BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Deskriptif
4.2.1 Perkembangan Kondisi Makroekonomi Indonesia
Sebelum terjadi krisis di Indonesia, perekonomian Indonesia berkembang dengan pola yang menarik. Pada periode 1986-1993, perekonomian Indonesia meningkat diatas 6% per tahun. dilanjutkan dengan periode 1994-1997, perekonomian Indonesia berada di atas 7%. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa perekonomian Indonesia sejak 1990-an atau pada tahun sebelumnya menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Pertumbuhan yang mencerminkan tingginya dinamika ekonomi itu terus berlangsung hingga semester pertama di tahun 1997.
Namun krisis keuangan Thailand yang dikenal sebagai Tom Yun Effect pada pertengahan tahun 1997 adalah awal dari krisis moneter kawasan yang kemudian merambah menjadi krisis ekonomi dan krisis sosial politik yang lebih parah di Indonesia. Hal ini terlihat pada posisi neraca transaksi berjalan yang selalu defisit dari tahun ke tahun, dan tidak pernah mengalami perbaikan (Didik, 2000:83). Disamping masalah defisitnya neraca transaksi berjalan tersebut, kondisi makroekonomi Indonesia juga semakin kacau dengan meningkatnya inflasi, lemahnya posisi sektot riil, dan lain – lain.
Seirinng dengan berjalannya waktu, Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter di Indonesia, berupaya memulihkan kondisi perekonomian Indonesia dengan menekan laju inflasi pada tahun 1998 sebesar 77,6% melalui kenaikan tingkat suku bunga SBI. Dengan naiknya tingkat suku bunga SBI tersebut, tingkat suku bunga perbankan
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
juga ikut naik sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat akan terserap oleh bank – bank umum. Pada tahun 1999, inflasi mulai dapat dikendalikan dan PDB tumbuh sebesar 0,8%. Kemudian pada tahun 2000 sampai 2004 perekonomian Indonesia tumbuh rata –rata 4,6% per tahun.
4.2.2 Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Sejak tahun 1986 hingga tahun 1989, tingkat pertumbuhan ekonomi yang diukur melalui PDB nyata terus menerus mengalami peningkatan, yaitu dari 5,9% di tahun 1986 menjadi 6,9% di tahun 1988, dan menjadi 7,5% di tahun 1989. Namun pada tahun 1990 tingkat pertumbuhan ekonomi sama halnya dengan tahun 1991 yaitu 7,0%. Pada tahun 1992 sebesar 6,2%, tahun 1993 sebesar 5,8% dan tahun 1994 sebesar 7,2%. Di tahun 1995 pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8%, dan pada tahun 1996 tingkat pertumbuhan ekonominya adalah sebesar 5,8%.
Setelah mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang besar pada tahun 1998 sebesar 13,3%, sejak tahun 1999 pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan tiap tahun. Pada tahun 1999 ekonomi bertumbuh sekitar 0,79%, 4,92% di tahun 2000, 3,4% di tahun 2001, dan 3,66%.di tahun 2002.
Peningkatan pertumbuhan ini memberikan harapan bagi bangsa Indonesia untuk segera keluar dari krisis ekonomi, walaupun pertumbuhan masih di bawah target yang diinginkan. Hal ini memperlihatkan pemulihan perekonomian telah berjalan ke arah yang diharapkan.
Untuk lebih jelasnya, gambaran umum tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dilihat dari tabel Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
Tabel 4.1
PDB Berdasarkan Harga Berlaku Tahun PDB Berdasarkan Harga Berlaku
(Rp. Miliar) Pertumbuhan (%) 1987 114.518,50 -- 1988 142.104,80 24,09 1989 167.184,70 17,65 1990 195.507,20 16,94 1991 227.450,20 16,34 1992 259.884,50 14,26 1993 302.017,80 16,21 1994 379.209,40 25,56 1995 452.380,80 19,30 1996 532.630,80 17,74 1997 624.337,10 17,22 1998 955.753,40 53,08 1999 1.099.731,60 15,06 2000 1.389.769,60 26,37 2001 1.684.280,50 21,19 2002 1.863.274,70 10,63 2003 2.036.351,90 9,29 2004 2.295.826,20 12,74 2005 2.784.960,40 21,31 2006 3.338.195,70 19,87
Sumber: Indonesia dalam Angka, 2006.
Tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa PDB Indonesia atas dasar harga berlaku selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1987, PDB Indonesia tercatat sekitar Rp. 114,52 triliun, dan menjadi sekitar Rp. 259,88 triliun di tahun 1992. Pada tahun 1997, PDB Indonesia tercatat sebesar Rp. 624,34 trilliun, meningkat sekitar 17,22% dari tahun sebelumnya.
Kemudian pada tahun 2002 nilai PDB Indonesia atas dasar berlaku telah mencapai Rp. 1.863,27 trilliun. Peningkatan yang ditunjukkan oleh PDB Indonesia pada tahun 2002 ini cukup bagus. Hal ini menunjukkan secara perlahan namun pasti bahwa
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
Indonesia berusaha memperbaiki kondisi perekonomian. Dengan meningkatnya PDB, maka diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sehingga Indonesia dapat mencapai pembangunan ekonomi yang sehat.
Selanjutnya pada tahun 2004 PDB Indonesia meningkat sebesar 12,74% dibandingkan tahun 2003 dimana nilai PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 2.036,35 triliun. Peningkatan PDB berdasarkan harga berlaku pada tahun 2004 yang tumbuh sebesar 12,74% digerakkan oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, investasi, serta ekspor dan impor.
Pada tahun 2005 nilai PDB mencapai Rp. 2.784,96 triliun, dengan pertumbuhan mencapai 21,3% dibanding tahun 2004. Pada tahun 2006 nilai PDB menurut harga berlaku lebih besar Rp. 553,23 triliun dari nilai PDB tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terbesar terjadi pada tahun 1998, yaitu sebesar 53,08%. Dan pertumbuhan ekonomi yang terkecil terjadi pada tahun 2003, yaitu sebesar 9,29%. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak tahun 1987 sampai dengan tahun 2006 adalah sebesar 19,87%.
4.2.3 Perkembangan Ekspor di Indonesia
Ekspor di Indonesia selalu mengalami perkembangan setiap tahunnya, hanya saja mengalami penurunan pada tahun 1999 pada saat terjadi krisis moneter di Indonesia.
Salah satu sektor yang paling berpengaruh dalam ekspor adalah sektor industri. Pertumbuhan ekspor sektor industri setiap tahunnya meningkat, hanya saja pada saat krisis moneter pertumbuhannya mengalami sedikit penurunan.
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
Pada tahun 1997 ekspor sektor industri Indonesia sebesar 1.752.068 juta US $, namun mengalami penurunan pada tahun 1999 dimana Ekspor sektor industri di Indonesia sebesar 844.362 juta US $.
Namun pada tahun bEkspor sektor industri Indonesia selalu bertambah, pada tahun 2000 Ekspor sektor industri Indonesia sebesar 2.276.871 juta US $. Pada tahun2006 Ekspor sektor INdustri di Indonesia sebesar 4.267.043 juta US $, bertambah 749.913 juta US $ disbanding tahun sebelumnya.
4.2.4 Perkembangan Penanaman Modal Asing di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang cukup kaya akan sumber daya alamnya. Akan tetapi negara Indonesia belum mampu mengolah sumber daya alam yang kita miliki tersebut secara maksimal. Ini dikarenakan kurangnya modal dan tenaga ahli yang dapat mengolah sumber daya alam yang kita miliki tersebut. Dengan kata lain, sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan dana yang cukup besar untuk melaksanakan pembangunan nasional. Kebutuhan dana yang cukup besar tersebut digunakan dalam upaya untuk mengejar ketertinggalan pembangunan dari negara – negara maju, baik dikawasan regional maupun kawasan global.
Disamping berupaya menggali sumber pembiayaan dalam negeri, pemerintah juga mengundang sumber pembiayaan luar negeri, salah satunya adalah penanaman modal asing (PMA), yang berasal dari negara – negara maju yang memiliki modal besar. Sumber pembiayaan melalui PMA ini oleh sebagian pengamat dianggap merupakan sumber pembiayaan luar negeri yang paling potensial dibandingkan dengan sumber yang lain. Pamayoto (1998) menjelaskan bahwa PMA lebih potensial dalam menjamin kelangsungan pembangunan dibandingkan dengan aliran bantuan atau modal portofolio.
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
Hal ini disebabkan PMA di suatu negara akan diikuti dengan transferof technology,
know-how, management skill, resiko usaha relatif kecil dan lebih profitable.
