BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
4.1.2 Lumpur Panas Lapindo
Lumpur Lapindo atau Banjir Lumpur Panas Sidoarjo adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak tanggal 27 Mei 2006. Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta mempengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.
Lokasi semburan lumpur ini berada di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan. Lokasi semburan hanya berjarak 150-500 meter dari sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), yang merupakan sumur eksplorasi gas milik Lapindo Brantas sebagai operator blok Brantas. Oleh karena itu, hingga saat ini, semburan lumpur panas tersebut diduga diakibatkan aktivitas pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas di sumur tersebut. Pihak Lapindo Brantas sendiri punya dua teori soal asal semburan. Pertama, semburan lumpur berhubungan dengan kesalahan prosedur dalam kegiatan pengeboran. Kedua, semburan lumpur kebetulan terjadi bersamaan dengan pengeboran akibat sesuatu yang belum diketahui. Namun bahan tulisan lebih banyak yang condong kejadian itu adalah akibat pemboran.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli, lumpur keluar disebabkan karena adanya patahan, banyak tempat di sekitar Jawa Timur sampai ke Madura seperti Gunung Anyar di Madura, "gunung" lumpur juga ada di Jawa Tengah (Bleduk Kuwu). Fenomena ini sudah terjadi puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu. Jumlah lumpur di Sidoarjo yang keluar dari perut bumi sekitar 100.000 meter kubik perhari, yang tidak mungkin keluar dari lubang hasil "pemboran" selebar 30 cm. Dan akibat pendapat awal dari WALHI
maupun Meneg Lingkungan Hidup yang mengatakan lumpur di Sidoarjo ini berbahaya, menyebabkan dibuat tanggul diatas tanah milik masyarakat, yang karena volumenya besar sehingga tidak mungkin menampung seluruh luapan lumpur dan akhirnya menjadikan lahan yang terkena dampak menjadi semakin luas.
Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.
Lumpur menggenangi dua belas desa di tiga kecamatan..
Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja.
Empat kantor pemerintah tidak berfungsi dan para pegawai juga tidak bekerja.
Tidak berfungsinya sarana pendidikan serta Markas Koramil Porong.
Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi. Pipa air milik PDAM Surabaya patah.
Meledaknya pipa gas milik Pertamina.
Ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga waktu yang tidak ditentukan.
Sebuah SUTET milik PT PLN dan seluruh jaringan telepon dan listrik tidak dapat difungsikan.
Penutupan ruas jalan tol juga menyebabkan terganggunya jalur transportasi Surabaya - Malang dan Surabaya - Banyuwangi serta kota-kota lain di bagian timur pulau Jawa. Ini berakibat pula terhadap aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur.
Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menanggulangi luapan lumpur, diantaranya dengan membuat tanggul namun lumpur terus menyembur setiap hari, sehingga sewaktu-waktu tanggul dapat jebol dan mengancam permukiman di dekat tanggul. Sudah ada tiga tim ahli yang dibentuk untuk memadamkan lumpur berikut menanggulangi dampaknya. Tiap tim terdiri dari perwakilan Lapindo, pemerintah, dan sejumlah ahli dari beberapa universitas terkemuka. Tim Satu, menangani penanggulangan lumpur, berkutat dengan skenario pemadaman. Tujuan jangka pendeknya adalah memadamkan lumpur dan mencari penyelesaian cepat untuk jutaan kubik lumpur yang telah terhampar di atas tanah.
Jika skenario penghentian lumpur terlambat atau gagal maka tanggul yang disediakan tidak akan mampu menyimpan lumpur panas sebesar 126,000 m3 per hari. Pilihan penyaluran lumpur panas yang tersedia pada pertengahan September 2006 hanya tinggal dua. Skenario ini dibuat jika luapan lumpur adalah
kesalahan manusia, seandainya luapan lumpur dianggap sebagai fenomena alam, maka skenario yang wajar adalah 'bagaimana mengalirkan lumpur kelaut' dan belajar bagaimana hidup dengan lumpur.
