BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Analisis Desain Gambar dan Tulisan Pada Kaos
Dalam pendekatan semiotik Charles S. Peirce membagi 3 unsur yaitu ikon, indeks dan symbol karena itulah peneliti akan menginterpretasikan makna pesan berdasarkan unsur tersebut.
4.4.1 Ikon
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan corpus desain gambar dan tulisan pada kaos Cak Cuk Surabaya Versi “Visit Porong”. Ikon dalam penelitian ini adalah gambar tangan-tangan yang seolah berada di dalam kubangan lumpur yang diangakat ke atas dengan atar belakang Menara Petronas.
Di dalam Kamus Bahasa Indonesia tidak memberikan makna pada kata yang mengalami pergeseran arti seperti kata angkat tangan. Tetapi berdasarkan proses pembentukannya dapat kita pahami makna kata tersebut. Dari kata dasar tangan yang berarti anggota badan yang dimulai dari siku sampai ke ujung jari atau dari pergelangan sampai ujung jari untuk melakukan berbagai macam pekerjaan, atau dapat juga mempunyai arti kekuasaan, pengaruh dan perintah. Sedangkan contoh dalam penggunaan adalah angkat tangan yang mempunyai makna mengangkat kedua belah tangan ke atas seperti ketika orang mulai shalat, dapat juga dimaknai mengacungkan tangan ke atas tanda menunjukkan diri, atau mengangkat tangan seperti meminta bantuan, menyerah (tidak akan melawan lagi), takluk, tidak sanggup menghadapi, dan sebagai rasa putus asa.
Menara Petronas adalah dua buah pencakar langit kembar di Kuala Lumpur, Malaysia yang sempat menjadi gedung tertinggi di dunia dilihat dari tinggi pintu masuk utama ke bagian struktur paling tinggi. Menara ini
dirancang oleh Adamson Associates Architects, Kanada bersama dengan Cesar Pelli dari Cesar Pelli of Cesar Pelli & Associates Architects Amerika serikat yang selesai dibangun setinggi 88 lantai pada 1998 dengan desain Interior yang merefleksikan budaya Islam yang mengakar di Malaysia. Pada 17 Oktober 2003, Taipei 101 mengambil rekor menara kembar ini.Tetapi Menara Kembar Petronas tetap memegang gelar menara kembar tertinggi di dunia. Cesar Pelli juga merancang gedung Miglin-Beitler Skyneedle (atau disebut pula Miglin-Beitler Tower) setinggi 609,58 m di Chicago, Amerika Serikat yang selesai pada tahun 1988 yang tampak mempunyai kemiripan dengan Menara Petronas.
Menara Petronas berdiri setinggi 452 meter atau 1483 kaki dihitung sampai paling atas. Bentuk lantainya berupa dua buah persegi yang berpotongan membentuk bintang berujung delapan dan pada tiap titik perpotongannya ditambahkan sepotong lingkaran. Desain Cesar Pelli ini menggunakan motif yang lazim digunakan dalam Seni Islam mengingat budaya Islam sudah menjadi ciri khas Malaysia. Di antara kedua menara dibangun sebuah jembatan (Skybridge atau Jejantas Udara) yang menghubungkan kedua menara pada lantai 41 dan 42. Jembatan ini adalah tujuan kunjungan turis yang datang ke Menara Petronas dengan jumlah tiket yang terbatas (sekitar 1200 buah). Selain itu, jembatan ini juga digunakan untuk evakuasi apabila terjadi keadaan darurat di sebuah menara sehingga penghuninya bisa pindah ke menara yang aman. Sebagaimana bangunan tinggi lain, Menara Petronas pun bisa bergoyang
bila diterpa angin sehingga pembangunan jembatan pun tidak dipasang secara kaku pada kedua menara.
