• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.7 Konsepsi dan Batasan Penelitian

5.1.4 Analisis Deskriptif Kondisi Investasi Perikanan

Analisis deskriptif merupakan analisis yang dilakukan untuk melihat pernyataan penanam modal terhadap masalah investasi yang mempengaruhi keputusan berinvestasi di segala sektor di Indonesia dan masalah yang terkait dengan industri pengolahan hasil perikanan.

Perkembangan nilai investasi pada sektor industri pengolahan dan pemasaran hasil perikanan di Indonesia selama periode 1997 hingga 2006 mengalami pasang surut sesuai dengan kondisi negara Indonesia. Nilai investasi pada sektor industri pengolahan hasil perikanan dibagi menjadi dua macam, yaitu berupa penambahan modal dan penanaman modal baru. Investasi berupa

penambahan modal merupakan bentuk investasi untuk mengembangkan usaha pengolahan hasil perikanan yang sudah ada. Bentuk penambahan modalnya

seperti antara lain pembelian mesin produksi, pembelian kapal, dan pembelian barang-barang modal lainnya. Lain halnya dengan investasi berupa penanaman modal baru yang merupakan bentuk investasi berupa pengadaan usaha baru. Perkembangan nilai investasi total baik berupa penambahan modal dan penanaman modal baru selama periode 1997 hingga 2006 dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Perkembangan Nilai Total Investasi Industri Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan di Indonesia Periode 1997-2006.

Sumber : Lembaga Demografi Universitas Indonesia, 2007

Nilai total investasi tertinggi terjadi pada tahun 1997. Pada tahun 1998 terjadi penurunan nilai total investasi yang sangat tajam dari jumlah 27 milyar rupiah menjadi 10 milyar rupiah. Penurunan nilai investasi ini disebabkan krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 mengakibatkan lumpuhnya dunia usaha. Kenaikan biaya produksi serta melemahnya daya beli masyarakat Indonesia memaksa berbagai sektor usaha mengurangi skala usaha termasuk sektor industri pengolahan hasil perikanan.

Tahun 1999 nilai total investasi kembali naik walaupun jumlahnya tidak banyak yaitu sebesar 1 milyar rupiah menjadi sekitar 11 milyar rupiah. Nilai total investasi mengalami kenaikan kembali pada tahun 2000 dan nilai tersebut relatif konstan hingga tahun 2005 pada jumlah 13 atau 14 milyar rupiah. Peningkatan nilai total investasi riil yang cukup tinggi dari tahun sebelumnya terjadi pada tahun 2006 yaitu naik sejumlah 4 milyar rupiah.

Nilai Riil Investasi

0 5 10 15 20 25 30 1997 199819992000200120022003200420052006 Tahun M il y a r R u p ia h

Nilai Total Investasi Penglhn Prknn (Milyar)

Penambahan Total

Naik turunnya nilai investasi pada sektor industri pengolahan dan

pemasaran hasil perikanan dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan ke dalam permasalahan ekonomi dan permasalahan

struktural dan ketidakpastian sebagai permasalahan eksternal perusahaan dan permsalahan internaal perusahaan yang menjadi kendala bagi penanam modal untuk berinvestasi. Pengelompokan faktor-faktor masalah yang mempengaruhi keputusan berinvestasi di segala sektor ditetapkan dalam teori makroekonomi tentang investasi.

Permasalahan ekonomi dan permasalahan struktural dan ketidakpastian aturan dan hukum termasuk ke dalam masalah eksternal perusahaan.

Permasalahan eksternal merupakan faktor-faktor baik ekonomi maupun faktor lainnya yang berasal dari luar perusahaan dan tidak dikendalikan oleh perusahaan. Faktor-faktor yang menjadi permasalahan ekonomi maupun eksternal lainnya ditetapkan oleh pemerintah permasalahan tersebut akan mempengaruhi kebijakan perusahaan. Permasalahan yang mempengaruhi internal perusahaan dalam penelitian ini masalah yang dipilih adalah masalah yang terkait dengan industri pengolahan hasil perikanan terbagi menjadi tiga, yaitu : indikator produksi, indikator SDM, dan indikator pemasaran.

