kondisi dirinya, sehingga ia dapat membuat langkah-langkah apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.
“yang kemarin itu? yang kalau barusan
itu mengurangi keluar rumah karena cuacanya ini kan lagi ekstrem kan. Nah sama ketua pejuang juga dihimbau supaya kita mengurangi apa kegiatan di luar rumah, kalau misal harus terpaksa keluar rumah harus pakai masker. Terus lebih ga boleh minum minuman bersoda, ga boleh minum es. kemarin waktu malam senin ada pertemuan sama
57
teman-teman, aku ga ikut.” (line 87-89;
92-95; 375-382)
“kadang begini, kadang aku mikirnya
gini, kalau dipaksakan, karena ada gini ada kak putri, kak putri itu ee Mgers Bandung, kan aku follow IG dia ya, rajin main, tapi apa tapi dia gampang masuk rumah sakit, opname istilahnya. Jadi aku jadikan patokan, kalau misal gini aku main iya main tapi ga setiap hari kalau misalnya hari ini udah main misal kemarin udah main, hari ini ga boleh main gitu... lebih terkontrol keadaan kita, kita kan tahu diri ee apa yang bisa kita lakukan apa
yang ga gitu..” (line 387-397)
Seeking Social Support for Instrumental Reasons
Dari hasil penelitian terlihat bahwa P1 membutuhkan orang lain untuk membantu mengontrol dirinya misalnya seperti mengontrol pola makannya.
“enggak, soalnya rugi juga ya kalau
ngekos kan sama-sama bantul kak. nanti kalau ngekos malah ribet juga kalau misal
makannya ga terkontrol juga kan.” (line
194-197)
2) Emotion Focused Coping
Turning to Religion
Ketika dalam kondisi yang sangat menurun, P1 berusaha menerima kondisinya dengan cara berpikir bahwa ini ujian dari Tuhan yang bisa ia hadapi. Selain itu, P1 juga tetap mengucap
58
syukur untuk kondisinya dimana ia tidak harus meminum obat sebanyak penderita yang lain.
“Kalau misal lagi drop banget, tu kadang
mikirnya yaudah mungkin ini yang terbaik dari sang Pencipta, mungkin ee aku adalah orang yang dipercaya bisa menghadapi ujian itu. gitu, kenapa. Ketika sang Pencipta percaya sama kita, kenapa
kita harus ragu gitu.” (line 180-185)
“Kalau aku sehari sekali, kalau misalnya
bener-bener drop dua. Bersyukur sih karena kalau yang lain tu ada yang sehari lima kali, delapan kali, ada yang dua
belas kali.” (line 311-315)
Acceptance
Dari hasil wawancara diketahui bahwa P1 berusaha menerima penyakitnya dengan ikhlas dan tegar. Selain itu, P1 juga berusaha menerima kematian yang mungkin saja terjadi pada dirinya akibat penyakit MG. P1 juga berusaha menerima perubahan-perubahan aktvitas yang harus ia alami karena penyakit MG.
“ee mencoba untuk tegar. ikhlas menerima
penyakit ini” (line 163-164)
“Dipikirin ee pikirinnya mungkin apa siap ga siap harus pasti akan meninggal kan. Soalnya banyak yang meninggal tahun ini juga.” (line
120-122)
“Awalnya iya, tapi sekarang udah biasa aja, jalani aja lah mungkin ini yang terbaik gitu.”
59
Positive Reinterpretation
Dalam kondisi kesehatan yang kurang baik, P1 tetap mencoba memaknai hidupnya secara positif. P1 membuat pernyataan bahwa hidup harus tetap dijalani dengan tidak monoton dan dengan perjuangan.
“Kan hidup kan ga boleh monoton, tetep
harus berjalan jadi tetap memotivasi diri sendiri untuk tetap apa supaya tetap berjuang melawan penyakit ini. Jangan
menyerah kayak gitu kan.” (line 123-137)
Denial
P1 merasa tidak adil karena dirinya yang harus mengalami penyakit MG ketika ia mendapatkan diagnosis awal dari dokter.
“Perasaannya sedih dong kan aku
sebelumnya sudah searching-searching akibatnya nanti matanya kelopak matanya
akan semakin menurun. Ya pasti
perasaannya sedih kok kayak ga adil aja...Ya soalnya ga adilnya kok harus
aku gitu, kok enggak yang lain.”(line 27
-33)
Bentuk penyangkalan dari P1 yang lain adalah P1 tidak menyadari kondisinya dan memaksakan aktivitas-aktivitas yang ingin ia lakukan.
“Waktu itu kan posisinya dokter bilang
60
terlalu kecapean nanti apa matanya lama-lama ga bisa lihat kan nanti kelopaknya itu to. Tapi itu ga sadar karena itu udah kelas tiga pinginnya les. Udah waktu itu posisinya pingin les keluar, udah mau
daftar gitu.”(line 106-113)
Proyeksi
P1 senang menulis puisi dan puisi itu ia gunakan untuk memotivasi dirinya. Tetapi isi puisi yang ia buat seperti untuk orang lain, akan tetapi ia mengakui bahwa sebenarnya puisi itu untuk memotivasi dirinya.
“ee lebih sering kan aktif juga ya aku kan suka nulis juga. Suka nulis puisi jadi tu apa ya lebih pura puranya puisi tersebut tu untuk orang lain yang sebenarnya puisi itu untuk aku sendiri supaya tetep semangat tetep ee ngasih motivasi kepada diri sendiri tu lebih susah” (line 164-169; 173-175)
d. Faktor yang mempengaruhi strategi coping
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan strategi coping yang dilakukan P1 dipengaruhi oleh beberapa faktor:
1) Social Support
Dukungan dari lingkungan memiliki pengaruh yang paling banyak bagi P1 dalam menghadapi penyakitnya ini.
“Dukungan teman-teman itu pasti penting karena itu kan memberi support ya ee lebih menguatkan kita terutama mental kita, bahwa kita tu ga sendiri, ada orang-orang di luar sana, keluarga, temen, sahabat yang masih sayang sama kita jadi
61
kita ga boleh menyerah kita harus bertahan terus melawan penyakit ini, kita ga boleh mau dikalahkan oleh penyakit ini.” (line 190-191; 214-221; 237-239; 401-407)
Keluarga
Dukungan dan perhatian dari keluarga P1 memberikan semangat bagi P1 dalam menghadapi penyakitnya.
“Kalau yang dari keluarga cuma selalu
mengingatkan supaya istirahatnya cukup, terus menjaga pola makan. Keluarga sendiri juga misalnya kayak ibu nanti pagi mbuatin susu trus siang mbuatin jus kayak gitu, kayak gitu. Trus kalau misalnya apa capek misalnya agak capek kan nanti aku bilang sama orang tua. Nah orang tua telepon, nanti telepon sama yang, kita kan manggil orang terapi buat buat terapi gitu nanti datang ke rumah kayak gitu gitu yang dilakukan oleh orang tua. Memberi
semangat..” (line 113-114; 151-160;
358-363)
Teman-teman
Perhatian dari teman-teman juga penting bagi P1 dalam menghadapi penyakitnya ini.
“kalau teman-teman kalau misal di
kampus kayak gini kan, misal jajan nih, kalau misal aku ngeyel pingin beli es dilarang sama mereka nanti, “aku bilangin loh nanti sama orang tuamu”. Kan temen-temen sudah tahu kalau misalnya lagi presentasi suaranya ilang ya, suaranya ilang, sengau atau gimana, ee temen-temen satu kelompok biasanya
62
ngasih motivasi, “udah pelan-pelan aja kalo gak kamu udah berhenti dulu aja, biar aku lanjutin” kayak gitu gitu. Trus kalau misalnya ada kegiatan kayak misalnya outbound apa dia ehm
temen-temen ngingetin “udah jangan lupa bawa
surat dokternya” kayak gitu.” (line 199 -211; 271-276; 350-357)
Komunitas
Peran komunitas juga penting bagi P1 untuk mendukung