Setelah kita lihat dari penjelasan dan analisis diatas, gambar tangan-tangan yang diangkat ke atas dengan telapak tangan terbuka dan seolah berada dalam kubangan lumpur memiliki makna meminta pertolongan terhadap pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Selain meminta pertolongan, mereka juga menuntut akan kejelasan atas nasib mereka sejak musibah itu terjadi hingga saat ini. Tangan-tangan itu ialah perwakilan dari orang-orang yang menjadi korban dalam kasus ganti rugi semburan gas dan lumpur panas yang menenggelamkan permukiman serta tempat mereka mencari nafkah. Tangan-tangan yang digambarkan dengan warna putih tersebut dapat dimaknai bahwa mereka para korban lumpur adalah pihak yang tidak berdosa dan sebenarnya mereka ingin menyelesaikan masalah ini secara damai atau secara kekeluargaan, namun karena tidak ada kejelasan dari pihak-pihak itu, maka mereka sepakat bersatu menggalang massa untuk menuntut hak-hak mereka yang terabaikan. Perusahaan Lapindo Brantas sendiri adalah bagian dari Bakrie Grup yang pemiliknya tak lain adalah Aburizal Bakrie saat itu sedang menduduki jabatan di Kementerian sebagai Menkokesra ( Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat). Sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, semestinya Bakrie bertanggung jawab menangani semua kejadian bencana di Indonesia, baik bencana alam maupun akibat bencana industri seperti kasus lumpur Lapindo. Nyatanya sejak awal
semburan terjadi, tidak sekalipun Bakrie menginjakkan kakinya di Porong. Aburizal Bakrie hanya sekali datang ke Sidoarjo, namun hanya sebatas berada di Bandara Juanda.
Sedangkan Menara Kembar Petronas yang direfleksikan berwarna hitam tersebut dapat diartikan sebagai Lapindo Brantas Incorporation yang sebenarnya merupakan sebuah perusahaan besar dibawah naungan Bakrie Grup yang mempunyai modal tidaklah kecil. Perusahaan inilah yang dianggap sebagai penyebab utama terjadinya semburan gas dan lumpur panas Sidoarjo, sehingga wajib untuk bertanggung jawab dengan jalan membayar ganti untung kepada warga Sidoarjo yang terkena dampak lumpur panas tersebut.
4.4.2 Indeks (index)
Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara penanda dan petandanya bersifat causal (sebab akibat) atau tanda yang mengacu pada kenyataan. Indeks yang terdapat pada desain gambar pada kaos Cak Cuk Surabaya seri “Visit Porong” adalah segala bentuk teks atau tulisan, dan dalam penelitian ini terdapat tiga rangkaian tulisan. Rangkaian tulisan yang pertama adalah teks bertuliskan Visit Porong – Sidoarjo, rangkaian teks kedua adalah 28 Mei ’06 pipa Lapindo bocor – banjir lumpur, dan rangkaian teks yang ketiga adalah tulisan Kuala Lumpur yang sebenar-benarnya.
Di dalam desain gambar kaos tersebut seluruh rangkaian teks tersebut ditulis dengan jelas menggunakan warna biru dan merah. Seluruh rangkaian teks tersebut memiliki maksud yang berkaitan dengan ikon. Pada ikon terdapat gambar tangan-tangan yang seolah berada di dalam kubangan lumpur yang diangakat ke atas dengan atar belakang Menara Petronas yang melambangkan para korban lumpur yang menanti bantuan dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab yaitu Lapindo Brantas Incorporation dan juga pemerintah.
Tulisan-tulisan tersebut lebih mengacu pada kritik sosial terhadap keadaan para korban lumpur dan kota Porong Sidoarjo itu sendiri. Dilihat dari kata-kata “Visit Porong - Sidoarjo” tersebut, bisa dimengerti bahwa disainer kaos Cak Cuk Surabaya secara tidak langsung ingin mengungkapkan sebuah kritik sosial agar pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab itu sadar akan nasib warga Porong yang hingga kini masih banyak yang tidak jelas, belum lagi hingga saat ini masih sering terdengar berita bahwa sebagian besar korban lumpur belum menerima ganti untung seperti yang telah dijanjikan. Kemudian ditambah lagi dengan terus munculnya titik-titik semburan gas dan lumpur yang meskipun berskala kecil, namun tetap saja membuat warga panik. Kata-kata “Visit” disini dapat diartikan mengajak untuk melihat kota Porong Sidoarjo. Namun lebih dari itu, kata “Visit” dapat lebih diartikan mengajak khalayak dan pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab untuk ikut prihatin akan masalah ini dan segera merealisasi janji-janji mereka serta mengajak
masyarakat atau khalayak untuk bersimpati terhadap musibah yang sedang menimpa saudara-saudara kita di Porong Sidoarjo.
Kemudian tulisan “Kuala Lumpur yang sebenar-benarnya” juga bersifat sindiran atau kritik bahwa kota Porong sudah benar-benar menjadi kota lumpur bukan sekedar nama layaknya nama kota Kuala Lumpur Malaysia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kuala adalah tempat pertemuan sungai dengan sungai atau sungai dengan laut, muara sungai, atau dapat juga berarti muara bersama-sama dari beberapa aliran menjadi satu. ( http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/ ). Penggunaan kata “kuala” pada desain kaos tersebut sudah cocok, mengingat beberapa tahun yang lalu lumpur cair tersebut pernah berusaha dialirkan melalui Sungai Porong menuju Selat Madura namun lumpur tersebut akhirnya hanya mengendap di muara pertemuan antara Sungai Porong dan Sungai Brantas.
4.4.3 Simbol (symbol)
Simbol adalah tanda yang menunjukkan alamiah diantaranya bersifat arbiter atau semena, hubungan berdasarkan konvensi atau memiliki perjanjian dengan masyarakat. Simbol dari desain kaos Cak Cuk Surabaya seri “Visit Porong” adalah bunga sepatu berwarna merah, hijau, biru, kuning dan oranye.
Bunga atau kembang sepatu ( Hibiscus Rosa Sinensis Linn ) adalah salah satu jenis bunga yang hanya bisa ditemukan di daerah yang
beriklim tropis dan subtropis seperti di negara Indonesia, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, Brazil, dan lain-lain. Di daerah tropis atau di rumah kaca tanaman ini berbunga sepanjang tahun, sedangkan di daerah subtropis berbunga mulai dari musim panas hingga musim gugur. Bunga ini terkenal mempunyai dua varian warna yang akrab kita jumpai, yaitu bunga yang berwarna merah dan berwarna putih layaknya warna bendera Indonesia. Namun ada pula hasil modifikasi dengan teknik hybrid yang berwarna kuning, oranye, merah muda, merah, dan ungu dengan kelopak tunggal dan berganda.
Bunganya besar dan tidak mempunyai bau atau wangi. Bunga ini hampir bisa dipastikan dapat tumbuh di semua tempat, baik di tempat yang lembab berair maupun di tempat yang kering dan panas. Bagi para penghobi tanaman yang ingin mengoleksi tanaman ini, tidak terlalu membutuhkan perawatan khusus, yang terpenting adalah pemberian air yang tepat. Kembang sepatu banyak dijadikan tanaman hias karena bunganya yang cantik. Bunga digunakan untuk menyemir sepatu di India dan sebagai bunga persembahan.
Di Tiongkok, bunga yang berwarna merah digunakan sebagai bahan pewarna makanan. Di Indonesia, daun dan bunga digunakan dalam berbagai pengobatan tradisional. Kembang sepatu yang dikeringkan juga diminum sebagai teh. Di Okinawa, Jepang digunakan sebagai tanaman pagar. Di bagian selatan Okinawa, tanaman ini disebut Gushōnu hana
yang artinya adalah bunga kehidupan sesudah mati, sehingga banyak ditanam di makam.(majalah Trubus, 16: 2009).
Makna yang terkandung dalam gambar bunga sepatu dalam desain kaos Cak Cuk Surabaya seri “Visit Porong” adalah sebagai simbol matinya rasa keadilan bagi rakyat kecil serta matinya rasa belas kasih pemerintah dan Lapindo Brantas Incorporation. Dari awal musibah Lumpur panas ini terjadi, pihak pemerintah dan Lapindo hanya sekedar berjanji namun hanya sedikit bukti yang dapat terealisasikan. Seolah olah janji itu hanya sebagai hiasan pemanis kesalahan, layaknya fungsi bunga sepatu yaitu hanya sebagai penghias taman. Sekalinya mereka merealiasasikan janji itu, sesegera mungkin pihak-pihak tersebut mengeksploitasi besar-besaran apa yang baru saja direalisasikan.
Sedangkan makna warna merah, hijau, biru, kuning dan oranye melambangkan bahwa masalah Lumpur panas ini sangat berbahaya tidak hanya dari segi fisik dan meteri saja, namun juga berbahaya dari segi mentalitas atau kejiwaan warga di Porong. Sebagian besar dari mereka masih bersedih menggantungkan hidupnya pada janji yang tak pasti, sementara yang lainnya sudah menganggap pemerintah dan Lapindo sebagai penipu dan penghianat. Sebenarnya warga korban lumpur hanya ingin keadilan dan kejelasan nasib mereka.
4.5 Pemaknaan Desain Gambar dan Tulisan Pada Kaos Cak Cuk