Berdasarkan teori makroekonomi, permasalahan yang termasuk dalam masalah ekonomi adalah sebagai berikut:

(1) Inflasi

Inflasi adalah salah satu peristiwa moneter yang menunjukkan suatu kecenderungan akan naiknya harga barang-barang secara umum, yang berarti terjadinya penurunan nilai uang (Bank Indonesia 2001). Inflasi merupakan permasalahan makroekonomi yang sering terjadi di beberapa negara khusunya Indonesia. Tingkat inflasi yang tinggi dapat menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian nasional diantaranya dapat menurunkan daya beli masyarakat berpendapatan tetap dan rendah, dapat menurunkan gairah investor untuk berinvestasi, dan lain sebagainya. Daya beli masyarakat menjadi rendah akibat harga-harga barang menjadi mahal yang diakibatkan oleh semakin tingginya biaya produksi barang tersebut. Perkembangan laju inflasi riil dapat dilihat pada Gambar 5.

Laju Inflasi Riil 0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun P e rs e n

Gambar 5. Perkembangan Laju Inflasi Riil Periode 1997-2006 Sumber : Bank Indonesia, 2007

Laju inflasi riil Indonesia tahun 1997 sebesar 0,2 persen, tetapi krisis tahun 1998 telah berdampak serius pada kondisi ekonomi Indonesia. Pada tahun 1998 laju inflasi mengalami kenaikan yang cukup signifikan dengan selisih sebesar 0,7% dari 0,2% menjadi 0,9%. Laju inflasi melonjak tinggi disebabkan saat krisis ekonomi uang yang beredar mengalami kenaikan pesat. Untuk mengatasi

tingginya laju inflasi, sejak tahun 1999, Bank Indonesia menetapkan suatu kerangka kebijakan moneter yang dinamakan Inflation Targetting. Inflation Targetting adalah kebijakan moneter dengan menjadikan inflasi sebagai sasaran akhir (Bank Indonesia 2001). Salah satu kebijakan moneter yang dilakukan adalah dengan pengendalian suku bunga. Berikutnya akan dijelaskan mengenai suku bunga pinjaman modal.

(2) Suku bunga pinjaman modal

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kebijakan moneter yang

berbasis pengendalian suku bunga dipilih karena secara empiris transmisi moneter melalui suku bunga bekerja cukup efektif dalam mempengaruhi permintaan agregat dan inflasi. Dalam laporan tahunan, selain menjaga agar perkembangan besaran moneter tetap sesuai dengan sasaran yang ditetapkan, Bank Indonesia juga berusaha agar suku bunga di dalam negeri dapat mendukung upaya

penyehatan perbankan serta memberikan dorongan bagi kebangkitan dunia usaha (Bank Indonesia 2001). Gambar 6 merupakan gambaran dari perkembangan suku bunga pinjaman modal riil selama periode 1997 hingga 2006.

Suku Bunga Pinjaman Riil 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun P e rs e n

Gambar 6. Perkembangan Suku Bunga Pinjaman Modal Riil Periode 1997-2006 Sumber : Bank Indonesia, 2007

Gambar di atas menunjukkan bahwa suku bunga pinjaman modal untuk usaha riil mengalami penurunan dari tahun 1997 hingga 2001. Penurunan suku bunga pinjaman modal riil periode 1997 hingga 2001 merupakan usaha

pemerintah untuk memperbaiki kegiatan investasi di dalam negeri setelah krisis ekonomi. Pada tahun 2001, perekonomian dunia melambat dan bahkan

mengalami resesi sejak akhir triwulan pertama 2001, ditambah dengan kondisi sosial dan keamanan di dalam negeri yang belum stabil, serta gejolak politik yang berujung pada pergantian pemerintahan di pertengahan 2001, telah berdampak negatif terhadap perkembangan ekonomi dan moneter selama tahun 2001 (Bank Indonesia 2001).