Pada tabel 4.2, dapat dilihat bahwa perkembangan PMA di Indonesia selalu mengalami fluktuasi. Setelah diumumkannya kebijakan investasi yang
Tabel 4.2
Penanaman Modal Asing di Indonesia Tahun 1987 – 2006
Tahun Penanaman Modal Asing
(US$ juta) 1987 1457.1 1988 4434.5 1989 4718.8 1990 8750.1 1991 8778.2 1992 10340 1993 8141.8 1994 23724.3 1995 39914.7 1996 29931.4 1997 33832.5 1998 13567.7 1999 10890.6 2000 15413.1 2001 15045.1 2002 9744.1 2003 13207.2 2004 10277.3 2005 13579.3 2006 16702.7
Sumber : Badan Pusat Statistika Medan
dikeluarkan pada tahun 1986, terjadi peningkatan realisasi PMA yaitu US$ 826,2 juta. Peningkatan ini terus berlanjut hingga tahun 1992.
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
Pada tahun 1989 sampai dengan tahu 1997 PMA di Indonesia sempat mengalami penurunan menjadi US$ 4.718,8 juta, tetapi pada tahun 1990 meningkat drastis menjadi US$ 8.750,10 juta,
Pada tahun 1991 sampai 1998, PMA di Indonesia terus mengalami fluktuasi. Pada tahun 1998, PMA mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu dari US$ 33.832,5 juta menjadi US$ 13.567,5 juta. Hal ini disebabkan karena Indonesia dilanda krisis ekonomi yang sangat parah. Begitu juga pada tahun 1999, PMA juga mengalami penurunan sekitar 24,6%. Pada tahun 2000, PMA mulai menunjukkan peningkatan sekitar 19,34%, dan pada tahun 2001, PMA hanya mengalami penurunan sedikit sehingga bearda pada posisi US$ 15.045 juta.
Hal ini berlanjut dan terus mengalami fluktuasihingga pada akhirnya pada tahun 2005, PMA mengalami peningkatan sebesar US$ 13.579,3juta. PMA terus mengalami peningkatan yang cukup berarti hingga tahun 2006 dan sangat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
4.2.5 Perkembangan Tingkat Suku Bunga
Tingkat suku bunga merupakan salah satu dari instrumen dalam melaksanakan kebijakan moneter dengan tujuan pengendalian jumlah uang beredar melalui OPT.
Adapun perkembangan tingkat suku bunga di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut:
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
Tabel 4.3 Tingkat Suku Bunga
Tahun Tingkat suku bunga
(%) 1987 14,00 1988 13,54 1989 15,30 1990 11,64 1991 17,87 1992 18,03 1993 13,79 1994 9,08 1995 11,59 1996 13,34 1997 12,26 1998 17,38 1999 37,84 2000 12,64 2001 14,31 2002 17,63 2003 13,12 2004 8,34 2005 7,30 2006 12,83
Sumber: Bank Indonesia, Laporan Bulanan, Juli 2006.
Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa tingkat suku bunga tahun 1998 tingkat suku bunga meningkat cukup tajam sekitar 37,84%. Persentase ini lebih besar dari tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan terjadinya inflasi sekitar 77% di Indonesia akibat krisis moneter. Sehingga dalam menyerap dan mengendalikan jumlah uang yang beredar terlalu banyak di masyarakat maka diperlukan penyesuaian tingkat suku bunga yang nantinya akan mempengaruhi tingkat suku bunga perbankan. Pada saat itu, tingkat suku bunga perbankan juga ikut naik. Kemudian pada tahun 1999 tingkat suku bunga mengalami penurunan. Hal ini bertujuan untuk mengundang para investor dalam menanamkan
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
modalnya di Indonesia di mana tingkat suku bunga merupakan patokan dalam menentukan tingkat suku bunga investasi. Adanya anggapan dengan menurunnya tingkat suku bunga investasi maka banyak para investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan PDB riil Indonesia.
Pada tahun-tahun berikutnya, tingkat suku bunga secara perlahan mulai memperlihatkan penurunan sampai pada tahun 2004 berada pada posisi 7,30%. Namun pada tahun berikutnya, tingkat suku bunga mengalami peningkatan sehingga berada pada posisi 12,83%. Hal ini dikarenakan adanya kenaikan inflasi di Indonesia yang disebabkan kenaikan administered price.
Setelah pada tahun 2005 tingkat suku bunga mengalami kenaikan, maka pada Mei 2006, BI mulai menurunkan tingkat suku bunga. Pada April 2006 tingkat suku bunga berada pada posisi 12,75%, namun pada Mei 2006 mengalami penurunan dan berada pada posisi 12,5%. Dan pada September 2006 tingkat suku bunga berada pada posisi 11,25%.