Zonasi dan pencegahan
2 Pergerakan Air
2.3 Peran Ekologi Padang Lamun
Lamun sampai saat ini terus menjadi perhatian yang menarik untuk kegiatan penelitian, terutama dari aspek reproduksi, fisiologi, anatomi serta proses evolusinya. Aspek ekologi seperti asosiasi lamun dengan fauna dan keterkaitan fungsi lamun dengan ekosistem lain masih menjadi objek penelitian yang sangat penting untuk pengelolaan keberlanjutan lamun dan biota asosiasinya. Beberapa jenis biota yang berasosiasi dengan lamun adalah miofauna (nematoda dan polychaeta), makro fauna (bivalvia dan amphipoda), kelompok motil epifauna dari mikrofauna seperti protozoa dan makrofauna seperti gastropoda dan echinodermata (Tomascik et.al 1997).
Lamun memiliki peran sebagai tempat pemeliharaan (nursery) ikan yang masih muda (juvenil) dan memiliki pengaruh secara signifikan terhadap kepadatan ikan di terumbu karang (Nienhuis et al. 2002). Oleh karena itu kehilangan habitat yang bervegetasi lamun di suatu wilayah pesisir dapat berdampak pada penurunan kepadatan (abundance) dan kekayaan (richnes) organisme (Gillanders and Bloomfield 2005). Parameter lamun yang memiliki peran cukup penting terhadap keanekaragaman jenis ikan adalah penutupan lamun (Nemeth dan Jered 2007). Adapun jenis ikan yang sering ditemukan di padang lamun adalah famili Apogonidae, Blenniidae, Centriscidae, Gerreidae, Gobiidae, Labridae, Lethrinidae, Lutjanidae, Monacanthidae, Scaridae,
Scorpaenidae, Siganidae, Syngnathidae dan Teraponidae (Ohman et al. 2002). Selanjutnya dijalaskan bahwa jenis ikan yang memilih lamun sebagai habitat dapat dikelompokkan berdasarkan: (1) kelompok ikan yang tinggal secara permanen, (2) kelompok ikan yang tinggal secara temporal, (3) kelompok ikan yang datang secara reguler seperti ikan karang yang migrasi secara harian (diurnally) dan (4) kelompok ikan yang datang secara sekali-kali. Tomascik et al (2007) menggambarkan keragaman jenis fauna yang tinggal di padang lamun (Tabel 4).
Tabel 4 Kelompok fauna yang tinggal di ekosistem padang lamun.
No. Fauna Kelompok taksa
1 Infauna Mikrofauna Protozoa dan bakteri
Miofauna Herpacticoid copepods, ostracods, nematodes
dan polychaetes
Makrofauna Polichaets, bivalvia, amphipods, holothutoid dan phoronoids
2 Motil epifauna Mikrofauna Protozoa
Miofauna Hepacticoids copepods, ostracods, rotifera
dan nematodes
Makrofauna Amphipods, isopods, decapods, polichaetes, gastropods, echinoderms dan nemerteans
3 Sesil efifauna Hydroids, bivalvia, bryozoans, sponges,
ascidians dan polychaetes
4 Epibentik fauna Ikan, decapods dan cephalopods
Sumber : Tomascik et al. (1997)
Jenis ikan yang berasosiasi dengan lamun dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok yaitu: (1) penghuni penuh yaitu yang memijah dan
menghabiskan masa hidupnya di padang Iamun seperti Apogon
margaritophorus, (2) penghuni yang menghabiskan hidupnya di padang lamun selama masa juvenil hingga siklus dewasa tetapi memijah di luar padang lamun
seperti Halichoeres leparensis, Paramia quinquelineata, Monacanthus
tomentosus, M. hajam, Hemiglyphidodon plagiumetopon dan Sygnathoides biaculeatus, (3) penghuni yang hanya pada tahap juvenil seperti Siganus canaliculatus, S. Virgatus, S.chrysospilos, Lethrinus spp. Scarus spp. Abudefduf spp. Monacanthus mylli dan Muloides samoensis dan (4) penghuni berkala atau transit yaitu untuk berlindung dan mencari makan (Tomascik at al. 1997).
Keanekaragaman dan kelimpahan jenis ikan di padang lamun didukung oleh heterogenitas habitat, ketersediaan makanan, peningkatan ruang hidup dan perlindungan dari predator (Dolar 1991). Pilditch et al. (2004) menyatakan habitat yang memiliki vegetasi lamun memiliki hubungan yang signifikan dengan kepadatan dan komposisi makroinvertebrata seperti di esturia New Zealand dan fauna herbivor yang memiliki ketergantungan cukup besar terhadap lamun
adalah sea urchin (Tripneustes gratilla), ikan, penyu hijau (Chelonia midas) dan dugong (Dugong dugong) (Richmond, 2002, Eklof et. al, 2008 in Lyimo et al. 2009). Zieman et al. (1984) dan Mattila dan Cristoffer (1999) menjelaskan secara lebih spesifik peran lamun terhadap ikan yaitu sebagai tempat berlindung dari predator, sedangkan Asmus et al. (2005) menjelaskan peran lamun sebagai habitat juvenil pada zona pasang surut. Selanjutnya Jones et al. (2006) menyatakan selain faktor kerapatan, ukuran penutupan dan besarnya fragmentasi habitat berperan dalam mendukung kelimpahan juvenil ikan. Namun demikian ketersediaan makan di padang lamun merupakan indikator utama perpindahan ikan dari ekosistem lain ke padang lamun (Horinouchi 2007). Asosiasi lamun dengan epifit dapat menambah ketersediaan makanan di padang lamun dan memiliki korelasi yang positif untuk peningkatan populasi herbivora (Heck Jr dan Paul 1999).
Jenis makanan ikan di padang lamun adalah krustasea, amphipoda, brachyura, stomatopoda, copepoda, polychaeta dan gastropoda (Peristiwady, 1994 in Kiswara, 1999). Belt et al. (2007) menemukan jenis ikan omnivora yang memiliki kelimpahan paling tinggi dan termasuk ikan pemakan invertebrata di Wakatobi. Selain karena faktor makanan ikan bermigrasi ke padang lamun dapat disebabkan oleh struktur habitat (Jones et al 2006). Perpindahan ikan dari mangrove dan rawa (saltmarsh) ke padang lamun karena faktor struktur habitat lamun yang sangat mendukung sebagai tempat ikan mencari makanan dan berlindung dari predator (Mattila dan Bostrom 1999). Selain struktur habitat faktor waktu memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap ikan yang bermigrasi ke padang lamun. Griffiths (2001) menjelaskan ikan yang tertangkap pada malam hari lebih baik untuk digunakan dalam penilaian keanekaragaman ikan, karena dapat merepresentasikan struktur komunitas ikan yang lebih mendekati kebenaran. Selanjutnya Bell et. al (2007) menjelaskan jenis ikan omnivora lebih dominan pada siang hari dan diganti dengan ikan pemakan invertebrata pada malam hari.
Peran lamun terhadap ikan dijelaskan oleh Weinstein et al. (2001) yaitu lamun memiliki kontribusi sebagai tempat pemeliharaan ikan lebih dari 30 %, mangrove antara 5 – 10 %, dataran pasang surut (tidal flat) 5 %, rawa 25 – 30 %, terumbu karang 25 % dan dasar perairan yang berlumpur lebih kecil dari 5 %. Uraian fungsi lamun terhadap ikan seperti yang disebutkan di atas dapat merupakan indikator ekologi dari peran lamun terhadap ikan. Padang lamun
selain berperan sebagai habitat ikan dan biota lain, lamun memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sistem ekologi di wilayah pesisir. Dalam hal ini Bengen (2004) menjelaskan fungsi lamun di wilayah perairan pesisir adalah: (1) produsen detritus dan zat hara, (2) mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak dengan sistem perakaran yang padat dan saling menyilang, (3) sebagai tempat ikan mencari makan dan berlindung dari sengatan matahari.
Lamun dapat memproduksi bahan bahan organik dalam bentuk detritus. Biomassa lamun dalam bentuk detritus yang disumbangkan ke perairan sekitar sebesar 10% - 20% (Tomascik et al. 1997). Proses pemanfaatan lamun oleh organisme laut melalui rantai makanan yaitu rantai makanan detritus dan rantai makanan herbivora (Engeman et al 2008). Contoh model rantai makanan di padang lamun seperti pada Gambar 3.
Gambar 3 Rantai makanan pada lamun dari jenis Enhalus acoroides (Tomascik et al.1997)
Lamun memiliki peran tidak saja terhadap ikan dan biota laut tetapi memiliki peran yang cukup penting terhadap lingkungan. Mekanisme peran lamun tersebut seperti pada Tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5 Nilai ekologi dan mekanisme peran lamun.