Suku bunga pinjaman modal riil setelah tahun 2001 relatif konstan pada persentase 0,1%. Gambar 7 menunjukkan hubungan antara penetapan suku bungan pinjaman modal riil dengan nilai total investasi riil pada sektor industri pengolahan dan pemasaran hasil perikanan periode 1997 hingga 2006.

Gambar 7. Hubungan Antara suku bunga pinjaman riil dengan nilai investasi total industri pengolahan hasil perikanan periode 1997-2006.

Penurunan persentase suku bunga pinjaman modal riil seharusnya dapat meningkatkan nilai investasi total riil, karena suku bunga pinjaman yang rendah akan lebih meringakan tingkat pengembalian perusahaan. Dari gambar di atas, dapat diketahui turunnya suku bunga pinjaman modal riil untuk sektor usaha riil selama periode 1997-2006 tidak membawa dampak yang cukup signifikan terhadap nilai total investasi riil pada sektor industri pengolahan hasil perikanan pada periode tersebut.

(3) Pajak Penghasilan (PPh)

Pajak Penghasilan atau yang lazim disebut ”PPh Badan” di Indonesia adalah pajak atas laba perusahaan. Dampak dari pajak penghasilan perusahaan terhadap invesatasi bergantung pada bagaimana undang-undang mendefinisikan ”laba” untuk tujuan perpajakan. Undang-undang pajak mempengaruhi insentif perusahaan untuk mengakumulasikan modal dalam banyak cara (Mankiw 2003).

Dalam Undang-Undang No.17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan, PPh badan untuk industri makanan diatur dalam pasal 25. Kebijakan pemeritah terhadap persentase PPh badan mengalami penurunan bertahap pada periode 1997 hingga 2001 (Gambar 5). 0 10 20 30 40 50 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun P e rs e n ta s e

Gambar 8. Perkembangan Persentase PPh Badan Untuk Industri Makanan Selama Periode 1997-2006.

Sumber : Bank Indonesia, 2007

Tahun 1997 persentase PPh adalah sebesar 40% dari total keuntungan perusahaan, kemudian persentase tersebut turun sebebsar 5% pada tahun 1999 menjadi 35% dari total keuntungan hingga tahun 2000. Persentase PPh kembali mengalami penurunan pada tahun 2006 menjadi 30% dari total keuntungan. Besar persentase tersebut tidak berubah hingga tahun 2006. Penurunan persentase PPh badan untuk industri makanan pada tahun 2001 merupakan salah satu upaya

pemerintah untuk menarik minat penanam modal untuk menanamkan modalnya di Indonesia setelah masa krisis ekonomi.

(4) Harga Bahan Bakar Minyak (BBM)

Pada industri pengolahan hasil perikanan baik perusahaan perikanan tangkap terpadu maupun perusahaan pengolahan, bahan bakar yang paling banyak digunakan adalah solar. Solar digunakan dalam industri pengolahan diantaranya untuk perjalanan kapal tangkap, mengoperasikan mesin, dan mengoperasikan genset. Naiknya harga solar berakibat bertambahnya biaya perusahaan. Naik atau turunnya harga solar dapat berdampak pada harga jual hasil olahan.

Perkembangan harga solar periode 1997-2006 dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Perkembangan Harga Nominal Solar Periode 1997-2006 Sumber : Bank Indonesia, 2007

Harga solar tertinggi adalah pada tahun 2006 yaitu sebesar 7.500 rupiah. Laju inflasi yang tinggi setelah krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997 menyebabkan harga bahan bakar minyak cenderung naik hingga tahun 1999. Sempat terjadi penurunan harga bahan bakar minyak pada tahun 2001 karena pengaruh dari perekonomian dunia yang melambat (Bank Indonesia 2001). Namun setelah tahun 2001 tidak terjadi lagi penurunan terhadap harga minyak dan cenderung naik hingga tahun 2006. Adanya kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan seperti kenaikan harga BBM (solar, minyak tanah, bensin

premium, dan sebagainya) dan kenaikan upah minimum menimbulkan kenaikan harga dan biaya produksi bagi perusahaan.

(5) Upah Minimum

Dalam menetapkan tingkat upah, perusahaan dan pekerja bereaksi terhadap kondisi di pasar tenaga kerja. Apabila jumlah hasil olahan dan kesempatan kerja tinggi, upah akan cenderung naik dengan cepat, begitu juga sebaliknya. Akan tetapi, para pekerja lebih tertarik pada upah nominal, yaitu sesuai dengan nilai uang pada saat itu. Kebalikannya dengan perusahaan lebih melihat pada upah riilnya. Besarnya upah nominal relatif terhadap tingkat harga jual output perusahaan.

Tidak meratanya kesempatan kerja, penyebaran penduduk, serta

keterampilan dan tingkat pendidikan angkatan kerja di setiap daerah menyebabkan upah minimum di setiap daerah berbeda pula. Perkembangan upah riil minimum periode 1997-2006 dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Perkembangan Upah Minimum Riil Periode 1997-2006 Berdasarkan Indeks Harga Konsumen Tahun 2000.

Sumber : Bank Indonesia, 2007

Upah riil minimum mengalami penurunan tajam pada tahun 1998. Penurunan upah riil minimum ini disebabkan karena daya beli masyarakat yang rendah karena laju inflasi riil pada tahun 1998 yang melonjak tajam (Gambar 11). Setelah tahun 1998, upah riil minimum cenderung naik karena kebijakan

pemerintah untuk mengendalikan laju inflasi pada tahun 1999 menyebabkan daya beli masyarakat juga mulai membaik.

Gambar 11. Hubungan Antara Laju Inflasi Dengan Upah Riil Minimum periode

1997-2006 . Sumber : Bank Indonesia, 2007

Berdasarkan teori makroekonomi, permasalahan yang termasuk dalam masalah eksternal perusahaan adalah sebagai berikut :

(1) Keamanan dalam negeri

Kondisi keamanan dalam negeri turut membentuk iklim usaha. Faktor keamanan yang menjadi pertimbangan bagi investor adalah keamanan dalam berusaha, keamanan masyarakat, dampak unjuk rasa, dan potensi konflik di masyarakat (Bappenas 2006). Amannya suatu negara akan mempengaruhi pelaku usaha dalam melakukan usahanya, terutama bagi penanam modal asing.

Akhir-akhir ini unjuk rasa yang sering berakhir dengan kerusuhan cukup banyak terjadi di Indonesia. Hal itu sebenarnya dapat menjadi gambaran bagi dunia internasional bagaimana masyarakat Indonesia berusaha menyelesaikan masalah. Kejadian terorisme yang salah satunya terjadi di Indonesia turut pula mempengaruhi investasi oleh pihak asing. Bagi industri pengolahan hasil

perikanan yang dalam pendirian dan pengembangan usahanya dilakukan di daerah pesisir, di mana dalam praktiknya tentu akan melibatkan masyarakat pesisir, konflik di masyarakat rawan terjadi. Apabila terjadi konflik tentunya akan berdampak terhadap usaha.

(2) Kepastian hukum

Kepastian hukum, konsistensi kebijakan dan masalah ketenagakerjaan, merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk iklim usaha yang sehat dan kondusif guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi. Munculnya kecenderungan semakin rendahnya kualitas dari ketiga faktor tersebut

pada akhir-akhir ini menjadi perhatian yang sangat serius dari investor (Nitimiharja 2005).

Pada industri pengolahan hasil perikanan dengan orientasi ekspor

kepastian hukum yang dibutukan adalah berupa konsistensi peraturan, penegakan keputusan peradilan, kecepatan aparat keamanan, dan pungutan liar di luar birokrasi (Bappenas 2006). Para penanam modal industri pengolahan hasil perikanan membutuhkan jaminan dan proteksi hukum terhadap investasi dan kegiatan ekspor impor yang dilakukan.

(3) Birokrasi

Perubahan paradigma pembinaan oleh jajaran birokrasi terhadap dunia usaha industri, dari budaya penguasa ke arah budaya pelayanan publik yang lebih bersifat memfasilitasi pada saat ini dirasakan masih dalam proses transisi. Kondisi ini seiring dengan waktu langkah pembaruan kebijakan sistem politik administrasi dari arah desentralisasi menuju otonomi daerah (Nitimiharja 2005).

Birokrat diartikan dengan pejabat yang memiliki kekuasaan, misalnya dalam memberikan ijin (Budiono 1999). Dalam melakukan prosedur aplikasi dan ijin pelaksanaan penanaman modal untuk industri pengolahan hasil perikanan,

lembaga atau departemen yang akan memproses ijin adalah BKPM, Kantor Pajak, DKP, dan dinas daerah kota/kabupaten apabila lokasi pabrik pengolahan berada di luar pelabuhan perikanan. Dalam pedoman umum investasi yang dikeluarkan oleh ditjen pengolahan dan pemasaran hasil perikanan (P2HP) (2005), dikatakan bahwa proses pengurusan ijin di DKP dapat memakan waktu maksimum 7 hari kerja, kecuali untuk proyek-proyek yang masih membutuhkan surat rekomendasi dari departemen terkait. Hal ini menunjukkan bahwa, DKP sendiri tidak dapat memberikan jaminan atas waktu yang dibutuhkan hingga proses perolehan ijin selesai.

Untuk masalah-masalah yang mempengaruhi internal perusahaan akan dijelaskan pada analisis proses hirarki analitik. Gambar 11 dan 12 merupakan hasil pernyataan 20 responden terhadap indikator-indikator masalah ekonomi dan eksternal perusahaan pengolahan hasil perikanan. Responden yang memberikan pernyataan adalah manajer atau staf ahli perusahaan pengolahan hasil perikanan di kawasan PPSJ. Pernyataan yang diberikan merupakan jawaban atas kuisioner

yang diberikan dengan memilih satu masalah yang dianggap menjadi pertimbangan utama bagi penanam modal untuk berinvestasi di Indonesia.

Gambar 12. Hasil Pernyataan Responden Terhadap Faktor Ekonomi Yang

Dipertimbangkan untuk Berinvestasi (n=20). Sumber : Diolah dari data sekunder, 2008

Harga solar dianggap memiliki pengaruh yang paling besar oleh pelaku usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan yang dipilih oleh 40%

responden. Hal ini, disebabkan karena pada industri pengolahan hasil perikanan banyak menggunakan solar sebagai bahan bakar untuk mesin olahan. Terlebih lagi bagi usaha perikanan tangkap terpadu yang berarti industri pengolahan dikembangkan dari usaha penangkapan menggunakan solar juga untuk keperluan penangkapan ikan. Suku bunga pinjaman modal dipilih oleh 20% responden.

Persentase responden yang memilih pajak dan upah minimum sebagai kendala bagi investasi perusahaan masing-masing adalah sebanyak 15%

dari seluruh responden.

0 10 20 30 40 50

Keamanan Kepastian Hukum Birokrasi

Indik ator Ek ste rnal

P e rs e n ta s e

Gambar 13. Hasil Pernyataan Responden Terhadap Faktor Eksternal Yang Dipertimbangkan untuk Berinvestasi (n=20)

Sumber : Diolah dari data sekunder, 2008

0 10 20 30 40 50 Inflasi Suku Bunga Pajak Harga BBM Upah Indikator Ekonomi P e rs e n ta s e

Hasil poling responden terhadap indikator eksternal perusahaan yang menjadi pertimbangan utama dalam melakukan investasi adalah birokrasi pemerintah. Birokrasi pemerintah dipilih oleh 40% responden. Selain itu, hasil poling menunjukkan persentase yang sama untuk masalah keamanan negara dan kepastian hukum yaitu dipilih oleh 30% responden. Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan responden diketahui bahwa maksimal waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh ijin produksi adalah 2 minggu. Waktu tersebut dinilai masih terlalu lama, karena akan menghambat kegiatan produksi perusahaan.

Responden juga memberikan pernyataan terhadap indikator-indikator masalah yang dapat mempengaruhi manajemen perusahaan pengolahan hasil perikanan. Indikator-indikator masalah tersebut antara lain adalah indikator produksi, indikator SDM, dan indikator pemasaran. Pernyataan diberikan dengan memilih satu masalah yang dianggap menjadi pertimbangan utama bagi penanam modal untuk industri pengolahan hasil perikanan (Gambar 14, 15, dan 16).

0 10 20 30 40 50

Bahan Baku Sarana & Prasarana

Perizinan

Indik ator Produksi

P e rs e n ta s e

Gambar 14. Hasil Pernyataan Responden Terhadap Faktor Produksi Yang Dipertimbangkan untuk Berinvestasi (n=20).

Sumber : Diolah dari data sekunder, 2008

Untuk indikator produksi, 40% responden memilih bahan baku sebagai pertimbangan utama dalam melakukan investasi. Sarana dan prasarana produksi menjadi pertimbangan kedua dan dipilih oleh 35% responden. Pertimbangan ketiga yang dipilih oleh 25% responden adalah perijinan untuk produksi (Gambar 14). Diakui oleh hampir seluruh responden perusahaan pengolahan hasil

perikanan dengan proses pembekuan dalam perolehan bahan baku ikan dilakukan impor. Impor tidak akan dilakukan jika pemerintah mampu menjamin

ketersediaan bahan baku bagi perusahaan pengolahan hasil perikanan dan akan mampu mengurangi biaya bagi perusahaan.

0 10 20 30 40 50 60 70 Keterampilan Tingkat Pendidikan Jumlah Angkatan Kerja Indikator SDM P e rs e n ta s e

Gambar 15. Hasil Pernyataan Responden Terhadap Faktor SDM Yang Dipertimbangkan untuk Berinvestasi (n=20).

Sumber : Diolah dari data sekunder, 2008

Sebanyak 60% responden memilih keterampilan SDM sebagai pertimbangan utama dalam melakukan investasi. Hal ini sesuai dengan

pengamatan di lapangan bahwa perusahaan industri pengolahan hasil perikanan lebih banyak membutuhkan karyawan yang memiliki keterampilan. Tingkat pendidikan menjadi pertimbangan berikutnya yang dipilih oleh 25% responden, sedangkan jumlah angkatan kerja menjadi pertimbangan terakhir oleh responden dengan hasil responden yang memilih adalah 15%.

0 10 20 30 40 50 Jaringan Pemasaran Infrastruktur Standar Neg. Ekspor Implementasi Penerapan Standar

Indik ator Pe m as aran

P e rs e n ta s e

Gambar 16. Hasil Pernyataan Responden Terhadap Faktor Pemasaran Yang Dipertimbangkan untuk Berinvestasi (n=20).

Sumber : Diolah dari data sekunder, 2008

Gambar 16 menunjukkan hasil pilihan responden terhadap indikator pemasaran. 45% responden memilih jaringan pemasaran sebagai pertimbangan utama. Selanjutnya, 30% responden memilih infrastruktur sebagai pertimbangan,

sedangkan implementasi penerapan standar dan standar yang ditetapkan oleh negara tujuan ekspor masing-masing dipilih sebanyak 20% dan 5% dari total responden.