• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1Hasil Penelitian

4.1.2. Data Tahap Akhir

4.1.3.6 Analisis Deskriptif Hasil Angket Tanggapan Siswa

Hasil analisis tanggapan siswa diperoleh reliabilitas 0,97. Perhitungan lebih lengkap disajikan pada Lampiran 29 halaman 158. Hasil angket tanggapan siswa menyatakan bahwa sebagian besar siswa tertarik dengan pembelajaran kelarutan dan hasil kali kelarutan dengan menggunakan model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS. Dilihat pada hasil angket tanggapan siswa, sebagian besar siswa mempunyai respon positif terhadap model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS. Hal tersebut ditunjukkan dengan respon siswa dengan banyaknya siswa yang setuju dengan model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Hasil Angket tanggapan siswa disajikan pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11 Hasil Angket Tanggapan Siswa

No. Pernyataan Jumlah Siswa Yang

Merespon

SS S TS STS

1. Saya lebih memahami materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yang diajarkan menggunakan model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS

2 27 3 0

2. Model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS membuat saya lebih termotivasi untuk mempelajari kimia.

3 25 4 0

3. Saya sangat senang jika penggunaan model pembelajaran Treffinger berbantuan LKSini juga dilaksanakan oleh guru-guru yang lain.

7 21 4 0

4. Setelah mengikuti pembelajaran ini saya dapat mengkaitkan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dalam kehidupan sehari-hari

5 24 3 0

5. Model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS melatih kerja sama dalam kelompok.

13 15 4 0

6. Saya lebih suka mempelajari kimia dengan menggunakan media LKS

0 20 12 0

7. Setelah mengikuti pembelajaran ini saya lebih percaya diri dalam bertanya dan mengutarakan pendapat

5 24 3 0

8. Model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS sangat sesuai jika diterapkan dalam pelajaran kimia.

3 26 3 0

9. Model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS membuat proses belajar mengajar lebih aktif.

3 24 5 0

10. Model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS membuat Saya lebih mudah memahami materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

6 24 2 0

Keterangan: SS : Sangat Setuju S : Setuju

TS : Tidak Setuju

STS: Sangat Tidak Setuju

4.2 Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 April sampai 8 Mei 2014 di SMA Negeri 1 Andong Boyolali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran Treffinger berbantuan lembar kerja siswa efektif terhadap

hasil belajar siswa kelas XI IPA pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan di SMA N 1 Andong Boyolali. Penelitian dimulai dengan mengadakan uji coba soal di kelas XII IPA 1 SMA N 1 Andong Boyolali. Jumlah soal yang diuji cobakan adalah 50 butir soal. Tipe soal pilihan ganda dengan lima pilihan jawaban dan 1 jawaban yang benar. Dari 50 soal yang telah diuji cobakan diambil 30 soal sebagai soal posttest.

Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, yaitu mengambil 2 kelas berdasarkan pertimbangan ahli, yaitu guru yang mengajar di SMA. Pertimbangan yang dimaksudkan yaitu memilih kelas yang diajar guru yang sama dan memiliki nilai rata-rata ulangan akhir semester gasal yang hampir sama. Sampel dalam penelitian ini yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol.

Pada pertemuan ke-1 sampai ke-4 dilaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Pada pertemuan ke-5 dilaksanakan kegiatan pembelajaran di laboratorium kimia. Pertemuan ke-6 diadakan post-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Posttest bertujuan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi materi kelarutan dan hasil kali kelarutan setelah kedua kelas diberi perlakuan yang berbeda. Pada kelas eksperimen diterapkan model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS sedangkan pada kelas kontrol diterapkan pembelajaran konvensional.