Rapat Kabinet pada 27 September 2006 akhirnya memutuskan untuk membuang lumpur panas Sidoardjo langsung ke Kali Porong. Keputusan itu dilakukan karena terjadinya peningkatan volume semburan lumpur, untuk memberikan tambahan waktu untuk mengupayakan penghentian semburan lumpur tersebut dan sekaligus mempersiapkan alternatif penanganan yang lain. Banyak pihak menolak rencana pembuangan ke laut ini, karena dapat mengakibatkan produksi tambak mengalami kegagalan panen.
Dampak lumpur itu bakal memperburuk kerusakan ekosistem Sungai Porong. Ketika masuk ke laut, lumpur otomatis mencemari Selat Madura dan sekitarnya. Alternatif yang sudah dikaji adalah dengan memisahkan air dari endapan lumpur lalu membuang air ke laut. Lumpur itu mengandung 70 persen air, sisanya bahan endapan. Kalau air bisa dibuang ke laut, tentu danau penampungan tak perlu diperlebar, dan tekanan pada tanggul bisa dikurangi.
Kritik pun ditujukan kepada Pemerintah karena dianggap tidak serius menangani kasus luapan lumpur panas ini. Masyarakat adalah korban yang paling dirugikan, di mana mereka harus mengungsi dan kehilangan mata pencaharian tanpa adanya kompensasi yang layak. Pemerintah hanya membebankan kepada Lapindo pembelian lahan bersertifikat dengan harga berlipat-lipat dari harga NJOP yang rata-rata harga tanah untuk 4 desa (Kedung Bendo, Renokenongo, Siring, dan jatirejo), sementara desa-desa lainnya ditanggung APBN, juga penanganan infrastruktur yang rusak. PT Lapindo Brantas Inc sendiri lebih sering mengingkari perjanjian-perjanjian yang telah disepakati bersama dengan korban. Dari 12.883 buah dokumen Mei 2009 hanya 400 buah dokumen yang telah dibayarkan karena status tanah yang lainnya masih belum jelas.
Di balik tragedi dahsyat ini, sejumlah korban lumpur, khususnya warga asal Jatirejo dan Siring, terpaksa memanfaatkan situasi bencana ini untuk sekadar mendapat tambahan dana. Mereka mencoba berfikir kreatif mencoba memanfaatkan musibah ini unutuk mengais sedikit rejeki, sehingga akhirnya warga Jatirejo dan Siring membuat wisata lumpur karena mengetahui bahwa banyak orang dari berbagai daerah di tanah air yang ingin melihat dari dekat semburan lumpur itu.
Istilah 'wisata' jelas tidak pas karena di sini para pengunjung tidak beroleh kelegaan rohani. Orang yang datang berkunjung ke tempat wisata lumpur ini lebih karena ingin bersimpati, merasakan langsung betapa ribuan manusia terusir karena kesalahan fatal di lokasi tambang gas bumi itu. Berbagai cara mereka lakukan agar semakin banyak orang yang berminat untuk melihat wisata buatan tersebut, mulai dari membuat spanduk hingga mengandalkan cerita dari mulut ke mulut yang tujuannya tidak lain untuk mempromosikan wisata baru di Sidoarjo.
Disamping memanfaatkan waduk penahan lumpur panas tersebut sebagai tempat wisata, para warga Porong juga melengkapi fasilitas wisata tersebut dengan membuat film dokumenter tentang musibah lumpur panas dan menjualnya kepada wisatawan yang berkunjung sebagai kenang-kenangan setempat. Selain menjadi pemandu wisata, tukang ojek, penjual VCD lumpur, penjual es atau makanan kecil, para warga korban lumpur juga bekerja sebagai tukang parkir. Sekali parkir Rp 2.000, sedangkan Parkir mobil Rp 5.000.
4.2 Penyajian Data
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh penulis terhadap Desain Gambar dan Tulisan yang terdapat pada kaos Cak cuk Surabaya Versi “Visit Porong”, maka dapat maka dapat disajikan beberapa hasil dari
pengamatan terhadap objek tersebut. Di dalam visualisasi gambar dan tulisan tersebut telah terjadi proses komunikasi secara visual kepada masyarakat terhadap apa yang dikreasikan melalui desain gambar yang dibuat. Tulisan kalimat “ Visit Porong” dan “Kuala Lumpur Yang Sebenar-benarnya” disertai oleh gambar tangan-tangan yang diangkat ke atas dan berlatar belakang Menara Kembar Petronas adalah merupakan serangkaian tanda yang dapat dimaknai, karena objek ini tidak dapat berdiri sendiri tanpa makna. Selanjutnya akan dianalisis berdasarkan landasan teori Charles S. Pierce. Untuk mengetahui apa yang terkandung dalam objek gambar tersebut.
Charles S. Pierce membagi tanda menjadi 3 kategori yaitu ikon, indeks, simbol. Untuk melihat pengungkapan peristiwa serta apa pesan yang disampaikan dalam gambar iklan tersebut, sistem tanda dalam iklan tersebut dibagi berdasarkan pembagian fungsi tanda dari Pierce.
Gambar 4.2
4.3 Pemaknaan Desain Gambar dan Tulisan Pada Kaos Cak Cuk Seri “Visit Porong” dalam konteks Charles Sanders Pierce
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis semiotika Charles Sanders Pierce, dalam pendekatan semiotik model Charles S. Pierce, diperlukan adanya 3 unsur utama yang bisa digunakan sebagai model analisis, yaitu objek, tanda, dan interpretant. Menurut Charles Sanders Pierce salah satu bentuk tanda adalah kata, sedangkan objek adalah sesuatu yang dirujuk tanda. Sementara interpretant adalah tanda yang ada dalam benak seseorang, maka muncullah makna tentang sesuatu yang diwakili oleh tanda tersebut.
Dalam Desain Gambar dan Tulisan Pada Kaos Cak Cuk Versi “Visit Porong”, dapat dibagi beberapa unsur berdasarkan unit analisis dalam penelitian ini :
1. Tanda dalam objek tersebut adalah setiap bentuk makna yang bisa ditimbulkan oleh desain gambar tersebut.
2. Objek tersebut adalah keseluruhan desain gambar tersebut.
3. Interpretant adalah peneliti yang akan menganalisa desain gambar yang akan diambil sebagai korpus, yaitu desain Gambar dan Tulisan Pada Kaos Cak Cuk Versi “Visit Porong” secara keseluruhan dengan menggunakan acuan tanda dalam model kategori tanda yang dimiliki oleh Pierce, yaitu ikon, indeks dan simbol.
Apabila digambarkan hubungan antara objek, tanda, dan interpretant dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Sign (Tanda)
Setiap bentuk makna yang dapat ditimbulkan dalam
desain gambar.
Interpretant Hasil Interpretant penelitian dalam melihat hubungan antar tanda dan
acuan tanda (objek)
Object (Objek) Keseluruhan dari desain gambar dan tulisan pada kaos Cak Cuk Surabaya
seri “Visit Porong”
Gambar 4.3.1
Hubungan Antara Objek, Tanda dan Interpretant Dalam Semiotik Pierce
Dalam hubungan antara tanda dan acuannya berdasarkan studi semiotik Pierce, yang kemudian membagi tanda itu sendiri dalam 3 kategori tanda milik Pierce, yaitu Ikon, Indeks dan simbol, maka penelitian akan memaknai segala bentuk penggambaran yang terdapat dalam desain Gambar dan Tulisan “Visit Porong”.
Index (Indeks) Segala bentuk rangkaian teks yang terdapat dalam
desain gambar kaos
Symbol (Simbol) 1. Bunga Sepatu. 2. Segala bentuk pewarnaan Icon (Ikon) Gambar tangan-tangan yang seolah berada di dalam kubangan lumpur
yang diangakat ke atas dengan atar belakang
Menara Petronas
Gambar 4.3.2
Gambar Desain Kaos Cak Cuk Dalam Kategori Tanda Pierce
Menurut Pierce, hubungan tanda dan acuannya memiliki 3 bentuk, adalah ikon, indeks dan simbol. Di dalam desain kaos ini kita juga dapat membaginya kedalam 3 bentuk, yaitu: