BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
B. MYASTHENIA GRAVIS
1. Definisi Myasthenia Gravis
Myasthenia Gravis (MG) adalah sebuah penyakit
neuromuskular yang ditandai dengan kelemahan dan kelelahan otot skeletal (Drachman, 2012). Sumber lain menambahkan bahwa MG adalah salah satu bentuk dari penyakit autoimun yang masih jarang
terjadi dan tidak bisa disembuhkan, dengan kejadian 1/20.000 pada populasi umum (Kulaksizoglu, 2007). Istilah Myasthenia Gravis
berasal dari bahasa Latin yaitu myasthenia yang berarti kelemahan otot, dan gravis yang berarti berat atau serius (Schact, Edmund & Djalinusyah, 2001).
MG disebabkan karena adanya penurunan sejumlah
acetylcholine receptors (AChRs) yang tersedia pada neuromuscular
junction disebabkan oleh antibody-mediated atuoimmune attack
(Drachman, 2012). Sistem kekebalan tubuh pada penderita memproduksi antibodi yang menghalangi kinerja atau menghancurkan sel-sel saraf pada otot. Acetylcholine adalah salah satu senyawa neurotransmitter yang dapat mengaktifkan reseptor otot untuk berkontraksi. Jika kinerjanya terhambat oleh antibodi, jalur sambungan saraf dan otot akhirnya terputus sehingga penderita akan mengalami kelemahan dan kelelahan otot (Myasthenia Gravis, 2015). Kelemahan otot ini menyebabkan tidak terjadinya proses pergerakan otot (Kulaksizoglu, 2007). Kelemahan meningkat selama penggunaan berulang (kelelahan) atau di akhir hari, dan mungkin bisa diatasi dengan istirahat atau tidur. Kondisi semakin memburuk atau malah menjadi cukup membaik mungkin akan terjadi setelah beberapa tahun pertama penyakit muncul. Infeksi lain atau penyakit sistemik dapat
memacu meningkatnya myasthenic weakness dan mungkin menimbulkan crisis (Drachman, 2012).
2. Gejala
Penderita MG memiliki ciri-ciri yang ditunjukkan adanya kelemahan yang berubah-ubah terutama bila sedang beraktivitas (.Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007). Otot kranial (yang berhubungan dengan tengkorak), khususnya otot kelopak mata dan ekstraokular, biasanya muncul awal pada penyakit MG; diplopia
(penglihatan ganda) dan ptosis (menurunnya kelopak mata)umumnya menjadi keluhan pertama (Drachman, 2012). Kelemahan otot mata ini menyebabkan kesulitan pada beberapa pasien seperti kesulitan menyetir, membaca, dan menonton televisi (Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007).
Selain, kelemahan otot mata, gangguan pada oropharyngeal
dan kelemahan anggota tubuh biasa juga terjadi. Gangguan pada
oropharyngeal ini menyebabkan penderita mengalami dysathria
(penderita mengalami sulit berbicara/celat) dan dysphagia (sulit menelan) (Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007). Kesulitan menelan mungkin terjadi sebagai hasil dari kelemahan langit-langit mulut, lidah, atau faring, sehingga menimbulkan regurgitasi (naiknya makanan dari kerongkongan atau lambung tanpa disertai oleh rasa
mual maupun kontraksi otot perut yang sangat kuat) atau aspirasi (saat menghembus) yang berupa keluarnya bentuk cairan atau makanan dari hidung. Adanya gangguan pada otot rahang juga sering terjadi pada penderita MG. Penderita mengeluhkan adanya kesulitan mengunyah permen atau daging yang keras (Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007). Cara berbicara mungkin juga akan menjadi sengau karena disebabkan kelemahan langit-langit di daerah mulut.
Pada 85% pasien, kelemahan menjadi umum, mempengaruhi otot tungkai (Drachman, 2012). Kelemahan pada anggota tubuh pada MG menyebabkan penderita mengalami kesulitan dan rasa lemas pada anggota gerak seperti tangan dan kaki (Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007). Selain itu pula, penderita juga mengalami kesulitan dalam mengekspresikan wajah dan tersenyum. (Juel, Vern C & Massey, Janice M, 2007). Gejala-gejala ini umumnya terjadi secara kambuhan
dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda pada tiap penderitanya
(Myasthenia Gravis, 2015). Timbulnya gejala-gejala ini dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti infeksi, sakit fisik, stres, suhu panas atau dingin, dan penggunaan obat tertentu (Kohler, 2007 dalam Arpandy & Halim, 2013).
3. Pengobatan
Hampir semua pasien Myasthenia Gravis dapat memiliki kehidupan yang produktif dengan diberikan treatment yang tepat. Ada
beberapa jenis treatment untuk penderita MG. Treatment yang banyak digunakan termasuk anticholinesterase medications,
immunosuppresion, thymectomy, dan plasmapheresis atau intravenous
immunoglobulin.
a. Anticholinesterase Medications
Obat ini berfungsi memperbaiki komunikasi antara saraf dan otot dengan hasil kekuatan otot menjadi lebih baik
(Myasthenia Gravis, 2015). Pyridostigmine adalah salah satu obat
anticholisnesterase yang paling sering digunakan. Manfaat dari
pyridostigmine dirasakan dalam 15-30 menit dan bertahan hingga
tiga sampai empat jam, dengan respon yang bervariasi dari individu. Jumlah dosis disesuaikan kepada kebutuhan individu (Drachman, 2012).
b. Thymectomy
Bukti yang ada menunjukkan bahwa 85% pasien mengalami peningkatan setelah thymectomy. Treatment ini memiliki keuntungan jangka panjang yaitu pada beberapa kasus pasien dapat mengurangi atau menghilangkan kebutuhan untuk melanjutkan pengobatan. Thymectomy harus dilakukan hanya pada pasien yang berada di usia pubertas sampai usia 55 tahun (Drachman, 2012).
c. Immunosuppresion
Glucocorticoids, azathioprine, dan obat lain yang termasuk
immunosuppresion efektif pada hampir semua pasien MG.
Treatment ini akan menekan kinerja sistem kekebalan tubuh
sehingga mengendalikan produksi antibodi yang abnormal
(MyastheniaGravis, 2015).
d. Plasmapharesis (Drachman, 2012
Plasmapharesis adalah treatment jangka pendek untuk
mencapai peningkatan kekuatan secara cepat pada penderita
myasthenia crisis, untuk menyiapkan pasien menghadapi
thymectomy atau prosedur bedah lainnya. Selama plasmapharesis,
plasma yang terdiri dari antibodi AchR dipisahkan dari keseluruhan darah dan diganti oleh albumin atau plasma beku yang masih segar.
4. Dampak Myasthenia Gravis
Salah satu permasalahan yang dialami oleh penderita MG ditemukan oleh Rohr (1991, dalam Twork et al., 2010) dalam penelitian mengenai Quality of Life and Life Circumstances in German Myasthenia
Gravis Patients, 30% dari pasien yang ia teliti memiliki kondisi bekerja
kurang ideal. Kondisi ini terjadi terutama karena kerusakan fisik sehingga menyebabkan tujuan pekerjaan tidak dapat tercapai. Dalam penelitian yang
dilakukanKohler (2007), beberapa pasien yang menderita MG mengalami kesulitan dalam aktivitas sekolah atau bekerja serta masalah dalam menghadapi kehidupan sehari-hari mereka.
Penelitian yang dilakukan Kulaksizoglu (2007) mengatakan bahwa semua penyakit kronis, termasuk MG, memiliki konsekuensi psikologis seperti gangguan kecemasan, meliputi gangguan panik, serta gangguan depresif. Selain itu, menurut Paradis, Friedman, Lazar, et al. (1993, dalam Kulaksizoglu, 2007), perubahan karakteristik pada penderita MG menyebabkan pasien menjadi cepat marah, tegang, dan khawatir. Dalam penelitian yang dilakukan oleh dr. Yudith Rachmadiah (2012, dalam Arpandy & Halim, 2013) diketahui bahwa sebagian besar penderita MG memiliki masalah dalam melakukan aktivitas sehari-hari karena kemampuan otot yang terbatas, seperti berjalan jauh, menaiki tangga, mengangkat barang, berolahraga, memasak, dan lainnya. Masalah-masalah tersebut memunculkan banyak tekanan bagi penderita MG. Kondisi fisik tersebut memunculkan pandangan yang keliru dari orang lain terhadap penderita MG dan menyebabkan dampak psikologis pada penderita.