Pada kelas eksperimen, setiap kali pertemuan guru memberikan animasi atau video tentang materi yang akan diajarkan di dalam kelas. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu pada siswa. Setiap guru menyampaikan

materi selalu menggunakan media LKS, tujuannya adalah agar siswa lebih mudah memahami penjelasan dan dapat mengikuti model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Setelah diberikan tayangan tersebut, siswa melakukan diskusi untuk menjawab soal-soal yang ada di dalam LKS yang telah diberikan kepada setiap siswa. Diskusi dilakukan secara kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 4 siswa. Hal ini bertujuan untuk melatih bekerja sama, menerima pendapat orang lain dan melatih percaya diri siswa. Kemudian perwakilan dari kelompok diskusi menjelaskan jawaban dari soal-soal yang ada di LKS yang telah diperoleh di depan kelas, tujuannya untuk melatih rasa percaya diri dan menerima pendapat orang lain. Guru sebagai penengah diskusi memberikan jawaban dan alasan mengapa proses atau kejadian yang ada di dalam animasi atau video tersebut dapat terjadi. Diakhir pertemuan siswa diberikan soal-soal yang baru namun yang lebih kompleks di LKS agar siswa dapat menerapkan solusi yang telah ia peroleh. Guru dalam CPS bertugas untuk mengarahkan upaya pemecahan masalah secara kreatif. Guru juga bertugas untuk menyiapkan materi pelajaran atau topik diskusi yang dapat merangsang siswa untuk berfikir kreatif dalam memecahkan masalah (Huda, 2013 : 298).

Kegiatan pembelajaran pada kelas kontrol diterapkan pembelajaran konvenional. Pada setiap kali pertemuan guru menjelaskan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dengan metode ceramah. Diakhir pertemuan siswa mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. Kemudian soal-soal tersebut dibahas bersama oleh guru dan siswa.

Setelah diberikan pembelajaran materi kelarutan dan hasil kali kelarutan pada kedua kelas dengan perlakuan yang berbeda, kedua kelas diberi soal posttest dengan soal yang sama. Hasil pembelajaran kedua kelas dibandingkan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran Treffinger berbantuan lembar kerja siswa pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat meningkatkan hasil belajar. Hasil posttest menunjukkan bahwa kelas eksperimen dan kelas kontrol mengalami perbedaan rata-rata. Hal tersebut dibuktikan dengan uji kesamaan rata-rata posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil uji kesamaan rata-rata dua pihak diperoleh thitung sama dengan 4,62 dan ttabel sama dengan 1,67, thitung lebih besar ttabel yang artinya terdapat perbedaan rata-rata nilai posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada uji rata-rata satu pihak diperoleh thitung sama dengan 4,62 dan ttabel sama dengan 1,67, karena thitung lebih besar ttabel maka dapat diartikan bahwa nilai rata-rata posttest kelas eksperimen lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol.

Kemudian dilakukan uji ketuntasan hasil belajar untuk mengetahui keefektifan dan ketuntasan hasil belajar kimia pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Analisis uji ketuntasan hasil belajar didapatkan hasil pada kelas eksperimen diperoleh thitung sebesar 4,49 dan ttabel sebesar 2,04. Karena thitung lebih besar ttabel yang artinya kelas eksperimen telah mencapai ketuntasan hasil belajar. Sedangkan pada kelas kontrol diperoleh thitung sebesar 2,33 dan ttabel sebesar 2,04 maka thitung lebih besar ttabel yang artinya kelas kontrol telah mencapai ketuntasan hasil belajar. Berdasarkan uji ketuntasan belajar individu kedua kelas telah mencapai kriteria tuntas.

Uji ketuntasan klasikal dilakukan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran Treffinger berbantuan LKS. Hasil uji ketuntasan klasikal pada kelas eksperimen mencapai 87,5% atau 28 dari 32 siswa telah mencapai KKM. sedangkan pada kelas kontrol mencapai 40,63% atau 13 dari 32 siswa telah mencapai KKM. Berdasarkan hasil analisis ketuntasan klasikal kelas eksperimen memperoleh hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran Treffinger berbantuan LKS efektif terhadap hasil belajar pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Retnowati dan Murtiyasa (2013) yang menyatakan bahwa penggunaan model Treffinger dapat meningkatkan pemahaman konsep hasil belajar siswa.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hasil pembelajaran Treffinger berbantuan LKS lebih baik dibandingkan pembelajaran konvensional. Pada pembelajaran Treffinger berbantuan LKS: (1) siswa lebih terlibat aktif dalam pembelajaran (2) siswa dituntut untuk mengembangkan kreativitasnya untuk menyelesaikan suatu masalah atau soal yang dihadapi (3) siswa dapat bekerjasama dan saling bertukar pengetahuan untuk menyelesaikan soal (4) pembelajaran memberikan fenomena yang menarik untuk siswa.

Penilaian siswa tidak hanya pada aspek kognitif saja tetapi aspek afektif dan aspek psikomotorik juga dihitung dalam penelitian ini. Pencapaian tujuan domain afektif akan menjadikan seseorang menjadi berakhlak mulia, dan pencapaian tujuan psikomotorik akan menjadikan seseorang menjadi terampil (Qomari, 2008: 2).

Penilaian afektif dalam penitian ini terdapat 4 aspek. Penilaian aspek afektif siswa pada kelas eksperimen terdapat terdapat 3 aspek mencapai kategori sangat baik, 1 aspek mencapai kategori nilai baik. Penilaian aspek afektif siswa pada kelas kontrol terdapat 1 aspek mencapai kategori sangat baik, 3 aspek mencapai kategori baik.

Aspek kemampuan siswa dalam bertanya pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama-sama mencapai kategori baik. Hal tersebut terjadi karena siswa sama-sama memiliki rasa ingin tahu dan tertarik pada pembelajaran yang diajarkan. Hal tersebut karena pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama-sama memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Aspek menyampaikan ide pada kelas eksperimen mencapai kategori sangat baik dan kelas kontrol mencapai kategori baik. Perbedaan ini karena pada kelas eksperimen dibentuk kerjasama kelompok untuk memecahkan masalah sehingga ide dari tiap anggota kelompok dapat diutarakan. Aspek mendengarkan pada kelas eksperimen mencapai kategori sangat baik dan kelas kontrol mencapai kategori baik. Hal ini karena pada kelas eksperimen lebih antusias pada pembelajaran yang diterapkan. Aspek bekerja sama pada kelas eksperimen dan kelas kontrol mencapai kategori baik. Adanya kesamaan penilaian aspek afektif dimungkinkan terjadi karena dipengaruhi oleh faktor sikap dan kebiasaan siswa dalam pembelajaran sebelumnya. Model pembelajaran Treffinger dapat meningkatkan aktifitas dan berpikir kreatif siswa serta berpikir kritis dalam proses pembelajarannya (Hariawan et al, 2013)

Penilaian aspek psikomorik pada penelitian ini terdapat 6 aspek. Hasil analisis penilaian psikomotorik siswa pada kelas eksperimen 2 aspek mencapai

kateori sangat baik dan 4 aspek mencapai kategori baik. Dua aspek penilaian psikomotorik yang mencapai kategori sangat baik adalah persiapan siswa dalam melaksanakan praktikum dan kemampuan siswa dalam bekerjasama dengan kelompok. Empat aspek penilaian psikomotorik siswa kelas eksperimen yang mencapai kategori baik adalah keterampilan menggunakan alat, kecakapan siswa dalam melakukan percobaan, kebersihan ruang dan alat, dan kemampuan membuat laporan praktikum. Pada pada kelas kontrol 1 aspek mencapai kategori sangat baik dan 5 aspek mencapai kategori baik. Penilaian psikomotorik pada kelas kontrol yang mencapai kategori sangat baik adalah persiapan siswa dalam melaksanakan praktikum. Aspek penilaian psikomotorik yang mencapai kategori baik adalah keterampilan menggunakan alat, kecakapan siswa dalam melakukan percobaan, kerjasama dalam kelompok, kebersihan ruang dan alat, dan kemampuan membuat laporan praktikum.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pada aspek persiapan siswa melaksanakan kegiatan praktikum pada kelas eksperimen dan kelas kontrol mencapai kategori yang sama yaitu sangat baik, hal tersebut terjadi karena sebelum praktikum dilaksanakan guru memberi informasi perlengkapan yang harus dibutuhkan pada saat melaksanakan praktikum. Aspek keterampilan menggunakan alat pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama-sama memiliki kategori baik. Hal tersebut dikarenakan pada kedua kelas sama-sama jarang melakukan praktikum. Aspek kecakapan siswa dalam melakukan percobaan juga sama-sama memiliki kategori baik karena sebelum melakukan praktikum, siswa telah diberikan penjelasan tentang praktikum yang dilakukan. Aspek kemampuan