No Nilai Ekologi Diskripsi
1 Stabilitas sedimen dan pesisir Canopy lamun sebagai penyangga perpindahan air dan rihizoma-akar dapat mengikat sediment
2 Menjaga kualitas air Canopy lamun, epifit dan alga berperan seperti semak belukar (scrub) sebagai atau menahan nutrient yang masuk melalui sungai atau run-off
3 Produktivitas primer untuk ekosistem pesisir
Produksi karbon organik dan oksigen 4 Pemeliharaan (nursery) ikan Berlindung, makanan, dan mendukung jaring
makanan Sumber : Thom dan Long (2001)
2. 4 Ancaman Kerusakan Lamun
Kerusakan lamun selain disebabkan oleh perahu nelayan, sebagian besar lamun yang hilang dari perairan pesisir akibat aktivitas pembangunan (Davis dan Fyfe 2007). Indikator untuk menilai kerusakan lamun adalah komposisi biota laut yang berasosiasi dengan lamun, kerapatan, penutupan, biomassa dan luas areal lamun. Kerusakan lamun pada skala tertentu dapat menjadi dasar untuk mengembalikan fungsi lamun melalui program konservasi dan restorasi (de Jong et al. 2009).
Saat ini ancaman terhadap kerusakan lamun tidak saja berasal dari aktivitas antropogenik, juga dari perubahan iklim global yang dapat berdampak pada naiknya permukaan air laut dan peningkatan suhu air laut yang akan berpengaruh negatif terhadap lamun (Schultz 2008). Selanjutnya Neckles dan Frederick (1999) menjelaskan dampak perubahan iklim global terhadap lamun adalah: (1) perubahan suhu dapat mengubah laju pertumbuhan dan fungsi fisiologi yang lain dari tumbuhan lamun, (2) naiknya permukaan air laut akan menyebabkan bertambahnya kedalaman perairan dan berpengaruh terhadap perubahan pergerakan air yang dapat berdampak pada berkurangnya jumlah cahaya yang sampai kelamun.
Selain yang telah disebutkan di atas tekanan yang cukup potensial dan dapat menyebabkan hilangnya lamun adalah sedimentasi, masuknya spesies baru, panangkapan ikan, aquakultur, overgrazing dan alga blooming (William et al. 2006). Contoh kerusakan lamun akibat sedimentasi adalah di Taman Nasional Tuanku Abdul Rahman Sabah Malaisia (Coles et al. 2008) dan contoh lain yang menyebabkan kerusakan lamun di wilayah tropis seperti pada (Tabel 6).
Tabel 6 Sebuah sintesis dari luas areal lamun yang hilang dan sumber kerusakan lamun.
Mekanisme utama penyebab hilangnya lamun Areal yang hilang
(km2
Lingkungan (Environmental) )/tahun
Secara biologi
< 1,0 Pendaratan kapal, polusi herbivora
1, 0 - 100 Eutrofikasi, perahu dan
sedimentasi
herbivora
> 100 Hidrologi dan resuspensi
sedimen
Tidak ada data
Sumber : William et al. (2006)
Selanjutnya Engeman et al. (2008) menyatakan aktivitas perahu memiliki dampak negatif terhadap lamun di Teluk Florida dengan luas areal lamun yang rusak dari tahun 1994 sampai dengan tahun 1997 sebesar 27,1 ha dan antara
tahun 1997 sampai tahun 2005 sebesar 10,8 ha/tahun, Virnstein dan Lori (2004) menyatakan di Utara Indian River Lagoon Florida, kerusakan lamun dari tahun 1996 sampai tahun 1997 lebih dari 100 ha yang disebabkan oleh melimpahnya makroalga dan tingkat kekeruhan air yang meningkat. Dahuri (2003) menyebutkan bahwa ancaman ekosistem padang lamun saat ini dapat berasal dari: (1) sedimentasi, (2) eutrofikasi, (3) over eksploitasi sumberdaya ekosistem padang lamun, (4) penggunaan alat dan bahan yang dapat merusak habitat dan (5) degradasi fisik habitat lingkungan laut sebagai akibat dari suatu pengerukan. Oleh karena itu dalam mendesain model kerusakan lamun dapat dilakukan melalui dua proses yaitu: (1) lokalisasi gangguan yang bersumber dari jangkar, bom dan peralatan yang tidak ramah lingkungan dan (2) identifikasi sumber kerusakan yang berasal dari proses sedimentasi dan faktor antopogenik lainnya (Schultz 2008). Namun demikian kemampuan pulih (recovery) lamun dapat menjadi dasar dalam mengestimasi biaya untuk program restorasi (Karlin et al 2008).