Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma
Jessica Christy Wihadhi
ABSTRAKSI
Myasthenia gravis (MG) adalah penyakit autoimun yang menyebabkan penderitanya mengalami kelemahan otot yang ditandai dengan kelemahan pada kelopak mata, anggota tubuh, gangguan oropharyngeal. Kondisi-kondisi ini menimbulkan permasalahan-permasalahan pada penderita padahal penurunan kondisi pada penderita MG disebabkan salah satunya karena stress. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut dibutuhkan strategi coping. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi coping apa yang dilakukan penderita myasthenia gravis. Subjek penelitian ini adalah 3 orang penderita myasthenia gravis. Jenis penelitian yang dipakai adalah kualitatif dengan menggunakan analisis isi terarah. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara semi terstruktur. Validitas hasil penelitian didapatkan dengan melakukan member checking dan external auditor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi penderita MG menyebabkan timbulnya permasalahan pada tugas utama, aktivitas, relasi, dan juga munculnya ketakutan akan masa depan. Untuk menghadapinya, partisipan menggunakan salah satu strategi coping atau mengkombinasikan beberapa strategi coping. Pemilihan strategi coping dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu social support, problem solving skills, internal locus of control, positive beliefs, social skills. Selain itu, dipengaruhi juga oleh pengalaman, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.
GRAVIS
Department of Psychology in Sanata Dharma University
Jessica Christy Wihadhi
ABSTRACT
MG is an autoimune disease that cause a weakening of muscles in pupils, some organs of human, and oropharyngeal disorder. These can induce stress in patients. Stress itself is a very important cause of the decline of patients' condition. To reduce stress, patients need an appropriate coping strategic. This study aimed to describe the type of coping strategic of MG patients. Subjects were 3 MG patients. This study used qualitative research with directed content analysis were collected using semi-structured interview. Member checking and external auditor technique were applied to validate the results of this study. Results show that MG patients' conditions cause problems in main task, activities, relationship and fear of the future. To deal with this problems, subjects applied one or mixed coping strategy. Some factors such as social support, problem solving skills, internal locus of control, positive beliefs, and social skills affected participants in choosing their coping strategy. Other influencing factors were found too, such as experiences, gender, and educational background.
SKRIPSI
Diajukan guna memenuhi salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi.
Disusun oleh:
Jessica Christy Wihadhi
NIM: 129114019PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
JURUSAN PSIKOLOGI, FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
MOTTO
Cintai setiap proses yang ada karena segala
sesuatu yang kita lakukan dengan kasih pasti
akan melahirkan kualitas yang prima dan
hasilnya berbeda.
v
Tulisan ini kupersembahkan untuk :
Tuhan Yesus Kristus
Para penderita myasthenia gravis
Fakultas Psikologi USD
Mami-Papi-El
Teman-teman P2TKP
viii
Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma
Jessica Christy Wihadhi
ABSTRAKSI
Myasthenia gravis (MG) adalah penyakit autoimun yang menyebabkan penderitanya mengalami kelemahan otot yang ditandai dengan kelemahan pada kelopak mata, anggota tubuh, gangguan oropharyngeal. Kondisi-kondisi ini menimbulkan permasalahan-permasalahan pada penderita padahal penurunan kondisi pada penderita MG disebabkan salah satunya karena stress. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut dibutuhkan strategi coping. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi coping apa yang dilakukan penderita myasthenia gravis. Subjek penelitian ini adalah 3 orang penderita myasthenia gravis. Jenis penelitian yang dipakai adalah kualitatif dengan menggunakan analisis isi terarah. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara semi terstruktur. Validitas hasil penelitian didapatkan dengan melakukan member checking dan external auditor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi penderita MG menyebabkan timbulnya permasalahan pada tugas utama, aktivitas, relasi, dan juga munculnya ketakutan akan masa depan. Untuk menghadapinya, partisipan menggunakan salah satu strategi coping atau mengkombinasikan beberapa strategi coping. Pemilihan strategi coping dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu social support, problem solving skills, internal locus of control, positive beliefs, social skills. Selain itu, dipengaruhi juga oleh pengalaman, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.
ix
GRAVIS
Department of Psychology in Sanata Dharma University Jessica Christy Wihadhi
ABSTRACT
MG is an autoimune disease that cause a weakening of muscles in pupils, some organs of human, and oropharyngeal disorder. These can induce stress in patients. Stress itself is a very important cause of the decline of patients' condition. To reduce stress, patients need an appropriate coping strategic. This study aimed to describe the type of coping strategic of MG patients. Subjects were 3 MG patients. This study used qualitative research with directed content analysis were collected using semi-structured interview. Member checking and external auditor technique were applied to validate the results of this study. Results show that MG patients' conditions cause problems in main task, activities, relationship and fear of the future. To deal with this problems, subjects applied one or mixed coping strategy. Some factors such as social support, problem solving skills, internal locus of control, positive beliefs, and social skills affected participants in choosing their coping strategy. Other influencing factors were found too, such as experiences, gender, and educational background.
x
Berkat dari Tuhan yang Maha Esa dan penyertaan-Nya yang penuh kasih, maka saya sangat bersyukur atas kemampuan saya dalam melakukan penelitian dan penyelesaian karya ilmiah ini. Saya bersyukur pula atas segala bantuan dari banyak pihak selama proses penyelesaiannya. Oleh karena itu, saya menyampaikan apresiasi kepada semua pihak atas dukungannya:
1. Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si., dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma
2. P. Eddy Suhartanto, M.Si., Kaprodi Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Drs. Hadrianus Wahyudi, M.Si., dosen pembimbing akademik.
4. Ibu Sylvia Carolina MYM., M.Si, dosen pembimbing. 5. Para dosen penguji lainnya.
6. Para dosen Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma. 7. Para karyawan Universitas Sanata Dharma
8. Mami, papi, dan Elmo yang sudah memberikan doa restu dan dukungan penuh dalam pembuatan skripsi, terutama mami yang terus memberikan semangat sampai pada saat-saat terakhir.
9. Para subjek dan Yayasan Myasthenia Gravis Indonesia
xi
ibunda, Patrice, Tiara, Cia, Vita, dan teman-teman lain yang masih berjuang.
12.Teman teman Menuju S.Psi yang masih berjuang: Ardi, Banya, Bayu, Cia, Dian, Dimas, Edo, Ivie, Lenny, Patrice, Sofia. Teman-teman B02 (Felin, Romo Yulius, Indri, Ce agnes, Tipa) terimakasih buat setiap pelukan dan semangatnya, walaupun paling susah ketemu karena kesibukan peneliti, tapi kalian tetap menjadi salah satu semangat buat peneliti. Teman-teman Babi yang selalu menghibur via whatsapp karena sudah mulai berjauhan. 13.Mbak Pudar, Kak Rere, Mbak Esther yang sudah jadi kakak yang
menyemangati peneliti selalu
14.Ci Katherine, cici dokter yang membantu banget dalam mencari teori dan menjelaskan tentang myasthenia gravis.
15.Seseorang yang mendukungku dan mau mendengarkan segala keluh kesah peneliti saat pengerjaan skripsi
16.Serta semua pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah mendukung saya dengan caranya masing-masing.
Karena penulis menyadari bahwa skripsi ini masih bisa disempurnakan, maka penulis terbuka menerima dan menghargai segala kritik dan saran yang membantu menyempurnakan karya ilmiah ini.