siswa dalam bekerjasama dengan kelompok pada kelas ekperimen mencapai kategori sangat baik sedangkan pada kelas kontrol mancapai kategori baik. Hal tersebut dimungkinkan dapat terjadi karena pada kelas ekperimen selalu diadakan kerja kelompok untuk mengerjakan soal atau diskusi kelompok. Aspek kebersihan dan kerapian tempat serta alat percobaan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol mencapai kategori baik. Hal tersebut terjadi karena siswa sudah terbiasa menjaga kebersihan kelas dan merapikan benda yang ada dimeja setelah selesai pembelajaran. Aspek kemampuan membuat laporan praktikum pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama-sama memiliki kategori baik.

Analisis angket tanggapan siswa menyatakan sebagian besar siswa setuju dengan pembelajaran Treffinger berbantuan LKS, yang artinya model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS mendapat respon positif (setuju) bagi siswa. Tanggapan siswa tersebut menunjukan bahwa model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS membantu siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam memecahkan suatu persoalan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS juga membatu untuk bekarja sama dalam kelompok. Hal tersebut ditunjukan dari 13 siswa sangat setuju model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS melatih kerja sama dalam kelompok. Hasil analisis angket selengkapnya dimuat dalam Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Analisis Angket Tanggapan Siswa

Model pembelajaran Treffinger berbantuan LKS siswa tidak hanya pasif dalam pembelajaran, tetapi siswa dituntut untuk lebih aktif dalam menganalisis dan memecahkan masalah. Dalam hal ini siswa diminta untuk lebih kreatif dan dapat mengembangkan sumber informasi yang diperoleh. Dari informasi tersebut siswa dapat menerapkannya pada persoalan yang lebih kompleks.

Pelaksanaan penelitian ini, peneliti mengalami hambatan-hambatan, diantaranya:

1) Pada awal pembelajaran siswa merasa bingung dalam kurang aktif untuk bertanya atau berpendapat.

2) Terbatasnya waktu pembelajaran. Waktu penelitian yang direncanakan adalah 10 jam pelajaran. 8 jam pelajaran untuk proses belajar mengajar dan 2 jam untuk posttest. Pada kelas kontrol dapat selesai sesuai jadwal sedangkan pada kelas eksperimen kurang satu pertemuan, karena pada tanggal 1 Mei bertepatan dengan libur nasional.

3) Terbatasnya alat dan bahan untuk melakukan praktikum sehingga hasil praktikum tidak bisa maksimal.

Cara yang dilakukan peneliti untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Untuk mengatasi hambatan pertama, usaha yang dilakukan peneliti adalah memotivasi siswa agar lebih aktif berpartisipasi dalm pembelajaran, karena dengan aktif menyampaikan gagasan, pendapat, pertanyaan, atau sanggahan maka dapat memperbanyak ide-ide mereka

2) Untuk mengatasi hambatan kedua peneliti meminta jam pelajaran bahasa Indonesia sehingga jam pertemuan yang direncakan dapat terpenuhi

3) Untuk mengatasi hambatan ketiga peneliti mencari alat dan bahan dari luar agar proses praktikum dapat berjalan lancar.

68

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait