BAB II URAIAN TEORITIS
2.3 Penanaman Modal Asing (PMA)
Penanaman modal asing merupakan usaha yang dilakukan pihak asing dalam rangka menanamkan modalnya di suatu negara dengan tujuan untuk mendapatkan laba melalui penciptaan suatu produksi ataupun jasa (Panglaykim, 1984 :3). Penanaman modal asing terbagi atas 2 yaitu :
1. Penanaman Modal Asing Langsung (Foreign Direct Investment)
Penanaman modal asing yang bersifat langsung dapat juga dikatakan sebagai investasi perusahaan penuh, dimana pengelolaan baik manajemen maupun sebagian tenaga kerja ditentukan oleh pihak asing. Jenis penanaman modal asing ini biasanya dilakukan oleh perusahaan raksasa yang bergabung dalam Multi National Country yaitu perusahaan yang memiliki dan mengendalikan berbagai kegiatan produktif di lebih dari satu negara.
Penanaman modal secara langsung meliputi transfer modal ataupun pendirian pabrik, pengadaan fasilitas produksi, pembelian mesin, dan sebagainya biasanya menggunakan teknik-teknik produksi negara asal investor, jasa manajerial, pemasaran, dan iklan yang ditentukan oleh penanaman modal asing tersebut.
Pertumbuhan penanaman modal asing secara langsung (seperti dana – dana investasi yang langsung digunakan untuk menjalankan kegiatan bisnis atau pengadaan
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
alat – alat, fasilitas produksi seperti membeli lahan, membuka pabrik, membeli atau mendatangkan mesin – mesin, membeli bahan baku, dan sebagainya). Berlangsung dengan cepat khususnya masa sebelum krisis ekonomi.
Pada dasarnya, penanaman modal asing (PMA) secara langsung jauh lebih kompleks dari sekedar transfer modal ataupun pendirian bangunan pabrik dari suatu perusahaan asing di wilayah suatu negara berkembang. Perusahaan – perusahaan raksasa tersebut yang membawa teknik atau teknologi produksi yang lebih canggih, selera dan dan gaya hidup, jasa – jasa managerial, serta berbagai praktek bisnis termasuk pemberlakuan dan pengaturan perjanjian dan kerjasama, dan sebagainya.
Investasi asing langsung dapat juga berarti bahwa perusahaan dari negara penanam modal secara de fakto dan de jure melakukan pengawasan atas asset (aktiva) yang ditanam di negara dimana penanam modal menginvestasikan modalnya. Dengan cara demikian, investasi langsung dapat mengambil beberapa bentuk, diantaranya pembentukan suatu cabang perusahaan di negara pengimpor modal pembentukan suatu perusahaan di negara pengimpor hanya dibiayai oleh perusahaan – perusahaan yang terletak di negara investor untuk secara khusus di negara lain, atau dapat menaruh asset tetap di negara lain oleh perusahaan dari negara investor.
Menurut analisis Neo-Klasik, penanaman modal asing merupakan hal yang sangat positif, karena hal tersebut dapat mengisi kekurangan tabungan yang dihimpun dari dalam negeri dan juga menambah devisa serta membantu pembentukan modal domestic bruto.
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
Joint ventura merupakan usaha bersama yang diselenggarakan oleh dua atau lebih pihak yang merupakan badan hukum dimana masing – masing pihak memasukkan sejumlah modal tertentu, dengan pembagian resiko dan keuntungan berdasarkan proporsi modal tersebut. Jadi Joint Ventura merupakan kerjasama antara pemilik modal asing dengan modal nasional. Tentang pengelolaan perusahaan ditetapkan oleh kedua belah pihak dengan memperhatikan ketentuan – ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Investor asing juga dapat hanya menyertakan modal tanpa ikut dalam manajemen dan pengelolaan perusahaan dan tenaga kerja.
2.3.2 Kebijakan pemerintah tentang Penanaman Modal Asing (PMA)
Pemerintah selalu mengupayakan arus modal masuk ke Indonesia semakin besar sesuai dengan semakin meningkatnya dana yang dibutuhkan untuk pembangunan terutama untuk pembangunan bidang ekonomi. Sesuai dengan kebutuhan dana untuk pembangunan tersebut maka pemerintah selalu berusaha untuk menarik dana investor asing dengan memberikan berbagai kemudahan melalui berbagai kebijaksanaan.
Adapun kebijaksanaan yang dikeluarkan pemerintah tentang penanaman modal asing antara lain adalah UU No. 1/1967. Penanaman modal asing yang dimaksund sesuai dengan Undang – undang ini adalah hanya penanaman modal asing yang meliputi secara langsung yang dilakukan menurut ketentuan undang – undang yang digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia, dengan pengertian bahwa pemilik modal asing secara langsung menanggung resiko atas penanaman modal asing tersebut. Adapun yang dibahas undang – undang ini adalah :
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
a. Undang – undang ini dengan jelas tidak mengatur perihal kredit atau peminjaman modal melainkan hanya mengatur tentang penanaman modal asing.
b. Dengan demikian memberi kemungkinan perusahaan tersebut dijalankan dengan modal asing sebelumnya.
c. Direct Investment, dalam hal ini bukan hanya modal tetapi juga kekuasaan dan pengambilan keputusan dilakukan oleh pihak asing, sepanjang segala sesuatunya memperoleh persetujuan dari pemerintah Indonesia dan sejauh mana kebutuhannya tidak melanggar hukum dan ketertiban hukum yang berlaku di Indonesia.
d. Penggunaan kredit dan resikonya ditanggung oleh investor tersebut.
Penanaman modal asing dalam undang – undang ini juga sebagai alat pembayaran luar negeri yang tidak merupakan bagian dari devisa Indonesia, yang dengan persetujuan pemerintah digunakan untuk membiayai pembiayaan perusahaan di Indonesia. Alat – alat untuk perusahaan termasuk penemuan – penemuan baru milik orang asing dan bahan – bahan yang dimasukkan dari luar negeri ke wilayah Indonesia, selama alat – alat tersebut tidak dibiayai oleh kekayaan devisa Indonesia. Bagian dari hasil perusahaan yang berdasarkan undang – undang ini diperkenankan di transfer tetapi digunakan untuk membiayai kembali perusahaan di Indonesia.
Dalam rangka meningkatkan PMA di Indonesia, pemerintah melalui BKPM (Badan Koordinasi dan Penanaman Modal) juga telah melakukan beberapa upaya penyesuaian dan kebijakan investasi, diantaranya adalah :
1. Pemerintah telah memperbaharui Daftar Bidang Usaha yang tertutup bagi penanam modal untuk dapat memberikan keleluasaan investor dalam memilih usaha (Keppres
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
No.96 tahun 2000 jo. No.118 tahun 2000).dalam keputusan tersebut, bidang usaha yang tertutup untuk investasi baik PMA maupun PMDN berkurang dari 16 sektor menjadi 11 sektor. Bidang usaha yang tertutup bagi kepemilikan saham asing berkurang dari 9 sektor menjadi 8 sektor.
2. Penyederhanaan proses dari 42 hari menjadi 10 hari. Sebelumnya persetujuan PMA dilakukan presiden, sedangkan saat ini cukup dilakukan oleh Pejabat Eselon I yang berwenang, dalam hal ini Deputi Bidang dan Fasilitas Penanaman Modal.
3. Sejak tanggal 1 Januari 2001, pemerintah menggantikan insentif Pembebasan Pajak dan Kelonggaran Pajak Investasi sebesar 30% untuk 6 (enam) tahun.
4. Nilai investasi tidak dibatasi, sepenuhnya bergantung studi kelayakan dari proyek tersebut.
Insentif bagi para investor tampaknya juga sangat bergantung pada bagaimamana pemerintah melakukan atau menerapkan status prioritas bagi sektor industri. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dalam rangka menjaring investasi asing maupun investasi dalam negeri merupakan apa yang disebut dengan Daftar Skala Prioritas (DSP), yang memiliki 4 kategori, yaitu :
1. Sektor industri yang terbuka bagi PMA maupun PMDN dan Non-PMA/PMDN termasuk didalamnya perusahaan yang relatif kecil.
2. Sektor industri yang terbuka bagi PMDN dan non-PMA/PMDN. 3. Sektor industri yang terbuka hanya bagi Non-PMA/PMDN.
4. Industri yang tertutup untuk semua investasi, baik PMA, PMDN, Non-PMA/PMDN.
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
Sistem insentif tersebut sering direvisi oleh pemerintah, seperti misalnya pembebasan pajak impor, investasi mesin maupun peralatan.
2.3.3 Keuntungan dengan adanya Penanaman Modal Asing
Keuntungan – keuntungan yang dapat diperoleh dengan adanya Penanaman Modal Asing antara lain adalah :
1. Produksi beberapa produk kebutuhan rakyat dengan tujuan untuk ekspor (dengan penggunaan bahan baku yang umumnya berasal dari Indonesia) akan meningkat kualitas dan kuantitasnya.
2. Bila produksi mengalami kegagalan, maka seluruh resiko akan ditanggung oleh penanaman modal dalam investasi langsung (investor asing).
3. Tenaga kerja Indonesia akan memperoleh kesempatan kerja, dan dapat membiasakan diri dengan teknologi modern.
4. Terbukanya kesempatan untuk membangun perusahaan yang sejenis, sehingga akan dapat meningkatkan pembangunan, terutama pembangunan didaerah karena para pekerja yang bekerja di perusahaan asing tersebut telah memiliki pengalaman dan keterampilan dalam membangun perusahaan nasional yang sejenis yang mungkin akan lebih baik dan terarah bagi peningkatan pembangunan di daerah – daerah lainnya sehingga mereka dapat menjadi pioner pelaksanaan proyek – proyek mutakhir di daerah – daerah.
5. Devisa negara akn menigkat jumlahnya, sehingga dana untuk pembangunan juga meningkat.
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
6. langsung memperkenalkan manfaat ilmu, teknologi, dan organisasi mutakhir ke negara yang dituju.
7. Mendorong perusahaan lokal untuk berinvestasi lebih banyak pada industri pendukung atau bekerjasama dengan perusahaan asing.
8. Sebagian laba pada umumnya ditanamkan kembali pada pengembangan atau modernisasi industri terkait.
9. Kemungkinan terjadinya pelarian modal berkurang.
2.3.4 Teori Penanaman Modal Asing
Teori penanaman modal asing pada dasarnya berusaha mencari jawaban atas pertanyaan mengapa perusahaan melakukan investasi luar negeri langsung sebagai bentuk keterlibatan nasional. Para ahli ekonomi mengemukakan beberapa teori investasi luar negeri (Panglaykim, 1984 :3-7) antara lain :
1. Stephen Hymer
Hymer dianggap sebagai pelopor dalam teori investasi luar negeri. Hymer mengungkapkan suatu pendekatan organisasi industri yang menekankan peranan keunggulan khas perusahaan dan ketidak sempurnaan pasar dalam usaha menjelaskan motivasi yang mendasari perusahaan dalam melakukan suatu investasi. Menurut pendekatan ini, pengembalian investasi yang lebih tinggi di luar negeri tidak menjamin kelengkapan penjelasan arus modal, karena pengembalian investasi itu sendiri berarti bahwa modal akan lebih efisien bila dialokasikan melalui pasar modal dan tidak memerlukan pemindahan perusahaan.
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
Perusahaan harus mampu menghasilkan pengembalian yang lebih tinggi daripada perusahaan yang sudah ada atau yang potensial di negara tuan rumah agar dapat menutup kerugian ketidak unggulan operasi perusahaan tersebut di luar negeri. Kemungkinan memperoleh pengembalian investasi yang lebih tinggi akan timbul bila perusahaan yang ada di negara tuan rumah. Keunggulan tertentu perusahaan dapat timbul karena adanya akses ke sumber modal yang lebih mudah dan besar,adanya pasar bahan mentah yang diproduksi dengan skala besar dan memiliki keahlian seperti keahlian manajemen, ketrampilan pemasaran dan sebagainya.
2. R. Vernon
Vernon menjelaskan penanaman modal asing dengan model yang disebut Model Siklus Produk. Dalam model ini, introduksi dan pengembangan produk baru di pasar mengikuti 3 tahap. Adapun ketiga tahap tersebut adalah : Tahapan pertama, pada waktu produk pertama kali dikembangkan dan dipasarkan, diperlukan suatu hubungan yang erat antara kelompok desain, produksi dan pemasaran dari perusahaan dan pasar yang akan dilayani oleh produk tersebut. Tahapan kedua, produk tersebut diekspor ke luar negeri. Bila perusahaan lokal di negara tuan rumah telah memulai memproduksi produk yang bersaing, biaya produksi pada semua perusahaan akan menjadi lebih penting. Tahapan ketiga, produk telah terbuat dengan baik dengan desain yang telah distandarisasikan. 3. Kiyoshi Kojima
Kojima mengatakan bahwa struktur keunggulan komperatif suatu negara dalam perdagangan memainkan peranan penting dalam penentuan arus investasi luar negeri. Argumentasi ini mengulangi pentingnya sumber – sumber alam dan keunggulan tertentu yang dimiliki oleh suatu negara dalam rangka menentukan arus investasi luar negeri.
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
4. S. Hirsch
Menurut Hirsch, investasi luar negeri langsung akan dipilih bila penghasilan yang diharapkan lebih besar dari biaya – biaya yang dibutuhkan untuk melakukan pengawasan di luar negeri. Atau biaya – biaya produksi dan pengawasan di luar negeri tersebut lebih rendah daripada biaya – biaya produksi dalam negeri ditambah biaya – biaya pemasaran ekspor. Bila afliasi di luar negeri telah terbentuk, maka diferensiasi biaya pemasaran menurun dan ekspor barang – barang lain seperti intermediate goods dalam negeri dapat terlaksana.
Hirsch menyimpulkan bahwa investasi internasional memungkinkan spesialisasi berdasarkan keunggulan komperatif yaitu melalui ekspansi penghasilan atau pembentukan pabrik – pabrik baru di lokasi – lokasi dengan biaya serendah – rendahnya. Ini dapat pula dilakukan melalui penyuplaian semua pasar termasuk pasar di dalam negeri dari lokasi tersebut.
5. J.H. Dunning
Dunning mengajukan pendekatan yang lebih umum yakni pendekatan serba elektrik (memilih dari berbagai sumber) yaitu dengan mengintegrasikan teori – teori perdagangan, lokasi kegiatan ekonomi dan perusahaan multinasional. Dunning berargumen bahwa luasnya keterlibatan ekonomi internasional (melalui perdagangan dan investasi) antar negara mengakibatkan perusahaan – perusahaan akan lebih memilih untuk berproduksi di luar negeri yang memiliki ketersediaan sumber tertentu tapi tidak dapat digunakan oleh perusahaan dari negara lain.
Fahmi Hasbullah : Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009.
USU Repository © 2009
Faktor – faktor lokasi tertentu yang memiliki peranan penting dan dapat mempengaruhi pemilihan lokasi investasi adalah biaya – biaya upah komperatif, sifat – sifat di dalam negeri seperti besarnya pasar, tingkat perkembangan dan keberadaan persaingan di dalam negeri, kendala – kendala perdagangan baik tarif maupun non tarif, jarak dari negara yang melakukan investasi, lingkungan politik sosial dan ekonomi, dan kebijaksanaan pemerintah yang berhubungan dengan partisipasi nasional dalam kegiatan manufaktur dan pembayaran keuntungan.