Penulis
xii
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN & KARYA ILMIAH ... vi
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vii
ABSTRAKSI ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ...xvii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. PERTANYAAN PENELITIAN ... 9
C. TUJUAN PENELITIAN ... 9
xiii
2. Manfaat Praktis ... 10
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 11
A. STRATEGI COPING ... 11
1. Definisi Strategi Coping ... 11
2. Jenis Strategi Coping ... 12
3. Aspek Strategi Coping ... 15
4. Faktor yang mempengaruhi Strategi Coping ... 17
B. MYASTHENIA GRAVIS ... 21
1. Definisi Myasthenia Gravis ... 21
2. Gejala ... 22
3. Pengobatan ... 24
4. Dampak Myasthenia Gravis ... 26
C. DINAMIKA ANTAR TEORI ... 27
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 30
A. JENIS DAN DESAIN PENELITIAN ... 30
B. FOKUS PENELITIAN ... 33
C. SUBJEK PENELITIAN ... 33
D. PROSEDUR PENGUMPULAN DATA ... 34
E. ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA ... 36
F. KREDIBILITAS PENELITIAN ... 37
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 39
xiv
2. Pelaksanaan Penelitian ... 40
B. PARTISIPAN PENELITIAN ... 40
1. Data Partisipan ... 40
2. Latar Belakang Partisipan ... 42
C. ANALISIS DATA PENELITIAN ... 43
1. Analisis P1 ... 48
2. Analisis P2 ... 67
3. Analisis P3 ... 87
4. Kesimpulan Analisis Tiga Responden ...110
D. PEMBAHASAN ...118
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ...128
A. KESIMPULAN ...128
B. SARAN ...129
DAFTAR PUSTAKA ...131
xv
Tabel 3.1 Panduan pertanyaan wawancara ... 35
Tabel 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 40
Tabel 4.2 Data Partisipan ... 40
Tabel 4.3 Latar Belakang Partisipan ... 42
Tabel 4.4 Strategi Coping Penderita Myasthenia Gravis ... 43
Tabel 4.5 Tabel Kesimpulan Analisis Gambaran Kondisi Tiga Responden ...116
xvi
Gambar 1 : Skema Dinamika Antar Teori ... 30
Gambar 2 : Skema Kesimpulan Analisis P1 ... 64
Gambar 2.1: Skema Strategi Coping P1 Berkaitan Dengan Kondisi Penderita .... 65
Gambar 2.2: Skema Strategi Coping P1 Berkaitan Dengan Permasalahan yang
Dialami Penderita ... 66
Gambar 3: Skema Kesimpulan Analisis P2 ... 84
Gambar 3.1: Skema Strategi Coping P2 Berkaitan Dengan Kondisi Penderita ... 85
Gambar 3.2: Skema Strategi Coping P2 Berkaitan Dengan Permasalahan
yang Dialami Penderita ... 86
Gambar 4: Skema Kesimpulan Analisis P3 ...107
Gambar 4.1: Skema Strategi Coping P3 Berkaitan Dengan Kondisi Penderita ..108
Gambar 4.2: Skema Strategi Coping P3 Berkaitan Dengan Permasalah
yang Dialami Penderita ...109
xvii
Informed Consent ...135
Verbatim Wawancara P1 ...138
Verbatim Wawancara P2 ...181
1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
KAS (20) adalah seorang mahasiswi Indonesia yang mengalami penyakit autoimun yang disebut myasthenia gravis. Awalnya KAS merasa kelopak matanya sering terasa berat dan orang yang melihat akan mengira ia seperti mengantuk terus. Selain itu, KAS juga mengalami double vision. Sebelum didiagnosis menderita penyakit myasthenia gravis, KAS adalah seorang pemain basket. Namun, sejak ia didiagnosis menderita myasthenia gravis, ia tidak bermain basket lagi karena kaki dan tangannya lemas pada saat bermain basket. KAS disarankan dokter untuk menjaga diri agar tidak mudah lelah, kepanasan, dan stress karena tiga hal ini dapat memicu penyakitnya kambuh. Semenjak KAS didiagnosis menderita myasthenia gravis, ia harus merelakan banyak kegiatan yang biasa ia ikuti. Hal itu membuat KAS merasa sedih.
Kasus KAS adalah salah satu dari banyak kasus penderita
meninggal dunia kebanyakan diakibatkan karena gagal napas. (“Pantang Mati Sebelum Ajal” Meski Hidup dengan Miastenia Gravis, 2012).
Di Indonesia terdapat perkumpulan penderita Myasthenia Gravis
yang terdapat pada beberapa media sosial Salah satu contoh perkumpulannya adalah Yayasan Myasthenia Gravis Indonesia (YMGI) yang resmi berdiri pada November 2011 dan memiliki website, Facebook, Twitter, milis sebagai bentuk layanan informasi bagi penderita myasthenia gravis, keluarga penderita, dan masyarakat umum. Para penderita
myasthenia gravis saling bercerita tentang kondisi masing-masing, saling berbagi informasi tentang banyak hal menyangkut myasthenia gravis, bahkan digunakan sebagai tempat untuk menceritakan permasalahan yang dihadapi dan saling menguatkan serta membangkitkan semangat satu sama lain pada media sosial yang ada (Myasthenia Gravis: Komunitas Kelainan Autoimun, 2013).
Myasthenia Gravis (MG) adalah salah satu bentuk dari penyakit autoimun yang masih jarang terjadi dan tidak bisa disembuhkan. Penyakit ini memiliki jumlah kejadian 1/20.000 pada populasi umum (Kulaksizoglu, 2007). Istilah Myasthenia Gravis berasal dari bahasa Latin, yaitu myasthenia yang berarti kelemahan otot, dan gravis yang berarti berat atau serius (Schact, Edmund & Djalinusyah, 2001). Penyakit MG memiliki gejala ptosis (menurunnya kelopak mata), binocular diplopia
mengunyah permen karet atau daging yang keras, serta kesulitan dalam mengekspresikan wajah dan tersenyum (Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007). Timbulnya gejala-gejala ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti infeksi, sakit fisik, stres, suhu panas atau dingin, dan penggunaan obat tertentu (Kohler, 2007 dalam Arpandy & Halim, 2013). Beberapa situasi juga dapat memicu timbulnya gejala MG yaitu kehilangan orang terdekat, tekanan dari keluarga, dan perceraian (Komunikasi Pribadi, 3 Februari 2013 dalam Arpandy & Halim, 2013). Kondisi-kondisi ini menyebabkan timbulnya permasalahan pada penderita.
bahwa semua penyakit kronis, termasuk MG, memiliki konsekuensi psikologis seperti gangguan kecemasan, meliputi gangguan panik, serta gangguan depresif. Selain itu, menurut Paradis, Friedman, Lazar, et al.
(1993, dalam Kulaksizoglu, 2007), perubahan karakteristik pada penderita MG menyebabkan pasien menjadi cepat marah, tegang, dan khawatir. Pada penelitian mengenai The Psychosocial Impact of Ptosis as a Symptom of Myasthenia Gravis: A Qualitative Study (Richards, Jenkinson, Rumsey, & Harrad, 2014), dikatakan bahwa partisipan dilaporkan memiliki level emosional distress yang tinggi dan kecemasan yang disebabkan gejala ptosis yang dialami. Dalam penelitian mengenai
Psychosocial Aspects in Myasthenic Patients Treated by Plasmapheresis
(Chen, Chang, Ciu, & Yeh, 2011) diketahui bahwa walaupun sudah diberi terapi secara medis, kecemasan dan depresi tetap menjadi masalah utama pada pasien MG.
penderita.
Sebuah artikel menuliskan bahwa dampak psikologis yang dialami oleh penderita MG dapat memperburuk penyakitnya karena tubuh kehilangan banyak sumber energi untuk melakukan kontraksi otot yang mengakibatkan semakin melemahnya kinerja otot pada si penderita (Stress & Myasthenia Gravis, 2016). Raggi, Leonardi, Mantegazza, Casale, dan Fioravanti (2010, dalam Arpandy & Halim, 2013) juga mengatakan kondisi stress dapat memicu tingkat keparahan penderita. Untuk mengelola dampak psikologis yang dialami penderita, maka dibutuhkan keterampilan dan usaha yang tepat untuk mengolahnya. Usaha dan keterampilan itu disebut dengan strategi coping. Perilaku coping yang positif dapat memberikan manfaat agar seseorang dapat melanjutkan kehidupan walaupun memiliki masalah, yaitu untuk mempertahankan keseimbangan emosi, mempertahankan citra diri yang positif, mengurangi tekanan lingkungan atau menyesuaikan diri terhadap hal-hal yang negatif dari hubungan yang mencemaskan terhadap orang lain (Firdaus, 2004 dalam Hasan& Rufaidah, 2013).
(problem focused coping-PFC) dan perilaku coping yang berorientasi pada emosi (emotion focused coping-EFC). PFC adalah strategi kognitif yang digunakan individu dalam menghadapi masalah dan berusaha menyelesaikannya dan EFC adalah strategi yang digunakan indivdu untuk memberikan respon terhadap situasi yang menekan dengan lebih mengutamakan pendekatan emosional. PFC memiliki sifat analitis logis, mencari informasi, dan berusaha untuk memecahkan masalah secara positif dan EFC memiliki ciri represi, proyeksi, mengingkari, dan berbagai cara untuk meminimalkan ancaman (Hollahan & Moos, 1987 dalam Saptoto, 2010).
Penderita sebuah penyakit serius membutuhkan strategi coping.
Mereka melakukan coping dengan cara mengubah gaya hidupnya dan membentuk relasi yang lebih baik dengan keluarga juga dokternya. Namun, penderita yang mengabaikan masalahnya biasanya memiliki pengalaman yang buruk dan kesehatan yang buruk serta relasi yang buruk dengan keluarga maupun dokternya (Sarafino, 2011).
pengalaman sosialnya (Pearlin dan Scroler dalam Hasan & Rufaidah, 2013). Selain itu, strategi coping juga dipengaruhi oleh faktor kepribadian, lingkungan, jenis kelamin, tingkat pendidikan, usia, dan status ekonominya (Hasan & Rufaidah, 2013). Dengan demikian, setiap individu memiliki strategi copingnya masing-masing berdasarkan latar belakang diri dan juga masalahnya.
Dalam penelitian Strategi Coping dan Kelelahan Emosional pada Ibu yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (Miranda, 2013), subjek cenderung berfokus pada penggunaan problem focused coping yang berupa keaktifan diri, perencanaan, penekanan kegiatan bersaing, kontrol diri, dan dukungan sosial instrumental untuk mengetahui dampak dari permasalahannya sehingga subjek dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi masalah. Subjek juga menggunakan emotion focused coping
yang berupa dukungan sosial emosional, interpretasi positif, penolakan, dan religiusitas ketika sedang mengalami kelelahan emosional. Penelitian ini mengatakan subjek memberikan reaksi yang berbeda-dalam dalam mengatasi masalah yang dihadapi tergantung dari pengetahuan, pengalaman, dan persepsi yang dimiliki.
Focused Coping lebih sering digunakan subjek untuk mengatasi tekanan yang dialami. Bentuk EFC yang sering digunakan adalah melamun, berdoa, diam di kamar, dan bersabar.
Pada penelitian Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Strategi Coping pada Penderita Stroke RSUD Dr. Moewardi Surakarta
(Hasan & Rufaidah, 2013) diketahui bahwa strategi coping yang dimunculkan oleh penderita stroke sangat dipengaruhi oleh dukungan sosial karena dapat mengurangi ketegangan psikologis dan menstabilkan kembali emosi pada penderita stroke. Dukungan ini penting untuk membangun kepribadian penderita ketika mengalami permasalahan atau tekanan yang sulit dihadapi.
Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan bahwa setiap individu memiliki permasalahan sehingga membutuhkan strategi coping untuk menghadapinya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan kebanyakan individu menggunakan kedua jenis coping, tetapi hanya satu yang cenderung sering digunakan dengan bentuk yang berbeda-beda, tergantung dengan permasalahan yang dialami.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melihat bagaimana strategi coping penderita MG dalam menghadapi permasalahan mereka. Sebenarnya sudah ada penelitian mengenai Coping With Myasthenia Gravis and Implications for Psychoteraphy (Doering, 1993).
perilaku coping dengan bentuk perilaku tenang dan menerima. Melalui penelitian ini, peneliti ingin lebih mendeskripsikan bagaimana strategi
coping yang dilakukan penderita MG dalam mengelola permasalahan-permasalahannya berdasarkan dari pengalaman-pengalaman yang sudah dialami sendiri dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Peneliti ingin melihat pengalaman penderita MG dengan cara menggali informasi melalui wawancara agar data yg dihasilkan lebih bervariasi.
B. PERTANYAAN PENELITIAN
Bagaimana strategi coping penderita myasthenia gravis untuk mengelola permasalahan yang dialami akibat kondisi dirinya?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan strategi coping yang dilakukan penderita myasthenia gravis dalam mengelola permasalahan yang dialami akibat kondisi dirinya.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoretis
gravis.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi para penderita myasthenia gravis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran pembanding bagi penderita MG lainnya dalam mengelola permasalahan-permasalahan yang mereka alami.
11
TINJAUAN PUSTAKA
A. STRATEGI COPING
1. Definisi Strategi Coping
Individu melakukan coping melalui transaksi antara kognitif dan perilaku dengan lingkungan. Individu menggunakan bermacam-macam metode untuk mengelola ketidakcocokan antara tuntutan pada situasi dan sumbernya. Proses coping sendiri bukanlah sebuah kejadian tunggal karena coping adalah transaksi berkelanjutan dengan lingkungannya (Sarafino, 2011).
untuk mengelola stres dalam beberapa cara yang efektif (Huffman, Verno, Vernoy, 2000).
Dalam kamus psikologi (Reber & Reber, 2010), strategi coping
diartikan sebagai cara yang disadari dan rasional untuk menghadapi dan mengatasi kecemasan hidup. Aldwin dan Revenson (1997, dalam Miranda 2013) menambahkan bahwa strategi coping merupakan suatu cara atau metode yang dilakukan oleh setiap individu untuk mengatasi dan mengendalikan situasi atau masalah yang dialami dan dipandang sebagai hambatan, tantangan yang bersifat menyakitkan, serta yang merupakan ancaman yang bersifat merugikan. Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa coping adalah usaha perilaku dan kognitif individu yang efektif dan terus berubah untuk mengelola tuntutan yang kurang cocok dari luar maupun dalam, mengatasi dan mengendalikan masalah/stress, tantangan yang menyakitkan, ancaman yang merugikan pada situasi yang menekan.
2. Jenis Strategi Coping
mengkombinasikan kedua jenis strategi coping secara bersamaan (Sarafino, 2011) :
a. Problem Focused Coping (PFC)
Coping ini berorientasi pada masalah (Mohino, dkk, 2004, dalam Scholichatun, 2011). PFC adalah strategi kognitif untuk penanganan stress yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya. Coping
ini diarahkan pada pengurangan tuntutan pada situasi yang menekan atau memperluas sumbernya. Individu cenderung menggunakan coping ini ketika mereka percaya bahwa sumber atau tuntutan pada situasi dapat diubah (Lazarus & Folkman, 1984 dalam Sarafino, 2011).
PFC mencoba untuk mengkonfrontasi dan menghadapi langsung tuntutan situasi atau untuk mengubah situasi sehingga tidak ada tekanan yang terlalu lama (Passer, 2009). Strategi ini terdiri dari mengidentifikasi masalah yang menekan, menghasilkan solusi, memilih solusi yang tepat, dan mengaplikasikan solusi ke masalah, sehingga menghilangkan stres (Huffman, Verno, Vernoy, 2000).
b. Emotional Focused Coping (EFC)
kognitif atau memperhatikan aspek-aspek positif dari diri dan situasi. EFC juga disebut sebagai strategi emosi atau kognitif yang mengubah bagaimana seseorang memandang situasi yang menekan (Huffman, Verno, Vernoy, 2000). Beberapa bentuk EFC melibatkan penilaian situasi dalam cara yang dapat mengurangi pengaruh emosi. Bentuk lainnya melibatkan penyangkalan, penghindaran, atau malah penerimaan situasi yang menekan (Passer, 2009).
Coping ini diarahkan pada pengontrolan respon emosi terhadap situasi yang menekan. Individu dapat mengatur respon emosi mereka melalui pendekatan perilaku dan kognitif. Contoh pendekatan perilaku adalah mencari dukungan sosial dari teman, menjalankan aktivitas yang menyenangkan yang membuat seseorang tidak memperhatikan masalahnya; sedangkan contoh pendekatan kognitif adalah bagaimana seseorang berpikir tentang situasi yang menekan, mengubah persepsi terhadap situasi yang dihadapi seperti melihat sesuatu yang baik dari masalah tersebut (Sarafino, 2011).
mengurangi perasaan cemas dan bersalah, tetapi tidak akan terjadi secara lama (Huffman, Verno, Vernoy, 2000).
Seseorang cenderung menggunakan EFC ketika mereka memiliki keyakinan bahwa mereka dapat melakukan hal kecil untuk mengubah kondisi yang menekan (Lazarus & Folkman, 1984 dalam Sarafino, 2011). EFC adalah bentuk coping yang tidak mengubah realita, tetapi memberikan penilaian kembali terhadap situasi yang menekan, dan hal tersebut dapat mengurangi stres. (Huffman, Verno, Vernoy, 2000)
3. Aspek Strategi Coping
Carver, Scheier, dan Weintraub (1989) menyebutkan beberapa strategi
coping yang terdapat dalam: a. Problem Focused Coping
1) Active coping, suatu tindakan untuk mencoba menghilangkan penyebab stress atau memperbaiki akibatnya dengan cara langsung.
3) Suppresion of competing activities, usaha individu untuk menyelesaikan masalahnya dengan cara mengurangi perhatian pada aktivitas lain.
4) Restrain coping, usaha individu menahan diri untuk menunggu waktu dan melihat kesempatan bertindak yang tepat atau tidak bertindak terburu-buru.
5) Seeking social support for instrumental reasons, yaitu usaha individu mencari dukungan sosial seperti nasihat, bantuan atau informasi untuk menyelesaikan masalah
b. Emotion Focused Coping
1) Seeking social support for emotional reasons, yaitu upaya individu untuk mencari dukungan sosial melalui dukungan moral, simpati atau pengertian.
2) Positive reinterpretation, artinya upaya individu untuk memaknai setiap kejadian atau permasalahan dengan berpikir positif.
3) Acceptance, sikap menerima suatu keadaan yang dihadapi. 4) Denial, usaha individu untuk menolak atau menyangkal sebuah
kenyataan.
6) Focusing on and venting emotion, kecenderungan untuk fokus pada tekanan apapun upaya individu untuk melepas atau menyalurkan perasaan ditandai dengan usaha meningkatkan kesadaran akan adanya tekanan emosional.
7) Behavioral disengagement, penurunan usaha oleh individu untuk menghadapi stressor atau masalah.
8) Mental disengagement, upaya alternatif individu untuk mengalihkan masalah dengan melakukan aktivitas lain seperti tidur, menonton tv, atau melamun.
4. Faktor Yang Mempengaruhi Strategi Coping
Kemampuan seseorang untuk melakukan coping tergantung dari stresor itu sendiri mulai dari kompleksitas, intensitasnya, dan panjang durasinya, juga dari tipe strategi coping yang digunakan. Selain itu, tergantung pula dari faktor individu yang bersangkutan. Faktor-faktor personal yang mempengaruhi pemilihan strategi coping
terdiri dari kepribadian, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status sosial ekonomi (McCrae, 1984 dalam Miranda, 2013). Proses coping
jenis kelamin, tingkat pendidikan, usia, dan status ekonominya (Hasan & Rufaidah, 2013).
Lazarus dan Folkman (1984) membagi beberapa tipe faktor individu yang mempengaruhi coping, yaitu health and energy, positive beliefs, problem-solving skills, an internal locus of control, social
skills, social support, and material resources (Huffman, Verno, Vernoy, 2000).
a. Health and Energy
Semua stresor menyebabkan beberapa tipe perubahan fisiologis. Padahal kesehatan individu mempengaruhi kemampuannya untuk melakukan coping. Semakin kuat dan sehat seseorang, semakin baik kemampuan coping mereka.
b. Positive Beliefs
lain, seperti dokter yang dirasa bisa mempengaruhi hasil positif; atau kepercayaan terhadap Tuhan.
c. Problem-Solving Skills (Lazarus & Folkman, 1984)
Kemampuan memecahkan masalah termasuk juga kemampuan untuk mencari informasi, menganalisis situasi untuk mengidentifikasi masalah sehingga menghasilkan program tindakan alternatif, mempertimbangkan program tindakan alternatif, mempertimbangkan alternatif sehubungan dengan hasil yang diinginkan atau diantisipasi, dan memilih serta mengimplementasikan rencana yang cocok untuk tindakan (Janis, 1974; Janis & Mann, 1977). Kemampuan memecahkan masalah berasal dari seberapa luas pengalaman seseorang, pengetahuan seseorang, kemampuan kognitif untuk menggunakan pengetahuan, dan kapasitas untuk mengontrol diri.
d. Internal Locus of Control
Orang yang merasa memiliki internal locus of control sepanjang hidupnya, lebih berhasil dalam melakukan coping dibanding orang yang merasa tidak memiliki kontrol sepanjang kejadian dihidupnya (Strickland, 1978). Penelitian sebelumnya di China (Hamid & Chan, 1998) dan Belgium (DeBrabander, Hellermans, Boone, and Gertis, 1996) menunjukkan hubungan antara psychological stress
pelajar yang memiliki internal locus yang tinggi memiliki
psychological stress yang rendah daripada yang memiliki external locus yang tinggi.
e. Social Skills
Situasi sosial seperti rapat, kelompok diskusi, kencan, pesta, dan yang lainnya seringkali menjadi sumber kesenangan seseorang, tetapi dapat juga menjadi sumber stres bagi seseorang. Contohnya saat bertemu orang baru dan seseorang mencoba mencari bahan pembicaraan, hal itu dapat menjadi sumber stres bagi beberapa orang. Namun, orang yang memiliki kemampuan sosial (mengetahui perilaku yang sesuai untuk situasi tertentu dan mengekspresikan diri dengan baik) mengalami kecemasan yang lebih rendah dibandingkan orang yang tidak memiliki kemampuan sosial. Kemampuan sosial membantu seseorang tidak hanya untuk berinteraksi dengan orang lain tetapi juga mengkomunikasikan kebutuhan dan hasrat diri, mendapatkan bantuan ketika seseorang membutuhkan, dan mengurangi permusuhan di situasi yang tegang. f. Social Support
Untuk beberapa orang dengan masalah yang spesifik, dukungan kelompok akan membantu seseorang melakukan coping tidak hanya karena mereka menyediakan sandaran, tetapi juga karena orang dapat mempelajari teknik untuk melakukan coping dari orang lain yang mengalami masalah yang mirip.
g. Material Resources
Uang dan barang yang dapat dibeli dengan uang dapat menjadi sumber yang nyata (Adler et al., 1994; Sobel, 1994). Uang meningkatkan sejumlah pilihan yang tersedia untuk menghilangkan sumber stres atau mengurangi efek stres. Ketika seseorang dihadapkan dengan kesulitan hidup, dengan stresor yang kronis, atau dengan bencana besar, orang yang memiliki uang yang memiliki kemampuan untuk menggunakan uang dan berpengalaman memiliki tingkat stres lebih rendah dibandingkan orang yang tidak memiliki uang (Lazarus dan Folkman, 1984).
B. MYASTHENIA GRAVIS
1. Definisi Myasthenia Gravis
terjadi dan tidak bisa disembuhkan, dengan kejadian 1/20.000 pada populasi umum (Kulaksizoglu, 2007). Istilah Myasthenia Gravis
berasal dari bahasa Latin yaitu myasthenia yang berarti kelemahan otot, dan gravis yang berarti berat atau serius (Schact, Edmund & Djalinusyah, 2001).
MG disebabkan karena adanya penurunan sejumlah
acetylcholine receptors (AChRs) yang tersedia pada neuromuscular junction disebabkan oleh antibody-mediated atuoimmune attack
memacu meningkatnya myasthenic weakness dan mungkin menimbulkan crisis (Drachman, 2012).
2. Gejala
Penderita MG memiliki ciri-ciri yang ditunjukkan adanya kelemahan yang berubah-ubah terutama bila sedang beraktivitas (.Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007). Otot kranial (yang berhubungan dengan tengkorak), khususnya otot kelopak mata dan ekstraokular, biasanya muncul awal pada penyakit MG; diplopia
(penglihatan ganda) dan ptosis (menurunnya kelopak mata)umumnya menjadi keluhan pertama (Drachman, 2012). Kelemahan otot mata ini menyebabkan kesulitan pada beberapa pasien seperti kesulitan menyetir, membaca, dan menonton televisi (Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007).
Selain, kelemahan otot mata, gangguan pada oropharyngeal
dan kelemahan anggota tubuh biasa juga terjadi. Gangguan pada
oropharyngeal ini menyebabkan penderita mengalami dysathria
mual maupun kontraksi otot perut yang sangat kuat) atau aspirasi (saat menghembus) yang berupa keluarnya bentuk cairan atau makanan dari hidung. Adanya gangguan pada otot rahang juga sering terjadi pada penderita MG. Penderita mengeluhkan adanya kesulitan mengunyah permen atau daging yang keras (Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007). Cara berbicara mungkin juga akan menjadi sengau karena disebabkan kelemahan langit-langit di daerah mulut.
Pada 85% pasien, kelemahan menjadi umum, mempengaruhi otot tungkai (Drachman, 2012). Kelemahan pada anggota tubuh pada MG menyebabkan penderita mengalami kesulitan dan rasa lemas pada anggota gerak seperti tangan dan kaki (Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007). Selain itu pula, penderita juga mengalami kesulitan dalam mengekspresikan wajah dan tersenyum. (Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007). Gejala-gejala ini umumnya terjadi secara kambuhan
dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda pada tiap penderitanya (Myasthenia Gravis, 2015). Timbulnya gejala-gejala ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti infeksi, sakit fisik, stres, suhu panas atau dingin, dan penggunaan obat tertentu (Kohler, 2007 dalam Arpandy & Halim, 2013).
3. Pengobatan
beberapa jenis treatment untuk penderita MG. Treatment yang banyak digunakan termasuk anticholinesterase medications, immunosuppresion, thymectomy, dan plasmapheresis atau intravenous immunoglobulin.
a. Anticholinesterase Medications
Obat ini berfungsi memperbaiki komunikasi antara saraf dan otot dengan hasil kekuatan otot menjadi lebih baik (Myasthenia Gravis, 2015). Pyridostigmine adalah salah satu obat
anticholisnesterase yang paling sering digunakan. Manfaat dari
pyridostigmine dirasakan dalam 15-30 menit dan bertahan hingga tiga sampai empat jam, dengan respon yang bervariasi dari individu. Jumlah dosis disesuaikan kepada kebutuhan individu (Drachman, 2012).
b. Thymectomy
c. Immunosuppresion
Glucocorticoids, azathioprine, dan obat lain yang termasuk
immunosuppresion efektif pada hampir semua pasien MG.
Treatment ini akan menekan kinerja sistem kekebalan tubuh sehingga mengendalikan produksi antibodi yang abnormal (MyastheniaGravis, 2015).
d. Plasmapharesis (Drachman, 2012
Plasmapharesis adalah treatment jangka pendek untuk mencapai peningkatan kekuatan secara cepat pada penderita
myasthenia crisis, untuk menyiapkan pasien menghadapi
thymectomy atau prosedur bedah lainnya. Selama plasmapharesis, plasma yang terdiri dari antibodi AchR dipisahkan dari keseluruhan darah dan diganti oleh albumin atau plasma beku yang masih segar.
4. Dampak Myasthenia Gravis
dilakukanKohler (2007), beberapa pasien yang menderita MG mengalami kesulitan dalam aktivitas sekolah atau bekerja serta masalah dalam menghadapi kehidupan sehari-hari mereka.
Penelitian yang dilakukan Kulaksizoglu (2007) mengatakan bahwa semua penyakit kronis, termasuk MG, memiliki konsekuensi psikologis seperti gangguan kecemasan, meliputi gangguan panik, serta gangguan depresif. Selain itu, menurut Paradis, Friedman, Lazar, et al. (1993, dalam Kulaksizoglu, 2007), perubahan karakteristik pada penderita MG menyebabkan pasien menjadi cepat marah, tegang, dan khawatir. Dalam penelitian yang dilakukan oleh dr. Yudith Rachmadiah (2012, dalam Arpandy & Halim, 2013) diketahui bahwa sebagian besar penderita MG memiliki masalah dalam melakukan aktivitas sehari-hari karena kemampuan otot yang terbatas, seperti berjalan jauh, menaiki tangga, mengangkat barang, berolahraga, memasak, dan lainnya. Masalah-masalah tersebut memunculkan banyak tekanan bagi penderita MG. Kondisi fisik tersebut memunculkan pandangan yang keliru dari orang lain terhadap penderita MG dan menyebabkan dampak psikologis pada penderita.
C. DINAMIKA ANTAR TEORI
Penderita tidak boleh kelelahan, kepanasan, dan stress karena dapat memicu kambuhnya penyakit. MG menimbulkan kondisi ptosis
(menurunnya kelopak mata), binocular diplopia (penglihatan ganda), dysathria (penderita mengalami sulit berbicara/celat), dysphagia (sulit menelan), kelemahan pada tangan dan kaki, kesulitan mengunyah permen karet atau daging yang keras, serta kesulitan dalam mengekspresikan wajah dan tersenyum (Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007). Kondisi-kondisi ini menyebabkan timbulnya permasalahan pada penderita, misal pada aktivitas sehari-hari, kegiatan sekolah, dan pekerjaan. Permasalahan-permasalahan tersebut bisa menyebabkan timbulnya dampak psikologis pada penderitanya, seperti cepat marah, tegang, dan khawatir. Raggi, Leonardi, Mantegazza, Casale, dan Fioravanti (2010, dalam Arpandy & Halim, 2013) mengatakan kondisi stress dapat memicu tingkat keparahan penderita. Untuk itulah untuk mengelola permasalahan-permasalahan yang menimbulkan dampak psikologis, dibutuhkan sebuah cara atau metode. Cara atau metode inilah yang disebut dengan strategi coping. Lazarus dan Folkman (1984) mengatakan bahwa ada dua jenis strategi coping, yaitu
kambuhnya MG. Dengan demikian, melalui penelitian ini, peneliti ingin mendeskripsikan bagaimana strategi coping yang dilakukan penderita
Gambar 1: Skema Dinamika Antar Teori
Problem Focused Coping
Strategi Coping Timbul permasalahan Kondisi penderita Myasthenia Gravis
Emotion-Focused Coping
31
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. JENIS DAN DESAIN PENELITIAN
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan metode yang mengeksplorasi dan memahami makna yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif melibatkan usaha penting seperti mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data yang spesifik dari partisipan, menganalisis data secara deduktif, dan menginterpretasikan makna sebuah data (Creswell, 2014). Secara umum, penelitian kualitatif lebih mengandalkan data berupa ungkapan subjek penelitian untuk mengeksplorasi fenomena atau permasalahan pokok yang terdapat dalam sebuah penelitian (Supratiknya, 2015).
2015) menyatakan juga bahwa pada pendekatan ini, teori atau hasil penelitian sejenis dipakai untuk membantu merumuskan pertanyaan penelitian atau membantu menentukan skema awal pengodean atau skema awal hubungan antar kode. Miles et al. (2014, dalam Willis, Sullivan-Bolyai, Knafl, & Zichi-Cohen, 2016) juga mengatakan bahwa kerangka atau skema konsep yang dikembangkan dari literatur dan membantu dalam mengumpulkan dan menganalisis data. Hsieh dan Shannon (2005, dalam Supraktiknya, 2015) menggunakan istilah deductive category application
atau penerapan kategori secara deduktif untuk menyebut penggunaan teori hasil penelitian terdahulu untuk menyusun skema awal pengodean.
B. FOKUS PENELITIAN
Penelitian ini berfokus bagaimana strategi coping penderita
myasthenia gravis. Peneliti akan melihat bagaimana penderita MG mengelola permasalahan-permasalahan yang dialami akibat dari kondisinya.
C. SUBJEK PENELITIAN
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposeful sampling untuk memilih subjek. Peneliti memilih individu yang sesuai dengan masalah penelitian dan fenomena yang ada pada penelitian ini. Pemilihan ini terkait siapa atau apa yang akan diteliti, tujuan penelitian, dan berapa banyak subjek yang dibutuhkan.
D. PROSEDUR PENGUMPULAN DATA
Peneliti mengumpulkan data dengan metode wawancara. Wawancara merupakan percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Poerwandari, 1998). Wawancara membantu para partisipan bisa lebih leluasa untuk bisa memberikan informasi historis dan memungkinkan peneliti mengontrol alur tanya jawab. (Creswell, 2014).
Jenis wawancara yang dipilih adalah wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur biasanya berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan mendalam tergantung dengan topiknya. Penggunaan wawancara semi terstruktur ini memungkinkan peneliti dan partisipan melakukan dialog, dan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sebelumnya dapat dimodifikasi menurut respon partisipan. Dengan demikian, peneliti dapat menyelidiki lebih jauh hal-hal menarik dan penting yang muncul (Smith, 2009).
Tabel 3.1
Panduan pertanyaan wawancara
Pertanyaan Tujuan Pertanyaan
Gambaran penyakit Sejak kapan Anda menderita MG? Menurut Anda pribadi, apa itu MG? Bagaimana gejala awal yang Anda alami?
Rapport, mengetahui kondisi awal mula subjek menderita penyakit MG.
Ketika mengetahui kalau Anda
menderita MG, bagaimana perasaan Anda? Pikiran Anda? Apa yang Anda lakukan?
Mengetahui respon awal penderita dan apa yang dilakukan.
Pengobatan seperti apa saja yang pernah Anda lakukan?
Mengetahui sudah sampai tahap mana pengobatan yang dijalani
Permasalahan yang dihadapi Bagaimana aktivitas Anda sebelum
sakit?
Apa dampak MG bagi aktivitas Anda?
Melihat perubahan dan dampak aktivitas sosial penderita
Bagaimana relasi anda dengan orang-orang di sekitar anda sebelum sakit? Apa dampak MG bagi relasi Anda?
Mengetahui bagaimana relasi sosial subjek sebelum dan sesudah MG.
Ketika menjalani pengobatan, apa yang Anda rasakan dan pikirkan?
Melihat bagaimana subjek dalam menjalani pengobatan
Hal apa yang membuat Anda
down/tertekan terkait MG?
Mengetahui hal yang membuat penderita tertekan
Berkaitan dengan tugas utama (misal
mahasiswa), bagaimana Anda
mengatasi masalah yang timbul
berkaitan dengan tugas utama?
Melihat strategi coping terkaitan tugas utama
Coping Apa yang Anda lakukan untuk
menghadapi
permasalahan-permasalahan yang dialami?
Melihat strategi coping yang digunakan
Faktor yang mempengaruhi coping Apakah Anda mengikuti komunitas
penderita MG? Apakah Anda
merasakan manfaatnya?
Melihat apakah dukungan sosial mempengaruhi strategi
coping penderita MG. Bagaimana juga respon orang-orang
terdekat? (keluarga, teman,
pasangan)
E. ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA
Analisis data merupakan proses berkelanjutan yang bisa saja melibatkan proses pengumpulan data, interpretasi, dan pelaporan hasil secara bersama-sama. Langkah-langkah yang akan digunakan untuk melakukan analisis isi terarah berbasis penerapan kategori secara deduktif mencangkup langkah-langkah berikut ini (Supraktiknya, 2015):
1. Langkah pertama adalah menyusun sebuah matriks kategorisasi (Elo & Kyngas, 2008). Jika pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, maka kepada para partisipan, akan diajukan pertanyaan utama yang bersifat terbuka tentang aneka pengalaman yang dialami oleh partisipan, serta diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang lebih terarah sekitar kategori-kategori yang sudah ditentukan sebelumnya (Hsieh & Shannon, 2005).
ditentukan dalam matriks kode; setiap bagian teks yang dipandang merepresentasikan fenomen yang diteliti tetapi tidak cocok dimasukkan ke dalam salah satu kode pada matriks kode diberik kode baru atau tambahan. Cara kedua dimulai juga dengan membaca keseluruhan transkip wawancara, kemudian langsung dilakukan pengodean dengan kode-kode yang sudah ditentukan di matriks kode. Data-data yang tidak bisa segera dimasukkan ke dalam salah satu kode akan ditandai. Selesai pengodean, bagian-bagian teks yang belum bisa dimasukkan ke dalam salah satu kode, dianalisis untuk menentukan apakah bagian-bagian tersebut merepresentasikan satu atau lebih kategori baru atau hanya merupakan subkategori dari salah satu kode yang sudah tersedia (Hsieh & Shannon, 2005).
F. KREDIBILITAS PENELITIAN
BAB IV
PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
A. PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN
1. Persiapan Penelitian dan Perizinan
Dalam penelitian ini, subjek yang diteliti adalah penderita
Myasthenia Gravis. Untuk menentukan partisipan ini, peneliti menggunakan purposeful sampling. Pada awalnya, peneliti mencari subjek di komunitas Yayasan Myasthenia Gravis Indonesia yang berada di salah satu media sosial. Kemudian secara spesifik, peneliti mencari penderita yang berada di Yogyakarta dan sekitarnya. Setelah menemukan beberapa subjek, peneliti menghubungi secara langsung untuk menanyakan kesediaan para subjek. Kemudian peneliti dan subjek menentukan jadwal dan tempat untuk melakukan wawancara.
Sebagai bentuk kebersediaan, subjek diminta untuk mengisi
2. Pelaksanaan Penelitian
Sebelum pelaksanaan wawancara, peneliti memulai dengan
rapport kepada setiap subjek agar subjek merasa nyaman. Setelah subjek mulai merasa nyaman, peneliti mulai melakukan wawancara. Berikut ini merupakan waktu dan tempat pelaksanaan penelitian
Tabel 4.1
Waktu dan Tempat Penelitian
No Keterangan Partisipan 1 Partisipan 2 Partisipan 3
1. Wawancara
B. PARTISIPAN PENELITIAN
1. Data partisipan
Tabel 4.2 Data Partisipan
No. Keterangan Partisipan 1 Partisipan 2 Partisipan 3
1 Nama Inisial P1 P2 P3
2 Usia 21 tahun 20 tahun 37 tahun 3 Jenis Kelamin Perempuan Perempuan Laki-laki 4 Pekerjaan Mahasiswi Mahasiswi -
menikah 6 Pendidikan
terakhir
SMA SMA SMA
42
2. Latar Belakang Partisipan
Berikut ini adalah tabel yang berisi latar belakang gambaran penyakit partisipan.
Tabel 4.3
Latar Belakang Partisipan
Partisipan 1 Partisipan 2 Partisipan 3
Lama sakit 15 tahun 5 tahun 3 tahun
terjatuh saat berjalan akibat kelelahan.
Sering jatuh, mendadak seluruh tubuh lemas saat basket.
Saat beraktivitas band tiba-tiba mata kiri menutup (ptosis), kelelahan saat aksi panggung, nafas yang tidak kuat saat dipegang terjatuh, ptosis, dan diplopia, suara yang sering hilang
Diplopia, ptosis, kesulitan berjalan, kesulitan mengangkat gayung, mata terasa berat, sulit mengunyah, dan tersedak makanan, kesulitan tersenyum, kesulitan berekspresi muka, kadang-kadang sesak nafas
Pelo, sengau, tidak bisa menelan makanan, lemas
Penyebab kambuh Kelelahan, musim dingin,
dan minum es dalam porsi
Kelelahan, stress, kepanasan, kedinginan, sakit.
43
Pengobatan yang
pernah/sedang dijalani
Terapi listrik, pengobatan alternatif Jepang, Cina, pengobatan tradisional, mestinon
Mestinon, plasmapharesis Mestinon
C. ANALISIS DATA PENELITIAN
Tabel 4.4
Strategi Coping Penderita Myasthenia Gravis
Partisipan 1 Partisipan 2 Partisipan 3
Gambaran
Kondisi Penderita MG
Gejala awal - Terjatuh saat menari dan berjalan (12-14)
- Jatuh dan tubuh lemas saat basket (line 2-9)
- Ptosis, kelelahan saat di panggung, nafas tidak kuat, vokal tinggi tidak kuat saat menyanyi (line 2-5; 5-13)
Diagnosis awal - Diagnosis awal diketahui tahun 2013 (line 1-7)
- Perasaan sedih dan tidak adil (27-31; 115-118)
- Diagnosis awal diketahui tahun 2011 (line 9-15)
- Menerima diagnosis September 2014; muncul perasaan kacau dan sedih, sempat menyalah Tuhan (line 109-113)
Gejala lain yang dialami
- Gejala lain yang dialami adalah sulit menelan,
- Gejala lain yang dialami adalah diplopia, ptosis,
44
terjatuh, ptosis, dan diplopia, suara yang sering hilang (line 53-62; 291-299)
- Kondisi saat haid (74-75)
mengangkat gayung, mata terasa berat, sulit mengunyah, dan tersedak makanan, kesulitan tersenyum, kesulitan berekspresi muka, kadang-kadang sesak nafas (line 20-23; 66-72; 75-76)
menelan makanan, lemas (line 50-59; 22-37)
- Terjatuh dari tetangga akibat lemas (line 348-355)
Penyebab terpicunya MG muncul
(kambuh)
- kelelahan, musim dingin, dan minum es dalam porsi yang banyak, batuk, serta panas matahari. (line 69-73; 135-138
- kelelahan, stress, kepanasan, kedinginan, sakit. (line 94-97; 431-438)
- Penyebab kondisi menurun (line 440-442)
- Panas matahari (line 40-46; 150-178)
Perasaan yang muncul pada penderita MG
- Perasaan takut, sedih, kecewa (line 63-65; 83-85; 321-324)
- Perasaan sedih, stress, takut, perasaan tidak berguna, tidak memiliki harapan (line 245-248; 324-328; 331-334; 399-403)
Pengobatan - Terapi listrik, pengobatan alternatif Jepang, Cina, pengobatan tradisional, mestinon (302-311)
- Kondisi terparah (line 230-244)
- Mestinon, plasmapharesis (line 251-253; 256-294; 310-316; 324-334; 396-307)
- Mestinon (line 183-184; 193-104)
Permasalahan-Permasalahan Yang Dihadapi
- Gambaran aktivitas
tidak berdampak (line 187-192)
berdampak (line 83-85; 97-103;
- Gambaran aktivitas (line 32-38; 61-65; 153-173; 176-180)
45 285-289; 295-296; 296-301; 301-303; 312-317; 380-383; 385-388)
- Gambaran sebagai pelajar
tidak berdampak (line 187-192; 286-287)
berdampak (line 244-251; 253-263; 266-268; 282-284; 341-350)
- Gambaran sebagai
mahasiswa
tidak berdampak (line 184-195; 221-228; 348-349)
berdampak(line 192-193; 214-219; 349-361; 366-368)
- Gambaran sebagai seorang anak dan saudara:
tidak berdampak (line 200-203)
berdampak (line 129-132)
- Gambaran tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga (line 102-107;115-137; 379-380; 388-394)
- Gambaran tanggung jawab sebagai seorang ayah (line 409-416)
- Gambaran ketakutan akan masa depan (line 410-412)
- Gambaran ketakutan akan masa depan (line 456-459)
Strategi Coping Problem Focused
46
activites (line 87-89; 93-95; 287-288)
- Planning (line 87-89; 92-95; 375-382; 387-397)
- Seeking social support for instrumental reasons (line 194-197)
activities (line 161-169)
- Planning 369-372)
- Seeking social support for instrumental reasons (line 336-342)
competing activities (line 102-107)
- Planning (line 35-37; 68-70)
- Seeking social support for instrumental reasons (line 396-407) Strategi Coping
Emotion Focused Coping
- Acceptance (line 120-122; 163-164; 266-268)
- Positive Reinterpretation (line 123-137) emotional reasons (line 336-342)
- Focusing on and venting emotion (207-220; 272-281)
- Behavioral
47
Faktor Yang
Mempengaruhi Strategi Coping
- Social support (line 89-92; 113-114; 127-129; 142-148; 151-160; 190-191; 199-211; 214-221; 237-239; 271-276; 350-357; 358-363; 401-407)
- Social support (line 10-13; 57-59; 85-103; 121-123; 134-140; 141-144; 146-149; 200-203; 203-207; 320-322; 375-382)
- Social support (line 84-85; 167-178; 248-252; 270-271; 293-294; 303-308; 337-342; 352-354; 384-385 416-420; 431-434; 438-440; 442-452) 62-70; 76-81; 96-98; 103-112; 204-206; 457-471)
- Problem solving skills (line 375-382; 387-397)
- Problem solving skills (line 369-372)
- Problem solving skills (line 68-70)
48 1. Analisis P1
a. Gambaran Kondisi Penderita MG
Hasil penelitian menunjukkan bahwa P1 bahwa sudah mengalami gejala MG sejak kecil tetapi baru mengetahui penyakitnya ketika akan masuk kuliah. Saat mengetahui diagnosis dari dokter, P1 merasa sedih dan juga tidak adil karena ia mengalami kondisi seperti itu.
“Sebenernya aku tu ngalamin gejalanya itu dari kecil, tapi divonis sama dokternya itu waktu mau masuk kuliah karna waktu itu kan butuh surat itu kan buat ospek. Nah dokternya tu baru vonis itu. Tapi sebelumnya tu dokter tu udah ngasih tanda-tanda ga boleh ini ga boleh itu..” (line 1-7)
“Perasaannya sedih dong kan aku sebelumnya sudah searching-searching akibatnya nanti matanya kelopak matanya akan semakin menurun. Ya pasti perasaannya sedih kok kayak ga adil aja.... Ya soalnya ga adilnya kok harus aku gitu, kok enggak yang lain.” (line 27-31; 115-118)
Gejala awal yang dialami P1 adalah sering terjatuh saat menari dan saat berjalan karena kelelahan. P1 juga mengalami gejala lain seperti susah menelan, barang yang dipegang terjatuh, ptosis, dan
diplopia. Selain itu, P1 juga mengalami gejala suara yang sering hilang. Kemudian jika P1 sedang batuk bisa terjadi berminggu-minggu karena batuk adalah musuh utama penderita MG
.
49
“Gejala lainnya itu, ee susah nelen.. Trus kalau misalnya terlalu capek misal bawa HP gini, nanti bisa jatuh sendiri tanpa sadar. Trus ee gejalanya ptosis. Ptosis itu kan matanya sayu ya, trus waktu mau berangkat sekolah waktu SMA naik motor itu pandangan diplop diplopia, jadi harus berhenti dulu. Diplopia kan pandangan ganda. Jadi waktu itu lihat kakek-kakek naik sepeda, bajunya sama sepedanya sama, itu kan pakai topi juga sama, yaampun. jadi harus berhenti dulu.” (line 53-62) “Kalau dulu gejalanya belum terlalu banyak kalau sekarang tu suara sering ilang tu baru mulai tahun kemarin. Sebelumnya belum jadi sebelumnya ya cuma kalau capek jatuh terus diplopia ptosis susah nelen gitu, sekarang tambah itu. ...heeh suara ilang terus kalau batuk, batuk kan musuh utama MG ya, itu sampai bisa berminggu-minggu kalau sekarang.” (line 291-299)
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penyebab kondisi P1 menurun adalah kelelahan, musim dingin, dan minum es dalam porsi yang banyak, serta panas matahari. Diketahui pula bahwa MG menyebabkan P3 merasa sangat lemas pada seluruh bagian tubuhnya ketika sedang datang bulan.
“Kelelahan. Tapi, kelelahan iya kalau misalnya musim dingin juga iya, kan syaraf yang diserang kan sama otot. Trus kalau misalnya minum es, minum es kan ga boleh terlalu banyak, itu juga bisa kambuh. Terus, kadang kalau lagi dapet datang bulan kayak gitu kan lemes... kalau lihat matahari terlalu lama juga ga boleh.” (line 69-73; 135-138)
50
Ketika kondisi P1 sedang menurun, ia akan merasa sedih karena aktivitasnya menjadi terhambat. P1 juga merasa takut ketika mengalami diplopia di jalan,.
“Perasaannya waktu itu kayak takut, waktu itu langsung berhenti, soalnya kalau diterusin nanti malah kecelakaan.”(line 63-65)
“Perasaannya kalau lagi kambuh ya otomatis sedih dong kak karena aktivitasku jadi terhambat karena ga bebas keluar masuk rumah.” (line 83-85)
Untuk menjaga kondisi, P1 sudah melakukan berbagai macam pengobatan sederhana dari obat utama sampai alternatif/tradisional. Namun, dalam penelitian diketahui bahwa pengobatan ini menyebabkan P1 merasa kecewa dan sedih karena harus bolos sekolah
“Terapi listrik pernah terus apa sih kayak Jepang itu apa namanya, pernah dialternatif pengobatan Jepang pernah, Cina pernah, yang kalau terus kalau pengobatan tradisional tu dipijit tapi pake apa sih alat kayak kayu itu juga pernah, pake listrik juga pernah. Tapi yang utamanya Mestinon. Obatnya obatnya yang utama itu Mestinon.” (line 302-311)
“Waktu itu lebih ke SMP, ya waktu itu masih SMP, ya perasaannya kecewa, perasaannya sedih karena harus sering bolos sekolah.” (line 321-324)
b. Permasalahan-Permasalahan yang Dihadapi
51
1) Gambaran aktivitas
Penelitian di atas menunjukkan bahwa kondisi yang menurun menyebabkan P1 mengalami hambatan dalam beraktivitas karena P1 banyak menghabiskan waktu di rumah.
“Perasaannya kalau lagi kambuh ya otomatis sedih dong kak karena aktivitasku jadi terhambat karena ga bebas keluar masuk rumah.” (line 83-85)
Salah satu bentuk hambatan aktivitas yang dirasakan P1 adalah sudah tidak pernah menari lagi akibat sering jatuh di panggung.
“Ada. Karena dulu kan suka nari, sekarang kan udah enggak, karena ya itu dulu sering jatuh di panggung kan.” (line 242-244; 266-268)
P1 merasa kecewa karena aktivitasnya menjadi terhambat karena kondisi yang menurun.
52
Akan tetapi, P1 juga mengatakan kalau MG tidak memberikan dampak pada beberapa aktivitas seperti menulis.
“enggak, nulis tetep nulis, kuliah tetep kuliah, ya mungkin kalau misalnya agak capek kan rumahnya jauh, Imogiri terus naik motor sendiri, kalau misalnya capek ya mungkin dianterin kalau ga nebeng temen yang deket kayak gitu. Kalau terpaksanya drop banget kemarin ga berangkat.“(line 187-192)
2) Gambaran relasi dengan orang sekitar
MG menyebabkan terhambatnya aktivitas P1 dan menyebabkan dampak juga pada relasinya. P1 berpikir bahwa teman-temannya akan menganggap dirinya sebagai orang yang malas dan tidak mau bergabung.
“kemarin waktu malam senin ada pertemuan sama teman-teman, aku ga ikut...ya ga semuanya temen-temen kan bisa mengerti keadaan aku ya, ada beberapa yang ngerti, tapi kan nanti kok jadi apa ya di mata mereka, kitanya seolah-olah jadi kayak orang males ga mau keluar ga mau istilahnya kalau di masyarakat ga mau sawung gitu loh.” (line 93-95; 97-103)
3) Gambaran sebagai pelajar
53
saja. Kemudian, penelitian juga menunjukkan bahwa MG juga berpengaruh ketika di bangku kuliah, yaitu tidak bisa terlibat dalam organisasi. Keterbatasan yang P1 alami sebagai siswa dan mahasiswa sempat menyebabkan ia tertekan.
“Terus kalau misalkan olahraga, olahraga tu kalau misalnya ringan kita bisa ikut, tapi kalau misalnya yang berat berat ga bisa. Jadi misal kalau udah masuk ke SMA itu ya sebelumnya udah ee ngasih surat dokter sama guru olahraganya. Jadi ga bisa kalau misal yang ringan bisa kalau yang terlalu berat ga bisa ikut. Terus nanti minta tugas lain.” (line 244-251)
“oh kalau yang ini dulu tu waktu semester satu kan organisasi-organisasi itu ya. ya. nah itu tu dah daftar udah bayar udah ikut wawancara tapi kan ga bisa ikut makrab. Karena makrabnya itu empat hari kan ga mungkin aku empat hari di luar, maksude di luar yang udaranya dingin kan ga mungkin kan nanti bakal. Nah gara ga boleh ikut it ee gara-gara ga boleh makrab kan jadinya di blacklist sama organisasi, jadi ga ikut dis di kampus ga ada organisasi, jadi ikutnya di rumah.” (line 253-263)
“Awalnya iya, tapi sekarang udah biasa aja, jalani aja lah mungkin ini yang terbaik gitu.” (line 266-268)
54
“Iya, kemarin kambuh juga karena terlalu capek kan ujian ujian tugas ujian tugas jadi ya gampang capek.” (line 282-284)
Perasaan paling down P1 alami ketika tidak bisa les karena dapat mengakibatkan kelelahan. P1 mengira kelelahan dapat menyebabkan buta sehingga hal tersebut membuat P1 sempat merasa tidak memiliki harapan hidup.
“Yang paling down? ya waktu itu, ga ada, ada gasih. waktu ya waktu ee mau kelas tiga, kelas tiga SMA pingin banget les tapi malah divonis sama dokter kayak gitu. Maksudnya ga boleh kecapean nanti pikirnya waktu itu bisa buta ternyata enggak kan. Ga boleh kecapean karena lama-lama kalau kecapean njuk matanya ga bisa dibuka atau ga bisa liat. Waktu itu mikirnya tu bisa buta kan, jadi aduh harapan hidupnya tu kayak gimana udah burem.” (line 341-350)
Namun, dari hasil wawancara dengan P1, terlihat juga bahwa MG tidak memberikan dampak pada kegiatan kuliah dan nilai kuliah. Hal ini berdasarkan pernyataan P1 yang mengatakan bahwa:
“Kalau kegiatan enggak sih, kalau nilai ujian tetep nilaiku biasa aja. Tapi kalau misalnya lebih mengurangi aktivitas keluar rumah. (line 187-192; 286-287)
55
P1 memiliki ketakutan akan masa depan yaitu apabila penyakitnya akan semakin parah dan sampai pada tingkat dimana pernafasannya juga diserang.
“Takutnya kalau ee penyakitnya naik level. Naik level kan pernafasan juga bisa diserang, jadi harus lebih hati-hati....” (line 410-412)
c. Strategi Coping
Dari hasil penelitian diketahui bahwa P1 memiliki berbagai strategi
coping untuk mengelola permasalahan-permasalahan tersebut, seperti berikut:
1) Problem Focused Coping
Active Coping
Ketika P1 mengalami gejala-gejala MG di awal maupun yang muncul setelahnya, ia langsung memberitahu kepada dokter tentang kondisi dirinya. Selain itu, untuk menghadapi ketakutannya akan masa depan, P1 lebih menjaga kondisi dirinya agar kondisinya tidak semakin parah.
“Iya ngomong sama dokternya juga tapi memang itu gejalanya sih, salah satu gejala juga.” (line 18-23; 66-68)