• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEGENDA Gili Maringkik

3.4 Analisis Data Penelitian

2.4.2. Analisis data tujuan penelitian

Analisis data tujuan penelitian 3, dari hasil wawancara dengan responden tentang pengetahuan ekologi masyarakat, kearifan lokal dan kelembagaan

pengelolaan selanjutnya dilakukan diskripsi secara konseptual (Few 2009). Demikian juga halnya dengan komposisi responden terhadap manfaat padang lamun secara ekologi dan ekonomi dilakukan diskripsi secara konseptual (Daerden et al. (2007). Dari hasil analisis ini dapat menjelaskan tentang pemahaman masyarakat tentang keberadaan lamun bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat.

2.3.4 Analisis data tujuan penelitian 4

Tujuan penelitian 4 sebagai sasaran utama dari penelitian ini tahapan analisisnya adalah sebagai berikut:

1. Kondisi lamun, penilaian kondisi lamun pada tiap lokasi padang lamun dilakukan dengan menggunakan metode skoring (DKP, 2008 in Supriyadi 2010). Parameter yang dijadikan dasar penilaian adalah jumlah jenis lamun, biomassa lamun dan persentase tutupan lamun. Skor dari tiap parameter lamun seperti pada Tabel 18. Selanjutnya skor dari tiap parameter tersebut dijumlahkan untuk memperoleh katagori kondisi lamun pada katagori sangat baik, baik, sedang dan jelek.

Tabel 18 Pembobotan parameter lamun

No Parameter lamun Kisaran jumlah spesies, persen

penutupan dan biomassa lamun

Skor

1 Jumlah jenis lamun ≤ 2 1

3 - 4 3

5 - 6 5

≥ 7 7

2 Persen (%) tutupan lamun 5 - 25 1

26 - 50 3 51 - 75 5 76 -100 7 3 Biomssa lamun (grm/m2) 80-309 1 310-539 3 540-769 5 769-1000 7 Sumber: Supriyadi 2010.

Hasil pembobotan parameter lamun (Tabel 18) di atas selanjutnya dijumlahkan sebagai dasar klasifikasi kondisi lamun seperti pada Tabel 19.

Tabel 19 Klasifikasi Kondisi Lamun.

No Kisaran skor Kondisi lamun

1 ≥ 16 Sangat baik

2 12 - 15 Baik

3 8 -11 Sedang

4 ≤ 7 jelek

2. Kerusakan lamun, penilaian dampak kerusakan lamun akibat keragaman cara pemanfaatan sumberdaya di padang lamun adalah sebagai berikut:

a. Penilaian kondisi pada beberapa jenis biota yang umum di peroleh dari padang lamun yaitu ikan, moluska, udang, see-urchin dan tripang. Penilaian kondisi dari lima jenis biota tersebut dengan menggunakan kuesioner. Pada penilaian ini responden menjawab pertanyaan yang sudah disediakan tentang kondisi dari lima jenis biota tersebut yaitu cukup, kurang dan sanagt kurang. Hasil penilaian responden pada tiap jenis biota dirumuskan dalam bentuk prosentase. Dari prosentase jawaban responden tersebut selanjutnya dilakukan diskripsi untuk menjelaskan status dari populasi biota tersebut pada padang lamun di lokasi penelitian.

b. Kerusakan lamun, parameter yang dijadikan dasar penilaian adalah biomassa lamun yang rusak akibat penggunaan alat seperti pisau, sabit dan gareng oleh masyarakat yang memanfaatkan areal untuk mencari biota yang bernilai konsumsi. Pada penilaian ini formula yang digunakan adalah B= W/A

Keterangan:

B = Biomassa lamun jenis ke-i (gram basah/orang dan jenis alat) W = Jumlah total berat basah jenis ke-i (gram basah)

A = Individu

3. Analisis keterkaitan ikan dengan lamun:

a. Aanalysis of variance (ANOVA) satu arah yaitu analisis tentang pengaruh lokasi terhadap jumlah spesies dan jumlah individu secara spatial (Loneragan et al. 2003 dan Jones et al. 2006).

b. Analisis regresi yaitu untuk menjelaskan keterkaitan ikan yang diperoleh pada tiap lokasi padang lamun. Parameter lamun sebagai variabel x adalah: kerapatan, penutupandan dan biomassa lamun, sebagai varibel y adalah jumlah spesies ikan dan jumlah individu ikan.

c. Analisis struktur komunitas ikan, pada analisis ini digunakan analisis keanekaragaman ikan dengan menggunakan Indek Shannon dengan formula seperti di bawah ini.

Keterangan:

H’= Indek Shannon ni

N = Jumlah total individu = Jumlah individu jenis ke-i

Pi = Proporsi jumlah individu jenis ke-i dan jumlah total individu = ni

S = Jumlah jenis

/N

c. Identifikasi jenis makanan ikan dengan cara membelah perut ikan. Organisme yang didapat diidentifikasi. Selanjutnya ikan dikelompokkan berdasarkan jenis makanannya yaitu untuk mengetahui komposisi ikan dalam struktur trofik seperti yang dinyatakan oleh (Bell et al. 2007). Adalah: (a) ikan omnivora (0), (b) ikan herbivora (H), (c) ikan pemakan invertebrata(l) atau (invertebrate feeder), (d) pemakan ikan dan invertebrata (IF) atau (invertebrate and fish feeder) dan (e) pemakan planktivora (P)

4. Analisis pengelolaan lamun

Hasil analisis yang diperoleh dari tujuan penelitian 1,2, dan 3 di atas selanjutnya di sintesis untuk menetapkan kriteria dan indikator ekologi sebagai dasar desain konservasi lamun untuk keberlanjutan sumberdaya ikan. Kriteria dan indikator ekologi yang dipilih dengan pertimbangan: (1) potensi ekologi lamun dalam mendukung keberlanjutan sumberdaya ikan, (2) lamun dapat survive sebagai habitat ikan dan (3) perubahan potensi dan kondisi lamun serta struktur komunitas dan populasi ikan yang berasosiasi dengan lamun. Pengelolaan untuk mencapai tujuan konservasi dilakukan melalui sistem pengelolaan zonasi. Dalam hal ini penetapan tiap zona pengelolaan berdasarkan pada nilai sumberdaya pada tiap lokasi padang lamun dan keberadaan lokasi padang lamun.

Gambar 7 Struktur tujuan, metode, analisis dan hasil penelitian

Survei dan observasi

Penelitian

Pengumpulan

Data

Penelitian

Penelitian

Tujuan 1: Potensi lamun dan sumber kerusakan lamun Tujuan 2: Kelimpahan dan keanekaragaman jenis ikan yang beraosiasi dengan lamun Tujuan 3: Pengetahuan ekologi dan kearifan lokal masyarakat Tujuan 4: Desain Konservasi Lamun dan Strategi Pengelolaan Survei, observasi dan dokumen survei Survei, observasi dan dokumen i

1. Luas areal lamun 2. Jenis, kondisi lamun serta distribusi lamun 3. Sumber kerusakan lamun

4. Jumlah ikan (lokasi

dan bulan 5. Kondisi lingkungan perairan (fisika dan kimia) 1. Pengetahuan masyarakat tentang lamun dan manfaat lamun

2. Kearifan lokal

3. Lembaga pengelolaan

1. Kondisi lamun dan Kerusakan lamun 2. Keterkaitan Ikan dengan lamun 3. Keanekaragaman jenis ikan 4. Fungsi lamun

1. Soft were SIG ArcGis 9.3 2. Deskriptif 3. Deskriptif dan Indeks Distribusi 4. Deskriptif 5. Insitu dan Laboratorium 1. Deskriptif 2. Deskriptif 3. Deskriptif

1. Kondisi dan indikator kerusakan lamun

2. Model keterkaitan ikan dengan lamun 3. Struktur komunitas n dan

trofik ikan

4. Nilai lingkungan lamun untuk keberlanjutan ikan

1. Luas areal lamun (ha) 2. Jumlah jenis, pola distribusi

kerapatan, penutupan dan biomassa lamun

3. Bentuk pemanfaatan oleh masyarakat 4. Struktur komunitas dan populasi ikan

yang berasosiasi dengan lamun 5. Nilai lingkungan perairan (fisika dan

kimia )

1. Jenis lamun dan batas areal lamun pada tiap lokasi padang lamun dan manfaat lamun bagi ikan dan biota asosiasinya

2. Awiq-awiq

3. Kelembagaan pengelolaan

1. Metode skoring dan deskriptif 2. Anova satu arah,

Model Regresi dan,Korelasi Pearson, 3. Indeks Shannon, Indeks Dominansi Simpson dan deskriptif 4. Deskriptif

1. Kriteria dan indikator konservasi

2. Indikator pengelolaan 3. Zonasi pengelolaan