• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEGENDA Gili Maringkik

3.3 Pengambilan Data Penelitian

Data penelitian ini terdiri dari data primer yaitu data yang bersumber dari hasil survei dan observasi terhadap objek penelitian dan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen yang berkaitan dengan gambaran umum wilayah penelitian dan kelembagaan pengelolaan sumberdaya ikan. Tahapan pengambilan data penelitian dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun tahapan pengambilan data penelitian adalah sebagai berikut:

3.3.1 Pengambilan data tujuan penelitian 1 dan 2.

Tahapan pengambilan data pada tujuan penelitian 1 dan 2 adalah sebagai berikut:

1. Luas areal lamun, pengukuran luas tiap lokasi padang lamun dari 6 lokasi sebagai lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan alat GPS (Global Positioning System). Proses pengambilan data dilakukan dengan menggunkan perahu nelayan untuk mengambil titik-titik batas terluar tempat ditumbuhi lamun pada tiap lokasi padang lamun. Titik-titik koordinat dalam GPS dicatat dalam Lintang Selatan (LS) dan Bujur Timur (BT) (Juwana dan Romimohtarto 1999).

2. Lamun, pengambilan data lamun dari enam lokasi padang lamun dipilih empat lokasi padang lamun yaitu padang lamun Gili Kere, Kampung Baru, Lungkak dan Poton Bakau. Jumlah stasiun pada tiap lokasi padang lamun adalah di Gili Kere 3 stasiun yaitu stasiun I kearah timur, Stasiun II kearah utara dan stasiun III kearah barat. Kampung Baru, Lungkak dan Poton Bakau 1 stasiun. Pengambilan data lamun dilakukan dengan menggunakan metode transek garis (transect line method). Jumlah transek pada setiap stasiun penelitian tidak sama dan transek dibuat tegak lurus garis pantai. Pengamatan lamun dilakukan pada tiap garis transek di dalam petak kuadran dengan ukuran 25 cm x 25 cm dengan jarak 25 m (Yulianda et al 2009). Parameter lamun yang diamati adalah jenis lamun dan jumlah individu tiap jenis lamun, persen penutupan lamun, kedalaman substrat lamun. Identifikasi jenis lamun dilakukan menurut (Fortes 1990), dan (Tomascik et al, 1997). Pengambilan data biomassa lamun di ambil pada petak contoh dan lamun yang diperoleh dari tiap petak contoh tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik berlabel. Di laboratorium contoh lamun dicuci, dibersihkan dan dipisahkan menurut jenisnya, lalu ditimbang untuk menghitung berat basah tiap jenis lamun.

3. Ancaman kerusakan lamun, penilaian ancaman kerusakan lamun dilakukan melalui beberapa tahap yaitu:

a. Survei, Kelompok masyarakat yang memanfaatkan areal padang lamun sebagai sasaran survei adalah nelayan dan masyarakat non nelayan. b. Observasi, observasi dilakukan untuk melakukan penilaian terhadap jumlah

orang atau masyarakat yang datang memanfaatkan areal lamun untuk mencari ikan, moluska, see-urchin, tripang dan buah lamun. Rancangan observasi terhadap jumlah orang yang datang kelokasi padang lamun seperti pada Tabel 13 di bawah ini.

Tabel 13 Rancangan pengamatan jumlah orang yang datang ke tiap lokasi padang lamun No Lokasi Padang Lamun Bulan I II III 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 Gili Kere 2 Poton Bakau 3 Lubngkak Kampung Baru

Keterangan: 1, 2, 3, 4 dan 5 = hari

4. Ikan, pengambilan ikan dilakukan pada 5 lokasi padang lamun yaitu di padang lamun Gili Kere, padang lamun Gili Maringkik, padang Kampung Baru, padang Lungkak dan padang lamun Poton Bakau. Pengambilan ikan dilakukan pada malam hari pada periode pasut purnama (spring tide) dari bulan April sampai Agustus 2010 dengan menggunakan mini trawl milik nelayan dengan spesifikasi panjang jaring 70 m dengan ukuran mata jaring sayap dari 1,25 inci, 1 inci, 0,75 inci dan 0, 625 inci serta mata jaring kantong dengan ukuran sebesar 0,5 inci. Teknik operasionalnya adalah jaring ditarik dengan menggunakan perahu pada kecepatan perahu rata-rata 5 m/menit. Ikan yang tertangkap dikumpulkan pada wadah yang sudah disediakan. Selanjutnya Ikan-ikan tersebut dipilah menurut jenisnya yaitu dalam famili dan spesies, lalu dihitung jumlah individu tiap spesies dan diukur panjang standar (cm). Jenis ikan sebagai contoh untuk mengetahui jenis makanannya diawetkan dan di laboratorium ikan tersebut dibedah untuk mengambil isi lambungnya dan dilakukan pengamatan di bawah mikroskop, selanjutnya dilakukan identifikasi jenis makanan ikan yang ada dalam isi lambung.

5. Penilaian parameter lingkungan, parameter lingkungan yang menjadi objek pengamatan adalah parameter lingkungan fisika-kimia yang diduga memiliki kontribusi terhadap keberadaan lamun di lokasi studi. Adapun parameter lingkungan yang diamati adalah seperti pada Tabel 14.

Tabel 14 Parameter lingkungan perairan (fisika dan kimia) yang diamati pada tiap stasiun pengamatan.

No Parameter Metode dan Alat Satuan Tempat

Pengukuran

Fisika

1 Suhu Termometer oC Insitu

2 Salinitas Salinometer ‰ Insitu

3 Kedalaman substrat Kayu ukur cm Insitu

4 Jarak dari pantai Meteran m Insitu

Kimia

1 pH pH-meter Digital Insitu

2 Kandungan nitrat Spektrofotometer mg/l Laboratorium

3 Kandungan fosfat Spektrofotometer mg/l Laboratorium

4 BOD (Biological Oxygen Demand) Metode Winkler mg/l Laboratorium

3.3.2 Pengambilan data tujuan penelitian 3.

Tujuan penelitian 3 berkaitan dengan aspek sosial yang meliputi pengetahuan ekologi, kearifan lokal dan kelembagaan. Tahapan pengambilan data pada tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Pengetahuan ekologi, kearifan lokal dan kelembagaan, pengambilan data dilakukan dengan wawancara. Kelompok responden sebagai sumber informasi yang diwawanca adalah seperti pada Tabel 15 di bawah ini.

Tabel 15 Kelompok masyarakat sebagai responden dan teknik wawancara.

Kelompok masyarakat

Tingkat Teknik Topik

Nelayan dan masyarakat non nelayan Masyarakat Wawancara (interview) * 1. pengetahuan lokal

a. Pengetahuan ekologi masyarakat lokal tentang jenis lamun dan batas areal lamun pada tiap lokasi padang lamun

b. Kearifan lokal yang berhubungan dengan konservasi 2. Kelembagaan a. Lembaga pengelola b. Keberadaan lembaga Tokoh masyarakat dan LSM Supra- masyarakat Personal interview

Lembaga dan masalah pengelolaan

Pemerintah Desa Supra- masyarakat

Personal

interview

Lembaga dan masalah pengelolaan Keterangan: * = jumlah responden dipilih secara proporsional dari kelompok nelayan

6. Manfaat lamun, pengambilan data tentang manfaat lamun dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Objek penilaian tentang manfaat lamun oleh responden seperti pada Tabel 16. Dalam hal ini responden dipilih secara proporsional berdasarkan jenis pekerjaan.

Tabel 16 Obyek penilaian masyarakat terhadap manfaat lamun bagi lingkungan dan ekonomi

No Uraian Skor penilaian

1 2 3 4 5

AA Manfaat ekologi

1. Tempat ikan bertelur 2. Tempat ikan berlindung 3. Tempat pembesaran ikan 4. Tempat ikan berkumpul

5. Tempat hidup beberapa biota laut

B Manfaat sosial dan ekonomi

1. Tempat mencari ikan dan biota lain yang bernilai konsumsi

2. Tempat rekreasi 7. Pendidikan

Keterangan: 1 = tidak bermanfaat, 2 = kurang bermanfaat, 3 = cukup bermanfaat,

4 = bermanfaat, 5 = sangat bermanfaat

3. Data sekunder yaitu dokumen tentang produksi ikan hasil tangkapan nelayan dan dokumen yang ada relevasinya dengan pengelolaan sumberdaya ikan.

3.3.3 Pengambilan data tujuan penelitian 4.

Pada tujuan penelitian 4 pengambilan data tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kerusakan lamun, parameter lamun sebagai indikator kerusakan adalah

jumlah biomssa lamun yang rusak akibat cara pemanfaatan yang tidak ramah lingkungan. Pengambilan data dilakukan selama 5 hari/bulan yaitu dari bulan Mei – Juli 2010. Secara lengakap rancangan pengambilan data tentang kerusakan lamun pada tiap lokasi padang lamun seperti pada Tabel 17 di bawah ini.

Tabel 17 Rancangan pengambilan data biomassa lamun yang rusak oleh masyarakat.

No Jenis lamun Bulan Total

Biomassa jenis lamun I II III 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 Cymodocea rotundata 2 Cymodocea serrulata 3 Enhalus acoroides 4 Halophila 5 Syringodium isotifolium

2. Kondisi biota yang bernilai ekonomi, pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Populasi dari penelitian ini adalah nelayan dan masyarakat non nelayan yang memanfaatkan areal padang lamun sebagai areal tangkapan ikan dan mencari biota lain yang memiliki nilai konsumsi. Penentuan jumlah sampel penelitian dilakukan secara porposional berdasarkan jumlah populasi dari tiap kelompok populasi. Adrianto et al. (2009) menyatakan penentuan jumlah atau ukuran sampel dapat ditentukan berdasarkan aturan minimal jumlah responden yaitu sebesar 30 responden. Oleh karena itu jumlah sampel sebagai responden adalah sebanyak 50 orang.